Gremory castle
Duduk di meja sembari memandang datar sajian makanan didepannya,, entah kenapa hanya pandangan seperti itu yang si bungsu Gremory keluarkan. Memang insiden siang tadi membuat semuanya terkejut,, bahkan Zeouticus tak kalah terkejutnya sama dengan para iblis yang kebetulan menyaksikan insiden Tempo siang itu.
"Rias sampai kapan kau akan menatap makananmu seperti itu?,, Tidak baik loh membiarkan makanan menunggu" ucap lembut wanita berambut cokelat kekuningan. Ia adalah sang ibu,, Venelana Gremory seorang Lady clan Gremory. Rias hanya diam tak menjawab,, tak ayal jika insiden itu membuat ia terpukul. Bayangkan saja,, seorang kakak hampir membunuh adiknya sendiri hanya karena keegoisannya. Kakak macam apa yang seperti itu.
Para iblis yang berada di sana hanya dapat menghela nafas lelah melihat betapa keras kepala si bungsu Gremory itu. "Sudahlah jangan memikirkan kakakmu yang baka itu,, jika kau mau kau bisa memikirkan ku. Aku juga kakakmu Rias mueheheheh" Sirzech membuka kata berniat mencairkan suasana yang suram itu namun yang ia dapat adalah tatapan tajam dari kedua orang tuanya.
"Jika kalian ingin bertanya,, tanyakan saja. Aku tau ada yang menjanggal di dalam peristiwa siang tadi yang dapat kalian rasakan bukan begitu?" Ucap sang Lord membuka suaranya. Ia tahu ada pertanyaan yang disembunyikan para iblis muda di hadapannya nya ini yang hendak mereka tanyakan.
"Maaf sebelumnya Lord Gremory-sama,, hanya saja aku penasaran kenapa Naruto-sama bersikap dan berperilaku seperti tadi siang?. Walaupun saya tidak tahu menahu tentang Naruto-sama,, saya juga ingin mengetahui lebih tentang kakak dari Bochou itu" ucap seorang gadis berambut raven diikat ekor kuda. Dalam wajahnya tersirat keseriusan,, bahkan semua teman dekatnya hanya dapat memiringkan kepalanya tanda heran karena baru kali ini mereka melihat Akeno seserius ini.
Ya,, nama dari gadis itu adalah Hemijime Akeno,, Queen dari seorang Rias Gremory. Putra dari Baraqiel salah satu petinggi dari malaikat jatuh. Kenapa ia menjadi iblis?,, Jawabannya adalah ia kecewa dengan sang ayah yang tidak menolongnya dan ibunya saat terjadinya eksekusi beberapa tahun silam. Karena ibu Akeno diketahui berhubungan dengan makhluk yang seharusnya tidak berhubungan dengan manusia,, para petinggi desa memutuskan untuk mengeksekusi keduanya dengan niatan agar tidak terjadi hal buruk. eksekusi dilakukan namun Akeno berhasil melarikan diri dan ditemukan terlantar oleh Sirzech yang kemudian membawanya pulang dan merawat nya. Sejak saat itu Akeno bersumpah akan mengabdikan diri kepada sosok yang telah menyelamatkannya.
Sang Lord hanya tersenyum miris mendengar perkataan dari Akeno,, berbeda dengan Sirzech dan ibunya yang menunduk dalam dalam. Hal itu membuat Rias dan para pereagenya menatap bingung ke arah para iblis senior itu.
Diam beberapa saat,, sang Lord kemudian membuka suaranya. "Dulu,, Naruto merupakan seorang yang ceria dan ceroboh dalam semua bidang. Bahkan setelah kelahiran Sirzech saat itu Naruto berumur sekitar 5 tahun. Ia senang mendengar bahwa ia mendapat seorang adik" ia terkekeh mengenang masa masa yang menurutnya menyenangkan itu. Menggeleng pelan menyingkirkan kenangannya itu,, ia kembali melanjutkan. "Terlampau senangnya ia langsung mengumumkan kepada seluruh mekai bahwa dia mempunyai adik. Hahahah waktu itu sangatlah langka yang hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup mungkin" sang Lord menghentikan ceritanya guna mengambil nafas.
