HOLIDAY
Part IV : Confession
.
.
.
.
.
.
.
"Tae, dimana Yoongi hyung?"
Taehyung mengalihkan pandangannya jadi benda persegi yang ada digenggamannya untuk menatap pada sahabatnya yang saat ini tengah berdiri dihadapannya. Memutar bola matanya malas kala mendapati pria itu sudah memamerkan cengiran lebar diwajahnya. Dia semakin yakin bahwa Jimin ini adalah seorang masokis mengingat sikap Yoongi padanya selama ini.
"Dude, kau ini benar-benar seorang masokis sejati ya?"
Jimin mengernyitkan keningnya bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu sebelum kemudian tersenyum lebar seakan mengerti apa yang dimaksudkan.
"Aku akan dengan senang hati menjadi masokis jika itu untuk Yoongi hyung."
"Kau memang sinting, Jim."
Pemuda tampan itu tertawa keras mendengar jawaban dari Taehyung. Membuat Taehyung semakin yakin bahwa sahabat lamanya itu memang sudah gila.
"Jadi, dimana Yoongi hyung?"
"Dikamar, sedang tidur. Kusarankan kau tid– JIMIN, KAU BENAR-BENAR SINTING!"
Teriakan keras Taehyung yang hanya dinggap angin lalu oleh Jimin. Pria bertubuh tegap itu melangkah cepat menuju kamar yang ditempati Yoongi, tidak sabar bertemu dengan pujaannya. Tadi Taehyung mengatakan bahwa Yoongi sedang tidur. Oh, ini kesempatan langka untuk melihat wajah tidur pemuda manis bermulut pedas itu.
Menekan kenop pintu berlabel Yoongi-Taehyung itu dengan perlahan dan mendorongnya, sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara apapun. Jimin mengambil langkah perlahan menuju ranjang berukuran tidak terlalu besar yang kira-kira cukup untuk ditiduri dua orang itu dengan mata yang terus tertuju pada seonggok tubuh yang masih berbaring tenang diatas ranjang. Berjongkok tepat disisi ranjang dan tersenyum kala mendapati wajah tenang milik pemuda manis yang sedang tidur dalam posisi menyamping itu.
Sungguh, Yoongi yang sedang tertidur sangat berbeda dengan saat pemuda manis itu terjaga. Wajahnya terlihat begitu tenang dengan mata yang terpejam damai dan bibir sedikit terbuka. Jimin dibuat tambah gemas melihat posisinya yang meringkuk membuatnya terlihat lebih mungil diatas ranjang itu. Jika seperti ini, tidak akan ada yang menyangka bahwa Yoongi adalah pria bermulut pedas dengan ekspresi tak beriaknya.
Jimin mengangkat sebelah tangannya untuk kemudian meletakkannya diatas kepala Yoongi dan mengelus surainya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Jika kau bertanya apa Jimin jatuh cinta pada pemuda manis dihadapannya? maka jawabannya adalah Ya. Jimin sudah jatuh begitu dalam pada pesona seorang Im Yoongi bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Yah, Jimin memang sedikit terkejut dengan sikap pria nya. Tapi, siapa peduli? Jimin sudah memantapkan hatinya untuk mengejar Yoongi. Dan dia tidak akan berhenti sampai pria ini menjadi miliknya.
Pemuda tampan itu mendengus geli saat Yoongi sedikit menggeliatkan tubuhnya semakin mendekat padanya saat dia menghentikan belaian tangannya disurai halus milik Yoongi. Sepertinya Yoongi menyukai belaian dikepalanya saat sedang tidur.
Sebenarnya rencana dia kemari ingin membangunkan Yoongi dan kembali menghabiskan waktu mereka bersama. Tapi dirinya tidak tega untuk membangunkan Yoongi dari tidur damainya itu. Lagipula Jimin begitu menyukai wajah tidur milik Yoongi. Begitu manis dan menggemaskan. Jimi bisa saja menatap wajah itu seharian penuh tanpa takut merasa bosan sama sekali. Namun selang beberapa saat kemudian, dia mendapati Yoongi mengernyitkan dahinya sebelum membuka kedua kelopak matanya perlahan. Jimin terkekeh geli melihat Yoongi yang sekarang tengah mengucek matanya dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Selamat siang, manis."
