Gelap, Naruto tengah berada di sebuah lorong yang begitu gelap. Genangan air yang ia pijak menambah kesan seram tempat itu. Ia menoleh ke penjuru arah berharap ada orang lain selain dirinya.

Hening, namun yang ada hanya hening ditambah dengan bunyi air yang menetes pelan. Naruto berjalan tak tentu arah kesana kemari. Bingung, ia tak tahu kemana arah tujuannya, yang ia inginkan hanya satu, keluar dari tempat mengerikan ini.

"Kemarilah!" Sekian lama keheningan melanda, tiba-tiba sebuah suara berat tertangkap telinga, entah sadar atau tidak Naruto kini melangkah ke sumber suara yang ia dengar.

Suara itu semakin keras tak kala Naruto berjalan menelusuri lorong itu, matanya menangkap sebuah pintu bercahaya di tengah kegelapan. Tangan kekarnya meraih gagang pintu yang bercahaya, ia membukanya.

Melangkah pelan ke arah sang suara, Naruto terpaku saat setelah ia tahu siapa sang pemilik suara. Seekor naga besar berwarna emas berkepala rubah dilengkapi empat pasang sayap putih yang berkobar layaknya api menambah keindahan sosok naga tersebut.

Gagah, kata itu cukup untuk menggambarkan sosok naga misterius itu. Mutiara biru bertemu mutiara merah, mereka menatap satu sama lainnya tanpa ada keiingan untuk berpaling.

Pandangan datar Naruto tunjukan, tak ada rasa takut didalam hatinya. Ia melihat sang naga menyeringai walau kecil, "lama tak bertemu, Pharaoh!"

.

.

Reincarnation of god:rise of hakaishin

.

.

Di Sebuah ruangan yang lumayan besar nan megah teihat seorang pria bersurai pirang tengah tidur nyenyak di sebuah kasur king-size, cahaya mentari menyambut menyebabkan sang pria membuka mata terganggu karena sinar sang Surya.

Matanya mengerjapkan pelan menyesuaikan cahaya yang masuk, ia duduk bersandar di dinding belakangnya memikirkan apa yang baru ia lihat dalam mimpinya.

"Naga?" Gumam Naruto mengerutkan alisnya bingung. Bagaiman tidak, setiap mimpi aneh pasti ada makna tersendiri entah baik atau buruk, karena itu yang sejak dulu Naruto alami. Setiap ia bermimpi aneh pasti saja ada masalah yang harus lewati.

Memutar otaknya keras namun Naruto tak dapat memperoleh jawaban atas pertanyaan itu. Ia menghela nafas lelah, ia bangkit dari acara bersandarnya, kakinya turun menapak lantai menuju ke arah kamar mandi melaksanakan rutinitas paginya.

Selang beberapa lama Naruto keluar dengan hanya berbalut kain handuk yang menutupi sebagian tubuhnya, tubuh kurus namun berisi, bentuk lekuk otot tubuh yang jelas terlihat menambah kesan gagah sosok Naruto.

Ia melangkah ke arah lemari pakaian yang tak jauh dari tempatnya berdiri, membukanya kemudian mengambil sepasang pakaian serta jubah berwarna merah dihiasi corak lidah api berwarna biru.

Tok tok

Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Naruto, Naruto membuka pintu mencari tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.

Seorang gadis bersurai pirang panjang dengan sebagian poni menutup mata kirinya, memakai pakaian khas para iblis bangsawan dihiasi pedang panjang yang setia di pinggang kirinya tertangkap mata Naruto.

Sang gadis terlihat tersenyum ke arah Naruto. Sedangkan Naruto?, Jangan ditanya lagi, ia memandang datar sang gadis menyebabkan sang gadis menggembungkan pipinya.