"Bahkan dulu ia mencoreng wajahnya dengan tinta hitam diwajahnya bertulisan 'aku punya adik' dan berkeliling mekai selama 3 hari saking senangnya" ia terkekeh pelan sembari memijat keningnya itu.
Rias dan para pereagenya tersenyum melihat perubahan sikap sang Lord yang tidak pernah tertawa ini. "Bertahun-tahun berlalu,, saat itu dimana Sirzech pertama kali mengeluarkan mana walau kecil Naruto sangat senang. Dengan perlahan ia mengajari Sirzech kecil mengontrol mananya,, yahh saat itu saat yang paling menyenangkan bagi kami" sang Lord berhenti bercerita,, meraih sebuah gelas berisikan air putih hendak meminumnya namun aktifitasnya terhenti saat seseorang bertanya kepadanya.
"Maaf jika aku menyela,, tapi itu tidak menceritakan tentang perubahan sikap Naruto-sama yang kala itu hampir membunuh bochou ku lord gremory-sama" pria berambut cokelat ndengan nada menuntut.
Sang Lord hanya tersenyum kecil. "Kau tahu issei,, mungkin jika Naruto di sini kau akan kehilangan kepalamu karena mengklaim Rias sebagai milikmu!" Kata sang Lord tersenyum misterius.
Pria bernama issei diam mendengar perkataan dari sang Lord itu. Entah kenapa ia merasa takut kala sang Lord berucap mengenai Naruto.
"Apa oni-chan senang dengan kelahiran ku ini?" Tanya tiba tiba Rias yang entah sejak kapan menundukkan kepalanya. Sang Lord hanya diam menanggapi ucapan anak bungsunya itu.
"Jadi benar ya?,, Oni-chan tidak mengharapkan kehadiran ku" entah kenapa perkataan Rias mengandung kekecewaan mendalam yang dapat dirasakan para iblis Disana.
"Tidak,, melainkan sebaliknya Rias. Naruto senang walaupun tertutupi oleh sikapnya yang acuh itu. Apa kau tahu Rias,, setiap malam kala kau tidur Naruto sering menyelinap ke kamarmu?" Sekian lama sang lady bungkam,, akhirnya ia berucap lembut kepada Rias yang menunduk berharap rasa kecewa Rias terhadap Naruto hilang namun Rias tak menanggapinya,, ia diam seribu bahasa.
"Bahkan sampai sebesar ini kau masih dijaga olehnya" lanjut sang lady disertai senyum tulus yang terpatri di wajahnya. "Ingat saat pertunangannya dengan Raiser?" Tanya sang lady ke arah Rias. Rias mengangguk mengiyakan perkataan ibunya itu.
"Jika saja kau kalah dalam pertarungan itu,, mungkin Phoenix hanya akan tinggal namanya saja,, mengingat betapa overprotektif nya Naruto jika itu menyangkut dirimu" Rias mengerutkan keningnya menatap sang ibu seakan mengatakan aku-tak-mengerti.
Sang ibu hanya tersenyum,, sepertinya Rias mulai tertarik dengan pembicaraan sang ibu ini."yahh,, tanpa sepengetahuan yang lainnnya,, saat ratting game berlangsung Naruto membantu kalian. Entah bagaimana caranya namun ketika pertarungan pionmu dengan Raiser samar samar aku merasakan energi dari Naruto walau kecil"
...
Grigory
Grigory merupakan tempat tinggal para malaikat yang tebuang. sama halnya iblis,, malaikat terbuang juga mendapatkan wilayah untuk mereka tinggali walaupun tidak senyaman disurga tapi itu cukup untuk mereka mengingat betapa buruknya mekai yang menjadi tempat para iblis.
Berjalan pelan melewati para da-tenshi yang memandang aneh,, Naruto hanya memasang wajah datar ketika ia menyusuri lorong sebuah kastil yang berada di Grigory. Diikuti dengan Kokabiel yang berada tak jauh dibelakangnya mereka berjalan santai tanpa beban yang ada dipundak mereka. Walaupun para da-tenshi memandang aneh mereka berdua tapi mereka tidak menegur maupun menyapa Naruto yang menurut mereka misterius itu.
