Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~
Cast: Ahn Hyeongseob, Park Woojin, Wanna One, tunas Yuehua, Eunki, Haknyeon
Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie
Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.
•
Their Story
•
Meski bulan sudah menerangi dunia, salah satu ruangan milik YMC entertainment masih menebarkan tanda kehidupan. Lain dari biasanya, kali ini bukan alunan musik dan derap langkah koregrafi, namun isakan tangislah yang sayup terdengar dibalik pintu kaca itu. Terlihat Jinyoung mendekap erat sumber suara yang terkulai lemas di lantai, berusaha menenangkan anggota kedua termuda mereka bersama beberapa anggota lain yang terlihat menepuk-nepuk punggung dalam dekapan Jinyoung.
"Daehwi-ya, sudah jangan menangis."
"Hyeongseob pasti akan baik-baik saja," ucap Jisung dan Seungwoo lembut berharap mampu menenangkan Daehwi.
Sudah hampir setengah jam Daehwi menitikan air mata begitu selesai membaca berita yang menjadi sorotan berbagai portal berita Korea. Nama salah satu hyung kesayangannya menghiasi setiap portal yang ada, dengan kabar sedih mengikuti nama Hyeongseob. Jihoon di sudut lain ruangan tengah berada dalam kuncian Daniel dan Guanlin karna berulang kali pemeluk nama keluarga Park itu melayangkan tinjunya pada dinding putih, menodai dinding bisu dengan warna merah khas darah.
BLAM
Suara pintu yang dipaksa menutup membuat seisi ruangan menoleh pada sosok yang menghilang sepanjang sore. Daehwi segera menghentikan tangisannya, berlari menghampiri hyung yang pergi bersama sang kekasih sejak kejadian siang tadi.
"Jaehwan hyung bertemu Seob hyung? Seob hyung kenapa hyung? Seob baik-baik saja kan? Berita-berita itu bohongkan?"
Jaehwan memeluk tubuh mungil Daehwi, mengusap rambutnya sesaat lalu berucap pelan, "semua berita itu benar Daehwi-ya."
Tangisan Daehwi kembali pecah, membuat Jinyoung beranjak untuk kembali memberikan bahunya sebagai tumpahan air mata Daehwi, memberi kesempatan pada Jaehwan untuk bicara dengan yang lain.
"Kau ke rumah sakit Jaehwanie?" tanya Minhyun menyambut Jaehwan duduk di sisinya dan dijawab dengan anggukan lembut.
"Benar dia koma karna overdosis obat anti depresan?" tanya Seungwoon cepat.
"Iya. Sekarang mereka hanya bisa menunggu dia bangun saja, meski tidak pasti kapan."
"Setahuku Hyeongseob bukan tipe yang suka bergantung pada obat. Aku tidak pernah lihat dia mengkonsumsi obat meski dia sakit sekalipun," timpal Jisung serius.
"Dari cerita Sewoon, sejak konser akhir program Hyeongseob sudah diam-diam mulai mengkonsumsi obat. Baru tadi manager mereka menyadari kalau Hyeongseob sudah menghabiskan berbotol-botol lebih banyak sejak..."
Jaehwan terdiam. Wajahnya terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ekor matanya melirik satu dari mereka yang tengah mengigiti jempol penuh kekhawatiran.
"Salahku. Semua salahku," lirih Jihoon memecah keheningan dengan kepalanya yang tertunduk dan jemari yang mengepal keras.
"Hyung berhentilah menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu," sahut Guanlin yang berusaha membuka kepalan tangan Jihoon.
Entah sudah berapa kali dalam setengah jam terakhir Guanlin mendengar kalimat yang sama dari Jihoon. Jihoon terus menerus menyalahkan diri. Sepertinya yang ada di benak Jihoon hanyalah Hyeongseob mengalami semua ini karna dirinya. Karna ia menghancurkan hubungan kedua sahabatnya. Jihoon selalu merasa bersalah sejak Woojin mengakui perasaan sukanya. Salah. Menurut Jihoon itu salah besar. Tidak seharusnya Woojin menyukainya seperti itu, Woojin sudah punya kekasih. Dan kekasih itu juga sahabatnya. Rasa bersalah semakin melekat akibat Jihoon cukup mengenal Hyeongseob. Cukup untuk tahu akan sesakit apa seorang Ahn Hyeongseob mengalami hal itu. Tapi tidak cukup untuk mengetahui hal seburuk ini akan terjadi.
