HOLIDAY

Part III : Unexpected Date

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hyung, wake up."

Pemuda berkulit pucat itu berlutut disamping ranjang yang ditempati kakaknya. Menusuk-nusuk pipi milik Taehyung saat dirasa tidak ada respon dari sang empunya.

"Hyung, bangunlah. Kita kemari bukan untuk tidur. Ayo bermain diluar."

Namun pemuda kurus itu hanya mengubah posisinya membelakangi Youngjae yang kini sudah mencebikkan bibirnya kesal. Dia bisa saja mengajak kakaknya yang lain untuk bermain, jika dia mengajaknya dua jam yang lalu. Tapi yang lainnya sudah terlanjur pergi dengan tujuan masing-masing. Yoongi yang pagi-pagi sekali sudah menyeret Jimin entah kemana, Seokjin yang juga pergi bersama Mark, Jackson, dan Bambam untuk menjelajah diluar sana. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain mengajak Taehyung untuk bermain bersama.

Sebenarnya masih ada Jungkook dan Yugyeom yang tersisa diruang tengah sana. Tapi mereka terlihat begitu mengantuk karena memang keduanyalah yang tidur paling terakhir.

"Taehyungie hyung, ayolah."

Youngjae beranjak menaiki ranjang tersebut dan mengguncangkan tubuh kakaknya sambil mengeluarkan rengekkan handalannya. Membuat Taehyung perlahan membuka matanya dengan susah payah untuk menatap sang adik. Melihat itu, Youngjae tersenyum lebar karena berhasil membangunkan kakaknya.

"Im Youngjae, adikku yang manis. Bisakah kau biarkan kakakmu untuk tidur sedikit lebih lama? Aku berjanji akan menemanimu sore nanti."

"Ah, hyung– Kenapa sore? Kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama kita berada disini. Ini kesempatan yang langka, kau tahu. Yang lain sudah pergi dua jam yang lalu. Jadi hanya kau dan aku yang tersisa disini."

Menghela nafas dengan dalam saat mendapati kakaknya sudah kembali menutup kedua matanya. Taehyung memang bukanlah morning person, jadi sulit sekali untuk membangunkan dia dipagi hari. Namun seperti teringat sesuatu, Youngjae melebarkan senyumnya sambil melirik pada kakaknya.

"Hah, sepertinya aku akan keluar bersama Yugyeom saja jika seperti ini. Selamat bersenang-senang bersama Jungkook, hyung."

Saat hendak menuruni ranjang itu, Youngjae bisa merasakan bajunya yang ditarik oleh sebuah tangan dibelakangnya. Dia menolehkan kepalanya dan mendapati Taehyung yang sedang menatapnya dengan tatapan memelas. Dalam hati dia bersorak gembira karena berhasil memancing Taehyung. Dia tahu kalau Taehyung selalu merasa gugup jika berada didekat Jungkook, maka dari itu dia memanfaatkan keadaan itu supaya bisa membujuknya.

"Kita pergi bersama, Youngjae. Tunggu disini, aku akan bersiap-siap. Sebentar saja."

Dengan itu, Taehyung bergegas bangun untuk kemudian menuju kamar mandi untuk bersiap-siap secepat mungkin. Meninggalkan Youngjae yang kini sedang susah payah menahan tawanya yang bisa keluar kapan saja.

.

.

.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"

"Uh, sebenarnya aku tidak tahu, hyung. Aku hanya bosan dan ingin melakukan sesuatu untuk mengusir rasa bosanku."

Taehyung menatap pada Youngjae dengan tatapan jengahnya saat mendengar jawaban sang adik. Ayolah, dia dibangunkan secara paksa dan sekarang adiknya mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Dirinya hendak berbalik kembali menuju kamar yang ditempatinya bersama Yoongi saat dirinya mendapati Jungkook yang baru saja turun dari tangga.

"Oh, Taehyung dan Youngjae. Kupikir kalian sudah pergi sejak tadi?"

"Y-ya, kami memang baru saja hendak pergi."

Pemuda tampan itu menganggukkan kepalanya mengerti dan baru saja akan melangkah melewati keduanya saat dirinya mendapatkan ide yang bagus.

"Aku dan Yugyeom akan ikut dengan kalian kalau begitu. Kau tidak keberatankan, Youngjae?"

