HOLIDAY

Part II : Starting Day!

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari belum siang ketika dua buah mobil mewah itu terparkir tepat ditempat bertuliskan drop off pada sebuah bandara. Tidak lama setelahnya, terbukalah salah satu pintu mobil secara hampir bersamaan. Menampilkan beberapa pria dengan pakaian santai namun tetap menawan. Satu pria diantaranya bergegas menuju mobil yang berada tepat dibelakang mobilnya, menunggu pemuda manisnya untuk keluar. Dia Jimin tentu saja, berdiri tepat disamping pintu yang sudah bergeser terbuka dan sontak tersenyum lebar kala Yoongi melangkah keluar dari dalam. Putra ketiga dari keluarga Kim itu langsung saja merengkuh bahu Yoongi supaya mereka bisa berjalan bersama. Sementara Taehyung yang melihat sahabatnya yang begitu tergila-gila dengan kakaknya itu hanya menatap penuh iba pada Jimin. Merasa kasihan karena harus berurusan dengan kakaknya yang menyeramkan itu.

"Oh, aku tidak menyangka akan berlibur bersamamu, Taehyung."

Pemuda kurus yang dipanggil namanya barusan itu membeku saat mengenali suara itu. Bergerak terpatah untuk menatap sumber suara dan langsung menyesalinya begitu saja. Jungkook, pria itu sedang menatapnya dengan seringai diwajahnya yang sialnya begitu tampan. Taehyung yang ditatap seperti itu secara tidak sadar sudah memancarkan rona tipis diwajahnya.

"Y-yeah, what a coincidence."

Jungkook semakin menyeringai lebar kala dirinya mendapati rona tipis diwajah Taehyung. Sedikit menunduk sebelum mencondongkan tubuhnya supaya bisa berbicara tepat ditelinga pria kurus yang sudah memerah itu.

"Aku benar-benar menantikan liburan kali ini, Taehyung-ssi. Mari bersenang-senang bersama disana."

Menarik dirinya dan sedikit mengusak surai lembut Taehyung sebelum berjalan menuju mobilnya untuk mengambil tas miliknya dibagasi. Meninggalkan Taehyung yang sudah memerah padam hingga telinga. Youngjae yang melihat kakaknya terdiam dengan wajah memerah itu pun lantas menghampirinya dengan wajah khawatir.

"Hyung, kau baik-baik saja? Wajahmu memerah– Oh, telingamu juga!"

Seperti tersadar dari keterkejutannya, Taehyung menepuk-nepukkan pipinya pelan sambil menatap pada adiknya.

"B-benarkah? Aku baik-baik saja, Youngjae. Kau tidak perlu khawatir."

Pria bertubuh kurus itu mengusak rambut adiknya dengan gemas lengkap dengan senyuman kotak diwajahnya. Membuat Youngjae mau tidak mau tersenyum juga melihatnya.

Disisi lain, Namjoon dan Jaebum terlihat sedang berbincang-bincang sambil menunggu supir yang akan bertanggung jawab membawa mobil mereka kembali kerumah. Keduanya terlihat begitu akrab bagaikan sahabat lama yang baru saja bertemu kembali. Tidak jauh dari sisi mereka, ada Jinyoung dan juga Hoseok yang memang sudah akrab mengingat keduanya yang lebih sering berada dirumah. Ya, Jinyoung dan Hoseok sering kali mengobrol saat mereka bepapasan dihalaman rumah masing-masing yang hanya dibatasi oleh tembok yang tidak terlalu tinggi.

"Jadi, Hoseok, aku seperti mendengar gerutuan frustasimu pagi ini."

Jinyoung tertawa kecil melihat Hoseok yang menghela nafas beratnya, terlihat begitu dramatis namun menggelikan secara bersamaan.

"Aku bertaruh kau akan melakukan hal yang sama jika harus mengurusi putra kembarku itu, Jinyoung-ah. Betapa bahagianya jika anak-anakku setenang anak-anakmu dirumah."

