Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~

Cast: Ahn Hyeongseob, Park Woojin, Wanna One, tunas Yuehua, Sewoon

Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie

Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.

Their Story

"Terima kasih atas kerja samanya,"

"Terima kasih atas kerjasamanya,"

Kedua insan muda itu berulang kali membungkuk hormat menyampaikan sejuta terima kasih pada setiap orang yang ada di ruangan serba putih itu. Mulai dari yang memegang kamera hingga yang lalu-lalang dengan tumpukan kertas. Keduanya menghela nafas lega karena pengambilan gambar untuk majalah edisi bulan depan sudah berakhir.

"Nuna, ini pakaiannya," salah satu dari mereka menyerahkan satu set pakaian yang sebelumnya ia kenakan kepada seorang wanita di balik deretan pakaian lain.

"Terima kasih Euiwoong,"

Setelah tersenyum manis, Euiwoong menoleh ke sisi lain untuk menemukan rekan kerja yang lebih tua darinya. Alisnya bertaut menyadari sosok yang ia cari itu merapatkan telapak tangannya pada bibirnya sebelum meneguk air mineral di tangannya. Euiwoong tidak bodoh. Ia tahu hyungnya sedang mengkonsumsi sesuatu. Tapi apa? Ia tidak mampu bertanya meski rasa penasarannya sangat tinggi. Karna pemuda itu sudah menghilang ditarik oleh manager mereka yang lain.

Sejak beberapa bulan lalu hyung bermarga Ahn itu memiliki manager sendiri karna jadwalnya yang semakin hari semakin padat, lebih tepatnya beberapa hari sejak Jung Jung membawanya ke statiun televisi. Untuk kejadian itu, tidak satu pun trainee Yuehua berani buka suara di sekeliling Hyeongseob. Sekedar bertanya 'ada apa?' pun tidak. Bukan karna mereka tidak mau tahu, tapi justru karna mereka terlalu tahu. Terlalu tahu bahwa hanya satu hal yang mampu membuat seorang Ahn Hyeongseob mengalirkan air mata bisu malam itu. Ya, hanya orang itu yang bisa, Park Woojin.


Di sudut lain Seoul, Hyeongseob sudah kembali disibukan oleh kegiatan lain. Kali ini dengan lebih banyak rekan kerja. Beberapa terlihat sebaya dengannya, beberapa ia tahu jelas merupakan seniornya. Mengakhiri sesi menyapa dan penjelasan dari para staff, Hyeongseob menyandarkan tubuhnya pada kursi kecil di dalam sebuah ruangan yang sepi. Sesekali pemuda itu terlihat menggelengkan kepala keras sebelum akhirnya mengaduk isi ransel hitamnya hanya untuk dikecewakan dengan botol plastik kecil yang kosong. Dia buru-buru menenggelamkan botol itu kebagian terdalam begitu mendengar langkah kaki menghampirinya.

"Ada apa?" tanya pria yang baru saja dating begitu mendapati Hyeongseob yang kebingunagn dengan wajah sedikit pucat

"Hmmm," Hyeongseob mengigit bibirnya ragu, "obatku hilang hyung," ia menatap lirih managernya.

"Lagi?! Sudah berapa botol yang kau hilangkan huh?"

"Maafkan aku, carikan lagi ya hyung ya," ia memasang wajah memohonnya. Sesuatu yang selalu berhasil meluluhkan staff agensinya.

"Nanti kucarikan, tapi kali ini hyung yang simpan obatnya,"

Hyeongseob menggeleng cepat, " aku janji tidak akan menghilangkannya lagi,"

"Hyeongseob-ssi, kita sudah akan mulai," seorang pria lain berdiri di ambang pintu menanti pemuda yang dipanggilnya.

"Pokoknya nanti berikan padaku ya hyung," ujar Hyeongseob yang sudah kembali ceria sambil melangkah riang.


Bulan telah menggantikan matahari ketika sesosok pemuda bergerak gelisah di ranjangnya. Matanya terpejam namun wajahnya berkerut. Tubuhnya terus berganti arah menghadap dan membelakangi dinding. Terus berulang seiring jarum hitam yang bergerak, sesekali nama Woojin sayup terdengar di kamar dengan dua ranjang bertingkat itu membuat penghuni lain menatap resah pada sumber suara. Seketika pemuda itu duduk berusaha mengatur nafasnya dan mengacak rambutnya kesal. Tak sampai menit berganti ia sudah beranjak dari tempatnya, meraih botol kecil dari tasnya dan melangkah keluar. Tanpa sadar bahwa ada sosok lain yang mengikutinya.

"Obat apa itu Seob hyung?" tanya sosok mungil yang bersandar pada mesin pendingin.

Raut wajah Hyeongseob sesaat menampakan rasa terkejut. Tangannya dengan cepat memasukan botol kecil miliknya ke dalam saku celana.