Naruto terkekeh melihat wajah yang terlihat imut milik sang gadis. Saat melihat kekehan dari Naruto, sang gadis tersenyum lembut. "Lord gremory sudah menunggu Naruto!" Ucapnya lembut, Naruto mengangguk mengerti. Kemarin setelah Naruto bertemu Azazel, ia pulang ke rumahnya membawa sang gadis yang tak lain adalah keturunan Beelzebub sekaligus teman masa kecilnya.

Naruto melangkah melewati sang gadis tanpa ada kata yang ia gadis mengekor Naruto, mengikutinya kemana ia pergi.

Tak berselang lama kemudian, makhluk berbeda gender itu kini sudah berada di sebuah ruangan besar nan megah tempat menjamu tamu, meja panjang dan kursi yang berjejer rapi terlihat di ruangan itu. Terlihat juga empat makhluk terlihat duduk santai di kursi itu.

Naruto dan sang gadis melangkah ke arah meja, mereka duduk di kursi kosong yang berada di sana. "Kebiasaanmu tak pernah berubah Naru!" Seorang wanita berambut coklat agak merah berucap tak kala Naruto duduk disampingnya, ia adalah sang Ibunda Venelana Gremory. Naruto menatap sang ibu datar tanpa ekspresi namun taklama kemudian ia tersenyum, senyum lembut yang jarang ia tunjukan.

"Kau adalah yang paling tahu aku, ibu!" Balasnya singkat dihiasi senyuman yang terpatri di wajahnya. Sang ibu entah kenapa merasa senang mendengar perkataan lembut dari anak sulungnya itu. Pepatah mengatakan jika anak tak akan jauh dari ibunya bukan?, Sebelumnya Venelana tak percaya itu mengingat bukannya dekat, namun ia dan Naruto saling berjauhan bak tiada hubungan diantara mereka. Namun sekarang ia percaya dengan pepatah itu, bukan raga yang berdekatan, melainkan berdekatan dalam hal jiwa mereka.

Sang pria yang tak lain suami dari Venelana tersenyum melihat interaksi ibu-anak didepannya. Ia merindukan suasana ini, bercengkerama dengan anak kebanggaannya dan...senyum tulus dari sang istri.

"Ne ne, kapan kau akan menikah?,, Sirzech padahal sudah memberikan aku cucu, tapi kau?, Dekat dengan gadispun enggan" Naruto menghela nafas mendengar perkataan sang ibu. Ini dia hal yang paling tak disukai Naruto, setiap ia berbincang dengan sang ibu pasti perbincangan itu tak luput dari kata 'menikah'.

Memang benar sang adik, Sirzech telah menikah dengan keturunan Lucifuge terakhir dan mempunyai seorang putra berambut merah yang tak menjauhkan fakta jika ia akan menjadi heires selanjutnya dari klan ini.

Naruto menghela nafas lelah. "Apakah ibu sangat ingin aku menikah?" Venelana tersenyum mendengar perkataan tertarik dari sang putra. Namun senyuman itu tak bertahan lama saat Naruto memasang wajah datar tanpa ekspresi, aura disekitar terasa mencekam, para makhluk disana bergidik merasakan aura yang tak mengenakkan keluar dari tubuh Naruto.

"Haaaaah, aku perlu waktu!" Ucap Naruto pelan. Semua orang termasuk Hilda memiringkan kepalanya dengan tanda tanya yang muncul secara ajaib di atas kepala mereka, oh apakah mereka tak salah dengar?, Seorang Hakaishin, bukan-melainkan seorang Naruto Gremory memerlukan waktu untuk menikah?, What the- oke, sekarang sudah terkumpul banyak pertanyaan di kepala mereka.

Bukan apa-apa, namun mereka penasaran siapa yang berhasil meluluhkan hati Naruto yang keras layaknya permata, biasanya saat seseorang menyinggung dengan kata pernikahan, Naruto selalu menjawab dengan kata 'aku tak akan menikah'.. Bahkan seorang Hilda yang kecantikannya bersaing dengan makhluk tercantik di dunia ini pun ia tolak, mungkinkah ia bisa menggerakkan gunung yang tak bisa digerakkan?.

