Bagian 3

Kapten Bajak Laut dan Superhero Elemental

.

.

BoBoiBoy Petir berhenti sejenak dengan tatapan tajam khasnya terarah lurus kepada lawan. Napasnya sedikit berat.

Dua detik digeretakkannya rahang, teringat bagaimana salah satu pedangnya baru saja berubah menjadi batu, hanya dengan satu sentuhan kecil senjata lawan. Tepatnya, semacam tongkat pemukul yang terbuat dari batu. Kalau saja tadi dia tidak cepat-cepat membuang pedang, mungkin tangan kanannya yang menggenggam pedang pun akan ikut berubah jadi batu.

Ya, musuhnya kali ini sangat kuat. Bukan cuma mampu menggunakan elemen tanah yang merupakan kelemahan elemen petir. Bocah bajak laut itu juga bisa mengubah senjatanya menjadi tiga bentuk berbeda—perisai, palu, dan tongkat—dengan cepat dan tepat guna. Dia sendiri juga cepat, tangkas, dan cerdik.

Baru kali ini Petir benar-benar dibuat kewalahan. Bahkan Gerakan Kilat miliknya tak banyak membantu dalam pertarungan kali ini. Kalau harus bicara jujur, dia sudah terdesak.

Petir tidak suka kalah. Sekarang pun, dia sama sekali tidak mau kalah.

Tidak boleh kalah!

Dengan sebilah pedang yang masih tergenggam di tangan kiri, Petir membiarkan energinya mulai mengalir liar. Warna kuning terang itu mulai berubah, tergantikan oleh kilatan merah, lantas kembali lagi ke warna kuning. Begitu seterusnya hanya dalam jeda tak sampai sedetik.

Harus lebih cepat!

Lebih kuat!

Hanya itu yang ada di dalam pikirannya sekarang.

.

.


oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo

Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Animasi "Zak Storm" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Zagtoon/Method Animation/De Agostini Editore/SAMG Animation/MNC Animation/Man of Action©

Fanfiction "Purnama Merah" ditulis oleh kurohimeNoir, untuk event #CrossTwins. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

BoBoiBoy & Zak Storm crossover. AU rasa canon. Adventure-Friendship-Action.

oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo


.

.

"Jangan, BoBoiBoy!"

"Berhenti sebelum terlambat!"

"Jangan gunakan kuasa tahap kedua lagi, kalau tidak Jam Kuasa kamu akan rusak seperti dulu!"

"Kamu harus menguasai semua kuasa tahap pertama dulu, baru boleh menggunakan tahap kedua!"

.

.

.

"Hah?!"

BoBoiBoy tersentak. Amukan energi petirnya terhenti seketika. Barusan saja, kata-kata Ochobot yang penuh kecemasan mendadak memenuhi benaknya.

Benar ... Ochobot sudah beberapa kali memperingatkannya. Bagaimana bisa dia mengabaikannya seperti ini? Hanya karena tak bisa mengontrol emosi di tengah pertarungan. Hampir saja dirinya melakukan kesalahan fatal.

Pemuda itu menarik napas panjang, mencoba berpikir jernih. Pasti ada cara lain. Pasti masih ada yang bisa dilakukannya untuk memenangi pertarungan ini, tanpa harus memaksakan diri dan malah membuat kacau.

Membuat kawan-kawannya cemas.

"BoBoiBoy Daun!"

Akhirnya kuasa itulah yang dipilihnya. Dari sosok serba kuning, wujudnya berubah menjadi berpakaian hijau. Begitu pula topinya yang kini menghadap ke kiri belakang. Tatapan tajam Petir pun berganti dengan tatapan polos dan kekanakan.

Di sisi lain, Zak yang sudah merasa di atas angin, tersentak ketika lawannya tiba-tiba berubah penampilan.

"Apa itu?" tanyanya spontan.

"Bukankah mirip denganmu?" Calabrass menyahut. "Jangan-jangan ..."

Sementara itu, BoBoiBoy Daun telah siap beraksi.

"Akar menjalar!"

Daun menggunakan kekuatannya untuk menumbuhkan akar-akar hijau dari tanah yang dipijak Zak. Dengan cepat, akar dan sulur sudah menjerat seluruh tubuh Zak hingga tak bisa bergerak.

"Ternyata dia benar-benar menggunakan kekuatan elemen yang berbeda!" Zak berkata sambil berusaha melepaskan diri.

Percuma, jeratan akar tanaman Daun itu terlalu kuat. Padahal tampak rapuh.

"Ini mengejutkan," Calabrass ikut berkomentar. "Bahkan Mata Tujuh Samudra tidak memiliki kekuatan seperti ini."

Zak mendengus samar. "Tapi kita punya kekuatan untuk mengalahkannya. Calabrass! Beri aku kekuatan Mata Blazz!"

Tujuh permata di sekeliling tengkorak Calabrass kembali berputar. Permata jingga berhenti di ujung teratas, diikuti mata Calabrass yang ikut berganti nyala jingga.

Penampilan Zak pun berubah. Warna kuning pakaiannya kembali menjadi merah, senada dengan head-cam serta zirah di lengan kiri. Calabrass kembali menjadi berbentuk pedang, kali ini diliputi bara api.

