HOLIDAY

Part I : Departure

.

.

.

.

.

.

.

"Yakin sudah tidak ada barang-barang yang tertinggal?"

"Tidak, eomma. Aku sudah memeriksa semuanya. Hanya tinggal milik si kembar saja yang belum berada dibagasi."

Hoseok menganggukkan kepalanya mengerti akan perkataan anak sulungnya barusan. Melirik sekitar saat dirinya tidak bisa menemukan anak-anaknya yang lain.

"Jadi, dimana adik-adikmu?"

"Jackson ada didalam untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Jimin– sepertinya tadi pergi kerumah sebelah. Dan aku tidak tahu si kembar ada dimana, tidak melihat mereka sama sekali sejak mereka selesai sarapan tadi."

Pemuda tampan dengan aksen koreanya yang terdengar kaku itu meringis saat melihat ibunya mengurut keningnya, merasa frustasi dengan kelakuan anak-anaknya yang lain. Sungguh, Hoseok begitu mengutuk sifat Namjoon yang begitu keras kepala dan sulit diatur yang menurun pada anak-anaknya. Berusaha menenangkan diri dengan cara menarik nafasnya dalam-dalam. Oh, dia tentu saja tidak ingin berada dalam suasana hati yang buruk mengingat ini merupakan liburan pertama mereka sejak suaminya menyelesaikan proyek pekerjaan pentingnya.

"Kalau begitu eomma akan mengecek Yugyeom dan Jungkook terlebih dahulu. Bisakah kau panggil Jimin untuk segera masuk kemobil, son?"

"Sure thing, mom. I'll go get him."

Dengan itu, Mark berjalan mendahului ibunya guna mencari Jimin yang bisa dipastikan berada dirumah tetangga mereka sekarang. Ya, dia tahu adiknya itu sedang mengejar salah satu dari anak paman Im mati-matian jadi dia yakin Jimin sedang memohon untuk ikut didalam mobil keluarga Im sekarang.

Sementara disisi lain, Hoseok sudah berjalan memasuki kediaman mereka dan lantas menuju kamar putra kembarnya yang masing-masing berada dilantai dua. Dia mengetuk pintu bercat putih bersih sebelum masuk kedalam. Namun karena tidak mendapat jawaban, Hoseok langsung membawa dirinya masuk kedalam dan berusaha menekan emosinya saat melihat Jungkook malah tertidur diatas ranjangnya meskipun sudah dalam keadaan rapi. Menghela nafas kasar sebelum berdiri tepat disamping ranjang milik Jungkook sambil berkacak pinggang.

"Jungkook, kau akan bangun atau kau bersedia kehilangan semua koleksimu?"

Hoseok mengatakan itu dengan wajah tersenyum penuh namun disertai dengan nada yang penuh penekanan. Membuat Jungkook lantas terduduk bangun dengan mata setengah terbuka juga rambut yang berantakan dan tangan yang membuat gestur hormat asal-asalan.

"Aku akan bangun, eomma. I promise."

"Bagus. Cuci mukamu dan rapikan penampilanmu. Eomma menunggu dibawah dalam lima menit."

"Ay-ay, captain!"

Berbalik pergi meninggalkan Jungkook yang masih berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya dan berjalan menuju kamar Yugyeom yang berada tepat diseberang kamar Jungkook. Dia yakin keadaan Yugyeom tidak jauh berbeda dengan Jungkook didalam sana. Menghela nafas untuk kesekian kali sebelum membuka pintu bercat putih namun penuh dengan stiker dan coretan berwarna hitam disana dan berjalan masuk kedalam hanya untuk menemukan Yugyeom yang masih asik dengan komputernya. Oh, Hoseok ingin menangis saja rasanya.

"Kim Yugyeom, matikan komputermu sekarang. Kita akan segera berangkat."

"Sebentar eomma, aku hampir mengalahkan semuanya dan mengalahkan rekor Jungkook."

"Ah, rupanya kau ingin eomma melempar semua perangkat digitalmu keluar jendela, hm?"

"Kumatikan sekarang."

"Eomma tunggu dibawah dalam lima menit, atau semua perangkat digitalmu menghilang, tuan muda Kim."

Hoseok berbalik keluar dari kamar putranya dan langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air yang begitu dia butuhkan sekarang. Si kembar Kim memang selalu membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih dari biasanya.

