Disebuah gedung sekolah tepatnya di gedung kuoh high school, pertemuan tiga fraksi tengah dilaksanakan. Para perwakilan dari masing-masing fraksi duduk dengan santai dengan tak mengurangi rasa hormat mereka.
"Baiklah, kami-fraksi iblis ingin membahas tentang penyerangan dari Kokabiel tenpo hari!"
Sekian lama tempat itu dilanda keheningan, akhirnya sosok yang dikenal dengan maou Lucifer membuka kata. Santai namun mengandung makna ancaman membuat siapa saja yang mendengarnya akan bergidik ngeri, namun itu tak berpengaruh dengan semua makhluk yang ada di sana mengingat mereka juga adalah pemimpin dari masing-masing fraksi.
Kokabiel selaku penyerangan menatap datar sang maou, tak ada sedikitpun rasa takut yang ia tunjukan. Walaupun ia melakukan penyerangan namun tak ada yang terbunuh bukan?, Jika seperti itu seharusnya tak ada alasan lain untuk menyelenggarakan pertemuan ini.
"Apa alasanmu mengusik territorial iblis Kokabiel?"
Kokabiel hanya diam tak ingin merespon karena jika ia mengatakan apa tujuannya yang sebenarnya pasti sang maou tak akan percaya mengingat sifat murni iblis itu sendiri.
"Kutanya sekali lagi, apa alasanmu Kokabiel?"
Sang Maou berucap sekali lagi berharap sang bintang timur akan segera menjawab namun sepertinya harapan itu harus ia simpan karena sang bintang tak berkata.
"Cih, kenapa kau tak menjawab?, Apakah pertanyaan ku itu sangat sulit untuk kau jawab?"
Sang maou berucap kesekian kalinya dengan nada yang terdengar mengejek guna memancing Kokabiel yang masih memandang sang maou datar. Dan sepertinya semuanya tak seperti perkiraan sang maou, seharusnya Kokabiel akan langsung menguapkan amarah saat ada kata yang mengejeknya didengar namun sekarang ia sudah berubah. Kini bukan lagi Kokabiel yang tempramental, melainkan Kokabiel yang berpikir panjang dan...sabar.
"Jika aku jujur apa kau akan percaya?"
Pertanyaan dari sang bintang itu sukses membuat sang maou maupun iblis lainnya membeku. Tak ayah jika mereka seperti itu mengingat mereka tak akan percaya dengan perkataan Kokabiel walaupun itu adalah sebuah kebenaran.
Jika boleh jujur, Kokabiel bukanlah seorang yang suka berbohong, bahkan semasa ia hiduppun ia tak pernah berbohong walaupun sekecil apapun.
...
"Apa maumu Lucifer"
Kata dingin yang terucap dari mulut sang Hakaishin membuat sang Lucifer menatap datar ke arah Naruto, tanpa rasa takut ia terus memandang sosok yang ditakuti ketiga fraksi didepannya.
Kosong, kata itu menggambarkan mata yang dilihat oleh sang Lucifer, Mata dari sang Hakaishin terlihat tak ada kehidupan, hampa dan buram tak berwarna.
Entah apa yang sang gadis Lucifer itu pikirkan, kini ia melangkah ke arah Naruto yang berdiri tegap didepannya. Tangan putih kepunyaannya meraba wajah tampan sang Gremory.
Naruto menatap bingung ke arah gadis Lucifer didepannya, bukan apa-apa tapi ia hanya heran, heran karena sosok didepannya adalah satu dari sedikit makhluk yang berani menyentuh nya.
Jika semua orang memandang Naruto dengan pandangan takut, berbeda dengan gadis ini. Gadis ini tak ada rasa takut sedikitpun terhadap Naruto.
Puas meraba wajah Naruto, sang gadis menjauhkan tangannya. "Kosong!" Ucapan ambigu itu meluncur mulus dari bibir sang Lucifer, hal itu membuat Naruto tak paham apa yang diucapkan sang Lucifer.
"Kenapa kau begitu kosong?"