Yoongi menghentikan usapannya pada kedua matanya dan mengalihkan pandangannya pada Jimin yang masih memamerkan cengiran lebarnya. Butuh beberapa saat untuk dirinya sadar bahwa pria menyebalkan itu benar-benar ada disana.
"Sial, sedang apa kau disini Jimin?!"
"Menatapmu yang tidur seperti bayi."
"Shit, aku tidak tidur seperti bayi!"
Yoongi bangkit dari baringannya sambil menatap tajam pada Jimin yang masih berjongkok disamping ranjang yang dia tempati. Benarkan? Yoongi yang sedang tertidur itu sangat berbeda dengan Yoongi yang sedang terjaga.
"Tapi kau menggemaskan, Yoongi. Sama seperti bayi."
"Jimin, aku lebih tua darimu."
"Kita tidak memerlukan itu saat menjadi sepasang kekasih."
Yoongi memicingkan matanya pada Jimin kala kalimat itu meluncur bebas dari mulut pemuda yang kini sudah mendudukkan diri ditepi ranjang. Kekasih? Dia pasti bercanda.
"Aku bukan kekasihmu."
"Belum."
Pemuda tampan itu dengan cepat mengoreksi kalimat yang dikeluarkan Yoongi. Menatap pada pemuda manis itu dengan tatapan tajam namun teduhnya sambil tersenyum lembut pada pria nya. Membuat Yoongi mau tidak mau mengalihkan pandangannya kearah lain, berusaha menyembunyikan semburat merah murah dikedua pipinya.
"Kau melantur, Jimin."
"No, I'm not. Kau memang akan menjadi kekasihku, Yoongi. Mau bertaruh soal itu?"
Yoongi mendengus sebal mendengarnya. Dia benci mengakuinya, tapi Jimin memang benar. Setelah cukup lama selalu bersama dengan pemuda tampan itu, dia mulai menyadari sesuatu. Perasaan yang perlahan-lahan tumbuh didalam hatinya yang selalu membawa euphoria menyenangkan kala dia sedang bersama dengan pria tampan itu. Berkali-kali Yoongi berusaha menepisnya namun berkali-kali juga dia gagal. Karena jika Yoongi mulai menampik perasaannya, maka Jimin akan membuat perasaan itu tumbuh lagi, lagi, lagi, dan lagi. Otaknya memang tidak menginginkan Jimin, tapi hatinya menangis-nangis akan keberadaan pria itu. His heart craving for Jimin.
"Berhenti memikirkanku, Yoongi. Aku ada dihadapanmu, sekarang."
"A-aku tidak sedang memikirkanmu."
"Kau terbata, Yoongi. Berhenti berbohong."
Pemuda manis itu mendengus sebal dan melayangkan tatapan tajamnya pada Jimin. Jimin itu menyebalkan. Sangat menyebalkan. Dia selalu bisa menebak apa yang ada dikepala Yoongi. Dan itu sangat, sangat menyebalkan.
"Ah, aku baru ingat. Bangun dan bersiaplah, Yoongi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Tidak mau. Aku ingin tidur seharian ini."
"Kau harus mau. Bangun atau aku menggendongmu dan memandikanmu. Aku bersungguh-sungguh."
Melempar tatapan tajamnya pada Jimin sebelum bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada didalam kamar tersebut dengan wajah bersungut-sungut menahan kesal. Sudah berapa kali Yoongi bilang kalau Jimin itu sangat menyebalkan.
Disisi lain, Jimin hanya tersenyum geli melihat Yoongi berjalan menuju kamar mandi dengan menghentakkan kakinya. Manis, itulah yang ada dipikirannya.
"Aku akan menunggumu disini, Yoon."
"GET OUT OF MY ROOM, YOU IDIOT!"
Teriakan Yoongi yang berhasil membuat Jimin tertawa keras disana. Tidak ingin membuat Yoongi semakin marah, Jimin melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut dengan wajah sumringah membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. Oh, dia sangat menantikannya.
.
"Wow, aku tidak percaya kau selamat, Jim."
Pemuda bertubuh tegap yang saat ini tengah duduk disofa itu mengerutkan keningnya saat mendengar pernyataan dari Taehyung. Memangnya apa yang habis dia lakukan sampai Taehyung mengatakan hal itu? Dia hanya membangunkan Yoongi tadi. Taehyung yang mengerti bahwa Jimin tidak menangkap maksudnya, mendudukkan diri tepat disamping sahabatnya itu dan lantas merangkul lehernya.
"Kuberitahu. Tidak ada satupun dari kami yang selamat setelah membangunkan Yoongi hyung. Kau dengar itu, Jim? Dan sebuah keajaiban kau keluar dengan wajah sumringah seperti tidak ada apapun yang terjadi."
"Apa maksudmu dengan itu? Yoongi hyung terlihat menggemaskan saat baru saja bangun tidur, Tae. Kau ini bicara apa?"
Taehyung melepaskan rangkulannya dileher Jimin perlahan dengan mata membelalak lebar seakan tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Menggemaskan? Yang benar saja.
"Seriously, Jim? Kau rusak, man."
Jimin terbahak keras mendengarnya. Sungguh, sahabatnya ini terlalu berlebihan. Tidak terima dikatai rusak, Jimin memiting leher Taehyung tanpa ampun dengan tawa terus terdengar dari mulutnya. Namun segera menghentikan kegiatannya itu saat matanya menangkap Yoongi yang baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Aku pergi dulu, kawan. Pujaanku sudah menunggu."
Jimin mengusak rambut Taehyung sebelum bangkit dan menghampiri Yoongi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Merebut benda persegi itu dan meletakkannya didalam tas yang Yoongi bawa sebelum merangkul prianya keluar. Mengundang dengusan sebal dari sang empunya.
"Berhenti bertidak semaumu, Jimin."
"Kau hanya berputar dimenu handphonemu, Yoongi. Berhenti berpura-pura menyibukkan diri. Lebih baik berkencan bersamaku."
"Berkencan, your ass."
"Wow, aku tidak tahu kau sudah sefrontal itu, Yoon. Baiklah, baiklah. Bokongku memang menarik. Yah, tidak semenarik bokongmu, sih."
"For god fuckin' sake, Kim Jimin. Shut your god-damned mouth!"
"Yes, honey. You're very welcome."
Yoongi menghela nafasnya dengan frustasi. Menghadapi Jimin memang sangat menguras energinya. Jadi dia hanya menurut saja saat pria itu membukakan pintu mobil dihadapan mereka untuknya. Bahkan pemuda tampan itu repot-repot memakaikan seatbelt untuknya. Setelah yakin Yoongi duduk dengan aman dan nyaman, Jimin segera berjalan memutari mobil hitam tersebut dan menduduki kursi kemudi. Melirik sedikit pada Yoongi, dan tersenyum geli saat melihat pemuda manis nya masih dalam mode merajuk sebelum menjalankan BMW Z4 sewaannya menuju tempat destinasinya kali ini. Menyeringai kecil kala mengingat rencananya hari ini.
Yoongi mengerutkan dahinya kala menangkap ekspresi sumringah milik Jimin. Dia menangkap gerak-gerik aneh milik dari pemuda disampingnya. Yah, Jimin memang aneh. Tapi kali ini jauh lebih aneh dan itu mencurigakan baginya.
"Jimin, berhenti tersenyum seperti orang idiot. Kau mau membawaku kemana?"
"Oh, sayang, sudah kukatakan kalau aku akan membawamu keluar untuk berkencan."
"Kau terlihat meragukan."
Terkekeh geli mendengar pernyataan tersebut dari Yoongi. Jimin melirik sebentar pada Yoongi yang masih menatapnya dengan mata yang memicing padanya. Membuatnya harus menahan desakkan untuk tertawa keras karenanya.
"Ayolah, Yoongi. Aku tidak mungkin mencelakaimu, kau tahu. Aku terlalu mencintaimu untuk melakukannya, darl."
"Stop it, Jimin. Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Kau bukan kekasihku."
"Belum, Yoongi. Aku tahu kau menginginkanku."
Yoongi memutar bola matanya malas dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Berdebat dengan Jimin tidak akan ada habisnya. Pria itu selalu memiliki jawaban untuk membalasnya. Yah, dia munafik jika mengatakan dirinya tidak menginginkan Jimin. Dia memang menginginkan pria itu, tapi dia memilih untuk mengelak. Dia hanya malu, okay?