Dalam sekejap, api dari pedang itu membesar, lantas membakar habis akar menjalar. Zak tidak berhenti sampai di situ saja. Ia pun langsung mengarahkan Calabrass ke depan dalam satu sentakan. Api bergulung darinya, terlepas, lantas memelesat ke arah lawan.

BoBoiBoy Daun tersentak kaget, refleks memunculkan semacam perisai berbentuk anyaman daun di depan tubuhnya. Tentu saja, perisai itu tak mampu menahan serangan api. Langsung habis terbakar.

"Alamak ...," Daun berkata spontan.

Sebenarnya Zak sudah berniat meneruskan serangan. Tapi melihat lawan hanya berdiri diam seperti kebingungan, dia jadi tergelitik.

"Hei!" serunya. "Kalau mau menyerah, menyerah sajalah!"

Daun yang diteriaki, balas menatap Zak dengan kedua matanya yang bening.

"Mmm ... Kalau harus menyerah, nanti aku yang susah," kata Daun. "Bisa nggak ya, kita diskusikan dulu gimana baiknya?"

Gantian Zak yang terdiam dengan muka datar.

"Apa-apaan bocah itu?" komentar Calabrass, hanya cukup didengar oleh Zak. "Kenapa beda sekali dengan bocah listrik yang tadi?"

"Benar juga," sahut Zak. "Seperti orang lain saja."

Sementara itu, Daun masih diam menunggu. Sedikit memiringkan kepala, dipandanginya Zak dan Calabrass dengan tatapan lurus.

"Kalian lagi ngobrol apa?" tanya Daun dengan polosnya.

"Heh! Bukan urusanmu!" sentak Zak. "Oke. Satu-satunya yang kubutuhkan sekarang adalah kekalahanmu! Bagaimana dengan itu, hah?"

"Mmm ... Maaf, tapi ... aku juga nggak bisa mengalah ..."

"Ya sudah. Kalau begitu, aku yang akan mengalahkanmu!"

Zak berlari maju. Ketika Daun masih kaget, ia ambil ancang-ancang dan langsung melompat. Lantas mendarat sambil mengentakkan pedangnya ke tanah.

Kobaran api menyebar dengan cepat dalam satu gelombang panas. Daun sampai terhempas mundur, tapi selamat tanpa harus terkena luka bakar.

Zak mendengus samar ketika melihat Daun bangkit kembali dari posisinya yang sempat jatuh terduduk. "Beruntung sekali."

Sementara itu, Daun baru sadar bahwa di dekatnya ada tong kayu yang terbakar. Ia tersentak kecil, lalu memandang Zak.

"Kata Tok Aba, main api itu bahaya," katanya.

Setelah berpikir sebentar, Daun tampaknya mendapatkan sebuah ide. Sementara, Zak yang menyaksikan tingkah tak terduga musuhnya, malah jadi bingung sendiri.

"Aku tahu!" Daun berseru. "Biar kubantu padamkan apinya."

BoBoiBoy Daun mempersiapkan Jam Kuasa miliknya. Pada permukaan jam itu kini terpampang logo berbentuk seperti ombak.

"BoBoiBoy Air!"

Kali ini penampilan BoBoiBoy berganti menjadi serba biru muda. Termasuk topi berlambang elemen air yang dipakai dengan lidah ditekan dalam-dalam ke depan hingga menutupi mata. Dengan tenang, BoBoiBoy Air menggunakan kekuatan airnya untuk memadamkan tong kayu yang terbakar.

"Dia berubah lagi," Calabrass kembali berkomentar dari jauh. "Kali ini elemen air?"

"Tapi ... apa yang dia lakukan?"

Zak bertanya begitu, karena lawan terlihat tidak mempedulikannya. Alih-alih, bocah berbaju biru lengan panjang itu malah berjongkok di tepi jalan setapak dermaga yang terbuat dari kayu. Ia tampak memandangi sesuatu di bawah, tepatnya di air.

Dari tempat Zak berdiri memang tidak bisa terlihat apa-apa. Karena itulah, dia tidak tahu bahwa Air sedang mengagumi sepasang ikan yang sedang berenang-renang sangat dekat ke permukaan. Kedua ikan kecil itu memiliki corak tubuh yang begitu indah. Satu bergaris-garis vertikal dalam warna putih dan jingga. Satu lagi dalam warna nila dan kuning terang.

"Cantiknyaaa," kata Air setengah bergumam. Senyum tak lepas-lepas menghiasi bibirnya.

Di sisi lain, Zak jadi tak sabar menghadapi kelakuan lawannya. "Hei! Kau meremehkan aku?!"

Zak kembali melepaskan api yang bergulung dari pedangnya ke arah lawan. Sangat cepat.

"Hmm?"

BoBoiBoy Air masih tenang-tenang saja. Dia menoleh dan melihat api memelesat ke arahnya. Lantas menghindar dengan gerakan yang sangat lembut dan elegan.

"Kenapa marah-marah begitu?" katanya sambil bangkit berdiri. "Kan sudah kubilang, main api itu bahaya."

Zak mengerutkan kening. Sosok lawan di hadapannya kini tidak lagi sepolos sebelumnya. Dia tampak sangat tenang. Tapi di balik ketenangan itu, Zak seolah bisa merasakan sesuatu yang mengancam. Walaupun dia tak yakin seperti apa tepatnya 'ancaman' itu.