"Apa aku tidak salah dengar?" Semua orang menoleh ke arah sosok yang tengah berucap dengan nada tak percaya. "Maksudku kau-aku, aku bahkan kau tolak, tapi makhluk macam apa yang berhasil meluluhkan hati batumu itu Naruto?" Lanjutnya serius, semua makhluk yang berada di situ mengangguk kepala tanda setuju dengan ucapan sosok yang tak lain adalah Hildegarde.

Naruto tersenyum tipis mendengar ucapan tak percaya dari teman yang baru beberapa hari ini bersamanya. "Rias!" Dan ucapan Naruto sukses membuat semua orang tersedak udara, adiknya sendiri?, Oh pasti hakaishin ini sudah gila. "Sampai kapan kau akan menguping di belakang hm?" Oh, sepertinya prasangka buruk makhluk disana harus ditelan lagi karena bukan Rias yang menjadi sosok yang berhasil membuat Naruto luluh dalam hal hati.

Semua orang menoleh ke arah mana yang Naruto toleh, mereka melihat seorang gadis berambut merah panjang melangkah ke arah mereka diikuti beberapa sosok yang tak lain adalah anak buahnya. Ia melangkah ke arah Naruto, duduk disampingnya diikuti para anak buahnya yang duduk di kursi kosong.

Naruto menatap sosok yang tak lain adalah Rias, "kenapa kau bersembunyi hm?" Tanya Naruto halus, sekarang Rias merasakan keanehan pada kakaknya itu, bukannya kemarin ia menyakiti hatinya namun sekarang ia tersenyum tulus ke arah Rias,.

Rias diam tak merespon, menatap lekat wajah tampan sang kakak membuat Naruto terdiam. "Hanya mencari informasi tentang dirimu yang misterius Naruto!" Sekarang bukan panggilan ni-san yang ia gunakan untuk menyebut Naruto, melainkan nama dari Naruto itu sendiri.

Para iblis disana mengerutkan keningnya mendengar perkataan yang seakan tak peduli keluar begitu saja dari si bungsu Gremory, bukan apa-apa tapi biasanya ia akan senang melihat sang kakak, tapi sekarang?, Entah apa yang terjadi antara Naruto-Rias namun yang jelas Rias kini bersikap lebih dewasa dari sebelumnya, itu yang mereka rasakan.

Naruto tersenyum sinis mendengar perkataan sang adik, "jadi gadis manja kini sudah bertransformasi menjadi gadis dewasa eh?" Ucapnya menyindir sang adik. Rias hanya diam enggan menjawab, matanya berputar bosan menanggapi sindiran dari sang kakak.

"Bisakah kau bersikap dewasa?" Oke, sekarang semua orang hanya dapat menganga lebar mendengar ucapan yang kelewat berani Rias. Sikap yang entah sejak kapan berubah ini tentu saja mengagetkan siapa saja yang berhubungan dengan Rias, bahkan sang Sirzech pun tak kalah kaget.

'jadi kau sudah menyerah ya?' Sirzech berucap di dalam hati bertanya walau jawabannya sudah didepan matanya. Ia tahu mengapa adik gadisnya ini berubah sedemikian rupa dalam hal sikap, namun ini bukanlah yang Sirzech harapkan, membenci Naruto itu yang tak ia harapkan. Sirzech tak masalah dengan sikap Rias yang sekarang, malahan ia senang mengingat ia sudah berpikir maju dari sebelumnya tapi?,

Naruto tersenyum mendengar ucapan Rias, hanya senyum yang ia tunjukan tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah pintu keluar "aku akan datang dalam rapat nanti malam!" Sirzech mengangguk mengerti maksud dari Naruto,.

"Ya!" Jawab Sirzech ambigu menanggapi perkataan sang kakak. Naruto melanjutkan langkahnya ke arah pintu keluar diikuti Hilda yang mengekor dibelakangnya, lambat laun tubuh mereka berdua melebur menjadi daun kering dan menghilang diterpa angin.

