Disclamire: seluruh cast yang kini sedang berada di bawah naugan agensinya masing-masing adalah milik Sang Pencipta. Author hanya pinjam nama~
Cast: Ahn Hyeongseob, Park Woojin, Lee Dohyeon, Im Youngmin
Concept: Author berusaha memperlihatkan dua sisi; sisi Seobie dan sisi Jinie
Note: Ini bukan kisah nyata, hanya imajinasi dan sedikit bumbu perasaan author pada JinSeob couple.
•
Their Story
•
"Woo.. woojin," Nama itu meluncur lembut dari bibir Hyeongseob.
Tap
Tap
Woojin kepayahan menyimbangkan dirinya karena dengan tiba-tiba Youngmin mendorong tubuh proposionalnya maju. Untung Woojin tidak jatuh terjerembab, hanya terlihat bodoh saja. Ya salahkan saja pemuda Park yang hanya berdiam diri itu. Youngmin sudah cukup dewasa untuk paham bahwa dua insan dihadapannya harus bicara berdua. Mengungkapkan perasaan mereka masing-masing
Tapi pemuda tan itu tetap saja diam. Matanya menuju ke satu arah. Jemari Hyeongseob. Jemari yang sedang menggenggam jemari lain yang bukan milikinya.
"Kau Park Woojin?"
Fokus Woojin seketika pecah. Ia beralih menatap orang yang menyebutnya dengan tatapan tajam. Seolah berkata 'menyingkir dari Hyeongseobku'. Yang ditatap balas menatap dengan tajam, dengan aura protektif yang terbilang kuat.
"Jin... Ka..."
Tap tap tap tap tap
Belum sempat Hyeongseob menyelesaikan kalimatnya, Dohyun sudah menariknya dan melangkah cepat. Memaksa tubuhnya mengikuti langkah jenjang Dohyun. Sadar ia sudah tertarik cukup jauh, Hyeongseob menoleh kebelakang. Hanya untuk merasakan perih melihat Woojin semakin menghilang dari pandangnya.
"Seobie!"
Suara itu. Suara Woojin.
Hyeongseob jelas mengenal suara itu. Namun Hyeongseob tak menyangka ia bisa mendengar suara itu saat beberapa detik lalu wajah yang ia cintai sudah lenyap dari pandangnya. Hati Hyeongseob berdebar kencang, seakan menanti sesuatu. Penantian yang bercampur dengan rasa takut. Takut ini semua hanya halusinasinya lagi.
"Seobie tunggu!"
Lagi. Nama itu terdengar lagi. Nama yang hanya terucap dari mulut seorang Woojinie. Tak ada satu pun temannya yang memanggil Hyeongseob dengan Seobie. Selalu Seob. Dengan mengumpulkan keberanian, ia memutar kepalanya. Mendapatkan Woojin berlari ke arahnya. Kenapa berlari?
Hyeongseob menatap kakinya, ia juga berlari?
Sungguh tubuhnya ingin berbalik arah. Sekali saja mencium aroma maskulin Woojin, bersandar di dada bidak Woojin, dan menangis dipelukan Woojin. Sekali saja.
Kaki Hyeongseob sudah berputar, namun cengkraman di pergelangan tangannya menguat. Kembali menariknya. Hyeongseob kalah. Meski sudah merontakan lengannya beberapa menit, tetap saja kekuatannya tak sebanding. Ia ingin mengharapkan Woojin menariknya.
Tapi ia tahu, kondisi fisik Woojin sedang tidak baik. Keringat yang ia tangkap dengan matanya, nafas yang ia dengar dengan telinganya. Semuanya sama. Sama seperti saat di asrama. Saat Woojin masih dalam masa pemulihan dari sakit cacar ularnya. Waktu itu kondisi tubuh Woojin sangat rentan. Berkali-kali ia mengalami demam. Demam seperti sekarang.
Tanpa Hyeongseob sadari, suara Woojin telah hilang. Keramaian kota pun hilang. Dan yang terdengar justru alunan lagu Cina. Lagu yang menyadarkan bahwa ia sudah di gedung agensinya.
"Kalian sudah kembali?" Euiwoong membuka salah satu pintu latihan. Justin, Jungjung dan trainee lain juga ada di dalamnya.
Pergerakan jemari Doghyeon seketika membawa Hyeongseob pada titik amarahnya. Ia menghempaskan lengannya kasar dan berlari menghambur ke dalam pelukan JungJung. Tidak tahu, tapi rasanya hanya hyungnya yang bisa ia jadikan tempat mengadu sekarang.
JungJung?
Tentu saja terkejut. Mana pernah Hyeongseob bersembunyi dalam tubuh rampingnya. Ini jelas hal langka. JungJung yang merasakan genggaman Hyeongseob pada kaus putihnya menguat segera paham bahwa adiknya sedang menahan amarah. Hyeongseob bukan tipikal yang akan meninju orang seperti Euiwoong.
"Seob..."
Dohyun mengulurkan tanganya menyentuh bahu Hyeongseob.
"Pergi! Jangan dekat-dekat aku!"
"Aku kan hanya..."
"Hanya apa?! Melindungiku?! Kau pikir aku merasa baik-baik saja dengan seperti itu?!"
"Seob..."
"Kau kira bertemu Woojin itu mudah? Kau menghancurkan kesempatanku satu-satunya!"
Braaak
Tinju Hyeongseob melayang melukai tembok cokelat Yuehua.
Dohyun menahan kepalan itu ketika akan melayangkan tinju kedua.
"Berhentilah Seob. Berhenti memikirkannya. Apa lebihnya anak itu?"
Hyeongseob menatap sengit sahabatnya. Ia benci. Sangat benci siapa pun yang merendahkan Woojin.
"Dia selalu menyakitimu. Dia tidak pernah ada untukmu. Dia menyukai orang lain. Untuk apa kau bertahan?"
"Untuk apa kau tetap menyukaiku meskipun aku sudah bersama Woojin?!"
Pertanyaan Hyeongseob bagaikan petir di ruangan itu. Mereka semua tahu Dohyun menyukai Hyeongseob, tapi tidak ada yang menduga bahwa Hyeongseob mengetahui hal itu.
"Kau... Sejak kapan?"
"Kau pikir aku sebodoh apa tidak menyadarinya, hah?!"
Emosi Hyeongseob masih meluap. Ia menyingkirkan tangan Dohyun kasar dan setelahnya, ia menghilang dari ruangan, tak menghiraukan Euiwoong yang menahannya. Hanya JungJung yang berlari mengejar tubuh lemas Hyeongseob.
•
Their Story
•
Woojin menundukan tubuhnya, mengenggam kedua lututnya, berusaha mengatur nafasnya. Sesaat kemudiana ia menendang udara dengan kesal.
Sial. Kenapa disaat begini tubuhku tidak bisa diajak kerjasama!
Jika yang mengejar Hyeongseob adalah Woojin dengan kondisi fisik terbaik, tentu saja sekarang Hyeongsob sedang ada di hadapannya. Bukan malah bus bus dengan wajah senior-seniornya.
"Woojin hyung, kau baik-baik saja?" suara sendu khas salah satu anggota timnya terdengar bersamaan denhan cengkram kuat bahu Woojin. Takut kakaknya itu terjatuh.
"Minum ini dulu," sesosok pemuda sebaya dengannya menyodorkan sebotol air yang entah ia dapatkan darimana.
"Hah aku tidak hah hah haus Jihoon."
"Tidak peduli. Minum!"
Woojin menautkan alisnya. Kenapa temannya ini jadi mirip Jisung hyung yang banyak mengatur itu. Malas berdebat, Woojin meraih botol plastik tadi dan mengosongkan isinya.
"Apa aku bisa bertemu dengannya lagi?" tanya Woojin pada langit.
"Sungguh ingin bertemu dengannya hyung?" kini giliran Daehwi yang bertanya.
Seulas senyum pahit terlukis di wajah Woojin yang kemudian menatap Jinyoung di sisinya.
"Kenapa kalian berempat ada di sini?"
Empat? Iya empat orang. Jihoon, Daehwi, Jinyoung dan sosok pemuda tinggi agak jauh dari mereka yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Kami baru saja bertemu di dekat sini."
"Woojin hyung..."
"Eoh?" sahut Woojin setengah menengadah pada sosok tinggi Lai Guanlin.
"Hyeongseob sudah di Yuehua, mau menemuinya tidak?"
Sebenarnya Woojin ingin bertanya bagaimana Guanlin bisa tahu. Tapi rasa penasarannya masih belum sekuat keinginannya untuk melihat wajah itu sekali lagi.
Jihoon di sudut lain tersenyum begitu hangat pada Guanlin. Jihoon mengerti apa yang terjadi. Jihoon paham bahwa Guanlin baru saja berbicara dengan Justin di ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Justin. Kemungkinan orang yang dihubungi pemilik nama keluarha Lai dengan menggunakan bahasa ibunya, hanya keluarga atau kenalannya yang sama-sama berasal dari Taiwan. Jika setelah berbicara lewat ponsel ia mengatakan sesuatu tentang Hyeongseob, maka hanya Justin kemungkinannya. JungJung dan Guanlin tidak banyak berkomunikasi. Mungkin karna jenjang usia mereka.
"Thank you Guanlin," Woojin segera bangkit dari duduknya.
"Aku ik..."
"Hati-hati Jin," potong Jihoon cepat setelah menahan tubuh Daehwi untuk tidak mengikuti Woojin.
Baru sampai di gerbang Yuehua, Woojin sudah menangkap sosok yang ia kenal dalam pandangnya.
"Justin, Hyeongseob?"
"Ikut aku hyung."
Justin melangkah mendahului Woojin. Menuntun langkah Woojin memasuki gedung yang kental dengan wajah dan musik negeri bambu lalu menuju sebuah ruangan kecil. Ada nama Hyeongseob dalam bahasa Korean di pintu transparannya. Dari situ Woojin bisa melihat Hyeongseob sedang menenggelamkan kepala di meja dengan JungJung yang merangkulnya.
"Masuk hyung. JungJung hyung sudah bilang kau boleh masuk," jelas Justin bersamaan dengan tangannya yang membuka pintu kaca itu, menyebabkan JungJung menoleh dan mendapatkan Woojin yang masih terpaku.
JungJung lalu berdiri perlahan, menepuk bahu Woojin agar pemuda berambut gelap itu menggantikan posisinya. Tak diminta dua kali, Woojin sudah duduk di kursi JungJung dan merangkulkan lengannya pada bahu Hyeongseob.
"Mianhae Seobie," bisik Woojin lemah.
Suara lembut Woojin bagaikan sengatan listrik untuk Hyeongseob. Tubuh seputih susu yang awalnya gemetar itu seketika tenang. Kepalanya perlahan terangkat menampakan wajah penuh jejak airmata. Hyeongseob hanya diam menatap sosok dihadapannya. Perasaannya saat ini tak bisa digambarkan.
Selang beberapa detik, air mata kembali jatuh dari mata bulat itu. Kali ini tak jatuh begitu jauh. Ada tangan lain yang menghentikannya.
"Berhenti menangis hm? Rasanya menyakitkan melihat orang yang kucintai menangis."
•
Their Story
•
Rurulala readers,
Abis liat teaser Golden Age, Hamzzi ingin bikin ff baru nih. Konsepnya akan out of idol life~ ㅋㅋㅋㅋ
Maafkan Hamzzi yang suka memotong chapter di moment" asik ya. Hamzzi memang sukanya begitu hoho
Anyway keep supporting Woojin n Hyeongseob ya. Plus Jung Jung yang lagi bersinar di Cina sana.
Reviewnya jangan lupa readers~
Xie xie
