"hey,, kenapa menangis?"

"Siapa yang menangis,, aku hanya kelilipan debu"

"Kau tak pandai dalam hal berbohong beelzebub-san!"

"Siapa kau?,, Kenapa kau tahu tahu margaku?"

"Naruto Gremory!"

Bangun dari tidur nyenyak nya,, Naruto membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya mentari menerpa. "Mimpi itu!" Gumamnya kecil. Ia mencoba bangun dari ranjangnya berniat melaksanakan ritual paginya namun niatnya urung karena ia merasa sesak didadanya seperti ada yang menimpanya.

Ia menyibakkan selimut melihat siapa/apa yang berada di atas dadanya. Senyum tercipta di bibir Naruto melihat siapa yang menimpanya. Ia menepuk pelan surai merah sosok yang berada diatasnya menyebabkan sang empu menggeliat tak nyaman. Sosok itu membuka matanya pelan,, pertama yang ia lihat adalah mata biru laut yang menyipit menandakan sang pemilik sedang tersenyum.

Bukannya bangun,, sosok itu masih tak bergeming dari tempatnya semula. "Sampai kapan kau akan tidur diatasku Rias?" Tanya Naruto sembari tersenyum namun Rias tak menggubris perkataan Naruto,, malahan ia semakin erat memeluk tubuh sang kakak.

"Biarkan seperti ini dulu nii-san!" Ucapnya lembut kemudian ia kembali menutup matanya. Naruto hanya dapat menghela nafas melihat tingkah Rias yang terbilang kekanak Kanakan itu,, jika terus seperti ini kapan ia akan punya kekasih?pikir Naruto menerawang masa depan yang ia dambakan.

Dalam khayalannya ia melihat Rias yang memakai gaun pengantin berwarna putih yang sangat cocok untuknya. Melangkah ke atas altar dengan sosok pria yang menjadi pendampingnya kelak dengan senyum yang terpatri di wajah masing masing mempelai. Namun sepertinya khayalan mu tak akan pernah terwujud Naruto!.

"Haaah,, hari ini kau harus berangkat sekolah bukan?" Tanya Naruto dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Rias tak merespon pertanyaan sang kakak,, ia mendongak memandang mata sang kakak yang berkilau itu. Ugh,, entah kenapa pipinya memanas menyadari betapa tampannya sang kakak nya itu.

"Ini hari Sabtu nii-san,, bisakah kau membiarkanku tidur beberapa menit lagi?" Jawab dan tanya Rias yang kembali meringkus ke dalam selimut merah yang ia kenakan sebagai penutup tubuhnya.

"Terserah" ucap Naruto acuh kemudian ia melanjutkan tidurnya karena sang adik yang tak kian beranjak dari atas tubuhnya. Tanpa sepengetahuan Naruto,, Rias tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan Naruto yang sudah pasrah.

Ruang ORC

Kini terlihat para pereage Rias berkumpul di ruangan yang terbilang mewah dan luas,, mereka sedang melaksanakan aktifitas masing masing. Akeno dengan acara memasaknya,, Koneko dengan cemilannya,, Asia yang bercanda dengan Xenovia,, Kiba yang mengasah pedangnya,, dan Issei yang mondar mandir tak jelas kesana sini.

"Dimana sih bochou?,, Tak biasanya ia bangun melebihi jam segini?" Umpat Issei kesal karena bochou nya tak kunjung keluar dari kamarnya.

"Ara issei-kun,, mugkin bochou sedang bermalas-malasan dengan Naruto-sama di kamar" ucap Akeno menanggapi umpatan issei.

Issei langsung pundung di pojokan menangis ala Anime "hiks,, hiks,, malangnya aku" gumamnya meratapi nasib.

Akeno dan semua orang terkikik geli melihat kelakuan dari pion tersayang milik Rias itu. Entah mengapa sikap konyol Issei membuat regu ini sedikit berwarna.

SRING

Lingkaran sihir tercipta di tengah ruangan memperlihatkan seorang copy-an dari Rias tapi dalam versi pria. Ia menatap sekeliling mencari sesuatu dan binggo, ia melihat seorang gadis berambut merah keluar dari kamar untuknya tidur.

"Oni-sama!" Ucap sang gadis terkejut melihat siapa yang datang. Sirzech Gremory,, maou Lucifer masa kini sekaligus kakak dari Rias Gremory.

