M
.
.
Gerak gelisah menyambangi Baekhyun yang terbangun tepat pukul 2 pagi. Hatinya risau—merasa ada yang tidak nyaman tentang kerinduannya pada Jackson dan Jesper. Seminggu sudah dua bocah itu berada di rumah Kakek dan Neneknya. Tidak ada niatan untuk pulang meski Baekhyun sudah membujuk dengan segala sogokan.
Katakan ini rindu. Ibu mana yang tidak rindu dengan anaknya jika sudah seminggu tidak bertatap muka, mencium kening sebelum tidur, dan mendengar celotehan khas anak-anak.
Isaknya perlahan turun. Rindu yang menggebu pada dua bocah itu membuat Baekhyun dihalang rasa tidak enak yang menghancurkan benteng air matanya. Kemarin ia mencoba bernegosiasi dengan pria yang terlelap di sampingnya. Memberi penawaran bagaimana jika mereka (Baekhyun dan Chanyeol) menjemput Jackson dan Jesper. Tapi, jawaban tidak berperikeistrian yang justru didapat 'kalau begitu kita buat satu anak lagi biar kau tidak merindu'. Negosiasi dengan pria itu hanya akan memunculkan pikiran kotor dan berakhir dengan ajakan bercinta.
Tubuhnya berguling ke kanan ke kiri—mencari posisi nyaman yang akan membawanya kembali pada dunia mimpi. Sejatinya rasa rindu hanya bisa ditebus dengan sebuah pertemuan dan akan jadi permintaan konyol jika pada pukul 2 pagi ini Baekhyun memaksa Chanyeol untuk pergi menjemput Jesper dan Jackson. Jauh dari sebuah harapan sebenarnya kekonyolan itu menghasilkan pikiran Baekhyun yang meyakini hanya penolakan yang akan ia dapat. Sebabnya hanya satu, lelakinya itu baru saja pulang dari kantor pukul 12 malam tadi. Dan suami manjanya itu sungguh sangat murka jika tidur berkualitasnya diganggu.
Tubuhnya membalik ke kiri, menjumpai dada bidang suaminya sebagai tempat ternyaman di dunia untuk bersandar. Pelukannya erat, aroma maskulin lelakinya mencoba mengkontaminasi rasa rindu Baekhyun pada dua anaknya.
"Menangis lagi?" suaranya serak—khas orang mengantuk yang terjaga.
Alih-alih menjawab, wanita itu kembali terisak.
"Ada aku, Baek." Lelaki itu bersombong diri sambil membelai surai Baekhyun yang ada dipelukannya. "Bukankah aku sangat mirip dengan Jackson?"
"Kau bukan pecinta pororo seperti Jesper."
"Ya. Karena aku adalah pecinta tubuhmu."
Pukulan kecil mendepak lembut dada Chanyeol dari tangan istrinya. Bahkan saat mengantuk saja pria itu masih sempat menyelipkan pikiran mesum. Bayangkan jika ia sepenuhnya sadar?
"Sudahlah. Tidur, ya? Besok pagi kau harus melayaniku."
Chanyeol mempererat pelukannya, menyuplai berjuta liter kenyaman untuk wanita terkasih yang mendapat gelar cinta mati. Baekhyun.
Lengan Chanyeol terlalu kekar dan terlalu berat akan dambaan, jadilah Baekhyun pasrah meski ia masih menyempatkan diri mendesis untuk suaminya yang diberkati otak sedikit berdebu.
.
Esok pagi adalah saat sang surya menjuntaikan pencerahan yang hangat. Surya yang anggun itu sedang memainkan gelagat keindahan efek kemurnian dari pencahayaannya yang tak pernah bisa di tandingi oleh kecanggihan alat fotografi apapun. Natural.
Berbicara tentang natural, senaturalnya seorang istri bangun lebih pagi untuk tugas-tugasnya. Membuat sarapan, menyiapkan perlengkapan keluarga, dan hal lain yang merupakan job-list seorang ibu rumah tangga teladan di pagi hari. Tapi lihatlah, Baekhyun baru saja terbangun saat jarum jam membeberkan kenyataan sudah pukul 8 pagi. Matanya menyipit saat mengetahui hal itu. Salahkan saja tirai megah kamarnya yang tertutup rapat—menghalangi sinar pagi yang ingin menyentuh kulit Baekhyun. Sebenarnya ia tidak perlu terburu karena pagi ini tanggung jawabnya hanya 1 lelaki saja. Suaminya.
Semalam Chanyeol mengatakan jika hari ini akan berangkat siang. Rapat pagi yang sudah seperti apel wajib itu ia serahkan pada Sehun. Pembahasan hal-hal kecil di pagi hari tidak terlalu membutuhkan otak jenius Park Chanyeol, jadilah dia mengulur waktu ke kantor untuk sekedar memperpanjang waktu tidurnya.
Baekhyun menggeliat, meregangkan persendiannya seperti seorang kucing perawan lucu. Bibir tipisnya menguap seraya menarik diri dari selimut dan duduk bersandar di kepala ranjang. Harusnya Baekhyun segera bangun dan melaksanakan tugasnya, tapi ketika mata sipitnya mendapati kemeja tidurnya setengah terbuka dan bra berenda merah malang yang terkapar tak berdaya di lantai, ia rasa ada seseorang yang harus bertanggung jawab atas kemalangan itu. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.
"Bukan aku, Baek." Erang Chanyeol saat istrinya itu mengoyak tubuhnya yang masih meringkuk di balik selimut. Baekhyun mendiktekan kekesalannya karena tangan jahil Chanyeol yang berulah liar itu.
"Lalu siapa? Hanya ada seonggok daging berstatus suamiku yang tega melakukan ini! Ya! Park Chanyeol!"
Chanyeol adalah dewa kemalasan saat tubuhnya berdering lelah. Matanya seperti tertempel lem super dan tidak berminat untuk di buka meski tangan kurus istrinya melakukan serangan pukulan.
"Dasar mesum!" Baekhyun mengakhirinya, mengoyak tubuh Chanyeol seperti mengoyak manekin di Mall. Sia-sia.
Tapi sepertinya kesia-siaan itu hanya berlangsung sebentar. Ada sebuah tangan yang menarik pinggang Baekhyun dan mendaratkan dengan sempurna sebuah kepala bersurai coklat diatas kaki polos Baekhyun. Menjejalkan serentetan gumaman 'nyaman' yang berbandrol 'lebih' dari sebuah sofa berbantal sutra terbaik sedunia.
"Jika boleh ku sarankan, sebaiknya kau implan payudara di dadamu dan berhenti menganggu milik orang lain." sungut Baekhyun.
"Orang lain itu istriku." Sahutnya masih dengan suara malas. "Aku tidak suka yang palsu, karena yang alami lebih menyehatkan."
Putaran jengah dari dua bola mata Baekhyun adalah wujud akhir dari perdebatan itu. Jika dilanjutkan, Chanyeol akan membalas ucapan Baekhyun dengan perkataan lebih mesum lagi. Dan itu tidak baik untuk telinga Baekhyun di pagi hari. Sungguh!
"5 menit saja, Baek. Jangan pelit-pelit pada suamimu." Negosiasi Chanyeol saat istrinya itu meminta untuk berpindah. Baekhyun beralasan, istri yang baik adalah istri yang menyiapkan kebutuhan suaminya di pagi hari sebelum berangkat ke kantor. Dan Chanyeol menyumpal sebuah penolakan demi kenyamanan yang merambat seperti anggrek.
"Aku harus menyiapkan makan untukmu, sayang."
"Kau bisa memiliki waktu itu 5 menit setelah ini. Biarkan aku begini sebentar saja. Oke?"
Chanyeolnya Baekhyun, pemaksa yang manja.
Baekhyun adalah pihak pengalah saat pagi harinya digelayuti kemanjaan si bayi besar. Ia akan bersiap dengan naluri keibuannya pada si bayi besar yang sangat suka di belai dan di dongengkan sesuatu yang manis dari bibir istrinya. Dongeng apa saja, karena bagi Chanyeol, Baekhyun itu pembicara yang manis.
"Nanti pulang malam?" Tanya si betina dengan belaian lembut di surai coklat. Belaian lembut bertabur kenyaman yang memanggil rasa kantuk untuk menyerbu lagi—Chanyeol menyukainya dengan imbuhan sangat.
"Eum. Ada rapat."
"Dan aku di rumah sendirian lagi." Keluhnya dengan pundak yang jatuh lesu. "Chanyeol, antar aku menemui anak-anakku ya? Ayolah, kumohon. Aku sangat merindukan mereka." Wanita itu memaksa. Jenis paksaan yang sudah bisa dipastikan akan mendapat penolakan dari lelakinya.
Chanyeol bukannya tidak rindu dengan Jesper dan Jackson. Ia rindu, sangat rindu. Tapi momen seperti ini akan sangat langka terjadi. Ia bisa memiliki Baekhyun seutuhnya dan mengajaknya bercinta kapan saja—meski pil pencegah kehamilan itu selalu menjadi penghalang ulat-ulat cintanya dalam rahim Baekhyun; seperti yang terjadi saat mereka bercinta di ruang tengah. Bayangkan, jika ada dua anak lelakinya itu, dijamin Chanyeol hanya bisa memiliki tubuh Baekhyun seutuhnya saat malam hari. Itupun terkadang si wanita mengaku lelah dan butuh istirahat. Dan ketika Jesper-Jackson pergi dengan segala pengertian untuk waktu bahagia Daddynya, Chanyeol harus berkuasa penuh atas kepemilikannya.
"Akhir pekan." Lelaki itu memutuskan. "Setelah pekerjaanku minggu ini selesai, kita jemput mereka. Oke? Jadi berhentilah merajuk."
"Itu terlalu lama, Yeol."
"Itu terlalu sebentar untuk waktuku menikmatimu tanpa gangguan anak kita, kuperjelas itu Baekhyun."
Bibir mungil Baekhyun akan melayangkan protes namun kalah start oleh sebuah kecupan lembut nan manis dari bibir kering suaminya. Sejenis kecupan pembuka pagi sekaligus pembungkam rengekan Baekhyun yang bahkan lebih buruk dari seekor bebek.
"Siapkan sarapan. Aku mandi dulu."
"Tidak mau!" wanita itu melipat tangan di dada, membuat sejenis kerucut lucu dari bibirnya, dan membuang muka dari suaminya yang sudah bertelanjang dada.
"Yakin tidak mau?" Chanyeol mendekat, meraih dagu runcing penuh kata anggun dari wanitanya yang cantik jelita. Tatapan sendu tak tertinggal untuk sebuah balasan mata sipit penuh ketajaman dari wanita terkasihnya itu. Diam-diam nyali wanita itu menciut, menunjukkan ketidakberdayaannya jika diperlakukan seperti ini. "Kau harus ku huk—"
"Baiklah. Sarapan untuk suamiku yang mesum." Baekhyun menarik diri, melupakan rajukannya demi sebuah pertahanan sebelum suaminya itu melesakkan percintaan di pagi hari. Yakinlah bahwa nafsu Chanyeol itu sebesar angkasa. Dalam seminggu ini dia sudah mendapat empat kali pelayanan dari Baekhyun dan kesemua itu berakhir setelah mendapat dua pencapaian.
.
Hari-hari menuju akhir pekan adalah hari paling membosankan dalam sejarah hidup Baekhyun. Sepanjang hari ia hanya di rumah, bergelut dengan segala macam tugas seorang ibu rumah tangga yang entah kenapa terasa hanya memakan waktu singkat untuk di selesaikan. Sesekali ia menelfon dua jagoannya dan mengatakan akan menjemput mereka akhir pekan nanti, tapi dua anak itu serasa tidak memiliki minat untuk pulang jika kemanjaan yang diberikan Kakek-Neneknya seratus kali lebih menggiurkan. Tidakkah mereka tau ada satu wanita sedang merana bersama sebotol kerinduan yang selalu membuatnya terisak tiap malam?
Mengalihkan kebosanan dan kerinduannya pada Jesper-Jackson, sesekali Baekhyun pergi keluar untuk berbelanja. Memenuhi kembali kekosongan bahan-bahan dapur yang sebenarnya tidak terlalu rumpang. Sekali lagi itu hanya pengalihan hingga malam menjemput dan ia bisa menggantungkan kemanjaan pada suaminya. Hal itu mendapat komentar dari si lelaki 'kau menjadi 1000 kali lebih manja dari anak-anak'. Baekhyun tak ambil pusing akan hal itu karena sebenarnya posisi manja mereka akan terlihat sama saat merajuk, hanya beda porsi dan situasi.
Sehari menjelang akhir pekan, Baekhyun tampak lebih hidup. Ia tidak lagi lesu saat pagi menjelang karena ada notes tak kasat mata yang mengingatkannya tentang akhir pekan. Menjemput dua buah hatinya.
"Kita bertemu di Cafest saja. Bagaimana?" Pertemuan wanita anggun, begitulah ajakan yang Luhan berikan pada Baekhyun. Menyeduh Latte dan membahas hal-hal tentang kehidupan seorangwanita bersuami menjadi kegiatan wajib di pertemuan itu.
Baekhyun yang akhir-akhir ini selalu mendapat kesepian di siang hari segera mengajukan persetujuan atas pertemuan itu. Lagipula ia telah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya dan mendapat waktu luang berlebihan dari siang hingga malam. Setidaknya biarkan Baekhyun mengisi waktu itu dengan menghibur diri daripada menemani kebosanan yang mencekik urat kesabarannya.
.
Wanita cantik berbalut kemeja peach dan rok putih anggun di atas lutut itu adalah nyonya besar perusahaan ini. Rambutnya yang legam beserta tumit tingginya yang berbaluh heels senada dengan kemejanya merupakan identitas khas si nyonya besar yang juga mantan seorang model. Beberapa orang menunduk hormat pada wanita itu dan di balas dengan senyuman tulus. Betapa beruntungnya si bos bisa mendapatkan wanita secantik dan sesempurna itu. Bukan rahasia jika banyak yang menaruh iri padanya, wanita yang telah melahirkan dua anak lelaki itu masih nampak seperti seorang gadis perawan ketat. Entah di buang kemana semua lipatan lemak itu hingga menyisakan tubuh ramping yang penuh damba.
Heelsnya mengetuk penuh kekuasaan saat pintu lift terbuka dan membawanya pada ruangan si bos. Wanita itu, Baekhyun, menjejali seluruh pasang mata di ruangan itu dengan senyum anggun layaknya putri raja sebelum kakinya berhenti di depan sebuah pintu di ujung ruangan.
"Suamiku di dalam, Jongin?"
Jongin, sekertaris pribadi si bos mengangguk dan membukakan pintu ruangan itu untuk si nyonya besar yang cantik dan galak.
"Ku rasa kemejamu baik-baik saja jika di padankan dengan dasi hitam." Baekhyun buka suara, mengalihkan keseriusan suaminya yang sedang berkencan dengan dokumen-dokumen.
"Menjijikkan jika aku harus menemui klien China dengan dasi hitam. Seperti sebuah peringatan kematian."
Wanita itu duduk di salah satu sofa, meletakkan Prada yang senada dengan warna roknya dan menyilangkan sepasang kaki jenjang penuh godaan. Suaminya yang sedang sibuk di meja sana hanya bisa menahan pergerakan ludahnya yang mendadak seperti batu.
Suatu kebanggan bisa menggoda Chanyeol yang sudah bersiap ingin menyerbu namun ada si dokumen yang harus ia selesaikan.
"Untuk pergi ke kantorku kurasa dandananmu sedikit berlebihan, Baek." Gumam si jantan yang mulai jengah dengan dokumennya. Sepertinya ia harus mengalihkan dokumen itu pada Jongin dan Sehun karena ada hal penting lain yang harus ia selesaikan. Mendekati kucing betina cantik yang sedari tadi menggoda kelelakiannya.
"Hanya ingin menunjukan identitasku sebagai nyonya besar di sini."
"Sombong bukan ajaran yang baik, sayang."
"Itu bukan sombong."
"Terserah kau." Setelah itu Chanyeol menarik dagu sombong si kucing cantik, mencium rahang sempurna yang Chanyeol beri nilai seratus. Aroma mawar manis menyeruak begitu saja—mengganggu kedamaian indera pencium Chanyeol yang terbelit rasa candu.
"Jadi," Baekhyun mempereteli juntaian rapi dasi hitam yang membelit leher suaminya, menggantinya dengan dasi abu-abu yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia harus singgah sebentar di sini sebelum bertemu Luhan, "aku harus segera mengganti dasi ini karena Luhan sudah menunggu."
Lelaki itu mengernyit karena istrinya menarik diri; menghindar saat Chanyeol berniat mengobrak-abrik lipstik merah provokatif yang membuat bibir wanita itu tampak bernilai tinggi.
"Tidak sebelum aku mencium dan mempermainkanmu." Chanyeol menarik pergelangan tangan wanitanya. Kekuasaan tertinggi lelaki adalah kekuatannya dalam menekuk telak kepasrahan wanita di bawahnya. Memaksa sepasang retina itu untuk menyerah menjadi langkah selanjutnya sebelum lipstik merah menantang itu berhambur keluar arena.
Pencium yang handal adalah Park Chanyeol dan pemberontak yang kuat adalah Baekhyun. Satu pihak menahan tengkuk untuk memperdalam sebuah ciuman dan pihak yang lain memberontak dengan sisa tenaganya sebagai wanita. Namun ciuman Chanyeol terlalu manis hingga mengubah semua pemberontakan itu menjadi kepasrahan. Wanita itu pasrah, lebih pasrah lagi saat ia menurut untuk mengalungkan dua tangannya membelit leher sang suami.
Siang sedang berterik dengan sangat menyengat ketika ciuman itu masuk dalam tahap lumatan. Lidah tak bertulang Chanyeol menjadi satu-satunya pihak yang berperan aktif membelah bibir Baekhyun dan membelit lidah lain di dalam sana. Pada dasarya ciuman itu menjadi pemula sesuatu yang lain—lebih jauh untuk sebuah ciuman sepasang suami istri.
"Ini di kantor, Yeol." Baekhyun menginterupsi suaminya yang terlalu terbuai dengan ciumannya. Diraupnya banyak-banyak oksigen untuk paru-parunya sebelun lelaki itu membungkam lagi bibirnya.
"Lalu?"
"Ketidakmungkinan terbesar yang ku pikirkan adalah bercinta di sini. Terlebih sebentar lagi kau akan bertemu dengan klien dan aku bertemu Luhan."
"Siapa yang akan mengajakmu bercinta di sini, sayang?" Senyum sepihak yang menawan. Untuk kesekian juta kalinya Baekhyun terpikat oleh senyum miring sepihak milik suaminya. "Aku hanya akan menciummu."
"Dan apa artinya dengan tanganmu yang sudah meloloskan kancing kemejaku?" Baekhyun melirik kebawah; menunjuk dengan mata pada beberapa kancing kemeja yang terbuka dan menampilkan bra renda putih yang membungkus bagian kesukaan Chanyeol.
"Apa perlu ku jelaskan lagi kenapa kancingmu terbuka, Baek?" Chanyeol mencium sekilas lipatan dada Baekhyun yang merutukinya. "Aku hanya ingin milikku." Setelah itu ciumannya berubah menjadi sedikit brutal karena Chanyeol berhasil mengeluarkan dua gundukan kencang itu.
Baekhyun memutar bola matanya jengah karena Chanyeol dengan lidah liarnya membelit dan memberi imbuhan gigitan kecil pembakar nafsu. Mungkin saat Chanyeol masih menjadi sebuah nyawa sebelum terlahir di dunia dan berbaris untuk mengantri pembagian sebuah nafsu dari Tuhan, lelaki itu mendapat urutan pertama. Terbukti dengan sifat posesifnya yang tinggi dalam melampiaskan nafsunya pada Baekhyun sekarang ini.
Niatnya Baekhyun akan menahan diri akan gairahnya yang tersulut, tapi suaminya adalah lelaki penuh keperkasaan yang mampu membangunkan segala libido keparat dalam tubuhnya. Sebongkah berlian penuh nafsu menjadi kelemahan Baekhyun untuk menyerah, membuat lenguhannya tidak terelakkan saat merasa ada belah bibir yang menjepit ujung putingnya.
Tidak seharusnya pergumulan itu terjadi karena...
"Hyung—"
...Jongin bisa kapan saja muncul dari balik pintu.
"Oh my God! Apa yang kalian lakukan?!"
Chanyeol segera menindih tubuh istrinya—menyembunyikan hasil perbuatannya yang sudah setengah jalan melucuti nafsu Baekhyun.
Jongin berbalik badan, mengeram frustasi atas tindakan bos-nya yang kurang peduli kondisi sekitar atas apa yang ia lihat tadi. Jika Chanyeol bukan atasannya, setulus hati Jongin akan menyeret lelaki itu dan menggantungnya di ujung pohon. Pergumulan siang hari di dalam kantor bukan hal yang bisa di benarkan!
Tapi apalah daya Jongin yang juga memiliki nafsu sebesar Chanyeol saat bertemu Kyungsoo. Hanya saja Jongin tau situasi dan kondisi jika ingin menuntaskan hasratnya, bukan seperti bos-nya sekarang.
"Temui aku 30 menit lagi, Jongin."
Desah nafas frustasi adalah jawaban Jongin atas perintah bos-nya. 30 menit? Apa mereka akan bercinta lagi? Biarlah nafsu mereka yang menang karena Jongin membenci pikiran itu—membuatnya ingin cepat pulang dan bermain dengan tubuh Kyungsoo.
.
Baekhyun sudah pergi setelah berbenah diri pada tubuhnya yang sedikit di rusak suaminya. Pakaiannya kembali rapi dan lipstick merah kembali memprovokasi bibir tipisnya yang selembut sutra di surga. Harum parfumnya masih menawan dan memikat siapa saja yang mengendusnya. Termasuk lelaki yang kini membenahi dasi yang melilit lehernya—karya istri tercinta.
Limabelas menit yang lalu ia hampir saja menuju ke puncak kenikmatan. Setidaknya untuk gumuhan pada payudara istrinya bisa menggantikan gelungan nafsu yang memaksa untuk menerobos kenikmatan lebih lanjut. Salahkan saja Jongin, lelaki itu masuk tanpa pernah tau itikat sopan mengetuk pintu saat akan masuk. Mau tidak mau gumuhan itu berhenti dan Chanyeol harus puas dengan janji wanitanya yang akan memberikan hal lebih saat di rumah. Chanyeol mengikat janji itu rapat-rapat di dalam otaknya.
"Aku izin pulang cepat." Lelaki berkulit tan itu kembali dengan itikat tidak sopannya saat membuka pintu, membuat tuan besarnya mengernyit kesal atas tindakan tak bertata krama itu.
"Kupotong gajimu karena masuk tanpa mengetuk pintu."
"Bagaimana bisa kau bercinta saat di kantor, hyung?" Jongin melesakkan tubuhnya duduk di hadapan Chanyeol.
"Kupotong gajimu lagi karena ikut campur urusanku."
"Aku benar-benar minta izin pulang cepat karena aku harus bertemu Kyungsoo."
"Kupotong gajimu lagi dan lagi karena—"
"Hyung!"
Coba cari kembali kebenaran tentang siapa yang berkedudukan tertinggi di sini dengan siapa yang baru saja membesengut kesal. Chanyeol meletakkan hal itu sebagai suatu kemakluman karena pecinta wanita ketiga ini juga lelaki tulen yang pasti akan menegang melihat adegan percintaannya tadi. Untung itu Jongin, karena Chanyeol sungguh enggan memberi tolerir pada siapapun yang berani menginterupsinya saat sedang berbicara—atau bercinta.
"Istrimu sedang tidak ada di rumah, Jongin." Chanyeol membuka sebuah map yang tadinya di bawa Jongin, membaca serentetan huruf untuk di bubuhi tanda tangan dan pundi-pundi tabungannya akan bertambah. Menyenangkan sekali pekerjaan ini."Wanita-wanita itu, sedang ada pertemuan. Ku sarankan kau bersabar saja." Imbuh Chanyeol yang mendapat balasan kecewa dari Jongin. Wanita-wanita itu: Jaejoong, Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo, empat makhluk menyeramkan ciptaan Tuhan yang bisa lebih kejam dari boneka Chaki jika ada yang menginterupsi pertemuan mereka. Dan Jongin terpaksa harus puas dengan memendam hasrat kelelakiannya jika tidak ingin ada petisi penolakan dari istrinya.
.
"Apa yang baru kau lakukan dengan Chanyeol di kantor?" pertanyaan menohok yang cukup membuat ketenangan Latte Baekhyun berhambur dari mulutnya dengan cara menjijikkan—mengotori sedikit krah kemeja peachnya.
Baekhyun memiringkan kepala, meminta kejelasan atas pertanyaan sedikit terbuka itu.
Yang dilakukan Baekhyun di kantor Chanyeol? Perlukah di jelaskan di depan teman-temannya?
"Jongin menyuruhku cepat pulang dan memintaku membeli..." Namanya Kyungsoo, perempuan berambut ikal red-wine sebatas bahu itu istri Jongin. Matanya menyala semakin lebar, seperti padang pasir panas.
"A-aku.."
"Ku rasa lelaki-lelaki itu terlalu melebihkan hasrat mereka." Namanya Jaejoong, perempuan berpenampilan chic itu istri Yunho—pecinta wanita pertama.
"Ku harap tidak ada Sehun dalam istilah laki-laki itu." dan ini Luhan, rusa cantik yang sudah membuat Oh Sehun mabuk kepayang karena jatuh cinta.
"Jesper dan Jackson tidak di rumah, haruskan kalian tetap melakukannya di kantor juga?" Kyungsoo membuang nafas kesal, suaminya yang kekanakan itu memintanya untuk cepat pulang dan memberi pelayanan setelah memergoki Chanyeol dan istrinya yang galak itu hampir berbuat tidak senonoh di kantor. Dimana letak logika dua orang itu? Sekalipun nafsu membumbung setinggi Eiffel dan sebesar Colosseum, bukan hal yang tepat jika dilakukan di kantor dan kepergok oleh Jongin yang mudah terpancing.
Dua wanita lainnya terkekeh menyaksikan kecanggungan Baekhyun yang berefek semu merah tomat di kedua pipinya.
"Jika besok aku hamil karena Jongin memperkosaku lagi—oh Tuhan, aku belum siap!" Kyungsoo menangkup wajahnya, membayangkan bagaimana nasib kewatiaannya malam ini di bawah kuasa Jongin. Lelaki itu pantang menyerah meski Kyungsoo menolak. Pergumulan malamnya pasti akan berlangsung panjang karena Jongin menyimpan kelebihan gairah jika Kyungsoo sudah berpolos diri di bawahnya.
"Sudahlah, bukankah tugas utama seorang istri memang melayani suami. Apa yang membuatmu tidak siap, Soo?" Jaejoong menengahi.
"Tugas berat jika suamimu meminta pelayanan hampir setiap hari." Gumam Baekhyun. Lelakinya itu seperti kecanduan bercinta, selalu meminta setiap malam tiba dan akan merajuk sepanjang hari jika istrinya menolak.
Kini Luhan harus puas dengan keliaran Latte-nya dan mengotori dress-nya. "Sepertinya aku harus bersyukur karena Sehun masih bisa menggunakan limitnya sebagai seorang lelaki jika memintanya padaku."
"Ya, kau beruntung, Lu. Setidaknya kalian tidak memiliki suami yang gila permainan saat berhubungan badan. Aku bahkan harus pergi ke spa, mengendurkan kembali tulang-tulangku karena imajinasi bodoh Yunho tentang permainan aneh saat bercinta."
Pembahasan apalagi jika bukan tentang suami dan anak-anak? Empat wanita dewasa itu bertukar pengalaman rumah tangga tanpa ada rasa canggung. Berbagi tentang bagaimana sifat dan sikap suami-suami mereka juga tentang perkembangan anak. Tidak ada sesuatu yang berat untuk dibahas—seperti pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol beberapa waktu lalu. Baekhyun cukup menganggapnya sebagai bumbu-bumbu penyedap rumah tangga—tanpa hal itu ia tidak akan pernah tau seberapa besar rasa bersalah dan penyesalan Chanyeol.
Wanita adalah penyimpan terbanyak topik pembicaraan. Menyiulkan berbagai macam hal menarik untuk di bahas bersama sedikit tawa renyah sebagai pelengkap. Berkasak-kusuk seperti anak burung ribut yang menyambut makanan pertama di hari pertama hidup. Dan waktu yang terbuangpun mulai mencapai batas limit dimana Jaejoong di jemput oleh Yunho, Luhan yang harus kembali meneruskan pekerjaannya sebagai pengacara, Kyungsoo yang mulai kehilangan kesabaran karena Jongin terus menghubunginya, dan Baekhyun yang cukup puas melihat lelakinya berjalan dengan begitu mewahnya memasuki Cafest. Lelaki itu datang setelah Jaejoong, Luhan, dan Kyungsoo pergi.
"Waktumu sangat berkualitas jika bertemu ibu-ibu penggosip itu."
"Aku juga seorang ibu-ibu jika boleh ku ingatkan."
"Dasar ratu gosip." Capitan kalajengking panas tangan Baekhyun menjadi hadiah berbekas di perut sang lelaki yang masih berbalut baju kerjanya.
"Sekali-kali kau harus mencoba bergosip. Aku yakin seratus sepuluh persen kau akan menyukainya dari pada bercinta."
"Tidak ada hal yang patut di sukai kecuali desahanmu, Baek."
Chanyeolnya Baekhyun yang mesum. Beribu kali Baekhyun katakan jika suaminya itu memiliki banyak stok obrolan tak berbobot yang memekik telinga. Meladeni obrolan mesum Chanyeol bukan sesuatu yang disarankan, karena terkadang dari obrolan itu akan ada tangan-tangan tak bermata yang menggerayangi pangkal paha. Seperti sekarang,
"Hentikan Park Chanyeol! Ini di tempat umum!"
"Kantorku juga tempat umum tapi kau baik-baik saja untuk yang ku lakukan tadi siang."
"I-itu...I-itu..."
"Berhentilah mendebatku jika kau tadi siang juga menikmatinya, Baek."
Sebelum semuanya berjalan lebih rumit, Baekhyun segera bangkit dan pergi—membuat lelakinya harus mengulum senyum licik karena sempat melihat semu merah istrinya. Lucu.
.
Bibirnya bersenandung kecil, seperti cicitan bayi merpati dalam pelukan induknya. Sesekali juga terbias senyum bahagia yang beriringan dengan tubuhnya yang sibuk dengan sebuah koper.
Besok Baekhyun akan bertemu dua jagoannya. Bisa di bayangkan bagaimana wanita itu benar-benar menanti pertemuannya dengan Jesper-Jackson setelah seminggu lebih berpisah. Aura bahagia tidak bisa disembunyikan lagi—terlalu kentara diantara semua tumpukan baju-baju yang telah terlipat rapi di dalam koper. Sedikit berlebihan sepertinya, karena Baekhyun akan pergi tidak lebih dari dua hari. Tapi wanita tetaplah wanita, mementingkan segala macam kemungkinan demi menjangkau jauh-jauh sesuatu yang berbandrol 'tidak tertebak'.
"Ku harap kau tidak lupa jika suamimu belum menyentuh makanan malam ini." lelaki itu memunculkan keeksistensian dirinya setelah berbersih diri. Handuk kecil di tangannya mengacak surainya yang tercium bau mint segar—Baekhyun menyukai bagian itu saat lelakinya baru selesai mandi. Kaki kecilnya berjinjit, mencoba menjumpai si tinggi yang terlalu menggoda untuk di lewatkan aroma rambutnya. "Harum."
Sedikit gusaran aneh saat hembusan nafas kecil istrinya menyapu sekitar telinga—daerah rawan yang harus di antisipasi.
"Akan ku siapkan makanan setelah suamiku yang tampan ini berganti baju."
"Memang kenapa jika aku telanjang?"
"Jangan pernah sekalipun merealisasikan pikiran itu, sayang. Bukan sikap yang baik makan dengan telanjang." Sentilan kecil menggoda Baekhyun berikan sebelum dirinya berlalu kedapur. Dan lelaki itu, kembali terjerat oleh pesona wanitanya yang semakin hari semakin terupgrade.
Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk menanggalkan bathrope-nya dan kembali dengan style santai—celana sebatas lutut juga kaos hitam tak berlengan yang menyombongkan kepulan otot sempurna lengannya.
Di ruang makan ia menjumpai sang wanita yang selalu tampak riang saat berkutat dengan peralatan dapur. Membawa semangkuk sup hangat, nasi beraroma pandan, dan beberapa lauk pelengkap makan malam suaminya. Tubuhnya bergerak gesit, seperti sudah menjadi hal mudah dalam dirinya untuk melakukan pekerjaan ini.
Istri sempurna untuk suami yang manja. Meski berbarengan dengan omelan-omelan kecil karena lelakinya itu merengek untuk diambilkan nasi beserta lauk pauk, wanita itu tetap melakukannya setulus hati. Bagaimanapun juga bayi besarnya ini memiliki kadar manja yang tak berukuran. Jika tak di turuti maka bibir tebalnya yang seksi itu akan mengerucut lucu.
"Selamat makan bayi besarku."
Baekhyun duduk di seberang suaminya beserta segelas susu hangat. Senyumnya semakin merekah setelah melihat bayi besarnya mulai melahap kudapan yang ia siapkan. Satu kebahagiaan tak kasat mata lainnya saat masakan sederhana itu bisa terlihat nikmat saat dinikmati suaminya. Setelah ini Baekhyun akan meningkatkan kualitas memasaknya demi membahagiakan perut lelakinya.
"Tidak makan? Sedang diet, ya?"
Wanita itu mengangguk sambil mengaduk susu coklatnya.
"Jangan terlalu kurus atau orang lain mengira aku tidak memberimu makan."
"Aku benci terlihat buruk saat harus mendampingi suamiku yang tampan." Pujian menyenangkan, membuat senyum serta telinga si lelaki terangkat bahagia.
"Jangan pedulikan orang lain tentang penampilanmu. Kau pantas atau tidak bukan urusan mereka karena aku selalu nyaman dengan dirimu apa adanya." Pengumbar kata manis sejati, Park Chanyeol. Meski begitu Baekhyun cukup merasa telah diterbangkan ke nirwana bersama para bidadari kahyangan yang cantik jelita. Wanita mana yang tidak bahagia mendapat pernyataan seperti itu? Terlebih sekarang Chanyeol bangkit dari tempatnya dan mengangkat dagu Baekhyun—menatapnya dengan tatapan sayu setelah mengucap 'jangan di hapus bekas susunya' lalu sebuah kecupan hangat mampir di bibir yang baru saja menghabiskan susu coklat hangat. Lembut seperti permen kapas dan candu seperti sebuah rindu.
Chanyeol selalu tau bagaimana memposisikan dirinya sebagai lelaki manja dan suami penuh pesona. Hanya untuk Baekhyun, ia rela meletakkan segala kesombongan harga dirinya sebagai pecinta wanita kedua. Menjadi lelaki super manis sedunia bukan hal yang susah, terlebih untuk wanita terkasihnya. Ia selalu siap dengan segala sisi manis dalam dirinya hingga membuat semu merah tomat itu menyambangi dua pipi mulus istrinya.
.
Rencananya, Baekhyun dan Chanyeol akan berangkat esok pukul 7 pagi—saat yang pas untuk bepergian sebelum matahari benar-benar tinggi. Acara menjemput ini bisa diartikan liburan terselubung sebelum Chanyeol kembali disibukkan oleh proyeknya di Jeju. Ia juga butuh udara segar—sedikit melepas bosan pada ikatan dasi yang melilit lehernya saat bertemu klien.
Baekhyun sudah bersiap dengan gaun tidurnya. Melonjorkan kaki jenjangnya dengan nyaman dan mengumpulkan selimut sebatas bahu untuk menambah kenyamanan. Tubuhnya sudah berbalur cologne yang menyegarkan tubuh juga indera pencium siapa saja yang menerimanya. Tak terkecuali lelakinya yang baru saja keluar kamar mandi.
"Mari berdongeng sebelum tidur." Chanyeol melesakkan tubuhnya di samping sang istri—meraup banyak-banyak aroma wanitanya yang selalu memiliki cara untuk membuatnya semakin candu.
"Bagaimana jika kita langsung ke dunia mimpi? Karena esok kau harus membawaku cepat-cepat bertemu Jesper dan Jackson."
"Terburu-buru sekali. Kita pasti sampai di sana dan bertemu anak-anak."
Sang wanita berbalik arah menghadap dada bidang ternyaman di dunia. Seperti sebuah magnet, Baekhyun memeluk dada bidang itu dengan erat dan sangat tidak sudi berbagi dengan siapapun. Dada bidang yang menjadi genangan terakhir pusat kesadaran Baekhyun sebelum ia terlelap.
"Baek," lelaki itu belum di sergap rasa kantuk. "apa kau yakin tidak ingin memiliki anak lagi?"
Topik itu lagi. Baekhyun mendengus kecil, rasa kantuknya membuat Baekhyun enggan memberikan tanggapan.
"Aku sungguh-sungguh. Jika kau ingin tau, aku ingin punya anak perempuan."
"Kehamilan dan jenis kelamin jabang bayi tidak bisa di prediksi, Yeol." Gumam si betina.
"Ya, aku tau. Tapi setidaknya kita bisa berbicara dengan dokter. Aku yakin ada ilmu di kedokteran yang bisa membuatmu mengandung bayi perempuan."
"Sebegitu besaranya, ya, keinginanmu punya anak perempuan?"
Chanyeol mengangguk antusias. Alam bayangnya mulai bergerak liar, membelah fantasi-fantasi tentang suara tawa anak perempuan yang menggelayut manja padanya. Sepertinya menarik, memiliki malaikat cantik kecil yang akan menuruni kecantikan ibunya. Chanyeol akan melihat dua sosok Baekhyun dengar perbedaan versi jika itu benar-benar terjadi.
"Aku ingin membelikan bando lucu untuk anakku, menggandeng tangannya masuk kedalam toko gaun-gaun cantik, dan mendengarkannya berceloteh seperti yang dilakukan ibunya."
"Memang siapa ibunya?"
"Tentu saja kau, Baekhyun. Hanya ulat-ulat sperma gagahku yang hanya boleh mengoyak tubuhmu."
Wanita itu mendecih—mengalami kebosanan dengan perkataan mesum suami tampannya itu.
"Jika ini tentang keperkasaan yang kau bicarakan dengan teman-teman pecinta wanitamu itu, kusarankan berhentilah."
Chanyeol mengernyit.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi jika kau hanya ingin bermain-main. Memiliki anak lagi bukan sebercanda itu, sayang. Kau harus memikirkan segalanya; pendidikan anak-anakmu, membagi kasih sayang untuk anak-anakmu." Baekhyun melepas pelukannya—menatap wajah suaminya yang menunjukkan raut aneh. "Berlaku adil terhadap kasih sayang itu hal yang sensitif untuk anak-anak."
"Kau meragukanku?"
"Bukan begitu." Baekhyun kini duduk, memiringkan beberapa derajat posisinya untuk membagi pandangan jelas di raut suaminya yang menunjukkan ketersinggungan. "Bukankah aku pernah mengatakannya. Anak seusia Jesper dan Jackson itu sedang membutuhkan banyak perhatian di masa pertumbuhannya. Mereka masih menggantungkan Mommy dan Daddynya untuk menanyakan ini-itu, membagi ini-itu, menghabiskan waktu bersama. Bayangkan jika kita memiliki bayi lagi. Tentu fokus kita hanya untuk si adik bayi dan dua jagoan kita akan merasa tersisihkan."
"Itu hanya pendapatmu saja!"
"Chanyeol..."
"Ku pertegas, Baek. Jika kau masih meragukan pertanggung jawabanku sebagai kepala keluarga, sebaiknya kau melihat lagi apa yang sudah kulakukan selama ini. Dan apakah salah jika aku bermimpi memiliki keturunan yang banyak darimu? Itu mimpiku dan kau mengatakan jika aku bermain-main. Jelaskan padaku dimana posisi bermain-main yang kau maksud itu?!"
Baekhyun terdiam—mengutuk dirinya yang terlalu tak berfilter saat membicarakan hal ini dengan suaminya. Jika ditarik, Baekhyun ingin menarik semua ucapannya tentang mimpi Chanyeol yang sempat ia katakan hanya untuk main-main.
"Aku hanya khawatir kita kesulitan membagi kasih sayang, Yeol."
"Kekhawatiranmu tak memiliki dasar, Baek. Jika kita sama-sama siap, urusan kasih sayang bukanlah halangan. Setiap orang tua pasti memiliki pasokan kasih sayang yang melimpah ruah untuk anaknya. Aku tidak mengkhawatirkan hal itu karena aku percaya kasih sayang yang kita beri tidak akan mengenal kata kurang." Lelaki itu menarik nafas berat dan seperti ada yang tercekat.
"Akan aku pikirkan." Lirih Baekhyun.
"Pikirkan saja sampai otakmu menjadi debu! Aku sudah muak dengan pil pencegah kehamilan yang kau minum. Untuk apa kita bercinta jika pada akhirnya aku membuang spermaku sia-sia?!"
"Chanyeol?!"
Lelaki itu menyibak kasar selimutnya dan membanting pintu keras-keras—meninggalkan sang wanita yang terpaku dan tercengang seperti patung pucat tak memiliki aliran darah.
Baekhyun tidak pernah tau akan menjadi seperti ini. Lelakinya jelas tersinggung karena Baekhyun meremehkan mimpi itu, tapi percayalah Baekhyun sama sekali tak bermaksud melakukannya. Perdebatan tentang menambah momongan itu memiliki ujung yang buruk. Chanyeol bahkan lebih dari sekedar merajuk. Ia marah.
.
Harusnya malam ini akan berjalan lebih baik. Mendekap hangat dada bidang Chanyeol lebih lama, mendengar bagaimana detak lembut beraturan milik lelakinya itu, dan menyambut esok pagi dengan senyum merekah. Kenyataan tak selalu mendukung sebuah angan, karena Baekhyun harus puas menghuni seorang diri ranjangnya itu tanpa kehadiran sang suami.
Mereka kembali menghadapi kerikil rumah tangga. Pembahasannya bukan karena mantan, tapi karena perbedaan pendapat. Terlalu klasik sebenarnya, meski kenyataannya tidak akan pernah mudah untuk menemui ujung penyelesaian. Menghalau rasa sesal bukan lagi prioritas, tapi yang lebih penting bagaimana cara memperbaiki apa saja yang telah rapuh, rusak dan tak berdaya.
Wanita dan segala gengsinya menjadi benteng pertama yang harus dilewati Baekhyun. Mengandalkan gengsi saja tidak akan pernah ada kedamaian, yang ada justru bendera perang yang akan semakin berkibar tinggi. Untuk itu, Baekhyun akan menghilangkannya. Dirinya bukan lagi remaja yang tidak mau disalahkan dalam sebuah kesalahpahaman, ia adalah wanita dewasa yang harus berpikiran luas untuk kelanjutan rumah tangganya. Jadilah Baekhyun diam-diam keluar dari selimut dan mencari belahan jiwanya yang sedang terbalut emosi.
Lelaki itu merebahkan diri di sofa ruang tamu dengan nafas pendek-pendek. Sebelah tangannya menjadi bantal untuk kepalanya sendiri, sedang tangan lain memijat lelipis di wajah tampannya. Saat mendengat cicit pintu kamar utama di buka, mata lelaki itu terpejam—menyembunyikan diri dari wanitanya yang berjalan mencicit menghampirinya. Ketahuilah semua itu butuh keberanian yang besar untuk si wanita. Tubuh dan hatinya mengatakan ketidakmungkinan untuk mendekat namun rasionalitasnya sebagai salah satu yang berandil besar dari pertengkaran ini mengatakan untuk terus maju.
Wanita itu memainkan ujung gaun tidurnya yang tipis. Mengharap ada bintang yang mendadak jatuh dan memberinya kekuatan untuk menegarkan diri menyelesaikan masalah ini. Sudut bibirnya masih kaku untuk memulai pembicaraan meski ia sudah berdiri dekat lelakinya.
"C-chanyeol.."cicitnya seperti burung pipit. Kakinya tak memiliki keberanian untuk mendekat saat kerutan kesal dari dahi suaminya mengatakan ia sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.
"B-bisa kita bicara sebentar?"
Tak ada jawaban, tentu saja. Kemarahan lelaki itu membisukan mulutnya, membuat nyali Baekhyun semakin menciut. "M-maafkan aku.." jelaslah kata maaf yang harus ia ucapkan. "untuk semua kesalahan yang membuatmu kecewa, aku minta maaf."
Hening sempat menyusup selama beberpa detik setelah itu. Suara lemah si betina perlahan menjadi bergetar dan si jantan sudah mulai bernafas dengan normal meski kerutan dahinya belum hilang.
"Kita tak seharusnya membuat hal ini menjadi rumit. Karena...karena...aku masih mempercayai obrolan baik-baik akan menyelesaikan permasalahan daripada emosi. Untuk itu maafkan aku." Wanita itu semakin meremas ujung gaun tidurnya hingga tercipta lipatan-lipatan tak simetris di sana. "K-kau mendengarku? Jikapun tidak, kita bisa membicarakannya lagi besok. Tapi kau sungguh tau aku sangat tidak suka berlama-lama dalam posisi seperti ini. Aku harus menyelesaikannya dan...dan...ku harap kau bisa memaafkanku."
"A-aku...aku tidak mau kesalahpahaman ini berlama-lama diantara kita, Yeol. Ku harap kau tidak salah paham dengan maksudku. Aku hanya ingin memberi yang terbaik untuk keluarga kita. Jika..jika..penolakanku membuatmu tersinggung, aku minta maaf." Kepalanya tertunduk, seketika itu juga air kesedihan dari pelupuk matanya berjatuhan seperti hujan yang tak di rindukan. Bagaimanapun juga Baekhyun seorang wanita yang perasa, di diami oleh suaminya seperti mendapat cubitan menyakitkan di hatinya. Keterbatasannya berujung di sebuah air mata karena ada bagian dalam hatinya yang teremas oleh tangan-tangan transparan dalam hati kecilnya.
Kaki telanjangnya tersungkur, seperti seorang tahanan yang meminta ampun atas segala kesalahannya. Air matanya masih berderai dan wanita itu mati-matian menahan—meski hatinya akan terasa semakin sakit. Mulutnya yang biasa bercicit seperti pipit itu hanya mampu mengucap maaf, karena tidak ada kata lain yang bisa ia katakan untuk lelakinya. Jauh dalam hati ia patut mendapatkan penyesalannya yang menumpuk. Dan jika lelaki itu kukuh dengan pendiriannya dengan bertingkah dingin seperti ini, Baekhyun akan menerimanya. Sekalipun itu akan membuat malamnya berderai air mata seperti air terjun yang tak terhentikan.
"Jangan menangis." Sebuah pelukan hangat merengkuh wanita itu—membuat tubuhnya kini bergetar hebat.
Kelemahan terbesar Chanyeol adalah airmata istrinya. Hatinya serasa tertohok jutaan pisau tajam saat tubuh ringkih dalam pelukannya itu semakin bergetar. Wanitanya yang malang, wanitanya yang lemah. Seharusnya Chanyeol bisa mengendalikan diri dan menghindari perdebatan itu. Kebesaran hatinya benar-benar di butuhkan untuk mengerti alasan yang disenandungkan istrinya. Dan tidak seharusnya keegoisan Chanyeol menguasai jagad emosinya hingga wanita dalam pelukannya itu memohon dengan sangat dan airmata yang seperti percikan api.
"Ya, aku juga minta maaf. Tidak seharusnya kita seperti ini karena keegoisanku, Baek." Terkutuklah keegoisan Chanyeol yang telah membuat wanita kesayangannya tersedu seperti ini.
.
Seperti sebuah bualan yang mengandung kemanisan. Tak ada yang bisa mencegah bagaimana dua hati itu menciptakan sendiri keindahan-keindahan yang sempat membeku. Kemalangan yang sempat menggandrungi hati masing-masing telah berubah seratus delapanpuluh derajat—menjadi sebuah candu yang tak memiliki alat ukur.
Sejatinya cinta memang membutakan. Menutup segala macam ketidakmungkinan menjadi sebuah kemungkinan yang indah. Malam yang sedang menggantung bulan tinggi-tinggi menjadi saksi bisu bagaimana dua insan itu melepas hasrat. Saling terpagut oleh ciuman penuh hasrat yang melupakan logika. Jangan harap ada irasionalitas disini, karena tak akan pernah ada yang tertarik dengan segala nalar jika hasratlah pemenangnya. Lupakan bagaimana decitan ngilu yang mengguncang tembok karena dua insan itu tidak pernah peduli bagaimana nasib ranjang mereka setelah ini. Yang mereka tau, ketika hasrat dan cinta dipertemukan hanya ada satu gairah yang siap menggebu mengalahi apapun.
Jagad raya masih terlalu gelap untuk mengakhiri ini semua karena si jantan dengan sepenuh hati telah menyerahkan kekuasaannya. Penjadi pihak pasif bukanlah dirinya. Tapi ketika wanita itu menampilkan wajah serupa bidadari yang mencari pelampiasan, maka si jantan akan dengan senang hati menopang segala bentuk kenikmatan untuk memuaskan wanitanya.
Kenikmatan yang dijanjikan wanitanya selalu menemui kata puas. Wanita itu mendongak, mengejek si jantan dengan dua payudara yang menampar segala macam pertahanan. Ukuran yang sedikit melebihi batas dan kekencangan yang membuatnya ingin meremas layaknya sari pati kelapa muda. Secepat itu kemudian membuat sebuah decah panas pada ujung payudara yang mengeras. Memperlakukannya seperti sebuah permen lolipop yang membuatnya enggan untuk melepasnya.
Si wanita bergerak sangat aktif. Setelah menemukan titik kenikmatan dalam dirinya, kecepatan itu secara natural bertambah. Tangannya menggenggam surai lelakinya yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Semua nafsu gila ini membutakan kejernihan sebuah otak. Posisi ini terlalu nikmat untuk di akhiri. Sadar akan libidonya yang semakin bertambah dan sebuah benda tumpul dalam dirinya di bawah sana, Baekhyun kegirangan akan gairah pergumuhannya dengan Chanyeol. Ia mendongak, melengkungkan tubuhnya dan menarik kepala lelakinya untuk di tenggelamkan dalam lipatan gairah di pusat dada.
Setelah itu Chanyeol membalik posisi. Merengkuh pinggang wanitanya dan membuatnya sedikit berguling untuk merebah di atas ranjang.
Bibir tipis itu, mengalihkan semua dunia Chanyeol. Ia seperti singa kelaparan, tak menyisakan sedikit saja lubang untuk si wanita menarik oksigen. Semua terlalu gila, segila nafsu yang membelit tiap aliran darah dua manusia itu. Lagi-lagi jangan pernah menghitung seberapa banyak mereka melontarkan lenguhan dan erangan nikmat, karena inti dari ini semua adalah pencapaian yang tak memiliki ujung. Chanyeol tidak pernah puas untuk pergumulan singkat. Dan malam ini, ia akan mencapai kepuasan sebanyak-banyaknya hingga dirinya limbung seperti serigala yang berburu sepanjang malam. Ia melesak, menyentuh titik ternikmat wanitanya dengan semua tenaga yang ia miliki.
Percintaan tanpa penolakan adalah penguasa malam ini. Baik Baekhyun maupun Chanyeol, pasrah untuk semua keinginan hasrat mereka dalam mencapai kepuasan bersama. Kehangatan berkali-kali memenuhi Baekhyun dan pijatan sakartis berkali-kali diterima ereksi Chanyeol. Jangan pernah hentikan pergumulan ini!
.
.
Tebece
