HOLIDAY
Part III : Kebersamaan
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku akan memakai kamar yang besar."
"Tidak, tidak. Itu kamarku, Gyeom-ah."
Jungkook melayangkan tatapan tajamnya pada Yugyeom yang masih berdiri terdiam didepan pintu. Oh, tentu saja hal itu tidak dipedulikan oleh si jangkung saat dia langsung berlari masuk kedalam kamar berukuran cukup besar tersebut dan melayangkan seringai penuh kemenangan pada saudara kembarnya.
"Too slow."
"Keluar dari sana, sialan."
Tetap melayangkan tatapan tajamnya pada Yugyeom yang saat ini sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang berukuran besar itu membuat Jungkook merasa benar-benar jengkel melihatnya. Namun perkataan Jimin berikutnya membuatnya begitu meratapi sang ayah yang dengan teganya merencanakan ini.
"Sudahlah, kawan. Kau, aku, dan Yugyeom memang ditempatkan dikamar ini bersama-sama. Kau lihat penanda itu?"
Dengan cepat, Jungkook mengalihkan pandangannya pada pintu berwarna coklat yang memang sudah ditempelkan stiker yang berisi beberapa nama.
"Yes, buddy. Kita akan berada dalam satu kamar yang sama selama berada disini."
Jimin menepuk punggung Jungkook beberapa kali seakan sedang menyemangati adiknya yang masih melongo menatap stiker tersebut sementara dirinya sudah masuk kedalam kamar dan bergabung dengan Yugyeom yang sedang berbaring sambil memainkan handphonenya dengan tenang, tidak peduli dengan Jungkook yang merasa begitu putus asa dipintu sana.
"Aku lebih baik tidur diruang tengah daripada harus tidur bersama dengan kalian."
Gerutuan Jungkook yang hanya dianggap angin lalu oleh kedua saudara laki-lakinya tersebut. Lagipula Jungkook juga akan tetap tidur disana nantinya, buat apa melebih-lebihkan, pikir mereka.
Maka dari itu, sesaat setelah menaruh tas dan barang-barang yang lain, Jungkook berjalan menuju halaman belakang penginapan tersebut yang memang langsung menghadap ke hamparan biru laut yang begitu menawan berhiaskan sinar matahari. Terlihat begitu berkilau dengan pasir berwarna putihnya.
Jungkook menarik nafas dalam-dalam sambil meregangkan tubuhnya yang terasa begitu kaku setelah duduk selama berjam-jam didalam pesawat. Tersenyum kecil kala dirinya bisa merasakan segarnya berada dialam terbuka seperti ini. Lagipula sudah lama sekali sejak dia berkunjung ke pantai. Dia mengedarkan pandangannya kesekeliling dan terhenti saat kedua irisnya menangkap bayangan kurus yang sepertinya dia kenal berada tepat dibibir pantai. Menyeringai senang dan tanpa basa-basi segera berjalan menghampiri pria kurus yang sepertinya masih tidak menyadari kehadirannya melihat bagaimana pria itu bermain-main dengan air laut yang menyapu telapak kakinya yang tidak dibalut apa-apa.
"Sepertinya kau menyukai pantai."
Taehyung, pria kurus tersebut, sontak mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan sedikit melebarkan kedua kelopak matanya saat menemukan Jungkook disana. Dirinya kemudian kembali menunduk menatap air yang merendam kakinya dan tanpa sadar memamerkan senyumannya.
"Ya, aku selalu menyukai pantai. Meskipun sangat panas."
"I can see that. Well, kau tidak akan rela berada dibawah terik matahari seperti ini jika kau tidak benar-benar menyukai pantai."
Taehyung terkekeh pelan mendengar jawaban Jungkook dan Jungkook bersumpah suara itu begitu menggelitik telinganya dan membawa histeria yang bergejolak didalam perutnya.
"You got the point, Kim."
