Semua orang terdiam setelah Naruto bergumam, ekspresi ditunjukan berbeda-beda dari masing-masing wajah makhluk yang berada disitu. Hawa disekitar mendadak dingin, tekanan yang mendadak berat sekaligus waktu yang serasa berhenti.
"Forbidden balor view?"
Naruto berucap heran, bukannya pengguna sacred gear itu tak ada disini?, Tapi mengapa waktu disini berhenti. Jika dilihat lebih dekat lagi, sosok Irina yang seorang malaikat dan beberapa orang yang tergolong lemah berhenti bergerak. Hal itu tak membuat heran para orang dewasa disana mengingat kekuatan apa yang dapat menghentikan waktu.
Forbidden balor view, salah satu dari tiga belas longinus sacred gear yang hanya ada satu di dunia ini. Kekuatan yang dapat menghentikan waktu dalam jangka jarak tertentu. Naruto tak asing dengan kekuatan ini, namun ia heran mengapa bukan pemilik sacred gear ini yang mengendalikannya?. Sepertinya sosok yang mempunyai sacred gear ini tengah dipaksa seseorang, terlihat jelas dari caranya menghentikan waktu, tak terkontrol, putus putus layaknya lag.
"Sepertinya kau memiliki bidak yang tak digunakan Rias!"
Sekian lama bungkam menyapa masing-masing, sang Maou berucap dengan nada serius, ia tahu dan paham siapa empu dari sacred gear ini.
Rias diam mencoba mengingat siapa bidak yang tak hadir dalam pertemuan ini, memutar otak keras mencari ingatan tentang sosok yang mempunyai sacred gear ini.
"Gasper!"
Rias berteriak sembari menggenggam tangan Issei erat, ia menarik nya agar Issei ikut guna menolong bidak rahasianya itu mengingat hanya issei yang tak terpengaruh oleh sacred gear ini karena ia mempunyai sacred gear yang lebih kuat.
Ratusan lingkaran sihir tercipta di langit kelam, perlahan terlihat banyak sekali boneka kayu berpakaian penyihir muncul membuat semua orang terkejut.
Bukan boneka itu yang membuat mereka terkejut, melainkan sosok yang muncul dengan enam pasang sayap kelelawar menempel di belakang badannya.
"Lama tak jumpa!"
Sosok itu berucap datar, wanita berdada besar dengan kacamata bulat yang melindungi matanya menatap nyalang ke arah tempat dimana konferensi diadakan. Semua orang terdiam merasakan hawa berat yang menguar dari tubuh sosok wanita itu.
"Dan salam untukmu hakaishin!"
Naruto terdiam kala title yang ia sandang diucapkan sosok itu, ia menatap sosok itu datar tanpa ekspresi namun kemudian ia menyungging senyum, lebih tepatnya seringai, seringai yang belum pernah orang lain lihat.
Semua pasang mata menatap heran Naruto, mengapa ia terlihat senang sekali tak kala sosok itu datang?, Ingin rasanya mereka bertanya namun itu tak mungkin mengingat situasi yang sedang tak mendukung. Dan lagi, Naruto belum menjelaskan secara rinci bahan pembicaraan tadi.
"Karterea kah?"
Naruto berucap dengan seringai misterius yang masih ia tunjukan, hal itu entah kenapa membuat sosok yang dipanggil karterea itu tersenyum.
"Ohohohoho, tak ku kira kau masih mengingatku eh, Gremory!"
Karterea menjawab dengan nada sinis membuat semua orang mendecih muak melihat tatapan dari salah satu anggota old satan ini.
Karterea Leviathan, iblis bermarga Leviathan dan sekaligus satu dari dua mantan calon maou generasi sekarang. Mengapa author menyebutnya mantan calon maou?, Karena yang menjadi maou Leviathan masa kini seharusnya karterea namun mengingat bagaimana sifat dari Leviathan sebelumnya membuat penduduk mekai mengusir Karterea agar kejadian dimasa lalu tak terjadi lagi.