"Bukan apa-apa Ung. Kau belum tidur? Besok kau masuk sekolah kan?" Hyeongseob melangkah, mencobai mendahului Euiwoong masuk ke kamar mereka. Namun langkahnya terhenti oleh tangan Euiwoong yang menahan lengannya dan dengan cepat meraih botol dalam saku celananya. Ia mulai mengigit bibir bawahnya khawatir mendapati obatnya ada di tangan sang ketua, ditambah lagi dengan ekspresi tidak menyenangkan dari wajah imut itu.

"Sejak kapan kau mengkonsumsinya hyung?"

Euiwoong tidak bertanya kenapa obat anti depresan itu dikonsumsi oleh hyungnya karna itu adalah pertanyaan bodoh yang jawabannya sudah pasti karna Hyeongseob mengalami depresi. Hyeongseob adalah tipikal orang yang membenci obat, dia hanya meneguk racun-racun itu kalau terpaksa. Setidaknya itulah Hyeongseob yang ia kenal.

"Entahlah aku lupa," Hyeongseob mengangkat kedua bahunya sebelum berusaha meraih obat di tangan Euiwoong.

"Berhenti hyung… kau sudah banyak mengkonsumsi ini," Euiwoong mengatakan itu pada Hyeongseob bukan tanpa alasan. Ia sudah berulangkali mendapatkan Hyeongseob meneguk sesuatu namun waktu selalu menghalanginya mengetahui benda yang terus masuk ke dalam tubuh pemuda itu.

Hyeongseob diam tak memberi respon. Ia tidak bisa mengiyakan permintaan Euiwoong begitu saja. Hyeongseob tahu jelas obat itu tidak baik dikonsumsi terus-menerus. Tapi di sisi lain dia butuh obat itu. Obat itu setidaknya menurunkan kegelisahannya dan menghilangkan bayangan laki-laki itu. Menjauhkannya dari rasa perih di dalam batinnya.

"Woojin hyung hah?" tanya Euiwoong membuat Hyeongseob mengankat kepalanya bingung karna tiada hujan atau angina Euiwoong membawa nama itu ke telinganya, "Yang membuatmu depresi hingga menyentuh obat ini… Woojin hyung kan?"

Masih diam Hyeongseob tak bergeming.

"Kalau kau tidak berhenti dari ini dan sesuatu terjadi padamu, hyung itu tak akan pernah kumaafkan seumur hidupku. Berhentilah memikirkannya hyung, dia bahkan tak memikirkanmu selama ini," Euiwoong melempar kasar botol itu ke dalam tempat sampah tak jauh dari mereka sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar, meninggalkan Hyeongseob dan butiran air matanya. Menciptakan suasana canggung di asrama itu.


Siang setelah Euiwoong menemukan fakta mengerikan, setidaknya menurutnya itu mengerikan, keduanya kembali dalam aktivitas masing-masing. Hyeongseob di dalam asrama dengan waktu istirahatnya, Euiwoong pergi menghadiri pelajaran di sekolahnya.

Masih lengkap dengan jas dan dasi ciri khas Hanlim, Euiwoong menyantap hamburgernya dengan kesal di sebuah rumah makan cepat saji. Di hadapannya pemuda dengan kemeja santai dan celana jeans biru menatapinya dengan seksama.

"Ada apa Ung?" pertanyaan itu begitu tenang, membuat seluruh amarah Euiwoong menguap ke udara.

"Tidak ada apa-apa hyung,"

"Bertengkar dengan Haknyeon?"

"Tidak,"

"Lalu?"

Sungguh orang di hadapannya ini begitu tenang, bahkan rasa khawatirnya saja berbeda dengan rasa khawatir kekasihnya yang menuntut dengan penuh kecemasan dalam setiap kalimat. Yang ini setiap kata tak menggambarkan kecemasan, namun cukup bagi lawan bicaranya untuk tahu ada rasa khawatir di balik ketenangan itu. Dan entah bagaimana itu selalu berhasil membuat Euiwoong menumpahkan segala isi hati dan pikirannya pada orang ini. Pemuda yang lebih tua darinya itu memang sudah sering jadi tempatnya menumpahkan segala jenis emosi yang ia miliki. Seperti sekarang. Pada akhirnya Euiwoong pun membuka kekhawatirnya akan anggota tim yang sangat ia sayangi bagai kakaknya sendiri, setelah orang di hadapannya ini tentunya.

Metamong Jeongjae Moreulnom~

Dering ponsel di dalam jas Euiwoong menghentikan sesi berceritanya. Jemarinya segera bergerak meraih saku di bagian dalam jasnya, menampilkan ponsel hitam elegan dengan layar menyala. Di sana nama salah satu anggotanya tertera jelas, JUSTIN. Bukan hal yang biasa bagi nama itu untuk muncul di ponselnya. Ia menekuk wajahnya bingung.

"Siapa?"