Kontan hal itu mengundang tawa istri dari seorang Im Jaebum itu. Hoseok memang sering menceritakan anak-anaknya, terutama putra kembarnya pada Jinyoung. Tentang bagaimana Jungkook dan Yugyeom yang selalu mendapatkan masalah yang membuatnya harus datang kesekolah setidaknya seminggu sekali. Sedikit lebih bersyukur karena memiliki anak-anak yang manis dan penurut meskipun kadang Bambam bisa membuat masalah juga disekolah.

"Astaga, sepertinya kau akan lebih cepat menua jika seperti ini, Nyonya Kim."

"Kau benar, aku harus bisa mengontrol emosiku dengan lebih baik agar hal itu tidak terjadi."

Percakapan mereka sedikit terusik kala Namjoon datang bersama Jaebum dibelakangnya, mengatakan bahwa mereka sudah bisa masuk kedalam sekarang karena dua orang kepercayaannya sudah datang dan bertanggung jawab akan mobil-mobil mereka. Lagipula, waktu keberangkatan mereka hanya tinggal sepuluh menit lagi. Maka dengan itu, kedua pasangan orangtua itu menggiring anak-anak mereka untuk bergegas masuk kedalam.

"Ada apa dengan wajahmu?"

Youngjae semakin mengerucutkan bibirnya kesal kala dia mendengar pertanyaan itu. Tidak, dia tidak kesal dengan orang yang bertanya padanya. Dia hanya kesal karena kakak-kakaknya bahkan Bambam sibuk bersama yang lainnya.

"Aku sebal karena yang lain meninggalkanku, bahkan Seokjin hyung juga begitu. Kenapa kau tidak sekalian saja bergabung dengan mereka, Yugyeo–"

Tunggu.Youngjae sontak menolehkan kepalanya dan menemukan Yugyeom yang sedang tersenyum lebar disampingnya. Astaga, bagaimana bisa dia tidak menyadarinya lebih awal.

"Aku tidak tertarik bergabung bersama mereka. Lagipula sepertinya kau kesepian disini."

Pemuda jangkung itu beralih merangkul bahu sempit Youngjae sambil terus berjalan menuju tempat mereka akan boarding. Well, sebenarnya tadi dia bergabung bersama Bambam dan saudara kembarnya. Tapi mana bisa dia menolak Youngjae dibelakangnya yang sedang merengut karena ditingalkan oleh saudaranya. Maka tanpa berpikir panjang, dia memperlambat langkahnya supaya bisa berjalan disamping pria manis itu. Youngjae hanya begitu menarik dimatanya, itu saja.

"Tidak apa-apa, Yugyeom. Kau tidak perlu menemaniku–"

"Aku akan menemanimu. Lagipula bagaimana jika kau terpisah dengan yang lainnya? Kau bahkan berjalan tanpa memperhatikan sekelilingmu. Aku tidak akan membiarkanmu luput dari pandanganku."

Mendengar itu, mau tidak mau membuat Youngjae sedikit tersipu. Ayolah, bagaimana tidak? Yugyeom seperti sedang menunjukkan keposesifannya pada Youngjae sekarang. Meskipun sedikit kesal karena dirinya terkesan seperti anak kecil, tapi tetap saja dia merasa senang.

"T-tapi–"

"Ayo, yang lain sudah berada jauh didepan."

Tanpa basa-basi, Yugyeom menarik tangan Youngjae yang terasa begitu pas didalam genggamannya untuk berlari bersamanya. Diam-diam menyukai betapa lembutnya tangan milik pemuda manis itu. Sementara Youngjae hanya terdiam sembil berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat sejak Yugyeom menggenggam tangannya. Menatap pada tangan mereka yang saling bertautan dengan senyum kecil diwajahnya. Tidak pernah mengira bahwa genggaman itu terasa begitu hangat dan nyaman baginya. Yugyeom sendiri semakin melebarkan senyumannya kala merasakan tangan ramping Youngjae yang balas menggenggam tangannya dengan erat. Oh, dia sungguh menantikan liburan kali ini.