Dan setelahnya hanya hening yang menyelimuti keduanya. Taehyung yang masih asik bermain air dengan Jungkook yang terus memusatkan seluruh perhatiannya pada pria kurus dihadapannya. Dia menyukai bagaimana pemuda itu tersenyum atau bahkan terkadang tertawa kecil saat ombak yang menyapu kakinya sedikit mengenai celana yang dia gulung. Terlihat begitu indah dan mempesona saat sinar matahari yang dipantulkan oleh air laut yang begitu jernih mengenai sosoknya yang rupawan. Sekali lagi harus menahan nafas kala Taehyung menolehkan kepala padanya dengan senyum lebar terpatri diwajahnya.
"Kenapa diam saja? Kemarilah, ini menyenangkan."
"Kau salah, Im Taehyung. Ada yang lebih menyenangkan dari sekedar bermain air disana."
Taehyung mengernyit bingung namun juga dilingkupi rasa penasaran saat menatap Jungkook yang hanya beberapa langkah darinya. Semakin heran saat pria itu melebarkan senyumannya.
"Benarkah? Apa itu?"
"Melihatmu bahagia."
Mendengar hal itu mau tidak mau membuat semburat merah muncul diwajah Taehyung. Pemuda kurus itu mengalihkan pandangannya kearah lain berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah padam hingga telinga yang tentu saja mustahil karena Jungkook semakin melebarkan senyumannya disana. Begitu merutuki pria bertubuh kekar itu karena sudah membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat didalam sana.
"What a nonsense."
"Kau memerah."
"I'm not. Just shut up."
"Oh, telingamu juga."
"Shut up, Jungkook!"
Pemuda Kim itu tertawa keras saat melihat Taehyung yang semakin memerah dan berbalik pergi meninggalkan Jungkook disana. Jika kau berpikir Jungkook akan diam saja, maka kau salah karena pria itu justru mengekor dibelakang Taehyung sambil terus mengejeknya melewati Seokjin dan Yugyeom yang sedari tadi menonton adegan drama yang mereka buat.
"Kim Jungkook, jangan lupa memakai pengaman jika kau melakukannya nanti. Aku selalu mendukungmu, sobat."
Teriakan Yugyeom yang dihadiahi pukulan cukup keras dikepalanya. Dirinya menoleh pada Seokjin yang tetap berdiri dengan tenang sebagai pelaku penganiaya sambir mengusap kepalanya yang berdenyut karena pukulan tadi.
"Hyung, kenapa memukulku?!"
"Kau berbicara yang tidak-tidak, Yugyeom."
"Hey, aku hanya mengingatkan saudara kembarku untuk memakai cara aman. Kau mau adikmu jebol tanpa pengaman?"
Yang tentu saja mendapat pukulan lain dikepalanya namun disertai dengan tamparan dibibir Yugyeom. Berharap dengan itu bisa memperbaiki kerja otak dari pria jangkung disebelahnya itu.
"Itu sakit, hyu– Oh, Youngjae hyung!"
Yugyeom baru saja hendak menghampiri Youngjae yang baru saja keluar dari dalam penginapan menuju kolam renang yang ada dibawah sana jika saja pakaian yang dia pakai tidak ditarik dengan sadisnya oleh Seokjin. Dirinya tentu saja berusaha melepaskan diri untuk menghampiri pria manis yang saat ini sedang mendongak keatas dengan senyuman diwajahnya saat mengetahui Yugyeomlah yang memanggilnya.
"Yugyeom, kemarilah!"
"Aku akan kesana, tunggu sebentar. Ada pria tua yang terus mengoyak pakaia– astaga, berhenti memukulku, hyung!"
Pemuda manis dibawah sana memiringkan kepalanya dengan kedua alis yang menyatu saat dirinya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Yugyeom barusan. Disisi lain, Yugyeom sudah berhasil melarikan diri dari cengkraman Seokjin setelah dirinya menggigit lengan pria itu dengan kuat. Membuat sang empunya berteriak kesakitan sementara Yugyeom melarikan diri dengan cengiran lebar diwajahnya. Dia bisa menghampiri pria manis itu sekarang.