Sekian lama Naruto berpikir, akhirnya ia mengerti apa yang sang gadis ucapkan. Kosong dalam arti perasaan, sebenarnya ia punya itu namun karena perasaan yang bercampur aduk membuat semua orang mengira bahwa sang Gremory tak memiliki hal semacam itu.
Naruto tersenyum, senyum yang bahkan orang tuanya tak pernah melihat. Senyum tulus, begitu tulus sampai sang rembulan menambah cahaya terangnya menandakan kegembiraan.
"Tak ada yang perlu kau ketahui, cukup kau tahu siapa dan apa aku ini!"
Kata lembut namun bermakna tajam membuat hati sang Lucifer merasakan gejolak aneh, entah apa perasaan ini namun ia merasa kecewa saat sang Hakaishin berkata.
Sang Lucifer berbalik hendak pergi, "kita sudah terlambat!" Naruto mengangguk mengerti apa maksud dari gadis Lucifer didepannya.
...
"Tentu saja aku akan percaya!"
Sang maou meyakinkan sang bintang bahwa ia akan mempercayai ucapan dari sang bintang. Kokabiel tidak sebodoh itu, jika dulu ia bertindak dengan kekerasan namun sekarang ia berpikir dahulu sebelum bertindak, sungguh sangat berbeda dengan Kokabiel yang mereka kenal.
Sesekali sang gubernur dari fraksi malaikat jatuh menatap sekilas ke arah sang Kokabiel, jika boleh jujur ia tak tahu persis mengapa sang elit perang yang menjadi temannya sejak di surga itu berubah drastis layaknya sekarang. Ia tahu dengan kehadiran dari Naruto itu memang membuat sang Kokabiel berubah namun apa alasannya ia tak tahu.
"Iblis liar-"
Entah kenapa sang Maou Lucifer merasakan perasaan yang aneh ketika mendengar kata Kokabiel yang digantung. Firasat mengatakan bahwa ia melakukan kesalahan fatal entah itu tentang apa.
"-beberapa Minggu lalu aku dan Naruto menemukan sarang dari segerombolan iblis buangan, kami terus mengamati mereka berharap iblis itu tak mengusik keamanan para manusia"
Jika boleh jujur semua makhluk yang berada di situ bingung mendengar ucapan sang Kokabiel, jika seperti itu lalu apa hubungannya dengan penyerangan tenpo hari?, Pikiran mereka berakhir di situ. Berbeda dengan Azazel yang tahu apa yang akan dilanjutkan oleh Kokabiel.
Kokabiel, sang bintang timur.
Malaikat jatuh yang jatuh karena kecintaan terhadap para manusia, saat ia masih menjadi seorang malaikat, ia selalu mengamati gerak gerik dari manusia entah yang baik dan yang buruk.
Hal itu membuat ia dijuluki dengan title nindaime no kami mengingat betapa ia cinta dan pandangan yang tak luput dari manusia.
Namun suatu hari ada sebuah peristiwa yang membuatnya jatuh, salah satu 'mantan' sahabatnya yang saat itu sudah menjadi malaikat terbuang menyamar sebagai manusia Merta, tanpa pikir panjang Kokabiel hendak menolong orang itu, walaupun ia sudah dilarang oleh Tuhan(anime) yang semasa itu masih duduk di singgasananya dengan dalil 'jika Kokabiel menolong makhluk itu maka ia akan merasakan apa itu kesulitan'
Dan benar saja perkataan sang kami benar, terbukti saat ia menghampiri sosok itu ia dikejutkan karena sosok manusia merta itu merupakan malaikat terbuang.
Merasa ditipu, Kokabielpun menyerang sosok itu tanpa ampun, saat setelah ia berhasil membunuhnya, ia kembali ke surga namun malaikat dan sang kami tak mengizinkan Kokabiel untuk masuk ke dalam surga.
Ia pergi dari surga dan tinggal di Grigory dengan penuh sesal, sejak saat itu ia tinggal diantara malaikat terbuang lainnya. Ia masih membantu dan mencintai manusia walaupun sifatnya itu tertutup oleh sikap kasar dan egoisnya.