Saat matahari baru saja terbit, dimana kebanyakan orang masih terlelap dalam mimpinya, 11 pemuda tampan sudah terduduk rapi dalam sebuah ruang berlayar putih. Satu per satu dari mereka secara bergantian masuk dalam jangkauan kamera dan dengan sepenuh hati menjawab setiap pertanyaan yang terlontar. Sementara anggota tertua duduk di depan kamera, sepuluh orang lain menanti di balik kamera dan staff yang ada. Daniel di ujung barisan sedang menari-nari dengan Daehwi, yang sudah bersembunyi di balik topeng ceria, merekam setiap geraknya. Minhyun tengah memperhatikan pertanyaan yanh dilontarkan, Jaehwan dan Jinyoung terlihat memejamkan mata, lelah karna harus terjaga sepanjang malam menenangkan Daehwi. Woojin di antara Jinyoung dan Jaehwan menatap ke arah Jisung. Namun matanya tak memancarkan ekspresi apa pun. Hanya sebuah tatapan kosong. Sesekali Seungwoo yang tak jauh darinya menangkap Woojin memejamkan mata sesaat sambil menghembuskan nafas berat. Ciri khas Woojin untuk menenangkan diri.
Hal itu tidak berlangsung di waktu pagi saja. Sepanjang wawancara, pemotretan album baru, ditambah proses rekaman sekaligus pengambilan gambar brand seragam ternama, pemegang julukan sparrow itu kerap kehilangan fokusnya. Berulang kali staff yang ada mengulang pertanyaan untuk Woojin, berulang kali Woojin berbisik pada Jinyoung untuk mengulang penjelasan, berulang kali Seungwoo mendapati Woojin melamun kebingungan. Seolah Woojin kehilangan jiwanya. Dan pemandangan itu semakin sering terlihat di hari berikutnya. Semakin hari, Woojin semakin kehilangan konsentrasinya. Di balik layar kamera, Woojin hanyalah raga tanpa jiwa. Makanan yang menjadi bagiannya pun hanya berakhir tak tersentuh. Untuk menyebrang jalan saja, ia harus dituntun. Karna kalau tidak, bisa-bisa kejadian di suatu sore terulang lagi. Kejadian dimana Woojin terdiam di tengah jalan besar dengan lampu penyebrangan yang sudah menyala merah dan hampir saja tertabrak kendaraan yang lalu-lalang. Kalau bukan karna Daniel yang dengan nekat kembali ke tengah dan membawa Woojin ke tepi, Woojin mungkin saja sudah berakhir di rumah sakit. Jisung menugaskan para anggota untuk tetap bersama Woojin secara bergantian untuk mencegah hal buruk menimpa ahli dance mereka. Terakhir kali mereka meninggalkan Woojin sendiri, anak itu tergelincir dari tangga. Dia pasti sudah cedera otak kalau tangga di gedung itu tidak dilengkapi pagar plastik. Park Woojin yang ceria dan kelebihan energi kini sudah bagaikan mayat hidup.
Asrama 11 pemuda pilihan warga Korea malam itu lebih hening dari hari-hari lain. Begitu kembali dari ruang latihan, setiap member langsung menuju kamar masing-masing tanpa bicara. Rasa lelah menguasai mereka. Dalam benak mereka hanya ada pikiran untuk istirahat. Tak lama, lampu kembali padam, menandakan penghuni yang ada sudah memasuki alam mimpi.
Di tengah gelapnya rumah itu, Seungwoo yang baru saja pulang dari jadwalnya bersama Daniel, keluar dari kamar aslinya setelah memastikan kekasih berbadan besarnya beristirahat. Ia melangkah memasuki kamar terbesar, berniat merebahkan diri di ranjang milik Jihoon. Sejak hari dimana Jihoon mendapat pengakuan tak masuk akal dari Woojin, Seungwoo menempati ranjang Jihoon untuk mencegah terciptanya kecanggungan atau pertikaian lain duo Park itu.
