Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~
Cast: Ahn Hyeongseob, Park Woojin, Wanna One, tunas Yuehua
Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie
Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.
•
Their Story
•
Tak jauh dari sudut pandang seorang Park Woojin terlihat punggung indah sesosok pemuda. Woojin tak perlu melihat wajah sosok itu untuk tahu siapa dia. Woojin sudah sangat hafal dengan punggung itu. Hanya butuh sekian detik untuk Woojin meraih bahu pemuda itu, membuatnya menoleh memperlihatkan wajah tampan yang ternoda oleh bulir air mata.
"Seob-ah, jangan menangis," ucap Woojin lirih. Hatinya begitu perih menyaksikan mutiara bening lepas dari mata Hyeongseob. Jemarinya bergerak lembut dengan tujuan menghapus jejak air yang ada dan menghentikan aliran itu.
"Hentikan Park Woojin,"
Woojin terpaku ketika tangannya terhenti oleh cengkraman Hyeongseob. Padahal hanya tinggal beberapa centimeter lagi ia bisa mendaratkan jemarinya di wajah mirip kelinci itu.
"Jika kau memperhatikanku seperti ini, aku hanya akan berpikir kau masih menyukaiku," perlahan-lahan Hyeongseob menurunkan lengan Woojin dan melepaskan cengkramannya, "kenyataannya kau tidak pernah benar-benar menyukaiku kan?"
Tidak tahu apa yang salah, tapi Woojin tak bisa membuka mulutnya. Raganya membatu meski batinnya berteriak.
"Kau akan baik-baik saja tanpa diriku. Betul kan, tuan sparrow?"
Hyeongseob tersenyum pahit. Sungguh, untuk pertama kalinya Woojin merasa sakit yang mendalam ketika melihat orang tersenyum.
CHU
Kecupan ringan mendarat pada pipi Woojin, membuat Woojin ingin menitikan air mata.
"Itu akan jadi yang terakhir," suara Hyeongseob begitu lirih menyayat lebih dalam hati Woojin. Dan semakin dalam ketika tubuh itu menjauh dari tubuh Woojin. Jauh, jauh, dan semakin jauh. Woojin sangat ingin berlari. Ingin menarik kembali Hyeongseob dalam rengkuhannya. Namun tubuhnya tak mampu bergerak. Ia hanya mampu membebaskan air matanya dan dengan sangat pelan memohon agar Hyeongseob tak menjauh, "Hyeongseob-ah, jangan tinggalkan aku."
Sadar ia hanya seorang diri, tiba-tiba rasa takut menyelimutinya. Memberinya tenaga untuk bersuara lebih keras memanggil mantan kekasihnya,
"HYEONGSEOB-AH"
"AHN HYEONGSEOB!"
"Woojinie, kau baik-baik saja?"
Seungwoo menatap khawatir pemuda tan yang seketika terduduk di tempat tidur pasien dengan nafas terengah seperti sedang ketakutan dan beberapa tetes air mata yang terjatuh. Sesaat kemudian rekan satu timnya itu memandang bingung ke sekeliling ruangan.
"Woojin hyung? Are you ok?" kali ini Daehwi yang bertanya.
Woojin tak menjawab. Ia justru meremas kuat kain yang menghiasi tempat tidur dimana ia berada. Ia menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
"Woojinie...,"
Woojin menoleh begitu mendengar suara yang lama tak memanggilnya.
"Kau... baik-baik saja?" lanjut pemuda itu.
Woojin menggeleng cepat.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah menghancurkan orang yang paling aku sayangi di dunia ini dengan kebodohanku yang tidak bisa mengartikan pertemanan kita dengan benar?"
Lawan bicaranya diam tak bersuara, namun seulas senyum tergambar tipis. Tentu saja ia tahu Woojin tidak baik-baik saja. Tidak sadarkan diri akibat kurang istirahat yang ia tahu jelas terjadi karna temannya itu memikirkan sesuatu tentu tidak bisa dikatakan sebagai baik-baik saja kan? Di lubuk hatinya selama ini ia sangat khawatir dengan teman seumurannya itu, namun ia menahan diri untuk tidak berinteraksi dengannya, agar perasaan yang diakui sebagai rasa suka oleh Woojin tidak bertambah dan memperburuk suasana. Sekarang ia bisa tersenyum karna akhirnya Woojin mampu memisahkan perasaan suka dengan pertemanan mereka.
