M
.
.
Pagi adalah dimana hari baru akan dimulai. Sang surya telah mengintip dibalik surai lembut awan pagi dan bersiap untuk mengantarkan hari indah. Entah kejutan apalagi yang akan diterima keluar kecil yang masih meringkuk dengan nyaman di balik selimut itu untuk pagi yang baru.
Baekhyun menggeliat dibalik selimut hangatnya. Persendiannya butuh dilonggarkan sebelum mengawali harinya. Samar matanya menangkap jarum kecil menunjuk angka 6 dari jam bulat megah yang tertempel sempurna di dinding bercat abu-abu dirinya menjadi istri dari pria tinggi yang masih terlelap di ujung ranjang yang lain, juga dua bocah mungil yang sama lelapnya di tengah dirinya juga sang suami, alarm tak kasat mata selalu membangunkannya lebih pagi dari pria-pria yang telah menjadi dunianya itu. Katakan saja ini naluri ibu rumah tangga sebagai seorang wasit yang kembali bersiap mengatur kebutuhan rumah tangganya.
Kecupan kecil ia berikan pada Jackson dan Jesper yang entah atas dasar apa tidur saling berpelukan. Suatu pemandangan yang menyenangkan melihat dua jagoannya tampak tenang dan damai. Bisa dilihat bagaimana Jesper, si sulung, sebelah tangannya memeluk pinggang si bungsu. Akan selalu ada alasan dibalik hangatnya pelukan Jesper yang membuat Jackson semakin lelap dan mengeratkan pelukan kakaknya. Meski sering direpotkan dengan pertikaian khas anak kecil disela-sela kesibukkan Baekhyun mengurus rumah, namun hatinya akan berubah menjadi damai saat dua tubuh mungil yang telah Baekhyun sematkan sebagai kebahagiannya berada pada lelap yang membumbung sebuah kedamaian. Surga kecil Baekhyun.
Beralih pada sosok tinggi yang menggeliat kecil disisi lain ranjang king size itu.
Terhitung hampir seminggu Baekhyun tidak melihat kedamaian tidur dari lelaki yang telah memberinya 2 anak. Dalam kurun waktu seminggu itu Baekhyun selalu menjumpai kerut halus dari suaminya—pertanda bahwa pekerjaannya sedang tidak dalam mode oke.
Dengkuran halus Chanyeol adalah nada damai Baekhyun—suatu tanda bahwa tidur suaminya kali ini berada pada zona nyenyak.Sebersit perasaan bersyukur karena lelakinya kini menemukan kembali tidur nyenyak tanpa ada pikiran tentang pekerjaan.
Perlahan Baekhyun bangkit dari tidurnya dan memutar sisi ranjang. Didekatinya wajah sang suami, dimana bisa terlihat bulu halus disekitar dagunya yang angkuh.Dia lupa bercukur.
Tergeraklah tangan mungil Baekhyun untuk membelai surai coklat Chanyeol disekitar dahinya yang bernilai 100. Makhluk Tuhan mana yang tidak akan jatuh cinta pada pria ini. Segala kesempurnaan Tuhan sematkan pada seorang Park Chanyeol. Pria dengan segala poin emas yang menjadi impian seluruh pria di bumi ini untuk menjadi lelaki sejati. Tubuh proporsional, pekerjaan menjanjikan masa depan, dan segala perlakuannya yang mampu meluluhlantakkan hati setiap wanita. Termasuk Baekhyun di dalamnya. Tapi orang-orang di luar sana tidak pernah tau bahwa sesempurnanya Park Chanyeol, akan ada torehan tinta hitam yang bisa membuat dahi mengerut, rasa ketidakpercayaan, dan terburuknya adalah ilfeel. Karena lelaki sejati tidak akan melakukan hal itu.
Manja.
"Hai, cantik." Suara bass yang selalu pada nadarendah. Baekhyun selalu suka bagaimana suara itu memanggilnya, menggelayutkan rajukan manja pada dirinya, dan menjuntaikan kata mutiara berkonotasi rayuan yang ditujukan untuk Baekhyun seorang.
"Pria sejati harus bangun pagi." Surai coklat Chanyeol masih menjadi objek menyenangkan untuk dimainkan. Seperti bermain kapas putih halus yang membuatnya merindu dan selalu ingin membelainya.
"Pria sejati harus mendapat morning kiss untuk bangun pagi."
"Mau kopi atau teh?" Itu jelas pengalihan pembicaraan. Wanita itu akan menjadi sangat galak hingga ujung ubun-ubun jika suaminya mulai mendamba sesuatu yang mengusik desiran darahnya. Namun pagi ini, semu tomat segar dipipinya yang muncul alih-alih letupan emosi khas seorang ibu rumah tangga. Hanya anak perawan kasmaran yang akan mengalami itu. Ingatkan Baekhyun bahwa dirinya adalah wanita dewasa yang sudah melahirkan dua anak lelaki yang kini mulai menggeliat namun masih terlelap dalam tidurnya.
"Morning kiss."
"French toast atau—"
"Morning kiss."
"Dasi merah atau—"
"Morning kiss."
"Berhentilah Park Chanyeol!"
"Morning kiss."
Sekali sentak pria itu membulatkan mata yang tadinya enggan sepenuhnya terbuka menjadi terbelalak lebar.Pertemuan dua bibir yang saling mendamba. Begitulah Baekhyun, tidak akan pernah ada kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana wanita itu akan berlaku melebihi rasa kembang gula. Dan sialnya Chanyeol seketika akan luluh dan semakin merapatkan seluruh hidupnya untuk wanita itu. Manis perlakuan yang Chanyeol terima membuat seluruh syaraf-syaraf rindu dalam dirinya menggerayang berubah jadi syaraf gairah.
Sesungguhnya tidak ada wanita yang akan menolak memenuhi hasrat sentuhan bibir untuk suaminya dipagi hari. Sekalipun Baekhyun terlihat menolak, tapi wanita tidak pernah merasa keberatan untuk memberi sebuah ciuman pembuka hari baru.
Sungguh pagi yang menyenangkan andai saja bibir manis istrinya itu menjajaki tahap lumatan, bukan memutus kemanisan yang sudah terlanjur dinikmati biasa, hal itu akan menjadikan Chanyeol bersiap dengan rajukan paginya sesaat sebelum wanitanya kembali menyematkan jemarinya di surai Chanyeol. Jangan lupakan senyum menyegarkan yang selalu Chanyeol damba—alasan mengapa ia bisa bertekuk lutut pada wanita galak ini.
"Kau selalu tau cara agar aku semakin mencintaimu." Pelukan kecil sebelum benar-benar bangun perlu diberikan Chanyeol. Anggap saja itu ungkapan terima kasih pada pagi yang selalu membiarkannya merasa bahagia saat melihat Baekhyun di sampingnya.
"Jangan menjadikan aku istri yang malas, Yeol. Aku harus menyiapkan keperluanmu juga anak-anak manis ini." sentilan kecil Baekhyun berikan di ujung hidung Jackson dan Jesper yang masih berpelukan.
"Sebentar saja. Sudah lama aku tidak memelukmu."
"Kau selalu mendapatkannya setiap hari, sayang. Jangan katakan yang memelukmu tiap datang dan pulang dari kantor adalah Bibi Nam."
Baekhyun menarik diri sebelum debaran jantungnya terdengar. Pagi ini seperti ada setan kecil penggelitik yang membuatnya bersemu seperti pertama kali jatuh cinta pada Park Chanyeol. Itu sudah 7 tahun yang lalu kalau boleh Baekhyun mengingatnya.
"Bangun dan kau akan mendapatkan sarapan paling nikmat sedunia."
Wanitanya pergi demi sebuah tugas penting.
.
.
7 tahun menjadi Nyonya Park adalah masa trainee yang membuat Baekhyun mahir dengan urusan dapur. Dia semakin bersahabat dengan pisau, microwave, kompor, dan segala macam tetek bengek dapur yang ia gunakan untuk membuat kudapankeluarga kecilnya. Berbagai masa Baekhyun lewati untuk menjadi koki handal keluarganya—sekalipun beberapa kali di masa awal pernikahan Baekhyun hampir membakar dapur karena ia lupa ada kompor yang menyala memasak air. Saat itu ia sedang asik bercengkerama dengan Kyungsoo.
Satu kopi tidak terlalu manis untuk lelaki dewasanya dan dua susu coklat manis untuk dua lelaki kecilnya yang sedang bersiap untuk sekolah.
"Untuk apa aku susah payah menggaji Bibi Nam jika kau masih mengerjakan semua pekerjaan ini." Si jantan yang baru menyelesaikan mandi dan mulai bergelut dengan kopi hangat pagi harinya. Baekhyun hanya memperhatikannya sekilas dan kembali bergelut dengan kegiatan dapurnya.
"Ketahuilah bahwa seorang istri akan merasa bangga jika bisa membuat kudapan nikmat ini," tunjuk Baekhyun pada sup kacang merah yang mulai menunjukkan gelembung kematangan, "untuk keluarganya. Dan aku tidak mau Bibi Nam yang mendapat kebanggaanmu, Yeol."
"Hari ini kau sangat manis, Baek."
"Pujiankah? Terima kasih."
"Kuharap sikap manismu itu bukan karena Prada yang mengeluarkan produk terbaru."
"Kau memang suami yang pengertian—Bibi Nam, bisa minta tolong bantu anak-anakku dengan seragamnya? Aku yakin mereka sedikit mengalami kesusahan menggunakan ikat pinggang."
Semangkuk sosis sapi ukuran mini diletakkan Baekhyun di salah satu permukaan meja makan. Kepulan asap karena baru saja dimandikan dengan minyak goreng membuatnya terlihat menggoda dan Chanyeol mulai mendapat protes keras dari cacing dalam perutnya atas sosis sapi itu.
"Anak bungsu kita penggila sosis jika boleh ku ingatkan."Pukulan kecil di tangan Chanyeol sebagai peringatan bahwa kudapan sosis mungil itu hanya akan memenuhi perut seorang Chanyeol harus menerima hak paten itu jika ia tidak mau melihat si kecil merengek karena makanannya diganggu. "Jangan cemberut. Kau memiliki jatahmu sendiri."Cubitan kecil Baekhyun berikan pada suaminya yang mulai mengerucutkan bibir. Lelakiku yang manja.
Mata Chanyeol berbinar saat kata'jatah'menggema di seluruh gendang telinganya. Sebuah kata dengan banyak konotasi untuk pagi sebaik ini.
"Kenapa baru mengatakannya pagi ini?" Chanyeol mulai mendekat dan meluncurkan kata-kata ajaibnya. Ini masih terlalu pagi untuk menjemput orgasme istrimu, Park.
Wanita itu kembali pada mode galak. Bisa dilihat kerutan kesal di dahinya menggambarkan bahwa pagi ini bukan waktunya untuk bermain.Ia sangat sibuk sebagai ibu rumah tangga jika boleh Baekhyun menginterupsi.
"Jesper dan Jackson akan pergi sekolah."
"Lalu?"
"Bibi Nam dan Pak Ryu akan mengantar mereka sampai sekolah."
Gemilitik telapak tangan dirasakan Baekhyun mulai melingkari dirinya penuh rasa proteksi. Siapa lagi jika bukan lelaki dewasanya yang menggoda dengan aroma parfum yang mengusik indera pencium yang hanya bisa ia temui pada Park Chanyeol.
"Dan kau juga harus pergi menyelesaikan pekerjaanmu di kantor."
"Sebelum aku menyelesaikan pekerjaan rumahku, sayang."
Kehadiran Chanyeol dengan sebuah pelukan dari belakang tidak terlalu mengganggu mengingat Baekhyun sangat menyukainya. Apapun hal manis yang Chanyeol lakukan, Baekhyun akan suka dan mendambanya. Termasuk mengusik leher jenjang Baekhyun dengan hembusan nafas kecil dari hidung bangir Chanyeol. Bagaimana bisa ia tersihir dengan begitu cepatnya saat hembusan nafas itu berubah menjadi kecupan kecil? Harusnya Baekhyun mengelak karena tugas memasaknya belum sepenuhnya selesai. Tapi, dewi batinnya mengatakan bahwa ia perlu waktu lebih untuk menikmati setiap sentuhan Chanyeol. Katakan saja ada satu libido tersembunyi yang membuatnya ingin berada di posisi ini. Posisi dimana Chanyeol mulai bermain dengan payudara Baekhyun yang hanya tertutup kaos Supreme milik Chanyeol yang ia ambil secara acak dari lemari. Kaos itu cukup besar hingga akan tampak seperti potongan dress di tubuh si betina.
Gerak gelisah mulai Baekhyun rasakan karena cumbu Chanyeol yang benar-benar menggoda. Terlebih saat tangan yang semula mempermainkan ujung payudara Baekhyun dari luar kaos itu berpindah ke pangkal paha. Begitu cerobohnya Baekhyun yang hanya mengenakan celana dalam tanpa melindunginya lagi dengan hot-pants. Dan sekarang lihatlah, lelaki itu membuat Baekhyun harus menahan erangan aneh yang hampir lolos karena godaan di luar celana dalamnya. Ini gila!
"S-sayang.."
"Panggil namaku, Baek."Dan keparatnya suara rendah Chanyeol adalah satu dari segudang kelemahan Baekhyun terhadap lelaki itu. Such a good player. Semua dipermainkan dengan cara halus namun tepat sasaran. Ingatkan Baekhyun jika ditangannya masih ada spatula untuk membolak-balikkan potongan nugget di dalam minyak Baekhyun segera menentukan nasib nugget itu..
"Oh, God. Yeolhh..."
...dan sialnya nasib gairahnya ternyata lebih mendominasi.
"Eung? Apa, sayang?"Husky voice itu seperti racun. Racun yang membuat kaki Baekhyun serentak mengapit sebuah tangan yang sedang mempermainkan vaginanya. Baekhyun jelas sadar ia sedang dipermainkan, tapi permainan ini sungguh membuatnya ingin segera meraup hal lebih yang akan mengantarkannya pada kenikmatan lainnya.
Nafas tersengal wanitanya itu membuat Chanyeol semakin gencar mempermainkan jarinya di bawah sana. Menarik-ulur hingga dirasa ada cairan hangat yang mulai merambat jemari Chanyeol—pertanda bahwa wanita itu memiliki waktu tercepat untuk merasakan pencapainnya. Chanyeol masih tetap sigap menggoda kewanitaan istrinya yang dirasakan mulai berkedut hingga akhirnya wanita itu mencapai batas kesabarannya atas segala godaan Chanyeol.
"Nakal."Tubuh ramping itu berbalik secepat kilat setelah menyelesaikan nasib si nugget hanya untuk rengkuhan lengan pada leher lelakinya. Cumbuan panas itu beralih pada dua bibir yang mulai melumat kasar hingga gigitan kecil penuh bara gairah. Lidah saling membelit, saliva yang mulai kelihangan kendali, dan gerak kepala yang sibuk berpindah dari kanan ke kiri untuk mencapai sebuah kata puas.
Si betina mulai tersudut karena si jantan mulai melakukan serangan selanjutnya. Mengangkat sebelah kaki Baekhyun untuk melingkar di pinggang Chanyeol dan menggoda vagina basah dibawah sana dengan sebuah gundukan yang mulai menunjukkan rasanya Baekhyun mengumpat dan berkata kasar pada gundukan milik suaminya—sungguh memuaskan meski hanya bergesekan dan sesekali dorongan dari pinggul lelakinya.
Jauh dari kata pantas jika harus menumpahkan segala hasrat akan adanya 'Jessie'di sini, di dapur. Baekhyun dan Chanyeol bukan jenis pasangan yang tertarik dengan segala macam jenis latar belakang percintaan seperti yang sedang nge-trend akhir-akhir ini. Mereka hanya akan saling mencumbu dengan leluasa pada tempat yang memang dikatakan layak. Perlu di ingatkan kembali jika keduanya adalah dua orang dewasa yang akan mencapai usia 30 tahun, bukan anak bawang yang baru saja mencicipi sebuah percintaan. Tapi kali ini 'Jessie' sedang tidak mementingkan di tempat mana Daddy dan Mommy-nya akan bercinta jika hasrat keduanya sudah berada di ujung jurang.
Ini harus dihentikan!
"Mom! Dad!"
Blus!
Baekhyun segera mendorong Chanyeol yang sudah siap dengan ereksinya yang baru ia keluarkan dari tempatnya. Demi seluruh neptunus Chanyeol ingin segera melempar dua bocah kecilnya ini ke manapun. Tahukah kalian jika Jessie sungguh ingin segera berpindah ke rahim Mommy kalian?
Jackson berlari menghambur ke pelukan Baekhyun yang sudah bisa menguasai rasional dirinya. Mencium banyak tempat di wajah sang Mommy dan memamerkan tas baru yang dibelikan Daddynyakemarin. Setelah itu si bungsu Jesper, memeluk erat Mommynya dan juga menghujani dengan ciuman.
Wanita itu melirik lelaki yang berdiri di sampingnya dengan erangan kesal tertahan. Terlihat lucu saat ereksi Chanyeol menolak untuk disembunyikan dan membuatnya kesusahan untuk menarik resleting celana.
"Mommy sudah siapkan makan pagi kalian. Duduk dan makan yang banyak. Mommy akan membantu Daddy sebentar."
Dua bocah itu melenggang pergi ke meja makan saat mendapati makanan kesukaan mereka ada di sana.
"Sakit?" goda Baekhyun pada suaminya. Tatapan sinis dan kesal itu menjadi jawaban atas segala kesakitannya untuk kedua kali setelah semalam juga terjadi hal yang sama. "Biar ku bantu."
"Masih peduli dengannya? Seharusnya ada masa dimana kau berada di posisi lelaki, Baek. Aku berani bertaruh seratus sepuluh persen kau akan menjerik kesakitan."Ketus Chanyeol.
"Berlebihan sekali lelaki ini."
"Tolong selesaikan ini sekarang, Baek. Aku tidak mau Yunho hyung dan si hitam Jongin menertawakanku dengan bentuk celana seperti ini saat rapat." Lelaki itu mulai merajuk; mempermasalahkan ereksinya yang memang butuh pelampiasan.
"Setelah anak-anak berangkat jika kau bisa menunggu."Bisik Baekhyun. Sejujurnya Baekhyun merasa kasihan pada suaminya yang harus bertahan dengan keadaan menyakitkan itu. Dan bukankah memang menjadi tugas seorang istri untuk menjinakkan ereksi suaminya?
"Benarkah?" matanya berbinar, menantikan kesempatan yang akan kembali membuat ereksinya kembali luluh.
Baekhyun mengangguk. "Tapi..."
"Apa lagi?"
"Aku berubah pikiran."
Jaw-drop. Chanyeol kehilangan kenormalan dirinya karena wanita galak kesayangannya itu berubah pikiran dalam jangka waktu kurang dari 1 menit.
Baekhyun menunjuk dengan dagunya pada sebuah ponsel malang yang terletak di meja dapur. Income calling. YUNHO HYUNG.
"Boleh aku mengumpat, Baek?" tanya Chanyeol dengan nada tertahan. Baekhyun menggeleng cepat.
"Aku tidak mau anak-anakku mendengar ucapan itu, sayang." Baekhyun terkikik geli melihat wajah frustasi suaminya melebihi apapun. "Oh ya, Prada hanya akan memberikan diskon sampai jam 12 siang nanti, sayang."
Masa bodoh!
"Jika masih mengharap belas kasih sentuhanku pada dia," tangan kecil itu meraba halus gundukan Chanyeol yang ingin memberontak keluar, "kau selalu tau apa yang ku inginkan, sayang."Tentu Baekhyun mengatakannya dengan suara berbisik.
"Berharaplah seperti adik kecil ini yang juga mengharap ada di dalammu, Baek."
"Park Chanyeol!"
.
Jadwal bulanan Baekhyun saat menyentuh akhir bulan adalah berbelanja. Ia akan memasok kebutuhan bulanan keluarganya dalam sebuah keranjang besi yang akan dengan senang hati menampung hasrat belanja si nyonya besar. Mulai dari peralatan mandi, bumbu-bumbu sederhana dapur, juga beberapa kebutuhan lain untuk Jackson, Jesper, Chanyeol, juga dirinya.
Wanita dan belanja merupakan satu kesatuan yang hanya akan berpisah saat dollar dalam kartu gesek hampir menjumpai limit. Hasrat seorang wanita akan semakin membumbung tinggi dalam hal belanja ketika melihat tulisan "SALE" dengan spidol merah menyolok; memberitahukan pada setiap mata yang melihat bahwa hal itu akan menjadi spektakuler karena ada dua digit angka sebelum tanda persen yang menggoda.
Baekhyun hampir gila. Antara kebutuhan dan desakan diskon menjadi sangat tipis untuk dibedakan. Salahkan siapa saja yang telah memasang tulisan itu hingga membuat Baekhyun lapar mata. Ia menjadi gelap akan semuanya dan menghiraukan berbagai macam tumpukan barang dalam trolinya. Jangan lupakan ada sosok Jackson di salah satu sudut troli; enggan mengambil pusing Mommynya yang sedang gila belanja. Anak laki-laki itu sibuk dengan Hot Wheels barunya, hadiah dari wanita yang dipanggilnya 'Aunty Lulu'.
Seharusnya Baekhyun datang dengan pakaian sedikit longgar dan flat shoes untuk mendukung pergerakannya berebut barang diskon. Nyatanya style potongan sexy pada dress pendek bertali spagetti juga heels yang hampir menyentuh angka 12cm menjadi sebuah hambatan akan kebringasannya.
"Kau harus tau bagaimana Mommy berjuang untuk kebutuhan kita sebulan kedepan, Jackson." Anak laki-laki itu hanya mengulum senyum kecil yang demi apapun juga sangat mirip dengan Chanyeol. Ah, ya. Lelaki itu. Bagaimana kabar ereksinya?
"Hei, bukankah ini terlalu banyak?" Sadarlah kau Baekhyun dengan tumpukan menggunung belanjamu itu yang bahkan hampir menenggelamkan Jackson. "Dan Jackson, serakah bukanlah hal yang baik. Jadi, Mommy dengan sangat terpaksa akan mengurangi-AWW!"
Cairan coklat itu membuat bekas menjijikkan di dress Baekhyun.
"Bitch!" Itu bukan kata-kata yang baik, terlebih jika harus di dengar oleh telinga polos Jackson. Jadilah Baekhyun menutup telinga anak itu alih-alih membersihkan bekas kecoklakatan dari isi cup yang dibawa seorang wanita asing. Seharusnya wanita itu minta maaf karena telah mengotori pakaian Baekhyun dengan cairan coklat, juga telah mengotori telinga anaknya dengab kata-kata tak pantas.
"Maaf?"
"Selain tak punya otak kau juga tak punga mata!"
Oh, apa-apaan ini?
"Oke, permasalahan sebenarnya sangat sederhana. Kau menumpahkan isi cup-mu lalu berlanjut mengatakan kata-kata tidak pantas di depan anakku, dan terakhir kau mengatakan aku tidak punya otak. Sebenarnya siapa disini yang tidak punya otak?" Bukan Byun Baekhyun jika dia hanya bisa diam atas ketidakadilan. Ia akan menjadi orang pertama yang menentang hal itu melebihi siapapun. Nyalinya cukup kuat untuk menyolokkan bara emosi pada wanita aneh yang melakukan tiga hal tidak pantas itu.
"Kau hanya wanita jalang yang mencoba mengais belas kasihan pada pria! Cih!"
"Jalang berteriak jalang!"
"Betapa buruknya rupa istri seorang presdir dibanding dengan para jalang malam hari! Harusnya kau berdiri di sana, menjajakkan dirimu layaknya wanita tak bermoral daripada bersanding dengan suamimu!"
"Tolong jaga cara bicara anda! Anda ini siapa?! Hanya wanita dengan pikiran sempit!" Urat marah Baekhyun menyala layaknya gumulan tungku api panas. Otaknya sudab tidak bisa lagi memfilter perkataan sopan saat ada wanita aneh yang mendadak mengatakan hal buruk itu padanya.
"Kau hanya perlu menunggu kapan jalang sepertimu akan membusuk menjadi gelandangan! Ingat itu!"
"Hei!" Baekhyun akan menjambak rambut wanita itu jika saja tangan mungil Jackson menyentuhnya; mengembalikan sang Mommy pada dunia kewarasan daripada meladeni wanita aneh itu. Plus, sebuah air mata ketakutan dari Jackson yang cukup menampar Baekhyun untuk menahan segala emosinya. Baekhyun tidak akan kalah jika menentang sebuah ketidakadilan; terlebih dari wanita aneh yang baru pertama ia temui. Tapi sekali lagi, ada anak tersayang di dalam troli yang mulai menangis ketakutan melihat Mommynya terlibat adu mulut dengan orang asing.
Troli itu Baekhyun dorong menjauh; meninggalkansi wanita aneh yang sempat Baekhyun lihat mendesis penuh emosi padanya. Sekali lagi itu bukan kesalahan Baekhyun. Bahkan seorang nenek tua juga akan mengerti siapa yang salah dan siapa yang menunjukka kebenaran.
.
"Teruslah mentertawakan diriku." Semacam perasaan jengkel saat dua pria yang duduk di hadapan Chanyeol itu dengan tidak sopannya mentertawakan nasib Chanyeol. Niat awalnya Chanyeol tidak akan bercerita, tapi sayangnya kenyataan pada ereksi Chanyeol memperjelas alasan Yunho dan Jongin meregup tawa.
Jongin bahkan sempat merasa kaku pada perutnya karena tak kuasa menahan tawa. Sudut matanya juga berair, seakan turut menghina Park Chanyeol dan segala kesialannya sebagai seorang suami yang batal mendapat pelayanan.
"Aku harus membelikan Es krim untuk Jackson dan Jesper. Mereka sungguh ahli membuatmu.."
Tawa itu kembali meledak meski Chanyeol benar-benar menunjukkan urat kekesalannya. Jika saja Yunho tidak memiliki jabatan lebih tinggi (seorang direktur utama kantor pusat yang ada di Jepang) dari Chanyeol, pria itu pasti sudah menerima lemparan bolpen di pelipis kiri seperti yang di alami Jongin barusan. Chanyeol masih sedikit waras untuk mengingat bahwa Yunho adalah partner kerja yang berperan besar memenangkan proyek di Jeju.
Dan Jongin, seperti mati rasa akan rasa sakit lemparan itu karena ia masih bisa tertawa puas.
"Ku katakan berkali-kali sejak kau bujangan dulu. Istrimu itu model galak yang harga dirinya sangat tinggi. Jika berniat menikah dengannya maka bersiaplah menjadi santapan kegalakannya. Dan ku pikir kau bisa menerimanya."
"Aku tidak mempermasalahkan seperti apa galaknya Baekhyun. Tapi jika harus menahan gairah seperti ini, lama-lama aku bisa mati karena kekurangan pelampiasan!" Dengus Chanyeol. "Jika pagi ini kau tidak menghubungiku hanya demi istrimu yang merajuk hyung, akan ku pastikan bulan depan Jessie akan berlabuh di rahim istriku."
Dosa apa Chanyeol hingga memiliki partner bisnis sekejam Yunho. Bukan salah Chanyeol jika Jaejoong, istri Yunho, merajuk karena Charlotte Olympia yang dijanjikan Yunho hanya menjadi karbondioksida saja. Batal. Salahkan Yunho yang mementikan gairah akan keluaran terbaru Audi yang memiliki bandrol diskon hampir 10%. Itu penawaran yang menggiurkan dengan efek samping yang melelahkan juga. Jaejoong marah.
"Nanti malam ada undangan ke Glory Red," salah satu bar mewah tempat pembuangan sia-sia dollar para pengusaha sekelas Yunho dan Chanyeol, "dan kalian," telunjuk Yunho menginterupsi Chanyeol juga Jongin, "mendapat kesempatan untuk menemaniku kesana." Wajahnya kembali sumringah mengingat Glory Red menyimpan banyak jalang yang siap menanggalkan segala benang yang menempel pada tubuh demi segepok dollar.
Wajah Jongin mengernyit, mempertimbangkan tawaran emas itu. Masuk dalam dunia malam Glory Red adalah impiannya sejak lama. Akses masuk kesana sungguh susah, sesusah Jongin menembus benteng perawan Kyungsoo, istrinya. Dan Yunho, dengan segala kebanggan dan kuasanya, memberi akses semulus paha Kyungsoo untuk masuk kesana.
Hanya sepersekian detik Jongin akan mengatakan 'ya' atas tawaran itu. Tapi bayang-bayang seorang wanita mengamuk dengan spatula yang baru saja digunakan untuk mengaduk minyak panas menjadi alasan kuat Jongin menghempas nafas kesal. Sekalipun Kyungsoo tidak seperti Baekhyun yang menggilai tas ataupun Jaejoong yang cinta mati pada sepatu, tapi wanita itu satu-satunya alasan mengapa Jongin rela menggantungkan sisa hidupnya sebagai seorang lelaki bertanggung jawab.
"Kau bisa memilih wanita mana saja untuk memanjakan ereksimu." Yunho beralih pada Chanyeol karena Jongin sudah tidak memiliki harapan menemaninya.
Lelaki berparas frustasi itu juga menimbang sesuatu. Sebagai seorang lelaki yang telah beristri dan dikaruniai dua putra, Chanyeol menemui titik pertimbangan yang cukup menyiksa. Berilah dia kemakluman karena lelaki mana yang tidak tergoda untuk bermain dengan vagina wanita. Mengobrak-abrik sepanjang malam hanya untuk memenuhi kepuasan terpendam ulat-ulat spermanya yang sedang giat-giatnya berproduksi.
Pastikan Chanyeol masih memiliki kewarasan yang tinggi untuk mencerna semua ini dengan benar. Ia lelaki yang telah menyematkan janji pada Tuhan untuk setia dengan wanitanya dan Glory Red bukan tempat yang tepat untuk memegang erat janji itu. Akan ada satu wanita yang menelan pil pahit dunia melihat suaminya bercumbu dengan para jalang. Kerusakan hati yang berkepanjangan adalah efek lain yang akan timbul jika hal itu benar-benar terjadi. Chanyeol tidak ingin melihat hal itu terjadi pada wanitanya. Ia masih cukup memiliki perasaan akan kedamaian rumah tangganya dengan Baekhyun. Dan jangan lupakan Jackson dan Jesper yang membuatnya merasa tidak lagi pantas bermain sebagai pecinta wanita—nama keren Chanyeol dimasa mudanya.
"Dan kita kembali terjebak di status 'para suami takut istri'. Aku bisa gila!"
Yunho mengerang kesal karena dua pria di sekitarnya ini sungguh cerminan suami setia. "Oke, aku kalah. Aku tidak akan kesana karena Jaejoong pasti akan menendang selangkanganku. Kuberitahu itu sangat sakit!"
Jongin terkekeh. "Kau menyadarinya, hyung. Amukan istrimu melebihi apapun. Aku tidak ingin mendengar kabar kau harus mengalami hukuman yang kejam dari Jae noona."
"Terima kasih karena kalian adalah partner terbaik menggagalkan rencanaku bermain disana." Yunho mengacak surainya yang tertata rapi. "Wanita selalu membuatku mati kutu. Apa yang bisa kulakukan saat aku harus kembali ke rumah? Tatapan sinis Jaejoong mirip golok, kalian sangat tau itu."
"Ajak saja dia bercinta." Jongin dan Yunho menoleh—meminta penjelasan Chanyeol yang sibuk dengan ponselnya. Andai dua pria itu tau jika Chanyeol sedang melihat beberapa foto Baekhyun yang bertelanjang dada di ponselnya—dia mengambilnya saat Baekhyun sedang tidak sadar. Oh, dan ereksi sialan ini kembali membuat Chanyeol sakit! Shit! hanya karena foto saja ia bisa merasa setegang ini, bagaimana jika ia bisa menikmati tubuh istrinya sampai puas?
"Apa yang kau lihat?"
"Bukan apa-apa." Chanyeol harus kembali menyimpan ponselnya sebelum Yunho dan Jongin yang mesum itu menikmati foto kesayangannya. "Ajak istrimu bercinta dan dia akan kembali berbaik hati."
"Jangan gila. Bahkan mendekat saja aku yakin akan berakhir di rumah sakit karena Jaejoong akan menendangku."
"Aku ragu dengan statusmu sebagai pecinta wanita saat kuliah dulu." Ejek Chanyeol. "Hyung, kau tau apa kelemahan wanita?"
Yunho sedikit terusik dengan apa yang dikatakan Chanyeol. Seperti sebuah pintu yang akan membawanya kembali dalam kedamaian rumah tangga.
"Merasa bersalah. Wanita akan luluh saat kau merasa bersalah."
Pecinta wanita akan tau hal itu. Pengalaman mengajarkan Chanyeol banyak hal untuk meluluhkan hati wanita.
"Kau yakin?"
"100%. Bermainlah dengan kata-kata sedikit, hyung. Aku tau kau sangat ahli bernegosiasi. Setelah itu, ajak bercinta. Kupastikan esok pagi kau akan mendapat perlakuan sangat istimewa." Yunho seperti menemui kebenaran dengan Chanyeol. Sekarang Yunho hanya perlu menyusun kata menyesal dan bujuk-rayu semanis madu agar ia bisa tidur dan mencumbu Jaejoong dengan damai hingga permasalahan sepatu sialan itu akan terlupakan begitu saja.
"Ku pegang kata-katamu, pecinta wanita kedua."
"Tidak masalah, pecinta wanita pertama." Sedikit menggelikan mendengar panggilan itu lagi. Sedikit mengulas masa lalu jika Chanyeol boleh mengingat. Yunho, Chanyeol dan Jongin adalah para pria yang sangat menggilai wanita. Mereka lebih dari buaya darat jika hanya sekedar mengumbar aura kelelakian. Jika dikatakan itu hobi maka hobi itu sungguh membawa berkah. Bermodal visual yang berlebihan dan mulut semanis madu untuk mengumbar kata-kata rayu menjijikkan, maka wanita-wanita itu dengan sendirinya akan berbaris—menunggu ajakan kencan yang kadang berakhir panas di ranjang.
Pecinta wanita pertama adalah Jung Yunho. Tampan, gagah, dan royal. Wanita mana yang tidak tertarik dengan sekali kerlingan mata Yunho? Salah satu lelaki yang berhasil menjadi urutan pertama lelaki ideal saat itu. Berkencan dengan Yunho akan menyematkan kebanggan tersendiri. Para wanita itu selain terpuaskan dengan gairah Yunho, mereka juga akan terpuasan dengan kantong tebal Yunho. Lelaki itu tidak masalah dengan wanita materialistis karena menurutnya setiap wanita diciptakan hanya untuk menguras kantong lelaki. Salah satu bagian terburuk dari seluruh gairah Yunho, pria itu hanya bisa berkencan tidak lebih dari 2 hari. Seperti batas sebuah masa aktif kartu perdana, setelah dua hari Yunho akan pergi begitu saja meninggalkan si wanita yang sudah menggilai gairah Yunho dan harta Yunho.
Pecinta wanita kedua adalah Park Chanyeol. Tampan, cerdas, dan menggoda. Hampir sama seperti Yunho, Chanyeol adalah urutan kedua setelah Yunho untuk menjadi lelaki idaman. Kepandaiannya dalam bidang akademik berbanding lurus dengan kepintarannya bernegosiasi dengan makhluk panas bernama wanita. Hanya butuh satu kata manis maka wanita-wanita itu harus rela dilucuti harga dirinya. Memanjakan Chanyeol bersama penisnya yang indah adalah puncak kenikmatan yang diidamkan wanita-wanita pecinta Chanyeol. Tapi Chanyeol tidak semudah itu memasukkan kelelakiannya, ada kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai kenikmatan bersama Chanyeol. Seksi dan menggoda. Sudah banyak wanita yang rela bertelanjang diri di depan Chanyeol namun tidak ada satupun yang berhasil mendapat perhatian dari kelelakian Chanyeol.
Pecinta wanita ketiga dan yang terakhir adalah Kim Jongin. Seksi, seksi, dan seksi. Jongin tidak setampan Yunho dan tidak semenggoda Chanyeol. Tapi ketahuilah setiap pria memiliki kelebihan sendiri. Dan Jongin, diberkati Tuhan dengan tubuh seksi yang membuat wanita manapun harus rela menelan ludah secara kasar jika ingin menyentuh Jongin. Jika Yunho dan Chanyeol memiliki kriteria untuk sekedar melepas gairah atau berkencan dengan wanita, maka Jongin tidak memilikinya. Ia bisa berkencan dengan siapa saja yang dirasa menarik. Tapi pemain tetaplah pemain. Jongin tak berbeda jauh dengan Yunho dan Chanyeol. Pecinta wanita tidak pernah bisa bertahan lama dengan wanitanya. Jika Yunho hanya mematok waktu dua hari dan Chanyeol hanya berpegang pada seberapa menarik seorang wanita (yang hanya bisa bertahan tidak lebih dari 4 hari), maka Jongin memiliki waktu sedikit lebih lama. Seminggu.
Tuhan tidak pernah membuat manusia untuk terus berpegang teguh pada kesenangannya. Akan ada waktu dimana para manusia itu akan tunduk dan menyerahkan semua kesenangannya diatas satu genggam kecil memabukkan sekaligus menjerat.
Titik balik dari tingkah tiga pecinta wanita itu adalah saat Yunho bertemu Jaejoong di toko berlian, Chanyeol bertemu Baekhyun di sebuah acara fashion-show, dan Jongin bertemu Kyungsoo di supermarket. Semua punya cerita bagaimana wanita-wanita itu memegang kendali atas tingkah liar lelakinya. Semisal Jaejoong yang sebegitu memikatnya hingga membuat Yunho memperpanjang masa aktifnya—atau sekarang masa aktif itu berubah menjadi unlimited, Chanyeol dengan Baekhyun yang lebih galak dari ibunya—namun sangat memuaskan jika bermain dan membuatnya terbang, juga Jongin dengan Kyungsoo yang seperti burung penguasa siang dan malam Jongin.
.
2 jam lalu Chanyeol disambangi oleh seorang wanita yang menggandeng tangan dua anak lelaki. Siapa lagi jika bukan dunia Chanyeol. Bukan salah Chanyeol jika ia hanya menyambut dua jagoannya dengan sebuah pelukan dan ciuman meski ada satu wanita di belakangnya yang juga mengharapkan hal yang sama. Ia masih sedikit marah karena dua hari ini ia tidak bisa menggagahi wanita itu—dan lihatlah wanita itu datang tanpa rasa bersalah.
"Bagaimana sekolah kalian hari ini?" nilai plus untuk pria sibuk seperti Park Chanyeol—membiarkan interaksi ringan untuk menjaga hubungan Ayah-Anak dengan dua buah hatinya.
"Jesper mendapat nilai 100 saat bernyanyi."
"Benarkah? Karena kau pintar, Daddy akan memberi hadiah. Kau mau hadiah apa?"
Jesper mengerutkan kening—mengerutkan kening untuk membiarkan otak kecilnya berpikir tentang hadiah yang di tawarkan Daddy-nya.
"Berlibur!"
"Kau ingin berlibur?"
"Ya! Jesper ingin berlibur ke pantai."
"Oke, kita tinggal atur waktu lalu pergi berlibur." Kecupan kecil di puncak kepala Jesper menjadi akhir dari obrolah ringan mereka. Chanyeol beralih pada si kecil yang duduk di lantai ruangannya—bersandar di kaki sofa sambil menggumamkan kata-kata aneh dengan Chrong kecil ditangannya. "Tampan, bagaimana denganmu?"
Si bungsu itu tersenyum lebar. "Jackson punya ibu guru baru. Dan sangat cantik."
"Benarkah? Kenalkan dengan Daddy kalau begitu."
Satu cubitan kecil mampir di lengan kekar Chanyeol. Siapa lagi kalau bukan wanitanya yang mengganti warna kukunya menjadi peach. Oh, istrinya, ia masih marah. Jadilah ia mengabaikan cubitan itu dan bersikap acuh atas tatapan peringatan dari istrinya.
"Tidak boleh. Bu guru yang cantik hanya milik Jackson."
Ditelisik lebih dalam, ada bakat-bakat terpendam Jackson menjadi seorang pecinta wanita seperti Daddy-nya dulu. Haruskan Chanyeol bangga?
Bersama kakinya yang angkuh, ia melewatkan satu wanita yang duduk bersendekap dada di depannya. Chanyeol memilih tumpukan dokumen yang akan kembali menjejali rekeningnya dengan puluhan juta dollar hanya dengan satu bubuhan tanda tangan.
"Masih marah, ya?" perlukah Chanyeol menjawab pertanyaan itu? "Boleh aku minta maaf?"
"Kalau aku berkata tidak boleh kau mau apa?"
"Kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku tidak memaksa."
Lihat, wanita itu seperti tidak memiliki kelunakan untuk membujuk Chanyeol walau hanya sedikit rengekan untuk memaksanya memberi maaf.
"Harusnya aku tau kau akan seperti ini." gumam Chanyeol kesal.
"Sudah makan, sayang?" Baekhyun mendekat ke meja jati suaminya—tempat dimana Chanyeol bertarung dengan garis naik-turun di layar notebook-nya atau dokumen-dokumen malang yang harus di jamah.
Tak ada sahutan dari lelaki itu. Ia diam seribu bahasa bersama kekesalannya untuk sang istri.
"Aku membelikan beberapa roti coklat kesukanmu. Mungkin kau bisa memakannya."
"Aku tidak lapar." Semua itu teringkar saat ada bunyi aneh tersembunyi dibalik kemeja Chanyeol. Mau tidak mau Baekhyun mengulum tawa kecil karena perut Chanyeol tidak bisa diajak kerja sama.
"Hyung, rapat akan ditunda tigapuluh—oh, hai, Baekhyun-ssi."
Baekhyun mengibaskan kecil tangannya menyambut kemunculan Jongin yang tiba-tiba masuk. Mendadak Baekhyun teringat akan kebohongannya pada Jackson dan mengorbankan nama baik Jongin. Tapi biarkan saja, Jongin tidak akan pernah tau akan hubungan dirinya dengan Chrong yang secara paksa Baekhyun bangun kemistrinya demi Jackson.
"Tidak ada penundaan rapat atau aku akan murka. Kau sungguh tau itu!"
"Tapi—"
"Ada yang bisa kau laporkan lagi, Jongin?"
"Oke." Si tuan besar marah. Jelas baru saja terjadi pergolakan batin antara tuan besar dan si nyonya galak itu.
.
Kepala Chanyeol cukup pusing dengan rapat bulanan yang baru saja selesai sejak 3 jam yang lalu. Sedikit merasa lelah karena banyak hal yang harus ia bahasn dan ia urus demi kemajuan perusahaan yang ia pimpin. Otak cerdasnya tidak bisa begitu saja berpikir cepat, ada pertimbangan-pertimbangan yang harus ia pikirkan agar tidak ada kata rugi selama Chanyeol memimpin.
Sore telah berganti malam, pertanda bahwa sistem kekuatan tubuhnya mulai terkikis. Tubuhnya mulai lunglai karena melewatkan makan siang. Padahal wanita yang berstatus istrinya itu dengan segala hati bidadarinya membawakan roti coklat.
Ah, ya. Apa mereka masih disana?
Chanyeol disambut oleh banyak mainan berserakan dilantai ruangannya. Kepemilikan siapa lagi jika bukan dua jagoannya. Jackson dan Jesper. Secara perlahan Chanyeol menutup pintu ruangannya agar tidak membangunkan tiga dunianya yang telah terlelap di sofa.
Jackson dalam pelukan sang Mommy yang bersandar di sofa, dan Jesper menjadikan kaki kecil Mommy-nya sebagai bantal. Dua jagoannya itu terlelap dalam dekapan hangat Baekhyun yang juga turut terlelap.
Rasa damai perlahan menelusup jauh dalam hati Chanyeol. Bertapa ia harus banyak berterima kasih pada Tuhan dengan hadiah indah tak terkira ini; keluarga.
Sebelah tangan Chanyeol tergerak membelai surai hitam istrinya; wanita yang telah berkorban banyak untuknya. Merelakan karirnya sebagai seorang model demi menjadi istri ideal untuk Chanyeol dan ibu yang super untuk dua buah hatinya. Bukan pekara mudah mengorbankan apa yang telah di cita-citakan istrinya itu. Chanyeol sendiri tidak pernah melarang Baekhyun jika ia masih ingin terus menjadi model saat sudah menikah dengannya, tapi wanita itu sungguh memiliki kekerasan kepala yang berlebihan. Batin wanitanya menuntunnya untuk berdedikasi sepenuhnya menjadi istri Park Chanyeol dan merawat dua buah hatinya.
"Oh, sudah selesai rapatnya?" suara penuh rasa lelah itu sedikit mengejutkan Chanyeol. Lalu dengan senyumnya yang hangat itu ia kembali membelai surai Baekhyun yang sedikit merasa kebas karena seluruh tubuhnya ia gunakan untuk memberi tidur nyenyak pada Jackson dan Jesper.
Ingatkah kau Park Chanyeol beberapa yang lalu kau masih merajuk seperti anak bayi?
Biarkan Chanyeol menelan kasar sikapnya beberapa jam yang lalu karena ia tersadar dengan betapa beratnya menjadi seorang Baekhyun. Mengurus sepenuhnya kebutuhan suami juga anak-anaknya dan melupakan kata istirahat jika masih belum menemui kata beres dalam segala tanggung jawabnya. Wajah istrinya masih tetap cantik dan menarik seperti biasanya, tapi gurat lelah tak bisa disembunyikan sekalipun ia mengulum senyum seakan berkata 'aku baik-baik saja'. Rasanya tak pantas jika Chanyeol merajuk dengan bejatnya atas keinginannya tidak terpenuhi beberapa hari ini. Ia tersadar bahwa beban Baekhyun sebagai ibu rumah tangga tidak semudah Chanyeol bernegosiasi dengan segala proyek di perusahaannya.
"Masih mengantuk?"
"Em. Sedikit."
"Kita pulang, ya? anak-anak butuh tempat tidur yang layak." Anggap saja itu ungkapan 'aku tidak ingi membuatmu kelelahan lebih lama'.
Chanyeol mengambil alih tubuh Jesper yang tertidur dipangkuan Baekhyun. Anak laki-laki itu menggeliat sebentar kemudian memeluk erat leher Daddy-nya dan melanjutkan mimpi indahnya. Chanyeol masih kuat jika harus menggendong dua buah hatinya demi membiarkan keringanan untuk istrinya. Ia berniat akan mengambil alih Jackson yang jelas-jelas memeluk erat Baekhyun.
"Biar Jackson tetap seperti ini. Jesper sudah terlalu berat dan kau akan semakin merasa berat jika harus menggendong Jackson." Demi seluruh malaikat di dunia ini, tidak ada perempuan cantik dan mengagumkan selain Baekhyun. Detik itu juga Chanyeol bersumpah akan mempertaruhkan seluruh hidupnya demi si wanita.
Pada akhirnya Baekhyun tetap membiarkan Jackson tidur dalam pelukannya dan Jesper dalam pelukan sang Daddy. Cukup adil mengingat dua bocah itu adalah maha karya Tuhan yang dipercayakan padanya juga Chanyeol.
Suatu potret kesempurnaan keluarga kecil dengan segala keindahan di dalamnya. Tidak sedikit yang harus rela menelan rasa iri atas keluarga kecil ini.
.
Chanyeol tidak bisa bernegosiasi dengan insomnia yang menyergapnya. Mungkin besok ia harus mengurangi minuman berkafein itu agar tidur malamnya tidak terlambat. Dan disinilah Chanyeol berakhir, ruang tengah di rumah megahnya bersama televisi yang menayangkan liputan berita tengah malam.
Baekhyun, Jackson dan Jesper sudah tidak bisa mentolerir rasa lelah mereka saat sampai di rumah. Bahkan Baekhyun dan Chanyeol harus saling bergotong royong mengganti pakaian Jesper dan Jackson di atas tempat tidur karena dua anak itu menolak untuk bangun. Tidak apa, setidaknya dua jagoan kesayangan Chanyeol itu memiliki mimpi indah meski sedikit memberi kerepotan untuk orang tuanya.
"Belum tidur?" Kepala Chanyeol mendongak dan mendapati bidadarinya berdiri di ujung tangga. Berbalut baju tidur tipis yang menggoda kelelakian Chanyeol, Baekhyun menghampiri suaminya yang duduk malas di atas sofa. "Mau ku buatkan sesuatu?"
Chanyeol menggeleng.
"Mungkin segelas susu hangat bisa membuatmu lebih baik."
Baekhyun akan beranjak kedapur sebelum sebuah tangan memegang kendali lengan tangannya yang polos.
"Cukup kau disini saja maka aku akan merasa jauh lebih baik."
Tidak ada pilihan lain; Baekhyun duduk tepat di sebelah sang suami dan membiarkan tangan kekar favoritnya itu membawanya kedalam rengkuhan pelukan hangat. Dada bidang Chanyeol masih sangat menggoda untuk disinggahi.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hm?"
"Kau jarang sekali terjaga hingga tengah malam."
"Tidak. Hanya sulit memejamkan mata karena Jongin banyak mencekokiku kopi."
"Itu lebih baik dari alkohol jika aku boleh berpendapat."
"Jadi kau lebih menyukai suamimu tidak bisa tidur?"
"Daripada kau mabuk? Aku sungguh melaknatnya."
Chanyeol tersenyum kecil. Ia selalu suka ancaman Baekhyun yang terdengar menyeramkan itu. Semacam borgol tak kasat mata yang akan menjadi cambuk ketakutan Chanyeol jika berani melanggarnya. Tidak apa, dengan begitu ia merasa memiliki jiwa yang menghalanginya kembali pada Chanyeol si pecinta wanita kedua.
"Baek,"
"Hm?"
"Aku bercanda tentang guru baru Jackson. Jangan kau ambil hati, ya?"
Baekhyun tertawa kecil. Lelakinya ia sungguh berlebihan. Tanpa diminta-pun ia tidak akan pernah mengambil hati.
"Aku khawatir Jackson akan menuruni sikap pecinta wanitamu."
Oh jangan sampai. Anak itu harus menjadi lelaki dengan moral yang lebih baik dari Daddy-nya.
"Ku pastikan ia akan menjadi lelaki sejati yang tidak mempermainkan banyak wanita."
"Mengakui kesalahanmu dulu?"
"Itu bukan kesalahan. Itu hanya tuntutan."
Baekhyun mendecih. Tuntutan? Dasar lelaki.
"Yeol,"
"Hm?"
"Pernahkah kau berpikir untuk meminta maaf pada wanita-wanita yang pernah kau sakiti?"
"Apa?"
"Maksudku, tentu yang kau lakukan di masa mudamu dulu bukanlah hal yang benar. Sebagai seorang wanita, aku tau mereka merasa sakit hati. Terlebih setelah kau mengumumkan kekalahan karena tunduk pada wanita sepertiku."
Kau wanita segalanya, sayang.
"Itu hanya akan buang-buang waktu, sayang." Surai hitam pekat itu menjadi tempat favorit Chanyeol untuk di belai.
"Kau harusnya bertanggung jawab atas perasaan mereka."
"Jadi kau menyuruhku untuk kembali pada mereka dan memohon seperti seorang anjing yang minta makan."
"Bukan seperti itu maksudku." Baekhyun hanya teringat pada wanita yang ia temui di supermarket waktu itu. Mungkin saja wanita itu salah satu wanita yang pernah Chanyeol sakiti. Bukan hal yang mustahil karena wanita itu mengetahui jika suaminya adalah seorang petinggi penting di perusahaan.
"Apa terjadi sesuatu?" Chanyeol menangkap ada kegusaran dari manik bidadari milik istrinya.
"Bukan apa-apa." seulas senyum dipaksa hadir menghiasi bibir mungil Baekhyun.
"Apa aku belum cukup membuktikan penyesalanku pada wanita-wanita itu dengan perubahanku sekarang? Aku bertekut lutut pada satu wanita yang dalam sekejap dan mengambil alih seluruh duniaku. Bahkan para malaikatpun akan tau bagaimana seorang Park Chanyeol menyerahkan seluruh jiwa raganya hanya untuk wanita itu."
Semu merah itu muncul di dua pipi Baekhyun. Ia bukan gadis perawan lagi—yang hanya mengandalkan bujuk-rayu seorang lelaki untuk membumbungkan hatinya. Tapi Baekhyun cukup sadar satu hal, Park Chanyeol adalah pemain kata manis yang tidak akan pernah kehabisan stok untuk mengobral ucapan menggodanya. Tapi Baekhyun menyukainya. Entah untuk alasan apa.
Sebagai imbalan, bukankah Baekhyun harus memberinya kebahagiaan? Beberapa hari ini lelakinya harus menderita karena kegagalan atas gairahnya.
Baekhyun mendongak keatas, mendapati lelakinya terfokus pada televisi yang menayangkan kabar kenaikan dollar. Diraupnya rahang Chanyeol dan di sesapnya bibir penuh yang menggoda itu. Baekhyun telah dialiri arus listrik berkekuatan cinta jika sudah berhadapan dengan rasa kewanitaannya pada Park Chanyeol.
"Maaf sudah banyak mengabaikanmu." Suaranya lembut, selembut sutra yang bisa Chanyeol rasakan membungkus tubuh istrinya. "Ku rasa, di jam seperti sekarang sangat tidak mungkin Jackson dan Jesper menganggu dia."
Gundukan yang lemas itu di sentuh halus oleh Baekhyun. Akibarnya, ereksi si jantan dalam sekejap mulai menguasai.
"DP apa yang harus ku berikan?"
"Istrimu ini bukan seorang tukang kredit, perlu kau ingat."
.
Layaknya dua insan yang baru mengecap manisnya pernikahan, ucapan cinta saja tidaklah cukup untuk menjelaskan semuanya. Lebih lanjut, tidak ada satu kata-pun yang pas untuk menjabarkan bagaimana dua insan itu dimabukkan oleh hasrat.
Chanyeol menatap lekat mata bidadari wanita di bawahnya yang telah menanggalkan seluruh sutra tubuhnya. Polos. Dan indah. Berbagai cara Chanyeol lakukan untuk bersyukur bahwa Tuhan sangat baik mengirimkan bidadari secantik dan mengagumkan seperti Baekhyun.
Belitan ringan di bibir Baekhyun menjadi awal mula percintaan malam itu. Ia selalu suka bagaimana Chanyeol membawanya pada ciuman panas yang panjang—yang bisa Baekhyun pastikan dominasi penuh dipegang oleh Chanyeol. Sesapan lembut dan menggoda itu menjadi bumbu lain yang membuatnya harus mengeram tertahan dengan nikmat bibir Chanyeol.
Saat Chanyeol memutus ciuman penuh gairah itu, ia turun dan mengorek semua kelembutan yang ada di leher Baekhyun. Leher mulus yang sebentar lagi akan penuh bercak merah sebagai tanda kepemilahan Chanyeol. Gigitan kecil dari taring tumpul Chanyeol membawa gelora aneh yang membuat Baekhyun di bawah alam sadarnya mendongakl; mempersilahkan lelakinya untuk mengusik spot itu. Jangan lupakan payudara Baekhyun yang masih saja kenyal meski dua kali menjadi wadah cairan keharusan yang di konsumsi oleh Jesper dan Jackson. Tentu Baekhyun merawatnya. Bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk Chanyeol. Ia tau betul jika lelakinya itu memiliki tempat favorit untuk dijamah; payudara.
Lidah Chanyeol kembali beraksi, membelit putih Baekhyun yang sudah meraung-raung untuk di nikmati. Ia membelitnya seperti lidah ular, membasahi dengan saliva, dan berakhir dengan kuluman penuh cinta. Kecupan-kecupan mesra ia berikan, memberikan ungkapan kepuasan akan kerja keras istrinya yang berbaik hati menyempurnakan tubuhnya; hanya untuk Chanyeol.
Lenguhan penuh aroma cinta itu keluar saat Chanyeol dengan sangat lihai membangkitkan libido-libido Baekhyun. Selalu suka bagaimana Chanyeol membawanya ke nirwana untuk menjemput kepuasan bersama mengatasnamakan cinta—kata konyol yang nyatanya memiliki kekuatan untuk mereka.
Setelah itu Baekhyun merasakan ada hembusan nafas aneh di bawah sana. Saat mendongak, Baekhyun telah mendapati kepala Chanyeol di depan selangkangannya dengan kepala berbinar. Lelaki itu siap memangsa bulatan kecil pusat kenikmatan wanita, mengulum menggunakan lidahnya yang tak bertulang, dan menjadikan Baekhyun sebagai salah satu pihak dengan lenguhan terpanjang. Tanpa sadar dua tangan Baekhyun menjambak surai coklat Chanyeol dibawah sana, menandakan ia sudah cukup dibuat melayang melalui desiran darah dalam dirinya yang dengan tidak sopan membuat Baekhyun mengelinjang.
Chanyeol begitu ahli, mengoyak kewanitaan istrinya dengan penuh cinta layaknya anak kucing kelaparan.
"You're so fucking good! Such a good-damn player!"
"Thank's" Chanyeol tersenyum bangga akan pujian istrinya hingga secepat kilat lelaki itu ditarik untuk pergelutan lainnya. Ciuman panas. Baekhyun membiarkan Chanyeol tetap mendominasi, membelit lidahnya, mengusing langit-langit rahang dalamnya, dan membuat bibirnya melenguh lagi dengan bodohnya.
Tangan Chanyeol tak ia biarkan menganggur begitu saja. Satu tangan menangkup penuh payuda Baekhyun—bermain dengan putingnya yang menggoda dengan mencubit-cubit kecil. Dan tangan lainnya, mempersiapkan ereksinya untuk memasuki Baekhyun lebih dalam.
Satu hentakan cukup untuk membuat Baekhyun mengangkat tubuhnya. Ia sudah tidak perawan 7 tahun ini, tapi penis Chanyeol dengan begitu hebatnya membawa rasa sakit pada kewanitaan Baekhyun. Setitik air maya sialan itu jatuh, menandakan bahwa di bawah sana sungguh bersarang rasa sakit yang sedikit ada kenikmatan.
"Aku tidak yakin Jackson dan Jesper lahir dari sana."
"Lalu mereka lahir dari mana?"
Chanyeol hanya tersenyum simpul. Dikecupnya puncak kepala Baekhyun; memberi ketenangan agar wanita di bawahnya ini tidak lagi kesakitan akan perguluman mereka.
"Terima kasih telah menjaga semuanya untukku."
"Untuk itulah Tuhan menciptakan rasa sayang yang berlebih pada semua wanita."
Chanyeol mulai bergerak, mendesak masuk dalam vagina istrinya yang selalu nikmat untuk digagahi. Chanyeol selalu suka bagaimana dinding-dinding Baekhyun menyentuhkan kata nikmat pada ereksinya. Diremas, di pijat, dan apapun itu yang demi seluruh dewa kenikmatan memberi kenikmatan untuk Chanyeol.
Baekhyun tak kalah terobsesi dengan kenikmatan ini. Ia memeluk sepenuhnya leher Chanyeol dan mengacak surai suaminya—dia juga sangat menikmati perguluman dengan Chanyeol. Tak ingin menjadi pihak pasif, sesekali Baekhyun juga mengerakkan tubuhnya berlawanan dengan Chanyeol. Sebaik mungkin ia akan memberi pelayangan pada suaminya. Baekhyun tak mau mendapat cap istri tidak memuaskan dan membiarkan wanita lain yang memuaskan suaminya. Demi Tuhan Baekhyun tidak mau!
Vagina Baekhyun selalu menjadi tempat yang nikmat untuk di koyal. Kecepatan Chanyeol bertambah saat ia sudah menemukan titik terdalam Baekhyun yang membuat wanitanya semakin mendesah hebat. Dihujaninya titik itu, membawa kenikmatan untuk pencapaian akan nafsu yang membumbung tinggi. Semakin keras Chanyeol menghentaknya, semakin erat pula sengkraman Baekhyun pada surai suaminya. Mereka saling menagang, memberikan seluruh tenaganya hanya untuk menjemput kepuasan akan tubuh masing-masing.
Erangan Baekhyun tertahan saat ia sudah sampai. Tangannya melemas; melepas surai Chanyeol seakan tidak ada tenaga lagi untuknya mencengkeram. Nafasnya memburu, pertanda jika ia telah melibatkan semua tenaganya untuk memberi kepuasan pada suaminya juga untuk dirinya sendiri. Chanyeol sendiri juga ambruk tepat diatas payudara Baekhyun. Tubuh mereka sama-sama basah akan peluh cinta dan aroma sperma cinta itu perlahan menambah kesempurnaan pencapaian malam ini. Dada Baekhyun yang masih belum naik turun cepat terasa seperti usapan cinta bagi Chanyeol yang masih setia berada disana—diatas payudara Baekhyun yang sangat ia puja.
"Tidurlah, sayang." Sisa tenaga Baekhyun gunakan untuk menarik selimutnya yang kusut. Ia menutupi tubuh lelakinya yang mulai dilanda rasa lelap di atas tubuhnya.
.
.-tebece