Itulah riwayat singkat Kokabiel, sang malaikat yang paling mencintai manusia yang jatuh akibat keegoisannya melawan peringatan sang kami. Semenjak saat itu, legenda sosok Kokabiel tersembunyi, hanya sedikit yang tahu bahkan dalam Alkitab sebenarnya nama Kokabiel tercantum didalam tapi bukan dengan nama Kokabiel,
"Dan apa kau tahu apa yang mereka lakukan Sir?"
Seketika sang Maou Lucifer tersentak mendengar nada ucapan dari sang bintang timur didepannya berubah serius dibumbui amarah. Wajah dari Kokabiel mengeras mencoba menekan amarah yang kian bergejolak keluar.
Jika boleh, Kokabiel pasti kini sudah menghajar sang Maou mengingat apa yang terjadi kepada manusia akibat iblis buangan yang ia temukan bersarang.
"Pemukiman manusia yang kebetulan dekat dengan sarang itu luluh lantak, tak ada yang tersisa. Kami mencoba menolong tapi terlambat, saat kami tiba disana yang tersisa hanyalah bangkai manusia tak bersalah yang tergeletak penuh darah!. Dan itu kesalahan siapa?, Kau!"
Bukan Kokabiel yang berkata, melainkan sosok yang tengah memasuki ruangan dengan pandangan tanpa ekspresi diikuti oleh seorang gadis berambut uban yang mengekor dibelakangnya.
Tak ada yang berkata setelah sosok itu datang, mereka tahu siapa dia. Naruto Gremory, makhluk yang bergelar hakaishin no kami masa kini. Oh apakah aku menyebutnya masa kini?, Itu benar mengingat sebelum Naruto ada seorang yang menyandang title tersebut.
"Sebenarnya kau di pihak siapa sih oni-sama?"
Sekian lama hening, sang maou berucap dengan nada penasaran karena dari segi bicara Naruto mengandung makna yang memojokkan dirinya.
"Jika boleh jujur aku tidak berada di pihak manapun!"
Dan ucapan dari Naruto sukses membuat semua orang membulatkan mata tak percaya dengan apa yang disampaikan Naruto, seharusnya ia berada di pihak iblis bukan?, Itu yang berada di pikiran semua kepala.
"Apa maksudmu tak memihak Naruto-dono?"
Dengan tidak mengurangi rasa hormat, sosok malaikat tertinggi di surga membuka suara yang sedari tadi tersangkut di tenggorokannya, ia tak habis pikir mengapa ia tak memihak salah satu dari ketiga fraksi.
Sedangkan Kokabiel mengerti mengapa sang hakaishin tak memihak mengingat ia sudah mengenalnya sangat lama.
"Dengan segala kehormatan yang kami punya, memanglah aku tak memihak antara tiga fraksi yang masih dalam perseteruan yang mungkin tak ada akhirnya-".
Naruto menjawab dengan perkataan yang sangat ambigu, bahkan seorang yang menjabat sebagai 'pengganti tuhan' pun harus memutar otak mencermati apa yang diutarakan sang hakaishin.
"-tapi mohon untuk kalian membiarkan sekali saja ego-ku ini"
Mereka mendengar dengan seksama apa yang Naruto ucapkan, dilain sisi Rias yang tengah berdiri di belakang kakak merahnya itu memicingkan mata menyelidik, di dalam hatinya ia berpikir 'ada apa dengan Naruto?'.
"Sebelum aku meneruskan perkataanku izinkan diriku ini untuk menjelaskan peristiwa penyerangan tenpo hari!"
Semua orang menatap ke arah Naruto dengan raut yang berbeda-beda, Azazel dengan tampang santainya, Michael yang memandang tertarik ke arah Naruto, Sirzech dengan tatapan serius nya. Semua menatap intens tanpa terkecuali
"Penyerangan itu-"
Menatap satu persatu makhluk yang berada di sana dengan mata biru bekunya, Naruto sengaja menggantung ucapannya, sungguh hal itu membuat semua semakin penasaran, terbukti kini Azazel juga memandang penuh tanya ke arah Naruto.