Taehyung membelalakkan kedua irisnya saat Jungkook mengatakannya. Mengalihkan pandangannya pada Youngjae dan meremas kaos yang dipakai adiknya berharap sang adik akan menolak pernyataan tersebut namun harapannya pupus saat melihat senyum cerah diwajah gempalnya.

"Tentu saja. Semakin ramai akan semakin menyenangkan. Benarkan, hyung?"

"Kalau begitu aku akan menyeret bocah sialan itu dulu. Tunggu kami dalam sepuluh menit."

Dengan itu, Jungkook berbalik pergi untuk memberitahu saudara kembarnya. Meninggalkan Taehyung yang menatap Youngjae dengan tatapan sebalnya.

"Kau bilang hanya berdua, Youngjae."

"Memangnya kenapa, hyung? Lagipula tidak ada salahnya mengajak mereka karena kita sama-sama buta arah."

Youngjae mengedikkan bahunya sebelum melangkahkan kakinya memenuju ruang tengah sambil menunggu si kembar Kim itu. Taehyung sendiri hanya meratapi sifat adiknya yang kelewat polos dan sedikit menyebalkan itu.

Bukan apa-apa, dia hanya merasa begitu gugup saat berada didekat Jungkook. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa pria itu menawarkan kenyamanan padanya. Tapi jantungnya yang terus berdetak secara abnormal sedikit menganggunya. Begitu keras hingga dia takut Jungkook akan mendengarnya. Akan sangat memalukan jika itu benar-benar terjadi. Menghela nafas berat sebelum melangkahkan kedua tungkai jenjangnya mengikuti Youngjae yang sudah duduk diatas sofa sambil memainkan ponselnya. Berharap tidak ada hal memalukan yang terjadi hari ini. Lagipula Youngjae memang benar mengenai keduanya yang benar-benar payah dalam memperhitungkan arah. Jadi mungkin tidak ada salahnya mengajak saudara kembar itu. Mereka terlihat meyakinkan.

"Lepaskan aku, brengsek!"

"Ayo kita pergi, hyung."

Dua Im bersaudara itu mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara dan mendapati Jungkook yang datang bersama Yugyeom dibelakangnya. Rupanya bocah itu benar mengenai dirinya yang akan menyeret saudara kembarnya itu melihat Jungkook yang datang sambil menarik kerah baju yang dipakai Yugyeom. Mereka berdua bangkit dari sofa yang sebelumnya diduduki dan bersama-sama berjalan menuju pintu utama.

"Jadi, siapa yang akan menyetir?"

"Aku akan melakukannya."

"Jangan bercanda, Jungkook. Kau belum memiliki SIM."

Jungkook mengalihkan pandangannya pada Taehyung yang menatapnya dengan sebal. Menunjukkan kunci yang dia pegang sebelum beranjak memasuki mobil dihadapannya.

"Masuklah."

Putra ketiga dari keluarga Im itu memutar bola matanya malas sebelum membuka kursi penumpang yang ada dibelakang dan disusul oleh Youngjae. Dia tidak ingin duduk dibangku depan, itu sama saja bunuh diri.

"Kupikir kau akan duduk disampingku, hyung."

"Aku buta arah, jadi Yugyeom akan sangat membantu."

"Kau dengar itu, kawan? Aku tahu aku memang sangat berguna untukmu. Menyetirlah dengan baik dan ikuti kata-kataku."

Yugyeom menepuk bahu Jungkook yang menurut sang empunya sangat menyebalkan itu sesaat setelah memakai sabuk pengaman. Menyalakan mesin sebelum menjalankan mobil yang mereka tumpangi menuju tempat-tempat terkenal yang berada tidak jauh dari penginapan mereka.

.

.

.

Senja telah menyapa ketika keempat pemuda ititu menginjakkan kaki mereka dipasir pantai yang menjadi destinasi terakhir mereka hari ini. Sebenarnya mereka hanya membunuh waktu saja sebelum nantinya menuju restaurant yang ada tidak jauh dari tempat mereka berada. Saat berada dipusat souvenir tadi, mereka sempat berpapasan dengan Yoongi dan Jimin yang juga sedang membeli benda khas Hawaii sebagai buah tangan. Tapi keduanya langsung pergi saat Youngjae menawarkan untuk pergi bersama. Yah, sebenarnya Jiminlah yang menyeret Yoongi untuk pergi. Sepertinya pemuda itu tidak ingin kencannya terganggu.

"Oh, sunset dipantai akan selalu menjadi favoritku."