"Hakai"
Entah sejak kapan Naruto berada di belakang sosok karterea, ia membuat sebuah bola hitam ditangan kanannya hendak menyerang namun karterea dengan mudahnya menghindari serangan kejutan dari Naruto. Ia terbang semakin ke atas menghindari serangan Naruto.
"Hohoho, jadi itukah kekuatan yang waktu itu eh?".
Karterea berucap sinis, ia tahu apa yang akan Naruto pakai guna menyerangnya. Bola hitam yang merupakan kekuatan penghancur itu melesat lurus ke depan, beruntung rekan Naruto sudah memasang kekai di sekitar tempat itu.
Bola hitam itu menyentuh kekai, meledak membuat apa saja yang terkena efek ledakan itu lenyap tak tersisa.
Semua rekan Naruto pucat pasi melihat apa yang dilakukan sosok dengan title hakaishin itu. Jika saja ada yang menentang keputusan Naruto tadi, mereka yakin pasti mereka sudah berada di ketiadaan.
Kokabiel tertawa melihat wajah pucat petinggi fraksi didepannya itu, jujur saja, wajah mereka terlihat tak menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk terkuat dari masing-masing fraksi.
"Kalian seperti tak pernah melihat itu saja?"
Kokabiel mengejek dengan nada sinis, walaupun itu hanya candaan belaka namun ucapan dari Kokabiel mampu membuat Maou Leviathan masa kini mendecak muak.
"Ck, walaupun kami pernah berulang kali melihat hal seperti ini tapi kami masih takut kau tau Ko!, Aku tak bisa membayangkan jika terkena itu!"
Membayangkan saja membuat sosok yang bergelar maou Leviathan takut, jika saja serangan sekecil itu dapat meratakan taman itu maka bagaimana jika serangan itu mengenai makhluk hidup, ugh walau hanya membayangkan saja sudah membuat pucat wajah semua orang disana.
Kokabiel menyeringai, entah itu mengejek atau memang seringai keji namun Serafall yakin jika seringai itu tak ditunjukkan kepadanya.
"Aw, masih mengerikan seperti dulu eh?"
Naruto tak menjawab perkataan sosok Karterea di atasnya, ia hanya memasang seringai misteri yang tak bisa diartikan oleh Karterea.
Naruto terus menyerang sosok Karterea dengan bola hitam kepunyaannya namun serangan itu tak sekalipun mengenai Karterea.
"Bisakah kau membiarkan diriku ini menyerang mu sekali saja Leviathan-chan?"
Semua petinggi fraksi harus menahan tawa karena perkataan dari sosok dengan title hakaishin didepan mereka. Kata 'chan' itu pasti akan membuat siapapun old satan marah tapi entah kenapa itu tak ditunjukkan oleh sosok Karterea, ia tersenyum. Berbeda dengan Sirzech yang masih bergelut dalam pikirannya.
Kadang Sirzech yang notabennya adik Naruto merasa Bingung mengapa sang Kakak selalu berubah dalam hal sikap, seingatnya tentang Naruto, ia merubah sikapnya saat rekannya tak kembali setelah ia memerintahkan mereka untuk membantai zetsu, tapi bukan itu yang membuat Sirzech bingung.
Sosok sang kakak yang sebelumnya dingin terhadap semua orang kini berubah menjadi sosok yang tak pernah ia ketahui, tentu saja mengingat sifat dari Naruto yang selalu berubah setiap waktunya sejak ia kembali dari acara menghilangnya sepuluh tahun lalu.
Contohnya sekarang, sang Kakak sekarang seperti anak kecil yang merengek karena ia tak mendapatkan permen, itu menurutnya.
Disisi lain, ketiga orang misterius tengah menatap nyalang ke arah pertempuran antara Karterea dengan Naruto, mereka terdiam menyimak interaksi dari ke-dua makhluk itu.
"Whoaaa, si baka-kitsune ternyata tak pernah berubah ya?"
Sosok Hidan berkomentar dengan rasa kagum, ia menyeringai misterius membuat kedua temannya bergidik ngeri. Mereka tau apa yang akan terjadi jika teman uban mereka yang satu ini sudah menyeringai layaknya sekarang. Pertarungan!, Kata itu yang dapat mereka asumsikan terhadap seringai dari Hidan.
"Haaah, jangan coba-coba kau melawan Taichou lagi Hidan!, Apa kau tak ingat terakhir kali kau bertarung dengannya?".
Deidara menghela nafas lelah kemudian memperingati sosok Hidan yang masih setia menyeringai.
Hidan memandandang rekannya itu dengan tampang bodoh yang akan membuat siapapun akan langsung menerkamnya mengingat wajahnya yang terlihat imut.
"Hentikan tatapan bodohmu itu mayat hidup!"
Perempatan terlahir begitu saja di kepala Hidan, ia meraih sebuah besi hitam yang entah dari mana ia dapatkan. Ia menodongkan besi itu ke arah Deidara, besi itu memanjang siap untuk menyerang.
"Apa-yang-kau-bilang-dei-dara?"
Hidan berucap dengan hawa pekat yang menguar dari tubuhnya, perlahan aura merah membungkus tangan kanan yang memegang besi itu. Deidara menyeringai mengejek kearah Hidan. Ia merogoh kantung yang berada di pinggangnya kemudian mengambil sesuatu.
Duakk
Duakk
Sebelum kedua makhluk nista itu bertarung satu sama lainnya, sosok Ini yang sedari tadi diam tiba-tiba memukul kedua kepala beda warna milik rekannya, ajaibnya lagi, tangan dan kening Ino kini sudah tercetak perempatan yang sama seperti milik Hidan.
"Bisakah kalian tak bertengkar sekali saja?"
Ino membentak kesal, tangannya masih terkepal dihiasi asap yang keluar dari kepalan tangannya.
Kedua pemuda itu langsung bungkam mendengar bentakan dari gadis pirang yang menghajar kepala mereka. Mereka menatap ke arah Naruto, pandangan mereka datar tanpa ekspresi entah kenapa.
"Sepertinya bukan taichou yang melawan Karterea!"
Hidan berucap serius, melihat sosok Naruto yang sampai menggunakan kekuatan penghancur milik nya tentu saja membuat sosok Hidan mengasumsikan hal seperti itu mengingat semasa dulu saat ia masih bersama Naruto, Naruto tak pernah sekalipun menggunakan kekuatan itu. Naruto sering menggunakan jurus bola hitam itu tapi tidak seperti sekarang.
Aura yang terpancar dari bola itu terasa...kelam
Kedua rekannya mengangguk menyetujui asumsi dari Hidan.
Disisi Naruto, Naruto masih sibuk menyerang Karterea dengan kekuatan penghancur nya. Ia masih menyeringai melihat Karterea yang semakin kualahan menghindar.
Karterea turun menapak tanah, nafasnya memburu tak karuan, keringat dingin mengalir deras, dan juga ada ketakutan didua bola matanya.
Naruto memandang Karterea datar, seringai dari bibirnya menghilang digantikan dengan garis lurus
Naruto menghela nafas panjang, lelah.
"Sudah kubilang jangan keluar sebelum waktunya bodoh!"
Naruto berucap datar entah kepada siapa. Semua orang memandang bingung, berbeda dengan Karterea yang tersenyum penuh arti.
"Oh ayolah,, aku hanya menyapa teman lama tak salah bukan?"
Naruto berucap lagi, namun nada yang ia gunakan kini terdengar begitu berat namun tidak datar, berbanding terbalik dengan sosok Naruto yang biasanya.
"Menyapa?, Kau hampir membuatnya mati bodoh!"
"Hey, dia tak akan mati semudah itu Hikari!".
"Aku tahu Yami, tapi tidak harus menggunakan hakai juga bodoh!"
"Sudah beberapa kali kau memanggilku bodoh?, Bodoh!"
Semua orang hanya cengo mendengar percakapan Naruto dengan dirinya sendiri, oke, sekarang sudah muncul satu pertanyaan lagi mengenai sosok Naruto yang misterius ini.