"-adalah perintah dariku!"
JDEEEERR
...
"Aaaaa kenapa kita harus menunggu di sini sih?"
Sosok pemuda berambut uban mengenakan pakaian hitam dihiasi motif awan merah menggerutu tak jelas, disampingnya terlihat seorang gadis berambut pirang berpakaian sama melirik kesal ke arah sang pemuda.
"Berapa kali kau mengatakan hal yang sama Hidan?"
Ucapan kesal sebagai balasan akan pertanyaan dari sosok yang kita kenal dengan nama Hidan, Hidan menoleh ke arah sang gadis, ia menguap lebar tanda bosan.
"Kapan kau berhenti mengeluh Ino?"
Gadis yang dipanggil Ino menatap tajam ke arah Hidan, jika boleh jujur, Ino ingin sekali menghajar Hidan yang menurutnya merepotkan namun itu tak mungkin mengingat jika mereka bertarung disini mungkin satu gedung sekolah ini akan rata dengan tanah.
"Oh bagus, si uban dan si pirang layaknya Tom and Jerry yang tengah bermain kejar-kejaran!"
Kedua orang itu menatap ke arah sumber suara, pertama yang mereka lihat adalah pria berambut pirang panjang dengan poni yang menutupi mata kirinya, jika dilihat lagi pria itu terlihat tampan dengan wajah datarnya, atau mungkin lebih tepat disebut cantik.
"Oh hebat, seorang penggila ledakan kini berkata bijak layaknya seorang pujangga"
Perempatan secara ajaib muncul di kepala pria berambut pirang, ia menatap tajam sosok Hidan yang memutar bola matanya pertanda bosan.
"Apa maksudmu mayat hidup?"
Hidan yang dipanggil mayat hidup yak mau tertinggal dalam acara memunculkan perempatan di kepalanya, tentu saja, siap yang tak kesal jika seseorang memanggilmu mayat hidup?.
"Hoy, aku ini immortal bukannya mayat hi-"
JLEB
Sebuah tombak terlihat menembus dada tempat jantung sang Hidan tempati, Ino yang sedari tadi diam kini menusukkan tombak yang entah dari mana datangnya ke arah Hidan tanpa belas kasih sedikitpun.
"-dup"
"Tuh kaaaaan, jika bukan mayat hidup apa lagi?, Jika kau bukan mayat hidup seharusnya kau akan mati mengingat siapapun yang terkena mata tombak itu tak akan selamat"
Ino melebarkan seringai saat Hidan mencoba mencabut tombak di dadanya, jika makhluk biasa yang melihatnya pasti mereka tak akan mampu menahan keterkejutannya namun mengingat siapa mereka, hal itu tak asing lagi.
"Hoy, apa kau mencoba membunuhku?"
Entah keajaiban atau apa, dada Hidan yang tadinya terdapat lubang yang besar kini tertutup rapat tak ada bekas. Hanya bisa darah dan pakaian yang rusak akibat serangan tiba-tiba dari Ino.
Semuanya terdiam merasakan sensasi aneh yang tiba-tiba muncul namun setelah itu mereka bertiga menyeringai entah mengapa.
"Sudah dimulai!"
...
Bagaikan Sambaran petir, perkataan Naruto begitu mengejutkan semua makhluk yang berada di sana termasuk juga Azazel yang tadinya berwajah santai kini harus membulatkan matanya tak percaya
"Apa maksudmu penyerangan tenpo hari itu adalah perintah mu?"
Rias menatap Naruto dengan tatapan tajamnya, ia tak habis pikir mengapa Naruto memberikan perintah kepada Kokabiel untuk menyerangnya tenpo hari. Sedangkan Sirzech, jangan ditanya lagi, ia terdiam mendengar ucapan mengejutkan yang keluar tanpa beban dari sang kakak.
Memutar ingatan yang berada di kepalanya, Sirzech mencari jawaban mengapa sang Kakak sampai berbuat sejauh itu, sejauh ini Naruto tak akan akan melakukan hal bodoh tanpa berpikir panjang.
