Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~
Cast: Ahn Hyeongseob, Park Woojin, Lee Dohyeon, Im Youngmin
Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie
Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.
•
Their Story
•
Burn it up woooo~
Ponsel hitam legam di meja mutih bergetar lembut, menandakan adanya panggilan masuk. Begitu nama WOOJIN tertera di sana, sebuah tangan meraih ponsel itu.
"Halo Jin?"
"Hyung. Aku di depan asrama."
Secepat kilat pemilik ponsel itu keluar dari ruangan, menuruni anak tangga dan mendapatkan Woojin berdiri dengan tatapan kosong.
"Mau ke cafe sebelah?"
Dia tak perlu penjelasan untuk tahu Woojin hanya ingin bicara berdua. Hanya ingin ia seorang yang mendengar keluhannya.
Hanya butuh beberapa menit untuk keduanya duduk berhadapan di dalam cafe hangat dengan design minimalis. Tanpa ada satu orang pun bicara.
"Hyung. Apa cinta itu benar-benar merasa bahagia ketika orang yang kita cintai bahagia?"
"Bisa dibilang begitu."
"Berarti aku tidak mencintai Hyeongseob?"
"Ceritakan dengan lengkap, bodoh! Kau tidak bisa asal memutuskan!" pemuda berambut pirang itu memukul Woojin santai.
"Sakit Youngmin hyung!"
"Masih bisa merasa sakit hm?"
"Tentu saja. Aku kan pemuda 18 tahun normal," Woojin menyesap kopinya sesaat, " aku bahkan merasa sakit melihatnya tertawa."
"Hyeongseob?"
"Hm-m"
"Dengan aktor itu?"
"Aktor?"
"Iya aktor.. hmm.. ini kan yang kau lihat bersama Hyeongseob?" Youngmin menyodorkan layar ponselnya ke wajah Woojin yang dengan cepat mengiyakan dugaannya, "dia aktor baru sepertinya. Aku dengar dari Sewoon, mereka dulu cukup akrab, lalu kesibukan membuat mereka jarang bertemu. Orang ini langsung mengosongkan seluruh jadwalnya begitu Hyeongseob sadar dari koma."
Woojin diam. Menyimak setiap penjelasan dari hyung kesayangannya. Dalam benaknya, ia merasa semakin bersalah pada Hyeongseob. Namun perasaan itu kini bercampur. Bercampur dengan sifat posesifnya yang sudah lama tidak muncul. Sifat ingin tawa, waktu, dan semua hal tentang Hyeongseob menjadi miliknya seorang.
"Kau tidak punya hak untuk posesif Woojinie. Hyeongseob sudah bukan milikmu."
Youngmin paham betul kalau teman satu timnya sejak kecil ini sangat posesif dengan apa yang ia cintai. Dan Youngmin tahu anak ini mencintai Hyeongseob. Semua orang sudahtahu sejak dulu, hanya Woojin seorang yang terlambat menyadarinya.
"Bagaimana kalau pergi ke gym? Dari pada kau melamun terus."
"Tidak mau hyung. Aku lelah," Woojin menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengan yang terlipat di atas meja. Seketika rasa lelah menyambar ke seluruh tubuhnya, ia tidak ingin melakukan apa pun sekarang.
"Ya sudah ke asrama saja. Donghyun sedang pergi, tidak ada siapa-siapa di kamarmu."
Kata yang menyiratkan ia bisa memiliki waktu pribadi membuat Woojin mengangkat wajahnya perlahan, mengusap matanya, lalu berdiri dan meraih kopi yang masih dingin.
Youngmin mengikuti pergerakan Woojin lalu berjalan di sampingnya. Memastikan Woojin berjalan dengan benar, bukan seperti mayat hidup setengah jam yang lalu.
Jalan dari cafe menuju asrama Brand New memang tidak begitu jauh, namun tetap saja memakan beberapa menit dengan berjalan kaki. Youngmin melirik Woojin sesekali. Karena semakin khawatir dengan semangat Woojin, ia merangkulkan tangannya di bahu Woojin, berusaha membuat pemuda bermarga Park itu sedikit melupakan penatnya. Mulai dari perbincangan seputar agensi hingga teman-teman mereka terucap begitu saja. Segala hal Youngmin ceritakan demi membuat Woojin kembali cerah.