Naruto melangkah ke arah Karterea, pandangan datar tanpa ekspresi memberi kesan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
"Jadi?"
Naruto berucap tak kala ia sampai didepan sosok Karterea, kata ambigu yang pasti membingungkan itu keluar mulus tanpa beban. Karterea masih terdiam, namun ia sudah mulai tenang dari acara takutnya.
"Kau mengagetkan ku baka!"
Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung akan perkataan dari Karterea, bukannya menjawab tapi ia malah mengumpat, huh sungguh aneh.
"Kenapa kau tak bilang jika yang melawanku itu Yami?, Jika saja kau mengatakan nya, aku pasti tak akan dalam keadaan seperti ini baka!"
Dilihat dari keadaannya sosok Karterea itu memang tergolong buruk, bajunya yang compang-camping dihiasi noda darah yang terlihat di beberapa bagian.
"Sudah ku bilang jika kau ingin menemui nya tidak perlu membuat masalah bukan?"
Naruto berucap lembut, senyum tulus ia tunjukan membuat semua petinggi fraksi disana berpikir bingung. Berbeda dengan Kokabiel yang tersenyum penuh arti.
Kokabiel turun mendekati Naruto dan Karterea, hal itu menambah pertanyaan yang masih disimpan para petinggi fraksi masing-masing.
Cahaya emas menguar dari tubuh berjalan Kokabiel, silau karena terangnya. Cahaya itu perlahan kembali ke dalam tubuh Kokabiel.
Semua pasang mata harus dibuat membulat dengan apa yang mereka saksikan sekarang, bukan cahaya dari Kokabiel melainkan perubahan yang terjadi dengan Kokabiel.
Mata yang tadinya merah darah kini digantikan mata berwarna cokelat gelap, telinga panjangnya kini terlihat lebih pendek dari sebelumnya, sayap hitam seindah malam miliknya diganti sayap emas dengan aura yang menjanjikan kedamaian. Terlihat juga pakaian yang ia kenakan, kini ia mengenakan Armor berwarna emas persis sama dengan milik sang Michael, yang berbeda hanyalah armor milik Kokabiel lengkap, berbanding terbalik dengan kepunyaan Michael yang hanya beberapa bagian.
Disisi lain, Ino, Hidan, Deidara menatap tertarik ke arah Kokabiel, mereka tersenyum penuh arti.
"Whoaaa,, tak kusangka Kokabiel menggunakan wujud Sheraph nya!"
Hidan dan Ino mengangguk menyetujui apa yang diutarakan dari rekan mereka.
",,Osh seperti nya kita harus mendekat!",
Mereka menghilang menuju arah Naruto berada.
"S-sheraph Mahad!"
Gumaman kaget dari sosok Malaikat tertinggi di surga memicu toleh semua makhluk disana, jika boleh jujur, mereka tak tahu siapa nama yang digunakan sang malaikat tertinggi disurga.
"Mahad?, Siapa itu?"
Sang maou Leviathan bertanya dengan wajah polosnya membuat semua makhluk yang tak tahu menahu tentang Mahad mengangguk.
Sang Sheraph Michael menarik nafas guna mengendalikan keterkejutannya, ia menatap intens ke arah sosok Kokabiel yang kini sudah bertransformasi menjadi sosok yang lebih 'indah' dari sebelumnya.
"Mahad, sosok malaikat misterius yang tak ada yang tahu darimana dan mengapa ia diciptakan, berbeda dengan kami:para malaikat yang diciptakan oleh ayah dengan alasan tertentu!."
Michael bercerita tentang sosok yang Mahad, sosok yang tak pernah ia tahu mengapa dan bagaimana ia diciptakan, tak ada yang tahu, hanya sang kami yang mengetahui nya.
"Mahad, dulunya ia adalah malaikat disurga namun tak lama kemudian ia dipanggil ayah untuk mengabdi pada Pharaoh!"
Michael melanjutkan ceritanya namun dalam hati ia bertanya mengapa ia menyamar dengan nama Kokabiel?, Setahunya Kokabiel adalah malaikat yang entah darimana datangnya lalu masuk ke surga dengan kami kemudian ia menduduki peringkat malaikat pelindung dan mendapat title nindaime no kami,, itulah yang dipikirkan Michael.
"Jadi begitu?"
Sekian lama Azazel bungkam, akhirnya ia berucap dengan nada ambigu membuat semua orang menoleh.
"Aku paham sekarang!, Pantas saat kau bertanya kepada ayah tentang Kokabiel, kau selalu mendapat jawaban yang sama Michael"
Azazel mengungkapkan seluruh pemikirannya, walaupun terdengar ambigu namun Michael dapat menyimpulkan apa maksud dari Azazel.
Oke, author yakin jika semua makhluk yang tengah mendengarkan percakapan antar Azazel-Michael kesal karena kalimat yang tak mereka mengerti.
"Saat aku bertanya kepada ayah mengenai Kokabiel, ayah selalu menjawab dengan jawaban yang sama 'belum saatnya kau mengetahui, cukup aku sahaja. Waktu akan berputar cepat, dunia akan dalam masa mengerikan, dan saat itulah kau akan mengetahui tentang Kokabiel dan yang tak bernama' walaupun aku masih sedikit bingung dengan apa yang diucapkan ayah tapi aku yakin semua sudah tertulis ditangan ayah!"
Semua orang terdiam mendengar perkataan panjang lebar malaikat tertinggi disurga ini, mereka menatap dimana Naruto dan Kokabiel berada, pandangan bingung menyelimuti pikiran mereka. Mengapa mereka terlihat sangat akrab?, Pikiran mereka tertuju pada pertanyaan itu dimana mereka melihat Naruto, Kokabiel, Karterea bercengkerama.
"Jadi ini sosok Mahad itu?"
Naruto berucap, ia menatap intens Kokabiel yang tersenyum kecil berbanding terbalik dengan Kokabiel yang dulu, Naruto dapat menangkap wajah dan hati Kokabiel yang menjanjikan perlindungan, mungkin itu sebabnya mengapa sosok Kokabiel mengemban beban menjadi malaikat pelindung.
"Hey seperti kau tak pernah melihatku dalam bentuk ini saja?"
Naruto memutar bola matanya bosan mendengar candaaan yang menurutnya tak lucu. Sedangkan Karterea, jangan ditanya lagi, ia memasang wajah blank akibat perubahan Kokabiel yang tiba-tiba, ia menatap tak percaya sosok Kokabiel yang berada didepannya.
"K-kokabiel?"
Kokabiel tertawa mendengar ucapan gagap dari gadis yang ia kenal, walaupun gadis ini adalah musuh tapi ia tak menunjukkan tatapan benci maupun waspada, ia tertawa lepas membuat semua makhluk selain Naruto mengerutkan keningnya.
"Tak ku sangka kau bisa tergagap juga Karterea, oh lupakan nama yang bangsat Lucifer itu berikan kepadamu, sekarang namamu adalah Re=L"
Naruto tersenyum mendengar ucapan yang tak mungkin diucapkan sari sosok teman da-tenshi yang satu ini. Sekarang ia bukan lagi Kokabiel yang dulu, berucap sinis dan mempunyai ego yang tinggi, melainkan sosok makhluk yang misterius yang mempunyai hati bersih bak air yang jernih, tak ada kotor sedikitpun.
"Re=L, sudah lama aku tak mendengar nama asliku... Sensei!"
Jdeeeerr
Bagai disambar petir, semua makhluk disana harus dibuat terkejut mendengar pengakuan dari sosok gadis bermarga Leviathan, Naruto hanya tersenyum karena ia sudah tahu tentang Karterea walau hanya sedikit. Jika boleh jujur Naruto kesal karena temannya yang satu ini tak memberi tahunya jika ia adalah Sensei dari sosok Karterea yang kini bernama Re=L didepannya.
Takk
Kokabiel menyentil kening Re=L membuat sang empu mengerang merasakan sakit yang tak seberapa.
"Masih bodoh seperti dulu ya?"
Kokabiel menyindir Re=L, sedangkan yang disindirnya hanya menggembungkan pipinya kesal, Kokabiel tertawa renyah, bahkan Naruto juga terdengar tertawa walau itu hanya sekilas.
Selang beberapa lama, seseorang melesat ke arah Naruto, sosok itu menghunuskan pedang ke arah kepala Naruto namun dapat dihindari dengan memiringkan kepalanya.
"Cukup bagus!"
Sosok itu berucap sinis, Naruto terdiam. Kokabiel dan Re=L menjauhi arena dimana Naruto diserang oleh sosok misterius itu, Kokabiel menatap intens ke arah dimana sosok tak dikenal itu berhenti dibelakang Naruto, ia tersenyum.
"Tapi bagaimana dengan ini?"
Tangan kanan sosok misterius itu memegang sebuah sabit dengan tiga mata tajam entah dari mana asalnya, mengayunkan sabit itu ke arah leher Naruto,
Jraaaazzzzz
Bunyi tebasan terdengar, sebuah kepala menggelinding ke tanah, semua orang menatap tak percaya dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu, darah segar tak henti-hentinya mengalir menyebabkan genangan darah di sebuah lubang dekat dari posisi Naruto semula berdiri.
"Ya ampun, kau hampir saja membunuhku Hidan!"
Naruto berucap tenang, ia menatap tubuh tak bergerak milik sosok misterius yang ternyata bernama Hidan, Naruto melangkah mendekati kepala Hidan yang tergeletak di tanah, memenggalnya bak mainan, melempar-lemparkannya ke atas.
"Bisakah kau hentikan itu taichou?"
Entah apa yang merasuki kepala Hidan, ia berucap. Jika makhluk yang tak tahu apa-apa tentang sosok Hidan, ia pasti akan pingsan. Terbukti dari sosok Akeno yang entah sejak kapan menyaksikan peristiwa ini telah pingsan di tempat dengan wajah pucat pasi.
Naruto menaikkan sebelah alisnya namun ia tak menggubris perkataan Hidan, ia melepaskan kepala Hidan dari cengkeraman tangannya, kepala Hidan jatuh, menarik pelan kaki kanannya dan...
Buakkk
Kaki Naruto mulus bersarang di wajah tampan Hidan, kepala itu melesat lurus ke depan, samar-samar kepala itu terdengar mengumpat kesal.
"Sialan kau taichou!"
Naruto menghela nafas panjang, satu lagi makhluk merepotkan muncul, dan semoga saja hal ini tak bertambah lagi. Oh Naruto, sepertinya harapanmu harus di simpan dulu.
Naruto berbalik berniat melanjutkan apa yang ia lakukan, konferensi, akibat dari munculnya Karterea(Re=L) semuanya menjadi berantakan.
Naruto mengurungkan niatnya saat mata birunya menangkap gadis pirang yang terlihat membawa tombak berwarna biru, senyum yang terpatri menambah kesan cantik gadis itu.
Tatapan mata kosong dilontarkan oleh Naruto, enth kenapa ia bungkam tak kala melihat sosok itu. Sosok yang ternyata adalah Ino melangkah ke arah Naruto, senyum cerah bak mentari ia tunjukan, rasa rindu yang terlihat dari kedua bola mata seolah menuntut untuk segera bertemu.
Sang gadis itu berlari kecil ke arah Naruto, tubuh nya terangkat terbang diikuti tombak hijau yang mengekor dibelakangnya.
Semua makhluk dari masing-masing fraksi menatap intens sosok gadis itu, wajah itu terkesan tak asing dimata mereka.
Jraaaazzzzz
Wajah para makhluk disana mendadak pucat, gadis itu berhenti di depan Naruto, menunjuk dada Naruto menggunakan tangan kirinya dan, tombak yang sedari tadi mengekor Ino itu melesat ke arah yang ditunjuk sosok itu.
