Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~
Cast: Ahn Hyeongseob, Park Woojin, Wanna One, tunas Yuehua
Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie
Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.
•
Their Story
•
Asrama Yuehua mulai ramai karna para trainee telah menyelesaikan jadwal latihan mereka untuk hari ini. Begitupula dengan Jung Jung yang tanpa permisi memasuk kamar Justin, Euiwoong dan Hyeongseob. Maksud hati ingin menemui Justin untuk meminta bertukar jadwal pulang ke negeri asal mereka, namun yang ia temukan justru Euiwoong yang tengah melipat tangan menatap Hyeongseob yang sibuk mengigiti ibu jarinya. Tidak ada Justin.
"Ada apa?" tanya Jung Jung memecah keheningan.
"Kotakku..."
"Kotak hitam berpita perak?"
"Kenapa semua orang tahu?" Hyeongseob menatap Jung Jung bingung
"Ada apa dengan kotak itu?" Jung Jung justru balik bertanya.
"Justin memberikanya pada Woojin hyung. Lalu dia khawatir sendiri," jelas Euiwoong.
"Loh bukannya memang untuk Woojin? Kenapa khawatir?"
"Itu dia, Hyeongseob hyung tidak menjawab itu sejak tadi hyung," Euiwoong menekuk wajah kesal.
"Berhenti menggigiti kukumu. Jadi apa yang membuatmu khawatir?" Jung Jung menahan tangan Hyeongseob agar kuku cantik itu tak kembali digigiti bagai kelinci memakan wortel.
"Aku... karna kupikir kotak itu tidak akan kuberikan pada Woojin. Aku menyimpan benda pribadiku di situ," Hyeongseob menunduk lemas, "aku malu kalau sampai Woojin melihatnya."
"Biar saja dia melihatnya. Biar dia sadar kalau dia sudah menyakitimu hyung," Euiwoong berdiri dan berjalan kesal begitu menyadari apa yang dibicarakan oleh hyungnya itu, meninggalkan Hyeongseob termenung, dan Jung Jung terpaku dalam kebingungan.
•
Their Story
•
Woojin menatap ragu kotak hitam di pangkuannya. Hatinya menimbang apakah sebaiknya ia membukanya lain waktu atau memuaskan rasa penasarannya dan membuka kotak itu sekarang. Ada setitik rasa takut di dalam benak Woojin. Takut air matanya kembali tumpah mendapati apa pun isi kotak itu yang sudah pasti ditujukan Hyeongseob untuknya. Fakta bahwa Hyeongseob masih memiliki niat untuk mengemas sesuatu untuk Woojin yang entah sudah sejauh apa meninggalkan Hyeongseob dalam angan akan cinta yang terbalas terasa bagaikan sebuah tamparan keras untuk Woojin. Tamparan untuk menyadarkan Woojin bahwa cinta bukanlah sesuatu yang tumbuh hanya karna terbiasa bersama dan hilang ketika jarak dan kesibukan memisahkan mereka.
Lama Woojin terdiam di ranjang bertingkat miliknya dan Jaehwan hingga mengundang simpati teman sebayanya untuk memandang sendu ke arahnya.
"Buka saja Woojinie," sahut Seungwoo dari ambang pintu. Pasalnya, laki-laki itu berulang kali mendapati Woojin tak bergeming ketika melewati kamar utama dormitory mereka.
Jemari tan Woojin bergerak pelahan meraih tepian penutup kotak, mengenggamnya erat, dan perlahan menariknya ke atas.
"Jihoon-ah, biarkan Woojin sendiri dulu," lambai Seungwoo pada sosok lain di salah satu ranjang tingkat dua yang kemudian melompat turun mengikuti jejak Seungwoo memberi ruang untuk Park Woojin dan dunianya.
Setelah penutup kotak itu tersingkir, Woojin semakin membatu. Matanya mulai melembab mendapati sebuah sepatu berwarna putih dengan sedikit cercahan hitam dan huruf J terlihat di sekilas di bagian tumit. PWJ. Inisial Woojin tertera dengan elegan menghiasi alas kaki yang kini ia angkat ke udara. Woojin ingat betul. Sepatu ini pernah dikenakan salah satu pesaing mereka di program dan Woojin ratusan kali bergumam pada Hyeongseob betapa ia menganggumi sepatu itu.
Di samping sepatu, sebuah gantungan kunci kecil berbentuk anjing kuning terbungkus rapi dalam sebuah plastik.
"Ini.. Hwanggu?" Woojin berucap ragu.
