Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~
Cast: Park Jihoon, Park Woojin, Ahn Hyeongseob, Wanna One, tunas Yuehua
Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie
Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.
•
Their Story
•
Ruang tunggu yang biasanya penuh dengan koper-koper besar dan puluhan alat rias kini sudah bersih, hanya tersisa beberapa manusia tampan yang sebenarnya hendak meninggalkan tempat itu juga. Satu demi satu dari mereka pergi, menyisakan sosok tampan dengan kulit sedikit gelam berhenti di depan pintu karna sosok lain sebaya dengannya tengah menatapnya tajam.
"Ada apa Jihoonie?"
"Berhentilah menggodaku Park Woojin," ucap Jihoon tegas dengan tangan terlipat di dada.
"Kenapa aku? Hyung lain kan juga menggodamu, kan? Kau ini menggemaskan untuk digoda"
"Mereka tidak menggodaku dengan mengatakan mereka menyukaiku di tempat umum," Jihoon menekuk wajahnya kesal.
Temannya ini tahu betul dia tidak suka digoda dengan pernyataan suka di depan banyak orang, tak peduli suka seperti apa pun itu, tapi tetap saja menggodanya hampir ratusan kali entah di depan penggemar atau di depan teman-teman mereka yang lain.
"YA! PARK WOOJIN PARK JIHOON! KALIAN MAU PERGI JALAN KAKI HAH?!" teriakan nyaring sang ketua memaksa keduanya berlari dan melupakan percakapan mereka sesaat. Setidaknya selama perjalan, karna sesampainya di dormitory mereka, kedua insan itu terlihat melakukan percakapan serius di dapur.
"Aku serius Woojin, kau harus berhenti menggodaku seperti tadi,"
Ya, Woojin menggodanya lagi saat mereka menyapa penggemar mereka di luar gedung televisi.
"Kau ini kenapa mendadak serius sekali Jihoonie? Biasanya juga tidak masalah," Seungwoo entah sejak kapan sudah duduk manis dengan kursi di antara dua pemuda bermarga Park itu.
"Iya betul hyung, dia aneh sekali," timpal Woojin.
"Candaan itu tidak lucu lagi jika kau lakukan terus menerus. Itu bisa menimbulkan salah paham,"
"Siapa yang akan salah paham?" Seongwoo bertanya dengan bodohnya dan bersiap beranjak dari posisi duduk nyamannya.
"Hyeongseob! Aku yakin dia pasti salah paham hari itu, kalau bukan karna Guanlin yang juga salah paham di saat yang sama aku tidak akan berfikir Hyeongseob akan salah paham,"
"Hubungi saja Hyeongseob sekarang,"
Sungguh, Jihoon ingin meninju hyungnya ini. Sangat menganggu dengan saran tidak berfaedah itu. Tentu saja Jihoon tahu itu tidak berfaedah karna dia sudah puluhan kali mencoba menghubungi salah satu teman dekatnya itu. Tak satu pun panggilannya terjawab. Semuanya masuk ke kotak suara.
"Kurasa tak akan ada yang salah paham," ucap Woojin pelan namun telinga Jihoon masih mampu menangkapnya.
"Susah sekali sih bicara deng.."
"Tak akan ada yang salah paham Jihoonie, karna itu memang perasaanku yang sebenarnya," Woojin menundukan kepalanya.
Jihoon dan Seungwoo sama-sama membuka mulut mereka lebar dan membulatkan mata mereka sempurna.
"Kau gila Park Woojin!"
Jihoon melangkah cepat tak peduli ia menabrak sebagian tubuh Woojin kasar. Ia hendak menuju kamarnya. Ingin rasanya segera membenamkan wajah di balik bantal melampiaskan emosinya yang tak bisa ia ungkap karna harus menjaga jari-jarinya yang berharga untuk tidak terluka akibat meninju dinding kamar.
"Tidur di kasurku saja, jangan sekamar dengan Woojin dulu," itu suara pria dengan nama keluarga Ong yang tengah menggenggam erat tangan Jihoon yang memanas.
