BACA CHAPTER SEBELUMNYA JIKA KALIAN LUPA DENGAN JALAN CERITANYA :))))))
JANGAN LUPA BACA NOTE PALING BAWAH YAA..
TERIMAKASIH.
.
.
Menerima adalah suatu perkara yang mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dijalani. Tidak semua orang mampu membuka diri;berkomunikasi dengan cepat layaknya kipas yang menyala dalam sekejap menyejukkan udara. Pikiran butuh berkompromi dalam memutuskan pilihan sedangkan hati akan jatuh terbawa perasaan ketika terbiasa mengenal kata perhatian.
Kebanyakan orang lebih memilih menolak daripada menerima. Mereka enggan bersikap ramah; peduli pada hal-hal yang bukan merupakan urusannya atau bahkan tidak menguntungkan bagi mereka malah terkesan membebani dan menjerumuskan.
Pada kenyataannya, mereka belum dewasa dalam menyikapi kesalahan;kekeliruan; ataupun penyimpangan yang terjadi.
Tapi akan ada hari yang baik untuk Chanyeol bisa mengerti dan memahami bahwa cinta bisa menukar apa saja yang dia inginkan. Dia butuhkan dan harapkan selama ini dimana kekuasaan dan kekayaan selalu mengeruk lubang hitam di hatinya semakin lebar.
Lihat saja siapa nanti yang akan berlutut mengemis cinta.
Park Chanyeol dengan sifat angkuhnya yang suka menghina ataukah Byun Baekhyun dengan kepercayaan dirinya mampu beradaptasi pada lingkungan ekstrim di sekolahnya.
Let's take a look and bet for conviction… (kekekeke)
.
.
.
"The Halved"
Main Cast :
[Park Chanyeol x Byun Baekhyun]
Rate : M
Yaoi, Boys Love, Boy x Boy
OOC, Typo(s), Not According to EYD, etc.
.
^^Happy Reading^^
.
.
.
Chapter 6
Julukan dingin;keras;semenanya;acuh dan tak terjangkau adalah bentuk palsu dari watak seorang Park Chanyeol di setiap pertemuannya dengan orang lain. Ibarat bungkusan kado mahal yang berlapis emas dan hiasan mewah, Chanyeol mengcovernya dengan standart tinggi untuk menipu seluruh pandangan mata agar percaya bahwa dia satu-satunya contoh pejantan yang layak di kagumi.
Orang-orang tidak sadar dan terus berlanjut masuk kedalam perangkap sang pangeran iblis, terpikat lagi dan lagi tak tentu arah.
.
.
.
#THE HALVED#
.
.
.
Gelenyar rasa pusing menekan ujung dahinya yang berdenyut sakit namun tidak sampai membuat ia harus pingsan untuk kedua kalinya, lagipula saat ini Baekhyum merasa perlahan pening itu kian menghilang.
"Baek– bukalah matamu" sebuah suara familiar membangkitkan ketegangan pada syaraf motoriknya untuk cepat bergerak. Dan dalam hitungan detik Baekhyun berjingkat dari tidurnya. Kepalanya secara antusias menoleh ke sumber suara yang membuat tubuhnya meremang untuk beberapa alasan. Lalu pandangannya membola dari biasanya ketika sepasang mata almond menariknya untuk terdiam kaku.
"Ada apa dengan ekspresimu?" suara berat itu memulai lagi, "Jangan melihatku seolah aku adalah superhero. Aku kekasihmu sekarang" lanjutnya dengan lelucon yang tidak Baekhyun pahami.
Suasana berubah hening.
Masih saling diam menatap satu sama lain.
"Hey Baek bicaralah, aku tidak bisa membaca tatapanmu jika kau tidak menyuarakan pikiranmu" bibir tebal itu berbicara terus mencoba mempengaruhi kesadaran Baekhyun yang masih terdiam menatapnya. Kemudian helaan napas mengisi kesunyian setelah semenit menunggu hasil yang tak berubah.
"Maaf membawamu kembali bertemu denganku" ucap lelaki itu penuh penyesalan. "Aku tidak–"
"KAU JAHAT! AKU BENCI PADAMU!" Baekhyun berteriak kesal memukul bahu lebar itu dengan tangannya yang mengepal secara bertubi-tubi. Menghantam sosok yang membuat amarahnya terkuras beberapa waktu belakangan ini.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu, itu hanya sebuah elakan Baek. Percayalah" lelaki itu tersenyum senang sambil sedikit meringis, pada akhirnya Baekhyun mau membuka suara meski raganya menjadi ajang pukulan menyakitkan dari si kecil.
"Argk –menyebalkan!"
Lalu Baekhyun beringsut masuk kembali kedalam selimutnya setelah penjelasan singkat dari lelaki tinggi bertelinga lebar itu. Teriakan kesal itu membangkitkan kebingungan pada sosok yang telah kita ketahui sebagai pangeran es sekolah –Park Chanyeol.
Terlalu malas untuk menerka, Chanyeol ikut berbaring menyamping memeluk gundukan besar itu yang entah bermaksud apa sehingga terlihat seperti sebuah rajukan.
"Udara di dalam sana pengap dan sesak, tidak bagus untuk pertumbuhan tinggi badanmu Baek" ucap Chanyeol seraya menarik ujung selimut agar terbuka menampakkan kepala si kecil yang ternyata ikut berangsur turun menunduk mengejar lipatan kain lembut itu.
Namun yang terjadi malah sentakan pada tubuhnya sehingga Baekhyun tak berkutik untuk bergerak di dalam kurungan hangat itu. Wajahnya berhadapan langsung dengan sebidang dada longgar yang kira-kira muat untuknya bermain sepak bola menggunakan jari-jari tangannya.
Heol Baek! Kau juga punya sisi bidang pada tubuhmu. Jangan terjebak pada kesempurnaan yang bukan milikmu.
Tolong berhenti sebelum kalian tergila-gila, ketampanan bukan tonggak utama mencari kebahagiaan. Masih ada jalan lain;cara lain yang lebih manusiawi dan logistik dibandingkan bertekuk lutut di bawah kaki jelmaan dewa iblis itu.
Oh Baekhyun lelah meneriaki hatinya yang tak kunjung reda untuk bergejolak.
Emosinya sempat meledak-ledak mengalahkan letupan gunung berapi beberapa menit yang lalu. Lantas sekarang apa? kenapa mudah berubah hanya karena reaksi yang ditimbulkan sangat luar biasa, mengingat bagaimana tangan dan dekapan itu bisa memancarkan gelombang lain pada pembulu nadinya.
Perasaannya berasap ketika air menyiramnya entah darimana, api yang semula membesar kini hanya menyisakan ruang kosong untuk dijamah dan di tinggali. Intinya hati Baekhyun sangat sakit mendengar semua penghinaan Chanyeol malam ini namun harus padam ketika aroma citrus yang disusul harum woody yang sangat maskulin, mampu mendera kelenjar hypothalamus di daerah tulang belakang lehernya.
Oh sangat nyaman dan menenangkan…
"Kenapa kau datang lagi ke mimpiku" meskipun begitu Baekhyun tak sampai hati melontarkan segala kekesalannya pada pria lembut yang saat ini memeluknya.
Baiklah hanya untuk di dalam mimpi Baekhyun membiarkan hatinya memimpin. Only in dream not for real life! Note that!
Bukannya menjawab yang lebih tinggi justru terkekeh ringan menanggapi seruan beruntun pikiran-pikiran naif Baekhyun sambil membawa dekapannya semakin erat, dan Baekhyun terlihat pasrah mengenai tubuhnya yang mudah terombang-ambing terkena sihir dari paras bahagia itu.
"Baek kau tahu kenapa orang bisa memimpikan hal serupa berulang kali?"
Baekhyun menggeleng polos menaikkan wajahnya untuk bisa menatap sifat pangeran es yang langka saat ini. Chanyeol mengulas senyum melihat reaksi si kecil yang nampak berminat ingin tahu.
"Karena kau memikirkannya terlalu sering" ucap Chanyeol mengusap dahi berkerut Baekhyun perlahan dengan lembut, "Pada umumnya, mimpi mencerminkan perasaan yang terkubur di dalam pikiran kita. Pikiran bawah sadar kita akan muncul dan memberikan gambaran lain dalam bentuk mimpi. Jadi sangat wajar jika akhir-akhir ini aku menghampiri mimpimu karena kau selalu memikirkanku" lanjutnya setelah berhasil mencubit gemas hidung mungil Baekhyun.
"Issh– itu tidak masuk akal" sangkal Baekhyun menepis jari yang mengganggu pernapasannya.
"Wae?"
"Bagaiman bisa kau mengatakan seolah aku sedang jatuh cinta" dengusnya tidak terima.
"Kapan aku mengatakan itu?"
"Perasaan terkubur –itu sama saja dengan kalimat aku memendam cin–" Baekhyun menghentikan ucapannya ketika ia baru menyadari jarak yang terlalu dekat pada bagian wajah keduanya. Baekhyun memundurkan kepalanya guna memberikan ruang untuk jantungnya eh tidak napasnya ah kurasa juga bukan tapi semunya yang berusaha dia sembunyikan. Damn!
"Kenapa tidak di lanjutkan?" tanya Chanyeol penasaran.
"Apanya?" mendadak Baekhyun hilang ingatan.
"Apa maksudmu yang apanya? Tentu saja kalimatmu tadi"
"Aku tidak tau apa yang kau maksud"
"Kau bilang kau mencintaiku" goda Chanyeol ketika melihat muka memerah itu.
"Aku tidak pernah mengatakan itu!" kekeuh Baekhyun memalingkan wajahnya membelakangi Chanyeol.
Ugkh~ dasar si tiang jemuran menyebalkan… kapan aku mengatakan itu, astagaa kenapa udara disini tiba-tiba panas sekali.
"Baek–"
"APA!" ketus Baekhyun masih membelakangi Chanyeol.
"Aku mencintaimu"
Baekhyun stagnan. Jantungnya mendadak ikut berhenti ketika mendengar kalimat skaral itu yang padahal entah keberapa kali keluar dari mulut si lelaki tinggi yang saat ini mulai membubuhkan kecupan kupu-kupu di sekitar leher dan bahunya yang terekspos.