Tombak itu menembus dada Naruto namun Naruto masih berdiri tegak tak merasa sakit, darah mengalir tanpa henti, wajah yang semula biasa kini pucat karena kekurangan darah.
Tangan kecil Ino meraih tombak yang menancap di dada Naruto, menarik kasar sampai oyakan daging keluar.
"Jadi tak ada sambutan untukku Naruto?"
Ino berucap sembari berkacak pinggang didepan Naruto, tak ada rasa bersalah di sorot matanya.
Perlahan Naruto menghembuskan nafas lelah, ia melebur menjadi daun gugur, terbang ke samping Ino dan.
Duakk
Jitakan sayang diterima Ino membuat Ino mengeras sakit. Naruto memutar mata, ia kemudian berlalu tanpa sepatah kata.
"Hey, kebiasaan buruk mu harus cepat di ubah Naruto!"
Ino menggerutu kesal dengan sifat Naruto yang satu ini, walaupun ia kesal namun berbanding terbalik dengan kata hatinya yang mengetahui sifat Naruto masih seperti dulu walaupun ada perubahan. Oh sayangnya kau tak tahu sifat Naruto yang sekarang Ino^_^
Ino berlari menyusul Naruto tanpa mempedulikan kepala Hidan yang masih mengumpat kesal diujung taman.
"Orya, si Vlad Dracula ternyata sudah sadar eh?"
Ino yang mendengar sindiran entah dari siapa itu menoleh sekitar mencari sumber suara dan binggo, ia melihat Karterea(Re=L) yang tengah tersenyum sadist sembari menatap dirinya.
Semua pasang mata menatap Ino dengan pandangan yang sulit diartikan, ada yang memasang wajah blank, bingung dan... Entahlah, berbeda dengan Kokabiel dan Naruto yang menghela nafas.
Sirzech menatap tak percaya ke arah Ino, bukan karena nama yang tadi disebutkan Naruto, Melainkan sosok Ino yang terlihat baik-baik saja. Jika boleh jujur ia terkejut melihat kedatangan dua makhluk yang notabennya adalah anggota nanatsu no taizai masih hidup mengingat sejak saat itu mereka tidak pernah terlihat lagi.
Naruto duduk sembari memejamkan mata diikuti Kokabiel yang berdiri layaknya pengawal dibelakangnya. Ia menghela nafas melihat tatapan bodoh dari makhluk tertinggi dari masing-masing fraksi.
"Bisakah kalian berhenti menatap Ino?, Kau juga Sir, lihat Grayfia yang sudah merah padam!"
Naruto berucap menginterupsi semua pasang mata untuk menoleh, Sedangkan Sirzech harus berkeringat dingin karena merasakan hawa tidak enak yang menguar dari tubuh istrinya.
Ingin sekali Naruto tertawa melihat adiknya yang terlihat takut dengan istrinya, sungguh tidak seperti maou Lucifer saja.
Ino melangkah menuju belakang Naruto, tatapn yang semula cerah kini digantikan tatapan datar tanpa ekspresi,
"Kita lanjutkan acara kita yang tertunda!"
Semua makhluk disana langsung memasang wajah serius, duduk berjejer dengan para pengawal yang berdiri dibelakang masing-masing.
"Sebelum itu!-"
Naruto melirik Karterea yang berada di samping Kokabiel, seakan tau apa yang Naruto maksud, Karterea menggumamkan entah apa, perlahan kugutsu yang semula berjejer memenuhi langit kini meleur menjadi abu,
"Baiklah, tapi aku mempunyai pertanyaan untuk Si nafsu!"
Dosa nafsu, gelar yang disandang oleh sosok Ino, entah apa sebabnya ia dijuluki dengan nama itu tak ada yang tahu, hanya anggota nanatsu no taizani yang tahu menahu akan hal itu.
Ino tersenyum simpul, oh tak ia sangka jika sosok bocah ingusan yang dulu selalu selalu ia manjakan berubah menjadi sosok pria dewasa bergelar maou Lucifer.