Jika saja sang kakak bukanlah orang seperti itu pasti Sirzech sudah menerjang Naruto dengan amarah yang tiba-tiba muncul karena ucapan sang kakak. Namun jika dipikir lebih jauh lagi itu tak mungkin mengingat sifatnya yang tergolong misterius nan membingungkan.
"Aku tak suka jika ucapanku dipotong!"
Naruto berkata sembari menatap datar Rias, perlahan namun pasti Rias mundur merasakan takut kearah sang kakak yang selama ini ingin ia gapai. Sirzech melirik Rias yang terlihat ketakutan, marah, tentu saja. Siapa yang tak akan marah jika adik semata wayangnya dibuat takut oleh orang lain. Namun kemarahan itu harus ia padamkan dahulu agar tak terjadi hal yang tak diinginkan.
"Apa alasanmu membuat adikmu hampir terbunuh Naruto-dono?, Jika saja kau tak terlambat mungkin adik kecilmu itu akan mati bukan?"
Berkata dengan senyum, sang malaikat tertinggi itu menatap Naruto. Walaupun ia tersenyum namun Naruto yakin jika malaikat didepannya itu juga sedang menahan amarah, bisa dilihat dari tangannya yang tiba-tiba terkepal erat mencoba menahan amarah. Naruto tak heran lagi mengingat itu adalah sifat dari sepuluh perintah Tuhan yang semua malaikat miliki.
Rasa peduli yang tinggi entah itu dari kawan maupun lawan.
"Walaupun aku tak datang Rias dan para pereagenya tak akan terbunuh-"
Kata yang ambigu itu membuat semuanya menatap bingung menuntut jawab dari Naruto.
"Walaupun aku sedikit kesal karena Kokabiel terlalu berlebihan dalam memberikan pelajaran sih"
Ucapan blak-blakan dari Naruto membuat semua orang terdiam, Rias yang sedari tadi wajahnya mengeras perlahan melembut. Entah kenapa perkataan dari sang kakak menginterupsi Rias untuk percaya.
"Jadi apa hubungannya dengan sarang iblis Naruto?"
Azazel yang tadinya bungkam kini berkata. Nada penuh menyelidik membuat Naruto dan Kokabiel menoleh ke arah Azazel,
"Ku kira kau tak peduli dengan hal itu!"
Kokabiel berkomentar singkat, namun komentar itu dianggap sindiran oleh sang gubernur, ia kesal kenapa sang Kokabiel seperti tak mendukungnya dalam pertemuan ini.
"Sebenarnya kau ada di pihak siapa sih?"
Ucapan kesal Azazel menginterupsi Kokabiel untuk melebarkan seringai, seringai misteri yang Kokabiel tunjukkan membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap tanya ke arah Kokabiel.
"Aku dan Naruto-"
Suasana menjadi hening saat Kokabiel berkomentar, entah kenapa perasaan tak enak memasuki semua orang yang hadir di dalam pertemuan ini.
"-kami, memihak fraksi manusia!"
Sekali lagi semua makhluk harus dibuat terkejut mendengar ucapan dari sang Kokabiel, Naruto yang mengangguk menginterupsi semua orang untuk meneguk ludah mereka. Dengan begini tak ada lagi yang dapat mengusik manusia mengingat siapa yang memegang kendali atas fraksi manusia.
"T-tunggu, apa maksud semua ini kitsune?"
Naruto diam membatu saat ia mendengar suara gadis yang ia jauhi. Suara dari seorang gadis bertubuh loli yang entah sejak kapan berada di samping Sirzech menginterupsi Naruto untuk menoleh.
Pertama yang ia lihat adalah seorang gadis bertubuh loli memakai setelan Coldplay penyihir dihiasi tongkat sihir yang setia ia pegang.
Entah mengapa Naruto baru menyadari sosok itu tak kala sosok itu berucap. Naruto diam tanda jawaban membuat semua makhluk yang berada di situ menatap penuh tanya ke arah Naruto, bahkan Kokabiel juga menatap Naruto dengan pandangan penuh selidik.