Mereka merasakan aura yang berbeda ketika dekat dengan Naruto. Entah kenapa mereka takut dengan sosok itu.
Langkah mereka terhenti ketika mereka tiba didepan gerbang besar dengan tinggi tak kurang dari dua meter di depan mereka. Menurut Naruto pintu itu terkesan aneh karena banyaknya ukiran kuno yang terpampang jelas di setiap bagian pintu tersebut. Ia perlahan membuka pintu hendak masuk namun aktifitasnya dihentikan oleh sosok misterius yang berada di belakang mereka.
"Tunggu!,, Kau tidak boleh masuk ke ruangan pribadi Azazel-sama dan begitu pula kau Kokabiel,, kau termasuk di dalamnya" tukas sosok misterius itu dengan nada tegasnya. Naruto dan Kokabiel menatap ke arah sumber suara itu dan mata mereka menemukan seorang pria berambut perak yang hadir bersama sosok gadis berambut perak panjang yang memiliki mata putih seindah bulan purnama.
"Oh lihat siapa yang datang,, dua ekor tikus yang beraninya mengusik urusan dua ekor singa eh?" Balas Kokabiel dengan nada sinis sembari menyeringai sadis. Sosok itu tak asing baginya,, sosok bersaudara yang memiliki darah kotor dari makhluk yang dilaknat NYA.
Sosok itu tak kunjung membalas,, hanya tatapan datar yang mereka tunjukan. "Lucifer kah?" Gumam Naruto menatap intens ke arah dua sosok berambut perak di depan mereka.
"Siapakah kau?,, Dari aura yang kau miliki kau bukan berasal dari fraksi manapun?" ,Kini sang gadis yang berucap,, Naruto hanya menatap datar sebagai jawaban dari pertanyaan sosok itu.
Naruto berpaling hendak membuka pintu namun aktifitasnya terhenti lagi karena sosok gadis berambut perak mengalungkan sebuah pedang kearah Naruto. "Mainan seperti itu tak akan bisa menggoresku bocah!", Ungkap Naruto tanpa rasa khawatir sedikitpun.
Sang gadis hanya menyeringai sadis mendengar ungkapan Naruto itu. "Hohoho,, untuk seukuran makhluk hina,, mulutmu pedas juga ya?" Balas sang gadis masih dalam posisi seperti sedia kala. Alangkah salahnya dia membandingkan Naruto dengan seekor makhluk hina,,' kau akan segera tahu siapa yang hina disini gadis kecil' pikir Kokabiel menyeringai.
Naruto tak bergeming dari tempatnya,, dengan bermodal nekat ia membuka pintu namun sang gadis menekan lebih keras pedang yang berada di leher Naruto cukup keras membuat Naruto terhenti (lagi). "Munggirlah,, aku tak ada urusan denganmu" ucap Naruto disertai nada datar dan dingin. Sang gadis tersentak bukan karena nada dari Naruto,, melainkan aura kelam yang tiba-tiba menguar dari tubuh Naruto itu yang membuat sang gadis tersentak.
Tanpa sadar ia menjauhkan pedangnya dari leher Naruto,, melangkah mundur dengan perasaan takut,, kakinya gemetar hebat. Sosok pria yang bersama sang gadis menyeringai merasakan energi kelam yang muncul dari diri Naruto itu.
"Sepertinya kau orang kuat!" Ucapnya disertai seringai misterius yang terpatri di wajah tampannya. Naruto tak menggubris ucapan dari sosok itu.
Duarrrrr
Ia menendang pintu yang tak bersalah didepannya dengan keras. Debu mengepul tebal menghalangi pandangan semua orang,, para da-tenshi yang kebetulan berada disekitar membulatkan mata tak percaya melihat apa yang barusan terjadi di depan mata mereka. Pasalnya pintu menuju ruangan pribadi pemimpinnya mereka itu tak lain terbuat dari pecajan exalibur dan beberapa bahan lainnya,, bahkan sisik naga pun menjadi bahan inti dari pintu itu.
Naruto melangkah masuk melewati puing pintu yang kini hancur berkeping-keping,, melirik kesana kemari dan binggo,, matanya menatap intens sosok yang berada tak jauh dari tempat Naruto berdiri.
Terlihat sosok itu membelakangi Naruto,, Rambut pirang disertai warna hitam dibeberapa bagian,, baju layaknya seorang bangsawan disertai gelang perak yang ia pakai menambah kewibawaannya.
Azazel atau bisa disebut dengan nama gubernur da-tenshi,, seorang gubernur malaikat jatuh yang memiliki sifat mesum tingkat akut,, bahkan konon diceritakan bahwa Azazel jatuh karena sifat mesumnya itu.
"Yo hakaishin,, apakah kau datang untuk menantangku?" Naruto diam ketika sang gubernur berkata dengan percaya dirinya,, walaupun ia hanyalah seorang gubernur da-tenshi,, Azazel patut untuk diwaspadai mengingat betapa cerdasnya ia ketika otaknya bekerja.
"Kheh,, apa aku tak salah dengar?" Kokabiel yang tadinya berada di luar kini berada di samping Naruto menjawab apa yang ditanyakan oleh Azazel.
Naruto menghela nafas lelah. "Aku tak ada urusan untuk bertarung dengan bayi gagak,, dan aku hanya ingin meminta bantuan makhluk yang mendapat title genius from new world dari para dewa maupun para fraksi lainnya" ucapnya mengatakan apa yang sedari tadi menyangkut di kepalanya.
Azazel diam,, tidak seperti biasa memang seorang dengan title hakaishin no kami didepannya meminta tolong. Bukan permintaan tolong yang menjadi permasalahannya,, melainkan orang yang dimintai tolong.
Seharusnya makhluk se-kalibar Naruto dapat dengan mudah menyelesaikan permasalahannya sendiri jika tidak,, ia bisa meminta tolong kepada para dewa ataupun kedua naga yang kerjanya hanya tidur tiduran di celah dimensi. Namun kali ini berbeda,,
Azazel menyungging senyum ketika mendengar perkataan dari Naruto. "Hohoho,, hal apakah yang tidak dapat diselesaikan olehmu,, wahai hakaishin?" Ucap Azazel melebarkan senyumannya. Naruto diam beberapa saat dan kemudian ia menggulung lengan baju kirinya memperlihatkan symbol seperti naga yang dilalap si jago merah,, namun jika diteliti lagi bukan si jago merah yang melalap sang naga,, melainkan sang naga yang men-tuani sang api.
Azazel mengerutkan keningnya,, memejamkan mata guna mengingat symbol apa yang berada di lengan kiri Naruto itu. "Ortodox kah?" Gumamnya ambigu. Naruto mengangguk mengiyakan perkataan Azazel itu. "Haaah,, sepertinya saudara paradox itu sudah berulah" ucap Naruto serius.
Azazel mengangkat bahu tanda tak mengerti sedangkan Kokabiel yang sedari tadi ada disitu hanya diam dalam kebingungan. "Aku mengerti dengan paradox,, namun siapa itu ortodox?" Ucap Kokabiel penasaran yang hanya diberi pandangan heran dari Naruto dan Azazel.
"Benarkah makhluk sekaliber dirimu tak tahu mengenai raja naga ortodox?" Bukan jawaban yang Kokabiel terima,, melainkan pertanyaan yang menurutnya terlalu mainstream.
"Hey,, bisakah kau tidak menanyakan hal yang terlalu mainstream layaknya tadi?" Umpat kokabiel kesal mendengar pertanyaan dari sosok yang memimpin rasnya itu.
"Ortodox atau bisa disebut black dragon champion atau lebih dikenal dengan the king of all dragon,, merupakan saudara kembar dari naga paradox yang memberiku julukan hakaishin no kami. Merupakan naga yang sadis dan keras kepala. Dan juga dia merupakan naga selain tiga naga yang ditakuti oleh para fraksi yang ada di dunia ini. Kekuatannya mungkin setara dengan paradox sang true heavenly dragon yang ditakuti dua dewa naga penunggu celah dimensi. Hanya itu yang aku tahu,, selain itu mungkin aku bisa bertanya kepada paradox untuk mengetahui lebih lanjut!" Ucap Naruto kepada Kokabiel. Kokabiel menyimak serius apa yang diucapkan sang hakaishin didepannya. Ini informasi baru yang mungkin akan berguna dimasa depan' pikir Kokabiel.
"Jadi?,, Dia setara great red begitu?" Tanya sosok uban yang sedari tadi menyimak pembicaraan. Naruto dan Azazel menoleh ke arah sosok itu. Sosok setengah Lucifer dan merupakan pemegang sacred gear divide dividing,, Vali Lucifer.
"Dalam sejarah ia diceritakan bahwa great red takut padanya namun entah bagaimana kenyataannya" ucap Azazel menjawab pertanyaan bocah setengah Lucifer itu.
"Siapa namamu wahai setengah Lucifer?,," Tanya Naruto tanpa menoleh ke arah sang setengah Lucifer dibelakangnya. Vali hanya tersenyum sadis mendengar pertanyaan dari sang dewa penghancur itu.
"Vali Lucifer,, pemegang Albion dan sekaligus white dragon emperor terkuat sepanjang masa" ucap Vali menyombongkan diri kepada Naruto. "Dan aku ingin sekali bertarung dengan mu hakaishin palsu!" Lanjutnya serius.
"Oy,, kau serius berkata seperti itu kepada hakaishin. Aku tak apa jika kau ingin bertarung dengannya ,, maksudku kau mengatakan dia hakaishin palsu, kutekankan sekali lagi PALSU,, APA KAU SUDAH GILA?" Umpat Azazel kesal ke arah muridnya itu. Bukan masalah jika Vali ingin bertarung dengan Naruto tapi ia menganggap Naruto itu hakaishin palsu,, oh kesalanmu sepertinya sangat besar Vali.
"Dari ceritamu dulu kau pernah bilang bahwa hakaishin berasal dari golongan iblis,, namun aku tak merasakan aura iblis sedikitpun dari dalam tubuhnya?,, Dan aku mengasumsikan bahwa ia hanyalah hakaishin palsu " ucap sang setengah Lucifer memancing amarah Naruto.
Naruto hanya menghela nafas panjang,, ia menoleh ke arah Vali yang tersenyum penuh arti. "Apa yang kau inginkan putra fajar?,, Oh apa aku harus menyebutnya yang palsu?" Oke,, sekarang semua makhluk yang berada di sana sudah memiringkan kepalanya pertanda bingung dengan ucapan Naruto. Bukan apa apa tapi kenapa Naruto mengasumsikan bahwa Vali adalah Lucifer palsu?,, Jelas jelas ia adalah cucu dari Rizevim Livan Lucifer atau dikenal dengan putra fajar keturunan Lucifer asli tapi kenapa Naruto menyebut Vali dengan nama yang palsu?.
"Maksudnya yang palsu?" Kata Kokabiel yang penasaran dengan kata-kata Naruto.
"Seharusnya kau tahu karena kau pernah bertarung dengan Lucifer,, Kokabiel!" Jawab Naruto pelan namun tersirat keseriusan di kedua mata birunya. "Lucifer tak pernah dan tak mau berhubungan dengan yang namanya keturunan bukan?,, Kalian pasti lebih tahu mengingat kalian lebih tua ratusan-tidak, melainkan ribuan tahun lebih tua dariku. Dan juga,, hey apakah benar kalian tak tahu?" Ucap Naruto pura-pura terkejut,, Azazel dan Kokabiel hanya diam mendengar kalimat yang menurut mereka adalah sindiran itu.
"Entah kenapa aku mengira jika kau adalah sang Pharaoh" gumam Kokabiel pelan namun masih dapat terdengar oleh yang lainnya.
"Raja Mesir?" Gumam tanpa sadar Naruto. Semua yang berada di sana menoleh ke arah Naruto dengan pandangan bingung,, penasaran,, ataupun...bingung.
"Apakah ini serius?,, Maksudku kau yang diberi title hakaishin no kami tak tahu dengan sang tanpa nama Pharaoh?" Ucap Azazel tak percaya jika makhluk yang notabennya seorang penghancur tak tahu menahu tentang yang tak pernah diciptakan.
Sedangkan Naruto hanya mengangguk tanda menyetujui komentar dari gubernur sang da-tenshi di depannya. "Hey,, walaupun aku adalah hakaishin namun aku tak pernah mendengar makhluk yang bernama Pharaoh bodoh,, setahuku Pharaoh adalah Fir'aun(raja Mesir)." Ucap Naruto dengan tampang polosnya.
"Ck,, apa kalian sadar jika ini sudah diluar topik dalam fic ini?,, Maksudku KENAPA KITA MALAH MEMBAHAS HAL YANG TAK BERGUNA SEPERTI INI" forgot it.#nista
"Kita kembali ke topik utama!,, Jadi?,, Apakah simbol di lenganmu itu adalah hal buruk?" Tanya Azazel serius.
Naruto mengangguk mengiyakan pertanyaan azazel. "Bisa jadi ini akan lebih buruk,, symbol ini muncul beberapa ratus tahun yang lalu ketika invasi old-satan yang menyebabkan perang besar" ucap Naruto mengingat peperangan yang terjadi beberapa tahu silam. Saat dimana ia harus mengotori tangannya dengan cara membunuh sepuluh ribu tentara old-satan dengan tangannya sendiri.
Suasana menjadi hening saat Naruto berucap,, hawa yang tadinya hangat kini menjadi lebih dingin dari biasanya. Tekanan yang berada di ruangan itu menurun drastis karena energi yang menguar dari dalam tubuh Naruto.
"Dan semoga apa yang terjadi dahulu tidak terulang lagi!" Lanjutnya pelan.
...,...
Kuoh high school,, sekolah yang dulunya dibuka khusus untuk perempuan kini berubah menjadi sekolah campuran dimana siswa perempuan dan laki-laki berbanding 8:2. Yahh memang pantas mengingat baru beberapa bulan ini sekolah kuoh dibuka untuk umum.
Di dalam sebuah ruang kelas yang lumayan besar terlihat para siswa-siswi duduk tenang sembari menunggu sensei mereka datang. Entah kenapa sensei mereka tidak datang,, tidak biasanya sensei mereka terlambat seperti ini.
Cklek
Pintu terbuka memperlihatkan seorang guru berpakaian rapi menggunakan jas hitam dengan kacamata yang menempel di depan matanya. Sosok itu tak lain adalah kepala sekolah kuoh.
"Maaf aku mengganggu kalian,, berhubung sensei kalian mengalami sakit yang cukup parah sehingga ia tak dapat mengajar kalian,, kalian akan belajar bersama sensei baru hari ini dan untuk tiga bulan ke depan. Uzumaki-sensei,, silahkan masuk" ucap sang guru menatap ke arah pintu yang terbuka.
Sosok pemuda pirang yang terlampau tampan masuk ke dalam kelas. Rambut jabrik disertai tiga goresan dimasing-masing pipinya menambah ketampanan sosok itu. Sosok itu menatap sekeliling dan binggo,, matanya menatap seorang gadis yang menoleh ke luar jendela. Tanpa sadar ia tersenyum tipis menyebabkan para siswi disana berteriak gaje.
"Baiklah tugasku disini sudah selesai dan untuk anda Uzumaki-sensei,, semoga mereka tak merepotkan dirimu" ucap sang sensei melangkah pergi.
Hening,, sepeninggalan kepala sekolah ruang kelas itu dilanda keheningan,, ada rasa canggung di hati para siswa yang melihat betapa datarnya sensei baru mereka.
"A-ano sensei,, apakah Anda tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu?" Ucap seorang siswi berambut berambut hitam panjang mengenakan kaca mata kotak yang menambah kecantikannya.
Sosok itu tersenyum mendengar pertanyaan dari salah satu muridnya itu. Tsubaki shinra,, nama itulah yang sosok itu lihat di label name tag gadis itu.
"Baiklah,, namaku Naruto Uzumaki,, aku adalah guru yang bertugas menggantikan guru kalian mengingat ia sedang dalam keadaan sakit yang lumayan parah" ucap Naruto memperkenalkan diri.
'naruto' batin tsubaki,, ia teringat sebuah buku yang pernah ia baca. Naruto,, iblis bergelar hakaishin no kami karena ia membantai habis tentara old-satan saat terjadinya invasi beberapa ratus tahun silam. Tsubaki menggeleng pelan menghilangkan prasangkanya terhadap sosok sensei barunya.
Disisi lain seorang gadis berambut hitam diikat ekor kuda memandang Naruto intens 'bukankah dia Naruto-sama?' pikirnya dalam hati.
Dan pelajaran pun dimulai...
SKIP TIME pulang sekolah
"Baiklah,, pelajaran hari ini cukup sampai disini saja. Kalian boleh pulang" ucap Naruto mempersilahkan para anak didik nya untuk pulang.
"Rias,, waktunya kita pulang" ucap pelan Akeno yang duduk berada di samping Rias.
"Biarkan aku sendiri Akeno!" Ucap Rias pelan.
"Tolong kau lihat dulu siapa sensei baru kita" Rias mendesah mendengar permintaan tak masuk akal dari Queen nya itu. Ia menoleh ke arah bangku yang dibuat duduk oleh Naruto,, ia terpaku melihat siapa sosok yang menjadi guru barunya itu. Ia tak asing dengan wajah itu,, wjah sang kakak,, wajah yang selalu ia mimpikan.
"Ni-chan" ucap Rias kecil,, Naruto menoleh kearah sumber suara,, ia tersenyum kecil menanggapi ucapan dari sang adik Rias beranjak dari kursinya berlari ke arah Naruto,, sebutir liquid bening menetes dari kelopak matanya.
Rias berhenti didepan sosok yang dipanggil ni-chan itu. "Kenapa?" Ucapnya pelan namun masih dapat didengar oleh Naruto. "Kenapa ni-chan meninggalkan Rias sendirian?" Lanjutnya pelan. Naruto hanya dapat tersenyum menanggapi ucapan sosok adiknya. Ia berdiri dan melangkah pelan ke arah Rias yang menunduk berlinang air mata.
Mengusap mata sang adik pelan,, Naruto mengangkat dagu sang adik hingga ia dapat mendapati mata sang adik yang bengkak akibat air mata. "Hey,, kenapa menangis?" Ucap Naruto mengelap sisa air mata yang turun semakin deras. Rias hanya diam mendengar penuturan sang kakak yang berada di depan matanya itu. Entah ini mimpi atau kenyataan namun yang pasti jika ini mimpi Rias tak akan mau untuk bangun dari mimpinya ini.
"Apakah adik seorang hakaishin adalah seorang yang cengeng eh?" Lanjut Naruto menyindir sang adik. Rias hanya dapat memerahkan wajahnya mendengar nada sindiran dari sang kakak itu. "Ni-chan no baka'" ucap pelan Rias sembari memukul kecil dada bidang Naruto. "Baka baka baka ,baka!" Lanjutnya berkali kali,, ia memeluk erat tubuh sang kakak. Seulas senyum kecil tercipta di bibir Naruto,, Naruto tak mengira bahwa sifat adiknya ini akan seperti ini. Sebenarnya ia berharap Rias menjadi gadis yang baik, tegas, dan yang lebih penting...tidak egois dan keras kepala namun tak apalah,, asalkan ia tumbuh besar dengan baik Naruto tak masalah dengan sifat adiknya itu.
"Sudah waktunya pulang,, ayo ni-chan antar!" Ucap Naruto sembari tersenyum manis. Senyum itu,, senyum yang tak pernah ia tunjukkan selama ini. Senyum tulis tanpa adanya beban,, Rias berharap sang kakak tidak menghilangkan senyumnya itu,, walaupun hanya harapan yang tak mungkin terwujud,, tak ada salahnya bukan.
Dan Naruto akhirnya mengantar Rias ke ruangan klub tempatnya tinggal.
...
Kini Naruto tengah berada di ruangan klub yang terbilang cukup megah. Ruangan lebar dihiasi interior mewah menimbulkan kesan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Naruto duduk santai di sofa ruangan itu sembari membaca buku yang bertulisan magical knight sebuah novel yang menceritakan seorang yang payah dalam penggunaan sihir namun berbakat dalam penggunaan senjata. Sesekali ia tersenyum membaca apa yang menurutnya menarik itu.
"Ini tehnya Naruto-sama" seorang gadis berambut hitam dikucir ekor kuda keluar dari arah dapur sembari membawa nampan yang berisikan segelas teh dan beberapa cemilan. Naruto mengangguk tanpa menoleh ketika sang gadis berucap,, matanya menatap intens ke arah novel yang tengah ia baca. Merasa buku yang dibaca Naruto menarik,, sang gadis melangkah mendekati Naruto. Ia duduk di samping Naruto yang kebetulan masih terpampang lebar tak ada yang mendudukinya.
Yah,, memang diruang itu kini hanya ada Naruto dan Akeno mengingat Rias dan para pereagenya sedang menjalankannya kontrak dengan manusia demi kelangsungan hidup mereka. namun Akeno tinggal karena Rias memerintahkannya untuk menjaga sang kakak tercinta nya.
Akeno semakin merapatkan jarak antara ia dan Naruto. "Sepertinya buku itu lebih menarik ketimbang diriku ya,, Naruto-sama?" Naruto menghentikan acara membacanya,, ia menatap lekat ke arah Akeno yang kini menempel dekat dengan Naruto.
Ia tersenyum masam mendengar sindiran berupa pertanyaan dari setengah da-tenshi di sampingnya. "Mungkin" ucap Naruto singkat lalu matanya terfokuskan lagi ke arah buku yang berada di genggamannya. Akeno menggembungkan pipinya mendengar jawaban yang kelewat judes yang keluar dari mulut seorang yang notabennya kakak dari kingnya itu. Menatap lekat wajah serius Naruto,, Akeno tersenyum tanpa sadar.
Setelah dilihat lebih jauh lagi ternyata kakak kingnya itu makhluk yang baik dan... tampan. Pipinya bersemu merah entah dalam keadaan sadar atau tidak yang jelas ia terpana melihat sosok makhluk yang terlampau sempurna yang berada di depannya.
"Ne,, apakah Naruto-sama mempunyai seorang gadis-maksudku seseorang yang sedang dekat denganmu?" Naruto menutup bukunya keras ketika pertanyaan dari Akeno terlontar begitu saja. Entah apa yang membuat seorang Akeno berani berkata seperti itu.
"Tidak,, jika menurut mu aku adalah seorang yang bisa dalam berhubungan-maksudku dalam hal berpasangan atau dalam percintaan mungkin aku tak punya dan tak ingin terlibat dalam masalah itu"ucap Naruto tenang,, ia menatap langit langit ruangan itu,, pikirannya melayang mengingat sebuah memori yang begitu menyakitkan baginya,, bahkan ia tak kuasa mengingat memori nya bersama seorang gadis yang sangat ia cintai,, mungkin.
"Hahahahahah,, sepertinya bicara ku terlalu berlebihan ya?" Ucap Naruto disertai tawa canggung ke arah Akeno. Akeno terdiam beberapa saat namun senyumnya mengembang saat Naruto berucap.
"Lupakan saja,, bukan alasan yang penting. Jika Rias pulang katakan padanya aku meminjam kamarnya" "lanjutnya melangkah pergi meninggalkan Akeno seorang diri.
...
Another where
Seorang gadis berambut pirang panjang menatap ke arah langit. Pikirannya melayang mengingat masa lalu yang begitu indah menurutnya. "Tak lama lagi kita akan bertemu,, sudah ratusan tahun ya?...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
... Naruto-kun"
TBC
Osh,, pada akhirnya ryuki bisa update ch selanjutnya dari fic reincarnation of god rise of hakaishin ini. Aaaaa,, gomen atas keterlambatannya karena mod dari seorang ryuki ini sedang naik turun tak karuan heheheh...
Dan untuk yang udah rev, fav, maupun follow saya ucapakan terima kasih dengan sangat karena berkat kalian fic ni dapat berlangsung.
Ok di ch ini mungkin terlihat gak nyambung dari alur awal (menurut author juga begitu) namun yang jelas ada alasan dibalik sebuah tindakan bukan...
Ok sekian..Saya Ryuki no akagami menundukkan kepalanya sampai ke titik yang paling rendah hanya untuk mengatakan maaf kepada kalian para pembaca yang masih setia dalam menunggu fic gaje ini.
Next arch : teman lama,, perasaan yang tumbuh kembali