.

.

.

"Jadi, Mark, aku masih tidak menyangka kalau kita bertetangga. Kau bahkan tidak pernah memberitahuku dikelas."

"Well, Seokjin. Kau tidak bertanya, jadi aku tidak menjawab. Itu saja."

"Ayolah, kawan, kau sengaja melakukannya, kan?"

"Begitulah, lagipula harusnya kau senang karena adik-adikmu bahkan sudah akan memiliki pasangan masing-masing. Kau tidak akan kesepian, man."

Seokjin melihat sekeliling dan mendapati bahwa ucapan Mark memang benar adanya. Bahkan Youngjae pun sudah duduk bersama Yugyeom sekarang. Tidak, tidak. Youngjae adalah adik kecilnya yang manis, dia tidak rela adiknya berpacaran terlebih dahulu. Setidaknya belum.

"Dengar, kawan. Katakan pada Yugyeom untuk bersiap menghadapi konsekuensi dalam mendekati Youngjae. It wont be easy for him, I promise."

"It's on him. He's all grown, he'll know what to do."

"Wow, kau bahkan tidak berniat membantunya, dude? Kau memang kakak yang buruk."

Mark hanya menganggukkan kepalanya menyetujui omongan teman sekelasnya itu. Lagipula, diantara mereka berlima sudah memiliki komitmen untuk tidak mengganggu urusan pribadi masing-masing kecuali mereka memang membutuhkannya. Namjoon juga sering mengatakan untuk berusaha menyelesaikan masalah masing-masing dan untuk tidak mudah menyerah. Jadi, itulah prinsip yang kelima putra keluarga Kim pegang hingga sekarang. Dan dia tahu benar, bahwa mereka semua memiliki ambisi kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Terutama si kembar Kim dan Jimin.

"Sekeras apapun kau menolaknya, tidak akan menghentikan Yugyeom untuk mendapatkan Youngjae. Percaya padaku."

"Aku tahu, dia terlihat ambisius sekali. Kurasa Yugyeom hanya harus bersabar menghadapi ibuku. Dia sangat, sangat menyayangi Youngjae."

"Aku akan melakukan hal yang sama jika aku jadi kau."

Seokjin tertawa kecil mendengarnya. Ya, bukan tanpa alasan dia dan keluarganya menjadi posesif pada Youngjae. Adiknya itu hanya terlalu murni dan berharga untuk disakiti. Tidak hanya Youngjae, tapi ketiga adiknya yang lain juga. Seokjin jelas merasa begitu bertanggung jawab untuk melindungi keempat adiknya sebagai anak yang paling tua.

"Ya, karena sepertinya keempat adikmu itu begitu tahan banting, Mark."

"They are. Especially Jungkook, He's the strongest."

"You know man, aku seperti bisa merasakannya."

.

.

.

Setelah berjam-jam berada didalam pesawat, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan mereka. Mengambil tas dan koper bawaan masing-masing sebelum berjalan menuju mobil jemputan yang sudah tersedia disana. Namjoon dan Jaebum memang sudah merencanakan semuanya dengan benar-benar matang sehingga mereka tidka akan mengalami kesulitan nantinya. Mereka semua menaiki van berukuran besar untuk mencapai villa tempat mereka akan singgah. Tentu saja suasana mobil itu begitu heboh mengingat Yugyeom, Jungkook, Bambam, Jimin, dan juga Jackson berada didalam satu mobil yang sama. Bahkan kelimanya tidak segan menggoda kedua pasang orangtua mereka yang sibuk berlovey dovey disana. Bukan berarti sisanya hanya berdiam diri saja, bahkan semuanya sudah ikut bergabung untuk memeriahkan suasana didalam van itu. Oh, mereka semua jelas sangat menikmati hari pertama liburan mereka dan sangat, sangat menantikan hal-hal yang akan mereka lakukan selama berada di Hawaii.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue..