Bagian 2

Teman

.

.

Yaya menatap rembulan yang masih bercahaya merah di tengah angkasa malam. Beberapa menit yang lalu, BoBoiBoy masih ada di sini, tepat di tempatnya berdiri sekarang. Namun, sang superhero elemen kini hilang tak tentu rimbanya. Bahkan Ochobot pun tak mampu mendeteksi keberadaan Jam Kuasa milik pemuda itu di mana pun.

Lagi-lagi ketidakberdayaan menyentak batin Yaya. BoBoiBoy selalu ada saat dia maupun kawan-kawan yang lain membutuhkan bantuan. Tak adakah sesuatu yang bisa dilakukannya untuk menolong BoBoiBoy sekarang?

"BoBoiBoy ...," lirih Yaya berbisik, "kamu di mana?"

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy Galaxy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Animasi "Zak Storm" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Zagtoon/Method Animation/De Agostini Editore/SAMG Animation/MNC Animation/Man of Action©

Fanfiction "Purnama Merah" ditulis oleh kurohimeNoir, untuk event #CrossTwins. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

BoBoiBoy & Zak Storm crossover. AU rasa canon. Adventure-Friendship-Action. Slight BoYa & ZakCece.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

"Yaya!"

Gadis anggun berhijab merah muda itu tersentak. Mata beriris hazel miliknya menangkap sosok Ochobot yang terbang mendekat.

"Aku sudah dapat izin dari Komandan Koko Ci," kata si robot kuning. "Kita akan pergi menjemput BoBoiBoy."

Yaya hanya mengangguk. Hatinya masih berat digayuti kecemasan. Pergi ke tempat yang belum diketahui, hanya berdua saja dengan Ochobot, membuat kecemasan itu bertambah. Tapi, apa boleh buat? Ying dan Gopal sedang ada misi lain. Begitu pula dengan Fang.

"Tapi …."

Kening Yaya berkerut ketika mendadak Ochobot bicara dengan nada ragu.

"Kenapa, Ochobot?" tanya gadis itu.

"Aku sudah mendapatkan data dari pemindaian terhadap portal misterius itu," jelas Ochobot. "Dan aku bisa coba membuat portal untuk menyusul BoBoiBoy. Tapi ... nggak ada jaminan kita akan sampai di tempat yang sama dengannya."

Lagi-lagi kening Yaya berkerut. "Lho? Kenapa bisa begitu?"

"Koordinat yang kudapatkan aneh."

"Aneh?"

"Ya. Seperti bukan tempat mana pun di alam semesta ini. Mungkin tempat itu ... ada di dimensi lain."

Yaya terdiam, berusaha mencerna penjelasan itu. "Maksudmu ... seperti dunia paralel?"

"Entah. Mungkin saja." Ochobot memberi jeda sejenak. "Selain itu ... aku nggak tahu seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk membuat portal itu sampai ke tujuan. Entah apa energiku cukup untuk kembali pulang."

Sekali lagi Yaya terdiam beberapa detik. "Jadi ... walaupun bisa menemukan BoBoiBoy ... belum tentu kita bisa pulang?"

"Iya."

Deburan ombak mengisi keheningan di antara mereka. Sementara, purnama merah darah masih bersinar di kegelapan angkasa.

"Kalau BoBoiBoy yang ada di posisi kita," tiba-tiba Yaya berkata, "dia pasti akan tetap pergi."

"Tanpa ragu," tambah Ochobot.

Yaya mengangguk. "BoBoiBoy selalu menolong kita. Sekarang, giliran kita yang menolongnya!"

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

Sassafras masih sibuk mengaduk-aduk peti besar di sudut rumahnya. Sementara, Cece menunggu dengan tidak sabar. Lima menit berlalu, dan sang Putri Atlantis nyaris saja melupakan sopan santun lalu berteriak kepada orang yang lebih tua.

Untungnya, Sassafras mendekat kembali kepadanya. Tidak dengan tangan kosong. Ia juga membawa sebuah kalung emas dengan liontin dari batu ruby. Warna merah darah dari batu itu begitu pekat, sangat mengingatkan kepada purnama merah yang belum juga berlalu.

"Ambillah ini," kata Sassafras.

Cece segera mengambil kalung itu, berpikir apa dia harus memakainya. Kalung itu memang indah, tapi melihatnya entah kenapa membuat Cece berpikir akan kena kutuk jika terlalu lama membawanya.

"Kau harus menyusul bocah itu sebelum purnama merah berakhir," kata Sassafras. "Atau jalannya akan tertutup sampai purnama merah berikutnya. Gunakan kalung itu. Cahaya bulan akan menuntunmu."

Cece menaikkan sebelah alis.

"Angkat liontin itu ke arah bulan," Sassafras berkata tak sabar. Cece baru saja hendak melakukannya, ketika sang penyihir kembali bicara, "Tapi tidak ada jaminan benda itu bisa membawamu kembali."

Segala gerakan Cece terhenti.

"Maksudmu?"

"Sekarang masih ada energi pada liontin ini, tapi aku tidak tahu apakah cukup untuk perjalanan pulang-pergi," jelas Sassafras. "Tapi jangan terlalu khawatir. Temanmu punya pedang yang memiliki kekuatan tujuh samudra. Kalau kau bisa menemukannya, kalian bisa pulang. Mungkin."

Cece mendesah samar. Jadi, semuanya serba tidak jelas sekarang.

"Tapi ... kalau Zak ada di posisi ini, dia pasti akan tetap pergi," Cece bicara pada dirinya sendiri. "Karena itulah, aku akan pergi."

Tak ada keraguan saat Cece mengulurkan tangannya yang menggenggam rantai kalung, lurus-lurus ke arah ventilasi di langit-langit pondok. Liontin batu delima memantulkan cahaya merah purnama. Indah, sekaligus menakutkan.

Sejenak, Cece merasa dirinya mulai berhalusinasi, seolah cahaya merah itu bertambah terang dan terus bertambah terang. Tapi liontin ruby memang terus memancarkan cahaya yang semakin menyilaukan, hingga Cece harus menutup mata. Kalau tidak, rasanya dia bisa buta.

Detik berikutnya, tiba-tiba saja gadis yang baru beranjak remaja itu merasakan tekanan dahsyat di seluruh tubuhnya. Ia terpekik kaget. Ingin tahu apa yang terjadi, tetapi masih tak sanggup membuka mata. Lantas ia merasakan sensasi aneh di seluruh tubuhnya, seperti ditarik-tarik ke segala arah. Mulanya, Cece masih berusaha melawan. Namun segera sadar bahwa itu sia-sia. Daripada buang-buang tenaga, akhirnya dia diam. Mencoba mengikuti arus.

Kemudian, semuanya berhenti.

Cece masih bergeming. Keheningan yang absolut dan tiba-tiba, membuat kedua telinganya pengang. Butuh beberapa detik sampai dia terbiasa dengan itu. Dan beberapa detik tambahan lagi untuk mengumpulkan keberanian, lalu membuka mata.

Putih.

Kosong.

Cece tak bisa menemukan apa pun sejauh mata memandang. Hanya warna putih. Ia bahkan tak yakin bahwa sekarang kakinya sedang memijak sesuatu. Tapi yang jelas, dia sedang berdiri dengan seimbang, entah pada landasan apa.

Setidaknya, Cece tahu ini bukan pondok Sassafras. Bukan juga Marituga. Bahkan mungkin bukan lagi di Segitiga Bermuda. Tak ada yang bisa memastikan.

Tapi dia sudah berpindah. Pertanyaannya sekarang, apakah kaptennya ada di sini?

"Zak?" Cece mencoba memanggil. "Zak Storm?"

Beberapa kali nama itu terlantun dari bibir Cece. Tak ada jawaban, tetapi Cece tidak menyerah. Dipakainya liontin ruby, lalu mulai beranjak sambil terus menyerukan nama Zak.

Sampai langkahnya terhenti oleh kemunculan sesuatu yang misterius di udara kosong. Pusaran tak beraturan mirip dengan yang telah menelan Zak, hanya beberapa meter di hadapan Cece. Betul-betul mirip, hanya ukurannya sedikit lebih besar. Cahaya yang terpancar darinya juga bukan putih, melainkan biru transparan diliputi warna emas di seluruh tepiannya.

Dari dalam lingkaran misterius itu ada sesuatu yang bergerak, lalu keluar. Cece tidak tahu makhluk apa itu, tetapi dia sudah ada di hadapannya.

Tinggi sosok itu tidak melebihi dirinya sendiri. Kalau dilihat-lihat sangat mirip dengan manusia. Mungkin memang manusia. Seorang gadis, lebih tepatnya. Cukup cantik, dengan warna kulit lebih gelap daripada Cece maupun Zak, serta sepasang mata beriris cokelat yang memiliki sorot lembut. Nyaris seluruh tubuh gadis itu tertutup pakaian berwarna dominan pink dan sedikit putih. Bahkan rambutnya pun sepenuhnya tertutup kain merah muda. Ditambah sepasang goggle yang bertengger di atas kepala, membuat penampilan gadis itu tampak khas.

Sungguh, Cece tidak bisa merasakan 'kejahatan' dari sosok selembut itu. Tapi dia tetap mencabut bowgun ungu miliknya, untuk jaga-jaga saja. Itu sebelum sang putri Atlantis melihat sesuatu yang lain keluar dari pusaran cahaya biru mengikuti gadis merah jambu tadi.

Sekilas pandang, Cece mengira baru saja melihat rekan sekapalnya, Caramba. Kuning, hitam, bundar, dengan tangan dan kaki. Tapi yang ini tidak punya kaki, bisa melayang, dan jauh lebih kecil.

Yang jelas, kedua pendatang baru itu pun sangat kaget melihat Cece.

"Alien?!"

Gadis merah jambu itu yang barusan berseru. Ia segera menempatkan diri di depan si makhluk—atau robot—kuning mungil dengan sikap melindungi. Kelihatan sekali pasang kuda-kuda siaga.

Cece refleks mengarahkan bowgun miliknya ke arah gadis itu, membuat situasi makin buruk. Sempat tersentak kecil, sang gadis merah jambu tiba-tiba melayang ke udara. Perlahan semakin tinggi, hingga pada jarak semeter dari pijakannya semula.

"Tumbukan Padu!" gadis itu berseru tiba-tiba.

Giliran Cece yang tersentak ketika si gadis meluncur cepat dengan kepalan tangan kanan terarah kepadanya. Secara naluriah, Cece berkelit ringan selangkah ke samping. Kepalan yang diselimuti cahaya merah muda itu pun mengenai pijakan putih tak jauh dari Cece. Retakan tercipta, membuat Cece lagi-lagi refleks mengarahkan senjata ke arah gadis itu. Kali ini, ia bahkan langsung menarik picunya.

"Yaya! Awas!" si robot kuning berseru dari kejauhan.

Meskipun kaget, gadis yang dipanggil Yaya itu dengan sigap menghindar, terbang ke atas. Tembakan laser pink dari senjata Cece meleset, hanya mengenai 'lantai' putih tak jauh dari retakan yang tadi diciptakan oleh Yaya.

"Eh?" Yaya yang harusnya fokus pada lawan, malah terdistraksi oleh sesuatu yang lain. "Retakannya ..."

Perhatian Cece ikut teralih. Ia dan Yaya kini sama-sama menatap bekas retakan di bawah. Perlahan tapi pasti, retakan itu menutup kembali, sampai permukaannya kembali mulus tanpa cela.

"Yaya! Hati-hati!"

Seruan si robot kuning mengembalikan kewaspadaan Yaya. Namun, alih-alih menyerang Cece yang masih lengah, ia memilih terbang kembali ke sisi kawannya.

"Kamu nggak apa-apa, Yaya?" robot mungil itu bertanya dengan suara robotiknya yang seperti suara anak-anak.

"Aku baik-baik saja, Ochobot," Yaya menjawab, dengan tatapan masih waspada terarah kepada Cece.

"Kau tadi bisa saja menyerangku, 'kan?" kata Cece. Diputuskannya untuk menurunkan senjata. "Kenapa tidak kaulakukan?"

"Aku pikir kita bisa bicara," kata Yaya. "Alien juga nggak semuanya jahat, 'kan?"

"Alien?" Cece mengerutkan kening ketika mendengar kata itu untuk yang kedua kalinya. "Tunggu ... Jangan-jangan, yang kaumaksud itu aku?"

"Lho? Iya, 'kan?" si robot kuning—Ochobot—yang menyahut.

"Kalau ada alien di sini, kupikir itu kalian." Cece tertawa kecil. "Robot aneh yang bisa bicara. Dan ... sejauh yang kutahu, manusia tidak bisa terbang."

"Setahuku, manusia Bumi tidak bersisik dan bertelinga runcing," kata Yaya.

Cece tersenyum, lantas menyimpan senjatanya. Setelah yakin lawan bicaranya tidak berbahaya, dia pun beranjak.

"Aku adalah putri dari Atlantis," Cece memperkenalkan diri. "Namaku Chrysta Coraline Lejune."

"Atlantis? Kerajaan yang hilang di bawah laut?" Yaya berkomentar takjub.

"Aku tidak tahu cerita seperti apa yang beredar di luar sana tentang Atlantis," sahut Cece, masih mengulum senyum. "Tapi ... ya, aku berasal dari sana."

Yaya ikut tersenyum, lalu mengulurkan tangan. "Aku Yaya."

Cece menyambut uluran tangan Yaya untuk bersalaman.

"Dan ini Ochobot," Yaya melanjutkan, disambung sapaan 'halo' yang ramah dari Ochobot.

"Hai, Ochobot," kata Cece. "Kau mirip temanku. Tapi ukurannya lebih besar."

"Oh ya?" Ochobot menyahut antusias. "Apa temanmu itu Power Sphera sepertiku?"

Kening Cece berkerut. "Power apa?"

"Power Sphera," Yaya yang menjawab. "Seperti Ochobot, yang bisa memberikan kekuatan pada makhluk lain. Aku juga memiliki kekuatan untuk mengendalikan gravitasi, berkat Jam Kuasa pemberian Ochobot ini."

Cece mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. "Sebenarnya, temanku itu hanya menggunakan semacam kostum robot yang bentuknya mirip Ochobot. Kalau dia sih, memang alien sungguhan."

"Ooh ... Kamu berteman dengan alien?" kata Ochobot.

"Ya. Dia alien dari ras Wahoolian."

"Ah! Aku tahu. Mereka alien yang memiliki teknologi canggih, tapi sangat cinta damai."

"Benar sekali. Dia memang sangat tidak suka perkelahian."

Yaya hanya mendengarkan percakapan Ochobot dan Cece sambil tersenyum.

"Oh, ya," kata Cece kemudian. "Aku sedang mencari temanku, namanya Zak. Dia seumuranku, bermata biru, berambut cokelat, berbaju merah-hitam, dan membawa pedang aneh yang bisa bicara. Apa kalian melihatnya?"

Yaya menatap Ochobot sebentar, baru kemudian menggeleng. "Maaf, kami baru saja sampai di sini."

"Sebenarnya, kami juga sedang mencari seseorang." Ochobot menampilkan proyeksi hologram remaja putra berambut dan bermata cokelat berpenampilan dominan jingga-hitam, dengan topi dino jingga terbalik. "Dia seperti ini. Namanya BoBoiBoy. Apa kamu tahu?"

Cece pun menggeleng. "Maaf, aku tidak melihatnya. Sebenarnya kalianlah orang pertama yang kutemui di tempat ini."

Yaya dan Ochobot tak bisa mencegah desah kecewa. Cece pun diam-diam melepaskan satu hela kekecewaan. Samar saja.

"Ya sudah. Kalau begitu, bagaimana kalau kita cari sama-sama?"

Tawaran Yaya menciptakan satu keheningan singkat. Namun, kemudian Cece tersenyum.

"Baiklah. Kurasa lebih aman kalau kita bersama-sama. Aku merasa tempat ini lebih berbahaya daripada kelihatannya."

Yaya ikut tersenyum. "Selain itu lebih tenang kalau ada teman yang menjaga kita. Bukankah begitu, Putri Chrysta?"

"Teman, ya? Aku senang kalau kalian menganggapku begitu," kata Cece. "Tapi jangan panggil aku 'Putri'. Temanku biasanya memanggilku 'Cece'."

"Baiklah, Cece. Oh ya ... maaf, tadi aku menyerangmu."

"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf sudah menyerangmu."

.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

.

"Aduuh ..."

BoBoiBoy mengeluh pelan begitu kedua matanya terbuka. Refleks, sepasang manik cokelat itu tertutup kembali, lalu mengerjap beberapa kali. Semua serba putih, cukup menyilaukan untuknya yang—rasanya—sudah cukup lama hanya melihat kegelapan.

Pemuda tanggung itu berusaha bangkit dari posisinya yang terbaring menelentang, tapi akhirnya hanya bisa duduk. Tubuhnya terasa lemas, bahkan sakit, meskipun ia tak tahu kenapa bisa begitu.

"Kepalaku ..."

BoBoiBoy memejamkan mata sejenak, berharap rasa sakit yang mencengkeram itu pergi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Lebih parah lagi, BoBoiBoy mendengar suara-suara yang makin lama makin keras. Seperti suara dari dua stasiun radio yang frekuensinya tumpang-tindih, yang sebenarnya sudah dia dengar sejak masih di pantai Pulau Rintis.

Sejak gerhana bulan terjadi.

Suara itu masih bergema, seolah berbicara langsung di dalam kepalanya. Mulanya tak bisa ditangkap artinya, tetapi lama-kelamaan mulai membentuk kata-kata yang bermakna.

BoBoiBoy ...

Pemuda itu tersentak. Kata pertama yang bisa dipahaminya ternyata adalah namanya sendiri.

Bertarunglah ...

Suara misterius itu masih bicara dengan nada nyaris datar. Tidak seperti suara laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Ah, tidak. Sepertinya suara ini malah perpaduan dari semua jenis suara itu. Seperti ada beberapa orang berbicara bersamaan.

Berusaha menguatkan diri, BoBoiBoy bangkit perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghelanya lagi, sampai dirinya merasa lebih baik.

Bertarunglah, BoBoiBoy ...

Suara itu terdengar lagi, sementara BoBoiBoy masih berjuang melawan rasa sakit di kepalanya. Begitu pula rasa sakit samar yang melemahkan seluruh tubuhnya.

"Siapa kau?!"

Akhirnya pemuda itu melepaskan satu seruan. Tegas. Diarahkannya pandang ke atas dengan tatapan tajam. Keseluruhan tempat itu hanya terisi warna putih tanpa batas. Wajar jika siapa pun yang berada di sini, akan merasa takut. Terlebih kalau dia sendirian. Tapi BoBoiBoy tidak ingin menunjukkan setitik pun keraguan.

Bertarunglah, jika kau ingin keluar dari sini.

Suara itu ternyata tidak memberikan jawaban atas pertanyaan BoBoiBoy. Malah mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat frustasi. Yah, itu tergantung dengan siapa atau dengan apa dia harus bertarung.

Selagi benak BoBoiBoy masih dipenuhi berbagai perkiraan, tempat itu mendadak bergerak. Warna putihnya seperti meluruh, digantikan warna-warna lain. Didominasi warna kayu. Kemudian, perlahan tapi pasti, sekeliling BoBoiBoy berubah menjadi tempat lain yang—setidaknya—lebih berbentuk. Seperti bagian dalam sebuah pondok kecil. Dari ventilasi di langit-langitnya, BoBoiBoy bisa melihat bintang dan bulan menerangi angkasa malam.

Namun, yang aneh adalah, bulan itu hanya bulan biasa yang bahkan belum bersinar penuh. Padahal, bukankah seharusnya sekarang sedang ada Super Blue Blood Moon?

Saat BoBoiBoy masih bertanya-tanya, di hadapannya muncul semacam portal putih. Serupa dengan portal misterius yang—samar-samar BoBoiBoy ingat—telah menyedotnya di bawah cahaya bulan merah darah. Dari dalam portal itu, muncullah semacam tengkorak hidup bermata hijau menyala. Satu per satu berjalan keluar dari pusaran cahaya putih, hingga berakhir dengan tujuh tengkorak hidup mengepung BoBoiBoy. Semuanya membawa pedang di tangan.

"Jadi, aku harus mengalahkan mereka? Baiklah!"

BoBoiBoy segera mempersiapkan diri dan Jam Kuasa miliknya untuk sebuah pertarungan.

"Kuasa Elemental! BoBoiBoy Petir!"

Lambang elemen petir berwarna kuning bersinar di permukaan Jam Kuasa. Darinya energi mengalir, seiring perubahan penampilan BoBoiBoy menjadi serba kuning terang, dengan topi kuning berlogo elemen petir yang dipakai normal, menghadap ke depan. Sosok BoBoiBoy Petir langsung pasang sikap tubuh siaga tempur, sementara tatapan matanya menyorot tajam dengan ekspresi wajah serius.

"Pedang Petir!"

Tanpa buang waktu, Petir segera menciptakan sepasang pedang berwarna dominan kuning yang berkilat-kilat oleh aliran listrik. Nyaris tanpa jeda, ia memelesat ke depan dengan kecepatan gerak luar biasa, langsung menghabisi tengkorak yang ada di hadapannya. Lantas ia kembali bergerak cepat, yang hanya terlihat sebagai kilasan kuning terang, menghancurkan keenam tengkorak hidup yang tersisa dalam sekejap mata.

"Huh! Terlalu mudah!" kata Petir dengan suara rendah.

Meskipun begitu, dia tetap bersiaga dengan pedang di tangan. Nalurinya mengatakan, ini sama sekali belum berakhir.

Benar saja, pusaran putih kembali muncul. Tapi kali ini tak ada makhluk apa pun yang muncul dari sana.

"Apa maksudnya?" tanya Petir, ditujukan pada dirinya sendiri. "Aku disuruh masuk ke situ?"

Karena tak ada yang bisa menjawab, Petir hanya mengangkat bahu. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam portal yang baru saja terbentuk itu, tetap dengan kewaspadaan maksimal.

Sisi lain portal ternyata membawa Petir ke sebuah tempat lain yang berbeda. Terang, dengan langit biru, awan putih, matahari, dan ombak yang tenang. Dia ada di geladak sebuah kapal yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Kapal itu kosong.

Petir mengerutkan kening sambil mengamati sekeliling. Mulai paham bahwa tempat, waktu, benda, atau apa pun yang ada di sekitarnya, bukanlah sesuatu yang nyata. Kalau di TAPOPS, barangkali ini seperti simulasi.

Baru saja Petir berpikir begitu, sesuatu datang mendekati kapal dari udara. Setelah diperhatikan, itu adalah tengkorak hidup yang sama seperti sebelumnya. Hanya saja, kali ini mengendarai semacam reptil purba yang bisa terbang, dan berukuran tak lebih dari seekor kuda poni. Jumlah mereka terus bertambah. Yang jelas, lebih dari tujuh.

Petir mendengus samar, kembali bersiap untuk pertempuran.

"Ayo, majulah!"

.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

.

Zak terbangun di tempat yang sangat asing. Hanya ada warna putih di mana-mana, membuat matanya sakit. Ia pun bangkit dari posisinya yang terbaring telentang. Tadinya ingin langsung berdiri, tapi rasa sakit yang tajam di kepala, membuatnya tertahan setengah berlutut.

"Akh—!?"

Zak mengeluh pelan. Ia menarik dan menghela napas beberapa kali, mencoba menenangkan diri. Setelah lebih tenang, dia baru sadar tangannya sedang menggenggam Calabrass. Pemuda itu jadi kagum pada dirinya sendiri yang tidak menjatuhkan pedangnya walaupun sedang tidak sadar.

"Cal?" Zak memanggil.

Tak ada reaksi sampai dua detik. Sampai kemudian, bagian mata tengkorak yang tadinya kosong, perlahan memancarkan cahaya hijau.

"Di mana ini?" terdengar suara dari tengkorak yang barusan saja menggerakkan bagian mulutnya.

"Calabrass!" Zak berseru lega. Setidaknya ada yang bisa dia ajak bicara di dunia putih antah-berantah ini. "Akhirnya kau bangun juga, Tukang Tidur."

"Tidur?" Calabrass malah kelihatan—terdengar—bingung. "Aku?"

"Yang jelas kau sama sekali tidak bicara padaku sejak bulan muncul," kata Zak.

Kapten muda itu pun menceritakan semua yang terjadi, sejauh yang bisa diingatnya. Sampai purnama merah muncul.

"Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu. Tahu-tahu kita sudah ada di sini," Zak mengakhiri ceritanya.

"Sejujurnya, aku juga tidak terlalu ingat sejak kapan aku mulai … tertidur," komentar Calabrass. "Ini benar-benar aneh, bahkan untukku."

Conrad Zacharie Storm ….

"Omong-omong soal aneh," kata Zak, "suara itu lebih dari aneh. Mengerikan, malah."

"Suara apa?"

Pertanyaan Calabrass membuat kening Zak langsung berkerut.

"Kau tidak dengar? Ada yang memanggil namaku," katanya. "Dan setiap kali nama lengkapku dipanggil dengan cara seperti itu, pasti akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan …."

"Tapi aku tidak mendengar apa-apa," Calabrass mengabaikan Zak yang menggerutu. "Apa kepalamu terbentur sesuatu, Nak? Kau mulai berhalusinasi."

"Tidak!" bantah Zak. "Aku sudah mendengar suara ini sejak masih di pondok Sassafras. Tapi yang sekarang suaranya lebih jelas."

Bertarunglah ….

"Nah, barusan terdengar lagi." Zak menatap Calabrass. "Kau sungguh tidak mendengarnya?"

"Sama sekali." Kalau bisa menggeleng, Calabrass pasti sudah melakukannya sekarang. "Seperti apa suaranya?"

"Tidak jelas, bergema," Zak mencoba mendeskripsikan apa yang didengarnya. "Seperti bicara langsung di dalam kepalaku. Suaranya seperti … beberapa orang yang bicara bersamaan. Ada suara pria, wanita … anak kecil … entahlah. Bercampur aduk tidak jelas."

"Apa katanya?"

Bertarunglah, Zak Storm ….

"Dia menyuruhku bertarung."

"Melawan apa tepatnya?"

"Mana kutahu?"

Zak mengangkat bahu, lalu memandang berkeliling. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa dihajarnya. Tempat itu benar-benar kosong.

Bertarunglah, jika kau ingin keluar dari sini.

"Katanya aku harus bertarung kalau mau keluar dari sini."

Baru saja Zak mengucapkan itu, sesuatu—akhirnya—terjadi. Walaupun Zak tidak yakin bahwa itu adalah sesuatu yang baik. Yang jelas dunia putih itu mulai runtuh. Lantas sekitarnya mulai berwarna. Cokelat tanah, hijau pepohonan, dan warna-warna lain dari benda buatan manusia. Semakin jelas, hingga Zak menemukan dirinya berada di sebuah tempat yang mirip taman kota. Tak jauh dari tempatnya berdiri juga ada kedai. Sepertinya kedai minuman, dengan tulisan kuning dan merah di bagian atasnya. Terbaca 'Tok Aba's Kokotiam'.

"Ini tidak seperti Marituga," Calabrass berkomentar. "Bahkan seperti bukan di tempat mana pun di Segitiga Bermuda yang aku tahu."

Zak terdiam, merasakan sesuatu yang sangat familier.

"Ini … mirip seperti … dunia asalku," katanya tak yakin, sambil mulai melihat ke sekitar. "Tapi … seperti tidak ada kehidupan di sini—"

Ucapan Zak terputus. Hanya tiga langkah di hadapannya, tiba-tiba muncul pusaran energi putih. Samar-samar, Zak ingat pusaran misterius itulah yang telah menyedot dirinya dan Calabrass ke tempat aneh ini. Pemuda itu langsung pasang kuda-kuda, sementara dari dalam pusaran keluarlah sesuatu.

"Robot?" kaget Zak.

Berbentuk kotak, seukuran kotak pos, dan berwarna hijau. Ada bulatan bercahaya merah di bagian tepi atas, mungkin berfungsi seperti mata. Benda itu juga memiliki antena hijau yang menyala merah di ujungnya. Plus tiga logam panjang di bawah yang mungkin adalah kakinya.

Total ada tujuh robot yang muncul, dan semuanya langsung terbang mengelilingi Zak.

"Kita terkepung!" seru Calabrass.

Robot yang ada tepat di depan Zak mendadak menembakkan laser dari matanya. Beruntung dia masih cukup cepat untuk menghindar. Tanpa buang waktu, dibalasnya serangan itu dengan satu ayunan pedang. Robot itu langsung hancur. Zak pun segera menghabisi keenam sisanya.

"Lebih mudah dari yang kupikirkan," komentar Zak.

"Jangan takabur, Nak," Calabrass mengingatkan. "Firasatku mengatakan, ini baru permulaannya."

Tepat seperti ucapan Calabrass, satu pusaran putih kembali terbuka. Zak menunggu dengan posisi siap tempur. Tapi sampai beberapa detik, tidak ada apa pun yang keluar.

"Tidak ada apa-apa?" Zak berpikir sebentar. "Jangan-jangan, aku yang disuruh masuk?"

"Hanya dipikirkan saja tidak akan ada gunanya," kata Calabrass.

Dengan itu, Zak memutuskan untuk masuk ke dalam pusaran. Agak tidak nyaman rasanya. Tapi, dalam waktu singkat, ia sudah terbawa ke tempat yang berbeda. Kali ini seperti taman kecil dengan pepohonan. Ada beberapa permainan anak juga yang bisa dilihatnya, seperti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, sampai kerangka besi berbentuk segiempat yang bisa dipanjat.

"Tempatnya berubah," kata Zak. "Ini mirip seperti … video game."

"Video apa?"

"Maksudku … setelah mengalahkan musuh tertentu, kita akan berpindah tempat, lalu menghadapi musuh yang lebih kuat sampai—"

Lagi-lagi perkataan Zak terputus. Lagipula, Calabrass juga tidak mengerti apa yang diocehkan anak itu. Tidak penting, karena musuh baru benar-benar muncul seperti yang dikatakan Zak.

Kali ini, hanya satu robot ungu bermata merah yang muncul. Ukurannya lebih besar daripada robot hijau sebelumnya, tapi tidak terlalu besar atau kelihatan mengancam. Bentuknya seperti piring, dengan antena, dan sesuatu di depan badannya seperti sepasang tangan, tetapi berbentuk runcing.

"Hanya satu?" Zak mendengus samar.

Mungkin Zak harus menjaga ucapannya. Tepat setelah dia berkata begitu, mendadak si robot ungu berubah wujud. Menjadi lebih besar, dengan sepasang kaki dan tangan, serta persenjataan canggih. Paling tidak, terlihat jelas beberapa roket di punggung, dan lubang meriam di kedua ujung tangan. Zak sangat curiga, robot itu juga bisa menembakkan laser.

"Bukankah sudah kubilang untuk jangan takabur?" kata Calabrass.

"Kenapa, Cal?" Zak kembali memasang sikap siap tempur. "Kau takut?"

"Hah! Tidak ada kata 'takut' di dalam kamus bajak laut!"

.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

.

BoBoiBoy Petir melenyapkan kedua pedangnya, diam di tempat sambil mengatur napas. Portal lain sudah terbuka lagi di hadapannya, tapi kali ini dia ingin berhenti sejenak. Alih-alih langsung masuk ke dalam portal, ia justru kembali ke wujud semula.

"Tidak ada habisnya …," kata BoBoiBoy, masih menatap portal dengan waspada.

Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, sampai dirinya tidak perlu bernapas tersengal lagi. Jujur, ini melelahkan. Diputuskannya untuk duduk sejenak, beristirahat. Sudah beberapa jenis musuh yang berbeda telah dia hadapi, di tempat yang berbeda-beda pula. Bahkan ubur-ubur raksasa di lautan, juga tengkorak hidup berwarna emas, bermantel, dengan topi bajak laut dan tangan kanan dari kait. Yang terakhir itu cukup sulit dikalahkan.

Setelah beberapa menit, BoBoiBoy bangkit kembali. Ia meregangkan tubuh sejenak, baru kemudian menetapkan hati untuk memasuki portal. Entah mengapa, dadanya berdebar. Seolah dirinya mendapatkan firasat, bahwa kali ini akan ada sesuatu yang berbeda.

"Mungkin … ini yang terakhir."

.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

.

"Sudah lelah, Nak?"

Calabrass tidak bisa menahan diri untuk berkomentar, ketika Zak tidak lekas masuk ke dalam pusaran cahaya berikutnya. Musuh terakhir yang mereka hadapi cukup berat. Badut kekar berbadan besar yang memiliki bermacam-macam kemampuan. Bayangkan saja, di dalam tenda sirkus itu, mereka harus menghadapi balon-balon ciptaan si badut yang bisa meledak, lontaran semen yang begitu cepat mengeras, sampai kekuatan api yang begitu dahsyat. Belum lagi ukuran tubuh dan kekuatan fisik si badut sendiri yang—jelas—jauh melebihi Zak.

Sebenarnya, sangat wajar jika Zak perlu waktu sejenak untuk sekedar menarik napas.

"Lumayan, Cal," kata Zak, masih sambil menenangkan pernapasannya. "Tapi aku siap untuk petulangan selanjutnya. Setelah sedikit istirahat, mungkin?"

Zak memutuskan untuk duduk sebentar. Hanya beberapa menit, ia merasa cukup untuk kembali beraksi. Pemuda itu pun kembali bangkit, memutuskan untuk segera memasuki pusaran cahaya.

"Firasatku mengatakan, setelah ini kita bisa pulang," kata zak tepat sebelum membenamkan tubuhnya ke dalam pusaran cahaya.

Dalam beberapa detik, ia sampai ke sebuah tempat yang familier.

"Ini … Marituga, 'kan?" tanyanya, bingung. "Kecuali, seingatku di Marituga masih malam hari. Dan ada purnama merah di langit."

Jangankan purnama merah, bulan pun tidak terlihat di tempat itu. Mana mungkin ada bulan? Karena di situ masih terang benderang oleh cahaya matahari. Menilik sinarnya yang masih hangat dari ufuk timur, jelaslah bahwa ini masih pagi.

"Kurasa, ini bukan Marituga yang kita tahu," komentar Zak. "Sejak kapan ada pantai berpasir putih di Marituga?"

Itulah bagian anehnya, bagian lain pelabuhan yang biasa mereka kunjungi, tiba-tiba terhubung dengan pantai yang tampak sangat asing. Dan, lagi-lagi tak ada satu orang pun di sini. Sedangkan yang Zak tahu, pelabuhan Marituga selalu ramai.

Baik Zak maupun Calabrass tak sempat berpikir lebih jauh. Hanya beberapa langkah di hadapan mereka, pusaran cahaya putih kembali terbuka. Yang muncul kali ini adalah sesuatu yang tampak seperti manusia biasa. Remaja pria seusia Zak yang mengenakan pakaian didominasi warna hitam dan jingga. Bermata dan berambut cokelat, serta mengenakan topi dinosaurus jingga berlogo petir membentuk huruf B dengan lidah topi menghadap ke belakang.

Sama sekali tidak tampak berbahaya.

"Apa?" Zak tidak bisa tidak merasa kaget. "Hanya anak-anak?"

"Kau sendiri juga masih anak-anak, Kapten," Calabrass berkomentar, sedikit geli.

Zak tertawa kecil, lantas pasang posisi siaga tempur.

"Penampilan memang bisa menipu," katanya. "Hati-hati Calabrass!"

"Harusnya aku yang bilang begitu!"

.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

.

BoBoiBoy terpana ketika mengira dirinya sudah kembali ke Pulau Rintis. Di pantainya yang berpasir putih. Tapi dia segera sadar bahwa ini bukanlah pantai Pulau Rintis yang dikenalnya. Terlebih karena di tempat itu masih—atau sudah—siang, dan tidak ada keramaian masyarakat yang sedang heboh menyaksikan Super Blue Blood Moon. Yang ada hanya matahari pagi yang bersinar hangat. Tempat itu kosong seperti tempat-tempat aneh yang sudah-sudah.

Dan yang lebih aneh lagi, BoBoiBoy muncul di sebuah tempat yang mirip pelabuhan. Seharusnya di bagian pantai ini tidak ada pelabuhan.

BoBoiBoy segera menyadari bahwa dia tidak sendirian. Memang, tidak ada portal lagi yang muncul. Tapi tak jauh di hadapannya kini berdirilah remaja laki-laki seusianya. Penampilannya didominasi warna merah dan hitam, dengan head-cam terpasang di atas mata kiri. BoBoiBoy segera tahu pemuda berambut cokelat dan bermata biru itu bukanlah pemuda biasa. Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang dengan pelindung kayu berbentuk bundar di bagian gagang, dengan hiasan tengkorak manusia tepat di tengah-tengahnya.

Pemuda berbaju merah itu langsung pasang kuda-kuda siap tempur, membuat BoBoiBoy melakukan hal yang sama. Yang jelas, ia tahu, siapa pun lawannya, sama sekali tidak boleh diremehkan.

.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

.

"Kuasa Elemental! BoBoiBoy Petir!"

Melihat lawannya memegang pedang, hal pertama yang dipikirkan oleh BoBoiBoy ialah bahwa dirinya memerlukan pedang juga.

"Pedang Petir!"

Dengan sepasang pedang kuning berkilat-kilat tergenggam di tangan, BoBoiBoy Petir berlari maju, masih belum menggunakan kecepatan geraknya yang istimewa. Ia memutuskan untuk mengukur kemampuan lawan terlebih dahulu. Apalagi, lawan kali ini seperti menunggu dirinya maju.

Di sisi lain, Zak bersama Calabrass sudah siap menahan tebasan pedang lawan. Bukan hal yang sulit, kecuali energi listrik yang membuat Zak harus merasakan sengatan menyakitkan, mengalir melalui kedua bilah pedang.

"Sial!" Zak merutuk.

Sambil menahan serangan listrik, Zak mendorong pedangnya kuat-kuat ke depan. Lantas melepaskan tendangan ke arah perut yang membuat lawannya terdorong mundur beberapa langkah. Zak sendiri melompat mundur, membuat jarak.

"Calabrass! Beri aku kekuatan mata Dezer!"

Zak menempatkan pedangnya tegak di depan tubuh. Pelindung kayu di gagang pedang, dengan tujuh permata di sekelilingnya itu berputar, hingga permata yang terhenti di ujung teratas adalah permata berwarna kuning. Mata tengkorak Calabrass yang tadinya hijau pun berubah kuning, begitu pula warna merah pakaian Zak berubah kuning. Head-cam milik Zak kini menutupi mata kirinya, dan menjadi bertema batu. Senada dengan zirah batu yang kini meliputi tangan kirinya.

Sementara itu, BoBoiBoy yang kaget memutuskan untuk kembali maju menyerang secepat mungkin. Namun, pada akhirnya tebasan Pedang Petir tertahan oleh sesuatu. Tepatnya oleh semacam perisai batu yang tiba-tiba saja sudah ada di tangan kanan lawan. Kali ini, kekuatan listrik tak mampu mencapai target, teredam oleh elemen yang menjadi tandingannya. Tanah.

Zak tertawa pendek.

"Majulah!" katanya. "Aku Zak Storm, kapten bajak laut terhebat sepanjang masa, akan menghancurkanmu!"

BoBoiBoy tersentak samar. Tapi kemudian tersenyum tipis dengan pembawaan sinisnya.

"Huh! Bajak laut, ya?" katanya, sedikit terbawa suasana. "Kebetulan, aku sudah dua kali mengalahkan yang namanya perompak."

Zak mendorong perisainya yang terbentuk dari Calabrass, membuat BoBoiBoy sekali lagi terdorong mundur. Kemudian, dalam sekejap mata perisai itu berubah wujud lagi menjadi semacam palu besar dari bebatuan.

"Oh ya?" Zak membalas kata-kata BoBoiBoy. "Coba saja kalahkan aku. Kalau kau bisa!"

BoBoiBoy Petir tertawa pelan, pendek saja. Dia berpikir pertarungan kali ini akan jauh lebih menarik daripada sebelumnya.

"Mari, sini kau!"

.

.

.

Bersambung ...

.


.

* Author's Note *

.

Halo ~! \(^o^)

Akhirnya BoBoiBoy dan Zak ketemu juga. Yay~!

Gimana, gimana? Kaget enggak dengan perkembangan ceritanya? :"D

Omong-omong, sebenernya aku pengin masukin Caramba juga ke cerita bareng Cece nyariin Zak. Sosoknya (plus suit) sangat mengingatkan sama Ochobot, dan sosok aslinya sangat mengingatkan sama Adu Du. Alien hijau kecil berantena, cuma dia nggak berkepala kotak dan antenanya cuma satu. Tapi aku khawatir kebanyakan karakter, apalagi dari seri Zak Storm udah ada empat karakter yang masuk. Sementara dari BoBoiBoy cuma tiga. Selain itu, karena udah ada Sassafras yang membimbing pihak Zak, Caramba nggak akan berperan banyak di dalam cerita. Soalnya ini memang kayak lebih ke 'sihir' (?) daripada teknologi.

Makanya, dia nggak jadi kumasukkan.

Ya sudahlah. Moga-moga pembaca sekalian bisa menikmati bagian dua yang tembus 4K kata ini. Wahahahaha … tahu-tahu udah panjang aja, padahal niatnya cuma 3000-an kata.

Sampai jumpa di bagian tiga, bagian terakhir. :")

.

Regards,

kurohimeNoir

24.02.2018