"Akhirnya hyung sadar sudah menyakiti Seob hyung?"
Daehwi menyinggung hyungnya langsung.
Woojin tertunduk. Tak tahu harus menanggapi apa.
"Hyung... aku mau lihat Hyeongseob..." akhirnya Woojin buka suara lagi setelah hening melanda ruangan itu beberapa menit.
"Hyeongseob tidak bisa dikunjungi sekarang. Nanti saja kalau dia sudah sadar kau datang lagi," Jisung menolak perlahan permintaan Woojin dengan sedikit kebohongan. Sebenarnya Hyeongseob bisa dikunjungi. Buktinya beberapa menit lalu teman-teman mereka dari program lalu masih ada yang berdatangan. Jisung hanya tidak mau hal-hal buruk seperti tidak sadarkan diri terjadi lagi pada Woojin.
Selang beberapa puluh menit, kesebelas anggota tim tersebut sudah berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Siap melanjutkan perjalanan untuk waktu bebas yang tak lama lagi akan berakhir. Di depan mata mereka sudah terlihat pintu keluar menuju tempat dimana van hitam menunggu kehadiran mereka, bahkan beberapa orang sudah menghirup udara luar.
"Woojin hyung!" suara nyaring yang menggema menghentikan langkah mereka untuk menolehkan wajah pada sang pemilik suara dengan pakaian bermerek dari ujung kaki hingga ujung rambut, "ini sepertinya untuk hyung,"
Pemuda itu mengulurkan sebuah kotak hadiah hitam berpita perak. Kotak yang elegan. Bukan bahagia, sang penerima justru menatap bingung kotak itu.
"Ah ini... manager hyung bilang beberapa minggu lalu Seob hyung ingin memberikan kotak ini padamu hingga ia minta diantar ke asrama kalian. tapi setelah diantar, Seob hyung malah membawa lagi kotak ini pulang," jelas pemuda itu begitu menyadari raut wajah kebingungan hyung yang 2 tahun lebih tua darinya itu.
"Aku rasa lebih baik itu tidak disimpan Seob hyung," ia kembali bicara sekilas lalu berlari kecil meninggalkan mereka semua.
,•
Their Story
•
Entah sudah hari keberapa Euiwoong terlelap di rumah sakit, menggenggam erat telapak tangan hyung yang sangat ia sayangi. Entah sudah berapa kali Euiwoong menutup matanya setelah mendapati tubuh yang tak juga membuka mata. Sudah berulang kali JungJung meminta Euiwoong untuk bermalam di asrama, berulang kali juga Euiwoong bersikeras menolak.
Malam itu, seperti malam sebelumnya, lampu-lampu sudah dipadamkan, hanya tersisa lampu tidur yang redup di kamar-kamar pasien. Euiwoong duduk di sebuah kursi dengan kepala tergeletak di samping tubuh Hyeongseob. Jemarinya menggenggam erat jemari Hyeongseob.
Namun malam itu, tidur Euiwoong terusik. Terusik pergerakan dalam genggamannya. Euiwoong dengan sigap membenahi posisi duduknya, mengeratkan jemarinya, dan menatap penuh harap pada wajah tampan di ranjang itu. 1 detik. 2 detik. 3 detik. Kelopak mata Hyeongseob bergerak. Perlahan berpisah, menampakan bola mata hitam Hyeongseob. Euiwoong tersenyum cerah.
"Seob hyung...," panggilnya lembut memastikan hyungnya benar-benar sadar.
"Euiwoongie..," Hyeongseob tersenyum samar. Antara bahagia melihat adiknya dan rasa bersalah terhadap sang ketua, "maafkan aku."
Bulir air mata lolos begitu saja dari mata bulat pemilik nama keluarga Lee itu mendengar suara yang sangat ia rindukan. Ia segera memeluk erat Hyeongseob sebelum memanggil dokter untuk memeriksa keadaan hyungnya dan keluar untuk menghubungi agensinya.