"Ada apa dengan pakaianmu, Gyeom-ah?"
Pemuda gembul itu menatap heran pada Yugyeom yang datang dengan nafas tersengal juga penampilan yang cukup berantakan. Sepertinya tidak ada angin ribut atau semacamnya tadi, kenapa Yugyeom begitu berantakan? pikirnya.
"Aku baru saja bertarung dengan pria tua diatas sana, jangan khawatir."
"Ah, kau benar. Aku seperti mendengar suara ribut dari atas sana tadi. Tapi aku hanya menemukan Seokjin hyung saja. Dimana pria tua itu?"
Yugyeom melongo saat mendengarnya keluar dari bibir Youngjae. Dia tidak tahu kalau Youngjae bisa sepolos ini. Orang pun tahu pria tua yang dia maksud adalah Seokjin.
"Dia sudah pergi, jangan dipikirkan, hyung."
"Benarkah? Baiklah kalau begitu."
Pemuda manis itu mengangguk mengerti dan berjalan mendekati Yugyeom untuk merapikan pakaiannya yang masih berantakan. Mau tidak mau hal itu membuat Yugyeom tersenyum kecil melihatnya. Dia yakin Youngjae melakukannya diluar kesadarannya.
"Terimakasih, hyung."
Terkesiap saat dirinya menyadari apa yang dia lakukan dan mengambil langkah mundur sambil menundukkan kepalanya. Merasa malu terlebih saat Yugyeom terus menatapnya dengan senyum lembut yang baru pertama kali dia lihat.
"M-maaf, tubuhku bergerak dengan sendirinya."
"Thats okay, aku senang kau melakukannya."
Mendaratkan telapak tangan besarnya diatas kepala si manis sebelum mengusak surai halusnya dengan gemas, membuat Youngjae sedikit tersipu merasakannya. Dia suka bagaimana tangan itu mengacak rambutnya. Terasa begitu hangat dan nyaman.
"Berhenti bertingkah manis, hyung. Aku bisa gila jika kau terus bertingkah seperti ini."
Perkataan yang mau tidak mau membawa semburat tipis dipipi gembul milik Youngjae. Sekali lagi, Youngjae berpikir bahwa Yugyeom itu berbahaya.
.
.
.
Senja telah menyapa ketika langit dipenuhi dengan perpaduan warna kuning, orange, bahkan merah. Tampak matahari yang hanya tersisa separuhnya saja diujung garis katulistiwa sana. Menghantarkan perasaan takjub juga menenangkan bagi orang-orang yang melihatnya. Sekali lagi merasa begitu kagum dengan kuasa Tuhan akan semestanya.
Sama seperti yang dilakukan oleh dua keluarga yang saat ini tengah berkumpul dihalaman kolam renang sebuah penginapan yang tidak jauh dari bibir pantai. Mereka terlihat begitu menikmati pemandangan matahari terbenam yang terpampang jelas dihadapan mereka. Bahkan beberapa dari mereka menggunakan kameranya untuk mengabadikan moment berharga itu.
Bukan tanpa alasan mereka berkumpul bersama seperti sekarang. Selain untuk menyaksikan matahari yang kembali pada persinggahannya, mereka juga berencana untuk melakukan pesta barbeque dadakan dihalaman belakang dekat kolam renang penginapan setelah sebelumnya Jinyoung dan Hoseok menyeret Jimin, Jackson dan Seokjin untuk ikut mereka ke supermarket tidak jauh dari sana.
"Paman, tolong jangan biarkan appa memasak daging-daging itu. Its a waste of time."
"Hey, what are you talking about. Appa mu ini sangat handal dalam hal bakar-membakar, Jackson."
"Appa, kau hampir menyebabkan kebakaran dirumah jika kau lupa."
Yang tentu saja dihadiahi jitakan dari sang ayah pada Jimin yang berkata dengan santainya. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat perdebatan antara ayah dan anak keluarga Kim tersebut.
