Duduk merenung di tepi danau yang indah karena pantulan cahaya rembulan yang bersinar terang,, seorang gadis berambut merah menundukkan kepalanya menatap air kolam yang dingin

Kakinya menapak air kolam merasakan sensasi segar yang menenangkan. Kembali ia mengingat kejadian sore tadi dimana sosok yang ia Kagumi melontarkan perkataan yang begitu menyakitkan kepadanya.

Flashback

"Masa lalu ku tidak ada hubungannya denganmu!" Ucap Naruto memandang datar ke arah Rias membuat Rias dan para pereagenya tersentak kaget. Dan entah sejak kapan rmtubub tidur Hilda menghilang dari situ

"Apa maksudmu?" Hanya itulah yang dapat Rias ucapkan kala sang kakak berkata begitu pedasnya kepadanya.

"Naruto-sama!,, Apa maksudmu berkata seperti itu kepada Rias?...aku mengerti jika kau tak ingin masa lalumu kami ketahui tapi,, seharusnya kau tak berkata tajam seperti itu bukan?" Ucap Akeno datar sembari memandang tajam Naruto.

Naruto terdiam mendengar perkataan dari gadis yang notabennya Queen dari adiknya. "Apa kau tak memikirkan perasaan adikmu mendengar kata tajam dari kakaknya sendiri HAH" bentaknya kepada Naruto.

Naruto tersenyum mendengar perkataan Akeno. "Kau harusnya diam, setengah darah!" Hardik Naruto kepada Akeno yang memandangnya tajam. Tatapan tajam Akeno kini melembutkan disertai mata yang memerah karena perkataan yang menurut Akeno menyakiti hati.

Jujur memang ia setengah darah tapi ia tak pernah menginginkan darah malaikat buangan itu mengalir di dalam tubuhnya. Ia menunduk menahan air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya.

"Dan...oh kenapa dengan kalian berdua Issei, Kiba?. Apa kalian tak senang jika aku berkata seperti itu kepada king dan Queen kalian eh?" Naruto yakin perkataannya memancing dua orang pria yang berdiri tegap di depannya itu. Terbukti saat ini sang iblis yang bergelar Red Dragon Emperor memandang tajam ke arah Naruto dan Kiba yang sekarang sudah mengepalkan tangannya erat.

"Heh?,, Kenapa diam?. Kalian tidak terima bukan...lucu sekali manusia yang menjual dirinya menjadi iblis hanya karena ingin menjadi raja harem seperti dirimu ingin marah kepadaku!" Ucap Naruto menyindir Issei.

Memang benar Issei menjadi iblis karena ingin menjadi king Harem karena iming iming dari sang king. Tapi tidak sepenuhnya benar karena ia menjadi iblis akibat ia mati di bunuh da-tenshi yang menyamar menjadi manusia.

"A-"

"Kau menjadi iblis karena kau terbunuh oleh da-tenshi yang menyamar menjadi manusia begitu?" Tanya Naruto memotong perkataan Issei yang belum tersampaikan.

"Tetap saja bukan?,, Seharusnya jika kau tak menginginkan menjadi iblis kau bisa membunuh diri sendiri!" Lanjut Naruto dengan tatapan datar

Tanpa disadari mereka kecuali Naruto, seorang pria berambut merah mendengar percakapan di balik pintu masuk gedung itu. 'kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan menghadapi ujian dari kakakmu itu Rias' pikirnya kemudian ia menghilang diterpa angin malam.

Flashback off

Tak terasa air mata Rias mengalir di wajah cantiknya. Ia menangis mengingat perkataan yang begitu menyayat hati dari sang kakak. "Hiks hiks" ia terisak tak dapat menahan tangisnya lagi.

Tanpa ia sadari, seorang bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari tempat Rias menangis. Ia mendengar isakan Rias dengan sangat jelas. "'Gomenei,, ini semua demi kebaikanmu dan yang lainnya" gumamnya entah kepada siapa.

"Kuharap kau lulus dari ujian ku dan membuktikan bahwa kau layak!" Ucapnya ambigu lalu ia melebur menjadi daun pohon yang kering diterpa angin.