Sepeninggalan Naruto, ruangan itu menjadi hening. Ekspresi berbeda-beda ditunjukkan makhluk disana. Sirzech dengan pandangan datarnya, korddan lady yang memandang Rias penuh tanda tanya. Rias mengabaikan tatapan dari keluarganya itu, ia berdiri kemudian berlalu tenapa sepatah kata.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Sekian lama ke ningan melanda, sang Lord berucap dengan raut wajah serius, matanya menatap tajam ke arah iblis yang notabennya pereage dari sang putri nya itu.

...

Sebuah danau besar terpampang didepan mata violet seorang gadis bersurai pirang panjang, sesekali ia menatap lekat bayangannya yang memantul di air. Ia bersenandung ria, mata yang berkaca menambah kecantikan sosok gadis itu.

"Masih memikirkan nya?" Suara dari arah belakang sang gadis membuat sang gadis tersentak. Dengan cepat ia menoleh ke arah belakang, satu yang ia lihat, pria tampan berambut pirang panjang dengan mata cokelat berkilau seindah berlian, tak lupa pakaian serba putih dihiasi keping armor di beberapa bagian menambah kesan tampan pria itu.

Sang gadis tersenyum manis ke arah sang pria, sang pria duduk di sebelah sang gadis. "Kau terlalu memikirkannya Gabriel!" Sosok gadis yang dipanggil Gabriel menoleh ke arah sang pria yang memandang luas kolam didepannya.

"Apa kau berpikir begitu, kakak?" Gabriel bertanya ke arah sang pria yang tak lain adalah kakaknya itu, sang kakak bukannya menjawab, ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Gabriel.

"Ya!, Malam nanti kita akan bertemu dengannya bukan?, 'dan semoga saja ingatannya tentangmu sudah kembali'" ucap sang kakak diakhiri gumaman yang tak jelas. Gabriel mengerutkan keningnya tak mengerti kenapa sang kakak terlihat sedang bergumam tapi ia mengangkat bahu acuh, toh itu bukan urusannya..

"Kau benar kakak, tapi entah kenapa aku merasa bahwa ia belum mengingatku!" Jelas Gabriel dengan nada murung, namun dilain sisi ia yakin bahwa Reinkarnasi Pharaoh Mengingat Gabriel.

Sang kakak diam mendengar perkataan dari sang adik. reinkarnasi, jika itu diartikan dengan makna kelahiran kembali adalah seseorang dari masa lalu yang terlahir kembali di masa depan dengan pengalaman dan ingatan baru, tidak menutup kemungkinan jika reinkarnasi Pharaoh tak mengingat Gabriel.

Masih banyak rahasia yang belum sang kakak ketahui, bahkan ia hampir tak mengetahui tentang adiknya ada hubungan dengan sang Pharaoh di masa lalu, masih banyak rahasia mulai dari ucapan terakhir sang kami, menghilangnya Pharaoh, sampai kelahiran kembali sang Pharaoh,.

Semuanya terasa asing bagi malaikat kepercayaannya itu. Lucu bukan?, Seorang malaikat kepercayaan Tuhan tak tahu tentang itu, bahkan asal usul dari sang bintang timur pun ia masih belum mengetahui semua kebenarannya.

"Aku percaya dia akan mengingatmu!, Dan hey? Walaupun ia tak mengingatmu tidak menutup kemungkinan dia jatuh hati padamu mengingat kau adalah makhluk tercantik di seluruh jagad raya ini bukan?" Kata sang kakak menyemangati sang adik agar tak pupus harapan walaupun dalam perkataannya itu mengandung nada ragu tapi sang kakak yakin akan hal itu.

Sang kakak menepuk kepala Gabriel pelan, mengelus lembut membuat Gabriel memejamkan mata menikmati sentuhan dari sang kakak. "Kau pasti dapat bersamanya lagi Gabriel!, Itu pasti" ucapnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Gabriel yang masih duduk di tepi sungai.