"Ada apa, chèrie? Sesuatu mengganggumu?"

"Aku benar-benar tidak tahu lagi harus apa dengan putra kembar kita, Namjoon-ah. Kenapa kau harus mewariskan seluruh sifat jelekmu juga pada mereka."

Pria manis bersurai karamel itu menatap begitu memelas pada suaminya seolah memohon untuk mengambil seluruh sifat jelek yang dia warisi kembali. Hal itu jelas membuat Namjoon merasa sedikit bersalah namun juga merasa gemas dengan tingkah istrinya. Oh, bagaimana tidak jika Hoseok menatapnya dengan mata memohonnya yang seperti anak anjing dan bibir yang sedikit mengerucut. Membuatnya tidak tahan untuk tidak mengecup bibir tipis itu berkali-kali.

"Berhenti bertingkah menggemaskan atau kau akan aku makan sekarang, nyonya Kim."

Mendengar itu, Hoseok langsung mendatarkan ekspresinya dan berjalan menjauhi Namjoon dengan langkah yang sengaja dia hentakkan. Namjoon pun tidak membantu sama sekali, pikirnya. Sedangkan pria tinggi dengan lesung pipi menawannya itu terkekeh kecil dan segera berlari menyusul istrinya yang sudah berada diluar. Meninggalkan Jackson dengan wajah meringis geli yang sedari tadi menonton drama yang dibuat kedua orangtuanya.

"Aku tidak percaya mereka sudah memiliki lima anak namun masih bertingkah seperti remaja kasmaran."

.

.

.

Mark berjalan masuk kedalam pekarangan rumah keluarga Im yang kebetulan pagarnya terbuka, berniat untuk menyeret Jimin pergi sebelum ibunya mengamuk. Tersenyum kecil begitu menemukan Youngjae yang baru saja keluar dengan menenteng sebuah koper ditangannya dan segera menghampirinya.

"Youngjae, apa Jimin ada disini?"

"Ah, Mark hyung. Ya, Jimin hyung ada didalam tadi, sedang membujuk Yoongi hyung sepertinya. Itu mereka–"

Tepat setelah Youngjae menyelesaikan perkataannya, keluarlah Jimin dan Yoongi dari dalam rumah kediaman keluarga Im. Dengan Jimin yang berada dibelakang Yoongi tentu saja.

"Ayolah, Yoongi hyung. Ikut dimobilku saja ya?"

"Tidak, Jimin. Holy shit, berhenti menggangguku!"

"Kalau begitu aku akan ikut dimobilmu."

Yang dihadiahi tatapan membunuh dari Yoongi. Tentu saja hal itu bukan apa-apa bagi Jimin, dia malah semakin gencar membujuk Yoongi supaya membiarkannya berada dimobil yang sama dengan pemuda berkulit pucat itu. Mark sendiri merasa begitu malu melihat tingkah adiknya yang benar-benar tidak tahu malu itu. Melirik pada Youngjae yang hanya terdiam melihat keduanya dengan tatapan bingung. Merasa hal ini akan terus berlangsung, Mark mengambil inisiatif untuk menyeret Jimin dengan menarik kerah hoodienya.

"Maaf jika Jimin mengganggumu, Yoongi. Bocah ini memang tidak tahu malu. Kalau begitu, sampai bertemu dibandara."

Mark memberikan senyuman terbaiknya pada Yoongi yang hanya diam dengan ekspresi kesalnya setelah diganggu Jimin sejak tadi dan langsung menyeret adiknya menuju rumah mereka.

"Jimin, kau benar-benar harus berhenti untuk mempermalukan keluargamu."

"Aku tidak mempermalukan keluargaku! lagipula kenapa kau malah menyeretku pergi, hyung?!"

Jimin menatap kesal pada Mark sesaat setelah mereka sampai dihalaman rumah mereka. Oh, dirinya begitu kesal karena tidak bisa satu mobil dengan Yoongi.

"Perhatikan sekelilingmu, tuan muda."

Putra ketiga keluarga Kim itu segera melakukan apa yang dikatakan kakaknya meski masih dengan wajah kesalnya dan segera mengerut mendapati ibunya sudah berdiri didekatnya dengan tangan terlipat didada. Jangan lupakan senyuman manis diwajah itu yang membuat Jimin bergidik ngeri melihatnya. Tidak, Hoseok tidak benar-benar tersenyum. Tidak dengan matanya.