"Justin, aku angkat dulu ya hyung," Euiwoong mengusap layar ponselnya membuat suara Justin di sebrang sana menyapa telinganya. Suara itu bergetar. Takut mungkin. Berulang kali nama Hyeongseob disebut namun kalimat Justin tak kunjung selesai. Euiwoong mulai dilanda kepanikan mendengar isak tangis Justin.

"Stin bicara yang jelas! Ada apa dengan Seob hyung? Stin!"

"Ung, ke rumah sakit dekat dorm sekarang, Hyeongseob…" ini bukan suara Justin. Ini hyungnya yang lain. Jung Jung sepertinya, "kritis."

Mata Euiwoong membulat sempurna, genangan air mulai mengisi kelopak mata itu. Tubuhnya dengan sendirinya berdiri. Nyaris melupakan orang di hadapannya.

"Kenapa Ung? Apa yang terjadi?"

"Sewoon hyung, Hyeongseob hyung… kritis," ia menahan air matanya mati-matian. Tak ingin sebutir pun jatuh di depan umum.

Mengerti keadaan Euiwoong, Sewoon segera meraih tangannya membawanya masuk ke dalam mobilnya, mobil orang tuanya mungkin lebih tepat, dan memacu mobil itu cepat namun tenang. Sewoon mungkin terlihat seperti pemuda yang lamban berpikir. Tapi kembali lagi pada pepatah don't judge the book by it's cover. Sewoon ini punya tingkat kepekaan yang cukup tinggi, hanya saja pribadinya yang tenang membuat pemuda dengan nama belakang Jung ini bereaksi berbeda dari orang pada umumnya. Dan itu adalah salah satu kharismanya. Salah satu alasan hubungannya dengan makhluk 4D, Kim Jaehwan, bisa bertahan dengan baik meski mereka terpisah jadwal menyebalkan.

Sesampainya di sana Euiwoong membeku mendapati Hyeongseob terbaring lemah dengan beberapa alat medis di dalam ruang khusus. Tak ada wajah Hyeongseob si ceria seperti di sana. Yang ada hanya pemuda bewajah pucat pasi. Suara isakan Justin menggema di ruangan itu. Sejauh matanya memandang yang ada hanya anggotanya yang terlihat panik dan khawatir dan seorang dokter terlihat sedang berbincang dengan manager mereka. Sepeninggalan dokter itu, sang manager menghampiri pemuda-pemuda khawatir tersebut.

"Hyeongseob overdosis obat penenang. Masih belum tau kapan dia akan sadar. Hyung akan menghubungi orang tuanya dulu. Tunggulah sebentar kalau kalian ingin kembali,"

Tangisan Justin kembali meledak. Tubuhnya gemetar. Sebagai anggota termuda di tim dan malah menjadi orang pertama yang menemukan Hyeongseob tidak sadarkan diri di asrama mereka dengan beberapa butir obat yang tersebar di lantai, ini pasti berat baginya. Berdasarkan informasi, Justin jugalah yang berlari ke rumah sakit dengan Hyeongseob di punggungnya.

Euiwoong tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun meski telinganya terus dipaksa mendengar berbagai jenis informasi mengenai Hyeongseob. Matanya menatap kosong ke arah hyung kesayangannya yang masih terpejam di sana. Perlahan bayangan Hyeongseob yang selalu gembira dalam kepalanya memudar, tergantikan dengan Hyeongseob yang menangis seorang diri di dalam kamar mandi, Hyeongseob yang tidur dengan air mata, Hyeongseob yang selalu gelisah dalam malamnya. Bayangan menyakitkan itu membangun kembali amarahnya. Amarah pada satu-satunya orang yang menyebabkan semua ini. Orang yang dengan seenaknya membawa Hyeongseob pada kebahagian lalu menjatuhkannya ke dalam keterpurukan. Dengan terbutakan amarah, tubuhnya bergerak sendiri. Tanpa di sadari oleh anggota lain, ia melangkah pergi.

"Ayo kalian kembali dulu, biar manager lain yang menjaga Hyeongseob. Sewoon terima kasih ya sudah mengantar Ung. Loh? Ung kemana?" tanya sang manager yang tak mendapati ketua tim itu.

"Biar aku saja yang mencarinya hyung," Sewoon membungkuk sopan sebelum berlari kecil meninggalkan mereka.

Tidak perlu dicari sebenarnya, Sewoon sudah yakin dimana adik kesekiannya itu berada. Dengan keadaan seperti ini dan emosinya yang tidak stabil, hanya satu tempat yang mungkin ia datangi. Tempat dimana orang itu berada. Tempat dimana Park Woojin berada.

Their Story

Dear readers,

HamzziHwanggu sekali lagi mengucapkan terima kasih buat yang 1114 orangudah baca 27 review , 35 follower, 23 yang nge-favorite cerita ini. Terima kasih atas masukan-masukan kalian. Semoga chapter ini menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian di chapter 4.

Kelanjutan hidup Hyeongseob akan angst atau akan bagaimana, tunggu di chapter berikutnya ya~

Xie Xie