Sepeninggalan sang kakak, kini Gabriel hanya dapat terdiam menerawang indahnya sungai didepan matanya, "bahkan walau kau berkata seperti itu aku yakin dalam hatimu kau ragu!" Gumamnya murung, ia berdiri dengan mata yang berkaca-kaca, mengeluarkan sayap khas para malaikat dan kemudian ia terbang menjauh. Tanpa disadarinya, setitik air terjatuh dari matanya ke tanah, setitik air itu kemudian berubah menjadi sebuah permata berkilau. Pertama dan satu-satunya seorang malaikat menangis karena seorang makhluk ciptaannya,

...

Sebuah laboratorium besar dengan banyak tabung yang menjadi wadah bagi para eksperimen. Terlihat beberapa makhluk yang menyerupai manusia dan beberapa hewan buas yang berada di dalamnya.

Naruto memandang satu persatu tabung didepannya, melangkah pelan mencari apa yang ia cari dan binggo, mata birunya terpaku kala melihat enam tabung yang berjejer rapi.

Melangkah pelan ke arah tabung didepannya, ia mengelus satu persatu tabung tersebut. Hilda yang kebetulan ada di sana mengerutkan keningnya bingung, pasalnya tabung itu tak seperti tabung lainnya yang terlihat isinya, tabung itu bahkan terlihat aneh dengan warna hitam dan beberapa kanji disekitarnya.

"Masih mengharapkan mereka eh?" Suara yang terdengar mengejek terdengar dari arah belakang Naruto dan Hilda, dengan cepat mereka menoleh ke aeah belakang. Satu yang mereka lihat, Kokabiel sang bintang timur.

Naruto menatap datar ke arah Kokabiel tanpa adanya ekspresi di wajahnya. Sedangkan Hilda?, Jangan ditanya lagi ia sudah menatap horror Kokabiel.

Kokabiel menyeringai menatap Hilda yang seperti ketakutan. "Jangan takut, aku tak menggigit. Yaah walaupun aku akan melakukannya jika kau meminta sih!" Ucap Kokabiel sembari menyeringai sadis membuat Hilda bersembunyi di balik punggung Naruto.

"Gagak mesum!, Aku tak Sudi di gigit olehmu!" Ucap Hilda setengah berteriak dibelakang punggung Naruto. Kokabiel melebarkan seringainya menanggapi ucapan Hilda, ia melangkah ke arah Hilda membuat Hilda berlari menjauh.

"Sudah ku bilang aku tak Sudi denganmu Ko!" Ucap Hilda setengah berteriak, Kokabiel hanya dapat mendecih kesal. Bukan karena ucapan Hilda, melainkan panggilan Hilda kepada Kokabiel.

"Haaah, kau dan sifat kekanak-kanakan mu itu!" Ucap pasrah Kokabiel, ia menatap Naruto yang tengah menatapnya serius. Hal itu membuat sang bintang timur menatap balik Naruto.

Naruto menoleh ke arah tabung yang berjejer didepannya, pandangannya terlihat sayu tak seperti biasanya. "Bagaimana keadaan mereka?" Tanya ambigu Naruto kepada Kokabiel, hal itu membuat Kokabiel meringis entah kenapa. ia tahu siapa yang berada di dalam tabung itu, ia tahu apa hubungan Naruto dengan mereka, dan ia tahu betapa berartinya mereka buat Naruto.

"Percaya atau tidak, mereka semakin membaik-!" Naruto menoleh ke arah Kokabiel dengan ekspresi bertanya karena dari nada yang digunakan Kokabiel terdapat nada ragu. "-namun separuh dari mereka tak akan bertahan lebih dari satu bulan, atau lebih parahnya lagi mungkin mereka akan menghilang dalam waktu kurang dari satu Minggu" Naruto terdiam mendengar penjelasan Kokabiel, seburuk itukah?, Ia tak percaya jika waktu yang ia miliki hanya sebatas kurang dari satu Minggu, seharusnya masih tersisa beberapa bulan lagi sebelum tubuh mereka melebur dan kemudian menghilang.