"Aku tidak bercanda Baek"
Pernyataan itu sedikitnya mampu mengurangi kekesalan Baekhyun untuk menendang Chanyeol jatuh terjembab ke bawah kasur. Tidak peduli tulus atau tidak Baekhyun benci harus mempercayai semua kata-kata semanis madu dan selembut kapas itu.
"Mulutmu memang butuh di kunci agar tidak bicara sembarangan seperti itu" badannya berbalik arah menatap tajam wajah Chanyeol yang masih terus tersenyum di balik bekapan telapak tangannya. Senyuman sinting yang memikat, aww… Baek berhenti mengamati itu!
'Slurp' 'Slurp'
Kemudian sebuah bunyi yang menjijikan muncul dari kedua bibir tebal yang tersumbat tangan mungil Baekhyun, menghasilkan tatapan luar biasa terkejut darinya.
Chanyeol menjilat telapak tangannya dua kali. Shit!
Secepat kilat Baekhyun melepaskan bekapan tangannya lalu mengusap bekas saliva itu pada bajunya. Memang dia pikir tanganku eskrim apa. Dasar lelaki gila!
"Sejujurnya aku lebih suka bibirmu yang menguncinya Baek, tapi rasanya manis juga seperti eskrim" ucap Chanyeol menatap geli ekspresi Baekhyun seperti orang dongkol.
Brengsek aku lupa dia bisa membaca pikiranku. Baekhyun menutupi wajahnya yang memerah lagi dengan kedua tangannya.
"Bagaimana? Masih mengelak untuk memujiku"
"Dawsar how hanyebalhan!" lengkingan suara Baekhyun terdengar sangat lucu akibat teredam telapak tangannya sendiri membuat Chanyeol menggeleng frustasi melihat tingkah imut itu.
"Baek aku ingin menciummu" Chanyeol mulai menggenggam kedua pergelangan tangan Baekhyun. Permintaan aneh itu terlalu mudah membuat dada Baekhyun berdetak tidak normal. Sangat berbahaya.
"Hish yepaskan, haku odak mau!" si kecil berusaha menolak dan gerakan memberontak itu tidak membuahkan hasil untuk Baekhyun agar bisa terlepas dari cengkraman Chanyeol malah semakin membuatnya gugup ketika wajahnya berhadapan langsung dengan pemilik suara bass yang saat ini menutup mata dengan bibir saling menempel.
Cekatan sekali.
Chanyeol mengecup bibirnya berkali-kali, memberikan rasa hangat di setiap sentuhannya. Ia tidak mampu berbuat banyak ketika tangannya masih dalam genggaman si telinga lebar, terlebih mulutnya yang terbungkam bersama mulut lain yang terasa memabukkan. Mata sipit itu tak lagi mengerjap seperti sebelumnya. Baekhyun akhirnya pasrah mengikuti alur perjalanan yang dimainkan dimana lumatan pada kedua belah bibir itu nampaknya sudah menjadi awal mula lenguhan sensitif pada mulutnya.
"Nghh..mmpph" suaranya sumbang di beberapa bagian saat bibir tebal itu menjamah tulang rahangnya turun hingga pangkal leher.
"Baek aku ingin menandaimu sekali lagi" bisik Chanyeol seduktif setelah terpikat dengan aroma Baekhyun yang sangat berbahaya di sekitar leher jenjang itu untuk kelangsungan hormon remajanya. Bibir panasnya menggelitiki daerah di belakang telinga Baekhyun menambah stimulun-stimulun berlebih pada syaraf si kecil.
Baekhyun menegang namun tak mengungkiri bahwa ia juga terpikat dengan aksi gesit bibir itu yang sekarang mulai mencumbui kulit lehernya. Hembusan napas lelaki itu terasa panas dan tersengal-sengal setiap kali mencuri udara diperpotongan lehernya, namun lebih dari itu Baekhyun bisa merasakan sesuatu yang tajam sekali lagi menancap di sana. Menghisapnya dalam mengenai tepat pada titik kejut syaraf sensitifnya seakan lelaki tinggi itu baru saja mendapatkan tambang emas berlimpah ruah hingga enggan melepaskannya barang sedetikpun.
"arghhhhh…"
Baekhyun mengerang panjang dengan kepala menengadah miring kekanan memberikan akses agar lelaki itu semakin menginvasi barang temuannya. Tubuhnya ikut menanggapi untuk membiarkan rasa sakit bercampur nikmat itu menyerang bagian kulit sekitarnya yang lain. Matanya terpejam erat, sedangkan paru-parunya menjadi sesak akibat sirkulasi udara tidak terkendali melalui lubang hidungnya, seperti bebatuan yang di hantam ombak di tepi pantai Baekhyun membutuhkan ruang untuk dirinya mampu meraup oksigen bersih di sela pertahanan rasa pusing yang kini mulai menggerogoti kepalanya kembali.
"Chan–yeolhh" suaranya terdengar lirih memanggil nama sang penjamah lehernya dengan susah payah bermaksud meminta ketersediaan waktu untuknya mengumpulkan napas. Tetapi Baekhyun tak mendapat jawaban apapun lalu ia berusaha melepaskan pandangannya. Sentuhan-sentuhan semula yang terasa begitu nyata telah menghilang digantikan dengan ruangan sunyi dengan keadaan yang sama.
Dahinya mengkerut membentuk pola berpikir ketika dia berhasil mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Apa aku sudah kembali ke dunia nyata?
"Akhirnya kau bangun juga"
Baekhyun menolehkan eksistensinya ke sumber suara yang kini terlihat sosok lelaki duduk santai di kursi dekat meja belajar sambil memegang sebuah buku.
Deg.
Suara yang sama namun dengan aura yang berbeda. Park Chanyeol si pangeran iblis.
"Sangat merepotkan, lain kali kalau kau ingin pingsan carilah pegangan jangan roboh tiba-tiba" ujar lelaki itu kembali tetap pada fokus membacanya.
Baekhyun memasamkan wajahnya dengan penuh warnah merah. Rasa kesal dan marah memang masih melingkupi dadanya. Mulutnya sangat gatal ingin mengumpati tepat di depan wajah tam –shit Baek, semua kaca bisa langsung retak jika kau masih mengulang kata itu– oke wajah sombong itu, tetapi ia cukup malas untuk berdebat dengan Chanyeol di pertengahan malam ini.
Lagipula mengingat kembali mimpinya barusan membuat Baekhyun ingin langsung menggantungkan diri di pohon besar belakang sekolahnya. Itu sangat… OH TIDAK! Bahkan dia rela mati sekarang jika itu benar-benar nyata.
Suasana cukup kondusif beberapa saat. Tidak ada tatapan maut atau perang mulut dari keduanya karena Baekhyun yang masih terdiam dengan seluruh pikiran terkutuknya sementara Chanyeol dengan kesibukan membacanya. Berbicara tentang buku yang dibaca lelaki itu sedikitnya mampu mengundang tanda tanya besar pada otak si kecil.
"Ternyata selain menyebalkan kau itu idiot ya" ucap Baekhyun mencemoh Chanyeol terang-terangan setelah tersadar dengan hal aneh yang dilakukan si ice prince di depan matanya. Sedangkan yang di sebut-sebut tetap acuh;terbilang tidak memperdulikan ocehan Baekhyun dan membalik lembaran buku secara pelan seakan tak terganggu sama sekali.
"Lihat bagaimana seorang yang di hormati di sekolah ini membaca buku dengan terbalik, huh menggelikan" Baekhyun meneruskan cemohannya dengan lebih memperjelas maksudnya. Kedua tangannya bersendekap menantikan rasa malu dari sikap konyol lelaki itu sehingga dia bisa puas untuk menertawakannya nanti namun dugaannya meleset bukannya gelagapan atau tersinggung, Chanyeol semakin santai membalik lembaran kedua dengan tubuh rileks bersandar pada kursi.
Beberapa detik tidak ada tanggapan, Baekhyun ingin melanjutkan ejekannya sebanyak mungkin tapi sayang Chanyeol lebih dulu mencuri start-nya.
"Kau pernah mendengar istilah Normal is Boring?" Chanyeol menutup bukunya lalu menaruhnya di atas meja begitu saja seolah sudah selesai dengan pekerjaannya dan kemudian meniru gerakan seperti Baekhyun lakukan sebelumnya pada kedua tangannya. "Ah tapi aku yakin otakmu tidak cukup pintar mengartikan itu"
WHAT THE HECK! Omong kosong apa yang dibicarakan lelaki ini.
Chanyeol menatap remeh wajah speechless itu. Dia mulai melanjutkan argumentasinya layaknya seorang filosofis ternama sambil membawa tongkat kecil pada salah satu tangannya dan berjalan menuruni tangga menuju sisi ranjang. Letak lantai area meja belajar tersusun lebih tinggi di banding lantai pada ranjang tidur mereka.
"Menjalankan rutinitas yang sama berulang-ulang tentu saja sangat membosankan, untuk itu orang kreatif cenderung melakukan aktifitas berubah-ubah di luar kebiasaannya" Chanyeol berdiri di samping tempat tidur Baekhyun dengan pandangan si kecil yang menatap datar ke arahnya. Laki-laki tinggi itu tersenyum miring mencondongkan wajahnya tepat dihadapan Baekhyun, "Contohnya seperti yang kulakukan tadi dan sekarang ini"
Cup–
Sepasang mata sipit itu terbelalak lebar. Wajahnya yang semula sedatar papan menjadi semerah tomat busuk, sungguh perubahan di luar akal sehatnya. Kejadian itu sangat tidak terduga dan secepat sekali tepukan tangan. Lelaki itu mencium bibirnya, lebih tepatnya lagi mencium ibu jari Chanyeol sendiri yang menekan belah bibirnya. Sialan ini sama saja penghinaan baginya.