Karena itulah, Zak memutuskan untuk menunggu. Tidak ingin bertindak gegabah. Sementara, lawan sudah memunculkan air di sekelilingnya. Sebagian dari air itu bahkan dinaikinya. Seperti ombak, tetapi diam.

"Aliran Air."

Kali ini, BoBoiBoy Air yang berinisiatif menyerang. Digerakkannya air seperti aliran sungai mini, mengejar Zak yang menghindar ke sana kemari. Air pun memutuskan untuk mengubah serangan.

"Tamparan Ombak Gergasi!"

Air mengayunkan tangan ke depan dalam satu sentakan nyaris kasar, tidak lembut seperti sebelumnya. Satu aliran air meninggi dan membesar, menjelma menjadi ombak besar yang menghempas tepat ke arah Zak!

Sang kapten muda tersentak. Berusaha menghindar secepat mungkin, tetapi tetap terlambat. Ombak menggulungnya hingga terhempas keras ke belakang. Baru terhenti ketika punggungnya beradu dengan salah satu tiang kayu dermaga, tempat menambatkan kapal kecil atau perahu nelayan.

"Kh ...!" Zak meringis pelan, sebelum dirinya kembali ke wujud semula.

Lagipula, pedang api Calabrass juga sudah terpadamkan oleh serangan air lawan. Meski begitu, dia cepat-cepat bangkit. Saat ini, Zak sungguh penasaran pada musuh di hadapannya ini. Jelas sekali, dia sangat berbeda dengan makhluk-makhluk lain yang telah dikalahkannya sebelum ini.

Tapi sangat menarik untuk mencoba mengalahkannya.

"Calabrass! Beri aku kekuatan Mata Sino!"

BoBoiBoy Air yang masih berdiri waspada di kejauhan, sempat menaikkan sebelah alis. Tertarik menyaksikan lawan yang baru saja berubah penampilan lagi. Kali ini, nyala mata tengkorak di pedangnya berubah menjadi biru muda. Hampir sama dengan warna biru Air sendiri. Warna merah pakaiannya pun berubah biru muda. Head-cam serta zirah es di lengan pun melengkapi penampilan. Begitu pula pedang yang bilahnya berubah menjadi es.

Nyaris tanpa jeda, Zak melompat. Darinya mengalir hawa dingin yang menyebar hingga radius beberapa meter, sekaligus membekukan apa pun yang dilewatinya. Air di sekeliling BoBoiBoy Air pun ikut membeku dengan kecepatan luar biasa. Bahkan, tubuh Air sendiri ikut terkena dampak serangan kali ini, tanpa bisa menghindar lagi.

Zak menghela napas panjang. Menyaksikan dari jauh bagaimana musuhnya membeku di dalam es. Dia sudah sering melakukan ini kepada pasukan tengkorak, bahkan jenderal mereka, Golden Bones. Tapi jika 'korbannya' manusia, bagaimana pun Zak merasa tidak enak.

Rasanya seperti dia sudah berbuat jahat.

"Kenapa, Nak?" tegur Calabrass. "Bergembiralah, kau sudah menang."

"Oh, ya?" Zak memandang berkeliling. "Kalau begitu, kenapa tidak ada pusaran cahaya misterius lagi yang muncul?"

Zak terdiam sejenak, masih belum melepaskan kekuatan Mata Sino yang dipakainya.

"Atau ... dia memang masih belum kalah."

Tetap waspada, Zak mendekati musuhnya yang telah membeku itu dengan hati-hati. Dua langkah di hadapan BoBoiBoi Air, dia berhenti. Biasanya dia bisa dengan mudah menghancurkan lawan yang sudah beku seperti ini hingga berkeping-keping. Tapi kali berbeda.

Mana bisa dia menghancurkan seorang manusia yang terperangkap di dalam es!

Ketika Zak masih dilanda kebimbangan, tiba-tiba sosok BoBoiBoy Air kembali bergerak. Dan gerakan itu cukup kuat, hingga ia mampu membebaskan diri setelah membuat es yang membelenggunya pecah berkeping-keping.

Zak masih bersiaga penuh. Sementara, di depannya, BoBoiBoy Air langsung roboh hingga terduduk lemas. Napasnya tersengal, dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Bahkan sosoknya langsung berubah balik seperti semula.

BoBoiBoy berusaha menguatkan diri, tahu pertarungan belum berakhir. Namun, ketika ia mengangkat wajah, ujung pedang Zak langsung terarah lurus-lurus mengancam lehernya.

"Kau sudah kalah," Zak berkata. "Akuilah!"

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

"Penyihir Dimensi?"

Yaya mengerutkan kening ketika mendengar nama yang sangat asing itu terucap dari mulut kawan barunya. Ia dan Ochobot, bersama Cece, masih berjalan tak tentu arah mencari keberadaan BoBoiBoy dan Zak. Tentu saja, hanya berjalan tanpa ada percakapan akan sangat membosankan. Karena itulah, mereka saling bercerita tentang apa yang terjadi sebelum sampai di dunia serba putih ini.