"Sebaiknya turuti saja perkataan anak-anakmu, Namjoon-ah. Aku tidak ingin membayar ganti rugi jika itu benar-benar terjadi."
"Oh, dude, seriously. Setidaknya kita dekat dengan kolam renang disini."
Namjoon melemparkan cengiran jenakanya pada Jaebum yang hanya tertawa kecil mendengarnya. Sedangkan putra dari keluarga Kim yang lain hanya memutar bola matanya jengah mendengar candaan sang ayah yang sangat tidak lucu itu.
"Paman Jaebum, kau tidak perlu tertawa jika tidak ingin. Kami tahu itu tidak lucu."
Pernyataan lain dari Jungkook yang saat ini sedang asik memakan makanan ringannya itu membuahkan pitingan main-main dari ayahnya. Lalu dimana putra-putra dari keluarga Im? Mereka tengah sibuk mempersiapkan bahan-bahan didapur sana. Yah, memang tidaj semuanya karena Seokjin sedang membantu ayahnya menyalakan api sedangkan Bambam bergabung bersama si kembar Kim dan juga Jackson dipinggir kolam. Namjoon, Jimin dan, Mark sendiri sedang menata tempat duduk untuk mereka semua nantinya. Dan semua mata beralih pada Hoseok dan Jinyoung yang datang dengan tumpukan daging dan lainnya ditangan mereka. Sedangkan Yoongi, Taehyung dan Youngjae menyusul dibelakangnya membawa sayuran untuk wrap nya dan berbagai minuman lainnya. Tidak hanya itu, ada buah-buahan dan makanan ringan lainnya juga disana.
Jungkook dan Yugyeom yang sebelumnya terlihat tidak berminat pun langsung bangkit berlari menuju bahan-bahan itu diletakkan dengan mata berbinar bahagia. Keduanya semakin bersemangat kala Jaebum mulai membakar beberapa potong daging diatas perapian yang sudah disiapkan.
"Paman Im, tolong bakar dengan baik."
Sahutan kedua anak kembar itu hanya direspon dengan kekehan kecil oleh Jaebum sebelum mengiyakan permintaan mereka.
"Astaga, mereka itu."
Hoseok menghela nafas dalam melihat tingkah putra kembarnya yang terlihat tidak sopan itu. Sementara Jinyoung yang melihatnya pun tertawa geli dan menepuk bahu Hoseok dengan lembut.
"Tidak apa, Hoseok. Putramu saja tidak sungkan sama sekali."
"Ya, agak sedikit memalukan melihatnya."
"Biarkan saja. Lebih baik seperti itu daripada merasa canggung, benar?"
Istri dari Kim Namjoon itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum melanjutkan perbincangannya dengan Jinyoung dan yang lain sambil membuat masakan lainnya.
Semuanya tampak asik berbaur untuk mengobrol satu dengan yang lainnya. Tampak seperti sebuah keluarga besar yang benar-benar tengan menikmati liburan mereka setelah lama tidak melakukannya bersama. Jungkook yang sebelumnya sudah menyediakan kamera kesayangannya itu kini sedang berkeliling untuk mengabadikan moment kebersamaan mereka semua dihalaman belakang penginapan itu. Tidak jarang dia mengambil foto-foto aib yang sengaja dia lakukan untuk dijadikan bahan tertawaan. Bahkan kedua orangtuanya serta paman dan bibinya pun tidak luput dari kejahilannya. Disisi lain, Seokjin dan Mark kini tengah sibuk membantu Jaebum membakar daging-daging yang menggunung itu. Namjoon yang asik berbincang dengan Yoongi mengenai musik disebuah bangku yang sudah disediakan. Memang jauh sebelum Namjoon merintis perusahaannya, ayah dari Kim bersaudara merupakan salah satu produser musik yang karya-karyanya diakui oleh orang-orang yang mendengarnya. Sedangkan Yoongi sendiri memang memiliki ketertarikan besar dalam dunia musik. Tidak jarang dia diajak bekerja sama untuk melakukan sebuah project bersama musisi lainnya.
"Dagingnya sudah matang!"