Rias mengusap air matanya pelan. "Tidak!,, Aku tak boleh menangis hanya karena ucapan ni-san yang hanya seperti itu. Aku harus bertanya kepada ayah mengenai gadis Beelzebub itu dan mengenai sikap ni-san kepadaku" mulai saat itu seorang Rias Gremory bertekat untuk mengetahui lebih banyak lagi mengenai sang reinkarnasi Pharaoh.

...

Malam sunyi dihiasi bintang yang bertaburan diatas langit yang diterpa sinar rembulan. Naruto duduk disebuah kursi taman yang sunyi. Hanya cahaya rembulan yang menemani nya malam ini.

Tiba tiba ia merasakan energi yang sangat besar bahkan melebihi Ophis yang diberi julukan sang tak terbatas. Sosok gadis berambut perak menyala datang menghampiri Naruto yang duduk santai di taman itu.

Sosok itu duduk disamping Naruto tanpa rasa takut sekidikpun. Naruto tersenyum melihat siapa yang datang. Sanga paradox,, naga yang tak pernah diketahui sejauh mana kekuatannya dan bahkan sekarang keberadaannya sudah dianggap tiada oleh para fraksi. Hanya segelintir yang tahu jika sang paradox masih hidup

Entah kenapa ia mendatangi Naruto dalam wujud manusianya. Jika dipikir pikir wajah sang paradox mania juga ya?,, Naruto menggeleng pelan menghilangkan pikiran yang tak senonoh mengenai sang naga

"Apa kabar para-"

"Shella!,, Panggil aku Shella!" Naruto ingin menyapa sang paradox namun perkataannya telah dipotong oleh sang naga.

Naruto menghela nafas lalu ia berucap "apa kabarmu Shella-sama?" Ucapnya sembari tersenyum ramah namun Shella menanggapi ucapan Naruto dengan pandangan yang begitu datar.

Shella menoleh ke arah Naruto. Ia tersenyum lembut ke arahnya. "Kabarku baik!" Balasnya tersenyum

"Souka!"

Keadaan menjadi hening tak kala Naruto berucap. Entah kenapa rasa canggung mulai menghampiri Naruto yang biasanya tak pernah canggung dalam menghadapi siapa saja.

"Ku dengar Hilda sudah kembali ke pelukanmu ya?" Ucap Shella tanpa menoleh ke arah Naruto,, ia memandang langit malam yang ditaburi ribuan bintang menambah kesan indah malam itu.

Naruto menghela nafas mendengar ucapan absur dari sang naga legenda itu "dia kembali!,, Namun niat apa yang ia bawa. Aku tak mengerti!" Jawab Naruto memandang arah yang dipandang Shella.

Shella tersenyum ke arah Naruto. Entah kenapa ia ingin tertawa mendengar ucapan dari sosok hakaishin disebelahnya. "Aaa...lupakan itu, bagaimana kalau kita membahas tentang hubungan kita?" Canda Shella kepada Naruto namun yang ditanya malah asyik bermain dengan seekor tupai yang entah sejak kapan duduk di pangkuannya.

"Mou,, bisakah kau memperhatikan ku sekali saja Naruto-kyuun?" Ucap Shella dengan nada yang dibuat merajuk agar Naruto menanggapi namun Naruto hanya menghela nafas panjang melihat tingkah absur dari sang naga paling ditakuti yang tengah duduk disampingnya.

"Shella-sama!,, Anda terlalu banyak berbasa-basi!" Ucap Naruto tanpa menoleh membuat orang yang ditanya menggembungkan pipinya kesal. Namun ekspresi itu tak bertahan lama diganti dengan ekspresi datar tanpa adanya kehidupan didalamnya.

"Kapan kau ingin melepas segelnya Naru?" Ucapnya dengan nada datar namun Naruto yakin ia khawatir dengan kondisinya yang semakin memburuk

Bukan kondisi tubuh,, melainkan jwa yang tertidur di tubuh ini,, jiwa makhluk nomer dua tertinggi dijajaran yang tertinggi,, hanya sang kami yang berani mengusiknya

"Kau tau Shella-sama?,, Aku tak ingin melepas segelnya ini sampai kapanpun juga!" Jawabnya datar tak kalah dengan Shella.