Satu benda terakhir lebih menarik perhatiaan Woojin dibanding sepatu yang selalu dia impikan. Buku. Bukan hanya sebuah buku. Woojin kenal buku ini. Ini diari Ahn Hyeongseob. Setiap malam di asrama program persaingan mereka, Woojin mendapati Hyeongseob selalu menulis di satu buku selain buku yang disediakan panitia. Tentu saja Woojin hafal, lebih dari separuh hidup Woojin di program itu ia habiskan dengan Hyeongseob. Satu kelas, berulang kali satu regu dan satu kamar, lalu bertahan bersama sampai babak akhir.
Woojin membuka buku itu perlahan.
Page 1
Aku naik ke kelas A!
Tapi kelas ini sangat susah ㅠ.ㅠ
Untung saja ada Woojin yang membantuku belajar koreo lebih detail. Jadi apa aku kalau tak ada dia. Haha
Page 2
Hari ini terbaik!
Aku terpilih masuk tim yang menganggumkan ditambah lagi Woojin dan Hyunmin, teman seumuran denganku, ada di tim ini. Kami sedang berlatih lagu senior 2pm.
Page 4
Woojin pasti marah denganku karna kejadian di kelas menyanyi tadi.
Aigo Ahn Hyeongseob, kenapa juga kau mengabaikan leader di sampingm? BODOH!
Page 7
Syukurlah, Woojin tidak semarah yang kubayangkan, dan kami bisa tampil dengan sangat baik. Aku mendapat voting tertinggi di grup, yeay haha
ps: karna kami semua gugup saat menunggu hasil vote, kami berpegangan tangan. Dan Woojin mengenggam tanganku! *tunggu, kenapa aku bahagia?"
Page 11
Eliminasi pertama.
Aku lega Woojin lolos dengan peringkat yang aman, meski peringkatku sendiri turun.
Page 12
Tim untuk penampilan kedua dibentuk hari ini. Aku di tim yang sama lagi dengan Woojin. Haha
Page 14
Woojin mengajariku setiap gerakan hingga larut malam. Terima kasih WoojinieA
Page 15
Hari ini aku membuka situs internet. Ternyata sikapku di hari eliminasi kemarin menyinggung banyak orang. Aku tidak bisa fokus latihan ㅠ.ㅠ dan aku tidak bisa membendung air mata ku ketika tidur. Oh, aku merasakan ada yang mengusap kepalaku ketika aku menangis. Aku tahu. Itu Woojin.W
Page 20
Woojin mengalahkan Jihoon di voting langsung hari ini. Hebat bukan?
Aku bangga sekali dengannya!
Page 23
Peringkatku turun jauh ㅠ.ㅠ kurasa ini karna sikapku waktu itu. Tapi aku senang hari ini, aku bisa berdiri di barisan yang sama dengan Woojin karna peringkat kami serupa.
Daehwi bilang aku membuatnya malu sekali ketika menyampaikan isi hatiku selama pidato. Padahal aku hanya berterimakasih pada orang yang aku cintai.
Page 26
Hari pertama! Ini hari pertamaku sebagai kekasih Woojin~ Kyaa!
Aku sangat amat sungguh bahagia! Love You Park Woojin
Page 31
Woojin dilarikan ke rumah sakit. Cacar ular kata mereka. Aku tidak bisa mendampinginya hari ini, para staff melarangku.
Apa besok aku akan melarikan diri saja?
Page 32
Sakit sekali melihat Woojin yang biasanya tertawa bodoh terbaring lemas di tempat tidur. Dia berulang kali mengatakan dia baik-baik saja kepada semua yang menjenguk. Dasar pembohong. Aku tau kamu tidak baik-baik saja. Aku tau setiap istirahat kamu merintih kesakitan di belakang anggota timmu, bahkan sekarang begitu penjengukmu pergi, kau masih merintih.
Cepatlah sembuh Woojin, aku sangat mengkhawatirkanmu.
Page 35
Eliminasi ketiga.
Aku sedang tidak peduli dengan rankingku. Aku cemas melihat Woojin datang masih dengan penutup matanya. Sesekali staff menghampirinya memastikan dia baik-baik saja. Dan lagi dia berpura-pura baik. Bahkan di atas panggung sana ketika Woojin berpidato dia masih menampilkan gigi imutnya.
Page 36
Woojin datang untuk pemilihan lagu, tapi dia harus langsung ke rumah sakit setelahnya. Aku ingin ikut. Woojin melarangku. Katanya nanti aku bisa sedih kalau ikut. ㅠㅠ
Page 37
Woojin sudah bisa mengikuti kegiatan secara normal. Tim kami berbeda, jadi aku tidak bisa melihatnya sesering dulu, padahal aku masih khawatir dengan kesehatannya.
