"Apa yang sedang kau lakukan disana?"
DEG~
Jantungnya berhenti sesaat dan badannya menjadi mati rasa. Baekhyun kaku seperti bongkahan es yang membeku di tengah daratan kutub utara. Suara ini sungguh sangat tidak diharapkan muncul disaat seperti ini. TIDAK DISAAT BAEKHYUN SEDANG-
"Ohh Taengiiee~ sepertinya aku akan datang nngghh aahhhhhh-"
"Aku jugaahhh aahhhh"
-HORNY. SUARA KEPARAT.
.
.
.
.
.
"The Halved"
Main Cast :
[Park Chanyeol x Byun Baekhyun]
Genre : school life, lovefriend, romance, little hurt:)
WARNING!
Rate : M
Yaoi, Boys Love, Boy x Boy
OOC, Typo(s), Not According to EYD, etc.
.
^^Happy Reading^^
.
Chapter 3
Baekhyun jatuh terduduk lemas. Matanya melirik orang yang baru saja memergokinya mengintip dengan pandangan sayu. Orang itu juga kaku layaknya patung. Diam tak bergerak sedikitpun tetapi wajahnya memerah menandakan dia masih hidup untuk ukuran manusia.
"Brengsek, Minggir kau" lelaki yang baru saja memergoki Baekhyun tiba-tiba saja mendorongnya menjauh dan mendobrak pintu kamar mandi itu secara brutal. Kaki panjangnya menendang keras pintu itu hingga terbuka lebar menampilkan dua orang lelaki yang terlihat kalap membetulkan seragamnya.
"Keluar!" sang penendang menyerukan kata perintah dengan geram, membuat dua tersangka yang tertangkap basah sedang melakukan adegan mesum segera menuruti perintahnya secara patuh.
Keduanya ketakutan layaknya terpidana yang akan dihukum mati detik itu juga. Pemuda yang penampilannya terlihat sangat berantakan mencoba bersembunyi dibalik punggung pemuda satunya dengan penampilan yang sedikit lebih rapi. Tangan mereka saling bertautan mesra seolah menguatkan satu sama lain bahwa sampai matipun aku akan selalu disampingmu.
"Chanyeol sunbae kami mengaku bersalah. Kami minta maaf, kumohon jangan laporkan kami" pemuda pertama yang berusaha melindungi pemuda lain dari amukan Chanyeol yang ternyata pelaku utama penendangan itu memberanikan diri membuka suara. Dia menatap dengan berani bukan untuk menantang melainkan berani untuk bertanggung jawab atas semua perbuatan asusilanya barusan. Maka pemuda itu terlihat pasrah akan apapun hukuman yang diberikan Chanyeol terhadapnya nanti.
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan menatap pemuda yang lebih muda darinya itu. Kejadian semacam ini bukanlah hal pertama yang pernah ditemui maupun dialaminya selama menjalani hidup disekolahnya. Banyak sekali peraturan dan tata tertib yang tidak boleh dilanggar, akibatnya mereka –yang membuat aturan- tidak tau hasil apa yang didapat dari ketatnya segala macam larangan itu. Contohnya seperti hubungan terlarang ini.
"Pergilah"
"Sunbae-"
"Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran"
Mengerti dengan arti tatapan tajam dari manusia tinggi di depannya pemuda itu segera menarik tangan kekasihnya yang sejak tadi betah bersembunyi di belakang tubuhnya untuk segera beranjak keluar dari toilet.
"Tunggu" tapi baru satu langkah kakinya berjalan suara Chanyeol menghentikannya. Otomatis pemuda yang memiliki rambut coklat tua itu membalikkan badannya waspada.
"Kim Taehyung siswa kelas 1-B" Chanyeol bersendekap angkuh menyebutkan nama pemuda itu sambil memandang nametag dan symbol kelas pada seragamnya seperti menghapal. "Jangan pernah menunjukkan wajahmu dihadapanku lagi, sangat menjijikan melihat kalian bergandengan tangan seperti itu. Manusia homo tak tahu malu seperti kalianlah yang mengotori sekolah ini"
Pemuda yang baru saja diketahui namanya tersebut berusaha menahan amarahnya untuk tidak maju memukul wajah seorang Park Chanyeol -pangeran sekolah yang terkenal sempurna akan kesombongan dan kenormalannya terhadap hubungan menyimpang- dengan mengeraskan kepalan tangannya kuat. Kekasihnya yang berusaha menenangkan emosinya agar tidak tersulut menggeleng lemah meremas lengan kanannya terlalu erat.
Sedangkan di ujung toilet sana seseorang memperhatikan semua percakapan itu dengan perasaan campur aduk. Baekhyun masih diposisinya yang terduduk lemah bersandar pada dinding. Wajahnya sudah tidak terlihat semerah awal tadi begitu pula keringat yang bermunculan disekitar dahinya perlahan menguap meninggalkan kesan dingin jika menyentuh kulitnya.
Dia sudah tidak merasakan hawa panas itu lagi karena sebuah kalimat yang keluar dari mulut seorang iblis terkutuk seperti Chanyeol membuat sesuatu yang sempat sesak di dalam celananya bisa bernapas bebas kembali. Syukurlah Baekhyun tidak perlu repot harus mengurus adik kecilnya dan menanggung malu nanti di hadapan Chanyeol kalau dia sampai tahu. NO!
Meskipun kakinya masih merasa lemas tapi Baekhyun mencoba berdiri. Dia berjalan mendekat kearah tiga orang disana. Maksudnya dia ingin mencegah segala kemungkinan perkelahian bila terjadi. Baekhyun tidak tahu dia harus membela siapa, sebagai lelaki normal yang tahu norma dia juga merasa geli bercampur jijik mengetahui sepasang lelaki sedang bercinta di dalam toilet sekolah. Sangat tidak pantas.
Tetapi sekali lagi hatinya menolak semua pikiran kerasnya mengenai hubungan tabu tersebut. Baekhyun tahu cinta tidak bisa disalahkan karena mereka hadir tanpa syarat dan perintah. Tidak peduli pada siapapun orangnya,umurnya ataupun jenis kelaminnya cinta itu akan tetap terus tumbuh sebanyak kasih sayang yang mampu mereka berikan.
Satu hari menjadi roommate seorang Park Chanyeol membuat Baekhyun sudah hapal betul setiap tingkah laku dan kata kasar yang keluar dari kedua bibir tebal itu. Chanyeol pernah menghinanya di hari pertama mereka saling menatap tajam wajah satu sama lain dan berujung menendang tulang keringnya ketika si 'tiang listrik' itu menuduhnya gay. Hell.
Dan sekarang bagaimana bisa serentetan kata menghina itu begitu lebih menyayat di pendengarannya. Setidaknya gunakan kata yang lebih baik wahai putra neraka yang diberkati wajah seelok dewa! Baekhyun benar-benar sangat menyayangkan semua itu. Oh Baek bilang saja kau terpesona dengan ketampanan seorang Park Chanyeol. Tidak itu MUSTAHIL.
"Chan-"
"Apa perkataanku salah?"
Baekhyun ingin angkat bicara tetapi kata-katanya disela dengan cepat oleh makhluk sialan itu. Menyebalkan.
Taehyung mendecih mendengar seluruh nada angkuh dari Chanyeol. Hatinya yang panas merasa sangat terhina itu menguar melalui geraman gesekan antara rahang atas dan bawah giginya. Mata yang awalnya digunakan untuk menunjukkan permohonan itu sekarang melayangkan sejuta tikaman menusuk pada Chanyeol. Ternyata rumor yang mengatakan 'berurusan dengan mulut berbisa pangeran sekolah akan membuat setiap orang bertekuk lutut' itu tidak sepenuhnya benar. Daripada bertekuk lutut Taehyung lebih memilih merangkak mengitari lapangan sepak bola disekolahnya untuk melawan penghinaan yang dianggap kejahatan batin tersebut.
"Aku Ber-SUMPAH, Chanyeol sunbae akan memiliki perasaan menjijikan sepertiku dengan penuh frustasi kepada seseorang yang sangat sunbae benci. Sehingga tidak ada jalan lagi selain mencintainya dengan sunbae bertekuk lutut terhadapnya"
J-DERRR~ suara petir tiba-tiba menyapa gendang telinga Baekhyun. Bulu kuduknya merinding hingga ke ujung kakinya. Itu KUTUKAN. Demi Tuhan Baekhyun baru sekarang merasa takut akan sumpah seseorang yang teraniyaya. Di dalam hatinya yang paling terdalam dia mengamininya tetapi kemudian Baekhyun sadar jika sebagai rekan sekamar bisa saja dirinya juga terkena imbasnya. Aniyaa!
Chanyeol tersenyum remeh menanggapi sumpah adik kelasnya seperti hanya bualan saja. Dia tidak takut. Keadaan seperti ini sering kali terjadi. Bukan hanya Kim Taehyung seorang yang pernah memaki;menyumpah bahkan sampai mengutuknya. Sudah banyak orang yang menjadi korban dari keganasan mulut pedasnya, dari para siswa yang pernah ditolaknya ketika menyatakan cinta hingga sahabat dan sepupunya sendiri pernah mengatakan kalimat serupa tersebut. Wow pantas saja.
"Aku sudah sering mendengar sumpah itu. Lebih baik kau ke Gereja meminta ampunan karena telah menjadi manusia memalukan seperti itu daripada bersusah payah mendoakanku untuk hal yang tidak mungkin terjadi"
Baekhyun melongo. Jadi ini bukan sumpah pertama yang didapatnya. Daebak. Yak sadarlah Byun Baekhyun hentikan rasa kagummu itu sekarang. Kesadarannyapun kembali.
"Ku dengar sunbae mulai tinggal di asrama. Semoga beruntung dengan kehidupan baru sunbae mulai saat ini" Taehyung tidak peduli dengan ucapan Chanyeol sebelumnya. Kali ini giliran senyuman remeh ditunjukkannya. Kalimat terakhir yang dia ucapkan mengandung arti tersembunyi selaras cemohan yang mengundang aura menyeramkan dari pemuda yang paling tinggi.
"Sudalah ayo kita pergi, jangan diteruskan lagi" lelaki manisnya yang sejak tadi terdiam kini terlihat sedang berusaha menggeret kekasihnya pergi secepatnya sebelum sesuatu yang fatal terjadi. Lalu tanpa rasa hormat mereka berdua meninggalkan dua nyawa yang masih tersisa di dalam toilet dengan keadaan salah satunya menahan amarah. Gawat!
"Se-sepertinya aku harus kembali ke kelas" Baekhyun berusaha menyelamatkan diri dengan segera mencari alasan untuk keluar dari situasi menyeramkan ini. Tapi belum sempat dirinya bergerak Chanyeol sudah mendorongnya keras ke tembok lalu mengukungnya dengan kedua tangan.
Baekhyun menelan ludah gugup mendapatkan tatapan tajam dari lelaki didepannya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kecil dan menyusut seperti nyalinya. Aroma iblis sangat terasa mengelilingi sekitar area pernapasan Baekhyun. Dia ingin berlari tapi tidak bisa;ingin berteriak tapi itu menurunkan harga dirinya sedangkan untuk berkelahi? Kurasa dari tinggi badan kalian bisa menentukan siapa yang terkuat.
Baekhyun merasa terancam.
.
…(0..0)…
.
Jongin melihat jam dinding di kelas untuk kelima kalinya. Kenapa siswa pindahan itu tidak kunjung kembali dari tadi? Jujur dia merasa aneh.
"Hun.."
"Hm"
"Apa dia kesasar?"
"Siapa?"
"Selingkuhan barunya Kyungsoo"
"…"
"Yak jawab pertanyaanku"
"…"
"Kau tuli ya!"
"Kim Jongin"
"Ada apa menyebut namaku"
"Kirimu bodoh"
"Memangnya kenapa dengan kiriku" lantas Jongin langsung menolehkan kepalanya kesamping kiri dan sebuah cengiran dilontarkannya tepat matanya mengenai tatapan tajam dari Han songsaengnim.
"Aku tidak suka ketika pelajaran ada anak yang berisik dan tidak memperhatikannya. Lebih baik kau keluar Kim Jongin daripada mengganggu siswa yang lainnya."
Sejak dari tadi Jongin terlihat tidak fokus dikelas dan bosan sehingga dia mengajak Sehun mengobrol di samping kanannya dengan saling berbisik seperti biasanya. Tetapi sahabatnya itu memang agak susah untuk diajak berkomunikasi saat pelajaran sedang berlangsung. Hell tentu saja itu wajar.
"Mau kemana kau berdiri?"
"Bukannya saem tadi menyuruhku keluar"
Lalu jongin melangkahkan kakinya santai menuju pintu keluar tanpa memperhatikan lagi ekspresi tidak percaya begitu kentara dari semua orang didalam kelas itu. Sehun sendiri hanya bisa menghela nafas. Sebagai orang terdekat Jongin dirinya cukup malu harus menerima segala tingkah absurd sahabatnya itu.
.
.
Kesempatan.
Inilah tujuan utama dirinya lebih memilih keluar kelas. Jongin segera melarikan tubuhnya untuk menuju ke toilet yang paling dekat. Jangan salah paham, dia tidak khawatir tapi hanya sedikit cemas dengan manusia cebol semacam Kyungsoo atau Baekhyun- baru saja dia ingin masuk seseorang dari dalam sudah membuka pintu utama.
Jongin sangat terkejut mengetahui orang itu adalah manusia yang paling ingin di injaknya pagi hari tadi dan lelaki itu masih menatapnya datar lalu sedikit menyenggol pundaknya karena menghalangi jalannya.
BANGSAT -Park Chanyeol lelaki tanpa dosa itu hanya melewatinya santai.
Ia ingin mengejar tetapi sekali lagi harus gagal saat kejutan lain datang begitu cepat dihadapannya. Byun Baekhyun keluar dengan wajah setengah pucat setelah kepergian Chanyeol tadi.
"Baekhyun-ssi kau tidak apa-apa?"
"Eoh"
"Apa yang dilakukan Chanyeol padamu?"
"Kim Jongin-ssi"
"Ada apa menyebut namaku"
"Sebelah kirimu"
Seperti de javu Jongin segera menolehkan kepalanya kesamping dan benar disana ada siswa lain yang ingin segera masuk toilet tetapi terhalang karena Jongin menutup jalur masuk dengan mencegat Baekhyun di tengah pintu. Dasar!
.
.
Mereka kini berada di kantin sekolah dimana jam pelajaran masih berlangsung dan mengajak Baekhyun membolos di awal pertama sekolahnya adalah kesan baik bagi Jongin. Baik apanyaa?—
TUNGGU SEBENTAR
Kenapa mereka menjadi dekat begini, seharusnya Jongin memusuhi Baekhyun karena sudah merebut kasih sayang Kyungsoo darinya bukan malah menemaninya bercerita layaknya sebagai teman akrab. Kacau!
Uhuk. Uhuk…
Jongin tersedak saat baru menelan tiga butir kacang telur dari snack yang dibelinya. Baekhyun mengucapkan sebuah pengakuan sekaligus fakta yang diluar dugaannya. Lantas secepatnya dia meminum air untuk mengatasi rasa sesak di tenggorokannya.
"Kau normal dan satu kamar dengan Chanyeol?" Jongin berteriak heboh tak percaya. Respon yang telat. Untung saja kantin sedang sepi jadi interaksi keduanya menjadi lebih nyaman dan leluasa.
Baekhyun menganggukkan kepalanya mengiyakan dengan hati yang berat untuk pernyataan keduanya. Sekotak susu cair beraroma strawberry kesukaannya tidak mampu menenangkan perasaan kesalnya saat ini.
"Lalu apa yang kalian lakukan di dalam toilet tadi?" Jongin bertanya penasaran.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya ragu untuk mengatakannya. Pemuda manis itu diam seperti tak mau membahas perihal yang terjadi. Karena Jongin adalah pemuda yang suka ikut campur tetapi masih dalam batas sadar diri jadi dia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.
"Berarti kau dengan my baby soo tidak benar-benar menjalin hubungan kan?" nada yang diucapkan kali ini sungguh antusias daripada sebelumnya. Dan tanggapan yang diberikan Baekhyun melunturkan segalanya. Dia terkekeh ketika melihat ekspresi Jongin yang cemberut seketika.
Tawa merdu dari Baekhyun membuat Jongin sedikit terpana. Deretan gigi rapi terlihat dari senyuman selebar persegi panjang yang simetris di kedua belah bibir tipisnya membuat kedua mata sipit itu melengkung sempurna seperti bulan sabit. Indah sekali…
Jongin langsung menggelengkan kepala guna menyangkal pikiran gilanya.
"Dia hanya menganggapku teman tidak lebih. Lagipula aku ini tidak gay mana mau berpacaran dengan seorang laki-laki, rasanya aneh" Baekhyun menjelaskan dengan menyertakan alasannya juga agar Jongin mengerti.
"Tidak juga. Buktinya aku seorang biseksual merasa nyaman saja ketika harus berciuman dengan laki-laki. Rasanya lebih menakjubkan daripada melakukannya dengan perempuan."
"Benarkah?"
"Jangan percaya" suara lain tiba-tiba menyeruak masuk seperti mengganggu jalur lalu lintas pengemudi lain dengan seenaknya.
"Hai, aku Oh Sehun" lelaki itu langsung menjulurkan tangannya meminta balasan atas salam perkenalannya.
"Apa yang kau lakukan disini, bukannya jam pelajaran masih berlangsung. Cepat sana kembali" usir Jongin mendahului suara Baekhyun yang hampir keluar.
Sebenarnya Baekhyun tidak terpaksa juga ketika Jongin mengajaknya membolos dihari pertamanya. Pikirannya sekarang sedang malas untuk berhadapan dengan jejeran angka maupun teori-teori yang tidak ada pentingnya bagi Baekhyun. Lagipula cita-citanya adalah menjadi penyanyi jadi tidak perlu bersusah payah mendapat peringkat utama dalam akademik bukan. Majayo.
Beralih pada Sehun yang mengabaikan Jongin, dia tetap memamerkan tangan panjangnya yang sedikit berotot dihadapan Baekhyun. Lalu dengan senyuman andalannya si manis itu ikut menyodorkan telapak tangannya agar Sehun bisa menerima jawaban salam perkenalan mereka.
Raut wajah Jongin menjadi keheranan. Dari sekian siswa yang pernah berjabat tangan dengan sahabatnya itu kenapa hanya Baekhyun yang terlihat biasa saja. Asal kalian tahu Sehun termasuk ulzzang di sekolah ini. Menjadi sorotan publik dan di eluh-eluhkan seluruh penjuru sekolahnya maupun sekolah lain, bahkan mereka sampai mengatakan kalau Oh Sehun itu bukan manusia. Anggapan yang lucu bukan.
Dia tidak mengira sama sekali. Dipikirannya Baekhyun tergolong manusia yang memiliki peluang besar memanfaatkan jenis kelaminnya yang memiliki dua sisi itu. Tubuhnya kecil tidak gemuk, tinggi badannya tidak sependek Kyungsoo tapi cukup rendah diantara Sehun dan juga dirinya. Rambutnya yang berwarna hitam berponi rapi menutupi seluruh dahinya membuat Baekhyun terkesan seperti puppy –imut. Apalagi wajahnya yang mungil dengan bibir setipis yeoja itu mampu menyihir setiap lelaki untuk melumatnya. Ukeable sekali.
Sayang dia normal, astaga apa yang kau pikirkan bodoh –maki Jongin pada otaknya.
"Aku rasa akan sulit untukmu beradaptasi dengan orang-orang seperti kami" setelah genggaman tangan keduanya terputus, Jongin mencoba membuka percakapan sekali lagi dengan Baekhyun.
Baekhyun termenung sesaat mulai memikirkan omongan Jongin tentang segala apapun penyebab yang bisa menjerumuskannya nanti. Kemudian Baekhyun tersenyum.
"Bagiku kalian terlihat normal dan aku akan menganggapnya begitu"
"Di sekolah kami memang normal Baekhyun-ssi tapi kalau di asrama semuanya berubah menjadi lebih suka memakan sesama jenis" Jongin mengatakan itu sambil berbisik serius di dekat telinga Baekhyun. Mewaspadai ucapannya sendiri untuk menyembunyikan suatu hal yang sangat rahasia.
"Hey jangan menakutinya seperti itu" Sehun angkat bicara, dia yakin Jongin pasti mengatakan yang tidak-tidak pada Baekhyun jika dilihat dari tubuh si manis yang mendadak tegang. Dasar jahil.
"Jangan mudah percaya apapun yang dikatakan Jongin padamu. Tidak semua orang disini Gay. Chanyeol salah satunya dan kudengar tadi kau satu kamar dengannya"
"aku tidak menyangka dia mau berbagi ruangan dengan orang lain, syukurlah" Sehun memamerkan senyuman leganya diakhir ucapannya. Ekspresi Baekhyun sendiri menjadi suram begitu mendengar nama itu.
…
Flashback on
"Ini semua karena ulahmu pendek" yang di tuduh melototkan matanya tanda tak terima. "Jika bukan karna melihatmu seperti seorang pengintip aku tidak akan peduli. Ternyata memang benar kau seorang gay yang mencoba mendekatiku" Chanyeol tersenyum mengejek di depan wajah Baekhyun. Jarak antara mereka begitu dekat sepanjang kepalan tangan orang dewasa sehingga Baekhyun bisa melihat dan mendengar jelas bagaimana wajah dominan di hadapannya ini berusaha merendahkannya.
Kurang ajar!
"Kau bercanda. Bertemu denganmu saja adalah musibah bagiku, lalu untuk apa aku harus mendekatimu" Baekhyun mendongakkan wajahnya tanpa takut, menantang Chanyeol dengan menampilkan tatapan remeh. Deru nafas Chanyeol yang mengandung aroma maskulin menerpa wajahnya kini membuat Baekhyun semakin tidak tertarik sama sekali.
Mereka beradu pandang lama bermaksud menyelami kedua bola mata untuk mencari kelemahan masing-masing. Lalu secara tiba-tiba wajah Chanyeol semakin menunduk dan mendekat seperti ingin menggapai sesuatu menyebabkan seorang Byun Baekhyun langsung menutup mata dan bibirnya rapat.
"Kalau begitu jangan sampai jatuh cinta padaku. Kau tahu feromonku berbahaya sebagai seorang dominan dan aku tidak ingin kau tergoda nantinya. Ingat itu" Chanyeol menjauhkan kepalanya ketika selesai membisiki telinga Baekhyun dengan sebuah ancaman.
Setelah cukup jauh jarak mereka, Chanyeol memundurkan kakinya beberapa langkah. Dia melihat keadaan Baekhyun yang masih menutup mata dan bibirnya rapat tak lupa juga tubuhnya kaku dengan kedua tangan terkepal memegangi celana seragamnya erat. Kemudian disitulah nada mengejek terkuar sekali lagi.
"Apa yang sedang kau harapkan Byun Baekhyun-ssi?"
Baekhyun yang langsung tersadar membuka matanya dengan cepat. Dia malu untuk kedua kalinya di hadapan manusia tiang itu. Wajah memerahnya segera dia sembunyikan menghadap kea rah lain. Oh astaga Baekhyun rasanya ingin menyiram wajah tampan itu dengan air toilet saja. Baek berhenti menyebutnya tampan!
"Asal kau tahu baumu sangat kekanakan sekali. Aku jadi semakin tidak yakin kalau kau benar-benar straight" Chanyeol menambahkan lagi ucapannya. Sepertinya menggoda lelaki kecil ini memang menyenangkan dan Chanyeol mengakui itu. eh?
"Jangan menghina wangi parfumku, lagian tidak ada hubungannya juga bau dengan ketertarikan seksual seseorang"
"Sudalah mengaku saja kau gay"
"Aku TIDAK"
"Katakan itu pada penis kecilmu ketika berhasil mengintip pasangan sesama lelaki sedang bercinta"
SIAL APA DIA MELIHATNYA? NO. TIDAK. JANGAN. KUMOHON….
Kali ini wajah Baekhyun memanas, seolah membakar wajahnya untuk semakin memerah cemerlang dimulai dari telinganya. Demi Dewa Baekhyun ingin menangis dipojokan karena sudah dipermalukan berkali-kali dalam satu waktu oleh iblis semacam Park Chanyeol.
Hey Mama! bawalah pulang diriku saat ini juga –batin Baekhyun memelas.
"Byun Baekhyun aku pastikan kau tidak akan hidup tenang selama berada di dekatku jadi segeralah pindai dari kamar itu"
Chanyeol mengakhiri percakapannya dengan segera lalu perlahan melangkahkan kakinya keluar dari toilet meninggalkan Baekhyun yang sendirian menahan malu dan kesal.
Flashback off
…
"Baek- baekhyun-ssi kau melamun. Wajahmu terlihat kusut sekali ada apa?" Sehun memegang pundak Baekhyun yang langsung tersadar.
"Tidak ada apa-apa"
"Apa Chanyeol menyakitimu?" kali ini suara Jongin yang gantian buka suara. Bibirnya gatal sejak tadi ingin bertanya karena penasaran seputar toilet tadi.
Baekhyun tetap diam.
"Sebenarnya dia orang yang cukup menyenangkan, tetapi semenjak kejadian waktu itu sifatnya mulai berubah menjadi sangat menyebalkan" Sehun mencoba memberi pengertian kepada Baekhyun sama seperti yang pernah Ren lakukan sebelumnya.
"Kami sebagai sahabatnya saja tidak bisa lagi memberinya nasihat. Dia benar-benar keras kepala. Tadi pagi ketika bertemu ingin rasanya aku memukul wajah sombongnya" Jongin mengatakan dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Kupikir hanya aku saja yang berpikiran seperti itu. Tenang saja aku bisa mengatasinya" ucapan Baekhyun seolah sudah pernah saja menjinakkan hewan buas, enteng dan penuh percaya diri sehingga membuat seorang Oh Sehun tergelak tak sadar.
"Aku pernah menjumpai orang sepertimu Baekhyun-ssi dan dia sekarang sudah sukses menakhlukkan-ku bahkan diawal sebelum kami mengenal nama satu sama lain"
"Pasti dia sangat cantik"
"Tapi dia sangat galak seperti my baby soo" Jongin menambahkan poin untuk mengurangi pujian berlebih Baekhyun dihadapan Sehun yang semula merasa bangga lalu mendelik tiba-tiba padanya.
"Kyungsoo tidak galak dia menyenangkan meski agak emm.."
"Agak apa?" Sehun bertanya dibuat penasaran.
"Aneh"
Sekejap bunyi kekehan keluar dari mulut pejantan yang barusan bertanya. Sehun menunjuk wajah Jongin memberikan gestur seri untuk sebuah permainan yang tak pernah ada.
Mereka bertiga bercerita;bercanda; bahkan sampai saling meledek hingga turut meramaikan suasana kantin yang sudah mulai disibukkan dengan jumlah siswa yang berdatangan. Ternyata jam makan siang sudah tiba tanpa rasa. Sekedar info Sehun sebenarnya mendatangi Jongin dan Baekhyun di kantin adalah secara tak sengaja ketika dia selesai disuruh membantu Han songsaenim untuk meletakkan beberapa lembaran kertas penting di ruang guru.
Dan sekarang tanpa mau tahu dengan kehadirannya yang ditunggu di ruang kelas, Sehun lebih memilih membolos juga bersama sahabat bangsatnya dan siswa baru yang begitu manis sayang untuk dilewatkan. –lahh
Byun Baekhyun merasa cukup nyaman bersekolah untuk hari pertamanya. Sahabat baru terpaksanya seperti Kyungsoo meski agak aneh dan teman kelas yang dikiranya mirip Yakuza seperti Jongin ternyata sangat konyol, serta Sehun lelaki tampan yang ramah meski sebenarnya rusuh membuat Baekhyun sedikit terkejut.
Sejauh ini masih normal, walaupun mata nakalnya sempat memergoki kejadian senonoh beberapa waktu lalu Baekhyun mencoba melupakannya. Hanya bayangan Chanyeol dan hembusan napasnya yang masih tersisa di ingatannya.Sungguh Ironi.
.
…(0..0)…
.
Baekhyun merebahkan punggungnya di ranjang kamarnya. Saat istirahat tadi siang dia seperti melihat adegan drama veteran antara Jongin dan Kyungsoo yang kebetulan bertengkar memperebutkan hal yang sama. Permainan mulut berawal dari hubungan palsunya terbongkar karena kejujuran Baekhyun yang terlampaui terbuka mengungkapkan kebohongannya. Maka dengan sangat menyesal Baekhyun harus bertanggung jawab membantu Kyungsoo malam ini untuk mengabsen setiap anak asrama yang melanggar aturan.
Ya mau bagaimana lagi.
"hhh~ sepertinya aku harus cepat mandi sebelum Kyungsoo datang menjemputku" Baekhyun mendesah malas menuju kamar mandi. Sebelum masuk dia melirik lagi ranjang sebelahnya yang sempat terhiraukan. Matanya memicing pada benda tergeletak diatas kasur tersebut.
"Ternyata dia sudah pulang duluan" setelah menjawab kalimat tebakannya sendiri Baekhyun berjalan acuh lagi meneruskan langkah kakinya yang sempat terhenti menuju kamar mandi.
Cukup tau dan tidak perlu penasaran kemana perginya makhluk terkutuk itu.
Selama proses membersihkan diri, Baekhyun bingung mencari sikat giginya yang seharusnya terletak pada tempatnya kini menghilang secara misterius. Dia sangat ingat tadi pagi ketika selesai mandi Baekhyun meletakkanya disamping pasta giginya yang masih ada disitu. Lalu dimana pasangannya?
"Kemana perginya sikat gigi kesayanganku?" Baekhyun berjalan keluar dari balok kaca buram itu tergesa hanya menggunakan handuk dibagian bawahnya. Badannya terlihat masih basah sekali bekas guyuran shower didalam sana tanpa sempat mengeringkannya terlebih dahulu. Matanya mencari-cari disekitar wastafel takut terjatuh saat dia lupa membawanya keluar meski mustahil karena Baekhyun yakin tidak pernah membawanya kemana-kemana selain meletakkannya di kamar mandi.
Matanya sedikit melirik ragu pada benda balok plastik yang tertutup rapi di sudut ruangan. Tak mau berlama-lama hanya sekedar menyangkal pikirannya akhirnya tangan kecil itu meraih tutup tempat sampah itu. Dan sungguh Baekhyun ingin berteriak histeris pada saat itu juga mengetahui benda kesayangan yang dicarinya bersarang elok;tergeletak tak berdaya di antara sampah-sampah lain.
Otaknya mencerna dengan kilat saat sebuah nama muncul di urutan pertama dan satu-satunya tersangka yang bisa melakukan semua ini. BRENGSEK -ini pasti ulah si tiang listrik itu. Park Chanyeol aku akan membalasmu –rapal Baekhyun didalam hati penuh kekesalan.
.
…(0..0)…
.
Sepulang sekolah Chanyeol langsung menuju asrama mengambil barang-barang yang diperlukannya nanti. Melempar asal tasnya di atas kasur lalu berjalan tergesa menuju pintu kamar mandi. Niatnya hanya ingin mencuci muka saja setelah selesai mandi tetapi matanya malah menemukan benda asing yang mirip dengan miliknya tergeletak di samping wastafel dengan warna lebih cerah.
"Siapa orang yang berani menyamai sikat gigiku. Pasti ini milik si pendek itu." lalu tanpa dosa Chanyeol membuangnya santai ke tempat sampah. Meninggalkan ruangan dan berganti pakaian menjadi gaya tren anak muda jaman sekarang dengan celana dipenuhi sobekan-sobekan di bagian depan sekitar lututnya. Jaket kulit hitamnya membalut dalaman kaos putih itu agar terkesan lebih keren. Rambut madunya disisir keatas lebih meninggi lagi mempertontonkan jidat laknat akar pemujaan semua wanita dan uke cantik di negeri itu.
Hari masih sangat sore dan seorang Park Chanyeol sudah siap merencanakan kegiatan malam rutinnya dengan semangat.
Kendaraan bermesin yang memiliki roda dua itu melesat gesit membalap puluhan mobil yang berbaris dijalanan menunggu waktu untuk saling mendahui. Jam menunjukkan tepat pukul 6 malam saat motornya terparkir pada salah satu klub di kawasan distrik Gangnam. Usianya belum menjamin untuk bisa lolos di pintu masuk yang dijaga ketat dua bodyguard besar itu – malah Chanyeol tak peduli dan melenggang masuk begitu saja ketika kedua orang berbadan besar itu mengangguk hormat padanya.
Tempat tersebut adalah miliknya;lebih tepat milik ibunya yang bisa dijadikan sebagai heaven dunianya ketika hormon remajanya ingin terpuaskan. Sesampainya didalam sana Chanyeol sudah disambut oleh pengelola klub dengan pelukan bahagia karena sang serigala tampan akhirnya menampakkan taringnya.
Beberapa wanita berdada terbuka dan berpakaian minim terlihat berbondong menggoda mengelilingi tamu istimewah itu untuk segera melayaninya. Maka dipilihlah seorang gadis cantik yang masih muda untuk menjadi santapannya kali ini membuat semua wanita disana mendecak sebal merasa iri atas keberuntungan gadis itu.
Tanpa malu gadis itu menggandeng lengan Chanyeol manja dan bergelayut mesra memamerkan sejuta pesona seksinya agar membuat pemuda itu semakin tertarik untuk menginginkannya.
.
.
"Ahhh ouch hen-hentikanhh kumohon tuan nghh.."
Di ruangan VIP yang sudah menjadi tempat khusus pribadinya menghabiskan malam panas, Chanyeol bersendekap angkuh melihat gadis itu mengerang parau memohon untuk melepaskan benda terkutuk yang disebut 'vibrator' itu di dalam vaginanya. Alat itu bergetar hebat menyengat kelaminnya yang terbuka lebar mengangkang di hadapan Chanyeol.
Sebenarnya Chanyeol bukan tipe lelaki yang senang menggunakan sex toys didalam urusan one night stand-nya. Tetapi hari ini dia sangat ingin menyiksa seseorang untuk melampiaskan kekesalannya pada seseorang disana yang mungkin sudah tertidur pulas seperti bayi kecil pada jam 9 malam ini.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain meremas sprei untuk melampiaskan hasratnya karna tak kunjung disentuh dan hanya dimainkan dengan alat sialan itu saja. Gadis cantik yang sudah telanjang itu menjemput orgasmenya yang ke tiga setelah satu jam dibiarkan tersiksa. Chanyeol menghentikan alat itu dengan menekan remot pemicunya ke level terendah.
Sekarang waktunya bersenang-senang. Chanyeol mengambil karet pembungkus atau bisa dibilang kondom itu untuk melapisi kejantanannya. Tanpa melepas seluruh pakaiannya, dia hanya mengeluarkan penis tegangnya menggesek vagina basah itu mencari posisi agar dia bisa menembusnya dengan mudah.
Chanyeol berciuman panas dengan gadis itu, tangannya tak pernah berhenti meraba seluruh kulih putih itu lalu meremasnya. Ketika semua sudah pas dan penisnya sudah sepenuhnya bersarang, sedetik kemudian Chanyeol sudah menghentaknya dengan kuat secara bertubi-tubi.
Gadis itu melepas ciumannya untuk mengeluarkan desahan kerasnya membiarkan Chanyeol menggigiti lehernya dan meremas dadanya kencang sekali. Iblis tampan itu tak membiarkan sedikitpun si gadis agar bisa bernapas lega, menyetubuhinya terus dan terus tanpa jeda hingga pada puncaknya Chanyeol melepas penyatuan mereka dan membuang plastik yang sudah penuh spermanya ke tempat sampah.
Gadis yang menjadi korban pelecehan seksualnya tergeletak lemas di atas ranjang berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut yang bisa dia lihat ada bekas darah keperawanannya yang tercecer. Benar. Gadis itu adalah tumbal malam ini untuk serigala berdarah panas –Chanyeol- yang hanya menerima mangsa sekali pakai yang masih perawan.
"Tubuhmu lumayan juga, aku puas walau cuma satu ronde saja" Chanyeol mengatakan itu sambil menresleting kembali celananya yang sempat terbuka. Dia membereskan penampilannya kemudian berlalu begitu saja tanpa ada salam perpisahan yang manis pada gadis yang sudah menjadi wanita karena sudah merenggut keperawanan seseorang dengan mudah.
Ketika membuka pintu keluar dirinya sudah disambut beberapa pria berjas hitam menghadang jalannya. Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti maksud orang-orang itu. Dua dari mereka tiba-tiba masuk dan berdiri disampingnya memegangi lengan dan tangannya lalu segera menyeretnya keluar.
"Hey apa yang kalian lakukan. Lepaskan aku!" Chanyeol memberontak berusaha melepaskan diri dari sergapan tanpa izin itu. Mungkin karena kekuatannya sedikit terkuras akibat seks tadi cekalan di lengannya tetap tidak terlepas.
"Maafkan kami. Nyonya besar menyuruh untuk membawa anda kembali ke asrama tepat sebelum aturan jam malam berakhir" pria berjas hitam yang menjadi ketua diantara suruhan itu akhirnya mengungkapkan tujuan mereka yang dengan seenaknya menyeret Chanyeol seperti pencuri yang tertangkap basah menuju ke mobil.
Chanyeol menggeram kesal ketika mendengar nama 'Nyonya besar' terselip diantara alasan itu. Dia tidak pernah menyangka kalau wanita itu akan ikut campur sampai pada urusan pribadinya. Sudah cukup menyeretnya pada lubang hitam sekarang menutup jalur kesenangannya juga. Dasar Wanita iblis.
"Lepaskan Brengsek! Aku tidak mau kembali ke asrama"
Seharusnya Chanyeol tau kalau percuma berteriak dan memaki dihadapan bodyguard itu. Mereka hanya akan patuh dan mendengarkan perintah dari sang Ibu Ratu meski Chanyeol adalah pangeran iblis mereka sekalipun.
…
Sesampainya di gerbang asrama sekolah, para pengawal itu membuka pintu mobil dan menyuruh Chanyeol keluar.
"Nyonya besar memiliki pesan untuk anda" lalu pria itu mengeluarkan sebuah tab berlayar lebar memunculkan sosok wanita cantik berpakaian elegan sedang tersenyum menghadap kamera. Rekaman video mulai diputar.
"Malam putra tampan kesayanganku, bagaimana malam panasmu hem- apa semua berjalan lancar?" wanita dalam video itu sedikit tertawa mempertontonkan giginya yang rapi. Chanyeol mendecih melihatnya. "Ibu sebenarnya tidak ingin melukaimu dengan membawa beberapa pengawal untuk menghentikan kebiasaan burukmu. Kau mengerti kan maksud Ibu" wanita yang masih kelihatan muda itu mengaku sebagai Ibu Chanyeol tersenyum manis dilayar.
"Jadi mulai sekarang Ibu akan menutup semua fasilitas pribadimu yang menggunakan atas nama Ibu, termasuk klub malam itu. Jadi kembali ke asrama dan belajar yang baik, maka Ibu akan mengurangi hukumanmu. Ibu sudah menyuruh tuan Kang untuk mengawasimu, jadi berhati-hatilah sayang. Don't try to trick mommy if you want to live in peace" selesai mengatakan itu layar tiba-tiba mati menandakan tidak ada pesan lagi untuk selanjutnya. Chanyeol tidak habis pikir tentang nasibnya bisa memiliki Ibu semacam itu.
"Silahkan kembali ke asrama anda tuan muda" pria itu mempersilahkan Chanyeol untuk memasuki pintu gerbang yang sudah terkunci itu. Konyol.
Malam ini jam sudah menunjukkan angka 10.30 artinya peraturan malam sudah dijalankan setengah jam yang lalu. Sungguh sial bagi Chanyeol.
"Kalian tidak lihat pagarnya terkunci. Mana bisa aku masuk" tetapi para pria itu tetap diam terhadap segala protes Chanyeol.
"Biarkan aku tidur di hotel saja" langkahnya sudah beralih arah namun seorang pengawal menghadangnya. Ini keterlaluan. Chanyeol menatap berang semua pria berjas hitam itu. Tangannya merogoh saku mengambil handphone secara kasar dan terlihat sedang menghubungi seseorang. Sudah satu menit panggilan yang dia layangkan dalam 3 kali tapi hanya sautan operator tukang ikut campur yang menjawabnya.
Fuck. Kemana perginya Kim Jongin.
Ternyata Chanyeol sedang menghubungi sahabatnya itu dan tidak juga di angkat-angkat. KEPARAT. Oh andaikan kau tau Jongin disana sedang tertawa setan diatas penderitaanmu. Kini Chanyeol ragu untuk mengontak nomor Sehun –sepupunya- dimana sudah lima bulan lamanya dia mengabaikan kehadirannya. Sial.
Ah Ren! Benar juga..
Tetapi tetap sama saja. Nomor itu tidak bisa dihubungi karena tidak aktif. Chanyeol mengumpat frustasi. Tidak ada lagi, itu tadi adalah tiga nomor terakhir di daftar telponnya selama bersekolah di sini. Dia hanya berteman pada orang-orang yang dipercayanya. Di sekolah Chanyeol termasuk siswa yang tidak suka keramaian dan selalu menyendiri itu sesudah persahabatannya dengan Jongin dan Sehun tidak berjalan baik lagi.
Ok sepertinya sudah tidak ada jalan lagi selain… melompati pagar. SHIT!
"Dasar suruhan tidak berguna, bagaimana bisa mereka hanya melihatku melompat tanpa berbuat sesuatu untuk membantuku. Seharusnya Ibu memecat mereka saja" Chanyeol hanya bisa mendesis kesal lalu berjalan perlahan memasuki pekarangan asrama.
.
"Dia sudah masuk ke dalam Nyonya"
Terdengar ledakan tawa yang non etis bagi wanita bermartabat sepertinya saat telepon itu berada dekat telinga sang bodyguard.
"Aku tidak menyangka dia lebih memilih melompati pagar dengan wajah masam begitu. Hahaha lihatlah Kim, Chanyeol putra tampanku masih saja menggemaskan" ketua pengawal yang bermarga Kim itu adalah salah satu orang kepercayaan Nyonya Park –Ibu Chanyeol- yang diutus untuk membawa anaknya kembali ke asrama dan memata-matai kegiatan di luar sekolahnya selama ini. Dia mengirimkan sebuah video yang berhasil di rekam olehnya saat Chanyeol berusaha melompati pagar dan berakhir sang ratu yang menertawakan putranya sendiri. Ibu yang Aneh.
Setelah panggilan itu berakhir mereka pergi karena sudah menyelesaikan tugasnya.
.
Kembali pada Chanyeol yang masih waspada pada langkahnya sendiri, dia ingin berjalan masuk lewat pintu depan dan ternyata disana masih ada dua orang berjaga berkeliling disekitar. Chanyeol segera pergi menyembunyikan diri berjalan ke samping gedung.
Dia mencari cara bagaimana agar bisa sampai kamarnya tanpa ketahuan. Dan saat kepalanya mendongak ke atas dia melihat jendela kamarnya terbuka. Merasa pilihan lain tidak ada, Chanyeol terpaksa mencoba memanjat dinding asrama menaiki setiap pijakan kecil di sela-sela dinding dengan tangannya menggantung keatas meraih pegangan.
Kakinya mulai menaiki satu persatu pijakan istimewa yang sepertinya sengaja dirancang sebagai jalur keluar masuk tersembunyi di asramanya. Chanyeol tidak peduli siapa yang membuat yang penting ini menjadi keuntungannya untuk memudahkannya mencapai jendela kamarnya yang sangat sialnya kenapa mesti berada di lantai tiga. Fuck.
Lantai satu sudah terlewati tinggal lantai dua, dan tangannya sudah pegal untuk menahan bobot tubuhnya sebagai pegangan. Ck payah sekali.
"Siapa itu?" sebuah suara muncul mengganggu konsentrasi Chanyeol. Merasa sudah tidak kuat lagi Chanyeol melepas genggaman tangannya lalu menjatuhkan diri pada seseorang yang berada tepat dibawahnya.
BUG~
CUP- Mata keduanya melotot lebar mengalahkan burung hantu. Penyatuan kedua bibir yang tidak direncanakan.
Kenapa bisa sesempurna itu posisinya?
.
.
TBC
Hayoo siapa yg dicium chanyeol? Yg pasti bukan kalian yups guys wkwk ... Makin ksini aku bakal sering buat chanbaek moment. Gemes sama baek di lagu 'The One' soalnya. ≧﹏≦ Nantikan juseyo^^~ oh iya bagi yg nebak Chanyeol homopobhic sbenarnya sih enggak. Cuman dia gk suka aja kalau lihat suatu hub. Itu sesama jenis karena manusia itu diciptain berpasangan antara pria dan wanita. Begitu loh.. Klog dia homophobic udh sejak awal dia mutusin pindah sekolah dan lebih milih sekolah umum. Hehe. Gmm2 ngerti gk? Klog gk bye kita putus. Eh?
Dari kemarin aku kena block writer, udah lebih dari 3 hari aku gk bisa upload ff ini T_T mangkanya telat. Maafin ya chingu :')
Gomawo buat yg foll sm fav :) dan buat yg ripiyu aku mnantikan tanggapan kalian sama chap ini. Meski absurd tetep ripiyu ya walau cuman setitik :)
Salam chanbaek sweet^^
Mumumu:*:*