"Dulu sebelum aku menyegel kekuatan terkutuk ini,, aku sering bermimpi aneh" lanjut Naruto menerawang langit mengingat mimpi apa yang setiap malam selalu ia mimpikan.

"Aku selalu bermimpi aku melihat sosok diriku melawan ke-tiga fraksi yang berseteru. Bahkan hanya dengan tangan ini" Naruto menatap tangan kanannya "ia membantai habis ribuan- tidak,, belainkan jutaan dari masing masing fraksi,, mimpi itu terus saja berlanjut sampai kejadian itu" Shella mendengar dengan jelas apa yang diceritakan Naruto. Ia mengerti kenapa Naruto bermimpi tentang hal yang tidak masuk akal seperti itu

",,,saat kejadian itu,, dimana kau datang dan menyegel kekuatanku aku tak pernah lagi memimpikan hal itu!" Naruto bercerita apa adanya mengenai apa yang pernah ia alami.

"Walau aku sudah menyegel kekuatan ini,, namun ada perubahan di dalam diriku" ucap Naruto melanjutkan ceritanya.

"Aku tak bisa mengontrol emosiku!,, Senang, sedih, cinta, bahkan rindu aku tak dapat mengontrolnya. Emosi itu muncul begitu saja tak tentu!. Ada kalanya aku ingin seperti makhluk pada umumnya. Merasakan apa itu perasaan walau aku bisa merasakannya aku bingung dengan apa yang aku rasakan!" Jika bukan Paradox yang berargumen dengan Naruto,, Naruto yakin orang itu pasti akan bingung dengan perkataannya. Untung saja ada yang mengerti apa yang ia ucapkan walau bukan makhluk biasa sekalipun.

Keadaan menjadi hening ketika Naruto selesai mengucapkan isi hatinya. Iba,, yaaa Paradox menatap iba Naruto yang menginginkan hidup normal layaknya semua orang.

"Kekuatan yang besar memiliki resiko dan tanggung jawab yang besar pula Naruto!" Ucap Paradox mencoba membuat Naruto mengerti.

"Kekuatan itu!" Paradox menyentuh dada Naruto pelan. "Kekuatan yang akan menjadi penentu antara akhir dan awal" lanjutnya mengelus dada bidang Naruto.

"Tapi kenapa Tuhan memberiku yang notabennya makhluk terlaknat kekuatan sebesar ini?,, Sedangkan diriku hanyalah ibl-"

"Kau bukan iblis Naru!" Paradox memotong perkataan Naruto yang belum tuntas itu tegas. Entah kenapa dalam nada suaranya ia tak terima jika Naruto menyebut dirinya iblis.

"Apa maksudmu?" Tanya Naruto kepada sang naga yang masih mengelus dadanya pelan.

"Ada sebuah cerita yang belum harus kau dan para fraksi lainnya ketahui,, cukup aku dan saudariku yang tahu tentangmu!" Naruto memandang bingung apa yang diucapkan sang Paradox namun ia pasrah mengingat perkataan Paradox tak bisa diganggu gugat.

"Dan ada pula rahasia tentang kau, aku dan saudariku!" lanjutnya pelan namun masih dapat didengar oleh Naruto.

Naruto menatap Paradox dengan tatapan bertanya. Bukan apa yang disampaikan Paradox barusan,, melainkan perkataan yang menyangkut nya dengan sang naga di depannya.

"Aku tak mengerti!" Ucap Naruto kearah Paradox yang duduk di sampingnya. Sang Paradox tersenyum misterius namun ia tak menjawab pertanyaan Naruto.

"Tunggulah saat waktunya tiba,, saat itu semua kebenaran akan terungkap" ucap Shella ambigu membuat Naruto harus memutar otaknya keras. Shella bangkit dari duduknya, ia melangkah pergi dan menghilang di tengah gelapnya malam.

Kini tersisa Naruto yang masih mencerna perkataan dari sang Paradox. Entah kenapa Naruto merasakan bahwa masih banyak rahasia di dunia ini yang belum ia ketahui.

"Aku tak mengerti apa yang kau katakan namun aku akan berusaha untuk mencari tau!" Gumam Naruto pelan. Ia melangkah ke arah kegelapan dan perlahan tubuhnya melebur menjadi daun kering yang pergi diterpa angin malam.