Oh, di tim itu ada Jihoon. Jihoon pasti menjaga Woojin kan?
Page 39
Rehearsal. Rasanya sangat mendebarkan karna besok adalah hari terakhir perjuanganku selama 100 hari. Aku tidak bisa menebak hasil besok.
Aku takut. Takut berpisah dengan Woojin.
Page 40
Woojin berhasil menjadi anggota Wanna One. Dia duduk di kursi yang ku duduki saat eliminasi pertama. Aku bahagia melihatnya di atas sana. Meski pun artinya Woojin dan aku akan terpisah, tapi jika dia bahagia aku juga harus bahagia. Sewoon hyung saja bahagia melihat Jaehwan hyung jauh di atas sana.
Air mata mulai berkumpul pada kelopak mata Woojin. Rasa bersalah dalam dirinya meningkat. Kala itu... Woojin hanya sibuk berbahagia. Baru sekarang sebuah gambaran Hyeongseob menatapnya dengan senyum yang dipaksakan bahagia terlintas.
Page 60
Ini konser 35 besar hari terakhir. Aku senang. Bisa bersama Woojin dua hari ini. Walaupun dia hanya datang sebentar di rehearsal dan sangat fokus ketika konser, aku tetap bahagia. Apalagi ketika dia menyapaku di atas panggung.
Woojin tersenyum pahit. Menyesali tidak banyak berinteraksi dengan Hyeongseob dalam 2 hari yang sangat berarti itu. Saat Jaehwan menggenggam Sewoon di panggung, Seonho mencium pipi Minhyun, Woojin hanya menyapa Hyeongseob sekilas.
Page 63
Hari ini aku pergi bersama Hyunmin. Woojin, Haknyeon, dan Jihoon pasti iri kalau tahu kemana kami pergi. Hanya toko sepatu, tapi di sini sepatu favorite 99 line ada semua. Hyunmin memberitahuku kalau sepatu yang diinginkan Woojin sudah tersedia di toko itu, jadilah aku menguras tabunganku. Sudah kubeli, sudah ku tambahkan inisialnya. Tapi kapan aku bisa memberikannya?
Dipandangnya sepatu di sisinya. Menatap sedih. Andai saja waktu itu Woojin sudah sadar akan perasaannya, sepatu itu pasti sudah menemani Woojin keliling dunia.
Page 95
Selamat ulang tahun Woojin.
Aku debut di hari ulang tahunmu. Kebetulan yang hebat bukan? Tapi ini menyebalkan, aku jadi tidak bisa bertemu denganmu karna jadwal promosi.
Page 97
Fanmeeting itu seharusnya menyenangkan. Tapi ada yang menggangguku. Seorang penggemar memperlihatkan sebuah video kepadaku. Woojin dan Jihoon. Pink Sausage kata mereka. HwangguBaekgu sudah terlupakan sepertinya. Tapi aku tidak melupakan Woojin.A
Page 99
Aku mendengarkan live Sewoon hyung hari ini. Jujur saja. Aku iri dengan Sewoon hyung. Dia bilang Jaehwan hyung mengikuti setiap perkembangannya dalam bermusik. Mereka juga terpisah seperti aku dan Woojin, Jaehwan hyung juga banyak dipasangkan dengan Minhyun hyung atau Seungwoo hyung. Tapi Jaehwan hyung tetap menyayangi Sewoon hyung.
Page 101
Aku datang ke SBS bersama Jung Jung hyung untuk mengucapkan selamat pada Eunki hyung. Tapi aku menghancurkan rencana Jung Jung hyung. Aku meninggalkannya di sana sendiri karna aku tidak sanggup menghampiri ruangan Eunki hyung. Rasanya sesak sekali mendengar Woojin di dalam sana mengatakan dia sangat menyukai Jihoon. Apa dia sudah melupakanku? Aku.. masih kekasihnya kan?
"Kenapa juga aku gegabah mengatakan aku menyukai Jihoon di saat aku masih kekasihnya. Park Woojin BODOHHHHH!" raung Woojin mengacak rambutnya kesal.
Page 103
Sudah lama tidak menulis. Aku terlalu sibuk. Tapi kalau aku tidak sibuk, bayangan Woojin akan terus datang. Dengan gema suara bahwa dia menyukai Jihoon. Hyunmin bilang itu hanya candaan. Tapi rasanya Woojin tidak sedang bercanda.
Page 102
Aku sudah memutuskan. Aku akan bertanya langsung pada Woojin. Jika memang Jihoon yang dia cintai sekarang, aku akan melepaskannya.