Baru saja akan menginjakan kakinya di tangga penghubung ranjang bertingkat, telinganya menangkap sebuah isakan kecil. Ia mengurungkan niatnya untuk naik dan memilih berdiam diri memastikan asal suara yang tak ia sangka berasal dari ranjang di bawah Jaehwan. Ranjang milik seorang pemuda busan bernama Park Woojin. Woojin dan tangisan adalah pasangan kata yang sangat berlawanan. Jangankan mendengar isakan, melihat sebutir air mata turun dari mata tajam Woojin saja sudah merupakan hal langka. Perlahan ia mendekat pada tubuh berbalut kaus dan celana pendek hitam yang memunggunginya.
"Woojinah, kau baik-baik saja?"
Seungwoo membalikan tubuh itu hanya untuk terkejut mendapati air mata yang deras mengalir membasahi pipi Woojin. Woojin menghiraukan pertanyaan Seungwoo. Ia mengusap kasar air matanya dan mengubah posisi tubuhnya untuk duduk.
"Sakit hyung. Di sini sakit sekali," jemari panjang Woojin menggenggam erat kaus hitam yang membalut dada bidaknya, "aku.. tidak mengerti apa yang terjadi padaku,"
Seungwoo menatap wajah Woojin yang masih memendam sesuatu.
"Kenapa kau keras kepala sekali mengatakan kau menyukai Jihoon? Kemana Park Woojin yang menyukai Hyeongseob hm?"
Masih dengan tatapan lembut Seungwoo melontarkan pertanyaan yang mengusiknya selama ini.
Dia sungguh heran kenapa selama ini Woojin selalu bersikeras bahwa ia menyukai Jihoon dan selalu menghindari pembicaraan tentang Hyeongseob. Terkesan memaksakan diri dengan perasaannya pada Jihoon. Karna faktanya, setiap malam tiba, anak ini selalu mengucapkan nama Hyeongseob dalam tidurnya.
Woojin diam seribu bahasa. Kenapa semua anggotanya meragukan pengakuannya pada Jihoon? Bukankah memang benar ia menyukai Jihoon? Yang melindunginya selama ini kan Jihoon. Yang pertama mengulurkan tangan untuk bersahabat dalam tim ini juga Jihoon. Yang selalu di sampingnya hanya Jihoon. Ia merasa nyaman dengan keberadaan Jihoon. Nyaman bergantung pada Jihoon. Nyaman bergurau dengan Jihoon. Jika ia merasa nyaman, bukankah ini sama saja dengan menyukai Jihoon?
"Woojinah, kau tidak akan menangis seperti ini kalau kau benar-benar menyukai Jihoon lebih dari Hyeongseob. Lihat baik-baik sekelilingmu. Siapa yang sebenarnya kau sukai? Sebagai kekasih atau sebagai teman," Seungwoo menggenggam erat tangan Woojin menyalurkan kekuatannya, "Sekarang tidurlah, jadwal kita cukup padat besok,"
Usapan lembut mendarat pada surai Woojin sebelum hyungnya beranjak pergi memberinya ruang untuk sendiri.
Hari sudah berganti walau bulan masih bersinar. Merasakan belum ada anggotanya yang terbangun, Woojin beranjak menuju kamar mandi di dalam kamar. Ia menatap matanya yang mulai membengkak dalam-dalam. Mencari jawaban kenapa air matanya keluar malam ini, kenapa ia tidak bisa tidur, kenapa ia merasa sesak mendengar keadaan Hyeongseob yang sudah bukan kekasihnya lagi. Woojin memejamkan matanya erat merasakan dadanya yang semakin sesak begitu mengingat Hyeongseob, berharap rasa sesak itu hilang. Yang terjadi justru sebaliknya. Rasa sesak itu memburuk, mendorong air mata kembali membahasi pipinya karna begitu matanya terpejam lagi, seperti ratusan hari yang Woojin lewati, wajah Hyeongseob lah yang muncul.
"Woojin? Masih lama? Aku juga ingin mandi,"
"Uh uh.. Min.. Minhyun hyung, aku baru masuk hyung," jawab Woojin setengah terkejut dengan sapaan Minhyun di luar sana.