"Apa kabar denganmu Rias?" Ucapnya sembari tersenyum manis. Rias membalas ucapan kakaknya dengan senyuman pula.

"Apa ada hal yang penting sampai kau secara pribadi menemuiku?" Kata Rias to the point. Sirzech mengangguk membenarkan dugaan Rias.

"Hanya ingin menyapa kadal merah,, kemarin Tannin menemuiku,, ia mengajukan diri untuk melatih Issei dalam mengendalikan boster gearnya!" Ucap sang maou menoleh ke arah issei yang entah kapan pulih dari pundung nya.

"Bagaimana issei?,, Apakah kau tertarik untuk menjadikan Tannin sebagai gurumu?" Tanya Sirzech kepada issei namun yang ia dapat hanyalah diam dari issei.

"Ano,, siapakah itu Tannin?" Tanya Issei memastikan siapa calon dari sensei barunya itu. Ia tidak mau jika dilatih oleh orang lemah karena ia harus melindungi orang yang ia sayangi.

"Raja naga yang menjadi iblis karena entah sebabnya" bukan Sirzech yang berkata melainkan sosok Naruto yang keluar dari kamarnya mengenakan handuk untuk menutupi bagian err 'terlarangnya'.

Sirzech harus membulatkan mata tak percaya siapa yang menjadi pusat dari suara yang menjawab pertanyaan Issei,, sang kakak kini berada di depannya dengan mata yang terlihat cerah tak seperti terakhir kali ia bertemu Naruto.

"O-oni-sama" ucap gagap Sirzech yang masih tak percaya melihat siapa yang berada di depannya.

"Yare-yare,, apakah aku membuatmu terkejut Sir?"

"T-tidak,, hanya saja..." Sirzerch menjawab dengan suara yang semakin memelan berharap sang kakak tak mendengarnya.

"Hanya saja?"

"A-ah,,b-bukan apa apa" jawabnya lagi.

Naruto melangkah ke arah lemari kecil yang kebetulan berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Membukanya dan binggo,, ia melihat jas hitam tergantung rapi di dalamnya. Naruto memakainya dengan rapi layaknya manusia biasa.

"Osh,, waktunya jalan-jalan" ucapnya kemudian melangkah pergi namun langkah Naruto terhenti ketika sebuah tangan menepuk pelan pundaknya.

"Bisakah kau ikut denganku sebentar oni-sama?" Tanya Sirzech selaku pelaku dari penepukan pundak Naruto.

Tanpa membalas,, Naruto melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu keluar,, sebelum ia membuka pintu,, Naruto melirik Sirzech dengan ekor matanya seperti berkata 'ikut aku'. Sirzech mengangguk mengiyakan kode dari sang kakak.

Taman kota

Kini Sirzech dan sang kakak tengah berjalan santai mengelilingi taman kota yang begitu ramai pengunjung. Suasana damai yang membuat hati tenang,, itulah pemikiran Sirzech.

"Bagaimana dunia ini?" Tanya Naruto memandang seorang ayah yang sedang bermain bola dengan anaknya. Sesekali sang anak cemberut karena tidak bisa merebut bola dari sang ayah. Naruto terkekeh pelan melihat betapa lucunya anak kecil menurut nya.

Tanpa sepengetahuan Naruto,, Sirzech mengamati wajah Naruto yang terlihat begitu senang melihat canda tawa ayah-anak yang tengah Naruto Pandang.

"Tertarik?" Tanya Sirzech ambigu namun Naruto dapat mengerti apa maksud dari sang adik.

"Tidak mungkin!" Sangkal Naruto.

"Haaah,, aku tak tahu kenapa kau selalu menyangkal saat membahas seorang gadis oni-sama?" Ungkap Sirzech kepada yang kakak.

Naruto tersenyum mendengar ucapan sang adik itu. Memang benar ia selalu menyangkal jika itu berhubungan dengan yang namanya perempuan,, sebenarnya bukan masalah suka atau tidaknya melainkan apakah perasaan seperti itu benar ada?,, Pertanyaan itulah yang membuat Naruto tak pernah dekat dengan yang namanya gadis. Walaupun dulu ia pernah.

Hening sesaat setelah Sirzech berucap. "Jujur sir!,, Kadang aku iri melihat manusia dan makhluk lainnya dapat menikah dan bercanda tawa dengan keturunan mereka" ucap Naruto masih dalam keadaan tersenyum.

Sirzech tersenyum mendengar ungkapan hati sang kakak itu. Semasa hidupnya baru kali ini sang kakak begitu terbuka kepada orang lain selain ayah dan ibu.

"Jika begitu kau tinggal menikah saja bukan?,, Apa susahnya?" Tanya blak-blakan Sirzech sembari mengamati apa yang kakaknya amati.

Naruto menggeleng pelan mendengar jawaban yang menurutnya tak menyelesaikan masalah terlontar begitu saja dari mulut sang maou. "Tidak mudah-" Naruto menggantung ucapannya.

"Dari dulu aku selalu berpikir apa yang menyebabkan dua lawan jenis begitu tertarik satu sama lainnya dan dapat bertahan dalam satu atap yang sama" lanjutnya masih dalam keadaan tersenyum

"Jawabannya adalah kasih sayang oni-sama!,, Itu yang membuat kami dapat bertahan!" Ucap Sirzech menjawab rasa penasaran Naruto.

Naruto mengerutkan keningnya tanda tak mengerti "apakah sama seperti aku-kita menyayangi keluarga sendiri?" Ucap polos Naruto,, walaupun ia adalah ekstensi yang paling ditakuti tiga fraksi namun ada kalanya sifat polos yang terlampau polos keluar begitu saja dari diri Naruto yang terdalam.

Ingin rasanya Sirzech tertawa mendengar pertanyaan polos dari sang kakak namun ia menahan sekuat mungkin tawanya agar tidak mengubah mod dari sang kakak yang berubah ubah tak tentu.

"Bukan,, maksudku kasih sayang dalam hal ini adalah cinta!" Jawab Sirzech tersenyum masam sembari memandang sang kakak yang masih memasang raut wajah polos nan tak mengerti.

"Cinta kah?. Ne,, apakah aku bisa berkeluarga Sir?"

"Maksudmu?" Ucap Sirzech menjawab perkataan tak masuk akal yang keluar begitu saja dari mulut Naruto.

"Tidak!. Hanya saja..."

Sirzech memandang wajah sang kakak dengan raut muka serius menunggu kelanjutan dari kalimatnya yang entah sengaja atau tidak digantung. "Haaaah,, lupakan saja Sir,, bukan hal penting... ngomong-ngomong kenapa kau menemuiku?" Tanya Naruto kepada Sirzech yang masih memasang raut wajah serius nya.

",, aku menerima surat dari Azazel"

"Tertarik!"

"Ia memohon kepada masing-masing perwakilan dari ketiga fraksi untuk menghadiri pertemuan yang akan diselenggarakan di kota kita,, kuoh!" Ucap Sirzech memandang datar ke arah sang kakak.

Naruto tersenyum masam mendengar penuturan sang adik yang terbilang 'arogan' itu. "Apa kau melupakan sesuatu Sir?" Tanya Naruto memandang luas ke arah taman didepannya.

"Ku rasa tidak!" Jawab Sirzech tak menyadari kesalahannya.

"Berapa kali aku harus mengingatkan ?"

"Maksudmu?"

"Wilayah kuoh...bukan wilayah kaum iblis,, wilayah itu hanya pinjaman semata. Seharusnya kau lebih tau mengingat kau yang mendampingi ku saat konferensi waktu itu bukan?"

Sirzech diam mendengar perkataan panjang dari sang kakak. Memang benar jika kuoh hanyalah pinjaman dari mitologi norse sebagai symbol aliansi. Tapi karena kearoganan iblis yang menginginkan kuoh,, mungkin aliansi ini akan berakhir.

"Lupakan!,, Yang terpenting kau harus menghormati Azazel dengan cara menghadiri pertemuan itu!" Ucap Naruto kepada Sirzech,, ia melangkah ke arah sebuah pohon rindang besar yang mempunyai daun lebat. Sirzech mengikuti sang kakak dari arah belakang.

"Saat kau memperlakukan makhluk hidup dengan cara yang baik maka kau akan dibalas dengan kebaikan pula" ucap Naruto memungut sebuah sarang burung yang jatuh lalu mengembalikan ke tempat semula. Naruto memandang sarang burung yang tadi ia pungut,, tak lama kemudian sosok burung dewasa menghampiri Naruto seakan berterima kasih kepadanya. Naruto tersenyum menanggapi sang burung lalu ia mengangguk pelan.

"Bahkan untuk seekor burung,, mereka juga mempunyai sifat seperti itu" ucap Naruto memandang burung yang seperti bermain dengan para anaknya.

"Aku mengerti!" Ucap Sirzech kemudian ia menghilang ditelan lingkaran sihir khas klan Gremory.

"NI-SAN" teriakan seorang gadis masuk begitu saja ke Indra pendengaran Naruto,, menoleh ke arah sumber suara Naruto melihat sosok adik tengah berlari kearahnya.

Naruto tersenyum masam "dasar anak itu!" Gumam Naruto tak habis pikir dengan sang adik.

"Kenapa kau tau aku disini?" Tanya Naruto walaupun ekspresi nya tidak menunjukkan niat bertanya. Rias menggembungkan pipinya kesal mendengar tanggapan sang kakak. Bukannya senang malah ia membuat kekesalan Rias semakin menjadi.

"Hey,, aku dan ni-san itu saling terhubung jadi di manapun ni-san berada aku pasti mengetahui nya!" Ucap Rias menunjuk dada bidang Naruto,, menekan-nekannya pelan menyebabkan Naruto meringis menahan sakit yang tak seberapa.

"Kita pulang!" Ucap Naruto melangkah melewati Rias yang tak bergeming menanggapi ucapan Naruto.

"Kenapa?" Ucap Naruto bingung melihat Rias yang tak keranjang dari tempatnya berdiri. Rias menunduk menanggapi ucapan Naruto membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya. "B-bisakah kita berjalan-jalan sebentar di taman ini?" Bujuk Rias kepada sang kakak.

"Haaah,, kau ini!" Ucap Naruto kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah Rias yang merona entah apa sebabnya. "Ayo!,, Kau bilang ingin berjalan-jalan bukan?" Tanya Naruto kepada Rias,, Rias mengangguk mengiyakan perkataan dari sang kakak.

"Lalu?" Tanya Naruto lagi,, Rias hanya diam tak mengerti maksud dari sang kakak. "Apa yang kau tunggu?" Lanjutnya langsung menyeret Rias tanpa aba-aba membuat Rias tersentak.

Satu hari penuh mereka jalani hanya dengan cara berjalan-jalan berkeliling taman sambil bercanda-gurau. Mereka berjalan-jalan layaknya seorang kekasih,, yahhh kalian tau lah.

Tak terasa hari sudah mulai gelap,, di taman itupun banyak orang berlalu lalang pergi untuk pulang. Sepi,, hanya kata itu yang dapat diungkapkan mengenai keadaan ini.

"Sepertinya hari sudah mulai gelap Rias!" Ucap Naruto menoleh ke arah Rias yang sedang senyam-senyum tak jelas. Naruto hanya dapat menghela nafas melihat sang adik yang sudah berada jauh darinya(baca:menghayal).

"Rias?" Lamunan Rias buyar ketika sang kakak menepuk bahu kanannya. "Kau mengagetkan ku baka!" Umpat Rias lalu melangkah pergi meninggalkan Naruto yang memiringkan kepalanya.

Naruto melangkah menyusul Rias yang sudah berjalan jauh didepannya,, tersenyum tipis melihat punggung sang adik yang melangkah kesal menghentakkan kakinya ke tanah. Sifat itu...mirip 'dia',, gadis yang pernah singgah di hatinya.

Walaupun Naruto belum pernah merasakan apa itu yang namanya cinta namun Naruto tak bodoh menyadari perasaannya.

Entah sudah berapa lama Naruto tak bertemu sosok gadis yang pernah membuatnya jatuh cinta menurut nya,, jika boleh jujur Naruto merindukannya, ingin rasanya ia bertemu dengannya.

Hawa sekitar tiba tiba menurun drastis. Rias dan Naruto berhenti melangkah ketika merasakan hawa yang tak asing bagi mereka. Iblis,, hawa ini adalah hawa iblis tingkat tinggi dan mungkin cukup kuat untuk mengalahkan satu set pereage lengkap yang masing masing bidaknya menempati peringkat high class.

Sebuah lingkaran sihir terlihat tak kala Rias dan Naruto berhenti. Rias bersiap dengan kuda-kuda hendak menyerang namun niatnya urung tak kala Naruto menahan Rias dengan cara melambaikan tangannya di depan Rias.

Sosok berambut pirang yang memakai pakaian layaknya seorang manusia biasa dengan gaya rambut dikucir kepang dengan mata yang tertutup poni terlihat ketika lingkaran sihir menghilang. Tersenyum,, sang gadis tersenyum melihat Naruto dan begitupun sebaliknya.

Sang gadis melangkah ke arah Naruto dengan senyum terpatri di wajah cantiknya. Tangannya seakan ingin meraih tubuh Naruto,, ia berlari kecil dan...

Bruuukkk

Sang gadis menabrak Naruto,, ia memeluk nya erat. "Lama ya?" Ucapan ambigu keluar dari sang gadis. Ia tersenyum disela pelukannya,,

"Hm,, sudah lama sekali sejak hari itu!" Jaab Naruto membalas pelukan sang gadis. Ia mendekapnya erat tak ingin sang gadis lepas.

Selang beberapa lama mereka akhirnya melepas pelukan masing masing. "Bagaimana kabarmu Naruto?" Ucap sang gadis sembari tersenyum manis ke arah Naruto.

"Kabarku baik...

.

.

.

.

.

.

.

"...Hildegarde"

...

Sekarang Naruto tengah berada di tempat bagi para klub ORc berkumpul. Dimana lagi kalau bukan tempat pribadi mereka. Diruanganku itu para pereage Naruto sedang berkumpul.

Naruto duduk memejamkan mata mendengar ocehan dari sang adik yang terlihat kesal. "Jadi ni-san?,, Bisakah kau menjelaskan siapa gadis yang tiba-tiba memelukmu ini?" Tanya Rias menuntut di depan Naruto. ia berkacak pinggang dengan mata menatap tajam sembari menunjuk sosok gadis yang tertidur pulas di pangkuan Naruto. Hildegarde,, itulah nama sang gadis

Naruto menghela nafas lelah. Entah kenapa ia merasa seperti penjahat kelamin yang meninggal kekasihnya untuk pergi bersama gadis lain.

"Hildegarde!" Jawab Naruto memandang Rias yang masih menatapnya tajam. "Bukan nama yang aku tanyakan!,, Maksudku apa hubunganmu dengan gadis itu?,, Dan lagi... Kenapa ia sepertinya sangat senang melihatmu?" Tanya Rias blak-blakan,, entah kenapa ia sekarang sudah berada di luar karakter yang biasa ia ketarakan.

Naruto diam,, ia berpikir apa yang akan ia jawab. "Hilda!,, Atau bisa kau panggil Hildegarde Beelzebub. Sementara ini hanya itu yang harus kau ketahui!. Dan untuk hubungan?,, Mungkin Hilda akan menjawabnya!" Ucap Naruto menunduk memandang wajah damai Hilda yang tengah tertidur sembari memeluknya.

Rias memandang sang kakak dengan pandangan yang sulit diartikan. Senyuman itu,, senyum yang belum pernah Rias lihat. Senyum yang melambangkan kerinduan,, tapi ini berbeda.

"Ara-ara,, apakah Naruto-sama ku ini sudah berani berselingkuh dari Akeno mu ini?,, Um aku jadi sedih!" Ucap Akeno dengan nada yang dibuat sedih. Entah itu bohong atau memang ia menyimpan perasaan kepada Naruto,, Naruto sama sekali tak memikirkannya.

"Hildegarde Beelzebub,, dulu ia adalah iblis terlantar dari clan Beelzebub karena ia tak memiliki kemampuan layaknya Beelzebub" ucap Naruto bercerita tentang masa lalu Hilda,, ia tersenyum membelai wajah sang gadis yang tengah tertidur.

"Aku menemukannya saat aku dan ayah tengah berkeliling mekai,, ia menangis di tengah jalan,, terisak sendirian,, tak ada yang menolong atau peduli padanya"

Flashback

Hari ini Naruto dan sang ayah berkeliling mekai,, ini adalah permintaan Naruto karena ia ingin lebih mengenal tempat yang ia anggap kampung halaman.

Hari ini juga adalah hari ulang tahun Naruto yang ke enam dan ia meminta sang ayah melakukan ini sebagai hadiah untuknya.

Tak terasa sudah hampir sore mereka mengelilingi seluruh mekai,, tak satupun tempat yang mereka lewatkan.

"Uaaah,, aku lelah ayah!" Ucap Naruto melangkah di samping sang ayah yang berekspresi sulit diartikan.

"Salahmu sendiri berkeliling mekai dalam waktu satu hari,, seharusnya kita bisa menyelesaikannya besok atau lusa. Tapi kenapa harus sehari?,, Aku tekankan lagi SEHARI?. Tidak ada seorang iblis yang tergolong muda melakukan apa yang kau lakukan hanya dalam waktu satu hari" umpat sang ayah kesal kepada Naruto.

Naruto tersenyum. "Ayah!,, Aku memang kecil tapi stamina dan otakku ini tergolong iblis dewasa loh!" Ucap Naruto membanggakan diri.

"Kau dan kedewasaan yang terlalu cepatmu itu!" Cibir sang ayah. Dalam hati ia bangga kepada anaknya ini,, dalam usianya yang terbilang masih seukuran biji jagung,, ia sudah memiliki tingkat stamina dan kecerdasan yang menyamai orang dewasa,, bahkan Archadeus(Lord sitri) mengakui kemampuan otak anaknya itu.

Mereka terhenti ketika mendengar tangisan seseorang. Gadis berusia sekitar lima tahun menangis di pinggir jalan,, bajunya terlihat kotor tak layak.

Naruto memandang sang gadis penuh iba,, ia ingin menolongnya tapi,, apakah ayah memperbolehkannya?.

Sang ayah tersenyum melihat tatapan iba dari sang anak,, ia menghampiri sang anak, merunduk mensejajarkan tingginya dengan sang anak

Tangan kanannya yang kekar menepuk kepala Naruto pelan,, mengacak-acak rambut pirangnya sampai rambutnya berantakan.

"Pergilah!,, Lakukan apa yang menurut mu benar!" Ucap sang ayah dibalas anggukan oleh Naruto.

Naruto melangkah pelan menghampiri sang gadis,, ia mendengar suara isakan tangis yang semakin keras menandakan sang gadis menahan tangisnya.

"Hey,, kenapa kau menangis?" Tanya Naruto sembari duduk di samping sang gadis.

Tanpa menoleh sang gadis itu menjawab. "Aku tak menangis,, mataku hanya kelilipan debu!" Sangkal sang gadis.

"Kau tidak pandai dalam hal berbohong Beelzebub-san!" Ucap lembut Naruto memandang wajah sang gadis yang kini menoleh ke arahnya.

"Siapa kau,, kenapa kau tahu margaku?"

"Naruto Gremory"

Flashback off

"Sejak saat itu Hilda tinggal di mansion Gremory. Ia seorang yang baik walaupun sisi baiknya ditutupi oleh topengnya" jelas Naruto menceritakan masa lalu sang gadis.

Semuanya terdiam mendengar cerita Naruto. "A-"

"Aku tak ingin kau bertanya lagi Rias!" Rias ingin berucap namun Naruto langsung memotong ucapan dari Rias.

Hening

Hening

Hening

"Masa lalu ku...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tak ada hubungannya denganmu"

.

.

.

TBC.

Yooo,, kembali lagi dengan author tertampan dari yang paling tamvan ini,, mueheehhwh

Yap untuk kalian yang penasaran dengan siapa gadis pirang di ch kemarin,, di ch ini jawabannya.

Ryuki sengaja buat wordnya segini mengingat isinya tidak ada unsur adventure atau supranatural;v

Tapi jangan khawatir ch depan akan saya buat 3-4k kok. Dan untuk pair apakah ada saran?,, Kenapa saya bertanya karena akan ada kejutan di ch depan mueheheheh. Dan mungkin para Reader-san tau jawabannya. Dan untuk yang mengira bahwa ini ada unsur penghianat cinta,, kalian salah besar

Oh satu lagi,, apa menurut reader-san cerita in mainstream?,, Gaje atau yang lainnya. Jika ada yang mau berpendapat jangan sungkan langsung pm atau tulis kolom Review,,

Untuk yang menunggu fic prince of magic(menundukkan kepala sampai tak dapat dilihat bagaiman ekspresinya) mungkin akan hiatus sementara karena para senpai menyarankan saya untuk fokus satu fic ini dan,, sudah diputuskan fic inilih yang akan saya tekuni

Osh,, mungkin sampai disini dulu perjumpaan kita kali ini. Jangan lupa follow fav Ama revnya yaa,, Ryuki tunggu.

Jaa ne