Naruto menunduk tak berani menatap sosok itu. Sosok menatap datar ke arah Naruto menyebabkan makhluk dari ras iblis memandang bingung ke arah sang gadis. Memang tak biasa sang gadis memasang tatapn seperti itu namun mengingat apa/siapa hubungan nya dengan Naruto, Sirzech mengerti.
Tak lama kemudian Naruto mendongak. Bersusah payah ia menatap mata aquarium milik sang gadis yang masihlah menatap ia datar. Jika ini rasa takut Naruto tak akan menyangkal, kesalahan masa lalu yang membuat sang gadis kehilangan sosok sang kakak membuat Naruto takut untuk menatap. Bukan hanya menatap bahkan hanya sekedar menyebut namanya ia tak akan mau mengingat ia sudah mengecewakan sang gadis.
Flashback
"Cih tak ada habisnya!"
Seorang berambut emo menggerutu karena ia sedang bertarung dengan sosok astral berwarna putih yang tak bisa mati maupun dihancurkan. Ia mengumpat kesal melihat makhluk yang ia lawan terus berdatangan tanpa henti.
Dilain sisi seorang gadis berambut raven panjang juga tengah melawan sosok yang dilawan pria berambut emo, ia seperti kewalahan karena beyap banyaknya makhluk itu.
Jika boleh jujur memang makhluk astral ini tak ada apa-apanya ketimbang kekuatan dari sang gadis namun karena mereka terus berdatangan tanpa henti, hal itu membuat stamina sang gadis menurun drastis.
Sebuah tombak melayang ke arah sang gadis dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hal itu sebenarnya dapat dihindari oleh sang gadis namun karena stamina yang tak mendukungnya membuat sang gadis menutup mata siap menerima ajal jika ini memang waktunya.
Pria berambut emo melirik sang gadis, wajahnya mengeras melihat sang gadis yang seperti sudah menyerah. Amarah yang tiba-tiba meluap menjadi sebuah kekuatan,
Ia menggertakkan giginya keras, mengepal tangan erat sembari menekan tanah dengan kedua kakinya, tanpa ia sadari tanah mulai bergetar disekitar, pancaran cahaya berwarna biru muncul secara misterius dari dalam tubuhnya. Kerikil kecil terangkat menandakan kekuatan yang sangat besar.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!,HAAAAAAA"
Sosok itu berteriak keras, perlahan aura biru itu berubah menjadi sosok astral berwarna biru besar, raksasa. Aura biru itu semakin membesar sampai menjangkau gadia yang menutup mata pasrah.
Tak ada rasa sakit, sang gadis membuka mata melihat apa yang menghalangi tobak yang tadinya menuju kearah nya. Matanya membulat terkejut, pertama yang ia lihat adalah tombak yang hampir saja mengenai wajahnya yang kini tertahan oleh aura biru yang tanpa ia sadari melindunginya.
Sang gadis melirik mencari seorang yang mempunyai aura ini, ia melihat sang pria yang ternyata adalah dalang dari semua ini.
"Kakak!"
Sang pria tak menjawab, matanya masihlah menatap tajam ke arah musuh yang berdatangan dengan sangat banyaknya. Ia melirik ke arah sang gadis, mata yang tadinya berwarna hitam malam kini berubah merah dihiasi tanda koma di tepi pupil matanya. Hal itu membuat sang gadis yang ternyata adalah sosok adik pria itu membeku karena takut,
"Ka-kakak!"
Sang pria masih memandang ke arah makhluk yang berdatangan menghiraukan apa yang diucapkan sang adik. Terlihat makhluk didepannya siap menerjang, sosok pria itu mengangkat tangannya, hal itu membuat sosok astral berwarna biru mengangkat tangan pula. Perlahan pedang tercipta dari ketiadaan, menebas ke arah bawah, makhluk astral itu menyerang.