Dengan cepat ia membersihkan diri di bawah shower lalu keluar dari kamar mandi yang sangat rapi dengan rambut setengah basah dan hanya berbalut celana pendek hitamnya. Dengan sisa tenaganya, ia mendudukan diri di lantai, membuka kopernya dan terdiam. Dadanya kembali sesak mendapati dua kaus serupanya di antara pakaiannya yang lain. Kedua kaus itu mungkin terlihat berbeda jika hanya melihat warnanya. Satu hitam satu putih. Namun jika dibebaskan dari lipatan, kedua kaus itu memiliki design yang sama persis. Dulu, menjelang konser Woojin sengaja membeli sepasang kaus untuknya dan... Hyeongseob. Sayang perhatiannya teralihkan pada konser itu sendiri dan Pink Sausage-nya, hingga iya lupa menyerahkan pada Hyeongseob, dan berakhir menggunakan keduanya sendiri. Ia ingat Hyeongseob menghubunginya suatu hari dengan protes panjang lebar karna Woojin memakai kaus yang serupa seorang diri. Hari itu Hyeongseob menuntut dengan semangat agar Woojin memberikan satu untuknya, tidak peduli itu sudah dipakai atau belum. Menurut Woojin ketika Hyeongseob menuntut, itu sangat menggemaskan. Mengingat itu semua membuat Woojin kembali memejamkan mata berusaha menahan air matanya.
Angin sejuk yang tidak asing menyapa indra Jisung dan anggotanya, menguak kerinduan akan perjuangan mereka untuk menjadi diri mereka yang sekarang. Tidak satu pun dari mereka menyangka bahwa jadwal hari ini dilakukan di desa Inggris. Tempat mereka berjuang bersama 90 trainee lainnya. Gedung latihan, asrama, semuanya masih sama dengan yang mereka lihat dulu. Memancing memori-memori indah mereka.
"Aku dan Sam sering duduk di bangku ini," Daehwi menunjuk salah satu kursi taman dan tersenyum bahagia mengingat kenangannya.
"Kau ingat menyatakan perasaanmu di sana?" tunjuk Seungwoo ke arah tangga gedung utama, matanya berbinar bahagia, bibirnya tersenyum lebar.
"Eoh, lalu setelah itu kita pergi makan ramyun di kedai dekat pintu masuk, lalu kita tertangkap penggemar,"
"Dan kau berkata pada mereka kau adalah orang yang mirip Kang Daniel. Hahaha," Seungwoo dan Daniel tertawa lepas berdampingan.
"Dulu aku hanya memilikimu, kemana pun selalu bersamamu,"
"Sekarang hyung sudah ada Guanlin kan?"
"Karna kau sudah dengan Daehwi. Kita ini lucu ya, dulu lekat bagai perangko dan amplop, tapi berakhir sendiri-sendiri,"
"Karna dulu, tidak satu pun dari kita berani mengungkapkan perasaan kita hyung."
"Tapi itu lebih baik. Jika kita menjalin hubungan, mungkin sekarang kita tidak sebahagia ini, Bae Jinyoung,"
"Kau benar Jihoon hyung,"
Mereka semua sibuk dengan dunia mereka. Beberapa tersenyum manis, beberapa tersenyum pahit. Tapi pemuda di dalam gedung utama sama sekali tak menunjukan secercah senyum. Ia hanya berdiri menatap lirih ruang latihan berdinding cermin, memegangi dadanya erat. Di situ, di tempat ia berpijak, adalah tempat dimana seorang Ahn Hyeongseob berbulan-bulan lalu berusaha keras mengikuti arahannya. Tubuh putih mulus dengan bulir keringat menghiasi wajah idaman banyak trainee, bagaikan nyata di depan mata Woojin. Mata yang mengecil tanda bingung, tangan yang lembut dalam genggaman jemari tan Woojin. Semuanya terasa begitu nyata, membuat Woojin kembali merasa sesak. Tak lama, Woojin beranjak dari ruang itu, menatap sebuah ruang kecil. Dan sosok Hyeongseob kembali muncul. Kali ini tidak sendiri, namun sosoknya pun terlihat di sana, tengah menatap penuh kasih kayang pada Hyeongseob yang sedang bicara dengan kamera kecil.