Baru saja seulas senyum terlukis, wajah Woojin kembali mendung. Langkahnya terhenti, tubuhnya membatu. Youngmin bahkan tersentak dengan aktivitas berhenti Woojin yang sangat tiba-tiba. Ia menoleh ke arah Woojin dan kemudian menyusuri pandangan Woojin hanya untuk terkejut dengan apa yang ia lihat.
•
Their Story
•
Hyeongseob tertawa lepas di tengah halaman gedung besar yang baru saja ia masuki. Wajahnya begitu ceria saat ia bersama pemuda itu. Pemuda yang sudah bersamanya sejak ia masuk agensi.
"Aku senang kau bahagia," ucap sosok tampan dengan suara lembut yang menenangkan.
"Aku selalu bahagia Dohyun-ah. Mana pernah aku sedih~" Hyeongseob membanggakan dirinya.
"Hahaha ok Hyeongseob tidak pernah ... kau kenapa?" Nada suara tenang tadi berubah khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau Hyeongseob yang satu menit lalu tertawa tiba-tiba berubah serius dan menengok sekelilingnya dengan penuh antisipasi.
"Seob... Hyeongseob ada apa?" Ia bahkan harus mengguncang tubuh berisi Hyeongseob karena lawan bicaranya mengabaikan pertanyaan pertamanya dan juga panggilannya barusan.
"O.. oh tidak apa-apa. Hanya merasa seperti ada yang memperhatikanku."
"Mungkin paparazi."
Hyeongseob menggeleng lemah, "Bukan. Rasanya... seperti Woojin," air wajah Hyeongseob berubah sendu.
"Masih memikirkannya?"
"Aku masih mencintainya..."
"Tapi dia sudah menyakitimu Seob. Tidak bisakah kau mencari orang lain yang membuatmu bahagia? Seperti..."
"Berhenti bersikap seperti Ung. Aku lelah dengan kata-kata kalian" potong Hyeongseob cepat, "Sudahlah ayo pergi ke Brand New sebentar. Aku ingin betemu Donghyun hyung," hanya dalan hitungan detik Hyeongseob sudah kembali ke mode cerianya. Melangkah riang mendahului sahabatnya itu.
"Huft. Kapan kau akan menyadari perasaanku Seob?" ucap Dohyun lirih memandang punggung orang yang ia sayangi selama ini.
"Kau yakin lewat sini?"
"Yakin! Sudah tenang saja, aku mengenal daerah ini dengan baik"
Sudah 15 menit Dohyun berjalan di sisi Hyeongseob, tapi mereka tak juga sampai di tujuan si kelinci itu. Padahal ia pikir 5 menit saja sudah cukup.
"Lelah? Di depan sana kita tinggal belok ke kiri," Hyeongseob memandang resah pada sahabatnya yang berjalan semakin lambat, "Kemari," Hyeongseob meraih lengan Dohyun, membiarkan tubuh itu mengikuti derap langkahnya.
"Kau tidak lelah seharian berjalan?" pecah Dohyun setelah menata detak jantungnya. Hyeongseob menggenggam jemarinya sekarang, bagaimana ia bisa tenang?
Hyeongseob tertawa kecil dan menggeleng dengan semangat, "Nope."
Dua sosok itu berjalan beriringan, masih lengkap dengan Hyeongseob yang mengenggam jemari lentik Dohyun. Posisi itu bertahan bahkan hingga Hyeongseob menghentikan langkah kakinya secara mendadak.
"Sudah sampai?" Dohyun menatap Hyeongseob hanya untuk mendapati ekspresi yang belum pernah ia lihat dari Hyeongseob sebelumnya.
"Woo.. woojin?" Nama itu meluncur lembut dari bibir Hyeongseob. Sangat lembut hingga sosok di depan sana pasti tak akan mendengarnya, karena hanya Dohyun yang mendengar suara itu. Suara lirih dengan nada sulit diartikan.
•
Their Story
•
Rurulala,
I'm back! Untuk Chapter berikutnya, akan aku update weekend ini. Jadi banyak" review ya guys.
N plis support JungJung n Stin di Idol Producer ya~
Gomawoyong~