Seusai menjaga jarak dari si kecil, Chanyeol melanjutkan ucapannya dengan tersenyum miring menatap ekspresi itu, " –menjadi tidak normal biasanya kulakukan di saat kau berada di sekitarku Byun Baekhyun. Ingatlah itu"
"Oh dan aku masih benci aroma kekanakanmu jadi jauhkan itu dariku jika tidak ingin aku membuang barangmu."
"KAU–BRENGSEK!" Baekhyun sudah melayangkan tinjunya namun berhasil di tangkap Chanyeol dengan mudah.
Chanyeol mengulas smirk andalannya ketika melihat tatapan berapi dari kepala si pendek yang mulai mengepulkan uap panas di atasnya. Dia merasa menang. Chanyeol melepaskan cengkraman tangannya.
"Segera tinggalkan kamar ini kalau ingin berakhir menyerah atau aku akan semakin membuatmu jatuh padaku" kemudian sebuah suara tawa menggema terdengar, dan pria tinggi itu berangsur pergi menuju pintu keluar setelah sebelumnya meninggalkan pesan terakhir pada Baekhyun.
"Selamat menghadapi takdirmu Byun Baekhyun" lalu pintu terbuka dan tertutup kembali menandakan si pelaku kejahatan berakhir kabur dengan kemenangan dan kepuasan.
"ARGKKKKK PARK JAHANAM CHANYEOL AKU PASTI AKAN MENGALAHKANMU!" teriak Baekhyun kencang sekali tanpa peduli itu akan mengganggu tetangga kamarnya karena sumpah demi apa jam 1 malam adalah waktu dimana orang seharusnya tidur terlelap dengan nyaman tapi memiliki teman sekamar semacam iblis bertelinga lebar itu membuat Baekhyun harus menguras tenaga hanya sekedar memaki dan mengumpat di setiap ucapannya.
Lihat saja Park..
Kau akan bertekuk lutut padaku.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Keesokan paginya…
Seperti biasa semenjak sapaan di pagi yang belum terlalu cocok untuk ukuran siswa berangkat sekolah, Kyungsoo, Baekhyun dan bertambah satu jumlah personilnya yang baru ia ketahui bernama Luhan –menurut Baekhyun namanya aneh seperti nama ikan ternyata dia salah sosok itu terlihat tidak ada bedanya dengan binatang yang suka berlari kencang bertanduk bercabang milik santa claus, rusa jantan kebetinaan.
Mereka bertiga mulai sekarang akan berangkat sekolah bersama-sama. Peraturan final Kyungsoo. Huh selalu seenaknya.
Jadi dia Luhan, lelaki berdarah China pindahan pada semester kedua saat kelas sepuluh. Dia sama seperti Baekhyun masih baru juga namun bedanya Luhan sejak awal memang seorang Gay dan terbiasa dengan tingkah laku siswa di sekolah ini sedangkan bagi Baekhyun dia selalu menatap waspada dan kadang ketakutan sendiri melihat tatapan-tatapan lapar siswa dominan terhadapnya yang kalau boleh Baekhyun berspekulasi sebenarnya si kecil merasa dia cukup berpotensi mejadi seme.
"pppfftt –bwahahaha" lihat saja Kyungsoo pasti menertawakan pikirannya, menyebalkan.
"Kami tidak bermaksud menghinamu, tapi jujur saja kau itu manis dan juga yeah –cantik. Tapi kantung mata ini sangat mengganggu. Apa kau tidak tidur semalam?" ini suara Luhan, lelaki ini masih menunjukkan sikap sopannya pada Baekhyun sebagai bentuk rasa khawatir entah untuk nanti tapi biarlah saat ini dirinya sedang kesal karena menjadi bahan ledekan kedua embh–sahabatnya.
Baekhyun membuka pintu kamarnya ketika suara Kyungsoo memanggilnya berkali-kali dengan ketukan keras seperti penagih hutang. Berisik sekali.
Ketiga sahabat baru itu berkumpul pagi sekali di kamar Baekhyun dengan alasan Kyungsoo yang sudah tidak bisa membendung rasa rindu dan khawatir pada keadaan sebelumnya. Padahal Baekhyun tahu betul lelaki burung hantu itu bermaksud memastikan kehadiran pangeran sekolah yang sangat di kaguminya itu. Kuharap kau cepat sadar dengan kebodohanmu kyungsoo-ah. Doa Baekhyun dalam hatinya. Dan lihat senyum semangat seperti anak TK menghilang mendadak ketika tak mendapati buruannya, Baekhyun bersorak bahagia dalam hatinya menatap wajah lesu itu tapi sayang dirinya harus bersiap menjadi bahan bully setelahnya. Sial.
Luhan mengatakan dia pertama kali bertemu dengannya saat kejadian supranatural miss Hyuna yang dengan cepat menyembuhkan kesadarannya –sampai sekarangpun Kyungsoo menganggap Baekhyun saat itu sedang kerasukan. Astaga dia benar-benar gila bukan.
Mereka bertiga cepat akrab hanya dalam hitungan detik karena pada dasarnya kepribadian mereka satu arah;sejalur dan sama. Ibarat membeli celana dalam bermerek dengan harga, ukuran dan model berbeda pada dasarnya memiliki kegunaan yang sama yaitu menutupi belalai kecil mereka. Begitulah tiga sahabat yang baru di bentuk kemarin sore serasa sudah belasan tahun lamanya.
"Aku tidak bisa tidur. Chanyeol mengusik ketenanganku semalam" ungkap Baekhyun sedikit ambigu menjelaskan perkara matanya. Setelah kepergian pangeran sekolah itu –yang tidak peduli kemana dia tidur itu bukan urusannya– Baekhyun tidak bisa menutup matanya kembali dan terus terngiang dengan segala ancaman Chanyeol sehingga membuatnya harus terjaga hanya untuk memikirkan cara mengalahkan lelaki tiang itu.
"Memangnya berapa ronde yang kalian lakukan sehingga kau tampak kelelahan Baek?" Kyungsoo terkekeh geli yang lagi-lagi menyuarakan pikiran gilanya. Dia tidak bodoh mengartikan pertanyaan menjurus itu. Shit, rasanya Baekhyun ingin memenggal kepala patung liberty saat ini juga. Kyungsoo berulah sangat menjengkelkan sejak kemarin malam.
"Kau pikir aku lelaki macam apa (Brengsek)! Aku masih sehat untuk merelakan tubuhku di jamah orang lain terlebih si lelaki tiang itu" geram Baekhyun menahan kesalnya segera memasukkan kedua kaki berkaosnya ke dalam sepatu jika tidak dipastikan benda ber-alas keras itu sudah bersarang pada mulut Kyungsoo.
Ingat Baekhyun, jaga sikapmu –suara Ayahnya menjadi patokan untuk tidak bertindak anarkis pada orang lain iya kecuali satu orang yang sudah masuk garis merah besar tebalnya. Park Jahanam Chanyeol. Karena dia memang iblis akan lebih bagus menyisipkan tempat asalnya di tengah namanya. Baekhyun terlihat senang dengan penistaan baru itu.
Ya dewa kematian, bolehkan sekalian Baekhyun menulis nama jelek itu pada selembar buku Death Note? –harapan besarnya.
Dan kekehan Luhan menyahut setelah mendengar ucapan Baekhyun.
"Lalu apa itu tanda merah di bawah rahang sebelah kirimu aku pikir nyamuk tidak bisa menggigit menggunakan gigi;mereka hanya menghisap melalui bagian mulutnya yang membentuk probosis panjang untuk menembus kulit" jelas Luhan menuntut.
Baekhyun menatap bingung mendengar perkataan Luhan. Baekhyun akui lelaki cantik itu memang pintar dengan segala penguasaan bidang ilmunya, bahkan nilai 99 lebih sempurna dibanding seratus ketika pertama kali dia melihat senyum berbasis kualitas tinggi itu. Pengamatan Baekhyun sangat tajam dalam hal menilai, mungkin itu bisa menjadi keuntungan lain dalam karirnya nanti sebagai selebriti terkenal memahami orang-orang baru. Dan sekarang pikirannya hampir berkeliaran jika tidak berfokus pada sahabat barunya itu.
Mata Luhan indah bersinar terang nampak lekat dengan jenis rusa Asia ber-spesies langka. Baekhyun tidak tahu orang Cina lainnya seperti apa tapi Luhan mencetak kekaguman kedua di mata Baekhyun setelah Ren tentunya. Dia sangat setuju ketika Kyungsoo mengatakan Luhan menjadi ulzzang uke pertama di sekolahnya.
Ah pantas saja seseorang yang pernah mengganggunya di toilet menyebut nama Luhan cantik itu tidak sepenuhnya gurauan belaka.
"Apa ini!" Baekhyun memekik heboh mengusap tanda merah di sekitar bawah rahang kirinya ketika berdiri di depan cermin lemarinya setelah Luhan menyuruhnya memeriksa sendiri menggunakan dagunya. Tanda itu tidak terlalu besar namun cukup pekat untuk di saksikan sebagai ajang tontonan mata siswa lain nantinya. Kesialan apalagi yang menimpa hari Baekhyun kali ini. Ohhh…
"Itu kissmark Baekhun-ah kau ini tidak usah pura-pura bodoh hanya untuk mengelabui kita karena percuma saja menutupinya kau sudah tertangkap basah berbuat sesuatu dengan Chanyeol huwaaa– Luhan ternyata pangeran sekolah kita sudah tidak normal karena Baekhyun"
Hell yeah! –apa maksud lelaki bulat ini. Kissmark? Baekhyun mengingat kembali kapan ia pernah membiarkan Chanyeol menjamahnya setelah kejadian di kamar mandi waktu itu dan memorinya berhasil menyentuh sistem penyengat uap panas di sekitar wajahnya. Warna kulitnya mengelupas merah ketika mengingat mimpinya dan berubah semakin matang dengan perlakuan Chanyeol pada bibirnya petang tadi. Bajingan memang pria itu menindas harga dirinya lihat saja nanti. Dari semua itu Baekhyun membuktikan tidak ada yang salah, tidak mungkin kan mimpinya berubah menjadi nyata. SANGAT TIDAK MUNGKIN.
Lalu apa?