"Kau benar, hyung. Sangat indah."

Youngjae ikut mendudukkan diri diatas pasir tepat disamping Taehyung. Menikmati angin yang menerpa wajah mereka dengan pemandangan yang terlukis jelas dihadapan mereka. Keduanya begitu puas berkeliling hari ini. Jungkook dan Yugyeom memang orang yang tepat untuk diajak berkeliling, duo kembar itu tahu betul seluk beluk yang mereka kunjung. Yah, tidak heran karena mereka berkata pernah mengunjungi Hawaii sebelumnya.

Taehyung sendiri sangat menikmati waktunya bersama Jungkook yang diam-diam selalu memberikan perhatian penuh padanya. Pemuda itu memang tidak mengatakan apapun, tapi sikapnya menunjukkan semuanya. Bagaimana Jungkook melindunginya ditengah keramaian, selalu dengan sigap membantunya, bahkan pria itu tidak segan untuk membawakan tas dan tentengan yang dibawa oleh Taehyung. Ingin membuat Taehyung lebih leluasa untuk mengeksplor, katanya. Dia tidak membantah jika dia menyukai itu semua. Hal-hal kecil yang mampu membuat hatinya terasa menghangat.

Sedangkan Youngjae sendiri juga merasakan hal yang sama. Bedanya, jika Jungkook terkesan lebih dewasa, maka Yugyeom adalah sebaliknya. Pria itu tidak segan untuk memeluk Youngjae saat mereka sedang terdesak ditengah keramaian dengan maksud untuk melindunginya. Yugyeom bahkan sudah mengambil alih tas punggung yang dia bawa sesaat mereka sampai ditujuan pertama. Pria itu juga berkali-kali menggoda Youngjae dengan mengatakan betapa manis dan menggemaskan dirinya yang tentu saja membuatnya memerah.

Lalu ada dimana duo Kim itu sekarang? Keduanya sedang pergi untuk membeli minuman tidak jauh dari tempat mereka berada. Membiarkan sepasang saudara itu menikmati waktu keluarga mereka.

"Keputusanku mengajak Jungkook bukan hal yang buruk, benar?"

"Oh, shut up, Youngjae. Aku masih kesal soal itu. Kau membohongiku dan itu menyebalkan."

Taehyung menarik hidung Youngjae dengan gemas yang meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan warna kulitnya. Youngjae hampir melayangkan protesnya saat melihat senyuman diwajah sang kakak yang sedang menatap lurus kedepan.

"Tapi memang benar, mengajak mereka memang bukan hal yang buruk."

"Hyung, kau tersenyum karena memikirkan Jungkook?"

"Apa? T-tentu saja tidak. Lagipula kau juga sama, Youngjae. Kau terlihat bahagia bersama dengan Yugyeom, benarkan? Tidak usah mengelak, ak–"

"Kau benar, hyung. Yugyeom orang yang baik dan menyenangkan. Aku menyukainya."

Taehyung melebarkan kedua irisnya seakan bola matanya bisa keluar kapan saja saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir sang adik. Sungguh, dia tahu adiknya memang sangat jujur dan straight forward. Tapi dia tidak menyangka Youngjae akan mengatakannya dengan begitu mudah. Maka dengan cepat Taehyung menarik tubuh gempal Youngjae kedalam pelukannya dan meremasnya dengan gemas.

"Tidak. Adikku yang manis ini masih terlalu muda untuk berpacaran. Aku tidak rela kau dimiliki orang lain. Tidak akan pernah. Kau adikku, kau milikku."

Pemuda kurus itu menggoyang-goyangkan tubuh mereka kekanan dan kekiri sambil tetap memeluk sang adik dengan sangat erat. Membuat ekspresi sesedih mungkin saat membayangkan adiknya yang akan dimiliki oleh orang lain.

"Lepaskan, hyung. Kau memeluk dengan terlalu kencang, aku tidak bisa bernafas. Dan berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil, kalian semua sama saja. Bahkan Bambam juga sama."

"Tapi kau memang adik kecilku, Youngjae. Kau akan selalu menjadi adik kecilku."

"Hyung, hentikan. Ini memalukan–"

"Uh, sorry."

Keduanya berhenti dan terpaku saat mendengar deheman juga kata tersebut. Mengalihkan padangan mereka dengan patah-patah dan segera melepaskan pelukan mereka saat menemukan Yugyeom dan juga Jungkook disana.