Musuh berjatuhan tiada jumlah(sangat banyak), tak ayal jika hunusan itu dapat meratakan pasukan makhluk menggelikan itu mengingat hunusan itu pun dapat membuat bukit didepannya terbelah menjadi dua.
Terlihat para musuh sudah kalah, sang gadis menatap horror apa yang dilakukan sang kakak, sungguh ini pertama kalinya ia melihat sang kakak Semarah ini.
"Kita pergi!"
Sang kakak berkata sembari membopong adiknya, ia menciptakan lingkaran sihir dibawah kakinya, lingkaran sihir itu naik membungkus tubuh kedua orang berbeda genre dan kemudian mereka menghilang.
Sosok pria dan adiknya telah sampai ditempat tujuan, sebuah ruangan megah terpampang di depan mata mereka, interior mewah menambah kesan indah tempat itu.
Ditengah ruangan terlihat meja besar disertai beberapa kursi yang diisi oleh sepuluh sosok yang merupakan kawan pria ini, sang pria menurunkan gadia yang ia gendong, melangkah pelan ke bagian kursi yang kosong, ia duduk.
Semua pasang mata menatap intens sosok yang duduk dengan pandangan sulit diartikan.
"Kacau!" Sosok pria itu bergumam, semua orang mendengarkan apa yang akan dilanjutkan oleh sosok itu.
"Para zetsu berjumlah jutaan sudah mulai bergerak!, Aku dan serafall bahkan hanya mampu membunuh mereka sekitar 1:10.000, mereka tak bisa mati bahkan aku harus memakai mata terkutuk ini!"
Sang pria melanjutkan kata-katanya, ia menatap sekilas memperlihatkan mata merah dengan tiga titik koma mengitari pupil matanya. Hal itu membuat semua yang ada disana bergingeri.
"Sel!"
Seseorang pria berambut pirang yang tak lain adalah Naruto berkata ambigu, ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan ke arah jendela. Matanya menatap keluar entah apa yang ia cari.
"Sel tumbuhan ada di setiap inchi tubuh mereka!, Jika kita tak melawan mereka dengan pengguna energi alam, kita tak akan bisa mengalahkan mereka!",
Naruto menjelaskan apa yang ia pikirkan, memang benar jika energi alam harus dilawan dengan energi alam pula mengingat jika itu dilawan dengan cara lain tak akan ada efeknya.
"Jadi kita bersembilan akan melawan mereka eh taichou?"
Sosok yang sedari tadi diam mengeluarkan suaranya, suara yang terdengar seperti ejekan namun jika dilihat dari wajah dan ekspresi yang sosok itu tunjukan melambangkan keseriusan.
"Ya!"
Semua diam mendengar persetujuan dari Naruto, tak ada yang dapat melawan ataupun berani melawan. Mereka tahu jika sosok taichou mereka sudah seperti ini maka apapun yang menghentikannya tidak akan selamat dari yang namanya luka.
"Kau tak perlu repot-repot mengurus cacing seperti mereka Naruto!"
Naruto diam, bukan karena apa yang diucapkan, melainkan siapa yang berucap. Seorang yang Ia anggap sebagai seorang saudara. Sasuke, sosok kakak Serafall sekaligus iblis terkuat disini.
Naruto mengerti mengapa Sasuke tak memperbolehkannya untuk terlibat dalam masalah ini. Ia pikir delapan orang saja sudah cukup, tak perlu menambah kepala lagi.
"Baiklah!, Sasuke dan nanatsu no taizani aku mengutus kalian untuk membantai para zetsu!"
Kata itu membuat semua orang selain yang Naruto sebutkan membulatkan mata mereka, ingin mereka mengungkapkan protes namun itu tak mungkin mengingat Naruto dalam keadaan serius seperti ini.
Seorang gadis berambut pirang dengan poni yang menutupi mata kirinya melangkah ke arah Naruto, terlihat ia tersenyum ke arah Naruto.
Ia mengelus pipi sang taichou pelan. Naruto menikmati sentuhan sari sang gadis namun entah mengapa ia merasakan hal buruk yang akan terjadi.