Page 103
Sudah berakhir. Aku harap Jihoon akan menjaga Woojin dengan baik agar Woojin tetap bahagia. Perih memang mengakhiri dengan cara ini, tidak bertemu, tidak berkomunikasi, lalu berakhir. Tapi semuanya demi kebahagiaan Woojin jadi aku pasti akan baik-baik saja.
Page 105
Ternyata aku tidak baik-baik saja. Setiap aku diam, bayangan Woojin, kenangan di asrama, semuanya muncul membuat dadaku perih. Aku bahkan tidak bisa tidur sekarang.
Page 106
Euiwoong menangkapku basah dengan obat penenang. Untung yang kubawa hanya satu botol. Kalau dia tahu berapa botol yang sudah kuhabiskan, aku pasti sudah habis dimarahi. Maafkan aku Euiwoong. Ini satu-satunya yang bisa menghilangkan Woojin dari benakku.
Dan air mata Woojin mulai berjatuhan. Jadi dia benar-benar penyebab semua ini. Jadi Hyeongseob terbaring di rumah sakit dan koma itu karena berusaha mengobati luka yang dia buat di dalam hati Hyeongseob. Woojin memang tidak seperhatian Jaehwan atau sepengertian Sewoon, tapi Woojin tahu Hyeongseob benci obat. Hyeongseob adalah satu dari segelintir kenalannya yang tidak mengkonsumsi obat tidur meski haru terjaga sepanjang malam karna sulit tidur.
"Hiks.. Ahn Hyeongseob.. Mianhae..." dalam tangisan Woojin berulangkali menyebutkan nama Hyeongseob dan betapa menyesalnya ia.
Di luar kamar, Daehwi sedang sesegukan ikut menangis setelah mendengar suara tangis Woojin. Hatinya sakit menyaksikan kedua hyung kesayangan tenggelam dalam perih. Jinyoung hanya mampu mendekap Daehwi erat, berharap memberikan kenyamanan. Seungwoo yang tadi berinsiatif memberi Woojin waktu untuk sendiri bergerak mendekati Woojin begitu suara tangis Woojin semakin menjadi. Menepuk lembut punggung adiknya itu.
"Hyung... hikss" Woojin memeluk erat diari Hyeongseob, "yang menye hiks.. babkan Hyeong hiks.. seob hiks... koma hiks hiks.. aku.."
"Baru sadar eoh?" Jihoon yang entah sejak kapan bersandar di tangga ranjang bertanya sarkas. Woojin hanya memandangnya bingung dengan mata sembab.
"Kau kira Ung meninjumu karna apa?!"
"Jihoonah, sudah," Seungwoo bicara tenang agar Jihoon ikut tenang.
Tak lama kemudian seluruh anggota berkumpul di sisi Woojin yang sudah menghentikan tangisnya. Semua diam. Hening melanda mereka selama beberapa menit.
"Kenapa menangis hm?" Jisung menggenggam jemari Woojin.
Woojin menggeleng lemah, "hanya sesak. Sesak sekali saat tahu Hyeongseob selalu memikirkanku saat aku asik dengan duniaku."
"Kau selama ini juga memikirkan Hyeongseob Jinie. Hanya saja entah bagian mana dari otakmu yang tersumbat sampai kau malah merasa menyukai Jihoon," ucap Daniel menyindir.
"Kau mungkin tidak sadar. Setelah kaus tak tersampaikan itu, kau selalu membeli sesuatu sepasang. Satu putih satu hitam atau kuning. Case ponsel, gantungan kunci, boneka, kaus kaki. Oh dan kau selalu mengigaukan Hyeongseob," Minhyun menjelaskan satu persatu.
"Aku sungguh merasa kau gila hyung saat kau terus-menerus mengatakan menyukai Jihoon hyung padahal setiap malam yang kau sebut Hyeongseob," tambah Guanlin
"Kau bahkan lebih bodoh dari Minhyun dalam urusan cinta," ujar Seungwoon sembarang.
•
Their Story
•
Rurulala readers
HamzziHwanggu kembali dengan Their Story sebagai bentuk kesedihan yang hakiki karna Hyeongseob ga jadi ketemu Woojin karna Mcountdown diganti MAMA. ㅠ.ㅠ
Sebenarnya... HamzziHwanggu ga tau ini nulis apaan... jadi author berpasrah diri, semoga ada readers yang suka.
Terakhir, Hamzzihwanggu sangat menanti review kalian, jadi jangan lupa direview ya.
Gomawoyong
