M
.
.
.
.
Bumi di ciptakan untuk sebuah kehidupan dimana manusia, hewan dan tumbuhan mengisi kekosongan didalamnya. Mereka terus tumbuh dan berkembang sepanjang masa yang telah ditentukan oleh Sang Kuasa. Seiring berjalannya waktu kemajuan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari cara bekerja hingga pola berpikir mereka.
Kejadian yang tak terduga dan mustahil-pun bisa berlaku pada siapa saja. Mencintai saudara sendiri bahkan sampai membunuh orang yang dicintai adalah salah satu hal manusiawi yang terlalu menuai banyak rintangan dan beban berat untuk dirasakan. Itu terjadi karena manusia memiliki tiga cara berpikir.
Pertama, orang yang secara dangkal menilai hanya karena matanya mengatakan itu salah;tidak benar dan harus segera diluruskan maka sesuatu baginya akan menjadi sulit untuk selanjutnya. Hanya ada kebencian di dalamnya.
Kedua, orang yang secara mendalam mengetahui bahwa apa yang dilihatnya memiliki sisi baik dan buruk sehingga dia bisa menilainya secara adil tanpa memberatkan salah satunya. Keseimbangan adalah mottonya.
Ketiga, orang yang tidak hanya memahami fakta tetapi yang berkaitan juga. Dia memikirkan bagaimana cara mata bisa memperjelaskan sesuatu agar hati dan pikiran orang bisa selaras. Mereka adalah orang yang terbuka terhadap perbedaan. Kebahagiaan timbul dari keadaan apapun dan dimanapun.
Tuhan menganugrahkan Cinta bukan untuk dipelajari; dirasakan; di puja sedemikian rupa tetapi untuk dihargai akan ketulusannya. Menjaganya dari keburukan sifat dan perilaku manusia kejam lainnya.
Park Chanyeol adalah salah satu orang yang memiliki cara berpikir singkat dalam menyingkapi persoalan sederhana tentang gay. Dia hanya bisa melihat kesalahan didepan matanya, ketika cinta menghampiri kedua pasangan sejenis pikirannya menolak dan menghujat pada hubungan haram itu. –Cinta mereka tidak berhak mendapat pengakuan apalagi pengampunan.
Chanyeol hanya tidak sadar bahwa hatinya mulai mengasihi pikirannya yang dangkal.
.
.
.
.
.
"The Halved"
Main Cast :
[Park Chanyeol x Byun Baekhyun]
Rate : M
Yaoi, Boys Love, Boy x Boy
OOC, Typo(s), Not According to EYD, etc.
.
^^Happy Reading^^
.
.
Chapter 5
Hidup sebagai putra tunggal dari keluarga konglomerat memiliki alur sendiri di setiap jalan ceritanya. Kekayaannya melimpah;tersebar dimana-mana, hanya menyebutkan namanya saja orang-orang akan segera menundukkan kepala memberikan rasa hormat. Tetapi orang dewasa kaya itu lupa bahwa ada begitu banyak hal tidak dapat ia hitung di dunia ini. Dan salah satunya adalah cinta…
Chanyeol merupakan orang yang terlahir diantara kekuasaan dan harta tersebut. Ayahnya yang penuh kemewahan dan Ibunya yang selalu mengatur kebahagiannya. Tidak ada cinta kecuali ia harus menggalinya sendiri tanpa kepercayaan.
.
.
.
~Present~
.
.
.
"Tentu bi nanti aku akan melihatnya…. Tidak masalah, jaga kesehatan bibi…. Percayakan saja padaku… Ndee.." lalu panggilan telepon itu berakhir.
"Siapa? Ibunya Chanyeol?" Sehun mengangguk lesu menjawab pertanyaan Jongin, serasa beban berat bertambah di kedua pundaknya tiba-tiba. "Apa dia membuat ulah lagi makanya kau disuruh untuk melihat keadaannya?" kali ini hanya hendikan bahu yang terangkat.
Kedua manusia separuh gelap terang ini baru saja sampai pada ruangan kelas tepat waktu untuk pertama kalinya, tetapi permohonan kecil dari seorang wanita yang telah melahirkan sahabat menyebalkan semacam Chanyeol mengharuskan mereka kembali mengisi daftar keterlambatan lagi pada jam pertama.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Keadaannya memburuk karena tubuhnya bereaksi terlalu cepat diluar kemauannya. Chanyeol percaya ini disebut dengan desakan gairah yang meluap. Kebutuhannya terbengkalai sedangkan jalan untuk menyelesaikannya dibatasi. Matanya melirik sekali lagi gundukan besar di balik celananya. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasa sefrustasi ini. Masa mudanya menjadi suram begitu Ibunya mencampuri urusan duniawinya.
Chanyeol meremas seluruh rambutnya menjadi berantakan di atas toilet duduk. Keraguannya membesar bersamaan juniornya yang menegang keras. Tidak! Bahkan menyentuh kelaminnya sendiri hanya dia lakukan disaat mandi bukan saat genting seperti ini. Kehidupan seksualnya selalu terpuaskan dari tangan orang lain. Lalu bagaimana dia harus mencari mangsa untuk mengatasi kesalahan ini.
"Aku bahkan tidak punya fantasi seorang gadis manapun" erang Chanyeol begitu putus asa. Memang benar selama ini Chanyeol selalu membayar para wanita penghibur itu ketika hormon kelelakiannya meletup. Dia tidak pernah peduli bagaimana wajah orang itu atau latar belakang apa yang dimilikinya. Selama juniornya terpuaskan maka terpujilah hasil kerjanya dengan bayaran mahal.
Walaupun sering bergonta-ganti wanita Chanyeol tidak sembarangan memasukkan penisnya begitu saja jika mereka tidak ahli dalam memberi kepuasan. Dia hanya tidak mudah terangsang, tetapi mengetahui kejantanannya tiba-tiba menegang membuat Chanyeol harus memikirkan alasan lain selain karena birahi tak terkendalinya.
"Majalah porno Jongin. Benar tapi… ah sialan bergerak saja membuatku kesakitan" umpatan itu keluar ketika ia mencoba berdiri dari closet. Celana sekolahnya yang ketat semakin membuat juniornya terhimpit sehingga benda keras yang tidak segera dibebaskan itu akan membuatnya semakin tersiksa. Maka dengan terpaksa Chanyeol memutuskan membuka resleting celananya dan menggantungkan hingga batas pahanya.
Benda tumpul itu mengembang seketika. Menampilkan keperkasaanya yang sukses membuat wanita manapun pasti menjerit untuk segera dimasuki. Tanpa malu-malu juniornya menegak tinggi;mengacung keras;panas dan siap. Chanyeol mulai menggerakkan kedua telapak tangannya melingkupi batang besar itu erat. Matanya terpejam mencoba membayangkan seseorang yang bisa ia jadikan fantasi liarnya saat ini, namun semakin mencari-cari selalu kata imagine not found yang ia temukan.
Buntu.
Pikirannya berlari mencari akal lain, menyuruh ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu dimana orang terakhir yang dilihatnya sangat tepat bisa Chanyeol jadikan sebagai objek kenikmatannya. Ya. Laki-laki pendek bernama Byun Baekhyun dengan kulit putih bersihnya terpampang jelas di depan matanya sekarang ini. Jari-jari tangannya meremas kuat batang itu kala Baekhyun menampilkan senyuman seindah langit biru tanpa awan dengan kicauan burung-burung berterbangan bebas.
Mata sipit itu mengedip perlahan seolah mempertontonkan kelopak matanya yang bercorak black current dengan gradasi merah keunguan pada ujungnya. Sangat cantik dan mempesona. Baekhyun memiringkan wajah memandangnya dengan pandangan sayu nan menggoda.
Chanyeolllh~
Suara serak mendayu itu menyapa gendang telinganya, menggetarkan pusat gairahnya yang sekarang berada di genggaman tangannya mengakibatkan gerakan naik turun dengan acak secara perlahan namun kuat disetiap tekanannya.
Desahan berat lelaki yang berstatus sebagai The ice Prince di sekolahnya menjabarkan betapa erotisnya geraman sexy yang keluar patah-patah dari kedua belah bibir tebal itu. Chanyeol tidak menghentikan kegiatan imaginasinya sampai sesuatu yang lebih dari sekedar jilatan lidah Baekhyun di telinganya dapat memicu lahar panas pada batang lunaknya yang membengkak maksimal.
Uap musim panas terasa ikut campur melebur menjadi satu menempel ke seluruh permukaan kulit tubuh Chanyeol, meninggalkan bekas basah yang tercetak pekat di beberapa bagian bajunya dan rambutnya yang semula kaku ke atas menjadi sedikit turun kebawah karena kelembaban air yang bermunculan di kulit kepalanya akibat aktivitas yang dilakukannya pada daerah kemaluannya.
Tangannya mulai kebas sedari tadi hanya berfokus membelai kejantanannya yang tak kunjung datang. Dia ingin menyelesaikan secepatnya. Mengakhiri keadaan memilukan yang bisa menyerang reputasi dan harga diri setinggi cita-cita orang lain yang ingin mendapatkan hatinya.
Jiwanya sedang terganggu.
Pikirannya kacau.
Bahkan sekarang Chanyeol mulai membayangkan lelaki mungil itu menduduki pahanya dan mulai menggesekkan pantatnya di atas kesejatiannya. Tiba-tiba seisi dunia mengerang seakan ikut terbawa merasakan kenikmatan yang disuguhkan di hadapannya. Mereka sama-sama bergerak liar untuk saling merapatkan desakan itu. Kejantanannya menjerit ngilu karena berusaha menembus celana kain yang masih menutupi bongkahan kenyal di dalam sana, mengejeknya agar lebih bersemangat lagi mengoyaknya supaya tidak menghalangi jalan masuknya.
Hormonnya memberontak kala merasakan pusaran nafsu menggerogoti kewarasannya. Penisnya berhasil merobek kain celana itu seolah memiliki ketajaman layaknya pisau lalu menerobos tepat pada lubang berkerut yang sejak tadi menelan kegelisahan berhasratnya. Sosok diatasnya melenguh keras dengan mencengkeram erat kedua sisi lengannya.
Dia tahu inilah waktunya dimana desahan akan saling bersahutan dan bunyi kedua kulit yang bertabrakan menambah sensasi berlebih pada kocokan di kedua telapak tangannya.
Tubuhnya mengejang memaksa dagunya tertarik keatas sehingga kepalanya mendongak dan punggungnya melengkung hebat. Penglihatannya memutih mengosongkan seluruh tampungan oksigen di dalam paru-parunya setelah teriakan menggema syarat akan kepuasan tanpa dasar itu harus berangsur menghilang.
Sesuatu telah keluar dengan deras melalui sela-sela jarinya yang telah berhenti bermain dibawah sana.
Park Chanyeol bersandar lelah di atas closet dengan penis yang melemas dan sperma yang berceceran di bawah lantai.
Bayangan baekhyun masih tersenyum cantik di atas pangkuannya lengkap dengan pakaian seragam yang tidak tersentuh sama sekali membuatnya menggeleng-gelengkan kepala frustasi.
"Aku pasti sudah gila" gumamnya kemudian memejamkan matanya berharap apa yang dilaluinya barusan hanyalah mimpi semata atau setidaknya kenyataan yang berubah menjadi mimpi.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Baekhyun berhenti sejenak tepat di depan ruangan lab bahasa yang sepi setelah berlari cukup jauh dari asramanya. Tubuhnya letih dan juga berkeringat karena terlalu memaksakan tenaganya yang terkuras hanya untuk melarikan diri dari sosok itu.
"Hah.. Hah.. Hhh"
Nafasnya berantakan membuat sulit bagi Baekhyun sekedar menormalkannya hingga pegangan pada dindingpun harus dilakukannya. Kepalanya tiba-tiba memberat menjadikan penglihatannya kadang buram lalu berputar-putar memusingkan pikirannya. Sebelah tangannya bersikeras mengusir kelelahannya dengan memijat pelipisnya yang juga ikut berdenyut.
Jangan bertanya bagaimana bisa keadaan Baekhyun selemah itu hanya kerena berlari dari asrama lantai 3 menuju sekolah tanpa berhenti meski jaraknya tidak terlalu jauh sekalipun. Tentu saja itu sangat menyita staminanya yang belum terisi sesuap makanan sedikitpun sejak kemarin malam.
"Hey apa yang kau lakukan disana?" terdengar seruan seseorang dibelakang Baekhyun membuat tubuhnya tersentak akibat terkejut.
Lelaki itu mendatangi Baekhyun dengan langkah kaki seperti tidak yakin. Sedangkan yang di tanya merasakan jantungnya kembali berdetak keras membuatnya ingin mati mendadak bila orang yang memergoki Baekhyun adalah salah satu guru killer atau guru kedisiplinan. Dia masih ingin hidup setidaknya untuk sekarang, tidak tau nanti.
Baekhyun membalik badannya perlahan mengeratkan pegangannya pada dinding rata itu meskipun tidak berpengaruh sama sekali pada kerja jantungnya yang semakin menggila.
Diam-diam Baekhyun menghela nafas lega. Tuhan terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku -doanya dalam hati. Matanya kini menatap sosok lelaki yang berdiri di hadapannya dengan dahi mengkerut.
"A-ada apa? Kenapa memandangku seperti itu" tanya Baekhyun penasaran.
"Apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali" lelaki itu menjawab dengan nada penuh kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa"
"Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan disini bukankah sekarang jam pelajaran masih berlangsung" ucap lelaki itu menatap Baekhyun dalam seakan meminta penjelasan.
"I-itu.." Baekhyun balik menatap lelaki didepannya tetapi dia bingung harus menjawab apa jadi– "Lalu kau sendiri apa yang kau lakukan disini?" baekhyun membalik pertanyaan yang sama juga pada lelaki itu.
"Eh?" lelaki itu terperanjat mengenai pertanyaan Baekhyun yang mendadak.
"Apa kau membolos?"
"Tidak!"
"Tidak usah mengelak, aku akan melaporkanmu" Baekhyun bergegas pergi seolah apa yang ia katakan pasti dilakukannya padahal ia hanya berusaha kabur dari lelaki itu yang bisa saja nanti ganti melaporkannya.
"Tunggu.."
Tarikan tangan itu tidaklah sekeras yang terlihat, tetapi badan pendek Baekhyun langsung limbung membentur dada bidang itu.
"Awh.." pekik Baekhyun memegangi kepalanya yang berdenyut kembali.
"Oh maafkan aku, kau tidak apa.. Oh wajahmu semakin memucat"
"K-kau" Baekhyun tidak melanjutkan bicaranya karena detik itu juga tubuhnya langsung terjatuh tetapi berhasil tertangkap oleh lengan lelaki itu.
"Hey bangun, hey!" tepukan pada pipi berisi itu di lakukan berkali-kali namun mata sipit itu tak kunjung terbuka -pingsan.
"BAEKHUNNN!" teriakan seseorang mengejutkan lelaki itu yang masih menahan berat badan Baekhyun. Seorang pemuda pendek berlari kesetanan menuju kearahnya.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa pingsan begini apa yang kau lakukan padanya hey aku bertanya padamu jangan hanya diam saja cepat jawab aku kalau tidak aku akan melaporkanmu karena bertindak kurang ajar pada seniormu aku tidak main-main kau bisa saja mendapat-"
"Tenanglah Kyungsoo hyung, aku tidak bisa menjawab kalau hyung tidak berhenti bicara. Dan satu hal lagi aku tidak melakukan apapun tiba-tiba dia pingsan begitu saja" terang lelaki itu menjelaskan semuanya secara ringkas dan jelas.
Kyungsoo memicingkan mata bulatnya tidak percaya pada lelaki yang ternyata sangat dikenalnya.
"Baiklah aku percaya padamu tapi kalau sampai kau terbukti berbuat aneh-aneh pada sahabatku status wakil ketua osis-mu aku pastikan akan dicabut arra!" seketika lelaki itu menelan ludahnya payah.
"Sekarang bantu aku membawanya ke UKS astaga wajahnya pucat sekali rambutnya juga basah karena keringat padahal setahuku tadi dia terlihat baik-baik saja"
Kyungsoo yang khawatir terus mengoceh berlebihan sepanjang perjalanan menuju ruang kesehatan.
"Jisoo-ya cepatlah apa kau tidak lihat aku keberatan.."
Lelaki yang bernama Jisoo itu hanya bisa menggerutu sebal mendengar kecerewetan Kyungsoo. Aku yang membopong kenapa dia yang ribut.
Huh..
.
.
.
Mata itu perlahan terbuka menampakkan iris mata cokelat gelapnya yang indah. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengedipkan matanya sekali lagi secara berulang-ulang.
Baekhyun berusaha menegakkan tubuhnya;menyandarkan pada dinding di atas tempat tidurnya. Keadaan ruangan itu sangatlah bersih dan putih. Mungkin yang berwarna hanyalah dirinya. Jemarinya mengusap selimut tebal menutupi sebagian bawah tubuhnya berwarna putih yang selembut beludru itu, mengagumi betapa bersihnya permukaannya hingga noda hitam setitik serpihan debupun tak ia jumpai sedikitpun. Bahkan setiap sudut dinding dan celah kayu meja kursi tidak ada yang terkelupas maupun tergores.
Benda-benda di salam sana tak ada bedanya dengan selimut itu, layaknya kesucian abadi semua hal yang kotor tidak nampak sekecil apapun. Seperti tak seorangpun pernah menyentuhnya.
Putih.
Bersih...
Terang…
Dan Bercahaya.
Benar-benar sangat indah meskipun hanya sebuah kesederhanaan dengan warna dominan yang murni. Baekhyun berfikir ia seperti sedang berada di atas awan. Berperan bagai malaikat bersayap putih lalu terbang kesana kemari membantu manusia yang membutuhkan bantuannya.
Ah rasanya seperti mimpi..
Tunggu..
Jangan bilang kalau dia saat ini memang–
-Cklek-
"Kau sudah bangun rupanya"
Terdengar suara pintu terbuka dan ucapan seseorang mengikuti setelahnya. Pria berjas putih bersih itu berjalan menghampirinya lalu berhenti di samping ranjangnya dan mendudukkan tubunya pada sebuah kursi yang sama putihnya dengan bajunya. Seakan dua warna itu tercampur menjadi satu menjadikan orang lain pasti akan berpendapat bahwa orang itu tidak menduduki apapun di bawahnya.
Baekhyun tidak peduli itu sungguh. Ketakjubannya lebih teralihkan pada sosok pria yang saat ini duduk disampingnya sambil tersenyum tampan.
"Bagaimana keadaanmu, apa sudah merasa baikan?" tanya orang itu penuh kelembutan.