"Ini minuman kalian."

Yugyeom mengambil langkah mendekati mereka untuk menyerahkan dua botol minuman yang dia pegang. Tidak bisa menahan senyumannya saat melihat Youngjae yang menunduk malu dengan semburat merah yang manis dikedua pipinya. Oh, dia ingin sekali memeluk pria itu.

"Jadi perkataanmu mengenai saudara-saudaramu yang selalu memperlakukanmu seperti anak kecil itu benar, hm?"

"K-kau bisa lihat sendiri, Gyeom."

"Im Youngjae, tapi kau memang adik kecilku!"

"Tapi, hyung–"

"Hey, hey, sudahlah."

Jungkook menengahi keduanya dan beralih menatap Taehyung yang sedang merengut sebal sambil melipat kedua tangannya didada. Tertawa kecil sebelum kemudian mendaratkan tangan besarnya diatas kepala Taehyung untuk mengacak surainya dengan gemas. Serius, Taehyung terlihat menggemaskan sekali sekarang.

"Ah, Youngjae hyung, kau menggemaskan sekali."

Tanpa bisa dicegah, Yugyeom sudah membawa Youngjae kedalam rengkuhannya membuat Youngjae bersandar didada bidangnya dengan nyaman. Youngjae yang mendapat perlakuan tiba-tiba itu hanya bisa menyembunyikan wajahnya didada milik pria jangkung itu menahan malu. Membuat Yugyeom semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Youngjae.

Melihat orang lain memeluk adiknya seperti itu membuat Taehyung hampir saja menghampiri keduanya jika saja tidak ada tangan kekar yang merangkul kedua bahunya untuk pergi dari sana. Taehyung memberontak tentu saja, tapi apa daya jika kekuatan pria disampingnya itu lebih besar darinya.

"Lepaskan aku, Jungkook. Aku tidak akan membiarkan adikku diambil olehnya."

"Uh-huh, ayo kita pergi. Biarkan mereka memiliki waktu berdua."

"Tapi, Jungkook–"

"Diam atau kucium."

Pernyataan yang sontak membuat Taehyung terdiam dan menuruti Jungkook yang masih menyeretnya menjauh. Serius, Jungkook itu hobi sekali menyeret orang lain.

"K-kau bercanda."

"Bercanda? Aku bisa membuktikannya jika kau mau."

Pemuda Kim itu mendekatkan wajahnya pada wajah Taehyung yang kini dengan refleks menutup matanya. Membuat Jungkook lagi-lagi tersenyum melihat tingkah pemuda kurus dalam rangkulannya ini. Taehyung bisa merasakan hembusan nafas Jungkook diwajahnya, dia yakin Jungkook hanya beberapa sentimeter terpisah darinya.

"Kau manis, Taehyung."

Pemuda kurus itu refleks membuka kedua matanya dan sesegera mungkin menyesali keputusan itu karena, demi koleksi Gucci miliknya, wajah mereka dekat sekali dan dia merasa bisa meleleh kapan saja saat kedua iris karamelnya terpaku pada iris tajam milik Jungkook.

"Jungkook, apa perlu kupesankan kamar hotel? Sepertinya kalian membutuhkannya."

Dengan segera Taehyung memisahkan tubuh keduanya dan berusaha menyembunyikan wajah memerahnya dari Jungkook yang tentu saja mustahil. Sementara Jungkook tertawa sinis dan menatap pada Yugyeom yang masih merangkul Youngjae dalam pelukannya sebelum mengacungkan jari tengah oada saudara kembarnya itu.

"Fuck you, dude."

"No, buddy. Fuck him instead."

Percakapan dua saudara kembar yang sangat tidak membantu. Dia bisa merasakan panas dipipinya yang merambat menuju telinganya. Oh, dasar dua Kim sialan.

"Jangan dengarkan dia. Sudah kukatakan bahwa Yugyeom itu sialan."

Jungkook kembali merangkul Taehyung untuk pergi dari sana. Hari sudah malam dan sepertinya jam makan malam sudah tiba. Jadi dia akan membawa pemuda kurus itu menuju restaurant yang tidak jauh dari sana.

"Oh, kau sudah mau pergi? Well, goodluck, buddy. Jangan lupa memakai pengaman."

"Shut your god-damned mouth, Yugyeom! Come along with your boyfriend and lets have a dinner. I'll kill you once we reached home."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue..