M
.
.
Chanyeol mengulum senyum saat melihat tubuh lincah nan seksi itu kembali bergerak di depan pantri dapur. Satu tangannya sibuk mengaduk susu coklat untuk Jesper dan Jackson, sedang tangan yang lain membolak-balik sesuatu yang ada di atas yang tipis tapi menggoda turut bersenandung kecil—menandakan si pemilik sedang dalam suasana hati yang bahagia.
Dua bocah yang baru saja selesai berganti seragam sekolah menghamburkan pelukan dan ciuman pertama untuk sang Mommy, Baekhyun. Pujian kecil atas ketampanan dan semangat bersekolah dua buah hatinya itu selalu ia siulkan merdu demi menambah semangat dua buah hatinya. Setelah itu ia akan menggiring Jesper dan Jackson menuju meja makan dan menuntaskan wajib sarapan sebelum berangkat sekolah.
"Mom," panggil si sulung yang baru saja meletakkan gelas susu coklat. Sisa susu coklat itu menempel dengan manja di sekitar bibir Jesper.
"Ya, sayang."Ibu jari Baekhyun membersihkan sisa susu yang menempel di wajah putranya itu—semacam takut mengkontaminasi ketampanan anaknya.
"Kapan kita akan ke rumah Nenek? Jesper dan Jackson rindu Nenek dan Kakek. Benar kan, Jack?" Si sulung mencolek adiknya yang sedang menikmati sosis sapi mungil. Yang menggemaskan disini, Jackson menanggapi dengan anggukan cepat dan saus tomat yang sama manjanya menempel di sekitar bibir si kecil.
"Emm,"Baekhyun berdeham sebentar, meminta pendapat suaminya yang tengah menyeduh kopi.
"Akhir pekan kita ke rumah Nenek."Kata Daddy.
Ingatkan Baekhyun bahwa lelaki dewasanya itu adalah orang yang tidak pernah menentang keinginan dua buah hatinya. Jika masih dalam lingkup wajar, Baekhyun akan menjadi makmum yang mengikuti segala keputusan suaminya.
Efek yang diberikan atas persetujuan antar Ayah-Anak itu membuat Jesper melompat bahagia. Dan jangan lupakan Jackson yang tiba-tiba meniru tingkah kakaknya padahal beberapa saat lalu ia masih fokus dengan sosis sapinya.
"Boys, cepat habiskan sarapan kalian sebelum terlambat. Pak Ryu sudah menunggu. C'mon!"
.
Menjadi ibu rumah tangga mengajarkan Baekhyun untuk cinta dengan kebersihan. Selepas dua jagoannya pergi ke sekolah, sesegera mungkin Baekhyun membersihkan tiap sudut rumahnya hingga tampak nyaman dipandang maupun ditempati. Jika semasa menjadi model dulu ia menggantungkan segalanya pada sang manager, maka dalam situasi sekarang dialah manager-nya. Mengatur segala macam kebutuhan keluarganya dan mempersiapkan segala hal yang terbaik untuk para lelakinya.
Teriakan akan tangannya yang selembut sutra menjadi lusuh jika ia menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk total menjadi seorang istri dan ibu, Baekhyun anggap sebagai angin lalu. Ia terlalu mencintai kesempurnaannya dalam merengkuh status istri juga ibu dari dua anaknya. Segala lusuh itu terbayar dengan kebahagiaan keluarganya. Dan perlu diketahui pula, setiap bulan ada kantong sendiri yang di siapkan Chanyeol untuk merawat tubuh istrinya. Lelaki itu tidak ingin dianggap tidak bertanggung jawab akan pesona dan kecantikan istrinya yang merupakan mantan model terkenal. Lagipula lelaki itu senang melakukannya, melihat kecantikan istrinya adalah hal wajib untuk kebaikan pandangannya.
"Ada yang membuatmu bahagiakah hari ini?" Ekor mata Baekhyun menangkap lelaki dewasanya yang tak kunjung berangkat ke kantor. Ada hal tidak beres jika mendadak suaminya itu duduk terpaku lama di atas kursi dengan senyum mengembang yang terlalu ambigu untuk diartikan.
"Tidak. Hanya menikmati kopi buatanmu saja. Enak."
Baekhyun masih berkutat dengan kebersihan dapurnya. Tak membiarkan setitik noda tertinggal di sana karena itu akan membuat dapur idaman Baekhyun nampak tak berharga.
"Kau aneh, sayang." Satu belaian mampir di pipi Chanyeol saat wanitanya itu berlalu melewatinya menuju ke kamar. Saraf reflek Chanyeol membawanya membuntuti wanita mungil yang pagi ini masih berbalut kaos kebesaran milik suaminya.
Setelah menutup pintu kamar rajanya bersama sang permaisuri,langkah seringan daun kering lelaki itu mendekati wanitanya yang sedang membereskan atribut tidur ranjang mereka.
Memeluk Baekhyun dari belakang.
"Aw! Ada apa denganmu?!"Mode galak, tapi Chanyeol tak gentar. Pelukannya semakin erat, semakin eksotis dengan belain halus tepat di perut datar istrinya. "Geli, Chanyeol."Pada akhirnya wanita itu meronta karena rasa geli akan belaian Chanyeol di perutnya.
"Kau harus banyak makan dan jangan banyak melakukan kegiatan yang bisa membuatmu lelah."
"Aku tidak suka banyak makan karena itu akan membuatku gendut. Jika aku gendut, kau tidak akan menyukai tubuhku lagi. Dan perlu kau tau Chanyeol, kau sungguh aneh hari ini."
"Aku tidak ingin Jessie mendapatkan akibatnya jika kau terlalu lelah, sayang."
Dahi Baekhyun mengernyit, mencoba mencerna segala keanehan suaminya pagi ini yang berujung pada satu nama. Dan Jessie? Siapa Jess—
"Oh my God, sayang." Baekhyun memutar badan, meletakkan tangannya di dua pinggang rampingnya layaknya seorang bos yang akan menginterupsi bawahannya. Demi apapun juga reaksi lelaki di hadapannya itu berubah seperti Jackson yang baru saja menumpahkan susu coklat diatas tempat tidur. "Hentikan omong kosongmu itu."
"Kenapa? Jessie bukan omong kosong, Baek. Dia anak kita." Chanyeol kembali mengelus perut Baekhyun dengan matanya yang berbinar.
"Jessie tidak ada, Park Chanyeol."
"Sekarang memang tidak ada, tapi mulai bulan depan kau pasti merasakannya."
"Yang akan mengandung itu aku, bukan kau. Jadi aku sangat yakin sekarang ataupun bulan depan Jessie tidak ada."
Lelaki itu cemberut, tidak suka dengan jawaban istri galaknya itu.
"Demi Tuhan jangan memasang wajah seperti itu, sayang." Baekhyun sedikit melunak mengingat Chanyeol adalah versi dewasa Jackson saat merajuk.
"Jessie akan ada, Baek. Aku yakin itu." Nada suara Chanyeol terdengar meyakinkan. Seakan dengan nada itu membuat Baekhyun akan percaya dengan apa yang ia katakan.
"Apa yang membuatmu begitu yakin?"
"Karena semalam aku tidak pakai pengaman. Kita bercinta tanpa ada karet sialan itu." senyumnya mengembang, seakan hal percintaan tanpa karet pengaman itu merupakan kebanggaan tersendiri untuk harga dirinya. "Aku menumpahkan semua ulat Jessie di dalammu."
"Jadi kau sengaja tidak memakainya?" Baekhyun merubah nada suaranya menjadi kesal yang malah disambut cengiran bangga dari suaminya. "Park Chanyeol,"
"Iya, Jessie's Mommy.." Uh, itu sungguh aneh. Seperti hasil tanakan nasi yang terlalu banyak air.
"Jesper and Jackson Mommy jika aku boleh mengoreksi."
"Baek, kau juga Mommy-nya Jessie."
"Tidak ada Jessie, Park Chanyeol!" nada suara Baekhyun meninggi. Ia mengambil sesuatu dari laci nakas dan mendorong botol kecil berwarna biru itu tepat di depan mata suaminya yang mengerjap aneh.
"B-baek.."
"Aku tau akalmu sangat nakal saat kita akan bercinta. Tapi, sayang, aku tidak sebodoh itu untuk melupakan pil ini meski kau sengaja tidak menggunakan karet pengamanmu."
Telak.
Detik itu juga Chanyeol mengutuk botol biru perusak impiannya. Pil pencegah kehamilan.
AAARRRGGHHH!
.
Hari-hari berikutnya Chanyeol disibukkan kembali oleh urusan kantor. Pikirannya terpecah belah membagi kasih dengan kantor yang sekarang ia pimpin juga proyek besar yang ia bangun di Jeju. Pulang larut malam kembali menjamah hidupnya. Tubuh lelahnya seakan bukan toleransi yang berarti jika grafik naik-turun hasil kerjanya mulai menggerogoti pikiran.
Waktunya bersama keluarga adalah salah satu pengorbanan yang harus ia pertaruhkan. Mau tidak mau ia hanya mengulum senyum kecut—kerinduan pada dunia-dunianya yang selalu menyambut kepulangannya. Ia berangkat pagi dan pulang petang. Semakin sulit merengkuh pelukan hangat dan celotehan manja dari dua jagoannya. Tapi dilain itu Chanyeol patut bersyukur, ada sesosok bidadari cantik yang selalu menyambut hangat jam berapapun itu.
Suatu hari Chanyeol pernah pulang pukul dua pagi. Rapat gila-gilaan dan dokumen bertumpuk adalah alasan utamanya. Ia tidak mengharap apapun atas kepulangannya selain mendapat istirahat yang berkualitas.
"Suamiku pulang." Sesosok mungil Chanyeol jumpai sedang memaksa matanya untuk tetap terjaga di depan televisi.
"Belum tidur?" ciuman kecil di puncak kepala sang wanita adalah hal yang wajib diberikan. Sebagai balasannya, lengan kecil istrinya itu memeluk leher Chanyeol—membawa sang lelaki kesayangannya dalam balutan rasa rindu penawar lelah.
"Mau ku buatkan sesuatu?" tanyanya dari balik punggung sang suami. Tepukan kecil nan halus itu menjadi nada bisu yang menyalurkan rasa nyaman bagi tubuh lelah Chanyeol.
Gumaman kecil dari suara berat Chanyeol menggantungkan jawaban tidak pasti. Alih-alih menjawabnya, lelaki itu mengeratkan pelukan hangat sang istri karena rasa nyaman yang dibawa melebihi dosis.
"Ah, ada. Aku mau sesuatu."Pelukannya terlepas, namun Baekhyun masih membiarkan lengannya menangkup leher sang suami. "Kiss."
Lelaki manja namun penuh gairah, begitulah Baekhyun menggambarkan sosok Chanyeol.
Seperti itulah kemudian Baekhyun sedikit berjinjit, menyambangi bibir kering suaminya yang sudah lama tidak ia sesap kenikmatannya. Lagi-lagi Baekhyun membiarkan lelakinya mendominasi ciuman ini dengan gigitan yang membawa gelumbung gairah. Bohong jika Baekhyun mengatakan tidak kecanduan atas pelampiasan gairah suaminya. Ia selalu terbuai, menampar segala rasional dalam dirinya jika Chanyeol mulai mengganggu ketenangan libidonya. Bukan masalah besar karena memang seperti itulah seorang istri memberi pelayanan pada suami. Sekalipun malam lelah Chanyeol itu penuh tuntutan pergumulan panas hingga pagi hari.
.
"Aku akan pulang cepat, Baek."Kecupan kecil diberikan Chanyeol di kepala sang istri yang sedang menata beberapa lembar pakaian Chanyeol dalam koper.
"Jangan dipaksa jika tubuhmu lelah."
Anggukan kecil itu serasa dipaksa.
"Jangan lupa makan dan istirahat."
Pada akhirnya Chanyeol harus berangkat ke Jeju. Proyek besarnya itu sedang manja dan butuh banyak perhatian. Kantor yang ada di Seoul di serahkan pada Sehun yang merupakan orang kepercayaan Chanyeol. Lebih dari itu yang Chanyeol khawatirkan adalah keluarganya. Perjalanan bisnis ini bukan yang pertama kali tapi rasanya sedikit berat. Biasanya Chanyeol hanya pergi dua sampai tiga hari, namun kali ini ia harus memakan waktu sedikit lebih lama. Seminggu, atau bisa lebih dari itu jika masalah di sana belum terselesaikan.
"Biarkan aku yang menjemput Jesper dan Jackson hari ini." kata Chanyeol.
"Pak Ryu sudah berangkat menjemput mereka jika aku boleh katakan."
"Telfon Pak Ryu katakan jika dua jagoanku akan ku jemput. Ah, kita berdua yang akan menjemputnya."
Baekhyun mendongak, meminta penjelasan atas kata 'kita'.
"Hanya ingin menebus waktu kemarin yang ku buang. Kita jalan-jalan sebentar, oke? Anggap saja ini kencan bersama anak-anak."
Keduanya terkekeh. "Semua sudah ku masukkan. Kau hanya perlu berangkat dan selesaikan tanggung jawabmu disana." Baekhyun menepuk kecil koper hitam yang akan menemani Chanyeol bekerja.
"Tenang saja."
"Yeol..." nada suara manja yang jarang keluar dari bibir itu. Ditambah gestur aneh dari jemari lentiknya yang menggoda dada bidang suaminya yang sudah kembang kempis menahan napas. "cepat pulang, ya?"
Chanyeol mengernyit heran. Oh, si galak yang berubah manja ini satu-satunya orang yang bisa mengubah Chanyeol menjadi lelaki penuh gairah—melebihi gairah yang biasa ia rasakan. Dibelainya surai hitam panjang Baekhyun dan diangkatnya dagu kecil itu. Mata bidadari sayu yang selalu membuat Chanyeol jatuh cinta, ada keraguan dan ketakutan disana yang tak bisa diartikan.
"Kau mau sesuatu?"
Kepalanya menggeleng; bentuk penolakan karena dia memang tidak sedang menginginkan sesuatu.
"Hanya ingin kau cepat pulang. Itu saja."Ada jeda cukup lama dan Chanyeol hanya mendiamkannya. Ia tau ada sesuatu yang ingin dikatakan istri cantiknya itu. "Aku takut."
"Apa yang kau takutkan?"
"Banyak. Terlebih dirimu."
Chanyeol tersenyum simpul.
"Aku akan baik-baik saja."
"Ya, aku harap begitu."
"Tidak percaya padaku?"
"Bukan padamu, tapi naluri kelelakianmu."
Bisa ditangkap dengan jelas ketakutan tentang kelelakian yang dibicarakan Baekhyun itu. Sudah sewajarnya wanita itu takut jika ada hal-hal tidak mengenakkan yang akan terjadi selama mereka berpisah.
Seratus persen Baekhyun bisa menjamin dirinya akan bisa menahan diri—wanita yang telah menikah dan memiliki dua anak tidak sepantasnya melakukan hal laknat itu. Baekhyun juga bukan jenis wanita yang menggilai belaian lelaki lain kecuali suaminya. Ia cukup sadar diri dengan posisinya sebagai istri yang memang harus setia menjaga keutuhan rumah tangganya. Tapi ada sisi lain hatinya yang masih takut tentang naluri suaminya. Semua orang tau jika suaminya itu mantan pecinta wanita. Sedikit nalurinya sebagai pemain mungkin masih bersarang di sana, di jiwa terdalam Chanyeol yang di karuniai banyak kelebihan untuk memikat siapa saja. Hanya saja, ketakutan itu kali ini sedikit berlebihan. Semacam ada perasaan aneh yang perlahan menggerogoti kepercayaan yang ditanam Baekhyun.
.
Jesper berlari riang. Membuat rambut yang menutupi keningnya turut berdansa naik turun mengikuti tingkah Jesper. Dia terlalu bahagia saat melihat mobil Daddy yang kali ini menjemput, bukan Pak Ryu. Di dalam mobil Jesper sudah melihat Mommy yang memangku adik kesayangannya yang terlelap sambil mengulum ibu jarinya. Ini sesuatu yang baru. Daddy dan Mommy menjemput ke sekolah dan Jesper mencium ada kebahagiaan setelah ini.
Anak sulung kesayangan Baekhyun dan Chanyeol itu berceloteh riang sepanjang perjalanan. Menceritakan kisah sekolahnya yang dikelilingi crayon, kertas lipat, dan dongeng fiktif yang perlahan meningkatkan daya imajinasinya. Contohnya saja cerita tentang pangeran katak dan putri kerajaan. Secara otomatis Jesper membayangkan pangeran katak itu adalah Daddy dan putri kerajaan tentu sang Mommy.
"Daddy tidak melompat seperti katak." Kata Chanyeol sambil mengusap surai lembut anak lelaki yang duduk di jok penumpang sampingnya. Betapa menggemaskan anak itu, bercelotek dalam satu tarikan nafas dan jangan lupakan tubuhnya yang mulai dewasa itu menirukan beberapa karakter imajinasinya.
"Tapi Jesper pernah melihat Daddy melompat di atas Mommy."
O-oh! Dua orang dewasa dalam mobil itu saling bertukar pandang. Melompat? Bukan melompat, tapi merangkak dan mencumbu Mommy.
"K-kau melihatnya?" Tanya Chanyeol sambil tertawa hambar. Berdoa saja semoga anak lelakinya itu tidak melihat hal-hal setelah Daddynya melompat di atas tubuh sang Mommy.
Kepalanya mengangguk yakin. Jesper mendongakkan kepala, mengerutkan dahi, dan mencoba memutar kembali kejadian si pangeran katak yang melompat di atas tubuh sang Mommy.
"Lalu bagaimana kisah pangeran katak dan si putri yang di ceritakan bu guru?" Sebaiknya Baekhyun segera menghentikan proses berpikir putranya. Ketahuilah, Jesper itu menuruni kepintaran sang Daddy. Jangan sekali-kali membuat otak kecilnya itu berpikir untuk mengingat kejadian itu, efek yang ditimbulkan akan sangat besar.
Beruntung ketertarikan Jesper akan cerita pangeran katak dari bu guru lebih besar dari ingatannya tentang Mommy dan Daddy. Jadilah anak itu kembali bercerita dengan gaya bahasa dan ekspresinya sendiri. Sedang Mommy dan Daddy, mengulum senyum malu karena putra sulungnya memergoki aksi lompat yang dilakukan oleh Daddy. Baekhyun yang duduk di belakang bersama Jackson yang masih tidur di pelukannya, mencolek dan melotot 'itu semua salahmu' pada lelaki dewasanya yang tersenyum malu.
.
.
"Bagus tidak?" Baekhyun mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di salah satu toko pakaian di Mall yang dikunjungi saat itu. Sebuah mini-dressanggun yang memperlihatkan lekuk tubuh langsing dan mengeksplore kaki jenjangnya. Tidak terlalu megah mengingat hanya ada satu tali spaghetti di setiap lengan dan warna putih tulang yang jelas semakin meyakinkan siapa saja yang melihat bahwa Baekhyun sangat baik dalam merawat tubuhnya. Jangan lupakan bagian ketat bawah dressyang hanya berkisar 3cm di atas lututnya—memperelok setiap pahatan indah yang selalu dipuja lelaki yang duduk di hadapan Baekhyun. Lelaki itu menelan susah payah ludahnya, berani bertaruh bahwa ia tergoda untuk mencumbu Baekhyun sekarang juga.
Lelaki itu berdiri, mendekati wanitanya yang masih sibuk menimbang setiap potongan dress yang seratus persen tampak pas di tubuhnya.
"Kau sempurna, Baek." Permainan kata berimbuh hembusan nafas menggoda di belakang Baekhyun. Satu lagi, usapan tersembunyi sebuah telapak tangan pada butalan sintal bagian belakang tubuh Baekhyun—dasar lelaki!
"Benarkah?" Baekhyun memutar diri, menghindari perlakuan lain yang bisa saja ia terima dari lelakinya. Wanita itu masih ingat jika melakukan tindakan seks di tempat umum bukan pemandangan yang baik. Terlebih untuk dua bocah yang duduk (di lantai) tak jauh dari tempatnya mematut diri di cermin. "Aku mau ini."
"Kujadikan sebagai DP."
"Aku tau jika pada akhirnya aku harus memberikan pelunasan untuk satu gaun ini." Baekhyun memutar bola matanya jengah, namun hal itu tak lama. "Tapi aku akan dengan senang hati melunasinya untukmu, sayang." Bisikan menggelitik itu menggoda bulu halus Chanyeol yang meremang. Belum sempat ia kembali menggoda, wanita itu sudah masuk lagi ke kamar ganti dan tak lama setelah itu muncul dengan pakaiannya yang asli.
"Yeol, Prada sedang diskon. Tidak banyak, sih. Hanya 5%." Wanita itu kembali berujar setelah berhasil menenteng satu paperbag berisi si gaun putih tulang. Chanyeol hanya mengedikkan bahu, semacam 'hari ini dompetku milikmu'.
Memanjakan istri beserta dua jagoan kesayangannya bukanlah hal yang mencekik—meski kenyataannya Chanyeol harus merelakan beberapa juta dollar dalam rekeningnya menebus itu semua. Tapi bukankah kebahagiaan keluargamu jauh lebih penting dari gulungan dollar dalam rekeningmu? Saat ini bagi Chanyeol yang terpenting ia bisa memanjakan keluarga kecilnya, urusan dollar ia bisa kembali mengumpulkan hal itu dengan mudah. Ingatlah bahwa Chanyeol itu pemilik kekuasaan tertinggi di perusahaannya.Ya, saat ini.
Baekhyun merasa beruntung karena Chanyeol tidak pernah mengeluh akan hasratnya sebagai wanita. Selama ini ia sudah berbaik hati untuk menahan diri agar tidak kelewatan dalam menjalankan keuangan keluarganya dan menekan keras-keras keinginannya untuk kembali mengoleksi Prada. Suaminya sendiri juga tidak buta akan keinginan Baekhyun. Lelaki itu selalu membiarkan Baekhyun memilih sendiri tas mana yang sekiranya mencuri perhatian dan memeluk hatinya.
"Yakin cuma satu?" tanya Chanyeol saat Baekhyun menemukan tas idaman hatinya.
Baekhyun mengangguk mantap. Untuk ibu rumah tangga yang tau betul masalah keuangan, ia cukup memilih satu tas agar pundi-pundi suaminya tidak terkuras banyak. Masih ada Jesper dan Jackson yang membutuhkan uang itu daripada keinginan Baekhyun untuk memborong semua Prada yang ia inginkan.
"Ya sudah. Kau gunakan kartuku untuk membayar." Lelaki itu menyerahkan kartu saktinya. "Setelah selesai, temui aku di sana." Chanyeol menunjuk sebuah gerai jam favoritnya. Rolex.
.
Lelaki itu, Park Chanyeol, menyusuri satu persatu rak mewah yang memajang berbagai macam jam mahal di atasnya. Matanya dengan sangat tajam mengamati setiap detil kemolekan benda penunjuk waktu kecil yang melingkar di pergelangan tangan. Jika ia wanita, ia akan berteriak histeris dengan produk terbaru yang memanjakan hati dan mata. Chanyeol masih waras untuk bisa menahan itu.
Senyum tipis nan menawannya merekah saat ada satu yang cukup menarik perhatiannya. Kepuasan batinnya akan terpenuhi jika benda itu—entah sudah jenis jam ke berapa—bisa ia miliki. Lelaki itu, Park Chanyeol, menetapkan 'jam tangan' sebagai cinta matinya yang kedua setelah Baekhyun. Bandrolan harga berapapun akan ia tebus demi kepuasan hatinya—Rolex. Toh, kartu saktinya masih jauh dari kata limit jika harus membeli jam itu.
"Pilihan yangtepat."Suaranya menggoda, "kau tau kenapa? Jam tangan itu akan terlihat sempurna untuk orang yang luar biasa."Dan senyumnya menjamah sebuah batin terdalam. "Park Chanyeol."
Ini bukan roman picisan yang menampilkan sebuah adegan slow motion untuk sebuah pertemuan yang berlabel 'kebetulan'.
"Kim Yejin?"
"Kau mengingat namaku."Wanita itu tersenyum kembali—menampilkan sederet gigi rapi nan putih di balik bibirnya yang merona merah.
Chanyeol tersenyum. Sedikit terhanyut oleh pesona Yejin yang mengoyakkan batin kelelakiannya. "Tentu. Kim Yejin."
"Bukankah itu terdengar seperti kau masih belum bisa melupakanku?"
Senyum simpul penuh ejekan Chanyeol berikan. Ada beberapa wanita yang masih memelihara dengan baik kepercayaan dirinya yang bersembunyi di sebuah paras cantik, bagi Chanyeol salah satunya adalah Yejin. Sang mantan.
Wanita itu, Yejin, masih dengan keanggunan dirinya yang terpancar dari penampilannya. Seorang wanita masa kini yang berbalut dress sexy berbandrol fantastis, kaki jenjang ber-hak angkuh, dan aroma tubuh yang bisa di analogikan sebagai sebuah magnet. Jangan lupakan bagaimana wanita itu mempermainkan mata dan bibirnya yang tak pernah terlihat norak untuk menggoda.
Chanyeol menolak memorinya untuk kembali pada masa itu. Masa dimana dia merasa bodoh dengan dirinya yang selalu dianggap pecinta wanita kedua. Anggap saja saat itu ia sedang mabuk hingga ia lupa daratan karena buaian kenikmatan alkohol yang di keluarkan Hyejin.
"Masih tertarik dengan jam tangan?"pertanyaan mendasar untuk memulai sebuah tindakan lebih lanjut. Yejin mencoba memulainya dengan sederhana—tidak ingin menunjukkan keposesifannya yang masih memihak pada Park Chanyeol.
"Well, kau bisa melihat sendiri."
Yejin menarik sebelah suduh bibirnya. "Kau masih sempurna jika aku boleh jujur."
"Terima kasih."
"Bagaimana kabarmu?"
"Kurasa akan tetap baik untuk masa yang akan datang. Kau sendiri?"
Hak tingginya yang berwarna emas mengetuk lirih seiring dengan kakinya yang melangkah lebih dekat. Menyesapi bagaimana aroma Park Chanyeol yang diam-diam memiliki tempat bernama rindu dalam hati Yejin.
"Ku rasa segelas wine bisa menemanim kita bercerita tentang kabarku."
Dan kerlingan mata itu sungguh terkutuk—membuat jemari kokoh Chanyeol mengubah mode silentpada benda tipis di dalam saku celananya.
.
Jesper dan Jackson adalah dua anak di bawah umur yang memiliki tingkat emosi tak menentu. Merutuk segala hal kecil yang tidak sesuai dengan hati mereka dan membuat orang dewasa tidak tau harus berbuat saja Baekhyun yang sedang berdiri di depan Baskin Robbins itu sedang mempertaruhkan rasa frustasinya untukemosi labil dua putranya hanya karena pilihan coklat atau strawberry.
"Jack, coklat akan mengotori bajumu."Si sulung berujar. Layaknya orang dewasa, anak itu memberi petuah untuk adiknya yang bersikukuh dengan es krim coklat.
Jackson menggeleng—menolak dengan segala jiwa kekanakannya atas saran si kakak yang memilihkan rasa strawberry.
"Kalau bajumu kotor, Mommy akan kesusahan mencuci bajumu."Tambahkan nilai plus untuk pemikiran itu. Sepersepuluh bagian dalam diri Baekhyun berpihak pada si sulung—atau berubah. Jackson bukan pemakan es krim yang rajin.Ia dengan senang hati akan membagi lelehan nikmat itu di sekitar wajah juga bajunya. Satu tepukan jidat untuk kebiasaan anak bungsunya itu.
"Jackson mau yang coklat!" oh lihatlah, jurus merajuk dengan mengubah bentuk mulut itu di keluarkan si kecil. Jika Jesper masih tetap dengan kehendaknya, seluruh telinga pengunjung Mall yang masih berfungsi itu dengan senang hati harus mendengarkan Jackson bernyanyi.
"Jackson harus patuh dengan hyung. Coklat akan mengotori bajumu!
"Mom..Mom.."tangan mungil Jackson menarik tas kecil sang Mommy-meminta pertolongan atas paksaan kakaknya.
"Oke, oke," Baekhyun berjongkok—menyamakan tingginya dengan dua jagoannya yang lagi-lagi bersitegang tentang es krim. Jika itu masalah Pororo, Baekhyun dengan senang hati akan menggunakan nama Jongin. Dan nama baik Jongin tidak mungkin di korbankan lagi untuk masalah ini. Pororo dan es krim bukan dua hal yang sejenis."Jackson bisa pilih es krim coklat."
"Tapi, Mom—"
"Sayang, setiap orang memiliki kesukaan es krim yang berbeda-beda. Jesper tidak boleh memaksa orang lain."
"Mom, es krim coklat hanya akan mengotori baju Jackson."
"Memang, sayang. Tapi bukankah anak kecil akan seperti itu jika makan es krim? Jesper dulu juga begitu."
Anak sulung itu menunduk."Baiklah. Jackson bisa pilih coklat."suaranya melemah-kalah.
"Dan Jesper?"
Jesper mendongak—menatap Mommy-nya yang tersenyum. "Strawberry!"
Lagi-lagi masalah itu bisa di selesaikan dengan mudah. Baekhyun dengan mulut keibuan yang manis dan permainan kata yang sempurna dapat membatalkan perdebatan dua anaknya.
Tujuan awalnya bukanlah memberi kepuasan Jesper dan Jackson untuk menikmati es krim-itu hanya kebetulan saat melewati stand es krim. Baekhyun sedang mencari lelaki tinggi yang sebelumnya berpesan untuk menemui di sebuah gerai jam. Baekhyun tidak salah ingat jika di Mall itu hanya ada satu gerai jam yang diminati suaminya. Seharuanya dia ada di sana. Namun setelah menelisik dalam gerai jam itu lebih dari 10 menit, tidak ada sosok Park Chanyeol di sana.
Baekhyun mulai lelah. Mencari Chanyeol ternyata lebih susah dari mencari g-string blaster Baekhyun yang pernah di sembunyikan Chanyeol dalam tas kerjanya. Kakinya yang berbalut heels 5cm menunjukkan tanda-tanda nyeri di sekitar jemari kaki. Terlebih kini si kecil mulai mengantuk dan satu-satunya yang diinginkan adalah tidur dalam pelukan Mommy. Jadilah Baekhyun menggendong Jackson, menggandeng Jesper, dan menjinjing beberapa barang yang telah di beli. Ketahuilah tubuh kurusnya itu sudah meneriakkan kata lelah untuk beban ini.
Apa Chanyeol menghilang? Itu sama saja mempermalukan Baekhyun jika harus di laporkan pada pusat informasi. Namun jejak Chanyeol benar-benar tak ada. Ponselnya-pun tak bisa di hubungi.
"Permisi," Baekhyun kembali ke gerai jam dan menanyakan sesuatu pada seorang pegawai di sana. "apa kau melihat suamiku?"
Oh, Baekhyun? Kau kira suamimu seorang selebriti?
"Eh, maksudku, pria tinggi menggunakan kemeja kesini sekitar 15 menit yang lalu."
Pegawai iku mengernyik kecil untuk berpikir, mencari celah dalam ingatannya untuk seorang costumer dengan ciri-ciri itu.
"Ah," senyumnya merekah. "Ya, aku melihatnya. Tapi dia sudah pergi, nyonya. Bersama seorang wanita."
Wanita?
"Kau yakin?"
"Ya." Keyakinan yang Baekhyun pertanyakan membuat efek samping berlebih.
Darah Baekhyun berdesir aneh. Semacam aliran kegelisahan yang mengacau pikiran positifnya pada sang suami. Bulu halus di balik lehernya meremang aneh, membuat matanya mendadak panas untuk sebuah kenyataan. Suaminya pergi dengan seorang wanita.
Sebenarnya itu bisa saja tidak terjadi. Ingatlah jika lelaki dengan ciri tinggi berkemeja hitam di Mall ini bukan hanya Chanyeol. Namun firasat tetaplah firasat. Sebodoh apapun itu akan tetap menggerayang penuh kekejaman dihati siapa saja yang merasakannya.
Kakinya tidak bekerja dengan baik. Setelah pergi meninggalkan gerai jam itu, Baekhyun kembali berjalan serampangan mengitari Mall. Pikiran rasional serta ketakutan anehnya sebagai seorang istri membuatnya sedikit memiliki kekosongan kesadaran. Sebelah tangannya menopang tubuh Jackson yang mulai tertidur dalam pelukannya dan tangan yang lain menggandeng tangan mungil Jesper yang masih bergelut dengan sisa es krim-nya. Jangan lupakan beberapa paperbag yang juga ia genggam—berbagi genggaman dengan tangan Jesper.
Chanyeol tidak sebodoh itu untuk melakukan suatu hal di luar nalar. Ia lelaki pintaryang jelas tau posisinya dan Baekhyun yakin Chanyeol tidak akan setega itu. Namun sepintar apapun otak cerdasnya, Chanyeol hanyalah lelaki yang memiliki nafsu dan ketertarikan berlebih pada seorang wanita. Baekhyun sadar akan hal itu.
Kebodohan yang terjadi saat ini adalah dua bola matanya memenangkan sebuah kenyataan menyakitkan. Efeknya, kaki jenjang yang mulai melupakan kata lelah setelah hampir 30 menit berjalan itu berhenti di depan sebuah pintu kaca mengkilat. Yang mana Baekhyun dengan sangat jelas melihat beberapa orang sedang menikmati cairan berwarna ungu mendiami goblet mewah di atas meja. Dan sialnya, mata Baekhyun yang mulai panas itu kembali memberinya sebuah kenyataan tidak mengenakkan.
"Selamat datang, Nyo—"
"Daddy!" Suara melengking Jesper memecahkan segalanya saat seorang pelayan membukakan pintu. Senyum polos Jesper merekah saat pria yang ia panggil Daddy itu menyadari keberadaannya.
Baekhyun terpaku. Bukan untuk sesuatu yang membuat hatinya berbunga, tapi untuk membuat hatinya berkobar seperti api neraka.
Dan mereka saling bertukar pandang.
"Jesper, ayo pulang."Suaranya bergetar. Pandangannya mulai berkabut perih.
Kesadaran Baekhyun pulih saat lelaki itu menghampirinya dalam sebuah langkah terburu. Baekhyun menarik tangan Jesper untuk segera enyah dari tempat itu—sedikit kasar. Meninggalkan kenyataan dibelakang tentang hal yang baru saja ia terima.
Jesper bingung, Mommy menarik tangannya tergesa dan di belakangnya ada Daddy yang sedikit berlari mengejarnya. Lebih membingungkan lagi saat Jesper melihat Mommy-nya mengeluarkan air kesedihan dari pelupuk matanya.
Langkah Baekhyun terhenti saat seseorang berhasil menghalangi langkahnya.
"Aku bisa jelaskan, Baek "
.
Malam itu tak lebih baik dari sebuah bencana badai. Kedinginan menyusup setiap pori-pori kulit meski suhu tidaklah terlalu rendah. Hanya saja ada gejolak aneh yang memaksa sebuah batin untuk mendinginkan dan membekukan segala bentuk kata yang ia yakini untuk sebuah penjelasan.
Chanyeol menjumpai wanitanya menangis sepanjang perjalanan pulang. Sesenggukan kecil bisa terdengar jelas di telinga Chanyeol dari Baekhyun yang duduk di jok belakang dan memilih membuang muka ke luar jendela.
Lelaki itu bisa saja menjelaskannya saat perjalanan pulang di mobil. Tapi ia cukup sadar jika penjelasannya pasti akan mendapat sulutan emosi istrinya. Ingatlah di dalam mobil tidak hanya ada mereka berdua. Masih ada Jesper dan Jackson yang belum cukup mengerti tentang masalah kedua orang tuanya. Chanyeol sangat menghindari perdebatan rumah tangga di depan anak-anaknya.
Kebodohan yang Chanyeol sesali membuahkan penyesalan. Ia terlalu egois dengan kemenangannya sebagai seorang lelaki hingga mengabaikan statusnya sebagai suami. Tapi percayalah, antata dirinya dan Yejin tidak ada apa-apa. Itu yang harusnya dipercaya Baekhyun andai saja matanya tidak membelalakkan kenyataan tentang suaminya yang memiliki waktu berdua dengan wanita lain.
"Aku salah, Baek." Chanyeol memulai penjelasannya saat Jesper dan Jackson sudah terlelap di kamar pribadi mereka. "Aku minta maaf."
Baekhyun bergeming. Sudut hatinya terlanjur terbubuhi kekecewaan.
"Kau mau kemana?" Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang hendak keluar kamar. Lelaki itu secepat kilat meraih pintu dan menguncinya—menutup akses bagi Baekhyun yang akan menghindarinya. Mereka berdua adalah orang dewasa, dan orang dewasa menyelesaikan masalah dengan saling berbicara, bukan saling menghindar.
"Peduli apa kau?!" Nada suaranya dingin. Matanya mendongak tajam pada lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Kita bicarakan baik-baik. Aku akan menjelaskannya. Baek, aku dan Yejin—"
"Dan kenyataan yang kulihat sudah menjelaskan semuanya, Yeol! Aku tidak bodoh untuk menerjemahkannya?!"
Satu tarikan nafas frustasi Chanyeol raup. Kekerasan Baekhyun menjadi penghalangnya untuk memperbaiki segala kesalahpahaman hari ini.
"Ku ingatkan sekali lagi aku tidak buta dengan apa yang kulihat tadi!" Semua akan baik-baik saja dan Baekhyun bisa meredam emosinya jika Chanyeol tidak mengepakkan sayap-sayap kelelakiannya. Ia tersenyum layaknya para hidung belang dan mencuri pandang pada bibir sexy lawan bicaranya. Itu tindakan ilegal untuk seorang yang beristri! Meski kenyataannya Chanyeol tidak melakukan hal-hal lainnya, tapi hal itu cukup menyakitkan di mata Baekhyun.
"Aku dan Yejin hanya mengrobol biasa, Baek. Tidak ada hal lainnya."
"Ku harap begitu! Tapi aku wanita, Yeol. Dan kau tidak akan pernah tau bagaimana perasaan seorang wanita terlebih seorang istri saat melihatsuaminya bersama wanita lain!"
Chanyeol salah. Mendebat tentang kebohongan yang tak memiliki senjata penyangkalan memang memuakkan. Dan satu-satunya jalan adalah menerima setiap decihan bahkan tatapan penuh api amarah dari istrinya.
Harusnya Chanyeol tau, mantan adalah sesuatu yang harus ia enyahkan jauh-jauh. Ia sangat tau jika Baekhyun bukan orang yang bisa mentolerir tentang sesuatu yang berbau mantan.
Dan Kim Yejin adalah mantan yang keparat!
.
Keberangkatan Chanyeol ke Jeju sudah bisa dipastikan akan menjadi perjalanan paling berat setelah pertengkaran semalam. Tidak ada kecupan, pelukan, bahkan senyuman saat mobil Jongin menjemputnya. Wanitanya masih merajuk. Bukan rajukan manja yang biasa di lontarkan kala Prada menyuguhkan diskon, tapi rajukan sebenarnya yang membuat Chanyeol harus puas tidur di ranjang sendirian.
Semalam Baekhyun memutuskan tidur di kamar Jesper dan Jackson. Bergelung dengan kedua putranya rasanya lebih baik daripada tidur dengan perasaan jengah atas pertengkaran dengan suaminya.
Menimbang kembali tentang pertengkaran semalam, Baekhyun merasa sedikit berlebihan. Penjelasan Chanyeol hanya ia lalukan begitu saja padahal lelaki itu mati-matian bersumpah tidak ada apa-apa. Tapi mantan tetaplah mantan. Suatu label yang membuat Baekhyun kalang kabut dengan kekuatan iman suaminya. Jika mantan sedang berbicara berdua saja bersama seorang pria beristri dengan dua orang anak, sudah sewajarnya kan Baekhyun mengkhawatirkan segala kemungkinan buruknya?
Merebut Chanyeol, misalnya.
Entahlah. Kemungkinan itu terlalu membelit erat hingga membuat hatinya sesak. Efek terburuknya adalah air mata yang konstan mengalir tanpa pernah tau kapan akan berhenti.
"Mom," anak lelaki usia 3 tahun itu menarik ujung dress ibunya. Matanya nampak bergurat kesedihan saat melihat ibunya menangis sejak satu jam yang lalu.
"Ada apa sayang?"
"Ada Nenek dan Kakek di depan."
.
"Ada masalah dengan Chanyeol?"
Baekhyun tersenyum kecil pada lelaki paruh baya yang ia panggil Ayah. Itu bukan ayah kandung Baekhyun—ia yatim piatu sejak usia 5 tahun. Tuan Park, ayah Chanyeol yang selalu memberinya senyum hangat saat bertemu. Baekhyun merasa nyaman saat berbicara dengan ayah mertuanya—memberinya kenyamanan sebagai seorang anak perempuan.
"Sudah berbicara dengannya?" dan wanita paruh baya yang duduk di samping Baekhyun ini adalah ibu Chanyeol. Wanita penuh jiwa keibuan yang selalu membimbing dan mengajarkan Baekhyun bagaimana menjadi seorang istri dan ibu yang sempurna untuk keluarganya.
Baekhyun tidak pernah tau bagaimana rasanya memiliki seorang ayah yang selalu hangat di setiap tutur katanya, juga seorang ibu yang selalu menyuguhkan petuah-petuah penuh makna untuk hidupnya. Menjadi yatim piatu sejak usia 5 tahun menjadikan Baekhyun pribadi sedikit tertutup. Ia hanya tidak tau bagaimana bersikap kepada orang di sekitarnya—lebihnya ia tidak ingin membuat kesalahan. Dan pertemuannya dengan Chanyeol kala itu membawa perubahan. Sosok ayah yang bijak dan ibu penyayang Baekhyun dapatkan setelah mengenal kedua orang tua Chanyeol. Hatinya merasa bahagia karena kerinduannya akan sosok orang tua terobati setelah bertemu Tuan dan Nyonya Park.
"Tidak apa jika kau masih belum siap membicarakannya dengan Chanyeol. Ibu mengerti." Nyonya Park membelai surai halus Baekhyun—menjadikan wanita muda itu sedikit lebih nyaman dari keadaan hatinya. "Tapi kalian tetap harus bicara."
"Anak itu, sudah tau sedang bertengkar dengan istrinya malah berangkat ke Jeju."Geram Tuan Park sambil menyeduh minuman yang Baekhyun sajikan.
"Pekerjaannya sedang menumpuk dan proyek di Jeju adalah proyek yang sangat di impikan Chanyeol, ayah-mertua."
"Berhenti memanggilku begitu. Cukup 'ayah' saja."
Baekhyun mengulum senyum malu. Bukan apa-apa, ia hanya merasa tidak enak memanggil seperti itu karena memang Tuan dan Nyonya Park adalah mertua.
"Baekhyun, setiap rumah tangga pasti akan ada kerikil tajam yang mengganggu. Kau hanya perlu kekuatan untuk melewatinya bersama Chanyeol."
Petuah-petuah itu akan selalu di ingat Baekhyun. Ia bukanlah wanita yang kuat untuk menentukan nasib hatinya. Kerapuhannya yang mendadak menguasai relung hatinya adalah hal terbodoh yang baru-baru ini ia sesali. Andai saja hati dan kepalanya sedikit melunak, mungkin saran untuk 'berbicara baik-baik' seperti yang banyak orang katakan akan terdengar mudah dilakukan. Tidak seperti sekarang, tiap malam ia menangis karena kekalutan hatinya.
Besar cintanya pada Chanyeol tidak akan pernah ada yang tau. Mengukurnya-pun akan terasa sia-sia karena tidak akan pernah menemui nominal yang pasti.
Memberi cinta dan kepercayaan sepenuhnya pada Chanyeol adalah hal yang seumur hidup tidak akan pernah disesali Baekhyun. Lelaki itu, terlalu baik dan terlalu sempurna untuk di sia-siakan di sisa hidup Baekhyun sebagai wanita. Baekhyun telah menggantungkan semuanya, termasuk segala impian masa depannya untuk hidup bersama Chanyeol.
Dan tidak seharusnya Baekhyun seperti ini. Seonggok wanita bodoh yang menunjukkan kelemahannya untuk bertahan dalam segala situasi. Kecemburuan yang membabi buta merusak segala kerasionalan dan melahirkan egoisme sebesar rasa cemburu sama saja mencoba menemukan titik ujung pada angka delapan. Tak akan pernah menemui akhir.
Chanyeol tidak sepenuhnya bersalah meski ia meladeni ajakan wanita itu. Tapi suaminya itu masih tau diri untuk tidak melakukan hal-hal lainnya yang dapat menyulut kecemburuan Baekhyun seperti cambuk neraka. Mungkin sedikit waktu untuk mendengarkan dan memberikan toleransi adalah cara terbaik meredakan kesenjangan batinnya.
.
Sudah dua hari Baekhyun menghuni rumahnya sendiri. Saat Tuan dan Nyonya Park berkunjung kala itu, Jesper dan Jackson merengek untuk ikut. Rasa rindu mereka pada sang Kakek dan Nenek membuat mereka harus mengiba seperti anak anjing lucu demi perizinan dari sang Mommy.
Jadilah Baekhyun disini, dirumahnya yang terasa hampa tanpa tangisan dan teriakan dua jagoannya. Serasa semakin kosong saat ia tidak melihat sosok tinggi kesayangannya yang masih di sibukkan dengan proyeknya di Jeju.
Sebenarnya Baekhyun tidak akan merasakan besar kesendiriannya ini jika ia mau menjawab setiap telfon Chanyeol. Tapi wanita tetaplah wanita, bersikukuh dengan keegoisannya untuk mengabaikan demi sebuah harga diri. Atau, Baekhyun masih belum siap mendengar setiap kata yang di katakan suaminya sekalipun itu ucapan selamat tidur. Meski barisan rindu yang mulai melewati batas itu merusak lalu mempengaruhinya untuk menekan tombol hijau pada ponsel saat Chanyeol menelfon. Tapi sayangnya itu hanya berakhir seperti udara kosong.
Baekhyun akan menyibukkan diri. Mengembalikan diri sebagai seorang ibu rumah tangga yang bertugas memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Dilihatnya beberapa stok sabun juga bahan-bahan dapur mulai menipis. Jika tetap dibiarkan seperti ini, perlahan tapi pasti Baekhyun akan menemui kata berantakan dan gagal sebagai seorang ibu rumah tangga.
From : Yeobo-Yeol
Sampai kapan akan mengabaikan panggilanku? Aku merindukanmu. Aku akan segera pulang.
Senyum simpul Baekhyun menghiasi wajahnya yang polos tanpa sentuhan make-up. Lelakinya yang mengatakan kata rindu itu lebih manis dari segala macam jenis pemanis yang ada di dunia. Dan yang terpikir oleh Baekhyun saat ini, menyiapkan diri untuk menyambut perdamaian dengan suaminya.
.
Chanyeol menolak tumpangan Jongin karena ia percaya taksi akan membawanya pulang lebih cepat. Penerbangan malam itu berjalan sedikit memakan waktu. Padahal ada hati salah satu penumpang yang sedang merindu dan ingin bersimpu pada istrinya demi sebuah kata maaf.
Chanyeol mendapatkan taksinya, meminta sang supir untuk membawanya pulang dengan kecepatan penuh.
Sudah ratusan kali Chanyeol mencoba menguhubingi satu nama yang membuatnya hampir kehilangan konsentrasi saat rapat di Jeju. Tidak ada jawaban apalagi balasan. Dan percaya atau tidak, ada segumpal kekhawatiran bersarang dalam dirinya.
Baekhyun..
Hingga detik ini, detik dimana jarak yang tersisa adalah 10 kilometer, Chanyeol masih mencoba mengubungi Baekhyun. Berharap ada jawaban dan balasan 'baik-baik saja' demi melegakan sedikit nafas Chanyeol yang tercekik. Ia kalang kabut, karena sejatinya Chanyeol adalah pria yang mengkhawatirkan istrinya. Baekhyun, istrinya itu, wanita nekat—Chanyeol sangat tau. Jika kesalahpahaman waktu itu membuat jiwa nekat Baekhyun menguasai akal sehatnya, bisa dipastikan Chanyeol akan terpuruk seperti seorang beruang yang merindukan madu.
Rumah itu tampak lengang dan gelap setelah taksi yang membawa Chanyeol berhenti di tujuannya. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang bisa meyakinkan Chanyeol untuk tetap baik-baik saja pada keadaannya. Yakinlah, malam ini memang sudah pukul 11 dan bisa saja kehinangan rumah itu karena dua buah hatinya sudah terlelap. Tapi, bukan suatu kebiasaan di rumahnya untuk mematikan dan menggelapkan semua sisi rumah. Chanyeol ingat betul jika beberapa lampu di teras akan menyala jika malam hari. Lalu apa artinya semua ini?
Chanyeol menerobos penuh kekhawatiran. Ia menemukan pintu rumah tidak terkunci dan keadaan didalam sana tak kalah menakutkan. Hanya gelap.
Kakinya lemas, tubuhnya seketika melunak seperti puding, dan otaknya tak bisa menetralkan pikiran-pikiran aneh yang mengerubung.
Diperiksanya setiap sudut ruangan. Kamar Jackson dan Jesper, kamar utama, taman belakang, dan semua sia-sia karena rumah itu hampa. Tidak ada seorangpun yang muncul dan membuat Chanyeol lebih semakin memburuk saat Chanyeol berpindah ke dapur. Sebuah kertas berwarna kuning menempel dengan tidak sopannya di pintu lemari es. Hanya ada dua kata disana dan itu merupakan puncak keputusasaan Chanyeol.
Aku Pergi –Baekhyun
Pada siapa seharusnya umpatan itu ia berikan? Nyatanya dua kata menyakitkan yang ditulis dengan krayon merah itu adalah ujung dari semua ketakutan Chanyeol. Nafasnya semakin sesak dan ia kehilangan fokus.
Ia berteriak seperti seorang kingkong yang kehilangan anaknya, meraung seperti singa yang kehilangan mangsanya, dan tersedu seperti seekor burung yang kehilangan telurnya. Lebih dari itu Chanyeol adalah pria dengan segala penyesalan yang mendalam. Mengutuk bagaimana kebodohannya yang tidak bisa menyelesaikan masalah ini dan membuat wanitanya pergi.
Pergi dan...
"Chanyeol?" itu bukan panggilan surga yang Chanyeol harapkan.
...dia datang.
"Park Chan-yeol?"
Menengadahlah lelaki yang tersedu atas kesakitannya itu. Wajahnya penuh keputusasaan untuk di tunjukan pada siapa saja—
"Chanyeol? Kau kenapa?"
Kiranya ini sebuah halusinasi namun nyatanya bukan. Ukiran wajah yang ia kenal terasa nyata, senyata sentuhan sebuah tangan pada airmata bodoh yang membuat lelaki itu tampak tak berdaya.
Ia menemukannya. Chanyeol menemukannya.
Baekhyun...dunianya yang hampir lenyap dan meninggalkannya tanpa penuh rasa kasihan.
.
Baekhyun menemukan lelaki itu terkapar tak berdaya di lantai dapur. Menjatuhkan segala harga dirinya sebagai lelaki tangguh karena sebuah derai air mata dan cairan lainnya yang keluar dari hidung—mirip seperti Jackson saat menangis untuk sebuah es krim coklat.
Lebih dari duapuluh menit tak ada yang menjelaskan situasi ini. Baekhyun dengan diamnya dan Chanyeol dengan ketidakpercayaannya tentang seseorang yang duduk di hadapannya.
Direngkuhnya lagi tubuh itu, melesakkan perasaan kehilangan yang beberapa lalu menguasai dirinya. Andai bulan bisa menggambarkan, maka tidak akan pernah menemui kecukupan untuk rasa yang Chanyeol rasakan jika ia benar-benar kehilangan wanita itu.
.