Omong-omong soal kencan, dia datang ke Hawaii untuk liburan bersama keluarga. Bukan untuk disandera oleh Jimin setiap harinya selama mereka berada disini. Yah, tidak setiap hari memang. Tapi tetap saja. Dan dia tidak melihat yang lainnya sejak tadi pagi, hanya Taehyung yang sedang bersama dengan Jimin tadi. Apa dia ditinggal lagi?
"Kita sampai."
Tersadar dari lamunannya, Yoongi mengedarkan pandangannya keluar jendela dan mendapati pantai yang tidak terlalu ramai terhampar luas dihadapannya. Segera keluar dari dalam mobil tersebut sesaat setelah melepaskan seatbelt yang melingkari tubuhnya. Walaupun penginapan yang mereka tempati begitu dekat dengan pantai, tapi tidak ada permainan yang bisa dia mainkan disana. Maka ketika dia mendapati beberapa orang yang sedang bermain permainan air dihadapannya, dia langsung merasa bersemangat akan hal itu. Dia hendak melangkahkan kakinya ketika mengingat bahwa dirinya tidak membawa pakaian ganti sama sekali yang mau tidak mau harus membuatnya menelan rasa kecewanya bulat-bulat.
"Ada apa, hm?"
"Tidak ada. Jadi, kenapa kau mengajakku kemari?"
Jimin mengangkat sebelah alisnya saat melihat senyum Yoongi yang terlihat sekali sangat dipaksakan. Namun tersenyum sesaat setelah dirinya mengerti apa yang dipikirkan oleh Yoongi.
"Bersenang-senang, tentu saja. Apalagi? Kudengar kau menyukai permainan pantai?"
"Tapi–"
"Jangan khawatir tentang pakaianmu, Yoongi. Disini ada banyak toko yang menjual berbagai pakaian. Ayo."
Belum sempat Yoongi menjawab, pemuda tegap itu sudah menarik tangannya sesaat setelah berhasil mengambil alih tas yang dia pakai. See? Jimin selalu bertingkah seenaknya. Meskipun begitu, kali ini Yoongi tidak akan protes karena memang ini yang Yoongi inginkan sejak mereka sampai di Hawaii.
.
Keduanya baru saja menyelesaikan kegiatan mereka ketika senja sudah menyapa. Cukup banyak wahana yang mereka coba hari ini dan memutuskan mengakhirinya dengan belajar surfing. Keduanya berhasil berdiri diatas papan panjang masing-masing tapi memang dasarnya Yoongi itu pemalas, dia hanya berbaring diatas papan setelah beberapa kali berhasil berdiri. Sedangkan Jimin, pria itu terus melakukan hal-hal yang baru baginya. Dengan didampingi oleh professional tentu saja. Maka sesaat setelah mengembalikan papan seluncur yang mereka pakai, keduanya mendudukkan diri dibibir pantai. Membiarkan air laut mencium kaki mereka disana. Lagipula tubuh mereka sudah basah setelah seharian bermain dilaut.
"Kau menikmatinya?"
"Ya, sangat menikmati. Terimakasih."
"Nah, that was nothing. Aku senang kau menikmatinya. Terlebih kau tidak banyak menggerutu hari ini."
"Aku memang menikmatinya, tapi aku lebih senang dunia digitalku."
Jimin terkekeh geli melihat Yoongi yang berusaha mengelaknya. Pemuda manis itu terlihat begitu menggemaskan dimatanya. Terlebih dengan bibirnya yang tanpa sadar dia kerucutkan. Ingin rasanya dia membawa Yoongi kedalam pelukan hangatnya dan menciumnya tepat dibibir, mengatakan bahwa Yoongi itu miliknya. Tapi tidak, dia belum mau mati. Melakukan itu semua sama saja bunuh diri. Meskipun bertubuh mungil, tapi dia yakin Yoongi bisa mematahkan hidungnya dengan kepalan tangan putihnya jika dia membuat Yoongi marah.
