.
Prologue
Jalanan nan suram dikala malam. Dingin mencekam, sunyi dan kelam. Disinilah ia tinggal. Tempat diamana ia mengistirahatkan dirinya setelah penat meminta-minta seharian. Tempatnya menyantap makanan dikala ia mempunyai cukup uang, atau jika ada dermawan baik hati yang rela menyisakan makanan mereka untuk dirinya. Disinilah dia, di strata terbawah dari kehidupan. Di tanah buangan...
D isinilah dia bangun di tiap pagi harinya. Di sinilah tempat ia dihina. Di sinilah tempat dirinya dipukuli tiap harinya oleh para bajingan yang mengiginkan uang darinya. Di sinilah tempat semua penyiksaan atas dirinya terjadi. Di bawah redupnya lampu jalan, beralaskan kardus yang ia dapat dari tempat sampah di ujung jalan sana.
Ikki Kurogane namanya, atau setidaknya begitulah sebelum keluarga yang begitu dicintainya membuangnya ke tanah neraka ini. Keluarga yang menjadi satu-satunya tempat bagi dirinya untuk bernaung menghianati kepercayaannya. Keluarga yang harusnya menjadi tempat perlindungan bagi dirinya, malah menghancurkannya dari dalam hingga berkeping-keping. Semua itu ia dapatkan hanya karna ia tak dapat memenuhi standar sang ayah. Semua perlakuan itu ia terima hanya karna ia terlahir tak seperti apa yang mereka inginkan. Ia dianggap cacat oleh seluruh anggota keluarganya. Hampir semuanya...
Bermula di malam perayaan ulang tahunnya yang tak dihadiri oleh siapapun selain adiknya sendiri. Di malam itu ia diculik oleh orang suruhan sang ayah dan disiksa habis-habisan. Ia dipukuli, diinjank-injak,dilecehkan bahkan kedua bola matanya dicongkel keluar. Tak cukup begitu, ia dibuang di jalanan, dibiarkan mati tersiksa secara perlahan.
Akan tetapi Ikki berhasil bertahan. Kebencian, dendam dan amarah yang terkumpul dalam dirinya memaksanya untuk tetap hidup. Keteguhan dalam hatinya membuat malaikat maut enggan mencabut nyawanya. Ia menentang takdirnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melawan kematiannya.
Sejak saat itu Ikki membuang namanya. Ia hidup dan melatih dirinya dalam penderitaan. Tanpa penglihatan, namun indra perasa, pendengaran dan penciumannya meningkat tajam. Ia melatih mentalnya, ia menempa fisiknya. Ia memupuk kebenciannya, ia kokohkan dendam dalam hatinya. Dan ia bersumpah, suatu hari nanti, Kurogane akan ia hancurkan dengan tangannya sendiri.
Rintik hujan mulai berjatuhan. Meski kedinginan, Ikki tetap bertahan disana. Ia tak punya pilihan. Tanpa penglihatan akan sulit baginya untuk menemukan tempat berteduh yang aman. Justru inilah yang paling ditunggu oleh Ikki. Karna saat hujan turun, tak akan ada orang yang berlalu-lalang. Tak ada yang mengganggunya. Itu artinya ia bisa menikmati malam ini dalam kesendirian. Dingin bukan masalah baginya, ia sudah terlalu terbiasa.
Ikki menikmati kesendiriannya. Rintik hujan yang berjatuhan memberi ketenangan tersendiri baginya. Ia menikmatinya. Berduaan dengan alam terasa sangat menyenangkan untuknya. Sayangnya hujan memberi kelemahan tersendiri bagi Ikki, indra perasa, pencium dan pendengarnya menjadi tak berfungsi. Dan karna hal itu, Ikki tak menyadari kalau sekarang ada seorang pria yang tengah berdiri di sampingnya.
Pria itu berdiri disana, menghadap kearah yang sama dengan Ikki. Diam, Memandang jalanan. Persis seperti yang Ikki lakukan. Namun tak mengeluarkan suara. Pria itu benar-benar diam. Tak ada pergerakan. Ia hanya berdiri disana dengan tangan dimasukkan ke sakunya. Tak terusik oleh Hujan dan malam yang semakin dingin menusuk tulang.
"Sampai Kapan kau akan berdiri disana?" Ikki mulai angkat bicara setelah hujan mulai mereda. Ia menyadari kalau ada seseorang yang tengah berdiri didekatnya. Ia memang tak bisa merasakannya, tapi ia mendengar. Ritme suara rintikan hujan yang berada di sekelilingnya mulai berubah.
Pria itu tersenyum. "Kau lambat, aku sudah setengah jam berdiri disini." Balasnya.
"Siapa kau? Apa yang kau mau dariku? Apa kau ingin membunuhku?"
"Aku tak perlu melakukannya. Karena dalam silsilah keluarga Kurogane, nama Kurogane Ikki sudah tiada. Mereka sudah membunuhmu terlebih dahulu. "
"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Bagaimana kau mengetahui diriku? Bagaimana kau tahu aku ada disini? Apa kau orang lain suruhan ayahku? " Ikki menanyainya bertubi-tubi, sedikit terbawa emosi.
Pria itu tertawa kencang. "Tidak perlu naik darah begitu. Hubunganku dengan ayahmu tak terlalu baik. Tidak setelah semua yang sudah aku lakukan padanya." Sambungnya.
"Lalu apa?"
Pria itu hanya diam. Tak ada suara, seolah dia tak lagi disana. Namun Ikki bisa dengan jelas merasakan kehadirannya. Dia merasakannya, pria itu masih berdiri disana. Hanya saja dia tak bergeming. Membatu tanpa ada pergerakan.
"Beberapa bulan yang lalu kau dinyatakan tewas dalam sebuah penyerangan di kediaman keluarga Kurogane. Aku cukup curiga karena tak mungkin sebuah keluarga kuno yang sangat memprioritaskan derajat dan martabat bisa diserang oleh sekelompok penjahat bahkan sampai ada anggota keluarga Kurogane yang terbunuh." Pria itu mulai menjelaskan tujuannya. "Aku sadar ada yang aneh. Dan benar saja, beberapa hari kemudian aku mendengar rumor beredar mengatakan kalau ada kemungkinan bahwa kau memang sengaja dibunuh oleh keluarga mu sendiri demi mempertahankan martabat keluarga."
Laki-Laki itu melanjutkan. "Aku mencari tahu kebenaran tentang berita itu. Dan betapa terkejutnya diriku saat aku mendapati kau masih hidup, meski dengan wajah yang sudah hancur akibat dipukuli. Awalnya memang agak sulit bagiku untuk mengenalimu. Asal kau tahu saja ya, saat ini kau benar-benar buruk rupa. Bahkan mungkin ayahmu sendiri tak akan mengenalimu. Tapi kurasa itu bukanlah hal yang penting. Toh, dia tak peduli lagi padamu."
Ikki hanya menghela nafas panjang. Nampaknya semua kenyataan pahit yang tadi dikatakan oleh pria itu tentang dirinya sama sekali tak berarti apa-apa bagi lagi Ikki. Dia sudah terlalu terbiasa. "Kalau begitu aku bersyukur kedua mataku diambil dari ku." Jawabnya enteng. "Dan aku bersyukur tak akan ada lagi yang mengenali diriku."
"Hahaha. Kau ini bocah-bocah udah hard-boiled banget lho..." Pria itu kembali tertawa lepas. Dia mengeluarkan dua kaleng minuman soda dari dalam tas kecil yang dia bawa. Ia beri satu pada anak itu sementara satu lagi untuk dirinya.
"Jadi? Apa tujuanmu mencariku?" Tanya Ikki lagi. Kali ini dengan nada penasaran, sepertinya dia sudah mulai tertarik dengan pembicaraan mereka berdua.
"Namaku adalah Shirogane Yuuto, kepala dari keluarga Shirogane. Kau mungkin mengenalinya, mengingat keluarga Kurogane dan Shirogane sudah bermusuhan untuk waktu yang cukup lama. Aku sudah mengawasimu untuk waktu yang cukup lama, setiap hari melihatmu bertahan hidup di tempat ini. Dan harus aku katakan, kau memang benar-benar sangat payah."
"Ya,aku tahu itu. Aku sudah sangat sering mendengarnya."
"Tapi kau memiliki kepribadian yang menarik dan potensi yang luar biasa. Kau bagaikan intan permata yang DIKUBUR jauh dalam kubangan kotoran. Mereka tak pernah menilai seberapa besar potensi yang kau miliki. Tapi aku tidak begitu. Aku tahu kau memiliki potensi besar yang bisa kau kembangkan. Karena itulah aku ingin kau...bergabung denganku. Aku ingin kau bergabung menjadi anggota Shirogane, dibawah namaku."
"Aku sudah belajar untuk tak lagi mempercayai siapapun. Aku tak mempercayai mu."
"Tidak mempercayai siapapun itu sama naifnya dengan mempercayai semua orang,nak. Aku tak tahu seberapa besar penderitaan yang kau alami selama di dunia luar ini, tapi mau sampai kapan kau terus-terusan bergumul di lumpur yang sama? Kau ingin terus hidup disini? Menjalani hidup menyedihkan dan diperlakukan layaknya binatang?"
Ikki terdiam. Nafasnya perlahan terdengar berat. "Suatu hari nanti...aku akan keluar dari sini...Aku hanya harus menunggu..."
"Menunggu apa? Menunggu orang lain suruhan ayahmu datang dan menghajarmu lagi?
"Lantas apa yang bisa aku lakukan!? Aku hanyalah aib bagi keluargaku! Aku tak seperti saudara-saudaraku yang bisa dibanggakan oleh ayahku. Aku hanyalah sampah yang tak berguna."
Pria itu tersenyum simpul. "Kau harus berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain nak. Cukup bandingkan saja dirimu yang sekarang dengan dirimu yang dulu. Sudah berapa jauh kau berkembang dan menjadi lebih baik daripada dirimu di masa lalu. Berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan pikiran-pikiran bodoh yang tidak ada gunanya. Semua itu hanya akan menambah beban pikiranmu saja. Persetan dengan pandangan mereka tentang dirimu. Ini hidupmu, kau bertanggung jawab atas jalan hidup mu sendiri. Bukan ayahmu, ibumu, saudaramu, ataupun keluarga Kurogane mu itu."
Ikki tertegun mendengar perkataan Yuuto barusan. Dia menundukkan kepalanya, mencerna tiap kata yang keluar dari mulut pria itu dalam kepalanya. Dia sadar pria itu ada benarnya. Tapi kini dia tak tahu lagi harus apa.
"Itu dia!"
Disaat mereka berdua tengah asik mengobrol, sekelompok orang dengan berpakaian seragam datang menghampiri mereka. Orang-orang itu memiliki senjata-senjata unik di tangan mereka, menandakan mereka adalah seorang Blazer. "Ketemu juga kau anak sialan! Kemari kau!" Bentak salah satu dari mereka.
Ikki yang sudah familiar dengan suara tapak kaki orang-orang itu langsung saja panik. Mereka adalah orang-orang yang sering mengejar dirinya dan mencoba membunuhnya. Besar kemungkinan mereka dalah orang-orang dari keluarga Kurogane. Tapi meski begitu, ajaib Ikki yang kini buta selalu bisa lolos dari kejaran mereka tanpa sebab yang dia ketahui.
Anak itu langsung bangkit dan siap berlari tanpa tahu arah, namun Yuuto menahan dirinya. Sontak saja Ikki mencoba berontak. Tapi entah kenapa sentuhan tangan pria itu membuatnya merasa tenang.
"Aku sudah capek terus-terusan membantumu melarikan diri dari kejaran mereka tiap malam. Sekarang juga, aku akan mengakirinya untuk selamanya." Ujar Yuuto. Kali ini dengan nada yang lebih dingin dari pada sebelumnya.
"Shirogane Yuuto!? Ini adalah urusan keluarga besar Kurogane, kau tak berhak untuk ikut campur!" Bentak salah satu dari orang-orang yang mengejar Ikki.
"Kalau begitu katakan ini pada si Itsuki, mulai dari saat ini. Kuroga-, Tidak. Ikki, berada di bawah perlindungan keluarga Shirogane. Di bawah perlindunganku. Dan bagi siapapun yang berani menyentuhnya tanpa seizin dariku, akan aku hancurkan. Sama seperti apa yang sudah aku lakukan pada negeri ini 10 tahun yang lalu." Ancam Yuuto. Suaranya yang halus mendadak berubah menjadi sangat berat dan mengerikan.
Orang-orang itu ketakutan bukan main dibuatnya. Mereka tahu betul monster macam apa yang ada di hadapan mereka saat ini. Melawan kehendaknya, sama saja dengan gila. Mereka memilih mundur dari pada harus berakhir mengenaskan.
Selesai dengan orang-orang Kurogane, Yuuto berbalik pada Ikki. Anak itu tak kalah takut pada dirinya. Mungkin ini akibat dari aura mengerikan yang terlalu mengintimidasi yang memancar dari tubuhnya. Namun meski begitu dia mencoba untuk bersikap sesantai mungkin untuk tidak terlalu menakuti anak itu.
"Maaf jika yang tadi itu membuatmu ketakutan. Tapi kau tahu orang-orang seperti mereka tak akan berhenti sebelum kau tunjukkan pada mereka seberapa tak berdayanya mereka." Ujar Yuuto.
Tanpa mempedulikan rasa takutnya, Ikki bangkit dan menghampiri pria itu. Tangannya meraba-raba udara, sebelum kemudian tangannya mendarat di baju Yuuto. Ia genggam erat baju pria itu, seolah tak ingin lepas. "Aku ingin menjadi sekuat dirimu!" Seru Ikki mantap. "Aku mohon! Jadikanlah aku muridmu!"
Suasana mendadak hening. Yuuto tak bicara, sementara Ikki sendiri hanya mengunggu jawaban dari pria itu. Semuanya benar-benar tenang. Hanya deru angin dan rintik hujan yang terdengar lebat, berdampingan dengan suara petir yang bergemuruh keras.
.
.
.
"Ya...Itulah yang sedari tadi ingin aku dengar darimu."