Setelah kepergian dokter dan staff medis yang menangani Hyeongseob, Euiwoong kembali mendampingi hyungnya. Ia duduk di sana menjawab semua pertanyaan Hyeongseob, mulai dari apa yang terjadi hingga berapa hari ia tak sadarkan diri. Keheningan menyapa ketika rentetan pertanyaan telah terjawab. Memberikan waktu pada Euiwoong untuk menatap lega Hyeongseob dan pada Hyeongseob untuk melayangkan pikirannya.
"Euiwoongie..."
"Ya hyung?"
"Jangan marah dengan Woojin ya?"
"Haruskah kau membicarakannya hyung?"
"Euiwoongie..."
"Kau tidak lelah membela orang yang sudah membuatmu begini?"
"Kau juga akan membela Haknyeon,"
"aku tidak akan menyukai Haknyeon hyung sedetik pun kalau dia seperti Woojin hyung,"
"Euiwoong ah, sekali ini saja. Hyung tidak pernah minta apa pun padamu kan?"
"Tidak mau. Aku sudah bilang kan kalau terjadi sesuatu dengan hyung aku tak akan memaafkannya. Kenapa juga kita harus membahasnya di saat kau baru saja sadar hyung?"
Hyeongseob mengerucutkan bibirnya kecewa. Sejujurnya ia sudah menduga tak akan ada hasilnya meminta hal itu Euiwoong karna pada dasarnya jika Euiwoong mengalami hal yang sama ia juga tidak akan memaafkan Haknyeon.
Sesaat kemudian ruang rawat Hyeongseob sudah ramai dengan para trainee Yuehua, orang tua Hyeongseob dan manager mereka. Semua terlihat begitu bahagia mendapati Hyeongseob kembali membuka matanya. Sesaat, hanya sesaat, Hyeongseob mampu melupakan Woojin dari benaknya. Namun begitu sunyi kembali datang saat ia dibiarkan sendiri, bayang Woojin kembali datang.
"Woojinie, aku merindukanmu.."
Hari berlalu dan Hyeongseob mulai menginjakan kakinya kembali ke asrama dimana ia tinggal bersama trainee lain. Tempat pertama yang Hyeongseob tuju tentu saja kamarnya dengan Euiwoong, Justin dan satu trainee lain. Sebenarnya yang ingin Hyeongseob lakukan adalah merebahkan diri di ranjangnya. Namun niatnya menguap menyadari sesuatu yang hilang dari meja nakasnya.
"Mencari apa hyung?" sapa Justin mendapati Hyeongseob memporak-porandakan isi kamar mereka.
"Stin! Lihat kotak hitam? Aku merasa tidak memindahkannya dari meja, tapi benda itu tidak ada," jawab Hyeongseob cepat tanpa menoleh sedikit pun.
"Kotak dengan pita perak dan kertas mungil bertuliskan To: Woojinie?"
Hyeongseob menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menatap Justin begitu mendengar penjelasan rinci dari pemuda negeri bambu itu.
"Iya itu. Kau lihat?"
"Karna tertulis untuk Woojin hyung, kuberikan pada Woojin hyung,",
"APA?!"
"Daripada itu hanya berlapis debu di meja dan membuat hyung sedih, lebih baik Woojin hyung saja yang simpan," jelas Justin polos.
Hyeongseob masih berusaha mencerna keterkejutannya. Hening menatap Justin tidak percaya. Justin sendiri hanya tersenyum menanti hyungnya bicara.
"Kau mendatangi Woojin hanya untuk menyerahkan itu?"
"Nope, Woojin hyung yang datang,"
"Woojin datang? Kemana? Ke asrama?"
"Ke rumah sakit. Waktu hyung koma, Woojin hyung dan Wanna One hyungdeul datang menengokmu. Ramai sekali,"
"Mereka datang?"
"Iya. Tapi hanya sebentar karna Woojin hyung tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri saat melihat hyung. Jadi mereka segera pergi mengurus Woojin hyung,"
"Woojin pingsan? Dia sakit lagi?" Hyeongseob berucap pelan, menurutnya.
•
Their Story
•
Rurulala readers,
Terima kasih buat yang sudah review , baca dan setia menanti update-an Their Story ini. Mohon maaf kalau chapter yang ku tulis pendek-pendek. HamzziHwanggu akan berusaha untuk memperpanjang isi chapter" selanjutnya.
Seperti biasanya... demi cerita yang lebih baik, review juseyo~
Xie Xie