"Woojinah, ayo kumpul. Manager hyung akan memberi pengumuman."
Tepukan Jisung di bahunya membuyarkan bayang-bayang Woojin. Memaksanya kembali pada kenyataan bahwa semua itu hanyalah masa lalunya.
"Sore ini kalian akan mendapatkan waktu bebas, tapi kalian diminta untuk tetap di Seoul, jadi aku akan mengantar kalian kemana pun," jelas sang manager membuat semua anggota melonjak gembira. Sebenarnya, tidak semua.
"Katakan padaku sekarang tempat yang ingin kalian kunjungi, supaya kita bisa langsung pergi."
"Aku ingin kembali ke agensiku saja," ucap Guanlin cepat.
"Aku ikut Guanlin! Bolehkan lin? Aku ingin bertemu Seonho?" Daehwi dengan semangat merangkul lengan Guanlin.
"Aku ingin ke cafe kucing,"
"Aku ingin ke rumah sakit dekat asrama Yuehua."
Kalimat itu membekukan semua orang yang mendengar. Bukan karna kalimatnya, tapi karna yang mengucapkannya justru orang yang paling dibenci oleh trainee Yuehua saat ini.
"Kau yakin Woojin?" tanya sang manager memastikan. Ia tidak mau anak asuhnya jadi korban amarah untuk kedua kalinya.
"Kau mau apa sih hyung? Dia kan sudah bukan siapa-siapa untukmu. Yang kau sukai kan Jihoon hyung," ucap Guanlin sarkas.
Dia akhir-akhir ini benci sekali dengan hyungnya ini. Mungkin karna Woojin terus-terusan mengklaim kekasihnya sebagai orang yang dia sukai. Jihoon yang berdiri di belakang Guanlin mencengram lengan kemeja sang kekasih, menuntutnya untuk berhenti mengungkit hal itu. Harus Jihoon akui Guanlin ini meski terlihat tenang, jika emosinya meluap mulutnya bisa menjadi setajam pisau tidak peduli usia maupun status. Jihoon mati-matian menenangkan Guanlin waktu ia mendengar apa yang terjadi diantara mereka.
Matahari bersiap pergi ketika 5 remaja berkumpul di ruang serba putih mengitari satu pemuda dengan beberapa alat medis pada tubuhnya. Pemuda dengan seragam sekolah berdasi merah menggenggam erat jemari hangat yang terkulai lemah di ranjang dengan pemuda berseragam serupa merangkul bahunya lembut.
"Seob hyung, kau akan bangun kan?"
"Dia pasti bangun Ungie, Hyeongseob adalah orang yang kuat. Dia pasti cepat bangun," ucap pemuda yang merangkulnya lembut yang lalu mengecup puncak kepala Euiwoong, berharap memberikan kenyamanan.
Yang lain hanya diam memandangi mata Hyeongseob yang tertutup, bibir yang pucat pasi. Diam hingga pintu ruangan itu terbuka, menampakan pemuda lain dengan tubuh ramping dan wajah cantik. Pemuda itu menghampiri pemuda menjulang di sebrang ruangan, mendekapnya sesaat lalu membisikan sesuatu. Detik berikutnya kedua pemuda itu beranjak meninggalkan ruangan dan dihadapkan pada 11 pemuda lain tak jauh dari tempat Hyeongseob terbaring.
"Jung Jung hyung, kami mau menjenguk Hyeongseob hyung," Daehwi maju dari antara kelompok itu sedikit menengadah untuk menatap lawan bicaranya.
"Maafkan aku, tapi sepertinya bukan hal yang tepat untuk masuk," Jung Jung bicara dengan sangat hati-hati, "Ung hanya akan mengamuk lagi kalau dia melihatmu... Woojin," tatapan tajam Jung Jung mengarah langsung kepada Woojin yang berdiri paling belakang dengan Seungwoo. Woojin hanya mampu menundukan kepalanya, tak berani menatap Jung Jung atau mantan rekan satu timnya.
"Kalau begitu aku saja yang masuk boleh? Hyung please," air mata sudah menggenangi mata indah Daehwi.