"Tidak apa-apa Baek kau bisa menggunakan syal untuk menutupinya seperti yang kulakukan. Lihat ini pertengahan musim gugur tidak aneh jika menggunakannya" ucap Luhan memberi solusi.
Selamatlah kau tidak akan di anggap manusia dengan style aneh di sekolahmu nanti Baek.
"Tapi kau harus janji menceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi benarkan Kyung" lanjut Luhan menyeringai setelahnya.
Sialan.
"Benar kau tidak boleh menyembunyikan apapun kesenanganmu dengan Chanyeol dari kami itu bersifat illegal arasseo!"
Bangsat! Sebenarnya informasi apa yang ingin mereka ketahui dari Baekhyun sedangkan dia sendiri dalam situasi siaga tiga selama berdekatan dengan Chanyeol. Sahabat berkedok dispact hanya mencari keuntungan darinya. Oh God –untung mereka uke.
"Hahaha, tenang saja Baek kami tidak akan menjual informasi hubungan kalian pada publik asal kau membaginya hanya dengan kami" kata Luhan seakan tahu dengan kekhawatiran Baekhyun. Heol. Pemerasan.
"Informasi seperti berapa ukuran junior Chanyeol berapa lama dia bertahan di atas ranjang dan berapa kali ejakulasi yang dilakukannya" dan kali ini perkataan Kyungsoo lebih ganas lagi dengan segala pikiran kotornya.
What the fuck friend!
Baekhyun menatap terkejut wajah polos dengan mata bulat jernih penuh tipuan lugu di dalamnya. Sudah di katakan sebelumnya bukan kalau Baekhyun cukup pandai menilai orang tapi apa ini. He don't understand this fucking situasion.
Sepertinya Baekhyun memang harus terbiasa dengan keadaan tidak waras kedua sahabatnya oh tidak, mungkin lingkungan barunya juga.
Baekhyun ingin menjedotkan dahinya melihat cekikikan Kyungsoo yang merasa puas dengan kefrustasiannya.
"Mulutmu jalang sekali Kyungsoo-ah berbanding terbalik dengan wajah –oh Damn! Aku benar-benar tertipu tampang polos keparatmu" umpat Baekhyun yang terlanjur kesal dengan kepura-puraan Kyungsoo, bila kita telisik kembali Kyungsoo pernah meminta maaf dengan wajah merasa bersalah dan menangis sekali hanya karena penolakan Baekhyun, terlihat childish memang namun siapa sangka itu hanya topeng. Double shit.
"Well Baekhun-ah, akhirnya kau mengumpat juga setelah sekian lama menunjukkan wajah sucimu"
"Fuck you"
Si mata bulat itu tertawa puas. Lalu wajahnya berubah sendu secara tiba-tiba. "Tapi sungguh Baekhun-ah, untuk sebelumnya aku tidak menipumu atau mempermainkanmu karena sejujurnya aku sangat ingin dekat denganmu yang terlihat seperti siswa baik-baik. Kau sangat sopan dan menyenangkan. Jangan marah ya, Baek maafkan a-aku hiks–Baek kenapa kau diam saja"
Lihatlah sekarang mata jernih itu berkaca-kaca menampakkan kepolosan tanpa kebohongan di dalamnya. Sial kenapa bisa serumit itu memahami orang-orang aneh di kawasan sekolahnya. Baekhyun menghela napas berat. Dia cukup kesal dan marah akhir-akhir ini membuat pikirannya mudah lelah dan cepat emosi.
Sebenarnya dia tidak sampai hati membenci Kyungsoo karena tentu saja ia merasa menjadi paling munafik jika menolak permintaan maaf sahabatnya. Dia juga salah oke.
"Kenapa kau itu cengeng sekali sih Kyung, bagaimana mau menjadi seme jika seperti ini. Sudah jangan menangis aku tidak marah padamu" Baekhyun langsung memeluk sahabat pertamanya itu dengan erat sambil menepuk-nepuk pundak Kyungsoo menenangkan dan di balas kekehan serak bercampur ingus yang berusaha di cegah agar tidak menetes pada baju seragam Baekhyun.
"Leluconmu konyol sekali tetapi aku senang hihihi" Kyungsoo memamerkan cengirannya yang sangat menggemaskan bak anak lima tahunan membuat Baekhyun ingin mencubit pipi tembam itu sebelum tangan lembut yang lain mencegahnya dengan gelengan ngeri.
"Aku baru saja menyelamatkan hidupmu. Jangan pernah mencoba menyentuh area itu lagi" bisik Luhan menekan setiap kalimatnya lalu melepaskan pergelangan tangan Baekhyun membuat empunya bingung memikirkan perkataan Luhan barusan.
"Jadi Baekhyun aku akan membantu merias wajahmu yang kusut dan jelek itu menjadi lebih baik. Bagaimana menurutmu Kyung?"
"Mari membuatnya tampak mempesona" balas Kyungsoo semangat.
Baekhyun sendiri sudah tidak mampu mengelak ketika kedua lengannya di cekal dan di dudukkan secara paksa pada ujung ranjangnya. Luhan dan Kyungsoo sudah bersiap memoles wajahnya. Kyungsoo mengatur bagian mata sementara Luhan sibuk dengan kedua pipinya.
Biarkan.
Biarkan saja.
Biarkan saja mereka.
Dan setelah itu Baekhyun akan benar-benar membawa tombak saktinya ke sekolah jika saja wajahnya berubah mengerikan.
.
.
.
Beberapa menit menunggu dengan sabar disertai rasa gatal ingin menggaruk matanya, kedua sahabat Baekhyun akhirnya melepas cengkraman tangan mereka pada wajahnya..
"Tinggal kita olesi bibirnya dengan lipbalm agar terlihat lebih kenyal dan lembab" Luhan mengambil benda itu kemudian mengarahkan pada bibirnya.
Sebenarnya Baekhyun ingin memberontak atau menepis semua keahlian kedua sahabat-nya yang luar biasa aneh bisa menguasai bidang perempuan dalam menggunakan beberapa alat makeup untuk di jadikan sebagai ajang percobaan pada wajahnya.
Tapi Baekhyun sudah terlanjur basah pernah terkena cipratan dari hasil sebuah eyeliner penumbuh kepercayaan dirinya dan sebuah benda penambah aroma manis pada bibirnya. Dia cukup mengakui kedua benda itu sangat membuat Baekhyun ketagihan.
BUKAN. Jangan salah paham dulu.
Dia tetap seorang manusia berjenis lelaki yang normal dengan tuntutan hidup untuk tampil menarik setiap waktu. Tidak memungkiri Baekhyun akan membutuhkan benda semacam itu kelak ketika wajahnya tampil pada setiap sampul majalah terkenal atau bahkan iklan televisi.
Ya dia harus membiasakannya mulai sekarang.
"Selesai"
"WOW –BAEKHUN! Kau sangat cantik sekali"
"Aku jadi ingin mendominasimu Baek" ujar Luhan terang-terangan.
Baekhyun memutar bola matanya malas. Sabar Baekhyun kau harus terbiasa dengan tingkah gila kedua sahabatmu itu.
"Apa kalian selalu membawa makeup ke sekolah? Seperti perempuan saja" cibir Baekhyun padahal dalam hatinya digandrungi rasa penasaran namun menghina sahabatnya lebih dulu memang menyenangkan.
"Diam, jangan banyak bicara cepat sana berkaca" Kyungsoo mendorong bahu sempit itu menghadap lemari kaca di dalam kamar. Lalu matanya bergulir mengarah pada cermin lemarinya.
Butuh sedikit waktu bagi Baekhyun mengenali kontur wajahnya yang sedikit lebih…
–FEMINIM! Bangsat.
"Aku yakin Chanyeol akan langsung jatuh cinta padamu"
"Tidak dia pasti akan langsung menerkam Baekhyun" Kyungsoo menggoda Baekhyun dengan menaik turunkan alisnya di balas senyum cengengesan dari Luhan.
"Kau benar" lalu keduanya tertawa bersama.
Dasar sahabat tidak waras!
"Sial, Brengsek kalian. Wajahku jadi lebih mirip wanita jalang di luar sana bodoh"
Kejadian di toilet sekolah sehari yang lalu saja sudah membuat Baekhyun sedikit trauma mengingat dia hampir di jamah oleh salah satu geng sekolah karena Kyungsoo yang mendandani matanya hanya dengan memakai eyeliner. Dan berakhir Chanyeol yang menggigit lehernya, sekarang matanya terlihat semakin tajam dengan tambahan eye shadow berwarna burgundy –agak kemerahan. Makeup smokey eye itu membuat dirinya tampak seperti vampir seksi.
Ugkh.. bagaimana dia bisa mencapai sekolah dalam keadaan memalukan begitu.
"Aku tidak ingin sekolah dengan wajah seperti ini" wajahnya tertekuk lusuh menampilkan ekspresi seolah ingin menangis.
"Baek kau terlihat sempurna. Sungguh" ucap Luhan jujur mencoba meyakinkan.
Tapi ini berlebihan!
"Sudahlah tidak akan ada yang berani menghinamu. Kajja– berangkat aku tidak sabar memamerkan hasil karyaku" Kyungsoo langsung menggandeng lengan Baekhyun yang sempat terkulai lemas seolah tidak menghiraukan dan Luhan menyusul berjalan bersama di sisi kiri Baekhyun.
"Tunggu pakai syal-mu dulu" Luhan memperingati dan memakaikan syal yang dia pakai untuk digunakan pada Baekhyun.
Baekhyun memekik terkejut dengan matanya yang membelalak lebar setelah Luhan membenahi letak syal-nya yang melingkari lehernya karena demi Tuhan, bukan tidak terima diperlakukan layaknya anak kecil tapi melihat begitu banyak bercak merah dominan biru lebam hampir memenuhi seluruh kulit leher Luhan.
"Siapa yang melakukan hal mengerikan seperti itu Lu? Apa kau habis berkelahi atau kau sedang terkena penyakit kulit?"
Bukannya malah menjawab pertanyaannya, Kyungsoo dan Luhan tertawa sambil menggelengkan kepala seakan mencemoh kepolosan Baekhyun. Bangsat apa salahnya?
"Aku tidak memerlukan ini, lebih baik kau pakai saja" Baekhyun melepaskan lilitan syal itu lalu menyerahkan kepada Luhan kembali.
"Baekhyun aku tidak masalah" tolak Luhan.
"Tidak kau terlihat lebih membutuhkannya" ucap Baekhyun memaksa dan langsung berganti memakaikan syal itu kepada pemilik sebenarnya. Luhan memperhatikan Baekhyun dengan wajah memuja dan sedikit rona merah. Hell.
"Aku seperti melihat pasangan lesbi saja" desah Kyungsoo malas. Lalu secara bersamaan Luhan dan Baekhyun memukul kedua sisi pundaknya protes.
Kyungsoo sudah GILA. Dimana tampilan polos dengan tutur bahasa mengalahkan rapper terkenal tidak lagi tersemat pada ucapannya, ataukah hari ini obatnya memang sudah habis? Sial Baekhyun harus lebih mendalami karakter misterius sahabat burung hantunya ini.
"Ayo berangkat" ucap Baekhyun mendahului langkah kedua sahabatnya.
"Lihat siapa tadi yang merengek tidak ingin sekolah sekarang bahkan wajahnya secerah matahari" kata Kyungsoo jelas menyindir.
Mereka sudah keluar dari kamar Baekhyun dan mulai berjalan menuruni tangga. Suasana lorong asrama sendiri masih tampak sepi namun terdengar gaduh di setiap pintu kamar yang terlewati.
Baekhyun menghentikan langkahnya saat sudah di lantai dua hanya untuk menatap Kyungsoo dengan mengangkat sebelah alisnya. "Setidaknya aku tidak bermuka dua sepertimu, sekejap polos sekejap brengsek"
"Baekhun-ah kenapa kau masih membahas itu aku kan sudah meminta maaf apa aku harus bersujud dulu baru kau mau memaafkanku baiklah aku akan melakukannya"
Kyungsoo sudah akan berlutut tapi Baekhyun segera mencegahnya.
"Obatmu habis ya" Baekhyun mengatai Kyungsoo yang terlihat langsung cemberut, "Luhan apa yang terjadi padanya kenapa dia bisa aneh seperti ini" tanya Baekhyun dan di balas Luhan dengan hendikan bahu.
"Mungkin karena semalam Jongin menginap di kamarnya"
"Berhenti menyebut nama lelaki brengsek itu!"
"Memangnya ada apa dengan kamar Jongin sendiri" ucap Baekhyun menekan kata Jongin sengaja membuat Kyungsoo kesal.
"Itu karena Luhan dan Sehun bercinta di kamarnya!" jawab Kyungsoo dengan nada kesal yang kentara.
APAAA!
JADI– …
Seseorang tolong berikan Baekhyun tumpangan gratis menuju pluto saat ini juga.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
"Sun–sunbae, Chanyeol sunbae.." lirih suara pemuda lain hati-hati.
Seseorang terlihat sedang berusaha membangunkan si pangeran sekolah yang tertidur pulas di atas kasurnya dengan perasaan ragu;takut; dan tubuh bergetar menjadi satu.
"HM" balas suara itu dingin dengan gumaman serak syarat akan terganggu.
"Ma-maaf mengganggu tidur sunbae aku ha-hanya ingin mengatakan kalau su-sudah jam setengah tujuh pagi, jika sunbae masih ingin tidur disini a-aku akan meletakkan kuncinya di meja nakas. Aku permisi berangkat se-sekolah lebih dulu sunbae" pemuda itu pamit membungkuk pada sosok lain yang masih betah tengkurap di atas kasur miliknya dengan menyuarakan suaranya terbata ketika Chanyeol meliriknya melalui ekor matanya.
Petang tadi lelaki itu menggedor pintunya seperti orang mabuk, kemudian menguasai kamarnya seorang diri menyuruh si pemilik ruangan untuk menempati kamar lain.
Ingat Chanyeol bukan orang yang suka berbagi ruang. Dia membenci harus melihat orang lain masuk dalam kehidupan kesehariannya. Tidak berani melawan pemuda itu menuruti kemauan sang pangeran sekolah dan beranjak menuju kamar temannya sambil membawa kebutuhan sekolahnya agar ia tidak perlu mengganggu tidur Chanyeol nantinya.
"Bangunkan aku kalau kau nanti berangkat ke sekolah"
Jika tidak mengingat pesan itu, kakinya sudah menginjak ruang kelas tanpa rasa cemas dan takut harus berhadapan dengan makhluk terhormat di sekolahnya ini.
"Heuh –aku bukan orang tuamu, jangan bungkukan tubuhmu terlalu dalam lagi baik padaku ataupun siswa lain" Chanyeol mendengus berdiri di sisi ranjang lain dan merenggangkan tubuhnya untuk melemaskan ototnya lalu menoleh pada pemuda itu, "Lain kali kau tidak perlu merendahkan harga dirimu seperti itu karena mereka belum tentu lebih baik darimu" sebelum benar-benar beranjak pergi Chanyeol sempat berkata, "Ah kasurmu lumayan juga. Terimakasih wonwoo-ssi" lalu menghilang dibalik pintu.
Sementara orang yang di tinggalkan memegang dadanya erat merasa lemas akibat senyum tipis dari pangeran sekolah itu.
Dewi malam, masihkah aku bermimpi?
.
.
.
Langkah panjang itu terhenti di depan pintu saat sesuatu lain menghalangi jalannya. Sepasang mata bening dengan tatapan menuntut berhasil menghentikan gerakan Chanyeol ketika ingin keluar dari gedung asrama.
"Darimana saja kau seharian kemarin?" seorang lelaki nampak bersendekap marah terlihat dari ekspresi wajahnya yang dingin.
Chanyeol menatap lawan bicaranya acuh, kemudian sedikit menyingkirkan tubuh kecil itu untuk meminta jalan. Ia melangkah melewatinya tanpa menoleh ketika sebelumnya dia berhenti sebentar sambil mengatakan "Sementara ini jangan menggangguku"
"Park Chanyeol! YAK–" namun teriakannya tetap tak menghentikan langkah kaki itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, kenapa harus terulang lagi" gumam Ren sendu melihat punggung lebar itu berjalan semakin jauh.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Pagi hari ini nampaknya sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Sekumpulan siswa laki-laki dari berbagai tingkatan berkumpul di depan sebuah ruang kelas 11-7, seakan mengantri untuk melihat sesuatu yang menakjubkan. Mereka bahkan rela terus-terusan berjinjit dan menegakkan lehernya tinggi hanya agar tidak melewatkan sedetikpun keindahan tersebut.
Sementara di dalam sana tiga sesosok manusia yang tergolong berbadan pendek tengah berbincang santai. Satu diantaranya sesekali berusaha menyembunyikan wajahnya menggunakan buku, cara terampuh yang pernah ia gunakan sebelumnya.
"Berhentilah melakukan hal yang percuma Baek" Luhan menarik buku dari tangan Baekhyun, seseorang yang dari tadi selalu sibuk sendiri dengan usahanya. Wajahnya terekspos tiba-tiba menimbulkan seruan heboh dari para lelaki di luar sana yang sedang asyik memperhatikan sejak tadi.
Baekhyun melototkan wajahnya kearah Luhan sekilas kemudian terburu menutupinya kembali dengan kedua tangannya.
"Kalian sangat menyebalkan! Tahu begitu aku memakai kacamata hitam saja sekalian biar seperti artis"
Kyungsoo mendengus geli mendengar celotehan Baekhyun yang terdengar lucu. "Biarkan dunia melihatmu baekhun-ah biar mereka tahu oh dan aku berharap si pangeran sekolah itu berada disini juga memperhatikanmu" ucapnya diakhiri dengan sebuah kekehan yang membuat Baekhyun jengah.
Sejak kapan topik tentang si 'jahanam' selalu keluar dari mulut Kyungsoo. Baekhyun muak.
Namun suara berisik di luar sana mengalihkan fokus obrolan mereka, ketika seorang siswa membuka pintu ruang kelas dengan gaduh.
"Lihat siapa yang datang, kupikir pangeranmu menjemput lebih dulu Kyung" goda Luhan sambil memandang sahabat burung hantunya dengan kedua alisnya naik turun.
Baekhyun mengintip lewat sela jarinya dan tersenyum senang mengetahui bahwa tanpa harus membalas ucapan Kyungsoo sebelumnya, wajah sahabatnya sudah berubah kesal seketika.
"Wah tiga bidadara cantik rupanya sedang berkumpul disini. Pantas saja ruang kelasku jadi serasa di surga" senyuman tertampan yang pernah Jongin punya tersampir rapi di ujung bibirnya.
Namun semua akan menjadi percuma, jatuh tersungkur tak berdaya dengan sengatan tajam milik Kyungsoo yang selalu sukses membuat Jongin merengut kesal karna mendapat ejekan keras.
"Bidadara cantik kepalamu! Untuk apa kau ada disini, keluar sana?" usir Kyungsoo secara tidak terhormat.
"Ini ruang kelasku jika boleh aku menegaskannya baby soo" Jongin menyeringai ketika melihat semburat merah pada daging kenyal itu. Kyungsoo kepalang malu.
"Aku tahu bodoh, ck menyebalkan.. Ayo Lu kita keluar dari sini!" tanpa basa-basi lagi Kyungsoo menarik tangan lelaki cantik itu penuh paksa hingga si pemiliknya mengaduh dan mendumel keras karena hampir terjatuh.
"Ya! Tunggu jangan tinggalkan aku sendiri" sementara Baekhyun yang terkejut dengan kepergian kedua sahabatnya melangkah terburu sambil tetap menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya seperti helm.
Jongin yang baru menyadari kejadian cepat itu merasa bingung ketika semua siswa yang bergerumul disekitar kelasnya perlahan pergi seraya melayangkan tatapan sebal terhadapnya. "Hey ada apa dengan wajah kalian? Apa salahku?"
Dasar tidak peka.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Dari ujung jalan pintu masuk sekolah, sesuatu yang aneh terjadi.
Beberapa siswa yang kedapatan berangkat sedikit siang kerena tidak terlambat lagi harus rela menurunkan kebahagiannya ketika mereka melihat seorang pangeran sekolah berjalan santai di tengah kerumunan itu.
Mereka yang sadar diri langsung menepi memberikan jalan seakan takut sosok itu mengendus aroma mereka lalu menggeram jijik dan memenjarakan hidupmu dalam kuasanya. Bahkan sampai ada siswa yang sudah mencapai pintu terpaksa mundur untuk mempersilahkan sang pangeran masuk terlebih dulu.
Mengangguk hormat, mengagumi si tampan yang dingin.
Sekolah memang tidak menganut sistem hierarki, tidak pula mengikuti budaya kolosal kerajaan. Namun lelaki dengan aura dominan yang berjalan sendirian tanpa ada si penjaga, dewi keselamatan –Ren– terlihat seperti seorang Mafioso berdarah dingin yang sanggup membuat banyak mata tersihir untuk mati tertembak saat itu juga.
Sangat berlebihan tapi itulah yang terjadi sekarang.
Tidak tau jantung sudah berdetak kencang kala langkah panjang kaki itu melewati mereka dengan sedikit pelan. Para pemuja lelaki yang berdiri sepanjang lorong sekolah berusaha menekan kedua paha mereka rapat saat angin sejuk berhembus mengenai tubuh tegap itu membawa aroma jantan yang terasa memabukkan.
Geraman tertahan dari beberapa submissive terdengar beradu merangsak masuk kedalam telinga lebar yang memerah pada ujungnya membuat sang pangeran menoleh tajam mencekam suasana.
Menjijikkan. Tatapan itu seharusnya melukai harga diri mereka alih-alih bersemu merah. Hell.
Chanyeol tidak habis fikir mereka bukan dari golongan bangsa werewolf ataupun hybrid, tapi kenapa era modern ini seolah menegaskan perbedaan antara Alpha, Omega, dan Beta dalam dunia homoseksual. Kalian bisa menyebutnya straight, gay, dan biseksual. Pihak uke atau seme.
Dia membencinya. Sangat membenci apapun istilahnya.
Tapi Chanyeol menyebut dirinya seorang dominant bukankah sama saja? –tolong abaikan ini.
Tangan berotot itu menurunkan tas jinjing di sebelah pundaknya dengan kasar. Matanya menatap datar satu persatu siswa yang masih terdiam entah ketakutan atau justru terpesona, Chanyeol sudah berubah muak.
Telunjuknya terangkat bergerak kedepan belakang, menunjuk seorang siswa untuk datang menghampirinya. Lelaki berparas manis dengan mata sipit itu terlihat kaku dan tidak menunjukkan protes terhadap perintah seenaknya dari seorang di hadapannya.
Semua pandangan tertuju pada salah satu lelaki beruntung itu. lalu tanpa peringatan si pangeran es melemparkan tas nya begitu saja dan di tangkap kaget oleh si penerima.
Sejauh ini dia adalah orang kedua yang terpilih untuk bisa dekat dengan si pangeran sekolah yang terkenal dingin itu secara kasarnya pesuruh. Menjadi keseratuspun lelaki bernama lengkap Yoo Kihyun tersebut akan tetap merasa bahagia. Sedangkan untuk yang terpilih sebelumnya adalah Jeon Wonwoo.
Lelaki itu sudah tertanda.
Secara otomatis dia menjadi pesuruh Chanyeol. Mendapat perlindungannya. Terhindar dari serangan bullying dari geng sekolah, menjadi pusat perhatian semua siswa yang cemburu kepadanya, lebih dari itu semua dia bisa berdekatan langsung dengan lelaki tinggi itu.
Park Chanyeol bukanlah berandal sekolah yang akan datang untuk mengacaukan kelas, tidur, berkelahi, lalu membully siswa lemah. Tidak. Bahkan dia menjauhi rokok dan narkoba. Mungkin alkohol adalah pengecualian ditambah player handal. Sosoknya hanya terkenal dingin dan ketus. Berlidah tajam dan berbibir seksi. Itu poin lain, namun yang terpenting dari segala pemujaan itu Chanyeol lelaki jantan yang akan melindungi miliknya.
Itulah mengapa semua orang menginginkannya. Tidak hanya tampan dan kaya. Dia si penyendiri dingin tanpa sentuhan. Jika kau bisa memilikinya maka dunia sudah tidak penting lagi.
Kihyun berjalan di belakang Chanyeol sambil tersenyum bahagia memikirkan semua nasib baiknya nanti. Membututi tuan barunya menuju ruang kelas hanya untuk membawakannya sebuah tas. Itu penghargaan dan semua siswa disana memandang iri.
Sangat gila bukan.
.
.
.
Sesampainya di depan kelas, seseorang berdiri elegan dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celananya menyender pada sisian pintu masuk mengusik penglihatan Chanyeol.
"Sedang apa kau di depan kelasku?" ini suara pertama yang dikeluarkan pagi hari ini oleh bibir seksi itu.
Menarik sekali. Sepertinya pertemuan mereka adalah harapan semua siswa disana yang melihat dengan mata terpana. Line up untuk wajah paling mempesona sedang berhadapan. Jika ini sekolah campuran para wanita sudah berbondong-bondong mengerumuni mereka. Memfoto dan memamerkannya di sosial media. Sayang gedung sekolah mereka terhalang tembok besar dengan kawat tajam.
"Kau bertanya karena berharap aku merindukanmu kan?" ucap sosok tinggi lain dengan wajah menyebalkan. Rahang tegas, dagu lancip dan Kulit putih pucatnya, tentu membuat kalian tidak asing lagi. Ya tentu saja. Oh Sehun, ulzzang seme di sekolah XOXO ini siapa yang tidak mengenalnya.
Chanyeol berdecih. Melihat sepupunya di pagi hari membuatnya kesal tiba-tiba. Teringat kejadian dimana ujung bibirnya terluka akibat pukulan gilanya.
"Aku senang kau tidak membolos lagi" kali ini Sehun berkata tulus.
Andai. Andai saja semua masih membaik seperti dulu.
"Berhenti mengurusiku, ucapanmu memuakkan" tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol si kepala batu baja. Menembusnya butuh waktu yang lama untuk bisa membuatnya mengerti.
Percakapan mereka menjadi tontonan seru untuk beberapa pihak, bahkan ada yang sampai mengintip lewat jendela untuk menyaksikannya.
"Kau membawa orang baru lagi." Sehun mengabaikan ucapan kasar sepupunya dan beralih melirik siswa di belakang Chanyeol yang merunduk sambil memegangi tasnya. "Chanyeol tidak bisahkah kau–"
"Sehun!" tiba-tiba suara lain datang menyela dan merusak kerumunan. Seorang lelaki cantik yang sedari tadi di tunggu kedatangannya langsung memeluk tubuh tinggi yang bersandar pada daun pintu kelasnya.
Mereka saling berpelukan tanpa menghiraukan tatapan berbeda dari semua orang yang melihat. Cemburu, iri, kagum, senang, kesal, hingga sampai ada teriakan dukungan. Yeah mereka adalah pasangan ulzzang pertama yg fenomenal. Untuk Chanyeol sendiri, dia lebih memilih masuk ke dalam kelasnya dengan perasaan yang tidak tergambarkan. Kihyun masih setia mengekor dibelakangnya. Sebagai pesuruh dia dilarang ikut campur masalah tuannya. Cukup turuti perintahnya dan semua selesai tanpa ada yang terluka.
Sudah menjadi rahasia umum bagi penduduk sekolah atas pertikaian ketiga sahabat ini. Sehun, Jongin dan Chanyeol adalah para lelaki idaman bangsa. Bahkan mereka telah mendapat sertifikat nation's boyfriend di hati para wanita. Tidak hanya tampan dan sexy, ketiganya memiliki manner masing-masing dalam menunjukkan pesonanya. Nyatanya kelompok pemuda ini mengalami krisis pertemanan di awal tahun ajaran baru, menjadikan lelaki yang paling tinggi memilih keluar untuk membatasi diri. Tak ingin tercemar.
Sekolahnya bukan lagi tempat yang normal. Sesuatu yang mengatas-namakan cinta tak mengenal batas apapun, memberikan takdir mengerikan dalam hidupnya. Dia tak pernah percaya cinta namun kini ia harus terus berhadapan dengan itu.
Cinta pada sesama jenis bukankah itu menjijikan? Dimana kewarasanmu ketika lebih segar memandang sesuatu yang menonjol pada dada wanita daripada laki-laki. Kenikmatan ketika penismu mendapat remasan pada lubang vagina daripada lubang anus. Chanyeol selalu meyakinkan itu di dalam otaknya.
.
.
.
Sementara di luar sana, dua pasangan gay itu tidak terganggu sama sekali seolah mereka punya dunia romansa sendiri.
"Aku mencarimu kemana-mana, kau menghilang pagi sekali" ucap Sehun sambil membenahi poni Luhan yang berantakan.
"Kyungsoo menyeretku ke kamar Baekhyun, kau tahu dia orang yang sangat khawatiran kan" Jawaban Luhan nyatanya mampu membuat senyuman tipis yang terkenal menyayat hati wanita itu menjadi terkesan bodoh karena sebuah anggukan patuhnya.
"Lain kali kau harus membangunkanku. Sangat mengerikan ketika pertama kali membuka mata wajah Jongin yang terlihat" kekeh Sehun dengan suara mengadu yang terdengar lucu.
Luhan ikut tertawa sesaat sebelum sesuatu terlintas dalam ingatannya. Tubuhnya mendadak menjaga jarak dengan kekasihnya dengan gaya bersendekap. "Aku melihat kalian berbicara serius, apa kalian bertengkar lagi?" disela mengatakan itu kepala luhan seperti menoleh sedikit kedalam kelas memberitahukan kejelasan maksudnya tanpa benar-benar melihatnya –menunjuk lelaki yang saat ini tengah di bicarakan membaca buku dengan tenang.
"Kami hanya saling menyapa Lu, tidak perlu curiga begitu. Kau membuatku seperti penjahat" jawab Sehun sedikit bercanda.
"Aku berharap pertemanan kalian kembali seperti dulu lagi" ucap Luhan sambil memainkan dasi seragam Sehun. Sementara pemiliknya tenggelam dalam pikiran lain, menerawang jauh kebelakang.
"–hun, Sehun! Ishh–kau mengacuhkanku" kesal Luhan mulai berniat meninggalkan kekasihnya yang terbengong tiba-tiba. Lelaki albino itu tersadar ketika panggilan terakhir yang sedikit melengking menyentaknya.
"Hey tunggu Lu, jangan masuk dulu–" tangan panjangnya berhasil menyergap lengan kurus Luhan sebelum pemiliknya merajuk seperti bayi. Itu akan semakin sulit untuk hidupnya kelak. "Aku minta maaf oke." lanjutnya segera dengan sebuah pengakuan salah. Dan tentunya selalu membawa senyum kemenangan bagi si cantik.
Tidak masalah bagi Sehun. Bersimpuh pun akan dia lakukan asal Luhannya bahagia.
Namun dia juga pantas tersinggung ketika tanpa sengaja matanya bersibobrok pada sebuah kain yang membelit leher kekasihnya. Terlihat nyaman dan hangat melingkupi bagian jenjang yang selama ini menjadi tempat bernaung hidung mancungnya. Sangat mengganggu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Luhan khawatir mengetahui tangan Sehun berada pada pundak kirinya.
"Melepaskan syal menyebalkan ini" jawab Sehun mulai menarik kain panjang tebal berbahan wol tersebut secara paksa.
"Tidak!" tapi Luhan mencegahnya cepat. Menepis tangan besar kekasihnya dengan cubitan keras lalu menghindar jauh sambil membenahi belitan syal yang hampir copot itu.
"Lepaskan kain itu, aku tidak suka kau memakainya"
"Aku tidak mau. Jangan membuatku malu Sehun" tolak Luhan setengah merengek.
Dugaan Sehun benar. Luhan berusaha menyembunyikan bekas hickeynya di dalam sana dan itu membuatnya mendengus tidak terima.
"Aku membuatnya dengan cinta. Bagaimana bisa kau tidak menghargainya?"
"Baekhyun mengataiku seperti terkena penyakit kulit. Kau membuatnya terlalu banyak Sehunie~ jangan memaksaku membukanya. Ini benar-benar memalukan" suaranya mengalun imut, bertingkah merayu guna mendapatkan kemauannya. Membujuk Sehun itu sangat mudah. Hanya perlu mengubah raut wajah sesedih atau selucu mungkin, manusia berkulit pucat itu tak ubahnya tubuh tanpa tengkorak. Leleh seperti lilin yang terbakar habis.
Sayang semua itu hanya berlaku pada Luhan seorang.
"Hahh–aku benci mengatakannya. Terus terang saja aku lebih suka kau memamerkannya agar semua orang tau kau milikku, termasuk Chanyeol. Aku iri melihat kalian sekelas– haisshhh–apalagi ruang kelas kita yang berjauhan membuatku frustasi tanpa melihatmu" jujur Sehun. Hal yang selama ini selalu ia pendam akhirnya terbuka.
Lelaki tampan itu tidak menepis rasa cemburunya terhadap sepupunya sendiri meskipun pengakuan Chanyeol sebagai straight sekalipun. Dia jatuh cinta pada rusa China tersebut dari sekali pandangan mata, bisa saja kan 'si tiang listrik' –julukan dari Baekhyun– itu ikut terpesona pada Luhannya. Kekasihnya itu memang cantik; jangan memungkirinya.
Senormal-normalnya orang kalau melihat sesuatu yang cantik apalagi indah pasti kepincut juga. Iya kan. Apalagi mereka berdua yang sekelas. Hampir setiap hari bertatap muka lebih sering daripada dirinya membuat Sehun selalu dilanda gelisah. Luhan dan Chanyeol adalah anak sains; 11-1. Sedangkan ia berada di urutan kelas terakhir 11-7. Jarak yang cukup jauh.
Bertemu hanya pada jam istirahat itupun jika Luhannya tidak sibuk. Mereka sering kali curi-curi waktu untuk bermesraan seperti saat ini. Seharusnya mereka berangkat sekolah bersama, tapi ia kalah cepat dengan si mata bulat. Kyungsoo selalu memonopoli kekasihnya dengan mudah.
Lain kali aku harus menyuruh Jongin merantainya di gunung Jiri.
Tetapi ketika melihat tanggapan Luhan dengan mulut terbuka kecil dan setengah melebarkan mata, Sehun tidak tahan untuk menarik lelaki cantik itu kedalam dekapannya.
"Astaga Luhan kenapa kau sangat menggemaskan sekali –hem" tanya Sehun di balas gelengan Luhan yang terkekeh kecil di dadanya sementara tangannya sudah bertengger manis mengitari pinggang kekasihnya.
Pasangan ini memang kadang tidak tau tempat. Bermesraan di depan kelas tanpa tau seseorang sejak tadi diam mengawasi dari jauh. Menunggu seberapa lama lagi duo kasmaran ini mengumbar cinta; bermain drama lengkap dengan pertengkaran dan berakhir pelukan. Sungguh menimbulkan kecemburuan sosial saja.
Waktu seolah tersegel di ruang berbeda menjadikan mereka tunarungu bahwa bel sekolah telah berbunyi 10 menit yang lalu, bahwa lorong sepi luput dari mata mereka yang saat ini saling memandang satu sama lain dengan senyuman kecil diantara keduanya.
Ketukan sepatu seseorang menggema; tetap tidak membuyarkan fokus mereka. Saat yang paling tinggi mulai mencondongkan kepalanya untuk menggapai benda lunak kesukaannya, sebuah tepukan keras lebih dulu menempel pada ujung bibirnya.
"Waktunya belajar bukan pacaran!" ungkap tiba-tiba seseorang dengan tubuh agak berisi dan berkumis cukup tebal.
Oh tidak itu Guru Han. Pecinta molekul dan senyawa lainnya dalam rumus kimia. Mengingatkan pada Luhan bahwa hari ini ada jadwal kuis mingguan. Sial dia belum belajar sama sekali.
"Awkh–awwh pak, sakit!" jeweran pada telinga kiri Sehun memberikan kesempatan Luhan mengambil langkah cepat memasuki ruang kelas tanpa peduli kekasihnya memanggil-manggil meminta pertolongan. Sehun waktunya kau harus berkorban untukku. Himne! –ungkap Luhan menyemangati dari jauh beserta kepalan tangannya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kelas itu.
"Lu–jangan tinggalkan aku" tangannya menggapai-gapai ingin meraih sesuatu namun tarikan di telinganya semakin kencang. "Sakit pak, Lepaskan aduh. Kuping saya bisa copot pak!" ringikan memohon itu akhirnya mendapatkan harapannya. Alat pendengarannya bisa bernapas lega meskipun warnanya sudah berubah merah pekat. Sehun hanya bisa menggosok-gosoknya dengan perlahan agar panasnya hilang.
Setidaknya ia beruntung mendapat jeweran di telinga daripada cubitan pada perutnya. Luhan pernah melakukannya dan itu sangat ganas.
"Oh Sehun, kembali ke ruang kelasmu sekarang–" perintah Guru Han dan hanya dibalas anggukan oleh Sehun. "–Ingat saya belum melepaskanmu, temui saya di ruang konseling setelah istirahat pertama." lanjut pria dewasa itu yang langsung mendapat tolehan terkejut dari Sehun.
"Saem tapi–"
"Tidak ada penolakan. Saya tidak suka ketika ada yang membolos di jam pelajaran saya" Sehun merengut mengetahui fakta itu. Salahkan saja punya jadwal di jam pertama –ingin rasanya ia melontarkan protesnya.
"–Ah dan jangan lupa bersama saudara kembarmu Kim Jongin"
What kembar?! Yang benar saja.
.
.
.
…(0 ᴥ 0)…
.
.
.
Seorang laki-laki berbadan pendek terlihat kebingungan mengitari sebuah lorong bangunan. Langkahnya terkadang dibuat maju namun lebih sering mundur. Dari pertama dia berlari hingga kini berdiri tegak di depan sebuah kolam renang indoor, Baekhyun menutupi kedua matanya seperti teropong menggunakan tangannya. Tanpa sadar membawanya memasuki gedung lain.
"Aish kemana perginya mereka sih?" gerutunya kesal.
Semenjak tadi kepalanya terus celingukan kemana-mana. Sepertinya dia tersesat. Mengingat kembali bagaimana ia bisa sampai disini adalah bertepatan dengan banyaknya siswa yang mengikutinya dari belakang. Tujuan awalnya hanya ingin mengejar kedua –emb sahabat terkutuknya yang tiba-tiba pergi meninggalkannya. Berakhir melarikan diri dari mereka yang berusaha mendekatinya. Make up sialan! Itu mungkin alasan utamanya.
"Mengapa sekolah ini sangat besar sekali~" Baekhyun menghela napas. Kakinya memutuskan untuk berhenti bergerak dan mengistirahatkannya ke area bangku sekitar kolam renang. Ya, dia memilih untuk masuk.
Jari-jarinya mengibas rambutnya yang sedikit berpeluh berlanjut menarik-narik baju seragam bagian depannya bermaksud menciptakan angin sejuk di dalam tubuhnya.
Pemandangan kolam yang biru dan tenang menghantarkan perasaan damai bagi Baekhyun. Sayangnya dia tidak bisa berenang. Kenyataan yang menyebalkan.
Ia baru pertama kali melihat tempat ini, karena Kyungsoo pernah menolak masuk ketika mengajaknya berkeliling dan sempat melarang dirinya datang ke tempat ini sendirian. Bagus ia baru ingat itu.
Jam pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul 8 lebih sepuluh menit, itu tandanya mata pelajaran telah di mulai beberapa menit yang lalu. Dan sekarang ia terjebak di sebuah ruangan luas ini sendirian. Baekhyun mulai memikirkan hal-hal yang menyeramkan. Kalian bisa mengatakan ia seorang paranoid itu tidak masalah karena memang benar.
Tungkainya perlahan mulai berdiri dari kursi. Sebelum ia melepaskan jurus berlari cepatnya, sebuah suara menyahut di belakangnya.
"Hai manis, kita bertemu lagi"
Deg~
"Wahh aku tidak menyangka kau akan datang sendiri kesini mencariku. Apa kau merindukanku?" ucap orang itu yang mulai berjalan mendekatinya.
Sial. Sial. Sial. Baekhyun kenal suara ini.
Jantungnya berdetum keras tiba-tiba. Baekhyun meneguk ludahnya kasar. Peluh yang sudah mengering muncul kembali ke permukaan kulitnya. Sosok itu kini telah berdiri tepat di hadapannya.
"Jadi ini kejutan yang kau berikan padaku" seringaian tampan dari lelaki itu cukup mampu membuat bulu kuduk Baekhyun merinding. Tubuh tegap tinggi hampir setara dengannya terpampang jelas melalui tato sekitar dadanya.
Dada? Oh yeah– itu terbentuk cukup bagus pada bagian perutnya juga. Baekhyun palingkan wajahmu. Shit, pikirkan hal lain yang lebih berguna Baek!
"Kau cukup berani datang menggodaku dengan wajah secantik ini" lelaki itu masih terus berbicara sedangkan yang di ajak hanya diam membisu menolehkan wajahnya ke direksi lain.
"Bos bukannya dia uke cantik di toilet waktu itu" ujar lelaki lain yang ternyata tidak hanya satu melainkan ada tiga lainnya yang sekarang berdiri mengelilingi Baekhyun. Sial sekali baginya.
"Wow wow wow – lihat, bibirnya juga sangat menggoda" tunjuk lelaki lainnya pada bibir Baekhyun namun ditepis seketika oleh pemiliknya dengan wajah geram. Bisakah geng kelompok ini waras sedikit. Baekhyun jijik mendengar kata cantik sejak tadi. Tidak ada seorang yang berjenis kelamin laki-laki itu cantik yang ada hanya tampan;maskulin; dan karismatik seperti dirinya sekarang. Yaa kecuali Luhan dan Ren tentunya.
"Sepertinya dia datang kesini mau menyerahkan diri bos" Lalu terdengar tawa bersamaan menggema memenuhi ruangan indoor disana.
Awalnya Baekhyun ketakutan tapi setelah mendengar tawa idiot geng sekolahnya –yang hampir membullinya di toilet waktu itu, keberaniannya muncul. Tentunya kalian pasti tau siapa mereka. Walaupun mereka berempat bertelanjang dada dan Baekhyun hanya sendiri, hah tunggu mana ada pengeroyokan dengan pakaian seperti itu?
"Bos sebelum yang lain datang, kita harus menyeretnya ke tempat sepi" salah satu lelaki lain disana terlihat berbisik pada ketua mereka dan di balas senyuman miring pada ujung bibirnya.
Baekhyun yang melihatnya mempunyai firasat buruk. Kakinya perlahan ia seret mundur. Sayang sekali baru saja ia akan berbalik pergi kedua lengannya di cekal bersamaan dan membuatnya susah bergerak.
"Brengsek lepaskan aku!" umpat Baekhyun keras.
"Kurasa tidak nyaman jika kita berbicara di tempat seperti ini. Aku tau ruang yang bagus untuk kita bisa bersenang-senang" ucap Zico si ketua geng sekolah, yang wajahnya ingin sekali Baekhyun tendang dengan sepatu bergigi.
"Yak! Lepaskan aku –kubilang cepat lepaskan sebelum sesuatu yang keras melukai wajah kalian" (–jadi lebih baik kau pergi sebelum sesuatu yang keras melukai wajahmu) ancam Baekhyun tidak main-main. Ia teringat sebuah kalimat ini pernah membuat si ketua berandal itu mundur tanpa perlawanan. Ya semoga saja, meski terucap dari bibir yang berbeda.
"Coba saja manis, aku tidak sabar menantikan yang keras itu" ejek si pemimpin itu dengan kekehan geli "–tegang kali Bos" dan disauti kata kotor dari sekawannya. Memang ada yang lucu dari kata-katanya apa.
KEPARAT. Mereka pikir aku bercanda lihat saja.
Tanpa banya berpikir Baekhyun langsung menendang aset penting ketua geng tersebut yang berada pas di depannya.
Rasakan itu bajingan!
Tubuh itu langsung ambruk seketika sambil meringis keras memegangi (sensor)nya. Salah satu anak buahnya datang membantu dan Baekhyun menjadikan itu kesempatan dengan menggerakkan kedua sikunya kebelakang tepat mengenai dada dua orang yg mencekalnya. Mereka terlihat mengaduh secara otomatis melepaskan cengkraman pada sisian lengannya sehingga membuat Baekhyun sempat terbebas untuk sesaat, tapi sayang dorongan dari arah belakang dari siswa yang belum terkena pukulannya tersebut menjadikan keseimbangan Baekhyun terganggu. Kakinya tak sempat mengerem, kejadiannya berlangsung begitu cepat dan
Byurrr~
Tubuhnya terpelanting jatuh kedalam kolam renang besar itu.
Baekyun meronta-ronta di dalam air. Menimbulkan suara beriak kolam menjadi terdengar ribut oleh gerakannya. Mulutnya terbuka meminta pertolongan, dengan kepala yang terkadang timbul juga tenggelam. Karena merasa sudah tidak kuat lagi berteriak, sejumlah air mulai memasuki lubang mulutnya menciptakan gelembung udara yang perlahan menghilang. Matanya sangat perih, mendadak dadanya sesak dan penuh. Tubuhnya memberat juga ringan secara bersamaan. Kakinya hampir menyentuh dasar kolam. Pandangan Baekhyun meredup. Ia sekarat.
Mengapa?
Akhir cerita hidupnya harus semenyedihkan ini. Ia hanya ingin menjadi penyanyi. Jalanan juga boleh. Padahal dia sudah rajin berbuat baik. Ah Tuhan sepertinya sangat merindukannya saat ini. Baiklah.
Baekhyun pasrah. Merelakan dendamnya yang belum terbalas pada Chanyeol; si iblis jahanam. Biarlah, jika nanti mereka bertemu di akhirat Baekhyun akan mencekiknya. Sekalian dia mati dua kali.
Haha membayangkannya membuat Baekhyun bahagia. Entah ia durhaka atau tidak tapi dipikirannya sekarang hanya ada Chanyeol. Ingatan tentangnya akhir-akhir ini memang sangat membebaninya.
Ah Baekhyun mulai mengantuk. Sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya ia sempat mendengar seseorang berteriak memanggil namanya dan menceburkan diri ke dalam kolam renang besar itu.
"Baekhyun"
.
.
.
TBC
Lalalalala~
Hello dear, aku kembali lagi. Sudah berapa lama aku meninggalkan cerita ini? Setahun?
1. Pertama aku minta maaf ya :(( aku tidak mau memberi banyak alasan yg harus kalian ketahui mungkin cerita ini bakal mangkrak lagi ㅠㅠㅠㅠ karena aku sekarang sedang skripsian.
Tapi kalau review kalian bisa naikin mood :))) mungkin aku bakal sempetin garap di sela nugas. Yuhuuuu-
2. Sebelum dihujat aku mau benerin kesalahanku di chap sblumnya. Ruang kelasnya aku pakai angka ya hehe, jadi yg taehyung itu 10-2 dan jisoo 10-1. Oh iya jisoo disini yang main drama bareng baekhyun di moon lovers itu yaa bukan jisoo blackpink atau jisoo2 yg lain hehe.
3. Kalian tau kan rate M itu artinya mature/dewasa. Dan dewasa itu gk harus selalu tentang naena yekan wkwk bisa juga perkelahian, kata kotor, umpatan, kekerasan dll. Berhubung reader kebanyakan otak yadong semua sama kayak aku jadinya terpaksa simpen dulu :)) Nagihnya entar yaa, gk asik donk belum di foreplay udah main genjot"an wkwkwk. Malah aku seneng moment chanbaeknya yg berantem2 lebih greget. Tp tenang pasti ada lah cemilan dikit yg basah" nanti oke.
4. Kalo mau bahas sama karakter disini, aku minta maaf ngebuat chanyeol disini itu seakan akan kyak dewa yg patut disembah. Gk cuman cy doank sih yg lain juga. Dia gk sesempurna itu kog, di dunia nyatanya sih iya :) tp serius yg merasa introku atau cara pendiskripsianku berlebihan bisa kalian kritik gpp asal jangan sampek bikin aku down yaa, cabenya dikit aja. Aku gk suka yg terlalu pedes hehe.
5. Chap ini lebih panjang dari sebelumnya biar kalian puas. Karna aku ngerasa bersalah juga sih. Tapi sejujurnya aku suka yg panjang" lol. Kalau mnurut kalian membosankan aku potong setengah. Mungkin dg begitu update nya bs lebih cepet krna gk ngulur waktu buat mikir. Wkwk aku sih oke aja yg mana.
6. Aku kadang gk PD buat publish cerita ini, karena aku ngerasa bahasaku terlalu kaku, ribet,dan bosenin. Jadi malu tiap baca karya author2 yg lain. Mereka keren" dan hebat pokoknya.
7. Terakhir, alurnya emang lambat. Karna setiap harinya itu penting bagi chanyeol dan baekhyun. Eaaa
Oke dear, sampai disini aja bacotan aku. makasih yang udah follow favorit. mumumu. Selamat menebak" siapa yg nolongin Baekhyun di akhir cerita :)
Jangan lupa yaa..
Ripiyumu mampu melancarkan peredangan pada otak author. Kkkk
SELAMAT BUAT EXO, KITA MEMBUAT SEJARAH BARU LAGI. YEYYY... NATION'S PICK (luve luve luve) I'M SO PROUD FOR THEM. KEREN BANGET AHHHKKK CRY CRY CRY AKU NONTONNYA. wkwkwk
SEE YOU NEXT CHAP :*:*:*
Salam CHANBAEK LOVERS.