"Habislah kau, Jimin-ssi. Eomma tidak akan memaafkanmu, kau tahu."

"Sebagai adik yang baik, aku akan mendoakan yang terbaik untukmu, Jiminie hyung."

Tolong ingatkan dia untuk menedang kedua adik kembarnya itu sesaat setelah mereka sampai dibandara nanti.

"Oh, hai, eomma. Aku baru saja akan masuk kedalam mobil tapi Mark hyung malah menahanku."

"Hm? Benarkah?"

"Uh, aku akan masuk sekarang."

Lain Jimin yang masuk kedalam mobil dengan tergesa-gesa, lain juga dengan Mark yang tertawa kencang melihat adiknya mengerut ketakutan seperti itu. Oh, rasanya menyenangkan sekali melihat adik-adiknya dimarahi.

Setelah yakin semuanya telah lengkap, kedua keluarga segera berangkat menuju bandara dengan beriringan mengemudi mobil masing-masing. Tentu saja dengan suasana dalam mobil yang sama-sama ribut meskipun tetap saja dimenangkan oleh mobil keluarga Kim mengingat ada si kembar, Jimin dan juga Jackson didalamnya. Mark sendiri hanya memperhatikan meski sesekali ikut bergabung dengan saudara-saudaranya.

Sedangkan didalam mobil keluarga Im penuh dengan teriakan dari Youngjae yang terus diganggu oleh Bambam dan Taehyung. Lain halnya dengan Yoongi yang terus mengeluh betapa ributnya keadaan mobil mereka dan betapa dirinya begitu berharap untuk pergi dengan taksi saja. Sementara Seokjin tidak membantu sama sekali dengan menggoda hubungannya dengan Jimin yang memang diakui semakin dekat dari hari-kehari.

Disisi lain, Jaebum dan Jinyoung hanya mengabaikan keributan yang terjadi dibelakang mereka. Mereka sudah begitu terbiasa dengan hal seperti itu, Jadi Jaebum hanya menikmati perjalanan sambil terus menggenggam tangan Jinyoung dengan sebelah tangannya yang terbebas dari kemudi. Dia benar-benar merindukan istrinya, omong-omong. Mengingat mereka hanya bisa bertemu saat malam hari selama berminggu-minggu. Mungkin ini bisa jadi honeymoon dadakan mereka berdua. Memikirkan itu membuat Jaebum tanpa sadar mengelurkan seringaiannya.

"Aku tahu kau sedang berpikiran kotor, Jaebum. Hentikan itu sekarang juga, kau terlihat menyeramkan."

"Ayolah, sayang. Kau tahu sudah lama kita tidak melakukan nya. Lagipula kenapa kau masih malu?"

Mendengar Jaebum yang mengatakannya dengan begitu terbuka, mau tak mau membuat wajah Jinyoung berubah memerah. Pria manis bersurai hitam itu mengalihkan pandangannya kejendela mobil berusaha mengabaikan tatapan suaminya yang justru semakin melebarkan seringaiannya.

"Kau memerah, darl."

"Diam, tuan besar Im."

"Jadi kau memanggilku Master sekarang? Aku tidak pernah tahu kau memiliki fetish yang seperti itu, sweetheart."

"Demi Tuhan, Jaebum. Berhenti berpikiran mesum, anak-anak mendengarmu!"

"No, they're not, babe. Lagipula sepertinya memberikan saudara baru untuk mereka bukan ide yang buruk."

Oh, Jinyoung sungguh ingin menendang suaminya sekarang. Suaminya itu memang senang sekali menggodanya dalam hal seperti ini dan demi Tuhan ini begitu memalukan.

Merasa puas menggoda sang istri, Jaebum membawa punggung tangan Jinyoung menuju bibirnya sebelum kemudian mengecupnya selama beberapa detik berkali-kali. Begitu bersyukur memiliki istri seperti Jinyoung juga anak-anak mereka yang begitu berharga. Ya, keluarga adalah segalanya bagi Jaebum. Dia rela menukarkan apapun untuk kebahagiaan keluarganya. Bahkan jika itu nyawanya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue..