Setelah pintu tertutup, Chanyeol menajamkan penglihatannya yang saat ini hanya mampu melihat seberkas cahaya terang lampu di ujung ranjang sebelah barat. Langkah kakinya semakin dipercepat disaat rasa pusing kembali mendera kepalanya, tanpa banyak berpikir lagi dia langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang itu dan tertidur pulas.

.

.

"The Halved"

Main Cast :

[Park Chanyeol x Byun Baekhyun]

Genre : school life, lovefriend, romance, little hurt:)

WARNING!

Rate : M

Yaoi, Boys Love, Boy x Boy

OOC, Typo(s), Not According to EYD, etc.

.

^^Happy Reading^^

.

.

Chapter 2

Matahari selalu setia terbit pertama kali mendahului semua makhluk hidup yang masih terlelap di alam mimpi masing-masing.

Sepasang kelopak mata sipit itu bergerak perlahan ketika merasakan pancaran secercah sinar mentari yang berhasil menembus tirai dibalik jendela kamarnya. Matanya masih terasa berat untuk membuka seolah enggan menikmati berkah Tuhan di pagi hari itu, menolaknya dengan segera membalikkan tubuhnya membelakangi kilauan cahaya itu.

Tubuhnya menghangat merasakan terpaan sinar itu mengenai bagian depan dadanya seperti dekapan seseorang, seharusnya itu punggungnya tetapi jelas terasa jika Baekhyun semakin memajukan tubuhnya untuk mendekati sesuatu yang melingkupinya. Sama seperti pelukan ibunya ini terasa begitu hangat dan nyaman disaat bersamaan.

Ya kini Baekhyun bahkan bisa merasakan hembusan nafas seseorang mengenai bagian rambut poninya begitu juga telinganya tepat mendengar degupan jantung seirama dengan miliknya. Bagaimana mungkin otaknya memikirkan ada seseorang yang sekarang sedang memeluknya erat?

Baekhyun memaksakan penglihatannya agar terbuka lebar memastikan bahwa apa yang dipikirkannya tidaklah benar tapi matanya membekukan semuanya, makhluk itu bernapas serta memiliki genetika sama seperti dirinya dan lebih parahnya lagi dia sangat mirip dengan -KYAAAAA~

"Apa yang kau lakukan dikasurku Park Chanyeol?" Baekhyun menjerit lalu segera bangkit dari tidurnya sambil memegangi dadanya dengan tangan menyilang. Wajahnya terlihat sangat kaget bercampur geli. Tentu saja ini sangat mengerikan dalam hidupnya, mengetahui bahwa Baekhyun lelaki normal merasa nyaman dipelukan seorang lelaki yang sama normal dengannya. Hey Baekhyun hanya tidak sadar saja.

"Ugkh.. suaramu sangat berisik sekali, bisakah kau diam aku masih mengantuk" Chanyeol lelaki yang dituding sebagai pelaku tindak kejahatan malah menutupi telinganya dengan bantal.

"Apa! Jadi kau pikir suaraku itu mengganggu begitu?" tidak ada tanggapan serius dari Chanyeol selain dengkuran yang dibuat-buat dibalik bantal yang kini menutupi seluruh wajahnya. Baekhyun smirk, rasa menyerah didalam benaknya tak akan pernah dia munculkan pada lelaki sombong ini tidak selama Chanyeol masih hidup disekelilingnya.

"Akan aku tunjukkan apa yang namanya mengganggu itu"

Baekhyun melompat ke atas tubuh pemuda yang masih setia memejamkan mata tanpa ingin terganggu. Dengan cepat dia mendekatkan wajahnya pada telinga lebar itu lalu berteriak kencang memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.

.

.

Sekolah bukan merupakan tempat menyenangkan digunakan untuk bermain-main jadi bagi Baekhyun keseriusan adalah hal yang terpenting. Tetapi mungkin awal hidupnya akan berubah semenjak kakinya mulai menapaki gedung asrama kemarin sore. Dia tidak pernah sekalipun mengira hal yang menjadi illegal dalam urusan agama dan hukum negara menjadi begitu di damba di sekolah barunya. Hidupnya benar-benar akan terbalik 360° jika akal dan nafsunya tidak pernah mengenal apa namanya membatasi.

Semuanya seharusnya berjalan normal setidaknya sampai Baekhyun selesai mandi tadi pagi. Manusia setinggi tiang listrik itu tak hentinya membuat ulah dan menambah kejengkelan yang menumpuk sehingga perang mulutpun terjadi.

Setelah sesi pertengkaran di atas Kasur kali ini Chanyeol mencoba membongkar pasang lagi letak barang-barang Baekhyun yang sudah tersimpan apik di lemari seenak ketusnya dan mengganti dengan miliknya."Bagaimana bisa kau menempatkan barangmu di lemariku".

Brengsek. Kalimat nista itu. Syndrome kepemilikan –begitu penamaan Baekhyun.

Rasanya seperti api yang membakar pepohonan kering, Baekhyun panas dan meledak juga. Percuma mengalah jika Chanyeol tak berhenti mematik percikan api kepadanya. Mereka baru mengenal beberapa jam saja dan serangkaian kalimat kotor sudah saling menyapa satu sama lain.

Omelannya menguar kesegala penjuru arah, menusuk bahkan sampai membunuh harga diri Chanyeol jika elakan tanpa pembelaan dengan membanting pintu kamar mandi secara keras membuktikan bahwa Baekhyun adalah pemenangnya. Yess.

Dia bersiap merapikan penampilannya yang kelewat gugup. Kaku, entah bentuk setrika bajunya atau tulang ototnya yang tegang membuat pantulan wajahnya di depan cermin terlihat membosankan. Tidak menarik. Baekhyun menghembuskan nafasnya pelan. Tidak ada hari yang begitu membuatnya diserang gejala tidak percaya diri seperti saat ini.

Sekolahnya sekarang jelas terasa berbeda dari sebelumnya. Baekhyun seperti spesies baru yang perlu beradaptasi bersama puluhan mutan penghuni asrama ini. Bagaimana wajah-wajah manusia homo itu ketika pertama kali melihatnya nanti? Kejadian tadi malam terngiang lagi ketika dirinya hampir disentuh sudah membuat perutnya mual, ingin kencing.

Baekhyun melirik pintu kamar mandi dan tidak ada tanda-tanda Chanyeol akan menyegerakan waktu bersihnya hanya untuk meluangkan waktu agar Baekhyun bisa pipis. Memohon;meminta tolong atau apalah itu tergolong bahasa baku yang mudah sekaligus susah jika mengucapkannya di depan manusia sombong seperti Chanyeol. Tidak. Baekhyun masih bisa menahannya.

Dia mengambil tas sekolahnya dan berjalan ke arah pintu kamar mulai membuka knopnya secara perlahan. Jantungnya berdegup kencang kala mengetahui ada makhluk cantik sudah berdiri sempurna didepan pintunya.

"Annyeong Baekhyun-ah" senyum itu mengembang indah segaris lurus diantara kedua pipinya. Baekhyun tentu tidak melupakan sosok cantik itu dan membalas sapaannya tak kala mempesona. Mereka memutuskan untuk saling memanggil nama langsung tanpa embel-embel –ssi dibelakang sejak tadi malam kedekatan tak sengaja mereka terjadi.

Benar. Orang itu adalah Ren, laki-laki yang menjelma seperti dewi di awal pertemuannya. Membuat mata Baekhyun berkabut kagum sepintas layaknya namja terhadap yeoja. Itu akan konyol jika Ren tidak segera menunjukkan jakun dan dada ratanya secepatnya.

"Menjemput Chanyeol?" pertanyaan sederhana tapi syukurlah mampu meretakkan keadaan dongkolnya lagi. Ren menganggukkan kepalanya kemudian Baekhyun sedikit membuat ruang untuk membiarkannya masuk sambil mengatakan, "Tunggu saja, dia masih mandi".

"Kau akan berangkat duluan? Tidak ikut bersama"

"Ah tidak perlu aku juga harus ke ruang kepala sekolah" tolak Baekhyun halus. Bagaimanapun dia masih sedikit aneh bila berhadapan dengan Ren. Alasan lain kalian pasti sudah tahu, Baekhyun saja malas sekedar berbasa-basi apalagi sampai berangkat sekolah bersama Chnayeol. Tak akan pernah terjadi.

Setelahnya percakapan mereka berdua berakhir begitu saja. Baekhyun pergi dan Ren masuk ke dalam ruang tamu mini kamarnya.

.

.

Lorong kamarnya sedikit panjang dengan 12 pintu mengisi setiap sisi dinding kiri-kanannya. Itu berarti ada 6 ruang kamar berjejer saling berhadapan. Bukan bermaksud untuk menjadi tetangga baru yang tidak ramah atau ketularan sifat sombong dari Chanyeol, hidupnya hanya merasa perlu sedikit waktu menyesuaikan dulu dengan kamarnya sendiri.

Kaki pendeknya yang sebenarnya bisa dibilang panjang -iya itu sebelum bertemu si tiang listrik berjalan itu- kini mulai menyusuri jalan menuruni anak tangga."Kenapa harus lantai 3 sih" adalah salah satu keluhan kalimat yang baru disadarinya ketika pertama kali datang ke asrama. Bodoh.

Ini masih sangat pagi jadi tentu saja keadaan lumayan sepi tapi dia tidak tahu dengan lorong-lorong kamar yang lain. Kiranya itu mempermudahnya menikmati suasana pagi tanpa gangguan. Ah Baekhyun sudah tidak gugup lagi setelah menyapa orang lain tadi selain Chanyeol. Seolah Ren punya aura menenangkan.

Saat sudah mencapai lantai ke dua tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah belakang. Lantas Baekhyun menoleh dan menaikkan pandangannya ke atas tangga tempat seseorang itu berdiri lalu matanya mengikuti gerakan laki-laki muda itu menuruni tangga dan berdiri tepat disampingnya.

"Kau penghuni asrama baru kan pemilik kamar nomer 614 lantai 3 yang baru pindah kemarin sore bersama pemuda lain yang juga sama barunya kalian sekamar dan namamu adalah Byun Baekhyun benarkan!" Baekhyun sedikit mengangakan mulutnya dengan mata tercengang tanpa perintah.

Ada manusia unik lagi! –batinnya.

Rentetan kata panjang bak syair lagu ala penyanyi rapper, pemuda itu mengucapkannya hanya dengan satu tarikan nafas tanpa jeda. Bermain kata sangat menyenangkan bagi Baekhyun namun mengolah kata dengan baik dan benar itu lebih penting. Pendengarannya cukup nyaman untuk menangkap maksud lelaki ini, jadi Baekhyun memutuskan tidak mempermasalahkan keunikannya itu dengan menganggukan kepala secara sopan. Toh mereka baru bertemu juga.

"Aku mencarimu tadi malam tapi ternyata pintu kamarmu terkunci" mereka berdua akhirnya berjalan bersama melewati setiap lorong asrama yang kelihatan masih sepi. Hey ini jam siswa mandi bukan berangkat sekolah. Lalu begaimana dengan Baekhyun dan Ren atau pemuda ini yang sudah rapi di hari sangat pagi ini? Lupakan kembali ke awal.

Mencarinya? Untuk apa? pikiran Baekhyun penuh tanda tanya.

"Oh aku lupa belum memperkenalkan nama hehe Aku Do Kyungsoo ketua asrama tingkat dua tetangga kamarmu kita selorong dan sepertinya kita seangkatan itu berarti kau tidak perlu memanggilku sunbae cukup kyungsoo tanpa embel-embel formal ya hehe" selain wajahnya yang seperti bocah ternyata pemuda ini cengengesan. Oke itu pendapat awal Baekhyun. Dan bisakah orang ini mengatakannya dengan pelan-pelan saja? Apa dia tidak tau gunanya tanda koma;titik;jeda dan fungsinya hidung untuk bernapas? Astaga…

"Tu-tunggu tunggu sebentar…" Baekhyun berhenti berjalan dan menoleh pada pemuda itu ingin meluruskan semuanya. "Maaf sebelumnya Kyung-kyungsoo-ssi.." takut ucapannya salah Baekhyun menyebutkan nama Kyungsoo sambil memperhatikan name tag di baju seragamnya. "Mungkin aku terlihat seperti orang sombong bagimu, aku minta maaf soal tadi malam yang tidak menyapa penghuni kamar lain"

"Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan. Jadi salam kenal aku Byun Baekhyun siswa pindahan baru, mohon bimbingannya" Baekhyun membungkukan setengah badannya lalu kembali lagi ke posisi awal dia berdiri menghadap Kyungsoo.

"Hahaha.. kau lucu sekali Baekhyun-ssi ah apa aku memanggilmu Baekhun saja ya biar kita terlihat akrab oke baiklah"

Tuhan orang ini benar-benar aneh. Tertawa lalu bicara sendiri.

"Tidak perlu merasa bersalah begitu aku tidak mempermasalahkannya juga lagian kau bisa melakukannya lain waktu" hanya senyuman kaku yang mampu menanggapi ocehan Kyungsoo. Baekhyun, dia hanya saja terlalu bingung harus berkata apa untuk mengimbangi kemampuan kenalan barunya pagi ini.

Jadi begitulah awal cerita pertemuan teman kedua Baekhyun setelah Ren. Chanyeol? Dia tidak masuk hitungan. Kata musuh sepertinya sangat cocok sebagai ungkapan kedekatan mereka. Tentu saja.

Perjalanan dari asrama menuju lingkungan sekolah memang tidak terlalu jauh, tetapi membutuhkan banyak tenaga ekstra bagi Baekhyun menanggapi semua celotehan Kyungsoo yang tiada hentinya. Dia mulai bercerita tentang betapa sulitnya menjadi salah satu pengurus asrama, dari mengontrol jam malam hingga menghadapi perilaku penghuni asrama yang suka melanggar aturan.

Baekhyun sudah banyak mengenal orang. Dari orang-orang bersosialita sampai tak punya harta;kakek-nenek, orang tua, penjual di pasar, sopir taksi, hingga balita di panti asuhan yang sering didatanginyapun masih lebih mendingan Kyungsoo kok kalau dia mau sedikit mengurangi biaya potongan perkatanya. Hahaha canda Baekhyun dalam hatinya. Gila.

Sungguh Baekhyun berani bersumpah jika dilihat dari tinggi badan dia lebih pantas menjadi seme Kyungsoo daripada uke. Eh? Kurasa kau harus segera menjedotkan kepalamu sekarang Baek sebelum iblis neraka mengajakmu menjadi pembelok. OH TIDAK.

"Kau tahu Baek orang paling menyebalkan yang pernah kutemui seumur hidupku setiap hari tidak pernah sekalipun berhenti membuat masalah di asrama ini sampai membuatku harus-" mendadak Kyungsoo menghentikan ocehannya saat mereka sudah keluar di depan gedung asrama membuat Baekhyun menolehkan wajahnya kesamping untuk mencari tahu sebabnya.

Bukan karena merasa tenggorokannya mengering karena terlalu banyak bicara sehingga Kyungsoo perlu menjeda ucapan sepanjang rel kereta apinya untuk sekedar minum, tidak bukan karena itu. Wajah bulatnya yang terlihat seperti bocah dengan mata selebar burung hantu itu tertekuk masam kala pantulan hitam yang tercetak dibola mata Kyungsoo berjalan mendekat kearah mereka. Sontak Baekhyun kembali menolehkan wajahnya kedepan dan memasang wajah bingung yang kentara.

"Pagi baby soo~ sudah rapi saja sepagi ini. Mau bertemu denganku ya" sapa seorang pemuda lain tiba-tiba datang menghampiri Kyungsoo yang masih terdiam sejak tadi. Pakaiannya bebas lebih kepada kaos oblong dengan celana pendek berkolor juga sepatu olahraga sebagai alasnya. Handuk kecil sepanjang 50 cm mungkin, terlihat menggantung di salah satu bahunya yang berkeringat. Ah habis lari pagi rupanya –pikir Baekhyun menebak.

"Aku tidak sudi bertemu denganmu" alis Baekhyun menyerngit heran. Tidak hanya itu, otaknya juga ikutan konslet sesaat ketika mencerna kalimat singkat dari bibir bentuk hati itu. Oh tolong Baekhyun tidak ingin terdengar lebay tapi hubungan macam apa diantara kedua makhluk ini sehingga barisan kata irit akhirnya bisa keluar melalui mulut Kyungsoo.

HEBAT.

"Tapi sekarang kita kan sedang bertemu baby" paras sexy-nya tak henti menggoda mata wanita jika melihat cucuran keringat disekitar kulit pelipisnya yang sedikit berwarna gelap dari orang korea biasanya. Namun itu tidak memiliki pengaruh sama sekali bagi Kyungsoo, jelas sekali dia malah memasang wajah ingin muntah segera.

"Kim Jongin bisakah kau enyah dari hadapanku sekarang, aku ingin berangkat sekolah dengan kekasih baruku. Jadi minggirlah" Kyungsoo membalas tajam kilatan raut menggoda dasaran om-om pedopil di wajah lelaki yang baru saja diketahui namanya yang bermarga Kim itu.

Hoho Baekhyun ingin tertawa melihat wajah rupawan itu bersungut masam seperti dia pernah melihat sebelumnya. Oy tunggu! Ada yang salah dengan ucapan Kyungsoo~

WHAT THE HECK. Lelaki burung hantu ini suka seenaknya membuat lubang kematian Baekhyun.

"APA? Kekasih baru?" dengan cepat kepala Jongin menoleh pada sirambut hitam legam satu-satunya diantara mereka, lelaki disamping Kyungsoo –Baekhyun. Matanya memicing tajam layaknya ujung tombak yang baru diasah;menghunus lalu mengoyaknya sampai tercecer dengan cipratan darah tepat mengenai wajah si pembunuh. Baekhyun bergidik ngeri membayangkan semua itu jika Jongin lebih terlihat tokoh Yakuza berdarah dingin yang siap menebasnya dengan pedang saat ini.

Jongin melangkahkan kakinya maju mendekati Baekhyun yang gemetaran. Tangannya sedikit terangkat bersiap untuk-

"Hai, aku Kim Jongin cinta pertama Kyungsoo. Salam kenal" kedua mata Baekhyun yang awalnya tertutup rapat itu akhirnya membuka perlahan mencoba melirik hasil apa yang disuguhkan didepannya kini. Dan apa itu? Tanda salam perkenalan? Krek~ terdengar ranting pohon mendadak patah dari kejauhan –efek jantung Baekhyun.

Keraguan sebenarnya mulai menggeluti segala kecurigaan Baekhyun, tetapi menolak angkuh jabatan tangan seseorang di awal pertemuan bukanlah sifatnya. Lantas dengan rasa sedikit was-was Baekhyun mulai menggapai tangan Jongin yang masih menggantung kaku di antara mereka berdua, tak lupa senyuman kelewat lebar itu menyemat di bibirnya.

Namun tiba-tiba Kyungsoo menepis salam sapaan Jongin jengah.

"Jangan ganggu dia. Kali ini aku serius Kim Jongin. Baekhyun bukanlah orang sembarangan yang bisa kau ancam dengan kekuasaanmu" lalu setelahnya Kyungsoo menarik tangan Baekhyun secara paksa pergi secepatnya dari hadapan Jongin. Mereka sedikit berlari kecil untuk menghindari adanya kemungkinan kejaran yang dilakukan, tapi sepertinya itu tidak terjadi setelah mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.

Hosh. Hosh. Hosh… hembusan nafas kasar menyeruak brutal di kedua lubang hidung Baekhyun pertanda dia sedikit kehilangan tenaga akibat aktivitas larinya. Hem PAYAH.

"Jeosonghamnida Baekhyun-ssi…Jeongmal jeosonghamnida aku tidak tahu akhirnya bisa seperti ini semua gegara lelaki menyebalkan itu aku terlalu bingung harus melakukan apa makanya aku melibatkanmu" Kyungsoo membungkukan badannya berulang-ulang dihadapan Baekhyun. Wajahnya terlihat sekali menyesal, dan untuk menyelesaikan masalah itu tangan mungilnya mencoba menyadarkan perilaku teman barunya bahwa tidak perlu berlebihan hanya untuk sebuah insiden pengalihan saja.

"Tidak apa-apa Kyungsoo-ssi, selama itu tidak merugikanku aku tidak masalah. Kumohon berdirilah yang tegak jangan seperti ini"

Mereka berdua saling melempar senyum. Menghantarkan kehangatan yang baru saja terjalin merdu. Kyungsoo secara langsung merangkul bahu sempit Baekhyun dan melolongkan suaranya semangat;mengatakan bahwa mulai saat ini mereka berdua akan menjadi sahabat.

"Kita memiliki banyak kesamaan dan aku rasa memasukkanmu dalam kelompokku tidak akan menjadi masalah untuk teman-temanku yang lain" ucapnya Kyungsoo dengan nada riang gembira.

MATI KAU BAEKHYUN.

.

.

Hari Senin adalah satu-satunya hari yang sangat menyebalkan untuk kaum mayoritas anak sekolah dan para pekerja malas seperti melihat tayangan horor di layar kaca saat adegan romantis. Sial sekali bagi Chanyeol bertakdir menjadi salah satu diantaranya. Dia sangat kesal, terlebih harus hidup seruangan dengan makhluk cerewet yang berinisial Baekhyun. Membagi ruangan, lemari pakaian, bahkan kamar mandipun harus dilakukannya. FUCK. Chanyeol tidak bisa.

Ratapan lusuh dari wajahnya menimbulkan kekehan merdu dari Ren tadi pagi. Mereka memang berangkat sekolah bersama dimulai dari Chanyeol yang terkaget dengan kemunculan Ren tiba-tiba di ruang tamunya. Tetapi itu lebih baik daripada.. sudahlah Chanyeol malas menyebutkan namanya.

Celotehan semangat yang terlontar dari bibir tipis itu tak dapat menandingi perasaan suram dari temannya. Ren menepuk pundak Chanyeol sebelum berlalu sambil mengatakan "Ingatlah masih ada aku disampingmu, jangan terlalu membebani dirimu sendiri" ucapan selembut kapas putih itu berterbangan di ingatan Chanyeol sedikit menenangkan alam bawah sadarnya yang mengerang kacau. Mereka berpisah sampai di koridor ke tiga karena perbedaan ruang kelas. Ren harus belok ke kanan sementara Chanyeol tetap lurus kedepan.

Tepat dipertengahan jalan telinganya mendengar sapaan sok akrab dari seseorang dibelakang tubuhnya. Chanyeol membalikkan badannya malas. Tatapannya datar terpasang diwajahnya ketika matanya berhasil melihat sosok yang sangat dikenalnya datang mendekatinya.

"Bagaimana keadaanmu Chanyeol?" menanyakan keadaan fisiknya yang sehat adalah pertanyaan bodoh dari Kim Jongin saat ini. Abaikan. Chanyeol tidak menjawab melainkan membalik tubuhnya ke depan seperti semula. Berjalan menjauh menuju kelasnya tak peduli dengan teriakan sumpah serapah dari sahabatnya itu.

"BRENGSEK"

"Sudahlah kita pergi, Chanyeol mungkin sedang tidak ingin diganggu"

"Peduli setan. Bajingan itu rasanya ingin kuhajar saja."

"Lalu kenapa kau tidak melakukannya tadi"

"Apa kau gila, ini lingkungan sekolah mana mungkin aku melakukan tidakan kekerasan"

ALASAN. Bilang saja takut. WTF.

"Oh"

"Yak Oh Sehun! Sedikit sensitiflah jadi teman, hari ini aku benar-benar kesal dan ingin sekali menghajar seseorang"

Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas yang berbeda dari Chanyeol dan Ren. Belokan ke kiri menjadi pilihan utama tujuan Sehun dan Jongin yang nyatanya selain mereka adalah teman sekamar, mereka juga teman sekelas. Berjodoh sekali. Hell.

"Pasti ditolak lagi" Sehun melontarkan pernyataan selaras nada pertanyaan itu dengan bosan. Dugaanya tidak pernah meleset mengenai acara kejar-cinta-Kyungsoo-sampai-ke-negeri-monas buatan Kim Swag Jongin. Cuih.

"Tidak tapi aku diselingkuhi" ucap Jongin dramatis setelah mereka sampai kelas dan menduduki bangku masing-masing. "dan tadi dia bilang serius Sehun. Kau tahu lelaki macam apa yang merebut my baby soo hingga harga diriku menjadi turun" kali ini nada Jongin dibuat agak penasaran di pendengaran Sehun.

"Dia-"

"Anak-anak kali ini kita kedatangan teman baru dikelas . Perkenalkan namamu pada mereka" walinya kelasnya tiba-tiba masuk dan mempersilahkan seseorang yang dibawanya untuk memperkenalkan diri. Jongin sempat syock sesaat lalu wajahnya berubah tajam seketika. Pasalnya didepan sana, makhluk pendek yang telihat manis –begitulah pandangan matanya melihat- adalah saingan beratnya mulai saat ini.

Baekhyun melebarkan kedua mata sipitnya berlebihan kala makhluk dengan kulit sedikit gelap tampak menonjol di cela siswa yang berduduk rapi dikelas barunya. Demi Neptunus- Baekhyun ingin belajar tenang dan menjadi siswa teladan untuk selanjutnya,tetapi mengapa hidupnya penuh rintangan berduri bahkan sebelum dia melangkahkan kakinya. GOSH.

"Annyeonghaseyo~ Byun Baekhyun imnida, bangapseumnida" Baekhyun mengawali perkenalannya lumayan lancar tanpa gemetaran. Setelah membungkukan badan dia berusaha mengedarkan pandangannya menuju sudut ruangan sebelah kiri, dinding dengan cat warna putih bersih itu setidaknya lebih membantu menenangkan detakan jantungnya yang menggila daripada tolehan kekanan yang bisa meremukkan tulang kakinya yang tiba-tiba saja kaku –Jongin masih menatapnya tajam- dan sialnya Baekhyun benci itu.

"Silahkan duduk di bangkumu Baekhyun-ssi, Jongdae tolong angkat tanganmu"

"Ya saem" lalu terlihat seorang lelaki dengan senyum unta mengangkat tangannya kelewat tinggi. Baekhyun melewati barisan depan siswa karena letak tempat duduknya berada di barisan belakang sebelah kiri. Luck for my self –batin Baekhyun bersorak.

Sebenarnya tidak hanya Jongin yang terlalu berminat memperhatikan Baekhyun, tetapi semua siswa didalam kelas itu juga dibuat terpesona dengan penampilannya. Dan beruntunglah Baekhyun tidak menyadarinya karena dia terlalu sibuk untuk mencari napas berlari dari tatapan Jongin. Masih ingat di bayangan Baekhyun, Jongin adalah seorang Yakuza dan itu masih tetap sama. Haha TIDAK LAGI BAEK-_-

Kelas dimulai dengan tenang.

Jongin berbisik pada Sehun disampingnya ketiga guru menuliskan sesuatu dipapan –ambil kesempatan. "Dia adalah siswa baru tadi" setelah mengucapkan lanjutan ceritanya pada Sehun yang sempat terpotong itu Jongin kembali pada posisinya dengan cepat saat guru itu berbalik badan.

Sehun menggelengkan kepalanya pelan. Jongin sudah gila. Mana ada orang yang memiliki aura uke pekat begitu bisa menjadi seme? GILA KAU TAU. HAHAHA.

Jongin mengerutkan dahinya hingga membentuk lipatan-lipatan simetris saat melihat sahabatnya tertawa sendiri sambil menggelengkan kepala. Mungkin otaknya sedang lelah gara-gara ditinggal Luhan pulang kampung –pikirnya.

Biarkan saja dua sahabat tak jelas itu saling mengira. Sekarang kita fokuskan pada pemeran utamanya yang baru saja mendapat salam perkenalan dari orang yang mengangkat tangan paling tinggi dikelas. Kim Jongdae, lelaki dengan senyum unta itu mengulurkan tangannya sebelum Baekhyun bisa melepas tas. Heol.

"Panggil saja aku Baekhyun" senyuman manis Baekhyun mampu membuat hati Jongdae ikut tersenyum juga. Buktinya lelaki itu tak hentinya memegangi dadanya yang terus berdetak nyaring ketika jemari lembut Baekhyun menyapa tangannya.

Beberapa siswa yang melihat merasa iri dengan keberuntungan Jongdae dan berusaha mengganggu lelaki itu dengan melempari gumpalan kertas sampai penghapus untuk menyadarkan tingkah Jongdae yang dianggap terlalu lebay.

.

Tak ada yang berisik, kelas berjalan seperti biasanya. Baekhyun melihat sekeliling merasa aneh dan terkejut ketika banyak mata yang memandangnya kagum atau lebih bisa dibilang menggodanya bak gigolo yang haus belaian. Huwekk~

Perutnya mual mendadak memikirkannya. Dari kedipan mata, senyuman maut, bahkan sampai jilatan lidah sensasional itu seolah sudah menyumpat tenggorokannya hingga Baekhyun susah untuk sekedar menelan ludah sesaat. Dunia sekitarnya seketika berubah menjadi ungu berpadu gelap dengan efek bayangan hitam meliuk-liuk di depannya berusaha menggapai tubuhnya. TIDAKKK!

"Songsaengnim!" Baekhyun berdiri dari kursinya tiba-tiba membuat siswa yang lain menoleh padanya. "Saya izin ke kamar mandi sebentar" lanjutnya lagi setelah guru itu menanggapi panggilannya.

Baekhyun menyegerakan langkah kakinya untuk segera keluar dari kelas secepatnya. Meskipun itu semua hanya hayalan semata konyolnya, tetap saja hatinya tidak tenang akibat cerita horor Kyungsoo tadi pagi selama menemaninya berkeliling sekolah.

Cerita sialan. Atau Kyungsoo yang sialan? Hem-_-

Jalan menuju ke kamar mandi agak sedikit jauh dari kelasnya seolah semua sudah terencana untuk membuat Baekhyun semakin tidak sabar ingin buang air kecil. Langkah kakinya bertambah cepat dan itu membuahkan hasil ketika tanda papan kecil bertuliskan toilet menggantung indah di atas dinding pintu.

Baekhyun berjalan masuk membuka gagang pintu utama. Keadaan toilet sepi tidak ada seorangpun terlihat didalamnya. Kesempatan tanpa bingung mengantri(?) Baekhyun segera membuka resleting celananya untuk menuntaskan hiv-nya (hasrat ingin vivis). Hehe:D

Terdengar kucuran air seninya meluncur deras (oyy jan dibayangin ya…) dan perlahan mengecil pertanda Baekhyun sudah menyelesaikan urusan daruratnya. Dia membenahi sekali lagi penampilannya dan mencuci tangan setelahnya. Tetapi sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Ahhh"

"Sssh diamlah nanti kita ketahuan" bisikan lain menyahuti desahan pelan seseorang diawal tadi. Baekhyun penasaran dan matanya mencari-cari lalu menemukan salah satu sudut bilik kamar mandi yang pintunya tertutup rapat.

"Nngghh ohh tidak bisaahh"

"Sial ini enak shhh ohh"

Baekhyun merinding mendengarnya. Dia ingin cepat keluar tetapi langkah kakinya seolah tak sepaham dengan pikirannya. Maka dengan mengendap-endap seperti pencuri Baekhyun memutuskan untuk mengintip kegiatan apa yang dilakukan orang itu di dalam sana. Jiwa penasaran selalu ingin tahunya secara lantang mencuat ke permukaan dengan berani tanpa pernah menyesal akan kedepannya.

Matanya memicing tajam berusaha memfokuskan pandangannya melalui lubang selebar tempat kunci pada pintu bilik kamar mandi itu. Baekhyun layaknya seorang pembidik jitu ketika matanya berhasil mendapatkan objek di balik pintu tersebut.

Gambaran yang terlihat tidak terlalu jelas tetapi suara yang ditimbulkan kenapa bisa membuat telinga Baekhyun memerah. Deruhan napas kasar dan serentetan desahan basah bersahutan menjadikan jantung Baekhyun berdetak lebih menggila dibanding pertemuan keduanya dengan Jongin di kelas. Ini berbeda.

Baekhyun merasakan hawa panas mulai menyelimutinya. Udara di dalam toilet menjadi lebih menghangat dari sebelumnya. Tangan Baekhyun mulai menggigil dan keringat sudah bermunculan disekitar dahinya. Kelopak matanya tidak pernah berkedip sekalipun hanya sedetik semenjak 10 waktu terlewati. Ludahnya tertelan kepayahan melewati tenggorokannya sedang nafasnya juga tersendat untuk sekedar mengeluarkannya.

"Apa yang sedang kau lakukan disana?"

DEG~

Jantungnya berhenti sesaat dan badannya menjadi mati rasa. Baekhyun kaku seperti bongkahan es yang membeku di tengah daratan kutub utara. Suara ini sungguh sangat tidak diharapkan muncul disaat seperti ini. TIDAK DISAAT BAEKHYUN SEDANG-

"Ohh Taengiiee~ sepertinya aku akan datang nngghh aahhhhhh-"

"Aku jugaahhh aahhhh"

-HORNY. SUARA KEPARAT.

.

.

TBC

Hahaha. Kenapa ceritanya jadi gak jelas gini sih. Astaga… *nangis gatel di dada yixing (calon semenya suho wkwk) Muup ya chingu aku lama gak update. Habis selesai UTS jadi tugas numpuk dan gak ada waktu buat nyelesaiin cerita abal ini:v Genrenya mau hurt kog malah kesannya humor konyol gini? Gimana aku pengen tahu tanggapan kalian tentang karakter yang aku buat disini.

Ripiyu yups guys^^

Kesan dan kritikan mendukung bisa bikin aku tambah semangat dan sebaliknya yaa- hehe.

SALAM CHANBAEK ENA-ENA:*:*:*