Kembali pada Chanyeol yang masih waspada pada langkahnya sendiri, dia ingin berjalan masuk lewat pintu depan dan ternyata disana masih ada dua orang berjaga berkeliling disekitar. Chanyeol segera pergi menyembunyikan diri berjalan ke samping gedung.
Dia mencari cara bagaimana agar bisa sampai kamarnya tanpa ketahuan. Dan saat kepalanya mendongak ke atas dia melihat jendela kamarnya terbuka. Merasa pilihan lain tidak ada, Chanyeol terpaksa mencoba memanjat dinding asrama menaiki setiap pijakan kecil di sela-sela dinding dengan tangannya menggantung keatas meraih pegangan.
Kakinya mulai menaiki satu persatu pijakan istimewa yang sepertinya sengaja dirancang sebagai jalur keluar masuk tersembunyi di asramanya. Chanyeol tidak peduli siapa yang membuat yang penting ini menjadi keuntungannya untuk memudahkannya mencapai jendela kamarnya yang sangat sialnya kenapa mesti berada di lantai tiga. Fuck.
Lantai satu sudah terlewati tinggal lantai dua, dan tangannya sudah pegal untuk menahan bobot tubuhnya sebagai pegangan. Ck payah sekali.
"Siapa itu?" sebuah suara muncul mengganggu konsentrasi Chanyeol. Merasa sudah tidak kuat lagi Chanyeol melepas genggaman tangannya lalu menjatuhkan diri pada seseorang yang berada tepat dibawahnya.
BUG~
CUP- Mata keduanya melotot lebar mengalahkan burung hantu. Penyatuan kedua bibir yang tidak direncanakan.
Kenapa bisa sesempurna itu posisinya?
.
.
.
.
.
"The Halved"
Main Cast :
[Park Chanyeol x Byun Baekhyun]
Rate : M
Yaoi, Boys Love, Boy x Boy
OOC, Typo(s), Not According to EYD, etc.
.
^^Happy Reading^^
.
.
Chapter 4
Hanya 3 detik lamanya, Chanyeol segera bangkit berdiri dari atas tubuh lelaki yang ditindihnya barusan. Dia memundurkan langkahnya sedikit menjauh sambil membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Ekspresi yang ditampilkan sendiri tidak bisa dijelaskan antara menatap horor atau seperti kehilangan nyawanya. Sementara orang didepannya juga tidak jauh beda dengan apa yang dirasakan Chanyeol. Dalam keadaan yang masih terduduk di atas tanah lelaki itu memegang pinggang dan bibirnya bersamaan.
"Baekhun-ah~ kau dimana?" terdengar suara laki-laki lain datang mendekat kearah mereka. Langsung saja tanpa pemberitahuan, Chanyeol menarik paksa tangan lelaki yang terduduk itu untuk pergi bersembunyi bersamanya. Chanyeol menghimpit tubuh mungil itu di balik dinding sempit seperti yang pernah dia lakukan pada seseorang sebelumnya.
"Diamlah jangan bersuara" wajah antara keduanya benar-benar sangat dekat. Lelaki itu masih terdiam tetapi hidungnya bisa menghirup bau parfum dan aroma alkohol dari mulut dan baju Chanyeol yang bercampur satu membuat perutnya sedikit mual. Posisi mereka miring menghadap Kyungsoo, pemuda yang baru saja berteriak tadi kini membelakangi Chanyeol dan seorang laki-laki yang ternyata adalah Baekhyun.
Ini sudah menjadi kedua kalinya Baekhyun terjebak pada situasi dimana Chanyeol menghimpitnya pada dinding dengan dia diam menurut tak bersuara. Tidak. Dia harus membalas semua perlakuan kurang ajarnya. Suasananya sekarang sangat mendukung. Baekhyun menyeringai setan ketika melihat Chanyeol yang harap cemas melihat Kyungsoo tak kunjung pergi dari tempatnya.
Inilah waktunya!
Wajahnya yang semula menghadap Chanyeol menjadi berbelok kekanan ke arah Kyungsoo yang masih celingukan mencari dirinya. Mulutnya sudah terbuka dan suara dari tenggorokannya hampir keluar tetapi sebuah benda lembut dan kenyal sekali lagi menyumbat jalur pernapasan Baekhyun untuk mematikan detak jantungnya.
Demi GOD! Chanyeol sekarang mencium bibirnya tanpa unsur ketidak sengajaan seperti sebelumnya. Ini gila. Chanyeol sudah gila. Otaknya tak waras lagi. DAN LEBIH GILANYA LAGI Byun Baekhyun hanya diam saja tak bergerak sedikitpun. Heol.
Awalnya Chanyeol hanya menempelkan permukaan bibirnya saja untuk menghentikan rencana jahat Baekhyun yang sudah diketahuinya semenjak kepala si pendek itu beralih arah. Matanya melihat seringaian busuk si kecil. Namun tangan sialannya terlalu lamban untuk membekap mulut cerewet itu dan berakhir dengan bibirnya bergerak cepat diluar dugaannya.
Udara malam semakin terasa menyengat kala hembusan angin menerpa sebagian wajah Baekhyun. Kyungsoo sendiri telah beranjak dari tempatnya sejak tadi meninggalkan sahabat barunya berperang dalam kegelapan di balik dinding dan kungkungan serigala tampan yang kini sedang menikmati perannya kembali.
Chanyeol tanpa sadar mengikuti arus hawa nafsunya. Bibirnya bergerak lincah mengecupi hingga menghisapi bibir tipis itu secara lancang. Kedua matanya tertutup sambil mengangkat telapak tangannya menangkup kedua pipi Baekhyun menyalurkan kehangatan.
Semuanya berjalan cepat. Baekhyun yang tak melawan dan Chanyeol yang terus mendesaknya ke tembok guna memperdalam penyatuan kedua belah bibir itu. Dagunya di angkat tinggi, matanya menutup erat, sedangkan kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. Chanyeol gelap mata, dia tidak puas dengan reaksi yang diberikan Baekhyun saat bibir itu hanya pasif;diam tak membalas ciumannya. Maka untuk mensiasatinya Chanyeol menggunakan lidahnya yang sejak tadi gatal ingin menjilati bibir semanis madu surga ini.
Baekhyun syok saat merasakan jilatan seksual pada bibirnya. Ini sudah terlalu jauh. Fungsi otaknya kembali. Baekhyun yang tersadar langsung saja mendorong tubuh tinggi itu keras.
"Hhhh.. hah.. haahh.." terdengar napas setengah putus-putus itu merambat seksual di pendengaran sang dominan. Pipi yang memerah entah karena hawa panas atau apa semakin membuat Baekhyun terlihat menggemaskan. Bibir terbukanya mengkilap bekas hisapan kuat dari Chanyeol meninggalkan kesan sexy. Sangat menggoda dan menggairahkan.
"Kau memakai lip balms?"
"Apa!"
"Rasa anggur. Bibirmu." Chanyeol menunjuk bibirnya sendiri memberitahukan maksudnya.
"Kau sadar apa yang barusan kau lakukan?"
"Melumat bibirmu. Ada yang salah"
"TENTU SAJA BODOH" si kecil membalas ucapan Chanyeol dengan berteriak emosi. Astaga si tiang listrik ini pasti sedang mabuk. "Kita ini sesama lelaki. Kau bilang kau benci Gay"
"Memang"
"Tapi barusan kau menciumku. Dan aku adalah seorang laki-laki, itu tandanya kau Gay"
Chanyeol tertawa. "Apa itu ciuman pertamamu. Itu sebabnya kau terlihat sangat marah"
"Tidak!"
"Pantas saja kaku sekali"
"Kubilang Tidak! Aish… " Baekhyun menghentakkan sebelah kakinya tanda kesal sekali. Mukanya memerah dengan bibir mengerucut. Chanyeol yang melihat tingkah laku Baekhyun –menggemaskan itu- semakin niat untuk menggoda lebih lagi.
"Ah kalau begitu anak anjing mana yang coba kau ajak berciuman"
Baekhyun melotot. Poni yang menutupi sekitar matanya dia tiup kuat sehingga tidak menghalangi pandangannya. "Ingat Park Chanyeol-ssi, mulai detik ini aku menyatakan perang padamu" setelah mengatakan itu Baekhyun pergi sambil menabrak lengan Chanyeol karena bahunya yang terlalu rendah.
"Dengan senang hati aku menerimanya Byun Baekhyun-ssi" Chanyeol menyeringai tampan pada kegelapan malam ini.
.
.
.
Baekhyun pernah berciuman dengan seorang wanita. Pada saat itu di JHS nya ada festival akhir semester bagi kelas tiga sekaligus menyambut kelulusan mereka. Dia mendatangi stan memasak berharap mendapat sedikit gratisan bila datang ke sana. Teman sebayanya berpikiran sama, Baekhyun dan segerombolannya berusaha menggoda para perempuan itu. Mereka membujuk dan merayu –dan alhasil setusuk kentang spiral dan naget di tengahnya paling besar bisa Baekhyun nikmati.
Para lelaki itu tertawa tak terkecuali Baekhyun sendiri. Tetapi tiba-tiba dia menjatuhkan makanannya dan kesulitan bernapas. Seluruh teman-temannya panik berusaha mendekatinya. Seorang perempuan mendatanginya dan buru-buru memberikan nafas buatan pada bibirnya. Itulah pertama kalinya bagi Baekhyun mendapatkan first kiss-nya yang memalukan.
Dan dari kejadian itu juga Baekhyun baru tahu bahwa dirinya alergi udang, makanya dia menghindari apapun makanan yang berbau dengan udang.
Di kamar mandi Baekhyun terus menggosok giginya supaya lebih bersih lagi -menghilangkan bau bekas Chanyeol yang masih menempel di bibirnya penuh rasa kesal.
"si Brengsek itu... menyebalkan sekali. Pokoknya aku tidak boleh menyerah. Lihat saja nanti aku pasti bisa membuatmu bertekuk lutut" Baekhyun menatap cermin di kamar mandi, melihat bayangannya sendiri sedang tertawa jahat.
.
…(0..0)…
.
Brak..brak..brak...
"Siapa sih malam-malam begini menggedor pintu" Jongin menggerutu bangun dari tempat tidurnya terpaksa. "Yak Oh Sehun jangan pura-pura tertidur. Coba kau lihat sana" sebuah karet mainan kecil Jongin lempar pada tubuh tengkurap sahabatnya itu, tetapi tak ada respon yang berarti.
Brak..brak...brak…
"FUCK" umpat Jongin mengusak rambutnya kasar. Dia mulai bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke pintu masuk. Membuka kunci dan mulai menyembur pelaku kriminal dengan bentakan kalau saja-
"Kenapa lama sekali kau membukanya"
-pria brengsek berkedok sahabat-nya menyelonong masuk kamar seenaknya.
"Park Chanyeol untuk apa kau kesini" Jongin bertanya sarkatis.
"Tidur tentu saja"
"Kau memiliki ruang kamar sendiri kan"
"Baekhyun menguncinya dan aku lupa membawa kunci kamar. Sekarang kau sudah tau. Jadi jangan banyak tanya. Aku mengantuk" Chanyeol mulai membaringkan tubuhnya di ranjang Jongin;menguasainya seolah itu adalah miliknya. BRENGSEK!
"Apa yang dilakukan Chanyeol disini?"
Bagus. Sehun terbangun disaat yang tepat dimana uap hitam mengepul mulai terlihat disekitar kepala Jongin. Mungkin sebutan Yakuza cocok bagi Jongin ketika pria itu sudah mengambil sebilah pisau entah dapat darimana, dan itu membuat seorang Oh Sehun kelabakan menahan tubuh sahabatnya agar tidak bertindak gila.
"Jongin. Ingatlah Kyungsoo.. ingat bagaimana ketika dia mulai memotong ikan. Oh tidak bukan. Bukan itu maksudku" Sehun menepuk-nepuk mulutnya yang bodoh. Bukan malah mencairkan suasana hati Jongin dia malah semakin mengobarkan semangat membunuhnya.
Jongin mengangkat pisau itu dengan kedua tangannya. Mengarahkan bagian runcing menghadap kebawah dan bersiap menghujamnya pada tubuh jangkung yang langsung tertidur di ranjangnya itu. Sementara Sehun menarik-narik tubuh Jongin dengan susah payah.
"KIM JONGIN JANGAN!"
"Matilah kau Park Chanyeol"
Jleb-
"Hey bisakah kalian diam" Chanyeol melirik sebentar kedua sahabatnya yang langsung terdiam di tepi ranjang sebelah –ranjang Sehun- lalu berbalik memunggungi mereka.
"Kau harus membayar ganti rugi mainan karet larvaku. Dan jangan tidur di ranjangku" kata Sehun berdesis memperingati.
Jongin menatap kosong dua benda terkutuk dikedua tangannya. Pisau yang menancap pada mainan karet larva berwarna merah milik Sehun, adalah kesalahan fatal kecilnya.
Oh tidak. Jongin harus tidur dimana?
Merataplah Kim Jongin malam ini.
.
…(0..0)…
.
Baekhyun bangun tidur pagi sekali dari biasanya. Jam 3 pagi bukanlah sesuatu yang baik bagi siswa asrama untuk berkeliaran keluar kamar, tapi dia melakukannya. Tidurnya tidak nyenyak sama sekali dan Baekhyun butuh udara segar. Ranjang sebelahnya kosong karena Baekhyun memang sengaja mengunci pintu kamar agar pemiliknya tidak bisa masuk. Itu merupakan salah satu pembalasan agar Chanyeol tidak meremehkannya lagi. Haha rasakan.
Suasana dini hari ini sangat sepi sekali. Baekhyun baru menyadari dia melangkah ke sebelah utara dimana lorong sebelah sana adalah bagian ujung dari lorong-lorong di lantai tiga. Biarlah dia hanya ingin sekedar jalan-jalan menghilangkan segala pikiran kesalnya pada pria yang sudah membawa mimpi buruk pada tidurnya.
"Emmpphh-hhh"
Baekhyun menghentikan langkahnya sejenak. Telinganya dia pasang baik-baik ketika sekelebat mendengar suara desahan yang tertahan. Dia menolehkan wajahnya ke berbagai arah tapi tak menemukan petunjuk. Apa tadi dia tadi salah dengar? Sesuatu berdiri di atas pori-pori kulitnya. Baekhyun mengusap kedua lengannya menenangkan tubuhnya yang mendadak kedinginan.
Baju turtle neck berdasar putih tulang itu tak mampu mengurangi perasaan merindingnya. Baekhyun terus berjalan menyusuri lorong terakhir itu. Pada saat akan berbelok ke sebelah kanan, seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Baekhyun mengenal suaranya, lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya. Lampu lorong itu gelap semua, padahal saat dia berjalan melewatinya tidak ada yang salah dengan kerja sistem penerangan itu. Ada yang aneh. Hanya lampu yang berada di atas kepalanya saja berhasil hidup.
"Chanyeol apa itu kau. Keluarlah jangan bercanda ini tidak lucu"
Keadaan lorong yang gelap membuat Baekhyun tidak terlalu jelas melihat. Dia hafal benar dengan suara baritone itu. Meski baru sehari bersekolah disini tapi dia yakin seseorang yang baru saja memanggilnya adalah Park Chanyeol.
Terdengar langkah sepatu menggesek lantai didepannya. Ada seseorang berjalan ke arahnya dan Baekhyun merasa waspada untuk kesekian kalinya. Dua kaki itu berhenti tepat lima langkah darinya membuat penerangan lampu hanya mampu menjangkaku dua ujung sepatu hitam mengkilat itu.
Tubuhnya tinggi menjulang, samar-samar matanya melihat tetapi dia tahu pria didepannya menggunakan setelan baju kantor yang rapi.
"Si-siapa anda?" Baekhyun tahu itu bukan Chanyeol.
Pria didepannya tertawa.
"Seharusnya kau tidak berada disini nak"
ckrek.. klek..
Apa itu? bukankah barusan bunyi senjata api yang dimainkan?
"Nikmatilah akhir hidupmu" suara itu terdengar sangat menyeramkan ketika sebuah pistol mengarah kepadanya.
Baekhyun menegang. Keringat dingin bermunculan disekitar pelipis dan dahinya. Tangannya bergetar dan kedua kakinya mati rasa untuk sekedar bergerak menyelamatkan diri. Bibirnya kaku menjadikan suaranya hanya mampu tersendat di tenggorokan. Matanya terpejam rapat pasrah pada hidupnya yang sesingkat ini.
Lalu terdengar suara tembakan diluncurkan padanya.
Bruk…
"Baekhyun kau tidak apa-apa?"
"Cha-chanyeol" suaranya keluar lirih ketika matanya melihat seseorang yang berada di atasnya. Di depannya sekarang Chanyeol Nampak sangat khawatir. Ternyata dia berhasil di selamatkan dengan Chanyeol langsung memeluk dan mendorongnya jatuh ke lantai.
"Ayo kita harus cepat berlari"
"Tak akan kubiarkan kalian pergi dengan selamat"
Chanyeol menggenggam tangannya erat mengajaknya berlari secepat mungkin. Sementara orang misterius itu terus mengejar dibelakangnya.
Shut.. dor~
"Argkhh…" Baekhyun memekik ketika peluru itu hampir mengenai kepalanya dan Chanyeol segera menariknya ke sebelah kiri bersembunyi di balik dinding. Selalu posisi ini, dimana Chanyeol menghimpitnya pada tembok. Seharusnya Baekhyun membencinya tetapi ini begitu aman dan nyaman secara bersamaan.
Tuk.. tuk.. tuk..
Bunyi langkah sepatu pria itu semakin terdengar dekat.
"Sial. Baekhyun aku ingin kau berlari keluar dari gedung ini. Cepat pergi cari bantuan, sementara aku akan menghadangnya"
"Apa? tidak. Kita harus pergi bersama"
"Aku harus menghentikannya"
"Tapi dia membawa senjata"
"Tenang saja aku tidak akan kenapa-napa" Chanyeol memegang kedua pipi lembut Baekhyun menatapnya penuh kehangatan.
"Aku mencintaimu" lalu detik selanjutnya sebuah ciuman manis menghampiri bibir Baekhyun. Keterkejutan ini tak urung memberikan tindakan berlebih dari si kecil karena nyatanya bukan malah mendorong Chanyeol –pria yang dianggapnya brengsek- Baekhyun semakin memiringkan wajahnya dan membuka bibirnya agar Chanyeol bisa mengeksplor mulutnya.
"Emmpphhh..ccppk" Chanyeol memutuskan tautan basah itu secara sepihak. Baekhyun cemberut merasa tidak puas.
"Aku tahu kau masih menginginkannya, tapi waktu kita sudah tidak banyak lagi" setelah mengatakan itu Chanyeol mengecup dahi Baekhyun.
"Pergilah"
Baekhyun melihat Chanyeol dengan mata yang berkaca-kaca. Chanyeol sendiri sudah membalikkan badannya tidak mau melihat wajah bersedih Baekhyun. Di tangan Chanyeol sudah berada sebuah pistol dan sekarang bersiap menarik pelatuknya. Chanyeol melihat situasi pria berjas itu dan terlihat aman. Untuk terakhir kalinya Chanyeol menolehkan kepalanya ke Baekhyun lalu menganggukkan kepala tanda untuk si kecil cepat bergerak.
"Aku tahu kalian disana. Aku akan segera membunuh kalian" terdengar suara pria itu menguar keras memenuhi lorong ke lima dimana Baekhyun dan Chanyeol ada di lorong ke empat.
"Shut.. dor.. dor…"
"Dor.. dor.. dor.. Sial, Baek cepat lari!"
Baekhyun masih terdiam tak bergerak sama sekali. Pandangannya sedikit kabur. Di depannya kini dia melihat Chanyeol terlihat kuwalahan menghadapi pria yang dianggapnya penjahat itu.
"Baekhyun cepat!" Chanyeol berteriak sambil tangannya masih menembakkan peluru pada penjahat itu. Baekhyun segera tersadar dari lamunannya dan berusaha keras melangkahkan kakinya pergi.
"Tak akan kubiarkan kau pergi" penjahat itu mengarahkan pistolnya cepat ke arah Baekhyun yang masih berlari dan menanggalkan pelurunya bersamaan. Chanyeol yang menyadari segera berlari menghalau tembakan itu maka terjadilah sebuah insiden mengerikan. Tubuh jangkung itu jatuh terduduk memegangi dadanya yang berdarah.
"Chanyeooolll-" Baekhyun menghentikan langkahnya menoleh kebelakang dan menjerit histeris mengetahui penjahat itu berhasil menembak Chanyeol dan menendang tubuh itu jatuh tersungkur begitu saja. Baekhyun menangis ingin berlari menyelamatkan Chanyeol tetapi pemuda itu menggelengkan kepalanya seakan berkata jangan mendekat.
"Sekarang adalah giliranmu manis" penjahat itu menyeringai kejam bersiap menarik pelatuknya. Air matanya tidak berhenti mengalir, Baekhyun akhirnya memutuskan untuk berlari lagi. Menyusuri setiap lorong. Berteriak meminta tolong berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkannya.
Setiap pintu dia ketuk tapi tak menghasilkan apapun. Semuanya terasa sangat aneh. Pertama dia tidak melihat tangga agar bisa turun ke lantai dua. Kedua terlalu banyak lorong dan kamar yang baru Baekhyun ketahui meski baru tadi malam Kyungsoo mengajaknya berkeliling. Dan terakhir, dari seluruh teriakan dan jeritan Baekhyun keluarkan kenapa tak seorangpun merasa terganggu terhadap kebisingan itu.
Sekali lagi dia menoleh ke belakang dan melihat pria berjas itu masih berjalan mengejar di belakangnya. Tembakan demi tembakan lolos tapi untungnya Baekhyun mampu menghindar dan terus berlari menyelamatkan diri.
"Tolong… hiks..siapapun… kumohon"
"Berteriaklah terus nak. Percuma saja tak ada yang akan mendengarmu" penjahat itu mengatakan hal yang membuat Baekhyun semakin ketakutan.
"Hiks.. tolong aku" tubuh kecilnya sudah merasa kelelahan karena terus berlari. Jantungnya berdetak kencang semenjak matanya melihat sosok pria berjas itu memompanya lebih cepat sehingga membuat Baekhyun lemas untuk beberapa waktu. Tak ada jalan keluar. Setiap pintu kamar terkunci dan jendela menuju dunia luar pun tak pernah dia temukan. Seolah tempat ini mempermainkannya untuk terus berlari dan menyuruhnya jangan berhenti hingga dia menemukan jalan buntu atau mati.
"hah-hhh aku sudah tidak sanggup hiks lagi" keringat dan air matanya bercampur jadi satu. Baekhyun bersandar pada salah satu dinding lorong. Nafasnya terengah dan dadanya sesak jika di ajak untuk berlari lagi.
"Ternyata kau disini, nikmati ajalmu pemuda manis" penjahat itu berhasil menemukannya dan mulai mengayunkan pistolnya sekali lagi kearahnya.
DOR~
"TIDAAAKKKKK.." Baekhyun berteriak kencang terbangun dari ranjangnya. Matanya melihat keadaan sekitar dan dia sangat bersyukur semua itu hanya mimpi. Jam beker di atas nakas samping tempat tidurnya menunjukkan pukul 5 pagi.
Baekhyun menormalkan jantung dan napasnya agar lebih teratur. Ruangan kamarnya gelap dan angin semalam sepertinya masuk melewati jendelanya yang terbuka. Ah pantas saja itu salah satu alasan mimpi buruknya.
Berbicara mengenai mimpi buruk, Baekhyun berani bersumpah itu mimpi paling dan sangat buruk sekali dalam seumur hidupnya. Tubuhnya dia senderkan pada kepala ranjang. Kepalanya berdenyut pusing dan tangannya mencoba meringankan dengan memberinya pijatan kecil.
"Benar-benar mimpi yang sangat buruk"
Tadi malam setelah mencuci muka Baekhyun tidak mengecek keadaan kamarnya termasuk jendela. Dia langsung jatuh tertidur merasa kelelahan dan kesal, memutuskan ingin melupakan semua kejadian malam ini. Tapi kenapa malah lelaki itu ikut berperan di dalam mimpinya? Argkh Baekhyun ingin menangis mengingat di dalam mimpi-pun dia merelakan bibirnya dinikmati pria brengsek itu. SIAL seperti drama action romantis saja.
"Tidak itu hanya mimpi" Baekhyun memutuskan untuk segera turun dari kasurnya menuju ke kamar mandi. Sekolah lebih penting daripada memikirkan hal tak berguna seperti itu.
Baekhyun akan sering mengalami mimpi buruk jika tidur di dekat jendela makanya kamarnya selalu anti ventilasi. Dari kecil dia tidak pernah berani mendekati jendela besar yang tirainya melambai-lambai di terpa angin malam. Dari cerita yang pernah dia dengar dari teman-temannya dulu ketika melihat tayangan film horor, bahwa tirai jendela yang bertebar di tiup angin malam hari itu tandanya ada hantu yang menunggu untuk membunuhmu;mencekik lehermu saat tidur. Dan bodohnya Baekhyun dia mempercayainya hingga sekarang.
.
.
"Kau terlihat pucat apa kau sakit? Apa terjadi sesuatu semalam? Aku mencarimu kemana-mana aku pikir kau-"
"Aku baik-baik saja kyung, tidak perlu khawatir"
Tadi pagi sekali, Baekhyun dikejutkan sebuah ketukan keras di depan pintu kamarnya. Dia pikir itu Chanyeol makanya Baekhyun acuh, tetapi setelah namanya disebut berkali-kali dengan panggilan berbeda dia bergegas membuka pintu kamarnya.
"Tunggu aku akan melakukan sesuatu pada bibirmu" Baekhyun menatap horor pada tangan Kyungsoo yang sedang mengambil sesuatu di dalam tasnya. Oh tidak, dia tahu apa itu dan dirinya tidak akan sudi memakainya kembali.
"Aku tidak mau memakai lip balms itu lagi" seru Baekhyun menolak.
"Wae? Ini bagus untuk kelembaban bibirmu yang pucat itu kau akan merasa lebih percaya diri dan segar bla bla bla~ "
Aku membenci benda terkutuk itu. Sangat. Kau tidak tau bagaimana efek yang ditimbulkan dari pelembab bibir sialan itu. Mengerikan. Pria itu mengatakan bahwa bibirku rasa anggur dan membuatku harus bermimpi buruk untuk pertama kalinya semenjak aku datang kesini. Baekhyun menanggapi semua itu didalam hatinya ingin menjelaskan perkara dibalik penolakannya tetapi dia cukup malu.
Kyungsoo tetap tidak berhenti mencecokinya dengan segala benda berhala –lip balm, BB cream, bedak, atau apapun itu pengikutnya- Baekhyun masih tetap akan menolaknya secara mentah-mentah.
"Ayolah Baek aku menawarkan ini semua demi kebaikanmu-"
"Lihat semua benda yang kau cecer di atas mejaku, ini semua tidak untuk laki-laki tapi perempuan-" Baekhyun melanjutkan "dan kau menyuruhku memakainya yang jelas-jelas adalah seorang pria sejati. Aku merasa tersinggung"
"Bu-bukan itu maksudku.. i-itu a-aku hanya mencoba untuk.. hiks.. maafkan aku Baek, aku tidak tau ini akan membuatmu marah, hiks.. maafkan aku"
Mulut kecil itu menganga atas keterkejutan didepannya. Kyungsoo terisak pelan menahan tangisnya seolah habis dimarahi pemilik toko karena tertangkap sebagai pencuri. Sungguh Baekhyun tidak ingin di cap sebagai teman yang tega menghakimi orang tanpa kesalahan apapun. Untung kelas masih sepi meski di luar sana sudah dipastikan banyak siswa mulai memasuki wilayah sekolah.
"Kyungsoo-ah jangan menangis, aku tadi hanya bercanda. Baiklah akan aku turuti apa maumu tapi berhentilah menangis sebelum orang lain menuduhku berlaku jahat padamu" lalu air mata itu berhenti seketika tergantikan dengan senyuman heart-shapenya yang menawan.
"Benarkah? Kalau begitu ikut aku sekarang juga"
"Kemana?" dan Baekhyun terlihat pasrah tangannya di tarik keluar kelas oleh sahabatnya itu. Semoga saja tidak ada hal buruk lagi setelah semalam.
.
…(0..0)…
.
"Maafkan aku. Apa kau masih marah?"
Lelaki tinggi itu masih tetap diam sambil berjalan santai tanpa menghiraukan lelaki lain yang kesusahan menyusul langkah kaki panjangnya.
"Park Chanyeol!" teriak Ren mencoba memanggil empunya agar menoleh.
Orang yang dipanggil namanya itupun berhenti didepan;memunggunginya. Ren tersenyum dan mulai melangkah mendekati Chanyeol. Tubuhnya sudah berdiri tepat disamping temannya itu tetapi laki-laki itu malah tiba-tiba melanjutkan lagi jalannya sambil tertawa mengejek karena berhasil mengerjainya.
"Yakk! Aishh.. menyebalkan" setelahnya Ren berlari mengejar Chanyeol karena sudah tertinggal jauh.
Mereka seperti itu karena tadi pagi Ren menertawakan Chanyeol akan nasibnya yang tertimpa musibah secara beruntun dalam kurun waktu tidak lebih dari 24 jam. Dimulai dari adegan penyeretan paksa yang dilakukan Bodyguard Ibunya membuat dia harus melompati pagar karena tidak ada seorangpun menjawab panggilannya, hingga meminta kunci cadangan pada penjaga asrama dengan bantuan Ren tadi pagi.
Chanyeol mengatakan semua kecuali insiden bersembunyi bersama Baekhyun dengan bibir saling melumat lebih tepatnya hanya bibirnya. Tidak mungkin kan dia harus menunjukkan sesuatu yang sedikit menjurus tentang kaum gay pada Ren. Terdengar sangat gila.
"Lalu semalam kau tidur dimana?"
"Kamar Jongin dan Sehun"
"Omo! Kalian sudah baikan?"
"Memang kita pernah bertengkar?" Chanyeol menghentikan langkahnya kemudian menolehkan wajahnya ke samping ingin melihat tanggapan dari Ren. "Sering sekali" jawaban yang menyerupai cibiran itu mendapat gelengan dan kekehan dari Chanyeol.
"Sudah sana pergi ke kelasmu" Chanyeol menunjuk pintu masuk ruang kelas itu menggunakan dagunya.
"Astaga aku tidak sadar kalau sudah sampai di depan kelas"
"Mangkanya jangan terus menggodaku"
"Ceritamu sangat sayang bila tidak ku tertawakan haha" Ren tertawa merong segera memasuki kelasnya. "Dasar" setelahnya Chanyeol melanjutkan jalannya kembali menuju ruang kelasnya sendiri. Saat akan berbelok ke sebelah kanan Chanyeol ditabrak pundak seseorang tanpa sengaja.
"Ups sorry" pria yang barusan menyenggol tubuh Chanyeol merentangkan lebar kedua telapak tangannya di depan dada tanda tak sengaja melakukannya.
"Tak apa" balas Chanyeol. Laki-laki itu memamerkan senyumnya yang menawan dihadapan Chanyeol yang menyerngit aneh.
"Kau Park Chanyeol bukan?"
Sebelum menjawab pertanyaan itu Chanyeol menilisik terlebih dahulu penampilan laki-laki tersebut yang terlihat normal seperti siswa sekolah kebanyakan. Pakaiannya rapi, rambut hitam dengan poni tipis menyebar di sekitar dahinya. Tak ada yang perlu di curigai sebenarnya tetapi sifat Chanyeol yang tidak suka orang lain sok akrab dengannya membuat dia harus mengangguk malas.
"Aku Hwang Minhyun ketua klub futsal dari kelas 11-3" uluran tangan itu tidak mendapatkan balasan semestinya melainkan tatapan intens dari lelaki tinggi itu. Merasa malau tangannya hanya menggenggam udara kosong, Minhyun menariknya kembali ke sisi tubuhnya.
"Wahh kau ternyata keren sekali jika dilihat dari dekat. Pantas saja mereka banyak memujamu. Kau sangat populer di antara semua lelaki disini" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya seolah menyuruh sang pembicara untuk menjelaskan maksud sebenarnya tanpa bertele-tele.
"Baiklah begini, aku mendengar kau menguasai banyak hal termasuk bermain bola jadi secara pribadi aku mengajakmu untuk-"
"Aku tidak ingin"
"masuk- Nde?"
"Klub apapun yang kau tawarkan padaku itu, aku sama sekali tidak tertarik" setelah mengucapkan itu Chanyeol melesat pergi begitu saja, sedangkan Minhyun hanya mengawasi dari belakang setiap langkah lebarnya. "Cukup menarik" senyuman miring itu menghiasi wajah tampan Minhyun yang akan memasuki ruang kelasnya tetapi terhenti ketika seseorang menghadangnya di pintu masuk.
"Aku memperingatimu untuk jangan mendekatinya Hwang Minhyun" orang itu berkata seperti memiliki wewenang terhadap apa yang di perintahkannya.
Mereka berdua saling bertatap dalam satu sama lain.
.
…(0..0)…
.
"Ingat kau tidak boleh menghapusnya karena kau sudah berjanji jadi simpan riasan itu dengan baik sampai nanti kita bertemu lagi di istirahat pertama karena akan ada seseorang yang aku kenalkan padamu dia baru datang hari ini araseo!"
Baekhyun menghela napas untuk kesekian kalinya menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Bolehkah dia menangis sekarang mengetahui mata polosnya semakin terlihat tajam akibat eyeliner yang membubuhi garis disekitar matanya. Tidak hanya itu, kini setiap dia berbicara dan melipat bibirnya ke dalam maka aroma stroberi menyebar di indera pengecapnya. Belum lagi rona merah samar di daerah daging kenyalnya, memalukan sekali jika itu semakin membuat orang gemas ingin mencubit atau mengecupnya.
Kyungsoo sialan dan akan menjadi orang sialan sepanjang masa kalau tidak ada Chanyeol makhluk paling Brengsek yang mengawali semua kesialan di hidupnya.
"Apa yang harus kulakukan?"
Hari keduanya bersekolah menjadi hancur jika ia tidak memasuki jam pertama lagi. Kemarin dia hanya mencoba menghilangkan kesal dengan membolos bersama Sehun dan Kai. Namun sekarang untuk kesal saja tidak bisa di jadikan alasan sebagai murid baru yang hobi melanggar aturan. Baekhyun tidak senakal itu.
"Tidak aku harus tetap masuk ke kelas" Baekhyun menutupi wajahnya yang menunduk dengan buku, menjinjing tas selempangnya dan menyeret kakinya keluar dari toilet. Si mata bulat itu meninggalkannya sendiri setelah apa yang dilakukan pada wajahnya mengatakan bahwa dia lupa belum mengerjakan tugas dari gurunya. Hah pembodohan kecil.
Baekhyun terus berjalan tanpa melihat ke depan ke arah pintu keluar tetapi matanya selalu awas menatap lantai takut bila menabrak sese-
Brug!-orang. Sial.
"Hei bung perhatikan jalanmu, kau baru saja menabrak Bos kami" seorang lelaki meneriaki Baekhyun yang perlahan mundur masih menutupi wajahnya dengan buku.
"Jangan hanya diam. Cepat bersujud dan bilang maaf pada Bos kami" pemuda lainnya memerintahnya secara kasar dengan mendorongnya agar bergerak maju.
"Angkat wajahmu saat orang lain berbicara sialan" kali ini si pemimpin yang buka suara.
Baekhyun tidak gemetar ataupun takut hanya saja dia merasa ngeri bila terjadi pengkroyokan pada tubuhnya yang sama sekali belum memakan apapun sejak semalam karena Kyungsoo memaksanya untuk berangkat lebih pagi. Dasar burung hantu itu!
"Kau tuli ya, ku bilang angkat wajahmu" pemimpin itu menarik kerah baju Baekhyun dan langsung mendapati wajah menantang melalui tatapan tajam itu. Seluruh mata orang di dalam sana membeku beberapa saat. Tidak ada yang lebih mengejutkan dari semua siswa yang rela memohon di bawah kakinya kecuali mata cantik ini.
"Dia seorang uke Bos" takjub salah satu anak buahnya.
"Dan dia sama cantiknya dengan Luhan"
Tiga orang laki-laki disana terlihat terpesona dengan penampilan Baekhyun yang manis dan cantik secara bersamaan. Ternyata riasan ala Kyungsoo mampu menyihir para serigala lapar di sekolah ini, terbukti si pemimpin itu malah menyuruh kedua temannya untuk berjaga di pintu masuk toilet.
"Lepaskan.. apa kau akan membullyku?" Baekhyun bertanya setelah berhasil keluar dari cengkraman tangan pemimpin itu di pundaknya.
"Apakah sikapku terlihat sedang mengerjaimu?"
"Biarkan aku pergi" Baekhyun memohon dengan mata mengerjap imut membiarkan orang di depannya mampu terbius untuk menuruti kemauannya. Namun bukannya mendapatkan hasil yang baik pria di depannya malah semakin menyudutkan Baekhyun, menggiringnya masuk pada salah satu bilik yang tidak terpakai.
"Apa yang kau lakukan? Berhenti!"
"Kau barusan menggodaku lalu sekarang berusaha mencegahku, uke yang sangat menarik. Sayangnya aku tidak akan melepaskanmu manis"
Baekhyun menatap horor mendengar panggilan itu. Dari sekian ratus orang yang pernah memanggilnya seperti itu hanya pria ini yang membuatnya terasa menjijikkan.
"Kau sudah gila ya, aku seorang laki-laki"
"Laki-laki yang cantik" koreksi laki-laki itu membenarkan ucapan Baekhyun yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
"Kau mau uang? Aku akan memberikannya" ucap Baekhyun mengajukan negoisasi yang mungkin mampu merubah keinganan orang itu sehingga ia bisa keluar dari keadaan menyebalkan ini dengan cepat.
"Bagaimana kalau aku hanya menginginkanmu?"
"Brengsek!"
Laki-laki itu malah tertawa ketika mendengar umpatan Baekhyun yang terdengar lucu.
"Aku baru pertama melihatmu, apa kau siswa baru disini?" kata lelaki itu sambil memegang dagu Baekhyun tetapi di tepis kasar oleh empunya.
"Kau manis tetapi sangat kasar untuk ukuran seorang uke, sayang sekali" Baekhyun berdecih mendengar sebutan itu. Jiwa jantan di dalam dirinya tidak terima ketika seseorang merendahkan status kelelakiannya.
"Woo Jiho-ssi, aku tidak akan segan memukulmu jika kau membiarkanku pergi" ucap Baekhyun setelah menatap name-tag di baju seragam pria di hadapannya. Baekhyun mengepalkan genggaman tangannya kuat, memperlihatkan bahwa dia sangat kesal dan tidak main-main dengan perkataannya barusan.
"Cukup panggil aku Zico bila perlu kukenalkan" Baekhyun menoleh malas setelah berhasil menepis sekali lagi tangan nakal pemuda itu yang akan menyentuh wajahnya.
"Ha..ha..ha.. Kau ingin memukulku dengan tangan sekurus itu, aku tidak begitu yakin" lelaki itu mengatakan keraguannya sambil tertawa mengejek lalu menyeringai setelahnya.
"Kau.."
Tap.. tap.. tap..
Lalu terdengar suara langkah sepatu seseorang memasuki toilet. Dua pasang mata di dalam sana menoleh bersamaan karena merasa penasaran dengan kedatangan orang lain. Mereka menatap waspada pada bayangan yang mulai terlihat, terlebih untuk ketua geng itu sendiri.
Ketika sosok itu mulai terlihat barulah Baekhyun merasa tenang sekaligus cemberut. Di depan sana, beberapa langkah dari posisinya yang terhimpit pada ujung pintu bilik oleh laki-laki yang sekarang malah mengembangkan senyumannya membuat kerutan di sekitar dahinya terlihat.
Lelaki yang baru saja memasuki toilet tersebut berjalan santai menuju pembuangan air seni. Berdiri tegak menghadapkan kepala kearah lain seolah tidak melihat apapun di dalam sana. Tangannya mulai menurunkan resleting celana lalu membukanya dengan cepat. Terdengar kucuran air mengalir di bawah sana menghantarkan bunyi menjijikkan pada telinga si mungil.
Dua orang yang semula hanya menjadi penonton saja kini salah satu mulai mengeluarkan suaranya. "Tak kusangka pangeran sekolah telah memergokiku ketiga kalinya, mungkinkah kita berjodoh Chanyeol-ssi?" nada dari pemimpin geng tersebut menjadi sangat memuakkan di sekitar area pendengaran telinga lebar Park Chanyeol, lelaki yang sudah dianggap musuh oleh Baekhyun. Bagus.
"Ck.." decakan sebal keluar dari kedua bibir tebal itu. Suara keran air dan resleting yang kembali tertutup mengakhiri pelepasan yang sempat tertunda di awal dia memasuki pintu masuk toilet tadi. Kawanan preman sekolahnya pagi-pagi sudah berulah rupanya. Chanyeol membalik badannya menghadap mereka. Menatap datar kearah pemuda kecil di balik punggung si ketua geng tersebut lalu beralih menatap tajam pada yang lebih tinggi.
"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan, jadi urusi saja dirimu"
"Baiklah kalau begitu kau bisa pergi karena aku sedang ada urusan dengan lelaki manis ini" Zico merangkul pundak Baekhyun paksa menyeretnya kesamping tubuhnya sedangkan sebelah tangannya yang lain digunakan untuk memegang dagu Baekhyun lalu mendekatkan kepalanya sejajar dengan si kecil seakan menunjukkan pada Chanyeol bahwa mereka berdua adalah pasangan romantis.
Baekhyun ingin menggeleng protes tetapi tertahan pada cengkraman tangan pemuda itu di rahangnya. Mata sipitnya seperti meminta pertolongan pada lelaki di depannya tetapi mulutnya tetap bungkam karena merasa malu sekedar mencari kata permohonan.
"Sayangnya aku tidak mau"
Zico tertawa keras mendengar penuturan Chanyeol yang mencoba melawan perintahnya. Untuk kasus sebelumnya mungkin pangeran sekolah itu terlihat tidak peduli dan melenggang pergi tanpa mengatakan apapun jika bukan haknya. Tetapi seperti ada hal yang menahan lelaki berhati dingin itu agar tetap tinggal. Semuanya menjadi semakin menarik. Zico menyeringai.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan"
"Serahkan dia. Kau mengambil milikku"
"Milikku?" ucap Zico mengulangi ucapan Chanyeol dengan nada mengejek yang kentara. Ekspresinya dibuat tidak percaya semenyebalkan mungkin. Baekhyun sendiri menatap kaget mendapati pernyataan tersebut seolah dia adalah sebuah barang. Suaranya ingin meraung keluar memaki kedua lelaki di hadapannya yang saling menatap dalam tetapi harus gagal ketika sebuah tangan menariknya keluar dari posisi tersudutnya sejak tadi dan membawanya kebelakang punggung lelaki bertelinga lebar itu.
"Tentu milikku, jadi lebih baik kau pergi sebelum sesuatu yang keras melukai wajahmu"
Ancaman seorang pangeran sekolah tidak pernah menjadi bualan semata jika sudah menyangkut kata kepemilikkan. Sudah pernah terjadi dimana seluruh anak buahnya bahkan dirinya hampir tergeletak tak sadarkan diri ketika mencoba mengganggu seorang murid yang membawakan tas Chanyeol saat menuju parkiran karena pemiliknya yang malas mengambilnya sendiri. Ck.
Itulah mengapa orang se-acuh dan sedingin Chanyeol banyak di puja sana-sini meskipun pengakuannya sebagai seorang straight sekalipun. Dia berbahaya;nakal;si kejam yang baik hati dan berwajah tampan –menyentuhnya adalah sesuatu yang fatal jika kau masih sayang nyawamu. Tetapi sepertinya itu tidak berlaku pada Byun Baekhyun lelaki kecil yang saat ini bersembunyi di balik punggung lebar itu. Karena sebagai musuh dia tidak berminat sekalipun untuk mendekati sang pangeran sekolah yang dieluh-eluhkan masyarakat gay di luar sana. Hell.
Tanpa perlawanan Zico keluar dari toilet sambil menahan amarahnya. Bibirnya sempat berbisik pelan saat melewati Baekhyun, "Aku akan mendatangimu lain kali manis" lalu melenggang pergi secepatnya. Baekhyun tidak terlalu penasaran apa hubungan keduanya sebelumnya sehingga ketua geng itu cepat menyerah. Tetapi dia sedikit lega setidaknya berurusan dengan Chanyeol lebih baik dibandingkan lelaki yang memiliki banyak tato aneh di tubuhnya.
"Lelaki Brengsek itu kurang ajar sekali, apa dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Aku akan menghajarnya" Baekhyun akan mengejar Zico yang telah meloloskan diri begitu saja dengan mudah namun tangannya tertarik kembali di tempat. Tubuhnya lagi-lagi kaku seperti sebelumnya.
"Mau pergi kemana, kita masih punya urusan" Sebenarnya kelakuannya tadi hanya sebuah alasan agar dia bisa keluar dari situasi terjebak berdua bersama Chanyeol untuk ketiga kalinya. Ughh Baekhyun sangat tidak beruntung.
"Urusan apa. tidak ada yang penting di antara kita berdua" suaranya terdengar menantang dan tak tahu terimakasih tetapi berbanding terbalik dengan matanya yang terus melihat kearah bawah menolak untuk menatap lelaki yang masih memegang tangan kirinya erat.
"Ikut aku"
….
..
"Yak! Kenapa kau membawaku kembali ke asrama? Kita masih harus sekolah dan aku tidak mau melewatkan jam pertamaku sekali lagi"
Chanyeol terlihat tidak peduli dia terus menyeret Baekhyun hingga memasuki pintu kamar mereka. Lalu mengunci pintu dan membawa si kecil ke kamar mandi.
"Ke-kenapa kau membawaku kesini. Ya Park Chanyeol kau tidak akan macam-macam padakukan. Kau itu straight, lebih suka melon daripada pisang kan?" Baekhyun menanyakan semua hal yang ada di diotaknya saat ini ketika lelaki tinggi itu semakin melangkahkan kakinya maju mendesaknya untuk memasuki kaca buram di dalam kamar mandi mereka.
Jika di perhatikan sekali lagi ada sebuah kekehan kecil keluar dari mulut yang lebih tinggi tetapi dasar Baekhyun tidak bisa berhenti bersuara untuk menyadarkan kelakuan Chanyeol hingga suara rendah itu harus teredam.
Kini keduanya berada pada tempat sempit tersebut dengan tubuh saling berhadapan. Baekhyun tetap tidak mau menatap wajah Chanyeol sejak tadi karena dia masih punya malu untuk menunjukkan wajahnya yang penuh polesan make-up seperti perempuan. Jika memang benar, maka dipastikan pria tiang itu akan mengejeknya habis-habisan.
"Kenapa menunduk? Sudah menyadari kesalahanmu"
Sial.
Baekhyun hanya diam tidak bersuara maupun bergerak. Ruangan sempit ini sangat membatasi semua pergerakannya. Bau harum bekas mandi yang khas tersebar memenuhi lubang hidungnya membuat perasaanya sedikit tenang.
"Jangan hanya diam. Kau kemanakan sikat gigiku disini pendek!" tunjuk Chanyeol pada wadah tabung menggantung tempat menyimpan peralatan mandi di sudut ruangan tersebut.
Baru saja dia merasa waras atas segala kewaspadaannya dimulai dari si ketua geng dan anteknya lalu sekarang Chanyeol menambahnya menjadi lebih menjengkelkan lagi.
"Mana kutahu itu sikat gigimu sendiri kenapa bertanya padaku" bentak Baekhyun, akhirnya si kecil bernyali membawa mukanya mendongak menatap kesal tepat di depan wajah Chanyeol.
"Lagipula kau yang duluan membuang sikat gigiku, jadi kalau punyamu hilang berarti itu balasan untukmu" jelas Baekhyun sambil tersenyum menang mendengar perkataannya barusan. Walaupun itu bukan perbuatannya, dia cukup berterimakasih pada Tuhan yang mau membalaskan dendamnya. Si kecil tampaknya sangat puas.
"Huh lucu sekali, itu akibat kesalahanmu sendiri berani menyamai sikat gigiku" balas Chanyeol sengit sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Apa kau bilang? menyamai? Heol.. Kau pikir di dunia ini semua milikmu. Banyak pabrik di Korea yang memproduksi merek sikat gigi kebanggaanmu itu. Ribuan orang anijutaan orang diluar sana banyak yang menggunakannya juga. Kenapa tidak kau buang milik mereka semua dan tuntut sekalian mereka di pengadilan! Daripada menuduhku yang menyamai selera tinggimu lebih baik kau– hmmpphh"
Baekhyun melebarkan kedua matanya. Seluruh syarafnya tiba-tiba menegang sempurna. Baekhyun menutup rapat kelopak matanya secara spontan seolah dia mencoba mencari tahu situasi apa yang sedang dia alami saat ini. Chanyeol menciumnya untuk kedua kalinya. Ciuman yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Lebih menuntut tetapi juga lembut. Kedua tangan yang awalnya memegang lengannya kini mulai menekan kepala Baekhyun agar ciuman mereka semakin dalam.
Jauh di dalam batinnya, Baekhyun ingin menolak segala ketidakwajaran ini –menyadarkan Chanyeol bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan yang berdosa. Namun Baekhyun juga tidak berbuat banyak untuk menghentikannya. Dia hanya diam tak berkutik layaknya anak kucing yang senang dibelai oleh majikannya. Terasa lembut dan menyenangkan.
Bibir tebal itu terus menyesapi bibir lawan mainnya yang memiliki tekstur lebih tipis dan kenyal dari miliknya. Chanyeol menekan bibir itu lebih dalam, melumatnya dari bagian atas menuju bawah bergantian. Si kecil bersikukuh untuk tidak membalasnya;mempertahankan kekhawatiran pada nafsu dan birahi yang bisa saja bangkit akibat kepiawaian seorang dalam berciuman. Dia tidak ingin terbuai begitu saja.
Mereka melewati banyak waktu dan terhitung pada detik ke 61, Chanyeol melepas tautan itu secara pelan dengan cara mengecupnya lembut. Menyisakan jejak basah pada kedua belah bibir tipis itu sehingga tampak lebih mengkilat dari sebelumnya. Baekhyun membuka matanya ketika menyadari satu hembusan nafas mengenai permukaan wajahnya.
Mata beningnya memandang tepat kearah pupil hitam yang sempat menghipnotisnya sesaat lalu tersadar ketika melihat jarak diantara mereka hanya sebesar jari telunjuknya. Baekhyun menghindari tatapan itu –bergerak mundur tetapi sesuatu yang keras menabrak punggungnya. Dinding sialan! Umpat Baekhyun dalam hatinya.
"Mencoba kabur lagi?" suara berat itu menyapa pendengaran Baekhyun membuat bulu di sekitar lehernya meremang tak tahu malu.
"A-aniya!" balas Baekhyun sedikit gagap. Chanyeol mengangkat sebelah alisnya menanggapi suara Baekhyun yang aneh.
"Kenapa menatapku seperti itu. Dan.. dan apa yang baru saja kau lakukan padaku. Neo miccheoseo! Park Chanyeol kau harus ingat kalau kita adalah –Yakk jangan mendekat" sebuah teriakan perintah dari Baekhyun di akhir katanya terbilang terlambat bagi si pembangkang yang saat ini sudah meletakkan sebelah tangan kirinya melingkari pinggang si mungil.
"Apa yang terjadi pada wajahmu, kenapa begitu cantik hari ini. Kau ingin menggodaku" ucap Chanyeol sambil mengelus pipi tembam itu dengan sebelah tangannya yang lain –dimana terdapat semburat warna merah semakin mencolok.
Dari pertama matanya memperhatikan pemandangan yang entah sejak kapan terasa indah –Chanyeol mengarang sesuatu untuk menjadikan itu miliknya. Memberikan garis paten pembatas antara penguasa dan pihak yang tak berwenang. Agar ia bisa mengurung lalu menikmati sendiri temuannya. Begitu posesif tetapi memang itulah peraturannya.
Jiwa naifnya mengatakan Baekhyun adalah seorang dewi yang menyamar menjadi laki-laki mungil berisik yang menggemaskan. Mata lugunya melonjak kagum mengoreksi ketidak adanya cacat melingkupi wajah si kecil. Bibir bersyaratnya menyetujui jika rasa manis yang baru di kecapnya bukan karna pengaruh benda lembab yang mengolesi diatasnya tetapi itu murni dan Chanyeol sangat menyukainya.
Cup~ sebuah kecupan mendarat pada bibir basah itu sekali lagi.
"Rasa stroberi, emh –aku suka" ucap Chanyeol sedikit menggoda.
Baekhyun yang mengerti maksud perkataan Chanyeol segera menutup bibirnya cepat dengan kedua tangannya. Wajahnya memanas seketika.
"Hmm.. Baumu juga wangi, apa kau memang berniat menggodaku" Chanyeol mendekatkan kepalanya –mengendusi daerah sekitar perpotongan leher Baekhyun. Mulanya hanya sementara, tetapi semakin dalam ia menghirup aroma manis itu maka dipastikan alkohol bukan lagi sesuatu yang candu untuknya.
Hidungnya menjelajah turun menuju bagian dalam yang tertutupi kerah seragam itu. Dengan tangan kiri yang masih memegang erat pinggang ramping Baekhyun, tangan lainnya beraksi melonggarkan sedikit kerah baju itu –mengintip jauh kedalam bagaimana aroma itu semakin mempengaruhi akal sehat Chanyeol. Bibirnya gatal ingin mencicipi rasa dari kulit lembut itu, menjilatnya lalu menggigit kecil menimbulkan jerit merdu dari yang lebih pendek.
"Argkhh.. chanyeooolhh!" Baekhyun berteriak kesakitan ketika gigi-gigi tumpul yang berjejer rapi itu menyentuh kulit sensitifnya –menghisap dalam dan menyebarkan ngilu di beberapa bagian tubuhnya yang tertular. Tangannya berusaha mencegah keganasan Chanyeol yang semakin menenggelamkan gesekan giginya mengikutsertakan taring tajam itu mengoyak lebih.
"Hiks s..sakit" ucap Baekhyun merintih menahan bahu lebar itu dengan tangan mencengkram baju seragamnya erat sekali. Air matanya pecah mengingat betapa sakitnya gigitan Chanyeol pada lehernya seolah nadinya bisa putus jika pada saat itu juga lelaki berambut hitam sedikit kecoklatan itu menyudahi acara 'mari mencicipi Baekhyun sepuasnya'.
Mata mereka saling bertemu, satu dengan mata beningnya yang penuh genangan air pada tepinya dan mata lainnya penuh kekosongan. Pelukan itu terlepas tiba-tiba seakan memberikan kesempatan ruang gerak bagi si kecil untuk pergi dari jangkauan Chanyeol secepatnya.
"SHIT..!"
Setelah bunyi debaman pintu luar tertutup, barulah Chanyeol mengumpat keras menyadari sesuatu yang keras bangkit di bawah tubuhnya.
.
.
.
TBC
Sudah biasa kan denger penyakit malas ituloh sejenis sindrom pengen ngaret karna gk nemu ide wkwkwk mian (;;/\;;) yaaa begitulah keadaan aing sekarang. Karna ini murni kesalahan aing makanya diusahakan chapter selanjutnya akan di update secepat yg author bisa. Hahaha
Thanks yang udh follow,favorit, bahkan review aku sayang kaliang guys seperti aku sayang pada Chanbaek mumumu :*:*:*
Salam chanbaek is realᵔᴥᵔ