...

ORC club

Entah sejak kapan Rias telah sampai di ruang clubnya. Ia duduk sembari memandang teh yang disajikan oleh sang Queen nya.

Perkataan sang kakak masih terngiang jelas di kepalanya. Entah kenapa ia tak bisa melupakannya walau sekilas. Disatu sisi ia kecewa, kecewa dengan kakaknya yang tiba-tiba berubah dalam hal sikap. Disisi lain ia penasaran kenapa sikap sang kakak seperti itu tanpa alasan yang jelas.

"Masih memikirkan Naruto-sama!, Bochou?" Rias tersentak kala Akeno menepuk pundaknya sembari bertanya.

Rias terdiam mendengar pertanyaan yang menurutnya Akeno sendiri sudah tahu jawabannya. "Kau sudah tau bukan?" Tanya balik Rias tanpa menoleh ke arah Akeno yang sudah duduk disisinya. Matanya masih fokus ke arah minuman didepannya. Tak ada niatan untuk berpaling

"Kita akan tahu cepat atau lambat Rias!" Ucap Akeno lembut dibumbui senyum yang terpatri diwajah cantiknya.

"Dan apa tidak sebaiknya kita tanyakan kepada Sirzech-sama mengenai Naruto-sama?" Lanut dan tanya Akeno serius.

"Aku juga berpikiran hal yang sama dengan apa yang kau pikirkan Akeno!" Balas dan terang Rias kepada Akeno. Akeno tersenyum mendengar perkataan dari sang king-nya itu.

"Jadi?" Tanya ambigu Akeno membuat Naruto menatap Akeno dengan tanda tanya yang mucmncuk secara ajaib di atas kepala darah sang Gremory.

"Apa yang kau tunggu?,, Lebih cepat lebih baik kan?" Lanjut Akeno tersenyum ke arah Rias yang terdiam.

"Tapi-"

"Sebelum itu aku ingin kau mendengar cerita ku Bochou!" Kedua gadis yang tengah berunding kini harus dibuat terkejut karena seseorang tiba-tiba berucap secara datar.

Rias dan Akeno menoleh ke asal suara itu. Mata mereka melihat seorang gadis yang mempunyai tubuh loli dengan rambut berwarna perak menyala dilengkapi dengan wajah datar dan pandangan dingin.

"Maksudnya?" Tanya Akeno tak mengerti kepada yang gadis.

"Hah,, dengarkan baik-baik karena aku tak mau mengulanginya lagi!" Kata sang gadis serius membuat Rias dan Akeno menatap sang gadis dengan raut wajah serius pula.

"Kalian tahu senjutsunya bukan?" Tanya sang gadis kepada Rias dan Akeno yang menganggukan kepala tanda mengerti.

"Dan kemampuan senjutsunya antara lain dapat merasakan perasaan seseorang yang ia targetkan" Rias dan Akeno sekali lagi mengangguk ke arah sang gadis.

"Dan kemampuan lainnya adalah dapat membaca pikiran seseorang namun itu hanya dimiliki para petinggi dari ras yang mampu menggunakan senjutsu secara sempurna" oke, sekarang Rias dan Akeno kebingungan mendengar pernyataan dari sang gadis yang terbilang sulit untuk dimengerti.

"Saat itu tanpa sengaja senjutsuku secara otomatis keluar begitu saja" lanjutnya pelan. Ia berhenti guna mengambil nafas.

"Maksudmu tertarik paksa begitu?" Tanya Rias kepada sang gadis. Sang gadis diam lalu kemudian mengangguk pelan.

"Ya!" Jawabnya tegas, datar tanpa ekspresi...itulah yang ia tunjukan.

"Sebenarnya aku tak ingin percaya ini!,, Konon hanya legenda kaum yokai sang jubi no okami yang mempunyai kemamseperti itu" lanjut sang gadis tenang.

Akeno dan Rias memiringkan kepala tanda tak mengerti. "Sebenarnya aku belum paham apa yang kau maksud itu...dan apa hubungannya dengan Naruto-sama?" Tanya Akeno dengan wajah yang tersirat kebingungan.