"Souka?,, Bagaimana dengannya?" Tanya Naruto lagi namun hanya dibalas diam oleh Kokabiel. Hilda, sosok yang sedari tadi berada di sana mendengar percakapan ambigu kedua makhluk yang ditakuti itu hanya dapat memiringkan kepalanya pertanda bingung. Tapi ia segera mengangkat bahu tanda tak peduli, toh cepat atau lambat ia akan mengetahuinya.

"Bolehkah aku melihatnya sekali saja Ko?" Kokabiel terdiam tak kala Naruto berucap datar, sebenarnya ia tak tega harus melarang Naruto menemuinya mengingat siapa orang itu dan apa hubungannya dengan Naruto.

Kokabiel melangkah ke arah sebuah pintu tak jauh dari tempatnya berdiri, membuat tombak cahaya kemudian ia menusuk bagian tengah pintu yang terdapat simbol singa ditengahnya dihiasi kanji aneh di pinggirannya.

"Ikut aku!" Ucap Kokabiel kemudian ia melangkah masuk diikuti Naruto dan Hilda, tak berselang lama mereka sampai disebuah ruangan besar dihiasi lilin sebagai penerang, ditengah ruangan itu terlihat tabung yang cukup besar melebihi tabung sebelumnya. Dan terlihat juga seorang bersurai pirang-hitam tengah berdiri di depan tabung itu.

"Jadi kau sudah berani datang eh?" Ucap sosok itu dengan nada menyindir. Sosok itu berbalik menatap wajah Naruto, Azazel, dialah sosok yang berada di sana.

"Mengunjungi teman lama tak ada salahnya bukan?" Balas ambigu Naruto, Azazel memandang Naruto dengan seringai dibibirnya, Naruto melangkah mendekati tabung itu, mengusap pelan sampai ia melihat siapa sosok yang berada di dalam tabung.

Sosok pria berambut hitam bermodel pantat ayam tengah berdiri dalam keadaan telanjang, separuh tubuhnya terlihat hancur, beberapa kabel menancap memenuhi tubuh sang pria.

Naruto mengepalkan tangannya erat melihat bagaimana keadaan sosok itu, ia marah, amarah yang belum pernah ia perlihatkan semenjak waktu itu.

"Sasuke Sitri!" Gumam Naruto kecil, semua orang menatap diam ke arah Naruto, berbeda dengan Hilda yang melihat siapa sosok di dalam tabung itu. Ia membulatkan matanya lebar, ia mengenal siapa dia, teman masa kecilnya selain Naruto, teman yang selalu berwajah datar disertai sikap dingin kepada siapa saja.

"S-sa,,Sasuke?" Ucap Hilda tak percaya dengan apa yang ia lihat. Setahunya Sasuke tengah dalam pengembaraan mencari rahasia dunia namu apa yang ia lihat?

Puk

Sebuah tangan kekar menepuk pelan bahu Naruto, Naruto menoleh ke arah sosok yang menepuk bahunya. Kokabiel, sosok yang menepuk bahu Naruto kini tengah menatap Naruto dengan pandangan sulit diartikan.

"Kita pergi!" Ucap Kokabiel tanpa adanya ekspresi yang berarti. Naruto hanya dapat mengangguk mengiyakan perkataan Kokabiel.

Mereka pergi entah kemana, Kokabiel dan Naruto menghilang begitu saja, sedangkan Hilda, ia masih terpaku melihat sosok Sasuke.

"Kau bohong!" Gumamnya lirih, tersirat kesedihan didalam dirinya. Perlahan tapi pasti, air mata sang Hilda kini menetes, semakin deras dan mengalir begitu saja. "Sungguh!, Aku tak ingin mempercayai ini Sasuke!" Lanjutnya pelan, Azazel yang masih berada di situ menatap iba sosok iblis didepannya. Perlahan ia mendekat ke arah tabung, membuat lingkaran sihir dan kemudian tabung itu menghilang.