Teriakan antusias dari Yugyeom yang mengundang semuanya untuk berkerubung disekitar perapian, menunggu giliran supaya bisa mendapatkan jatah daging yang sedari tadi ditunggu-tunggu. Tampak Jungkook dan Yugyeom yang saling berebut disana meskipun masih banyak potong daging yang disediakan. Tidak jarang mereka mengambil jatah dari piring satu sama lain yang berakhir dengan argumen dan saling memiting satu sama lain. Sedangkan yang lain hanya menyaksikan tanpa berniat untuk memisahkan keduanya. Biarkanlah mereka dijadikan tontonan bagi yang lainnya.
"Hey, bodoh, kita melupakan bagian terbaiknya."
"Aku tidak bodoh, sialan. Jadi, apa yang kita lupakan?"
Jungkook merunduk untuk membisikkan sesuatu ditelinga saudara kembarnya. Apapun itu yang dibisikkan oleh Jungkook, keduanya segera bergegas masuk kedalam penginapan untuk mengambil sesuatu.
"Sepertinya anakmu memiliki sebuah rencana, Namjoon-ah."
"Ya, apapun itu, berdoalah agar kalian selamat."
Yang dijawab oleh gelak tawa dari yang lainnya. Keluarga Kim jelas sudah sangat mengenal tingkah laku dua anak kembar itu. Keduanya selalu memiliki ide-ide abnormal dikepala mereka. Jadi wajar saja jika Namjoon berkata demikian.
Selagi duo kembar Kim itu mengambil amunisi mereka, yang lainnya masih sibuk menikmati pesta dadakan disana. Bahkan tidak jarang Jimin secara terang-terangan menunjukkan perhatiannya ada Yoongi yang hanya dijawab ketus oleh sang empunya meskipun kedua pipinya sudah memerah. Jinyoung hanya bisa takjub melihat bagaimana Jimin bisa menerobos dinding tebal yang selalu Yoongi bangun bagi orang-orang yang mendekatinya. Ya, ini adalah pertama kalinya dia melihat Yoongi merasa gugup didekat orang lain.
Namun semuanya sontak menoleh secara bersamaan kala mereka mendengar latar belakang musik yang biasanya terdengar dalam film animasi saat tokohnya melakukan sesuatu yang menakjubkan. Disana, nampaklah si kembar yang membawa beberapa plastik berisi kembang api juga beberapa batang petasan dipelukan mereka. Hoseok menepuk keningnya merasa begitu putus asa melihat tingkah kedua anak paling mudanya. Pantas saja mereka tiba-tiba menghilang beberapa jam yang lalu, rupanya keduanya mencari kembang api diluar sana.
"Pesta bukanlah pesta yang meriah tanpa kembang apa, benarkan appa?"
"That is my twins!"
Namjoon menganggukkan kepalanya sambil menepuk tangannya merasa bangga dengan putra kembarnya. Maka dengan itu, mereka berpindah menuju pinggir pantai untuk menyaksikan pesta kembang api dadakkan ala si kembar Kim dengan dibantu anak-anak yang lainnya tentu saja.
Jungkook menancapkan sebuah petasan berukuran sedang dan sedikit menguburnya didalam pasir supaya tidak terjatuh. Setelah yakin tidak akan bergoyang, dia menyuruh Yugyeom untuk membakarnya sebelum kemudian keduanya berlari kencang menjauhi batang petasan yang sumbunya sudah terbakar dengan kedua telinga yang ditutupi oleh telapak tangan mereka sendiri.
Saat petasan itu meluncur bebas dan meledak dilangit, keduanya melakukan highfive disertai dengan senyuman bangga dikedua wajah mereka. Sementara anggota keluarga yang lain hanya menikmati pemandangan indah dari petasan yang memekar indah dilangit cerah malam ini. Sekali lagi merasa bersyukur karena bisa berkumpul hangat dengan keluarga mereka. Karena tidak ada yang lebih indah dari rasa kebersamaan itu sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
to be continue..