Jung Jung terlihat berpikir. Euiwoong tidak bodoh, ia pasti tahu ada Woojin kalau Daehwi masuk. Jujur saja emosi Euiwoong sangat mudah berubah jika menyangkut Hyeongseob, jadi kemungkin Euiwoong akan meninju Woojin lagi sangatlah besar. Dan sangat sulit menenangkan emosi Euiwoong.
"Biarkan saja mereka masuk hyung, biar dia tahu apa yang sudah dia perbuat pada Seob hyung," pecah seorang pemuda dengan dasi merah yang membawa Euiwoong dalam rangkulannya.
Sungguh di luar dugaan Jung Jung, Euiwoong kini sedang berdiri di ambang pintu, tak bergeming, dengan kekasihnya di sisinya, menatap tajam kelompok itu. Pandangannya seakan tak rela mereka menemui hyung kesayangannya, namun kekasihnya terus mengusap lengannya sangat lembut tanda penerus keluarga Jo itu memintanya untuk tenang.
Baru saja masuk ke dalam, Daehwi, Jihoon, dan beberapa anggota lain sudah mulai berlinang air mata.
"Maafkan aku Hyeongseob-ah, cepatlah bangun," lirih Jihoon menggenggam lengan sahabatnya. Guanlin menatap pemandangan itu sendu dari balik punggung Jihoon.
Daehwi sudah meringsuk pada ranjang Hyeongseob, menenggelamkan kepalanya pada tubuh berbahu cukup lebar dan menangis hebat. Tentu saja dengan Jinyoung di belakangnya yang terus menepuk lembut punggung mungil Daehwi. Woojin membatu tak jauh dari sana. Mata hitamnya bergerak ke sembarang arah, giginya mulai mengigiti kuku ibu jarinya. Semua itu adalah hal yang ia lakukan ketika ia merasa khawatir, bersalah atau panik. Ketika akhirnya matanya mampu berhenti dan fokus pada satu titik, ia menangkap wajah pucat Hyeongseob dengan tubuh yang terkulai lemah dikelilingi oleh anggotanya.
Seketika pemandangan tubuh lemah Hyeongseob berganti dengan pemandangan Hyeongseob menari Pick Me dengan ceria, Hyeongseob terjatuh memasuki kelasnya, Hyeongseob melambai bahagia pada kamera, Hyeongseob menggenggam erat jemarinya, Hyeongseob memeluknya ketika ia mendapat peringkat satu, Hyeongseob dengan imut memeberi tanda hati besar di panggung, Hyeongseob mengerucut lucu ketika ia tidak dibangunkan waktu menunggui Woojin di rumah sakit, Hyeongseob yang tersenyum sangat bahagia ketika Woojin terpilih masuk dalam tim ini, Hyeongseob yang dengan semangat membicarakannya di salah satu siaran internet. Semua hal gembira yang dilakukan Hyeongseob melintas di hadapannya. Namun, semakin lama semua itu memudar, memutih, dan selanjutnya Woojin hanya mampu mendengar suara Seungwoo, atau Minhyun, memanggilnya sekali, dua kali, dan suara itu menghilang.
•
Their Story
•
Rurulala readers,
Big Big thanks buat yang ngasih review dan juga baca ceritaku. Maaf ya yang ini updatenya lama, author disibukan dengan kehadiran girlgroup favorite author, AOA di Indonesia tanggal 9 kemarin. Setelah fansign AOA mood author terlalu indah karna terlalu bahagia bisa ngobrol sama bias~ Jadilah pas mau lanjutin FF ini tapi ga dapet feelnya. T.T
Sehubung Woojin dkk baru aja comeback dengan MV super sedih, bikin author nangis, author akhirnya melanjutkan FF ini. dan sebagai ganti update yang lama, HamzziHwanggu akan double update minggu ini. Jadi di weekend ini akan ku update chapter selanjutnya. Plus, aku mungkin aku akan buat satu FF serupa tapi nampilin sisi PanWink. Hahaha, padahal yang Jealousy sama Can Be Better belom kelar. T.T
Anyway, hope u like this chapter n review juseyo~
Xie Xie