Melihat Naruto yang tengah berfikir, sang gadis menepuk pelan pipi Naruto. Naruto tersadar dari acara berpikirnya, ia menoleh ke arah sang gadis yang masih tersenyum, senyum yang Naruto lihat adalah senyum yang paling tulis sari senyum lainnya.
"Tenanglah, kami akan selamat dan juga akau belum menagih janji yang kemarin lohhh!"
Sang gadis berucap canda berharap Naruto tersenyum. Namun usahanya tak membuahkan hasil, Naruto masih menatapnya datar. Walaupun pandangan datar yang Naruto berikan namun gadis itu yakin jika Naruto tengah dalam kekhawatiran.
"Berjanjilah!, Kau akan menepati semua keinginanku saat kita bertemu lagi!"
Oke, sekarang Naruto merasakan jika ini adalah kalimat perpisahan.
"Aku berjanji!"
Janji sudah dibuat, segala apa yang diminta sang gadis akan ia turuti saat mereka bertemu kembali. Tak akan ada yang bisa membatalkan maupun menghalangi apa yang telah mereka langkah.
"Kalian pergilah, Sasuke, Hidan, Ino, Yolda, Deidara, Kazeo, Sasori, Tobi!"
Semua orang yang disebut namanya tersenyum senang. Baru pertama kali mereka disebut dengan nama oleh taichou mereka dan hal itu adalah yang langka dari yang terlangka.
Mereka bersiap dengan lingkaran sihir masing-masing untuk menuju ke arah tujuan.
"Dan ingat!"
Sebelum mereka menghilang, mereka mendengar perkataan Naruto yang sengaja ia potong.
"Jangan mati!"
Mereka semua terkekeh melihat betapa khawatirnya sosok taichou mereka. Mereka mengangguk mengiyakan permintaan dari sang taichou. Mereka menghilang ditelan lingkaran sihir, Naruto duduk bersandar di kursi tempatnya tadi duduk. Perasaan tak enak menyelimuti hatinya, entah kenapa ia merasakan hal buruk entah apa itu.
Dan hari itulah dimana sosok Naruto kehilangan para sahabat sekaligus rekannya yang berharga.
Flashback off
Naruto menghela nafas setelah mengenang masa lalunya, ia benar-benar menyesal memperbolehkan mereka pergi membantai para zetsu tanpa adanya dirinya.
Semua orang menatap sosok Naruto yang entah sejak kapan matanya berubah menjadi mata yang paling ditakuti saat perang antara old-anti berlangsung ratusan tahun yang lalu. Mata biru sapphire kini berubah menjadi mata merah dengan sembilan titik koma yang memenuhi seluruh matanya, pupil biru laut berbentuk mata ular menambah kesan mengerikan mata itu.
"Sudah dimulai!"
Tbc
Osh osh, Wellcome back to Ryuki is home, apa kabar kalian semua?, Wahhh semoga sehat selalu ya. Oke pertama-tama puji syukur kepada Tuhan yang maha esa yang telah memperbolehkan Ryuki update fic gaje ini.
Di ch ini adalah potongan masa lalu sang Naruto dan siapa saja orang yang ada di tabung laboratorium Grigory, Yap dan disitu saya menamai mereka bertujuh dengan nama nanatsu no taizani(tujuh orang pendosa#maaf klo salah) sebagai julukan mereka.
Hohoho dan sepertinya sudah ada tiga orang yang berhasil keluar dari laboratorium itu dalam arti hidup. Dan juga maaf jika ada typo dan kesalahan.
Yap seperti nya segini dulu, ane masih dalam pengerjaan ch selanjutnya. Ok sekian dari Ryuki.
Selanjutnya di Reincarnation of god:
"Sishou"
"Bodoh jangan melawan sendiri!"
"N-naruto?"
"Aku menagih janji saat itu"
"Apa maksud semua ini?, Dan siapa gadis ini Naruto?"
"Semua orang akan berubah, begitu juga denganku!"
Jangan sampai tertinggal yaaaaaa,
Jaa ne
Flash
Log-out