Dan Cece baru saja berbagi informasi yang diperolehnya dari Sassafras. Tentang siapa yang mungkin bertanggung jawab atas menghilangnya kedua kawan mereka.

"Yah ... Menurut Sassafras, itu hanya julukan," kata Cece. "Dia adalah entitas misterius yang hidup di dimensi terasing."

"Berarti ... dia bukan manusia?" bertanya Ochobot.

Cece mengangkat bahu. "Tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, dia sangat ... aneh. Dan kekanak-kanakan."

"Hmm ... Berarti, dunia putih ini tempat tinggalnya?" sahut Yaya. "Cece ... menurutmu, kenapa Penyihir Dimensi menculik BoBoiBoy dan Zak?"

"Aku tidak tahu. Kalau menurut ramalan Sassafras, kurasa itu berhubungan dengan kekuatan tujuh elemen yang mereka miliki."

Mendengar jawaban Cece, kecemasan Yaya kembali terbit.

"Apa yang diinginkan Penyihir Dimensi itu dari mereka, ya?" katanya. "Perasaanku tidak enak."

"Kita harus secepatnya menemukan mereka," Ochobot ikut bicara.

"Dan membawa mereka pulang," sambung Cece.

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

"Siapa yang kalah?"

Satu kalimat singkat itu mengiringi BoBoiBoy yang perlahan bangkit kembali. Tekad kuat yang terpancar di matanya jelas belum padam.

"Aku belum kalah!" BoBoiBoy kembali mempersiapkan Jam Kuasa miliknya. "BoBoiBoy Api!"

Zak mundur selangkah. Dalam sekejap mata, musuh di hadapannya kembali berubah. Kini dia mengenakan celana pendek hitam dengan pakaian tanpa lengan berwarna merah, senada dengan topinya yang dipakai menghadap ke depan agak ke atas. Lantas dia berteriak, membiarkan gelombang api terlepas liar dari tubuhnya. Lagi-lagi Zak harus mundur, kali ini sampai tiga langkah.

"Ayo kita main!"

BoBoiBoy Api langsung melompat ke atas, memunculkan banyak sekali bola-bola api di sekelilingnya.

"Ambil ini!" serunya sambil menembakkan bola-bola api itu satu per satu ke arah Zak dengan kecepatan tinggi.

Zak berkelit, berguling, melompat ke sana kemari menghindari serangan beruntun lawan. Sulit mencari celah untuk menyerang balik. Yang jelas, tidak bisa dengan kekuatan elemen es dari Mata Sino yang masih aktif.

Karena es lemah terhadap api.

"Calabrass, apa energimu masih tersisa?" tanya Zak sambil terus menghindar. "Rasanya kita sudah terlalu banyak menggunakan kekuatan Mata."

"Kebetulan kau bertanya, Nak," sahut Calabrass. "Anehnya, energiku masih penuh. Seperti hampir tidak berkurang sejak kita sampai di tempat aneh serba putih itu."

"Kenapa bisa begitu?"

"Entahlah."

"Setidaknya, kita tak perlu khawatir akan kehabisan energi, Cal."

Zak melompat mundur beberapa kali. Sejauh ini, tak ada serangan BoBoiBoy Api yang bisa menyentuhnya. Hal itu membuat Api geram, semakin bernafsu untuk mengalahkan lawan secepatnya.

Tapi, Zak jelas takkan diam saja.

"Calabrass! Beri aku kekuatan Mata Beru!"

Kali ini, warna pakaian Zak berubah biru. Sama seperti nyala biru mata Calabrass. Head-cam miliknya berhias seperti tetes air, sedangkan lengah kirinya kini terlindung zirah air.

Dengan gesit, Zak mengelak dari satu lagi serangan bola api. Namun, kali ini dia langsung mengarahkan Calabrass, yang telah berubah wujud menjadi semacam perisai bundar dengan empat lubang di tepiannya, lurus ke depan.

Ketika bola api berikutnya datang, tembakan air dilepaskan dari keempat lubang tadi. Bola api langsung padam, membuat BoBoiBoy Api semakin geram. Semakin tak mau berhenti. Begitu seterusnya, sementara jumlah bola api di sekeliling Api semakin berkurang.

Melihat itu, Zak berganti strategi. Dengan cepat, perisai berubah menjadi senjata lain. Semacam pistol berbentuk mirip meriam mini. Langsung ditembakkannya ke arah lawan!

BoBoiBoy Api yang kaget tak sempat menghindar. Tahu-tahu seluruh tubuhnya sudah berada di dalam semacam bola air raksasa, begitu pula beberapa bola api yang masih tersisa di sekitarnya. Bola-bola api itu langsung padam. Sedangkan Api yang masih melayang di udara, langsung terhempas kembali ke tanah.

Bola air yang mengurung Api langsung pecah. Api sendiri setengah tertelungkup di lantai kayu dermaga, lantas kembali ke wujudnya semula. Ia sedikit terbatuk-batuk karena air yang tak sengaja tertelan.

Meskipun begitu, BoBoiBoy segera bangkit kembali. Di kejauhan, Zak baru saja mengubah kembali pistolnya menjadi perisai berlubang empat. Mungkin karena benda itu bisa menembak berturut-turut dengan lebih cepat.

Gantian BoBoiBoy yang terpaksa harus menghindar ke sana kemari. Tapi itu tidak lama.

"BoBoiBoy Angin!"

Kali ini, sosok BoBoiBoy berubah menjadi bocah berbaju biru dengan senyum usil menghiasi wajahnya. Topi birunya dipakai miring ke kanan depan. Dia terbang mengendarai angin, dengan mudah menghindari semua serangan Zak. Kemudian, saat Zak lengah, BoBoiBoy Angin pun balas menyerang.

"Serangan Bebola Angin!"

Kali ini, Angin membuat banyak bola angin dan melemparkan semuanya sekaligus ke arah lawan.

"Calabrass! Beri aku kekuatan Mata Aeria!"

Zak mengambil keputusan cepat, penampilannya berubah dengan dominasi warna ungu. Calabrass berubah menjadi semacam perisai yang terbuat dari energi listrik. Mata Aeria mengandung kekuatan yang berasal dari Samudra Badai, karena itu serangan angin BoBoiBoy tak mempan terhadapnya.

Sebaliknya, Zak bisa langsung membalas dengan mengubah senjatanya menjadi kapak beraliran listrik, lalu melepaskan serangan petir kecil ke arah Angin yang masih melayang di udara.

Tepat sasaran. Dan lagi-lagi BoBoiBoy harus jatuh terhempas ke bumi. Untung saja, tadi dia tidak terbang terlalu tinggi. Kali ini pun, dia langsung bangkit kembali. Jujur, tubuhnya sudah sakit dan—lebih dari itu—lelah. Tapi dia tahu, dirinya masih harus bertarung.

"BoBoiBoy Tanah!"

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

"Bagaimana kalau ... si Penyihir Dimensi itu sebenarnya cuma ingin bermain-main saja?"

Pertanyaan mendadak dari Ochobot itu membuat kening kedua gadis di sampingnya berkerut.

"Maksudmu?" Yaya balik bertanya.

"Nggak ... Hanya saja, tiba-tiba aku ingat BoBoiBoy Api," sahut Ochobot. "Dulu dia membuat kacau, padahal sama sekali nggak bermaksud jahat, 'kan?"

"Karena dia kekanak-kanakan dan hanya ingin bermain, makanya jadi begitu," sambung Yaya sambil tertawa kecil.

Cece terdiam mendengar pembicaraan itu. Sambil terus berjalan, dia tampak memikirkan sesuatu dengan serius.

"Kenapa, Cece?" tanya Yaya.

"Aku cuma berpikir ... kalau sifat Penyihir Dimensi seperti anak-anak yang kesepian atau sedang bosan ... kira-kira apa yang akan dilakukannya dengan BoBoiBoy dan Zak yang punya kekuatan tujuh elemen?"

"Diajak main, mungkin?" tebak Ochobot.

"Atau," tiba-tiba Cece bergidik samar, "mereka berdua akan dijadikan 'mainan' olehnya."

Yaya tersentak. Entah mengapa terbayang adik lelakinya sendiri saat masih kecil. Anak itu punya beberapa mainan robot kecil, dan dia suka mengadu dua mainan seolah-olah keduanya sedang bertempur.

"Cece," kata Yaya. "Kamu jangan menakut-nakuti seperti it—"

"Ah!"

Ucapan Yaya terpotong oleh Ochobot yang tiba-tiba berseru kaget. Robot kuning mungil itu bahkan berhenti bergerak.

"Eh? Kenapa, Ochobot?" tanya Yaya.

"Barusan, aku seperti mendeteksi Jam Kuasa BoBoiBoy," Ochobot menyahut, terdengar tak yakin.

"Yang benar?!" Mata Yaya langsung dipenuhi binar harapan.

"Entah. Tapi sepertinya nggak jauh dari sini ..."

"Eh? Tapi nggak ada apa-apa di sekitar sini." Yaya memandang berkeliling dengan bingung.

"Atau di mana pun di dunia putih ini," sambung Cece.

Kalau boleh jujur, dia mulai bosan dengan warna putih ke mana pun mata memandang.

"Mungkin ada semacam medan energi yang menghalangi pandangan kita," kata Ochobot. "Dia disebut Penyihir Dimensi. Nggak heran kalau nama itu dimiliki oleh seseorang yang bisa membuat dimensi-dimensi terpisah satu sama lain."

"Seperti ruangan-ruangan yang mungkin ada di dunia putih ini, tapi kita nggak bisa melihatnya?" Yaya membuat pengandaian.

"Betul."

Ochobot mulai memindai area di sekitarnya. Sementara, Yaya menunggu dengan harap-harap cemas. Tempat itu sangat luas, bahkan seperti tanpa batas. Tampaknya ini akan makan waktu lama.

"BoBoiBoy," bisik gadis berhijab itu, "kuharap kau baik-baik saja."

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

"Tanah Pelindung!"

BoBoiBoy Tanah memukulkan tangan kanan ke permukaan dermaga yang dipijaknya. Sekonyong-konyong, dinding batu terbentuk di hadapan. Menjadi penghalang bagi serangan listrik yang baru saja dilepaskan dari Calabrass. Tak mau memberi celah kepada lawan, Tanah kembali menghantamkan kepalannya ke bawah. Kali ini dengan niat menyerang.

"Tumbukan Tanah!"

Bebatuan bagai bertumbuh dari lantai dermaga, sangat cepat mengarah kepada Zak. Pemuda itu bahkan nyaris terlambat menghindar. Hampir saja, bagian tajam salah satu batuan menghantam tubuhnya.

Untung bagi Zak, lawannya yang kini berpenampilan serba cokelat tanah, lebih lambat dalam hal pergerakan. Dia bahkan bisa dengan mudah menemukan celah untuk balas menyerang. Serangan listrik berikutnya dia lepaskan dari Calabrass. Namun, walaupun lambat, pemuda bertopi dino cokelat terbalik itu ternyata cukup tangkas. Kembali, serangan Zak dimentahkan oleh perisai dari bebatuan.

"Listrik tidak bisa mengalahkan elemen tanah, Bocah Kapten!" komentar Calabrass.

"Aku tahu!" Zak menyahut. "Kalau begitu ... Calabrass! Beri aku kekuatan Mata Vapir!"

Abu-abu mendominasi penampilan Zak dengan kekuatan asap dari Samudra Angin, Vapir. Kapak elektrik berubah menjadi pedang yang terselubungi asap.

Zak tersenyum miring. Saat BoBoiBoy Tanah kembali menyerang dengan Tumbukan Tanah, Zak berkelit gesit ke samping. Lantas berlari ke arah Tanah dengan sikap seolah siap mengayunkan pedang.

Walaupun kaget, Tanah segera membuat pelindung dari elemen tanah. Betapa kagetnya dia saat Zak ternyata bisa menembus bebatuan padat itu begitu saja. Seperti hantu!

"Rasakan!"

Zak mengayunkan tinju dari tangan kirinya yang diliputi zirah metalik bercakar. Tanah masih sempat menahannya dengan Tanah Pelindung, tapi lagi-lagi Zak bergerak menembusnya. Kemudian, nyaris tanpa jeda, sang kapten muda melepaskan tendangan yang telak mengenai perut lawan.

Tanah terdorong mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya. Kekuatan baru lawan itu cukup tak terduga dan merepotkan. Sedangkan dia tak yakin sampai mana dirinya mampu bertahan. Pertarungan ini sudah cukup panjang.

Melelahkan.

"Ini sudah cukup!"

Setelah berseru begitu, Tanah kembali ke wujud semula. Lantas disiapkannya Jam Kuasa, kali ini menampilkan lambang tiga elemen sekaligus di dalam lingkaran emas. Kombinasi tiga kekuatan yang dirasanya paling seimbang.

"Kuasa Elemental! BoBoiBoy Kuasa Tiga!"

Tak ada yang lebih terkejut daripada Zak, ketika menyaksikan lawannya berpecah menjadi tiga sosok sekaligus yang berbaju kuning, biru, dan cokelat. Baiklah, Calabrass juga tak kalah kagetnya. Satu orang berpecah menjadi tiga orang dengan sifat dan kekuatan yang berbeda-beda, masih lebih aneh daripada pedang yang bisa berbicara.

"Ayo, kita selesaikan!" Tanah memberi komando di tengah.

"Hm!" Petir di sebelah kanan, langsung memanggil sepasang pedang listrik dan pasang kuda-kuda siap tempur.

"Oke!" Di sebelah kiri, Angin pun bersiaga, masih sempat-sempatnya tertawa kecil.

Di sisi lain, Zak menggeretakkan rahang, merasa posisinya sekarang sangat terancam. Dia sudah berhadapan dengan masing-masing sosok lawannya itu, juga sudah merasakan sendiri kehebatan mereka. Dan dia sama sekali tak yakin bisa menghadapi ketiganya sekaligus. Apalagi mengalahkan mereka.

"Cal?" Zak memanggil ragu. "Apa ini saatnya menggunakan semua kekuatan Mata Tujuh Samudra seperti waktu itu?"

"Jangan bercanda, Nak!" Calabrass menolak mentah-mentah. "Terakhir kali kau melakukan itu, ketujuh Mata kehilangan kekuatannya. Dan aku berubah jadi pedang rongsokan tak berguna."

Zak mengakui itu benar. Meskipun menggunakan tujuh elemen sekaligus mampu menghasilkan serangan maha dahsyat, tetapi konsekuensinya terlalu berat. Bahkan, dulu Zak merasa dirinya sangat beruntung masih bisa mengembalikan Calabrass seperti semula.

Kehilangan Calabrass untuk selamanya, itu bukan hal yang tak mungkin terjadi.

"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" Zak bertanya, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

Pemuda itu mempersiapkan pedangnya dengan sikap siaga penuh. Dilihatnya Petir dan Angin sudah berlari maju ke arahnya, sementara Tanah masih bersiaga di belakang.

"Kalau tidak bisa mengalahkan dia," kata Zak lagi, "kita akan terjebak selamanya di sini."

"Baiklah!" sahut Calabrass. "Kalau kau berani bertaruh, aku akan ikut denganmu!"

Zak mendengus samar, sementara lawan sudah semakin dekat. Ia pun membatalkan kekuatan Mata Vapir yang masih dipakainya. Lantas bersiap untuk melepaskan tujuh kekuatan Mata yang ada pada Calabrass.

Benar. Dia harus menang.

Apa pun resikonya!

"BERHENTI!"

.

Oo)=-=-=-=o=-=-=-=(oO

.

Ochobot benar.

Tak jauh dari posisinya bersama Yaya dan Cece, akhirnya robot mungil berteknologi mutakhir itu menemukan 'ruang dimensi' tempat terdeteksinya sinyal Jam Kuasa BoBoiBoy. Tidak terlalu sulit bagi Ochobot untuk menerobos masuk menggunakan kuasanya yang mampu menciptakan portal ke tempat mana pun yang diinginkannya.

Dan disinilah mereka bertiga sekarang. 'Ruangan' di dalam dimensi terpisah itu sama sekali tak seperti yang mereka bayangkan. Bukan lagi dunia serba putih. Cece melihat sebagian tempat itu seperti pelabuhan Marituga. Sebagaimana Yaya dan Ochobot mengenali sebagian lainnya sebagai pantai Pulau Rintis yang berpasir putih.

Namun, yang membuat mereka kaget adalah sosok kawan-kawan mereka yang sedang bertarung. Yaya serta Ochobot antara cemas dan lega melihat sosok BoBoiBoy Petir, Angin, dan Tanah yang sedang maju menyerang seseorang.

Cece mungkin lebih cemas lagi, karena melihat Zak seperti sedang bersiap melakukan sesuatu yang berbahaya dengan Calabrass. Sesuatu yang bukan sekedar menggunakan kekuatan salah satu Mata. Dan rasanya Cece bisa menebak apa yang ada di pikiran kaptennya itu.

"BERHENTI!" Cece, Yaya, dan Ochobot berseru bersamaan.

Sayang, BoBoiBoy dan Zak tampaknya tidak mendengar seruan itu. Keduanya terlalu fokus kepada lawan masing-masing.

"Apungan Gravity!" tiba-tiba Yaya berseru.

Tempat munculnya gadis berjilbab itu—bersama Ochobot dan Cece—cukup dekat untuk bisa memengaruhi BoBoiBoy maupun Zak dalam lingkup kekuatannya. Alhasil, dengan kekuatan manipulasi gravitasinya, Yaya membuat tubuh Zak dan ketiga pecahan BoBoiBoy melayang beberapa hasta dari tanah.

"Yaya?!" ketiga BoBoiBoy berseru ketika melihat Yaya mendekat bersama Ochobot dan satu gadis berpakaian serba ungu yang tidak dikenalnya.

"Cece!" Zak ikut berseru, tak kalah kagetnya dengan BoBoiBoy.

"Aku minta kalian semua berhenti!" Cece berkata tegas, nyaris bernada memerintah.

"Baiklah, baiklah," Zak berkata. "Asal dia tidak menyerangku, aku juga tidak akan berbuat apa-apa."

"Dan turunkan kami sekarang," sambung Calabrass.

Cece menatap Yaya sejenak. Gadis penyuka merah muda itu pun mengangguk paham.

"BoBoiBoy," kata Yaya sambil menatap Tanah, Angin, lalu Petir bergantian. "Mereka bukan orang jahat. Hanya sama-sama tersesat di tempat ini seperti kita."

"Benarkah?" Tanah mengerutkan kening.

"Eh? Tapi kok kamu ada di sini, Yaya?" timpal Angin. "Ochobot juga."

"Iya, lah," Ochobot yang menyahut. "Kami mencarimu."

Petir berdecak samar. "Sudahlah, nanti saja ngobrolnya. Lepaskan kami."

"Boleh saja," sahut Yaya. "Tapi kalian janji jangan bertarung lagi."

"Baiklah," Tanah menyahut seperti tanpa berpikir.

"Oke, Yaya!" Angin masih cengar-cengir tanpa beban.

"Cih! Terserahlah." Dan Petir cuma pasang muka datar.

Yaya menghela napas pelan, lalu menurunkan satu pemuda dan tiga pecahan elemental itu kembali ke bumi. Petir, Angin, dan Tanah pun bersatu kembali ke wujud semula.

"Yaya, Ochobot, kalian datang menjemputku?" BoBoiBoy berkata sambil tersenyum lembut, sedikit terharu.

"Ya. Aku bisa membuat portal untuk kita pulang."

Ucapan Ochobot membuat BoBoiBoy langsung menarik napas lega.

"Dan aku punya sesuatu dari Sassafras untuk membawa kita pulang, Zak Storm."

Nada suara Cece saat mengucapkan nama Zak begitu menekan. Tapi Zak lebih tertarik pada kalung emas berliontin batu merah delima yang kini ada di tangan Cece.

"Omong-omong," Cece masih menyambung, dengan tatapan tajam menusuk kepada sang kapten muda, "apa yang mau kaulakukan tadi, Kapten?"

"Dari nada bicaramu, sepertinya kau sudah tahu," sahut Zak sambil tertawa canggung.

"Kau hampir saja mencelakakan kita semua," gerutu Cece.

"Apa?" Zak dan Calabrass berkata bersamaan.

"Ini adalah dunia yang terhubung dengan dunia-dunia lain," kata Cece. "Artinya, tempat ini juga terhubung dengan Marituga. Kau ingat? Ada tempat yang menyimpan banyak energi di sana."

"Mercusuar," kata Zak singkat.

"Jika kau melepaskan kekuatan Tujuh Mata di sini, gelombang energinya akan langsung terhubung ke mercusuar. Kau bisa saja menghancurkannya, dan itu akam menghancurkan seluruh Bermuda! Persis seperti ramalan Sassafras—"

"Satu keputusan yang salah, dan semuanya akan hancur," sela Zak. "Ya, ya, aku ingat. Tapi, mana aku tahu akan begitu jadinya? Aku cuma tahu, bahwa aku harus bertarung dan menang supaya bisa pulang."

Cece mengerutkan kening. "Siapa yang bilang?"

"Suara itu," sahut Zak.

"Ah! Aku juga mendengar suara yang menyuruhku bertarung," tiba-tiba BoBoiBoy menyambung.

"Oh, aku tahu!" kata Ochobot. "Itu pasti Penyihir Dimensi."

"Penyihir Dimensi?" BoBoiBoy, Zak, dan Calabrass berkata bersamaan.

"Sudahlah, kita bicarakan lagi nanti," kata Cece. "Sassafras bilang, kita harus kembali sebelum Purnama Merah berakhir. Kalau tidak, kita harus menunggu sampai Purnama Merah berikutnya!"

"Apa?!" Zak dan Calabrass berseru kaget.

"Aku tidak mau terjebak di sini sampai lebih dari seratus tahun!" lanjut Zak.

"Baiklah, ayo pulang." Cece memandang Yaya dan Ochobot. "Terima kasih untuk semuanya, Yaya, Ochobot. Kami harus pulang."

"Ya, kami juga." Yaya mengajak Cece bersalaman. "Jaga diri kalian."

"Kalian juga," sahut Cece.

"Sayang sekali, ya?" Zak ikut bicara pada BoBoiBoy. "Kalau situasinya berbeda, kurasa kita bisa jadi teman."

"Kau pasti akan jadi teman terbaik." BoBoiBoy tertawa kecil, lantas mengajak Zak bersalaman. "Namaku BoBoiBoy."

"Oh ya, kita belum berkenalan," kata Zak sambil menyambut uluran tangan BoBoiBoy. "Aku Zak, dan pedang yang cerewet ini Calabrass."

"Senang berkenalan dengan kalian."

"Sama-sama. Tapi kita sudah harus berpisah, ya."

"Sampai jumpa lagi, Bocah Elemen," Calabrass ikut bergabung dalam percakapan.

"Ya, sampai jumpa," balas BoBoiBoy. "Zak dan Calabrass."

Kedua kelompok kecil itu pun berpisah.

Cece harus meminta bantuan Calabrass untuk mengisi kembali energi liontin merah, dengan kekuatan Tujuh Mata yang dimilikinya. Sedangkan Ochobot, untungnya, masih punya cukup energi untuk membuat portal kembali ke Pulau Rintis.

Dua portal menuju dua dunia yang terpisah jauh, terbuka di hadapan mereka masing-masing. Cece masih sempat saling pandang dengan Yaya dan Ochobot sambil melempar senyum. Zak pun menatap BoBoiBoy untuk yang terakhir kalinya sambil tersenyum dan mengangkat kepalan tangan kanan. Dibalas BoBoiBoy dengan tersenyum sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

Senyum mereka tak terhapus, hingga mereka masuk ke dalam portal menuju dunia masing-masing. Karena bagi mereka, pertemuan singkat itu tidak akan terlupakan. Dan mereka semua merasakan perasaan yang sama tentang itu.

.

.

.

.

.

Pelabuhan Marituga dan pantai Pulau Rintis palsu langsung meluruh, begitu portal yang menelan sosok BoBoiBoy serta Zak dan teman-teman mereka, kembali tertutup. Dengan cepat kembali menjadi dunia serba putih.

Hening.

Kosong.

"Aaah ... Mereka pergi. Padahal lagi seru-serunya."

Barusan adalah suara misterius tanpa wujud yang selama ini bicara hanya kepada Zak dan BoBoiBoy. Nadanya seperti merajuk. Namun, tak lama kemudian, suara itu sudah tertawa ceria. Seperti anak-anak yang suasana hatinya cepat berubah.

"Ya sudahlah. Kapan-kapan 'kan bisa main lagi."

.

.

.

FIN

.

.


* Author's Note *

.

Wahahaha ... Akhirnya bisa selesai. Dua jam sebelum deadline berakhir! Yay~! \(^o^)/

Semoga teman-teman menikmati petualangan kecil BoBoiBoy, Zak, dkk.

Aku paling ribet dan lama pas bikin adegan pertarungan BoBoiBoy VS Zak. Terutama bingung bagiannya Zak. Nggak kayak BoBoiBoy yang tersedia di YouTube dan bisa ditonton ulang kapan aja, aku cuma mengandalkan ingatan saat menulis tentang Zak (dibantu wikipedia dikit, sih). Soalnya cuma nonton yang tayang di TV. Itu pun sempat ketinggalan beberapa episode. TTATT

Baiklah, cukup sampai di sini cuap-cuap Hime.

Sampai jumpa lagi di karya selanjutnya~! :")

.

Regards,

kurohimeNoir

28.02.2018