Gadis uban itu terdiam entah kenapa. "Saat senjutsuku keluar bertepatan saat Bochou ingin bertanya namun dipotong oleh Naruto-sama, aku melihat matanya berubah layaknya hampa dalam kekosongan" ucap sang gadis, ia diam sejenak guna menarik nafas.

"Dan jika dugaanku benar, Naruto-sama pasti sudah melalui hal pahit dalam masa lalunya mengingat ia memotong ucapan Bochou seperti itu!" Rias terdiam tak kala sang gadis menjelaskan.

"Dan mungkin itu sudah cukup untuk membuat bochou mengerti!" Sang gadis melanjutkan ceritanya, setelah selesai ia melengos pergi meninggalkan dua iblis betina yang tengah terdiam dalam pikiran mereka.

...

Entah sejak kapan kini Naruto sudah bersama Azazel, ia menemui sang gubernur malaikat jatuh yang tengah berada di disebuah tepi sungai yang luas namun keruh.

"Bagaimana menurut mu?" Naruto memandang langit malam yang dihiasi dengan bintang dan bulan yang bersinar. Azazel selaku orang yang bertanya memandang apa yang Naruto Pandang. Indah,,,, hanya kata itu yang dapat menggambarkan keindahan malam ini.

"Kau tau Azz?" Sang Azazel menoleh ke arah Naruto yang masih memandang langit malam. "Percayalah jika kau melakukan itu maka tidak menutup kemungkinan Sirzech tak akan menyetujui nya!" Lanjut Naruto ambigu. Azazel tersenyum mendengar ucapan dari sang Hakaishin disampingnya.

"Hey,, tidak ada salahnya mencoba bukan?" Tanya Azazel dengan raut wajah kesal, ia menatap Naruto yang memasang ekspresi tak tertarik.

"Sadarlah!, Tidak semua yang kau lakukan itu benar!" Azazel diam disaat Naruto berucap. Entah kenapa ucapan Naruto membawanya ke dalam masa lalu. "Walaupun kau itu jenius namun sifatmu itu tidak mencerminkan kejeniusan mu!" Azazel tertegun mendengar pernyataan dari Naruto, tanpa sadar ia menunduk tak berani menatap sang Hakaishin.

"Lupakan itu, bagaiman dengan dia?" Tanya Naruto ambigu, Azazel masih dalam posisi menunduk namun tak berselang lama, ia menengadah menatap Naruto yang tengah menatap Azazel datar.

"Kau masih ingin menghidupkannya setelah apa yang ia lakukan terhadapmu dan teman-temanmu?"Azazel tak mengerti dengan jalan pikir Naruto yang kelewat rumit itu. Namun ia tak heran lagi mengingat siapa Naruto.

"Kau tau Azz,?, Aku dan dia saling terhubung. Saling berkaitan. Walaupun ia sudah membunuh semua temanku namun satu yang dapat aku petik dalam peristiwa itu...

"...jangan lari dari masa lalu, hadapilah walau itu menyakitkan 'walaupun aku belum bisa melakukannya'" pikir Naruto di akhir kalimatnya. Azazel tersenyum mendengar alasan tak masuk akal dari Naruto, ia tak habis pikir apakah Naruto orang waras atau gila. Tentu saja jika ia orang warah ia tak mungkin menghidupkan sosok makhluk yang membunuh teman-temannya, pasti dia sudah gila!.

"Ada satu bahan lagi yang dibutuhkan!" Naruto menoleh ke arah Azazel yang berkata dengan serius, ia memandang datar ke arah Azazel. "Soul of stone" dan perkataan dari Azazel sukses membuat Naruto mengerutkan keningnya tak mengerti.

"Aku belum pernah mendengar!" Ucap Naruto dengan tampang bodoh terpatri diwajah tamannya. Oke, sekarang Azazel tidak melihat seorang hakaishin melainkan bocah polos yang tengah menatapnya sembari memiringkan kepalanya.

Azazel menghela nafas lelah mendengar ucapan dari Naruto. "Haaaaah, soul of stone atau dikenal dengan nama batu jiwa, batu yang konon dapat menghidupkan yang mati walaupun makhluk itu hancur sekalipun" Azazel berucap kepada Naruto, ia menjelaskan semuanya tentang soul of stone malai dari asal usul, letak batu itu, sang penjaga, dan masih banyak lagi. Naruto menyimak semua penjelasan Azazel dengan teliti berharap ia mendapat petunjuk yang lebih spesifik lagi untuk mendapatkan batu itu.

"Valley of the hell, konon tempat itu yang menjadi tempat diletakkannya batu jiwa!" Ucap Azazel mengakhiri ceritanya, Naruto terdiam merangkai informasi yang telah ia dapatkan. Walaupun masih ambigu, namun tak apa, toh nanti juga ia mengetahuinya.

Naruto menghela nafas panjang, entah kenapa apa yang dibicarakan oleh Azazel membuatnya pusing. "Baiklah, sepertinya aku akan berangkat setelah pertemuan ketiga fraksi!" Ucap Naruto pelan, ia bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi dari tempat itu.

"Kenapa kau bersikeras hanya untuk menghidupkannya ?" Azazel berucap tak kala Naruto bangkit dari acara duduknya. Matanya menatap ke arah depan, kosong menakutkan.

"Ikatan!" Ucap Naruto kemudian menghilang dari tempat itu.

Kini tersisa Azazel yang tengah duduk santai sembari menatap lekat ke arah langit. Sebuah lidah meteor terlihat melintas cepat ke arah bukan yang menerangi malam gelap ini. Ia tersenyum, "bahkan setelah kau tidak ada, kau masih saja mengawasi kami ya?" Gumamnya ambigu, ia bangkit kemudian berjalan pelan ke arah kegelapan malam. Perlahan dipunggungnya tercipta sepasang sayap gagak, mengepakkan sayapnya, Azazel melesat menghilang di kegelapan malam.

...

Seorang pria berambut pirang panjang tengah duduk disebuah ujung atas bangunan yang terlampau tinggi, memakai pakaian serba putih dihiasi sedikit armor yang tertempel di beberapa bagian tubuhnya.

Lama ia memandang ke arah kota yang ramai manusia. Ia tersenyum, senyum yang dapat membuat semua gadis luluh padanya. "Bagaimana menurutmu dengan para manusia, Gabriel?" Tanya sosok itu tanpa menoleh, perlahan seorang gadis mendekati pria itu, duduk disampingnya memandang datar ke arah manusia, namun tak lama kemudian ia tersenyum.

"Ayah tak pernah salah bukan?" Responnya terhadap pertanyaan sosok pria yang berada di sampingnya. Sosok pria itu tersenyum lembut ke arah Gabriel. "Yaaah, dua hari lagi kita akan menghadiri konferensi!, Persiapkan dirimu karena true God of destruction mungkin akan datang!"

Gabriel terkejut mendengar penuturan dari sang pria. "Hakaishin kah?" Gumamnya sendiri. Ia melangkah pelan ke ujung bangunan itu, tanpa rasa takut ia melangkah semakin dekat dengan ujungnya dan, ia terjatuh...

"Sudah sangat lama bukan?" Gumam sang pria yang masih duduk di ujung bangunan. "Bagaimana kau akan menghadapi Gabriel, Pharaoh" lanjutnya menatap ke arah tempat sang gadis terjatuh.

Cahaya tertangkap di mata sang pria, semakin mendekat...

Wushhhh

Angin berhembus kala cahaya itu melewatinya. Terlihat sosok Gabriel yang menjadi pusat dari cahaya itu, sosok malaikat yang konon adalah malaikat tercantik di surga. Ia tersenyum sembari terbang menjauh dari tempat itu.

"Okaeri..... Atem"

TBC.

Osh osh osh, akhirnya sekian cepat gak update fic, hari ini bisa juga. Osh osh, disini Ryuki hanya mengoceh sedikit dan memperkenalkan sosok malaikat Gabriel.

Dan satu lagi, siapakah dia?kenapa Azazel seperti membencinya?,, Hm misteri misteri.

Dan apakah hubungan Naruto dengan Gabriel?, Mungkin akan terjawab di ch depan, atau mungkin lebih jauh ke depan.

Hohoho mungkin sekian untuk kali ini dan jaa ne