Chanyeol masih enggan melepas pandangannya pada wanita yang sibuk dengan beberapa peralatan cukur di kamar mandi. Betapa lega rasa hatinya saat wanita itu tersenyum dan bersepakat menerima segala menjelasan Chanyeol beberapa menit lalu. Begitulah, semua menjadi sangat baik saat kepala dingin mereka bertemu untuk berdamai. Baekhyun menerima penjelasan Chanyeol dan lelaki itu berjanji dengan segala sumpah yang ia ucapkan bahwa tidak ada apa-apa dengan mantan sialan itu.
"Apakah hotel di Jeju tidak memberimu fasilitas bercukur?"Jemari lentik itu membelai lembut bulu tipis di sekitar bibir suaminya. Keadaannya menjadi semakin memprihatinkan ketika ada tambahan kantung mata yang menggelayut manja juga rambut yang berantakan.
Mereka berdiri sangat dekat, sedekat nafas Chanyeol yang mulai teratur dan terasa di sekitar permukaan wajah Baekhyun. Lelaki itu menolak jarak lebih dari 1 meter setelah perdamaian mereka.
"Bahkan bercukur menjadi hal yang sia-sia untuk ku lakukan jika aku masih memikirkanmu, Baek."
Lelaki bermulut manis—Chanyeolnya Baekhyun.
"Benarkah?" busa putih itu mulai di oleskan Baekhyun menutupi bulu halus di wajah Chanyeol. "Ku harap itu bukan buaian meski kenyataannya itu akan terdengar seperti—"
"Kau hanya perlu mengerti betapa aku sangat tersiksa di sana. Ini bukan buaian, namun bukti kerinduanku."
Pisau cukur itu Baekhyun jalankan dengan mulus—membabat habis bulu halus yang membuat lelakinya terlihat seperti seorang ahjussi. Berada pada jarak sedekat ini dengan Chanyeol membuat Baekhyun susah payah menahat hasratnya. Hasrat untuk menikmati tiap jengkal bagian wajah suaminya yang tampan dalam kecupan-kecupan mesra.
"Jangan di ulangi lagi, ya?"
"Harusnya aku yang berkata seperti itu, Yeol."
"Jangan lagi menulis pesan kramat itu dan menempelnya di kulkas. Itu menakutkan. Bahkan terlihat semakin menakutkan jika tulisan itu berasal dari krayon merah milik Jackson."
Baekhyun tertawa kecil disela kesibukannya membersihkan sisa busa bercukur di wajah suaminya.
"Ya, ya, ya. Aku hanya hanya ke supermarket bila aku boleh menjelaskan."
"Kau tidak memberi keterangan itu di notes, sayang." Dikecupnya hidung mungil sang istri. Dalam hitungan detik efek dari kecupan itu menyemukan kemerahan pada dua pipi Baekhyun.
"Oke, aku mengerti."
"Diabaikan olehmu dalam jarak sejauh itu sungguh penderitaan yang menyedihkan, Baek."
"Dan sepertinya Jongin harus berjungkir balik disetiap rapat ketika kau tampak menyedihkan."
"Lebih dari itu dia mengancam bunuh diri jika aku tetap tidak fokus. Anak buah sialan, mengancamku bunuh diri padahal pekerjaan itu memang seharusnya ia kerjakan."
"Itu karena kau keterlaluan."
"Dan itu karena kau mengabaikanku, Baek."
BLUS..
Semua karena Baekhyun. Harusnya wanita itu marah menjadi sumber masalah atas hidup Chanyeol yang sempat berantakan, namun Baekhyun justru mati kutu dengan debaran aneh dalam dirinya setelah mendengar penjelasan Chanyeol.
"Suamiku yang tampan." Busa putih itu enyah beserta bulu halusnya, menyisakan sosok pria menggona yang baru saja Baekhyun puji tampan.
"Akan selalu seperti itu kurasa, Baek." Park Chanyeol, bukan hanya telinganya saja yang besar, namun kepalanya juga besar saat pujian itu menyambangi dirinya.
Baekhyun memutar bola mata jengah, sikap narsis suaminya melebihi semua hal konyol yang ada di dunia.
"Baek..." nada manja. Baekhyun mengernyit untuk nada suara itu.
"Sebaiknya kau cepat mandi dan akan ku siapkan makan malam singkat."
"Mandi berdua, ya?" Chanyeolnya Baekhyun yang manja.
Perdamaian yang mereka sepakati memberikan keleluasaan kembali pada lelakinya. Bahkan tangan kekar yang sedari tadi memenjara tubuh Baekhyun mulai berani menggoda kaos tipis Baekhyun yang membalut tubuh. Menariknya seperti sebuah kain kaos tak bermoral dan merababuntalan daging segar di dalam sana seperti sebuah barang berharga. Jangan lupakan bagaimana jakun kelelakiannya yang mulai kepayahan menelan ludah karena perlakuan tangannya sendiri.
"Stop!" Mode galak telah kembali. Baekhyun mulai lepas, menjauhkan diri dari suaminya yang berpikiran mesum demi menghindari bathroom-sex yang selama ini menjadi imajinasi liar suaminya. Kewarasannya masih bisa dipertahankan meski kini Jackson versi dewasa telah kembali. Merajuk dan manja.
.
"Ada kemungkinan aku dan Jongin akan bolak-balik Seoul-Jeju. Proyek disana masih belum stabil—aku suka bajumu, Baek."Senyum menggoda, melirik kemeja tipis kesayangan Baekhyun yang terlihat seperti potongan dress kebesaran di tubuhnya. Lelaki itu, suaminya, mengagumi setiap pakaian yang di gunakan istrinya. Karena memang tubuh Baekhyun akan selalu menunjukkan keindahan dan kemolekan dengan pakaian apapun.
"Apa itu tidak mengganggu kantormu yang di Seoul?" Baekhyun mengambil tempat di samping suaminya yang memilih menikmatai makan (tengah) malam di atas karpet halus ruang tengah.
"Masih ada Sehun. Dia bisa ku percaya untuk menggantikan aku selama konsentrasiku terfokus pada proyek di Jeju."
"Ah, berbicara tentang Sehun," wanita itu memeluk kaki telanjangnya, meletakkan dagunya yang indah dengan tumpuan lutut kecilnya. "kata Kyungsoo, Luhan sedang hamil."
"Benarkah? Aku baru tau."
"Sempatkanlah memperhatikan anak buahmu, Yeol. Aku yakin kau juga tidak tau jika belakangan ini Kyungsoo memaksa Jongin untuk pergi berlibur."
"Bisa ku artikan liburan itu sebagai program membuat adik untuk Taeoh."
"Dasar mesum!"
"Itulah yang sebenarnya, sayang."Chanyeol tak tertarik lagi dengan makanan di meja saat tubuh mungil Baekhyun berteriak untuk sebuah pelukan. Ia merengkuhnya, menjaga penuh proteksi seakan berlaku hukum haram jika ada yang menyentuh selain dirinya. "Jongin dan Sehun merasa belum bisa dikatakan perkasa jika belum bisa mengalahkan jumlah anak mereka denganku."
"Denganmu?"
"Ya. Keperkasaan laki-laki akan berada pada puncak tertinggi ketika banyak keturunan bisa dihasilkan dari ulat-ulat spermanya. Jongin, Sehun, dan Yunho hyung belum berhasil mengalahkan rekor yang ku pecahkan. Dua anak laki-laki."
Baekhyun mendengus. Pikiran lelakinya masih berkutat pada keperkasaan yang sungguh di junjung tinggi sebagai kebanggaannya.
"Dua anak cukup, Yeol. Ku sarankan kalian hentikan saja cerita keperkasaan itu karena aku belum ingin mengandung lagi."
Chanyeol melepaskan pelukan itu, mengintimidasi tanggapan istrinya yang masih kokoh tidak ingin memiliki keturunan lagi. Bukankah harusnya mereka begitu, menambah banyak keturunan sebelum usia mengharuskan mereka untuk berhenti?
Si betina maraih rahang si jantan, memberi tatapan sendu penuh kasih sayang yang selalu Chanyeol puji ketulusannya.
"Akupun juga ingin punya keturunan banyak. Tapi, sayang, Jackson masih terlalu kecil jika harus berbagi kasih sayang untuk adiknya."
"Dia sudah tiga tahun, Baek."
"Justru itu, aku berpikiran untuk memusatkan semua perhatianku untuk Jesper dan Jackson. Aku ingin menjadi ibu yang hebat, mencurahkan segala kasih sayangku untuk mereka lalu melihat mereka tumbuh menjadi lelaki dewasa sepertimu."Hidung bangir Chanyeol menerima sentilan halus—merontokkan segala ketidakwarasan nafsunya pada sang istri. "Mereka masih butuh banyak perhatian kita sebagai orang tua. Aku takut mereka akan merasa tersingkirkan dan merasa kehilangan cinta karena Mommy dan Daddy-nya terfokus pada si adik bayi."
Baekhyun menempelkan pucuk hidungnya dengan milik Chanyeol, bayi dewasanya yang kadang jauh lebih kekanakan dari dua jagoannya. Baekhyun tidak buta akan keinginan suaminya untuk memiliki keturunan lagi. Tapi itu butuh pemikiran matang, mengabaikan segala percakapan tentang keperkasaan lelaki, karena ada dua anak kecil lainnya yang sedang membutuhkan banyak perhatian dari orangtuanya.
Sepucuk nilai 100 kembali Chanyeol sematkan untuk istrinya. Wanita dewasa yang menjaga kehormatan dirinya sebagai seorang istri juga ibu bertanggung jawab untuk dua anaknya. Dimana lagi ia akan menemukan wanita sesempurna ini?
"Jika kurasa Jesper dan Jackson sudah cukup besar, kita bisa menghadiahi Jessie untuk mereka."Senyum seindah bunga mawar, mempesona seperti gelombang cinta, dan setinggi bunga keindahan yang menyentuh langit-langit kebahagiaan.
.
Semua bermula dari satu kata rindu yang menyebar seperti virus mematikan. Mengkontaminasi tiap oksigen dalam aliran darah dengan gemetar rasa saling memiliki yang berlebih. Menyulut sebuah hasrat bernama nafsu rindu yang menggelung disetiap sudut ruang rindu.
Pergulatan dua bibir yang mendamba di pusat ruang tengah yang remang itu terasa sangat manis. Tidak butuh pemanis buatan untuk menjadikannya sebuah ciuman panjang penuh gelegar hasrat. Lembut, mempesona, dan penuh gairah. Dua insan itu dimabukkan oleh sebuah ciuman panjang bernada rindu.
Chanyeol menggulat bibir wanitanya dengan penuh kehati-hatian. Seakan bibir wanitanya adalah sebongkah emas berharga yang tidak boleh lecet sedikitpun. Kemenangannya sebagai lelaki meletakkan segala kepasrahan istrinya dibawah sebuah kuasa. Melepas segala macam keraguan untuk pergumulan yang tak terhitung yang keberapa. Dihitungpun hanya akan membuang waktu, karena bercinta adalah tentang hasrat. Hasrat yang mengalir seperti air cinta untuk siapa saja yang menikmatinya.
Tidak ingin terburu oleh sebuah nafsu yang membeludak. Perlakuan halus nan lembut Chanyeol berikan untuk menjamah tiap inci indera peraba istrinya. Melepas lubang-lubang kancing kemeja si wanita demi sebuah tubuh indah yang selalu dipuja Chanyeol.
Si betina yang pasrah, mengalungkan lengannya di leher si jantan tanpa melepas pagutan yang membuatnya candu.
Seputih kapas dan sehalus sutra, jemari Chanyeol berputar dengan rabaan yang lembut. Menyusuri tiap kesempurnaan tubuh istrinya yang kini hanya berlindung kain berenda. Sebuah lipatan ditengah dada mengoyak pertahanan Chanyeol. Sebagai laki-laki, ia memuja dengan imbuhan kata sangat pada lipatan itu. Sangat pas untuk telapak tangannya juga benda tak bertulang dalam mulutnya.
Kain berenda itu segera di enyahkan, memunculkan dua gundukan surga Chanyeol yang terlihat seperti masih perawan. Ingatkan Chanyeol bahwa ia sudah berkali-kali menggumul gundukan itu.
Ciuman terlepas, berpindah pada rahang si betina dan berjalan perlahan turun dengan sebuah kecupan. Meninggalkan bundaran merah sedikit legam di beberapa titik leher jenjang itu. Pundak sempit yang terlalu sering memikul beban berat menjadi sasaran selanjutnya sebelum turun pada pusat gundukan. Chanyeol seperti pria yang memiliki kelebihan oksigen—meniupkan udara dari bibirnya ke sebuah ujung gundukan Baekhyun yang menggoda.
Tiupan itu mengundang libido Baekhyun berkumpul menjadi satu—memaksa si empunya untuk menggumamkan lenguhan tertahan dan nafas resah. Lelakinya selalu tau bagaimana memperlakukan dirinya, membangunkan hasrat nafsu dalam dirinya hingga membuatnya bersyukur atas kenikmatan ini.
Chanyeol selalu membuatnya terasa lambat namun lembut. Menyesap penuh kehausan rasa namun masih dalam volume yang bisa ia kontrol. Adil adalah pedoman Chanyeol. Jika ia menggumuhi puting sebelah kanan, maka akan ada tangannya yang kosong untuk membuat gestur gunting di ujung puting yang lain. Permainan menyenangkan yang membuat Baekhyun kembali menegang atas segala hasrat kewanitaannya. Kembali pada keadilan yang Chanyeol pegang erat—bergantian melesakkan dan menyesap pada si kiri dan si kanan bergantian.
Setelah itu semua kenikmatan semakin turun ke bawah. Hawa dingin pada pusat kewanitaannya merasuk begitu saja saat ada dua tangan yang membuka lebar akses itu. Kain segitiga itu entah pergi kemana. Tak masalah jika sekarang yang Baekhyun dapatkan adalah rasa lembut penuh kenikmatan—membuat tubuhnya terangkat dan dua tangannya bergerak gelisah mencari sesuatu untuk ia cengkeram. Beberapa kali kakinya meronta untuk mengapit, tapi selalu ada dua tangan yang menahannya untuk tetap tertahan tanpa mengganggu sebuah hisapan di bawah sana.
Ini gila! Baekhyun sudah gila dan bergerak resah karena tubuhnya menggeliat itu semuanya menjadi hangat saat cairan kewanitaannya melesak keluar. Mengundang sebuah senyum puas dari lelakinya di bawah sana yang baru saja selesai dengan kegiatannya.
Tubuh tinggi dan berdada bidang, ditambah otot-otot terlatih yang mengepul sempurna, membuat Baekhyun puas akan tubuh itu.
Lelakinya mulai melesak kembali pada celah lehernya, mendekatkan dada bidang itu dengan dua payudara yang di damba. Menambah tingkatan nafsunya untuk sebuah kata kepuasan yang ia harapkan untuk malam ini.
Jemari Baekhyun menganggu surai coklat suaminya, mencoba memberi petunjuk bahwa yang dilakukan suaminya itu membuatnya menjadi sempurna untuk sebuah pelayanan. Genggaman surai itu bertambah kencang saat benda tumpul kesayangan suaminya melesak masuk pada lubang kehangatan. Cukup pelan namun menggoda—sesekali Baekhyun dibuat menegang dengan volume ketegangan yang membuat sesak dalam dirinya.
Chanyeol mulai bergerak, mengundang denyutan dinding dalam istrinya untuk meremas penuh kenikmatan. Ia akan melakukannya seperti lelaki sejati—tidak ada kekerasan untuk kata memburu karena ia tau kenikmatan ini untuk mereka berdua.
Desakan penuh lenguhan, putaran yang menghasilkan peluh, dan ucapan cinta yang terdengar seperti bisikan menggoda untuk sebuah seks panas malam ini. Gairah keduanya memuncak, meninggalkan segala kewarasan jika sekarang mereka bercinta di ruang tengah—diatas karpet berbulu halus yang menjadi tumpuan punggung polos si betina.
Keduanya tidak tau akan sampai kapan pergumulan ini usai. Karena ketika Baekhyun mendapatkan pencapaiannya, Chanyeol masih memberinya todongan-todongan nikmat pada pusat kenikmatan yang telah Chanyeol temukan. Lelaki itu memejamkan mata, menikmati bagaimana ketegangannya di remas-remas oleh denyut dinding dalam Baekhyun.
Yang bisa dilakukan Baekhyun saat ini adalah membantu suaminya untuk menjemput kenikmatan. Ia tau, Chanyeol adalah lelaki berhasrat yang selalu berusaha keras untuk kepuasannya saat mencumbu istrinya. Maka dari itu, Baekhyun bergerak aktif, menggerakkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga untuk sebuah kepuasan yang sepertinya akan ia raih lagi.
Hingga akhirnya Chanyeol tumbang dengan sebuah lenguhan panjang. Membanjiri bagian terdalam Baekhyun dengan cairan penuh ulat-ulat cintanya dan membiarkan kehangatan di dalam sana seperti apa adanya.
Chanyeol lagi-lagi tergolek lemah diatas tubuh istrinya—seperti percintaan mereka sebelumnya. Sisa tenaganya ia gunakan untuk mengatur nafasnya yang memburu—seperti nafas istrinya yang berkejaran meminta sebuah ketenangan.
Tergeletak diatas karpet halus bersama keremangan ruang tengah, menjadi saksi lain bagaimana Baekhyun dan Chanyeol masihlah manusia berhasrat untuk saling bercinta.
Biarkan ini menjadi kisah percintaan mereka yang selalu berbalut nafsu.
.
.
.
Tebece