Bolehkah Baekhyun tertawa sekarang. Pasalnya orang yang mengajaknya bicara saat ini bukanlah sesuatu hal yang patut dia kagumi maupun mampu membuatnya terpana. Suara berat yang baru-baru ini selalu mengisi gendang telinganya dengan begitu banyak rentetan kalimat kasar dan umpatan kembali lagi namun dengan nada paling lembut yang pernah ada.
Oh Tuhan kenapa kau berikan aku mimpi aneh seperti ini lagi –desah Baekhyun dalam hati.
Pria itu tersenyum melihat keterpakuan Baekhyun yang hanya menatapnya diam.
"Ini bukan mimpi Baekhyun, aku nyata" Baekhyun tertegun untuk pertama kalinya.
Apa dia bisa mendengar suara hatiku?
"Tentu saja aku bisa" pria itu menjawab sekali lagi pertanyaan Baekhyun.
Kali ini hanya mulutnya yang merespon;menganga mendengar pernyataan pria di hadapannya yang tepat dalam menimpali kebingungan Baekhyun.
Dia bukan Park Chanyeol. Aku yakin itu dan ini pasti mimpi.
"Kenapa kau tidak percaya padaku. Aku memang Park Chanyeol lelaki yang menciummu di dalam kamar mandi tadi pagi" Wajah Baekhyun memerah mendengar penuturan terbuka dari lelaki yang mengaku sebagai roommate-nya tersebut.
"Kau sangat menggemaskan sekali" lalu pipinya semakin bertambah merah ketika tangan besar itu merambat membelai wajahnya.
Kumohon cepat bangunkan aku dari mimpi ini. Sadarkan aku Tuhan, jangan membuatku terlarut dalam keindahan ini. Baekhyun memejamkan matanya merasakan usapan Chanyeol pada wajahnya semakin terasa lembut dan menenangkan.
"Apa aku memang sangat menyebalkan sehingga kau tidak ingin menatap wajahku dan menginginkan mimpi ini cepat berakhir" ucap Chanyeol sedikit sedih.
Baekhyun otomatis langsung membuka matanya dan menangkap raut kecewa pada wajah tampan itu. Sejujurnya Baekhyun tidak peduli terhadap ekspresi itu tetapi mengapa hatinya tergerak untuk melakukan hal yang sama sebelumnya seperti dilakukan Chanyeol pada wajahnya.
Kulit pada rahang tegas itu terasa lembut di permukaan telapak tangannya. Baekhyun menelusuri garis kaku tersebut dari atas lalu kembali kebawah menggerakkan ibu jarinya dengan arah berbeda.
"Aku jelas-jelas bermimpi dan sadar kalau kau bukanlah nyata, tetapi melihat sikapmu yang begitu lembut seperti ini aku sangat senang" Mereka berdua saling melempar senyum satu sama lain. (ya ampun gue melting sendiri bayangin ini,)
"Ini memang aku yang sebenarnya Baekhyun" namun gelengan kepala menjadi jawaban ketidak percayaan pada ucapan Chanyeol. "Tidak kau hanya mimpi"
"Kalau begitu maukah kau mengembalikan sifat asliku ini. Mengubahku menjadi lelaki lembut yang mampu membuatmu bahagia" Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang masih menempel pada pipinya. Menaruh harapan pada sesuatu hal tidak bisa dimengerti oleh Baekhyun.
"Kenapa harus aku?"
"Karena aku mencintaimu"
Baekhyun melebarkan matanya terkejut.
"Ta-tapi kita kan sama-sama lelaki Chanyeol"
"Memangnya salah"
"Tentu saja, pasangan takdir kita adalah seorang wanita yang akan melahirkan keturunan kelak bukan seorang laki-laki yang bahkan rahimpun dia tidak punya" balas Baekhyun agak kesal mengetahui kebodohan Chanyeol yang sama saja dengan dia di kehidupan nyatanya.
Tawa kecil itu menyapa alat pendengaran Baekhyun menghantarkan perasaan aneh yang mulai menyelubungi detak jantungnya.
"Apa hanya itu yang kau takutkan?"
"Aduh" sentilan pada dahinya menandakan kalau Chanyeol begitu gemas dengan pemikiran sempit Baekhyun yang terlampau cepat dalam mengambil kesimpulan.
"Lain kali aku tidak akan mendatangi mimpimu kembali jika kau masih bodoh begini"
Baekhyun memajukan bibirnya cemberut mendapat ejekan yang anehnya tidak terlalu membuatnya emosi seperti biasanya dia lakukan ketika Chanyeol menghinanya.
"Ini mimpiku dan aku memang tidak mengharapkanmu untuk menjadi objekku. Sana pergi!" usir Baekhyun main-main.
Chanyeol mengusak rambut Baekhyun karena gemas.
"Aku tidak akan kesini jika kau tidak memanggilku" ucap Chanyeol sambil tersenyum menoel hidung kecil Baekhyun. Baekhyun sudah ingin membalas perkataan Chanyeol tetapi kalah cepat ketika gerakan tangan itu menyuruhnya diam. "Baiklah sebaiknya kau cepat bangun dari tidurmu, aku kasihan melihat temanmu mengkhawatirkan keadaanmu"
Chanyeol mencoba membaringkan kembali tubuh Baekhyun pada ranjangnya, sedangkan yang disuruh hanya menurut tanpa protes.
"Ingat jangan abaikan kesehatanmu. Aku mencintaimu Byun Baekhyun" Chanyeol mencium bibir ranum itu hingga membuat sang pemiliknya ikut terpejam dan setelahnya semua kembali.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Dua orang lelaki muda terlihat sedang kebingungan mencari seseorang saat ini. Mereka keluar masuk pada setiap gedung hanya untuk memastikan keberadaan lelaki lain yang sedang mereka pastikan keadaannya.
"Kuharap dia tidak cukup gila untuk melakukan percobaan bunuh diri"
"Hush.. hentikan pikiran bodohmu Kim Jongin. Chanyeol tidak sebodoh itu hanya karena seluruh fasilitas mewahnya di tahan"
"Lalu sekarang kemana dia, disekolah dia tidak datang dan seorang siswa mengatakan barusan melihat Chanyeol keluar asrama dengan wajah pucat seperti merasa frustasi"
Sehun membuka denah lokasi ibu kota korea selatan itu melalui ponsel canggihnya. Dia memeriksa kembali tempat mana yang belum sempat ia kunjungi.
"Setiap tempat minum langganannya sudah kita datangi, hotel tempat dia sering menyewa juga sudah kita masuki tetapi tidak ada tanda-tanda di pernah menginjakkan kakinya disana. Kalaupun keluar kota aku yakin Chanyeol tidak akan sudi untuk sekedar berdesak-desakan dengan penumpang lain" ungkap Sehun melontarkan anggapannya yang kemudian di angguki oleh Jongin.
"Hah aku lelah Sehun, sebaiknya kita membeli minum dulu di minimarket depan sana. Aku sangat haus" dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menyeberang membeli sesuatu agar mengisi stamina mereka kembali yang sejak dari pagi sibuk mencari sahabat brengsek –sebut saja Chanyeol yang masih saja belum ketemu keberadaannya hingga siang ini.
Sebenarnya Sehun dan Jongin tidak ingin membolos sekolah atau sampai melibatkan masa depan mereka hanya untuk mengkhawatirkan keadaan Chanyeol yang kalau Jongin boleh jujur dia tidak terlalu peduli, hanya saja mendengar cerita salah satu siswa yang memergoki Chanyeol dengan wajah frustasi, mereka menjadi simpati dan berlanjut mengendap keluar lingkungan sekolah dan menghentikan taksi untuk kabur.
Ketika mereka akan memasuki minimarket seseorang menabrak bahu Jongin keras. Lelaki itu berlalu begitu saja tanpa mau menoleh ataupun sekedar meminta maaf. Jongin menggeram kesal.
"Yak berhenti kau!"
Lelaki bertopi dan bermasker hitam senada dengan warna jaketnya itu menghentikan langkahnya namun dia tetap diam di tempat tanpa membalikkan badannya.
Jongin berjalan mendekat melihat punggung lebar itu dari ujung kaki hingga kepalanya yang disembunyikan. Dahinya menyerngit seolah dia sangat familiar pada sosok itu.
"Chanyeol" seru Sehun berdiri menghadap lelaki tinggi itu yang semakin menundukkan wajahnya.
Jongin yang tersadar dengan lamunannya langsung saja membuka topi itu untuk memastikan dugaannya dan mendapat penolakan tetapi dia berhasil melepaskannya. Rambut coklat madu itu menguar berantakan menutupi dahinya. Dari sela helain rambut poninya Jongin dan Sehun melihat kilatan kemarahan dari kedua mata lebar itu.
"Berhenti dan jangan menggangguku"
"Kau mau kemana. Kita mencarimu dari tadi pagi brengsek" ucap Jongin emosi mendengar perintah Chanyeol.
"Cih tidak usah sok peduli kepadaku. Urusi saja orientasi seksual kalian"
BUG–
Orang-orang disekitar dan para pejalan kaki yang melintas dibuat terkejut atas kejadian tiba-tiba itu. Mereka merasa penasaran tetapi lebih memilih diam melanjutkan aktivitas mereka tanpa berani mencampuri urusan anak muda zaman sekarang –mungkin tentang seorang gadis.
Biasanya Sehun tidak terlalu ambil pusing terhadap segala hinaan yang keluar dari bibir penuh itu namun kali ini sudah keterlaluan. Chanyeol perlu mendapatkan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada bogem yang baru saja dia layangkan beberapa detik lalu.
"Dengar! Kau boleh saja membenci kami karena itu hakmu, tetapi berhentilah merendahkan kita dengan mengungkit kelainan itu seolah sebuah penyakit berbahaya.
Kau tidak tau apa-apa mengenai cinta Chanyeol, jadi sebelum aku memukulmu lagi sebaiknya kau kembali ke sekolah dan jangan membuat kami harus bertanggung jawab terhadapmu keparat!"
Lelaki berkulit paling putih itu langsung pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Emosinya meluap meninggalkan kesan sabar dari watak aslinya, pertanda Sehun benar-benar sangat marah.
"Aku tidak tau kau berubah begitu banyak, kupikir kita bisa seperti dulu tapi sepertinya kau masih belum bisa menerima kami. Aku pergi." Kata Jongin kemudian berlalu mengejar Sehun yang terlebih dahulu pergi. Sementara Chanyeol masih terdiam kaku berdiri di tepi jalan dengan orang-orang yang berjalan melaluinya seakan tak menganggapnya ada.
Chanyeol menertawakan diri setelah sekian lama mematung hingga membuat seorang pekerja pengangkut barang di dekatnya merasa ketakutan dan berujung masuk ke dalam toko secara terburu. Mungkin di pikirannya Chanyeol adalah salah satu pasien rumah sakit gila yang kabur lalu menyamar menjadi seorang maniak dengan pakaian serba hitam.
"Hahaha–cinta. Tidak ada hal semacam itu di dunia ini"
Lelaki tinggi itu meneruskan jalannya kembali dengan menenteng kresek putih agak besar berisi barang belanjaan yang selesai dibelinya di minimarket tadi sambil tertawa tidak jelas kemudian sekali-kali meringis di sela mata berkedipnya. Pukulan Sehun memang telak mengenai pelipis dekat mata sebelah kirinya.
"Oh Sehun akan kubuktikan bahwa aku tidak akan kalah"
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Ruangan kesehatan itu sedikit heboh dengan kedatangan beberapa siswa yang berkerumunan di sekitar pintu masuk dan jendela yang tidak tertutup tirainya.
Mereka semua ingin melihat keadaan lelaki pendek yang sekarang masih tertidur pulas di atas ranjang UKS yang berukurang sedang itu. Tidak ada yang aneh jika mengingat orang pingsan pasti karena tubuhnya kurang nutrisi dan kelelahan.
Tetapi ini Baekhyun, siswa baru berwajah manis yang sempat tergeletak cantik di gendongan Ji soo siswa populer sebagai wakil ketua osis dan ditemani juga Kyungsoo siswa yang terkenal kegalakannya sebagai ketua asrama tingkat dua. Namun dibandingkan itu semua ada yang lebih menyita perhatian mereka yaitu seseorang yang kini berdiri menyender pada meja nakas samping ranjang putih itu.
"Kenapa dia lama sekali sadarnya, apa dia tertidur?" tanya lelaki misterius itu yang bosan menunggu mata Baekhyun terbuka.
"Kau tidak mendengar tadi apa kata Miss Hyuna kalau Baekhun itu kelelahan dan kurang nutrisi jadi tubuhnya lemas membuatnya harus beristirahat sedikit lama jadi lebih baik kau diam saja dan menunggunya hingga sadar" ketus Kyungsoo menjawab ucapan seseorang itu.
"Hey apa kau sedang marah padaku karena aku baru datang sekarang. Aishh– China ke Korea butuh waktu lama untuk melintas. Memangnya aku supermen tidak butuh tumpangan langsung terbang meluncur kehadapanmu tepat waktu. Heol" ucap lelaki itu dengan wajah cemberut sambil menggembungkan sebelah pipinya kesal.
"Bukan begitu Luhanie kau tau kan selama kepergianmu aku kesepian disini tidak punya siapapun yang bisa kuajak bermain dan berbagi cerita membuatku selalu merindukan ocehanmu apalagi si hitam itu akhir-akhir ini sering menggangguku menyebalkan sekali tetapi sekarang aku senang melihatmu disini"
Kyungsoo menarik tangan bersendekap itu;menggoyangkannya seakan meminta pengertian untuk ucapan sebelumnya dengan aksen sedikit meniru anak kecil.
Mata yang serupa rusa tersebut memutar keatas kala mendengar rengekan kecil sahabatnya. Kalau sudah begini dia bisa apa kecuali mencubit kedua pipi gembil Kyungsoo melebar.
"Aw sakit Luhan! Jangan mulai mengganggu pipiku jika tidak ingin lehermu patah"
Tidak ini gawat.
Seharusnya Luhan –yang notebene sebagai ulzzang sekolah– tau kalau lelaki pendek di hadapannya ini pemegang sabuk hitam judo di sekolahnya.
Suasana ruangan mendadak suram.
Luhan menelan ludah sulit.
"Eyy.. ki-kita kan baru bertemu Kyung tidak perlu dianggap serius begitu" ucapan sok akrab itu mencoba mencairkan tatapan tajam manusia berkedok burung hantu tersebut.
"Eh lihat dia mulai sadar" seru Jisoo menghentikan aksi kedua sunbaenya yang mungkin akan saling adu mulut.
"Baekhun–"
Semua orang di dalam ruangan itu merasa cemas menunggu si mata sipit terbiasa dengan keadaan sekitar. Siswa yang berkerumunan di luarpun juga merasakan hal sama menantikan kata yang keluar dari bibir tipis itu.
Oh ayolah ini bukan drama action tetapi kenapa wajah-wajah disana terlihat sangat khawatir seakan takut melihat korban yang selamat kehilangan penglihatannya karena tidak segera mengeluarkan suaranya.
Baekhyun sudah membuka mata sepenuhnya tetapi tatapannya seolah kosong seperti tak bernyawa. Bahkan Kyungsoo yang bertanya di sampingnya tidak mendapat respon sama sekali.
"Apa dia menjadi bisu?" ucapan Luhan tidak berhasil membuat keadaan semakin membaik malah menambah ketegangan disekitarnya.
"O-oke lebih baik aku memanggil miss Hyuna" setelah mendapat tatapan kematian dari Kyungsoo barulah Luhan mengambil inisiatif untuk menyelamatkan diri dengan alih memanggil petugas kesehatan sekolahnya. Namun baru saja dia akan melangkah dari arah pintu orang yang di carinya sudah muncul bersamaan dengan dua siswa lain membuntuti dari belakang dengan wajah sangat khawatir.
Salah satu dari kedua siswa itu terkejut sesaat ketika melihat kehadiran orang lain di ruang rawat kemudian menutupinya dengan tatapan datar. Luhan memperhatikan setiap langkah tersebut hingga berada disampingnya. Bibirnya terkunci dan tatapannya menjadi turun kebawah. Pundak mereka bersinggungan namun tidak benar-benar bersentuhan.
"Babyyyy… apa kau tidak apa-apa?" suara ini muncul pertama kali mendahului keterkejutan lain dimata Kyungsoo.
"Kenapa kalian kesini?" tanya Kyungsoo mengabaikan nada khawatir Jongin yang bersungut di sebelahnya sedangkan dia sendiri lebih memilih menatap Sehun berada di samping Luhan yang masih berdiri membelakangi mereka.
"Aku menyuruh mereka membatuku membawa obat-obatan dari Lab" tunjuk dagu lancip mulus itu pada beberapa kantung kresek di masing-masing tangan Sehun dan Jongin lalu Miss Hyuna berjalan menghampiri ranjang Baekhyun "Oh kau sudah siuman rupanya"
Kyungsoo yang tersadar dari rasa malu karena jawaban Miss Hyuna segera menoleh pada tubuh terbaring Baekhyun.
"Apa yang terjadi padanya?" Sehun membuka suara. Dia terlihat cukup khawatir jika kita teliti dari nadanya tetapi tubuh tinggi tegap itu masih bertahan di tempatnya berdiri.
Jongin sudah mendekat ke arah ranjang dengan berdiri pada ujung kaki yang masih tertutupi selimut tersebut. "Apa kau sakit?"
"PABBO!"
"AGK!"
Ringisan Jongin yang mengusak kepalanya hanya mendapat tanggapan gelengan kepala dari Miss Hyuna dan Jisoo.
"Astaga kenapa pertanyaanmu begitu bodoh sekali sudah jelas kalau Baekhyun di bawa ke ruang kesehatan tandanya dia memang sakit apa kau tidak pernah memperhatikan pelajaran sehingga otakmu tidak terpakai untuk berpikir sedikit pintar eoh–!" akhirnya keluar sudah mode ganas Kyungsoo yang sudah sejak tadi terbendung ingin memukul Jongin ketika mereka bertemu.
"Itu karena aku terlalu sibuk memperhatikanmu baby jadi tidak ada waktu untuk melakukan hal lain lagi" gombal Jongin sambil tersenyum manis pada Kyungsoo. Jisoo memasang ekspresi ingin muntah sedang Sehun memutar matanya Jengah. Tanpa orang lain ketahui hal tersebut tetap tidak mengganggu sama sekali pada keadaan Baekhyun yang masih menatap kosong atap ruangan tersebut.
Ketika semua orang fokus membicarakan pasangan konyol antara Kyungsoo dan Jongin, Luhan bermaksud pergi diam-diam tanpa pamitan. Kakinya mulai melakukan ancang-ancang untuk melangkah tetapi sebuah telapak tangan yang agak kasar dan besar menangkap lembut pergelangan tangannya.
"Miss aku akan menaruh obat-obatannya disini. Karena kurasa banyak yang akan menemani Baekhyun aku permisi keluar terlebih dahulu" kata Sehun sambil menarik Luhan keluar ruangan ikut bersamanya.
Semua siswa sudah pergi sebelumnya tepat ketika Miss Hyuna datang dan membubarkan kerumunan yang mengganggu privasi pasiennya.
Kembali pada suasana di dalam ruang kesehatan, beberapa pasang mata disana terlihat khawatir atas keterdiaman Baekhyun yang seperti mayat hidup tersebut. Miss Hyuna mengecek ulang kondisi siswanya.
"Apa masih ada yang sakit Byun Baekhyun-ssi?" tanya miss Hyuna setelah selesai memeriksa. Sayangnya lelaki pendek itu tetap terdiam tidak merespon sama sekali.
"Apa dia kesurupan?" ini pertanyaan bodoh kedua yang dilontarkan Jisoo tetapi tidak mengundang kemarahan dari si mata burung hantu yang ikut terdiam seperti berpikiran sama.
Jongin yang mendengar kejanggalan itu merasa kesal dan berusaha menyadarkan tatapan kosong Baekhyun dengan menggoyang-goyangkan kedua kakinya. "Baek –baekhyun –baek apa kau dengar suaraku?"
Miss Hyuna tersenyum pada pernyataan Jisoo dan perlakuan Jongin serta ketakutan Kyungsoo. "Tenanglah dia tidak apa-apa" ujarnya sebelum menghentikan kebrutalan Jongin yang semakin menjadi.
Tangan ramping itu mengusap pelipis yang mendingin itu dengan lembut. Wajah miss Hyuna merunduk;mensejajarkan dengan telinga siswanya. "Baekhyun… apa yang kau pikirkan. Itu hanya mimpi kembalilah ke dunia nyata" lalu detik itu juga mata itu berkedip-kedip. Jika tidak dalam posisi yang sangat dekat mungkin Miss Hyuna tidak bisa mendengar gumaman selaras desisan nafas itu.
Kyungsoo bertepuk tangan bahagia layaknya anak kecil yang baru saja melihat tontonan sulap. Dilain sisi Jongin dan Jisoo hanya terkagum-kagum dengan mulut melebar tidak percaya akan kehebatan dokter sekolahnya seperti memiki ilmu penghilang hipnotis.
"Baekhun–" Kyungsoo menggenggam tangan Baekhyun kelewat bahagia karena mendapati mata sipit itu menoleh kepadanya. Sebenarnya Kyungsoo juga cukup merasa bersalah pada sahabatnya pagi tadi.
"Aku dimana?"
"Kau ada di ruang kesehatan Baek –Tidak –Jangan bergerak dulu tubuhmu masih lemas" ucap Kyungsoo sambil menahan tubuh Baekhyun yang berusaha bangkit dari tidurnya.
"Istirahatlah dulu Baekhyun-ssi, aku akan menyiapkan obat untuk kau minum" setelahnya miss Hyuna beranjak pergi ke ruang kerjanya yang hanya dibatasi tirai yang digeser melalui tiang diatasnya.
"Baekhyun kau tidak apa-apa? aku mendengarmu jatuh pingsan di depan lab Bahasa. Bagaimana bisa kau berada di sana di saat jam pelajaran pertama sedang berlangsung?" kata Jongin dengan pertanyaan beruntunnya.
"Kim Jongin bertanyalah satu-satu, kau pikir Baekhyun robot bisa langsung mengerti semua ucapanmu?"
Seseorang yang sedari tadi melihat perdebatan Kyungsoo dan Jongin memutuskan untuk pergi karena dia merasa sudah tidak memiliki kepentingan lagi. Namun langkahnya terhenti ketika suara Kyungsoo menyebut namanya.
"Mau kemana kau jangan mencoba lari dari tanggung jawab, ingat Baekhyun pingsan itu karena ulahmu!"
"Apa! Brengsek apa yang kau lakukan pada Baekhyun?" Jongin yang tersulut emosi langsung menghampiri Jisoo lalu menarik kerah seragamnya.
"Hentikan Jongin-ssi!" terdengar suara Baekhyun melerai pertengkaran itu. Tubuhnya sudah setengahnya bangun dan bersandar pada dinding ranjang. Kyungsoo ikut membantu pergerakan tiba-tiba itu secara cepat tanggap.
Sebenarnya Baekhyun sangat senang mengetahui ada banyak orang yang menemaninya di dalam ruangan ini selama dia pingsan. Tidak pernah terpikirkan satu kalipun ia akan mendapat perhatian berlebih di hari kedua bersekolahnya. Kepribadiannya yang mudah bergaul mungkin saja mampu menarik orang-orang di sekitarnya termasuk Kyungsoo yang secara langsung menyambutnya sebagai sahabat di hari pertamanya. Aneh tapi itulah yang terjadi.
Dan sekarang dirinya tak mengharapkan banyak untuk seseorang yang mau melindunginya ketika ia tersakiti. Jongin menyediakan pukulan bagi siapa saja yang menyakitinya padahal Baekhyun sudah memberikan kesan buruk pada pertemuan awal mereka. Haha seharusnya mereka menjadi musuh karena kesalapahaman yang terjadi, tetapi Jongin menawarkan pertemanan yang menyenangkan di antara mereka.
"Dia tidak melakukan apapun padaku" terang Baekhyun memberi pernyataan sesungguhnya. Jongin melepaskan genggaman tangannya kemudian membiarkan Jisoo mendekati Baekhyun.
"Terimakasih sunbae sudah mau menolongku dari kemarahan Jongin hyung" liriknya pada seseorang dibelakangnya sedikit takut, "kuharap sunbae cepat sembuh. Sampai bertemu lagi"
"Tunggu. Siapa namamu?"
"Ji-soo, wakil ketua OSIS kelas 1 A" ucap lelaki itu mantab sedikit menyombongkan posisinya hingga menimbulkan decakan malas dari Jongin.
"Senang bertemu denganmu Jisoo-ssi, terimakasih sudah membawaku kesini. Dan aku juga berharap kita bisa menjadi teman" Baekhyun tau ia sudah merepotkan banyak orang makadari itu mungkin sebuah senyuman manis darinya mampu merubah kesan aneh di antara keduanya.
"T-tidak masalah sunbae, a-aku juga senang bertemu dengan sun-sunbae" kata Jisoo sedikit terbata. Tidak taukah kau Baek bahwa saat ini adik kelasmu menjadi gugup akibat ulah sihir diantara lekukan bibirmu yang memukau.
"Sudah cepat sana pergi!" usir Kyungsoo yang seakan sadar dengan reaksi Jisoo segera merusak suasana dan menyuruh hoobaenya keluar.
Selalu saja si burung hantu ini menyebalkan–
Sepeninggalnya Jisoo, Miss Hyuna datang sambil membawa obat dan air minum untuk Baekhyun.
"Sekolah sudah mengizinkan agar kau istirahat saja hari ini. Minumlah, tubuhmu lemah karena kau belum makan Baekhyun."
Baekhyun menerima gelas yang berisi air putih itu. Sejenak tatapannya berubah kagum melihat penampilan wanita cantik itu. Busana panjang putih khas dokter melekat sopan tanpa harus mempertontonkan lekukan tubuhnya membuat dokter itu terlihat santai dengan gaya rambut pirangnya yang di kuncir satu.
"Jongin bisakah kau belikan sesuatu untuk Baekhyun makan dan ajaklah Kyungsoo juga"
"Kenapa aku juga harus ikut Miss?" protes Kyungsoo cepat.
"Karena kau kekasihku makanya kita tidak boleh berpisah. Ayo cepat kita keluar"
"Jawaban apa itu. Tidak!"
"Sudahlah ikut saja"
"Aku tidak mau"
Pertikaian itu tidak berlangsung lama karena Jongin seketika itu juga memanggul Kyungsoo di pundaknya layaknya karung beras yang siap di timbun. Pekikan dari dua mulut terpental keluar dari masing-masing milik Baekhyun dan Kyungsoo yang menjerit sambil memukul punggung Jongin meminta di turunkan, hingga suara mereka tenggelam setelah pintu ruangan itu tertutup.
Miss Hyuna hanya sanggup mengelus dada sekaligus menggelengkan kepala melihat kedua perilaku anak didiknya yang terkenal selalu bikin heboh sekolah itu.
"Apa itu terasa aneh bagimu?" satu tarikan kursi menjadi langkah awal dokter cantik itu memulai percakapan di antara keduanya.
"Maksud dokter?"
"Panggil saja aku miss Hyuna itu lebih nyaman bagiku Baekhyun, dan aku juga akan memanggilmu tanpa embel-ebel –ssi "
"Oke miss"
Ah senyum itu lagi–
"Bagaimana menurutmu tentang sekolah ini?"
"Menyenangkan" jawab Baekhyun jujur.
"Tidak ada yang mengganggumu? kau tahu kan siswa baru biasanya.." Miss Hyuna memilih menyilangkan kaki dan tangannya bersamaan punggungnya ia senderkan pada kursi duduk. Bukan bermaksud mengintimidasi hanya mencoba membuat si lelaki manis itu merasa nyaman dengan pembawaannya yang lebih santai.
Baekhyun terdiam.
Haruskah dia mengatakan semua isi pikirannya? Bolehkan dia berbicara tentang masalahnya? Dan bisakah dokter cantik ini dipercaya?
"Katakan Baekhyun. Aku bisa mendengar gumammanmu ketika kau di liputi halusinasi tadi. Tidak apa-apa, aku tau kau sedikit berbeda dengan siswa yang lainnya"
Suara lembut itu sedikit mampu mempengaruhi kepercayaan Baekhyun namun detik itu juga dia kembali ragu dengan suaranya yang enggan untuk keluar.
"Warna merah sedikit ruam biru di leher bagian dalammu itu–" tunjuk miss Hyuna pada area kulit yang tertutupi kerah seragam Baekhyun, "apa ada seseorang yang mencoba menyakitimu?"
Kedua mata sipit itu sontak membelalak mendengar ucapan wanita di hadapannya yang sudah menyadari keadaannya. Tapi–
Tunggu! Apa gigitan itu membekas? Dan –dan tercetak jelas di leherku begitu? Aishhh~
Umurnya sudah menginjak 17 tahun sudah sangat wajar bagi baekhyun mengenal kata apapun yang berhubungan dengan cinta. Pelukan, bergandengan tangan, kencan hingga ciumanpun otaknya tidak begitu bodoh untuk membedakannya.
"Baekhyun–"
"I-ini ha–hanya–hanya…" bibir bagian bawahnya dia gigiti dan arah bola matanya menjadi berpencar kemana-mana. Sebelah tangan kirinya meremas selimut sedangkan satunya lagi dia gunakan untuk mengeratkan kancing pada bagian atas seragamnya yang percuma saja untuk ditutup-tutupi karena tanda itu memang tersembunyi di bagian dalam. Wajahnya memanas.
"Kkkk– kau itu benar-benar sangat lucu dan menggemaskan Baekhyun. Pantas saja kedatangan pertamamu di sekolah ini sempat menggemparkan"
Baekhyun menolehkan sekali lagi arah pandangnya terhadap wanita dewasa itu. Apa dokter ini sedang menggodaku?
"Beritahu aku kenapa kau menyebut nama Chanyeol di sela gumamanmu. Aku benar-benar sangat penasaran. Bagaimana kau mengenal pangeran es menyebalkan itu?" seperti gurun yang disiram lautan, lihatlah sekarang miss Hyuna berubah bertingkah sangat aneh. Kursi duduk yang semula berjarak cukup jauh semakin di Tarik mendekat menuju ranjang itu agar siku kedua tangannya bisa menopang dagunya.
Baekhyun refleks menggeser tubuhnya agak menjauh menyisakan tempat untuk wanita itu gunakan. Pancaran matanya yang terlihat sangat antusias seolah membawa sengatan pembangkit energi listrik di sekitarnya… seakan berdebam-debam menanti kelanjutan cerita di episode terakhir drama favoritnya.
"errrr–miss, a-anda terlihat sangat bersemangat" Baekhyun berkata kikuk untuk menyampaikan maksud terselubungnya. Anggap saja seperti, Apa anda waras miss?
"Oh– apa aku terlalu kentara?"
"…"
"Baekhyun maaf membuatmu terkejut, tetapi aku adalah seorang Fujoshi"
Tik
.
Tok
.
Tik
.
Tok
.
.
HAAAAAAA~
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
"Nnnghh– s-sehunnhh berhentiiii"
Luhan melenguh ketika hisapan-hisapan lembut berhasil di bubuhkan di sekitar lehernya. Lelaki bersurai hitam itu tak menghiraukan suara perintah dari bibir peach yang melolong untuk menghentikannya. Bibirnya malah semakin menjelajah turun menyesapi rasa dari lapisan kulit putih bersih itu.
Ruangan sempit yang jarang dikunjungi oleh penghuni sekolahan tersebut menjadi tempat favorit bagi Sehun untuk leluasa menikmati santapannya di sore hari. Berbekal kerinduan yang menjulang menembus jiwa kesepiannya beberapa hari belakangan ini, Sehun menggila.
Aroma Luhan sangat kental melekat pada indera penciuman dan perabanya membuat kecupan yang semula lembut menjadi meninggalkan bekas-bekas kasar di sekitar leher kekasihnya.
"mmphh–ngghh"
Rengkuhan paksa di sekitar pinggang Luhan mengakibatkan lipatan siku yang tertekuk itu menjadi penahan dada sang dominan dan jelas terlihat mengganggu aktivitas mulut keduanya. Sehun tidak memberikan jeda sama sekali untuk Luhan bisa mengais udara karena saat ini sudah dipastikan liur yang merembes keluar melalui sudut bibir yang lebih pendek adalah bukti kewarasannya.
"Se–mmphhunnmpphh–aghh"
Bibir itu merekah merah mendapat hisapan keras ketika sesi terakhir penyatuan mulut yang terjalin dalam hitungan 10 menit. Wajah cantiknya semakin membias indah terpantul dari alunan nafas yang terengah membangkitkan ruang kelaparan dari lidah Sehun untuk menjilati telinga Luhan.
"Nghh Sehunhh jangan menggodaku"
"Kenapa tidak mengabariku hem" Sehun mengecup bibir Luhan dengan arah pandangan tajam dan berujung meremas pinggang si kecil saat yang di ajak bicara menolak membalas tatapannya.
"Untuk apa! Lagipula selama ini kau juga tidak perduli padaku disana"
Sehun tersenyum.
"Kekasihku merajuk eoh– Hey dengarkan aku dulu.." Luhan ingin lekas pergi dengan mendorong tubuh tinggi itu ketika Sehun menggodanya.
"…" Luhan berhenti bergerak.
"Aku tidak ingin mengganggumu belajarmu Lu, kekasihku sedang berjuang mempertaruhkan nama sekolah tidak mungkin aku menjadi egois" jelas Sehun sambil mengusap bekas liur di tepi bibir merengut itu.
"Tapi aku merindukanmu pabbo!" sungut Luhan memukul manja lengan Sehun.
"Aku juga sangat merindukanmu sebanyak jumlah rambut di tubuhmu baby" goda Sehun sambil memainkan hidung mungil itu dengan menjepit ujungnya diantara jari telunjuk dan tengah yang di tekuk layaknya kepiting.
"Ish –bicara seperti itu lagi aku pergi" ketus Luhan malu seraya menepis tangan Sehun.
"Tidak bisa hari ini kau tawananku"
"Apa-apan itu.. kembali ke kelas sana!" perintah Luhan galak.
"Aku ingin berduaan dengan kekasihku"
"Sehun jangan membolos!"
"Aku sudah melakukannya sejak jam pertama"
"APA! BAG–mmphh"
"Mulutmu memang lebih bagus kalau dibungkam begini mmhh" ucap Sehun di sela ciumannya yang sekali lagi mampu membuat Luhan kuwalahan menahan napas. Sepertinya kegiatan mereka akan terus berlanjut mari kita tinggalkan pasangan panas yang memendam rindu ini.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Malam hari ..
Ruang kamar yang bertuliskan angka 614 tersebut terdengar gaduh di dalam sana. Bahkan Baekhyun selaku pemilik kamar sampai menutup kedua telinganya tanda sangat terganggu dengan teriakan Kyungsoo sahabat barunya.
"Katakan aku tidak salah dengar?!"
Kyungsoo berjalan heboh menuju ranjang sebelah milik Baekhyun kemudian mengendusinya layaknya anjing penyidik yang bertugas mencari kebenaran di balik indera penciuman tajamnya. Hidung itu terus menyusuri setiap jejak aroma yang tertinggal, dimulai dari benda empuk penyangga kepala hingga lipatan ujung sprei. Kerutan dahi yang menonjol pada milik sahabatnya selama proses membaui –yang boleh Baekhyun bilang konyol– itu mendapat tatapan aneh darinya.
"Kenapa?" tanya Baekhyun penasaran.
"Aneh sekali Baekhun-ah aku hapal betul bau parfum mahal Chanyeol karena Jongin dulu pernah meminjamnya tapi aku tidak merasakan sama sekali aromanya di ranjang ini malah seperti tidak pernah terpakai" Kyungsoo melihat Baekhyun yang bersandar pada ranjangnya dengan mata memicing.
"Aku sungguh tidak berbohong Kyungsoo-ah kalau aku memang satu kamar dengan lelaki menyebalkan itu" jawab Baekhyun cepat seakan mengerti kalau Kyungsoo sedang mencuragainya melalui tatapan itu. Mengerikan.
Mereka berdua berakhir di asrama karena sekolah telah selesai dan Kyungsoo memutuskan untuk mengantar Baekhyun menuju kamarnya. Meskipun Baekhyun menolak dan mengatakan kalau dia sudah baik-baik saja tetapi Kyungsoo tetap bersikukuh dengan dalih inilah gunanya menjadi tetangga kamar yang baik.
"Kepala Kang kemarin memberikan daftar nama penghuni baru angkatan sebelas kepadaku dan disana tertulis namamu Byun Baekhyun dan satunya lagi adalah PCY –astaga kenapa aku baru menyadarinya sekarang kalau itu nama singkatan dari Park Chanyeol pangeran sekolah ini aish bodohnya aku!" Kyungsoo memukul kesal kasur Chanyeol karena merutuki ketidak jeliannya.
"Sudah kubilang kan aku berkata benar" Baekhyun mengerucutkan bibirnya tanpa sadar seperti menjadi kebiasaannya melakukan hal itu ketika kesal.
"Sebentar–"
"Apa yang kau lakukan –ya!" tingkah sahabatnya semakin luar biasa aneh kala hidung yang katanya setajam indera penciuman anjing itu beralih menyedot aroma Baekhyun beserta seisi ranjangnya.
"Apa Chanyeol tidak pernah tidur di ranjangnya atau memang dia selalu keluar malam seperti saat ini dia tidak hadir sama sekali ketika di sekolah" jika tadi adalah tatapan penuh kecurigaan sekarang Kyungsoo menambahnya intens pada manik Baekhyun.
Chanyeol tidak masuk sekolah? Kenapa? Ah apa yang kau pikirkan Baek itu tidak ada hubungannya denganmu bodoh.
"Baek aku mencium bau Chanyeol di ranjangmu"
"Eh?"
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Udara malam hari di pinggir jalan memang cukup menyayat kulit pada pertengahan musim gugur bulan ini. Terpampang jelas telapak tangan besar itu menggosok hotpack pada masing-masing tangannya kemudian memasukkannya ke dalam saku jaket. Chanyeol melirik jam tangannya. Sial hampir tengah malam, dia terlambat dan itu tandanya tubuhnya harus di ajak bersusah payah melompati pagar tinggi dan memanjat dinding lagi. Fuck!
"Jangan pernah mengikutiku lagi" matanya bergulir menatap kawanan pasukan hitam berwajah garang itu di belakang punggungnya. Perintah otomatis itu layaknya tombol on/off pada bagian belakang robot mainan dan terlihat persis mempengaruhi gerak diam serempak terhadap tubuh berbody kekar tersebut.
Bibirnya menyungging ke atas merasa senang melihat semua bawahan itu menuruti ucapannya. Akhirnya mereka tunduk pada posisinya sebagai pangeran iblis. Kembali tubuhnya mengarah ke depan dan siap untuk melangkang pergi namun suara sepatu berisik dibelakangnya membuatnya menoleh kembali.
"Brengsek apa kalian tidak mendengar perintahku hah! Aku bilang pergi jangan ikuti aku!"
"Nyonya mengutus kami mengantar anda kembali ke asrama dengan selamat tuan muda" jawab salah satu bodyguard tersebut.
Chanyeol menutup matanya sesaat lalu mengambil handphone dan menekan tombol di sana. Benda pipih itu ia arahkan pada telinga kirinya. Setelah mendapat sautan lembut di seberang sana, geraman rahangnya menjadi mengeras.
"Wae? Apa kau masih merindukan Ibu hem kita baru saja bertemu sayang…" kekehan nyaring itu mengganggu pendengaran Chanyeol hingga anak kurang ajar itu sedikit menjauhkan dari telinganya.
"Tck.. Suruh anak buah Ibu berhenti mengikutiku mulai sekarang"
"Apa mereka menyakitimu?" terdengar nada pura-pura khawatir di seberang sana.
"Aku bukan anak kecil lagi yang bisa Ibu atur seenaknya" ketus Chanyeol.
"Kalau begitu lakukan perjanjian itu atau Ibu tidak akan pernah membuatmu tenang" setiap kata-kata ancaman yang keluar memang terdengar biasa tetapi seperti memiliki kekuatan tersendiri untuk mengunci mulut putranya.
"Just study well in school and follow the rules. Ibu tidak ingin mendengar kau membolos atau pergi ke tempat hiburan malam itu lagi maka kau mendapatkan kebutuhanmu kembali" ancaman kedua. Sial.
"OK. I do what you want" dan tanpa menunggu jawaban dari seberang Chanyeol sudah menutup telpon itu secara sepihak dengan kesal.
"Kalian dengar itu. Aku sudah menuruti keinginan ratu kalian jadi berhenti menggangguku"
Lelaki tinggi itu segera menghentikan taksi dan mobil itu melaju di antara jalanan malam yang lenggang.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Baekhyun selesai merapikan semua kekacauan di dalam kamarnya setelah sebelumnya berhasil mengusir Kyungsoo dan mengatakan kalau ia butuh istirahat. Dasar burung hantu itu!
Semua cercaan dan runtutan pertanyaan menguar memasuki gendang telinganya sehingga membuatnya semakin pusing. Baekhyun terus mengelak dan jahatnya Kyungsoo mendesak sampai kepala bulat itu ingin menggeledah isi lemari Chanyeol. Mati saja jika itu terjadi. Bukan Kyungsoo yang akan menjadi tersangka melainkan dirinya malah nanti semakin terjebak dengan hukuman dari pria bertelinga peri itu.
Masih pukul delapan malam, Baekhyun memutuskan untuk segera berbaring nyaman di atas kasurnya jika tidak ada tamu kedua yang mengetuk papan kayu itu dengan bunyi begitu keras. Aish jinjha!
Setelah pintu berhasil terbuka muncullah sesosok manusia kurus berhias senyum lebar hingga mungkin mencapai telinganya.
"Kim –Jongdae-ssi" Baekhyun mengeja nama itu bermaksud bertanya ragu tentang ingatannya.
Lelaki itu mengangguk terlampau bersemangat membuat Baekhyun menatapnya aneh. Oh Tuhan tidak bisakah aku bebas dari kutukan ini? bebas dari orang-orang aneh ini?
"O-oh aku dengar dari Kyungsoo kalau kamarmu berada satu lorong dengan kita dan dia memberitahu nomer ruanganmu padaku" jika kita melihat fakta dibalik ucapan seorang Jongdae adalah tidak ada namanya memberi secara suka rela. "Maaf terlambat mengucapkannya. Welcome to Xoxo High school, Let's hug and Kiss" Jongdae mengatakannya keras sambil merentangkan kedua tangannya lebar bersamaan dengan memanyunkan bibirnya seakan meminta peluk dan cium dari Baekhyun.
Reaksi Baekhyun sendiri hanya bisa mengerjap bingung dan tanda tanya besar memenuhi sebagian besar ruang otaknya. Jongdae yang merasa tidak mendapat balasan membuka kedua matanya membuatnya merasa konyol karena terlihat seperti pria bar-bar yang terlalu di rundung perasaan jatuh cinta.
Jongdae menggaruk tenggkuknya sambil menyengir kaku karena tak mendapati lelaki manis di depannya kunjung membuka suara. Demi membunuh rasa malunya Jongdae melayangkan basa-basi, "Aku mendengar dari beberapa siswa kalau kau pingsan tadi pagi. Apa sudah merasa baikan?"
Baekhyun berdehem sebentar menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Terimakasih sudah menghawatirkanku Jongdae-ssi" ucap Baekhyun sambil tersenyum manis.
Deg~
Jantung sebelah kirinya tiba-tiba tersentak melihat penampakan seutas garis melengkung layaknya pelangi di tengah rintik hujan tersemat pada bibir merah muda tersebut. Hello angel you're like painting!
"Yeppeoseo.." ucap Jongdae lirih.
"Nde?"
"A –anniyo. Senang melihatmu sehat kembali" Jongdae memamerkan senyum khasnya. "Oh iya sampai lupa. Aku membawakan buku untuk pelajaran hari ini, semoga kau suka –eh maksudku semoga bisa membantumu. Tenang saja tidak ada tugas sekolah"
"Astaga! Terimakasih sudah repot-repot meminjamiku buku. Aku juga tidak tau harus meminta tolong pada siapa. Kau memang teman yang baik Jongdae-ssi"
"Jangan sungkan-sungkan padaku. Lain kali kalau kau butuh bantuan minta tolong saja padaku, aku akan selalu siap dimanapun kau membutuhkanku Baekhyun-ssi"
"Kalau begitu masuklah dulu jika berkenan"
"Ah baiklah jika kau memaksa"
Mereka berdua memasuki ruang tamu dan duduk di kursi yang bersebrangan membuat Jongdae agak sedikit kecewa tetapi tidak masalah. Ingat pendekatan butuh kesabaran.
"Baek karena kita sudah menjadi teman rasanya aneh kalau memanggil nama dengan formal" langkah pertama jadikan hubungan kalian lebih santai.
"Tentu saja panggil aku Baekhyun saja tidak masalah" ah senyum indah itu lagi rasanya Jongdae jadi ingin berlama-lama bertamu sampai jam malam tiba lumayanlah masih ada satu jam lebih.
"Apa aku sudah mengatakannya kalau aku satu kamar dengan Kyungsoo" Baekhyun terlihat terkejut dan Jongdae menyimpulkan itu sebagai jawaban.
"Bagaimana denganmu Baek, kamarmu terlihat sepi. Dimana teman sekamarmu?" Jongdae menjulurkan lehernya melongok melalui pembatas rak buku yang menghubungkan dengan ranjang tidur di dalam sana.
"Aku tidak tau. Dia selalu pergi dan kembali tengah malam" Baekhyun mengatakan seperti itu seakan terjadi setiap hari padahal hidupnya baru dimulai dalam waktu dua hari saja dan rasanya sudah setahun ia mengenal tabiat lelaki tiang itu. Kenapa jadi membahas dia. Lupakan.
"Eh memangnya siapa nama teman kamarmu sampai berani melanggar peraturan asrama? Jongdae menatap perhatian wajah Baekhyun menanti jawaban. Siapakah laki-laki beruntung itu Baek? Semoga dia tidak lebih tampan dariku –khusyuk Jongdae pada doanya.
"Aku malas menyebut namanya"
"Tidak apa. Aku mengenal hampir seluruh nama siswa, guru dan staf di sekolah ini bahkan tukang kebun dan penjaga sekolah adalah temanku juga" aku Jongdae sedikit sombong. Langkah kedua buatlah dia merasa nyaman dengan lelucon dan perhatianmu.
"Kau lucu sekali Jongdae-ah, kuharap orang ini adalah salah satu teman baikmu juga" Baekhyun tertawa kecil di sela ucapannya.
Yes berhasil!
"Hehe –lalu siapa dia?"
Baekhyun membasahi kerongkongannya dengan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan Jongdae, seolah mengatakannya butuh waktu dan proses yang lama untuk menjamin hidupnya.
"Dia emb adalah Park–"
Namun belum sempat kalimat itu selesai sebuah bunyi ketukan pintu sebanyak tiga kali memotong pembicaraannya, menandakan tamu ketiga yang berkunjung dalam sehari ini di kamarnya. Dan ketika Baekhyun membuka pintu sesosok wanita cantik –ah tidak Baekhyun selalu salah sebut tetapi lelaki cantik berdiri sopan menyapanya dengan kepala menunduk dan dibalas oleh Baekhyun juga.
"Oh apa aku mengganggu?" ini suara Ren tamu terakhir –mungkin– yang baru saja mengetuk pintu kamarnya ketika melihat tamu lain duduk di ruang tamunya.
"Ren-ssi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jongdae terkejut dengan kedatangan salah satu siswa populer dengan keramahan dan kecantikannya.
"Apa kau mencari lelaki itu?" tanya Baekhyun memastikan.
Ren mengangguk. "Aku tidak melihatnya sama sekali setelah dia mengantarku ke kelas. Aku bertanya pada teman kelasnya kalau dia tidak memasuki ruang kelasnya sama sekali. Apa Chanyeol ada di dalam?" lihat nada kekhawatiran itu sedikit membuat Baekhyun iri karena lelaki kelebihan hormon itu bisa mendapat perhatian lebih dari orang sebaik Ren. Tetapi dia malah –menciumku sembarangan. Aigoo… jangan menguliti wajahmu menjadi merah Baek! Hentikan memikirkan perkara laknat itu.
"Sepertinya dia tidak kembali ke asrama"
"Begitu ya… aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi tidak di angkat-angkat. Aku takut terjadi apa-apa padanya"
Tenang saja, lelaki brengsek semacam Chanyeol tidak akan hangus meski terbakar api neraka sekalipun. Pangeran es yang kau khawatirkan wujud aslinya adalah seorang pangeran iblis.
"Kalau begitu aku pergi, maaf mengganggumu" ucap Ren merasa tidak enak, "Ya Jongdae-ssi ini sudah mau jam malam sebaiknya kau cepat kembali ke kamarmu jika tidak ingin kulaporkan" ancam Ren sedikit menggoda lalu berjalan mendahului.
"Tu-tunggu sebentar –Baek apa teman sekamarmu a-adalah Park Chanyeol?" kumohon jawab tidak. Ayo. tidak. Tidak.
"Mau bilang tidak tetap kenyataannya adalah iya, Park Chanyeol pangeran sekolah ini adalah roomanteku" jawab Baekhyun agak setengah malas.
Jongdae mendadak lumpuh pada semua ujung syarafnya.
"Jongdae apa kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun.
Harapanku sirna untuk mendapatkanmu Baekhyun, jika kau memang sebuah lukisan mungkin bukan aku yang menorehkan tinta pada kanvasnya tetapi orang beruntung itulah. Dan sialnya dia bukan GAY.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Sorot lampu dari senter patroli malam itu membatasi pergerakan Chanyeol ketika akan memanjat dinding. Tiga lantai. Dan dia harus memaksimalkan tenaganya yang sempat terkuras akibat perdebatan tidak penting bersama Ibunya saat di rumahnya ketika ia ketahuan membolos. Chanyeol sangat membenci aturan tetapi Ibunya selalu punya cara menggerakannya menjadi boneka hidup di bawah kuasanya.
Tentang sosok Ayah, orang yang paling di benci Ibunya. Meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan lebih memilih pekerjaan di bandingkan istri dan anaknya. Orang tua itu mungkin lupa cara membangun keluarga dengan kasih sayang tanpa perlu menghilang hanya untuk kembali memamerkan harta kekayaannya.
Chanyeol benci ketika setiap ulang tahun, ayahnya akan membelikan kado mahal yang tidak terhitung berapa jumlah uang yang dikeluarkannya hanya untuk mengganti perhatian, padahal hanya pelukan secara langsung yang selalu diinginkannya.
Chanyeol tidak suka ketika ayahnya mengenalkan dirinya penuh rasa bangga sebagai pewaris utama setiap aset gedung yang menjulang tinggi di hadapan relasi kerjanya, sehingga mata bodoh mereka terpedaya pada tipuan buatan hubungan harmonis antara ayah–anak.
Dan Chanyeol muak melihat kedua orang tuanya selalu memperebutkannya, melontarkan segala rayuan sejuta kebahagian membuatnya menjadi remaja nakal bercetak master di desahan setiap wanita pelacur di luaran sana.
Emosinya mudah berkobar. Tak terkendali dan merusak kesadarannya.
Chanyeol menghindari semuanya termasuk orang-orang terdekatnya. Sahabatnya yang menjadi manusia memalukan dengan ketertarikan seksualnyapun tidak luput dari keegoisannya. Tumbang dan tak ada satupun orang yang benar-benar berada di sisinya keculi satu.
Ren.
Malaikat baik yang selalu mengerti keadaannya. Ah Chanyeol jadi merasa bersalah mengabaikan telponnya hari ini.
Bersyukurlah jendela kamarnya tidak tertutup sehingga memudahkannya untuk masuk. Tetapi baru sampai pada panjatan di lantai 2 sebuah tangan mungil akan menutup jendela. Shit! pasti si pendek itu sengaja melakukannya.
Mengandalkan ketangkasan tubuhnya Chanyeol langsung melompat menggapai pinggiran jendela dan hampir saja di menjerit keras kala jepitan kayu itu melukai punggung tangan kanannya yang berpegangan. Kalau sampai ketauan bisa gawat kan.
Pekikan kecil tertahannya mampu menyadarkan seorang lelaki berambut coklat gelap itu ikut terkejut dan melangkah mundur ketika dua buah tangan menggelantung itu perlahan menampakkan seluruh bagian tubuhnya. Komputer pada meja belajar nyaris tertendang kaki besar seseorang itu.
Kalau bukan suara berat yang khas pada umpatan familiar yang sering di dengarnya, saat ini alarm kebakaran sudah Baekhyun hancurkan untuk membasmi seorang penjahat yang berani menerobos masuk melalui jendela kamarnya.
"Park Chanyeol kau hampir membuatku terserang jantungan bodoh!"
Lelaki itu mendengus. "Kau malah membuat tanganku lecet pendek" tunjuk Chanyeol pada punggung tangannya yang berdarah.
"Itu salahmu tiba-tiba muncul. Kau tau kan fungsinya pintu untuk apa?"
"Membuatmu keluar dari kamar ini" balas Chanyeol acuh lalu melenggang pergi membuka lemari. Sedangkan Baekhyun sendiri masih menggeram kesal menahan amarah, namun matanya menjadi nyalang ketika Chanyeol mengobrak-abrik isi lemarinya dan mengambil beberapa alat pembersihnya seperti pelembab, baby oil dan parfume aroma buah-buahan.
"Dengar dan Lihat ini.. Aku sangat membenci aroma kekanakanmu jadi semua ini harus di musnahkan" segampang itu dia berbicara maka seringan itu pula tangannya melempar satu persatu benda itu memasuki tong sampah.
"YA! BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN HAH"
Baekhyun berjingkrak marah ingin menuju tempat sampah itu lalu memunguti barangnya kembali tetapi sebuah tangan menahan lengannya.
"Tenang saja aku membawa ganti yang lebih berkualitas dan mahal di banding milikmu yang memalukan itu pendek"
"BAJINGAN KAU! DASAR BRENGSEK! MENYEBALKAN! KEPARAT! AKU MEMBENCIMU! HKS.."
"BERANINYA KAU MENGATAKAN BARANG PEMBERIAN ORANG TUAKU HKS… SEBAGAI BAHAN EJEKANMU HAH, SIAPA KAU! KATAKAN! KAU BRENGSEK HIKS.."
Serasa melihat bintang berkeliaran di atas kepalanya, dunia menggelap seutuhnya.
Baekhyun terjatuh.
Lalu pingsan.
.
.
.
TBC
.
.
NGAPUNTEN INGKANG KATAH (maaf sebanyak-banyaknya) T..T *intinya mah hoax apapun yang dikatakan author satu ini jangan mudah percaya :v
Ini udah aku usahain chapternya lebih panjang lagi tp tkutnya malah membosankan. Huhu. Ceritanya gak jelas kan chingu iya aku tau cerca aku sepuas kalian, chanbaek penuh desah kalian pada mupeng kan ya hhhh
Yg brharap ada enceh di chap ini haduh maapkeun aing yg blum snggup melepas keperawanan dek baekkie di tangan om loey kkkk^^ tp udh kuganti sm nyolonya mas cahyo di kamar mandi smbil byangin Bh gk pkek BH wkwk dan utk tbc terakhir itu jujur aku merasa gk PD sma timingnya T,T) ahsyudahlah daku lelah.. nikmat gak nikmat yg pnting cb is real yosh!
Thanks for review,like and subscribe *ignore … demi apa aku selalu semangat baca komentar kalian lucu dan menggemaskan seperti anunya dek baekkie eh *plakkk gpp lah ya mesyum dikit kn fg bebas dari kesucian abadi *apadeh-_-
.
.
See you next chap.. ripiyu yaa aku penasaran sama tanggapan kalian sama jln cerita elek ini wkwk
Last word – I love you guys, keep loving exo-exol #5yearswithexo :*
Annyeong~ mumumumumu :*:*:*