"Seribu tahun lalu, kalian hilang begitu saja dan sekarang,?"
Sirzech tak habis pikir dengan sosok anggota nanatsu no taizani yang menyandang gelar dosa nafsu didepannya. Dulu ia menghilang dan sekarang ia dengan seenak jidatnya menunjukkan eksistensinya yang telah lama terlupakan. Entah apa yang terjadi selanjutnya jika mereka kembali ke mekai.
Bukannya tak senang tapi berhubung kekuatan mereka terlalu overpower, jika saja para tetua tau Mereka masih hidup pasti mereka akan dijadikan senjata guna memperkuat fraksi iblis.
Dan jika itu terjadi, maka akan terjadi hal yang lebih buruk.
Sirzech melirik ke arah sang kakak yang terlihat sedang memejamkan mata menunggu jawaban, ia menatap intens ke arah sang kakak. Entah kenapa ia merasa jika sang kakak juga belum tahu mengapa mereka muncul kembali.
"Kau tak perlu tahu Sir!, Cukup kau percaya jika aku dan kedua lainnya masih hidup!"
Ino menjawab dengan nada dingin berbanding terbalik dengan kesan pertama saat ia muncul.
Naruto memijat pelipisnya pelan, ia menghela nafas lalu bangkit dari acara duduknya. Ia mendekat ke arah jendela yang kini berlubang akibat dari kemunculan Karterea yang sangat tiba-tiba.
"Kita disini bukan untuk menanyakan perihal nanatsu no taizai Sir,!" Naruto berucap tanpa menoleh, tatapan matanya menatap ke arah rembulan yang tengah purnama. Indah malam disertai semilir angin, sungguh damai.
"Haaah, baiklah kita langsung to the point saja, ehm kami fraksi malaikat jatuh menyatakan perdamaian kepada kedua fraksi akhirat lainnya!"
Terkejut?, Tentu saja siapa yang tak terkejut jika ras yang belum pernah mengumandangkan kedamaian kini menyatakan kata itu.
Sirzech menatap serius ke arah Azazel yang langsung menyatakan perdamaian, entah ini hanya sebatas main-main atau memang fraksi da-tenshi menyatakan perdamaian.
Disisi lain Michael, archangel tertinggi disurga tersemendengar perkataan saudaranya yang telah jatuh itu. Ia tak heran lagi mengingat Azazel yangemimpin fraksi itu.
"Baiklah kami, fraksi tenshi menerima ajuan perdamaian!" Michael menyahut menyetujui apa yang diusulkan Azazel,
Sedangkan Sirzech, jangan ditanya, ia semakin bingung untuk memilih kata 'iya' atau 'tidak'.
Jika Sirzech mengatakan iya, maka para tetua akan menanyakan keuntungan dari perjanjian damai ini, disisi lain jika ia mengatakan tidak maka akan muncul beribu-ribu pertanyaan dari masing-masing kepala.
"Aku masih harus memikirkan ini dan berunding lagi dengan para tetua"
Walaupun Sirzech menyandang title [maou] namun perintah darinya tidaklah mutlak, masih saja ada para tetua yang mengawasi gerak-gerik Sirzech.
Naruto mengangguk mengerti, ia melangkah ke arah pintu keluar membuat semua pasang mata menatapnya.
"Konferensi selanjutnya akan dilaksanakan tiga bulan lagi dan aku harap kau sudah dapat memastikan jawaban mu Sir!"
Naruto menatap Sirzech sejenak kemudian pergi diikuti Ino, Karterea, dan Kokabiel.
Namun langkah Naruto harus terhenti saat Michael menahan Naruto menggunakan kata-kata.
"Tunggu, ada yang ingin bertemu denganmu!"
Michael berucap kemudian menginterupsikan Naruto untuk mengikutinya, Naruto tak menggubris malahan ia melanjutkan perjalanan yang tertunda.
.
.
.
Tbc
I thing cukup sampai disini dulu, maaf kalau gaje dan menurut Ryuki juga di ch ini gaje :v
Ja nee