Hilda berlari keluar dengan air mata yang mengalir, ia menangis. "Kau adalah satu dari sekian banyak orang yang beruntung Sasuke!", Azazel berucap sembari melihat punggung sang Hilda yang perlahan menghilang dibalik pintu..

...

Mekai

Seorang gadis bertubuh loli dengan pakaian ala penyihir tengah menatap kosong kearah bingkai foto yang bergambarkan sosok pria yang tak lain adalah Sasuke versi kecil yang tengah memandang ke depan datar bersama sosok pirang yang tak lain adalah Naruto. Didepan mereka terlihat sosok gadis kecil berumur sekitar dua tahun tengah tersenyum lebar.

Sosok gadis loli itu mengepalkan tangannya erat, tersirat kemarahan tersendiri di kedua mata indahnya. "Bahkan setelah lama kau mati, rubah bodoh itu masih yakin jika kau masih hidup!" Gumamnya ambigu, ia menatap intens sosok pria bermata safir biru di dalam foto tersebut, memandangnya datar tanpa ekspresi.

"Dan kau!, Setelah kejadian itu kau tak pernah lagi menoleh ke arahku!" Lanjutnya menatap sosok pirang, ia menggigit bibir bawahnya keras menyebabkan darah mengalir disudut bibirnya. "Aku tak tahu mengapa kau menjauh, jika itu hanyalah untuk menghilangkan rasa kecewaku maka kau salah!. Malah sebaliknya, kau menjauh, rasa kecewaku semakin bertambah" ia melangkah pergi dari ruangan itu diikuti beberapa maid yang mengekor dibelakangnya.

Back to Naruto

Naruto duduk di sebuah atap bangunan. Ia menatap ke bawah melihat manusia berlalu lalang. Matanya menatap namun pikirannya hilang jauh entah kemana, mengingat kembali masa lalu saat ia bersama pangeran Sitri yang kini tengah tidur dalam sebuah tabung dalam keadaan tak berdaya.

"Sasuke, sudah lama sejak itu bukan?" Gumaman ambigu keluar mulus dari bibir Naruto, ia berbaring kemudian memejamkan mata, tidur.

Dream

Taman ymyang dihiasi berbagai aneka bunga terpampang di depan mata, melirik ke kanan ke kiri entah apa yang ia cari. Ia melangkah menelusuri teman itu, lama ia melangkah, ia terhenti. Matanya menatap dua orang pria remaja dan seorang gadis kecil berumur kurang dari delapan tahun, lama ia menatap mereka. Terlihat disana sang gadis tertawa senang, sang gadis melompat ke arah pria bersurai raven sembari tertawa gembira. Sedangkan sosok pria kedua mempunyai rambut pirang hanya tersenyum penuh makna.

Naruto tersenyum kala melihat mereka bertiga. Ini adalah secuil ingatan indah dimasa lalu bersama Sasuke dan adik dari Sasuke itu sendiri, Serafall sitri namanya.

Naruto duduk melihat ketiga orang yang tak lain dirinya sendiri dan sosok saudaranya, lama ia memandangnya. "Bahkan sampai saat ini kau masih hadir di dalam mimpiku Sasuke!", Gumam kecil Naruto.

"Untuk seorang Hakaishin mentalmu lemah sekali ya?" Naruto tersenyum tak kala seseorang berseru dari belakangnya, ia kenal suara itu. Suara datar nan dingin, suara yang ia rindukan.

"Yaaa, lucu bukan?" Naruto menyahut tanpa menoleh, matanya masihlah menatap ke arah dimana tiga orang itu bercengkerama ria.

"Untuk seorang yang masih sekarat kau bawel juga ya, Sasuke Sitri" Naruto melanjutkan perkataannya, sekarang ia berbalik menatap ke arah dimana suara itu muncul. Pertama yang ia lihat adalah pria bersurai raven berwajah datar, pria itu melangkah ke arah Naruto pelan, ia duduk disamping Naruto.

"Apa kabar denganmu?" Sasuke menyapa Naruto, ia tersenyum sembari menatap lekat wajah Naruto. Naruto menghela nafas lelah, seharusnya sosok sampingnya itu tahu bagaimana keadaannya.

",, Seharusnya kau tahu bukan?", Sasuke tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia kemudian menatap ke arah depan dimana arah tatapan Naruto.

"Masa yang menyenangkan bukan?" Sasuke berucap ambigu, Naruto mengangguk sebagai respon setuju.

"Bagaimana kabar adik kecilku?" Sekian lama dalam hening, Sasuke bertanya kepada Naruto. Ia penasaran bagaiman kabar dari adik manjanya itu, walaupun ia manja namun Sasuke menyayanginya melebihi apapun, bahkan Naruto harus dibuat heran karena sifat Sasuke yang terlalu menyayangi Serafall.

"Entahlah, sudah lebih dari lima puluh tahun aku tak bertemu dengannya!" Naruto menjawab seadanya, ia tak mungkin berbohong mengingat makhluk didepannya merupakan sahabat sekaligus saudara tak sedarah nya.

Sasuke melirik Naruto sekilas, entah kenapa ia merasa ada yang disembunyikan darinya oleh Naruto. "Apa yang kau sembunyikan Naruto?" Naruto bungkam, sejujurnya memang ia menyembunyikan sesuatu tentang kenapa ia tak pernah bertemu adik dari Sasuke selama lebih dari lima puluh tahun. Apakah ia harus jujur?, Atau apakah ia harus bohong?. Pilihan yang begitu sulit,

"Tidak ada!" Bohong jika tidak ada, Sasuke tau Naruto berbohong dari lagat anehnya sekarang. "Bahkan dengan saudaramu ini kau bungkam?" Tanya Sasuke lagi namun hanya bungkam dari Naruto sebagai respon.

"Jika kau ada masalah cepatlah selesaikan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, yaaah kau tahu sendiri bukan?, Disini aku hanyalah bentuk dari serpihan kecil energi kehidupanku yang asli sedangkan tubuh asliku masih dalam keadaan sekarat, aku tak bisa membantu Naruto!, Selesaikan masalah ini sendiri" ucap Sasuke kemudian ia menghilang melebur menjadi cahaya.

Real world

Naruto membuka mata, pertama yang ia lihat adalah langit gelap tanda malam, "sepertinya aku terlalu lama tertidur" gumamnya sendiri, ia bangun kemudian duduk. Matanya menatap sekeliling entah apa yang ia cari.

"Apakah sudah?" Suara seorang gadis mengejutkan Naruto, terbukti Naruto sekarang berdiri sembari celingak-celinguk mencari sumber suara. Binggo, sepertinya ia menemukan nya.

Pertama yang ia lihat adalah sosok gadis berpakaian serba putih mempunyai rambut putih juga, sang gadis terlihat tersenyum ke arah Naruto.

Naruto kenal dia walau ini adalah kali keduanya mereka bertemu, ia menghela nafas. "Apa yang kau mau...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

..."Kaguya Lucifer!"

Tbc

Osh osh,,, akhirnya bisa up jga, aaaa gomenei karena beberapa waktu Ryuki Hiatus mengingat ada hal yang tak boleh dilewatkan.

Oshhh,, kali ini hanyalah cerita singkat ttg bagian kecil dari masa lalu Naruto, mungkin.

Dan juga,,, Ryuki sedang membuat fic baru, menurut para reader apakah Ryuki harus meneruskan fic ini, menunda prince of magic dan fic baru atau menunda fic ini dan melanjutkan prince of magic?,

Yap, jawaban ada di tangan para reader semua Ok, sekian dari Ryuki, jaa ne