Setelahnya, hening melingkupi keduanya. Jimin yang sibuk menatap Yoongi dan Yoongi yang sibuk menikmati suasana senja dipantai itu. Tidak merasa terganggu dengan tatapan Jimin sama sekali. Dia sudah terbiasa dengan itu dan tidak ada gunanya melarang Jimin. Pria itu akan tetap melakukannya. Tidak hanya menatap, Jimin biasanya mengatakan kalimat-kalimat random seperti Yoongi, aku ingin memilikimu atau menikahlah denganku malam ini. Dia tahu Jimin hanya asal bicara. Makanya Yoongi hanya mengabaikannya saja.
"Yoon, kau itu sangat menarik. Kau tahu itu?"
Benarkan? Jimin memang seperti itu. Itulah sebabnya mengapa Yoongi tidak tahu Jimin itu serius dengan perasaannya atau tidak. Saat pertama kali bertemu dengan pria itu, Yoongi tahu bahwa Jimin adalah tipe pria yang suka main-main. Ditambah dengan sorot jenaka yang selalu dia tunjukkan setiap waktu. Dia hanya merasa bahwa dia harus berhati-hati dengan Jimin.
Jimin sendiri sudah berkali-kali menyatakan perasaannya pada Yoongi. Tapi Yoongi selalu menghindarinya jika ditanyai mengenai jawaban. Dia tidak mau menyesal nantinya. Dia takut sakit hati. Meskipun begitu, dia tidak bisa mengelak jika dia memang sudah jatuh cinta pada pesona milik seorang Kim Jimin.
Ditatapnya Jimin yang sudah bangkin berdiri disampingnya dan mengulurkan tangan padanya.
"Come on, you'll catch a cold."
Uluran tangan yang senang hati disambut oleh Yoongi. Memang benar jika dia sudah mulai merasa kedinginan akibat bajunya yang basah. Sedikit mengernyitkan dahinya kala mendengar keributan yang terjadi tidak jauh dari mereka, namun memilih untuk mengabaikannya. Tapi kemudian dia menangkap sosok yang berlari kencang kearah mereka dengan sebilah pisau lipat ditangannya. Semuanya terasa bagaikan slow motion bagi Yoongi. Bagaimana pria yang memakai topeng hitam itu menancapkan bilah tajam yang berada digenggamannya pada tubuh Jimin, bagaimana seringaian jahat itu ditujukan padanya dan bagaimana pria itu berlari meninggalkan mereka. Dan seperti kembali pada mode semula, Yoongi mengalihkan pandangannya pada Jimin yang mencengkram genggaman tangan mereka sebelum jatuh diatas pasir dengan keras. Bisa dilihatnya pisau itu menancap dipinggang Jimin mulai mengeluarkan darah segar yang menodai swimsuit putih yang dia pakai.
"Jimin? Jimin– hey, tatap mataku. Kau dengar aku?"
Yoongi mengangkat setengah badan Jimin dan merengkuhnya kedalam pelukannya. Airmata sudah menganak sungai dikedua pipinya yang bahkan dia sendiri tidak sadar sejak kapan. Matanya terus menatap nanar pada mata Jimin yang kini sudah hampir tertutup. Pemuda tampan itu tersenyum dan meraih pipi Yoongi untuk menghapus airmatanya dengan tangan bergetarnya yang bernoda darah. Meringis kecil sebelum terkekeh pelan menatap Yoongi.
"Pipimu terkena noda darah– ssh.. ma-maafkan aku."
"Diam, Jimin. Aku akan cari bantuan. Jangan tutup matamu! Kau dengar aku, keparat?!"
Jimin kembali terkekeh mendengar kalimat itu keluar dari bibir bergetar Yoongi. Pria nya itu memang benar-benar bermulut pedas rupanya.
"Kau bahkan berkata kasar saat a–ku hampir mati–"
"Berhenti bicara, brengsek! Kau tidak akan mati! Tidak akan!"
"Aku m-mencintaimu, Yoongi. Ugh– selalu."
Tepat setelah mengatakan kalimat itu, kedua kelopak mata Jimin tertutup secara perlahan. Menyembunyikan iris tajamnya yang selalu menatap lembut serta jenaka padanya. Yoongi meraung ditengah tangisannya dan memeluk tubuh lemas Jimin dengan begitu erat seakan tidak ingin melepaskannya. Menyesali dirinya yang begitu keras kepala terhadap perasaanya pada jimin. Menyesali dirinya yang tidak bisa mencegah kejadian ini untuk terjadi.
Tidak. Jimin tidak mungkin mati. Jimin tidak boleh mati. Jimin adalah pria brengsek. Dia tidak akan meninggal secepat ini. Maka dengan menahan tangisannya, Yoongi mengambil tangan kanan milik Jimin untuk memeriksa denyut nadinya. Setelah yakin dia merasakan denyutannya, Yoongi meletakkan tubuh Jimin dengan perlahan diatas pasir untuk segera mencari bala bantuan. Dirinya tidak mungkin mampu mengangkat tubuh Jimin dengan tubuh lemasnya. Lagipula Jimin jauh lebih berat daripada dirinya.
"Yoongi hyung, apa yang– ASTAGA, JIMIN!"
Taehyung datang bersama dengan Jungkook disampingnya. Keduanya begitu terkejut melihat keadaan Jimin. Maka tanpa menunggu lama, Jungkook langsung bertindak mengambil alih tubuh Jimin sementara Taehyung memeluk kakaknya dengan sangat erat. Berusaha menenangkan tangisan sang kakak yang kembali pecah. Yoongi hampir membalikkan tubuhnya untuk menghadap pada Jimin namun Taehyung mencegahnya yang mau tidak mau membuat Yoongi berusaha memberontak.
"Tidak hyung, Jungkook sedang mengeluarkan pisaunya. Jangan melihat kebelakang, itu akan menyakitimu."
"Tapi Tae, ini semua salahku. Kalau saja aku bisa bertindak lebih cepat, ini tidak akan terjadi. Kalau saja aku tidak terus mengabaikan perasaanku, aku tidak mungkin menyesali ini semua. Ini semua salahku. Aku–"
"Ya, ini semua memang salahmu, Yoongi. Kau membunuh kakakku."
Yoongi memejamkan matanya erat-erat kala dirinya mendengar Jungkook mengeluarkan kalimat menyakitkan itu. Membuat Taehyung semakin mengeratkan pelukannya ditubuh sang kakak dan melemparkan tatapan tajamnya pada Jungkook.
"Jungkook, kau tidak bisa menyalahkan Yoongi hyung. Kita tidak tahu kronologinya."
"Tapi itulah kenyataanya, Taehyung! Dia bahkan mengatakannya sendiri!"
Kedua orang itu mulai saling berteriak pada satu sama lain. Yoongi sendiri yang sudah berhenti menangis, hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong. Bukan hanya matanya, tapi juga hatinya.
"Kau tidak tahu apa-apa, brengsek! Ka–"
"HENT–"
Tidak tahan dengan dua orang yang saling berteriak itu, Yoongi melepaskan dirinya dari pelukan Taehyung dan membalikkan tubuhnya. Dirinya mematung saat mendapati sosok dihadapannya. Itu Jimin. Itu memang Jimin. Tapi dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan pria itu sudah berdiri tegak dihadapannya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa itu bukanlah ilusi.
"Hey, Yoongi."
Dengan segera, Yoongi menubruk tubuh tegap itu dan memeluk leher Jimin dengan erat. Ini memang Jimin nya. Bukan ilusi. Airmata kembali mengalir deras dari kedua matanya. Merasa bersyukur bahwa Jimin baik-baik saja. Setelah beberapa lama tetap dalam posisi yang sama, Jimin melepaskan pelukan mereka dan menatap tepat kedalam manik jernih milik Yoongi.
"Im Yoongi. Kau tahu, aku memang brengsek dan suka main-main. Aku memang tidak bisa menjadi yang kau inginkan. Aku liar. Aku tidak suka terikat."
Jimin mengambil kedua tangan Yoongi dengan lembut dan menggenggamnya dengan erat sambil tetap menatap Yoongi dalam-dalam. Yoongi sendiri masih melongo ditempatnya. Tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tapi satu hal yang aku tahu bahwa aku juga tidak suka melihatmu terikat dengan orang lain. Aku ingin kau. Untukku. Menjadi milikku. Aku memang tidak bisa menjanjikan apapun kedepannya. Aku terlalu brengsek untuk berjanji. Untuk yang terakhir kali ini aku sudah membuat perjanjian dengan Tuhan bahwa aku akan menjagamu, melindungimu, mencintaimu seumur hidupku, jika kau menerimaku sebagai bagian dari hidupmu. Nyawaku adalah taruhannya. Jadi, Im Yoongi, would you give me an honor to be part of your beautiful life?"
Tanpa menunggu lama, Yoongi segera menganggukkan kepalanya. Dia sudah yakin dengan perasaannya. Dia tidak mau kehilangan pria dihadapannya ini. Dia mencintai pria ini. Dengan sepenuh hati. Dia tidak ingin lagi menjadi munafik. Dia memang tidak ingin sakit hati, tapi dia lebih tidak ingin menyesal nantinya.
Jimin yang melihat sang pujaan menganggukkan kepalanya segera membawa pria itu kedalam rengkuhan hangatnya. Hari yang dia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Yoongi sudah menjadi miliknya, seperti apa yang selama ini dia impi-impikan. Mendongak keatas dengan wajah bahagianya sambil terus memeluk Yoongi dengan erat. Dia akan menepati perjanjiannya. Harus. Karena dia sudah berjanji pada Tuhan, bukan yang lain.
Bisa didengar oleh Yoongi tepukan tangan yang cukup ramai dari kejauhan dan dia tersentak kagel melihat keluarganya juga keluarga Jimin berjalan menghampiri mereka. Terlebih lagi saat melihat Yugyeom dengan pakaian persis seperti yang dipakai penjahat tadi. Jadi ini semua adalah bagian dari rencana Jimin?
"Woah, son! I'm so proud of you! That was such a great act! Kau memang bajingan.
"Well, thanks, dad?"
Namjoon berjalan menghampiri Jimin dan menepuk bahunya merasa bangga. Berbeda dengan Hoseok yang justru malah menarik telinga Jimin dengan begitu keras, mempuat sang empunya meringis kesakitan.
"Kim Jimin, kau benar-benar harus berhenti mengeluarkan ide-ide gila. Bagaimana jika pisau itu benar-benar menusukmu?"
"Astaga, eomma. Berhentilah berpikir negatif. Bahkan appa tidak memarahiku."
"Ya, karena kalian sekongkol."
"Tunggu, jadi itu benar-benar pisau sungguhan?"
Yoongi menatap pada Jungkook yang kini sedang memegang pisau lipat tersebut. Mengedikkan bahunya kala Yoongi menatapnya dengan tatapan tidak percayanya. Pemuda manis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Yugyeom yang dengan santainya memainkan topeng yang ada digenggamannya. Merasa diperhatikan, Yugyeom menunjuk pada Jimin yang masih dengan cengiran lebarnya.
"Aku hanya menjalankan rencana dari Jimin."
"Kau memang benar-benar sinting, Jim."
"Ayolah, Tae. Kau sangat tidak kreatif sekali hari ini terus mengataiku sinting."
Yoongi mengalihkan pandangannya pada Jimin dan menatapnya dengan tatapan membunuh sebelum berjalan meninggalkan pemuda tampan itu dengan berapi-api.
"Tidak, tidak. Kau memang benar-benar sinting, keparat."
"Yoongi! Hey, kau mau kemana, sayang? Yoon– hey, jangan mengabaikanku!"
Kedua pemuda yang sedang kasmaran itu berjalan meninggalkan kerumunan keluarga mereka yang kini hanya menatap dengan tatapan maklum. Jelas saja Yoongi marah setelah mengetahui rencananya yang terkesan bermain-main dengan nyawa.
"Sepertinya kau dan aku memang benar-benar akan berbesan, Namjoon."
"Kau yakin ingin mempunyai menantu brengsek sepertinya, tuan Im? Kau mendengarnya sendiri tadi."
"Yah, dia terlihat menjanjikan dalam menjamin kehidupan anakku. Jimin cinta mati pada Yoongi, dia bisa saja memberikan kekuasaannya pada anakku."
Namjoon menyeringai pada Jaebum yang juga dibalas dengan seringaian. Tentu saja mereka semua mengetahui bahwa dua kepala keluarga itu hanya bergurau saja. Melihat sang suami yang tidak akan berhenti disitu saja, Jinyoung menarik Hoseok meninggalkan mereka berdua menyusul anak-anak mereka yang sudah terlebih dahulu berjalan pergi. Lagipula hari sudah malam dan mereka berdua merasa sangat lapar sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
to be continue..