Tanpa memberikan jawaban, Jihoon memutar tubuhnya dan menghilang di balik pintu kamar untuk 3 orang. Daniel yang mendapati Jihoon membanting diri di kasur kekasihnya mengerutkan alisnya bingung. Begitu pula Jisung yang kini sudah menepuk punggung Jihoon halus, menenangkan emosi anggotanya itu. Dia memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi insting keibuan yang ia miliki menuntunnya untuk menenangkan Jihoon.
Sejak hari itu, hubungan dua anak itu menjadi sedikit gelap. Keduanya jarang bicara. Lebih tepatnya Jihoon tidak ingin bicara dengan Woojin. Pikiran Jihoon dipenuhi rasa bersalah terhadap teman baiknya di agensi sebelah. Kalau tahu Woojin akan seperti ini, ia tidak akan maju membantu Woojin di awal terbentuknya grup ini. Kedekatan Pink Sausage ini bermula dari rasa tanggung jawab Jihoon untuk membuat sahabat sekaligus kekasih temannya ini tidak tertekan selama terpisah dengan Hyeongseob. Jihoon merasa sangat bersalah membuat Woojin sampai memiliki pikiran menyukainya.
Dan kejadian pagi itu membuat Jihoon sungguh ingin lompat saja dari gedung 63.
Hari yang cerah itu di warnai riuhnya dormitory Wanna One seperti biasa. Minhyun yang sibuk membuat roti bersama Sungwoon sambil bertukar bercerita, Daehwi bermanja-manja ria dengan Jinyoung, Jisung yang sibuk membangunkan member lain, Ong yang sedang menceramahi Daniel karna sampah jellynya berhamburan. Semuanya normal, hingga bel pintu mereka berbunyi.
Semua membeku.
Manager mereka tak mungkin membunyikan bel, mereka tahu kode pintu dengan baik.
"Ada yang pesan makanan?" tanya Minhyun menatap serius satu-satu anggota yang ada. Ini masalah serius karna kalau sampai ada yang memesan makanan di saat ia sudah susah payah memanggang roti, ia akan menempelkan panggangan roti Seungwoon pada orang itu. Untungnya tak satu pun mengiyakan pertanyaan itu.
"Siapa?"
"Ini aku hyung, Hyeongseob. Woojin ada?"
Semua membeku lagi. Terutama Jihoon. Jihoon sungguh ingin membuka pintu itu dan memeluk temannya untuk meminta maaf. Yang dicari tidak bicara, namun tubuhnya segera bergerak menuju pintu
"Tidak usah buka pintunya Woojin, aku tidak akan bisa bicara kalau berhadapan langsung denganmu."
Mendengar itu Woojin melangkah menuju speaker penerima tamu.
"Ok, ini aku. Kenapa Seob?"
"Kau benar-benar suka Jihoon?"
Hening. Semua menanti jawaban Woojin, tak hanya Hyeongseob, tapi setelah jam berdetik beberapa kali ia tak kunjung memberi jawaban.
"Baiklah aku mengerti sekarang. Mulai hari ini aku akan melupakan semuanya. Kita akhiri saja hubungan ini."
Woojin bergegas membuka pintu utama, berharap mampu menemukan Hyeongseob. Namun ia hanya melihat sebuah van hitam berlalu meninggalkan rumah sementaranya. Sisi lain dalam hatinya terasa sesak. Tapi bukankah dia merasa sangat nyaman dengan Jihoon? Bukankah berarti dia menyukai Jihoon? Lalu kenapa dia merasakan perih menghadapi kenyataan hubungannya dengan Hyeongseob berakhir?
•
Their Story
•
Dear readers,
Sekali lagi terima kasih sudah membaca sampai sini~
Terima kasih juga buat semua reader yang sudah me-riview , menambahkan story ini dalam favorite or following stories kalian.
Karna udah hampir dua minggu story ini ga ke update, jadi hari ini author double update.
Dan di chapter ini author bikin full dari sisi kehidupan Woojin (dengan chinggu-nya Jihoon), sisi kehidupan Hyeongseob disimpan dulu ya~
Semoga ada yang suka.
Review jjuseyo~
