M

.

.

Berumah tangga tak selalu sesegar Ice Shaken Cosmic Mocha Blast karena ada Espresseo dengan keogisan rasa yang terkadang mengkontaminasi situasi. Berumah tangga juga tak selalu semanis gula karena ada rasa pahit di suatu ujung yang terkadang menantang kepekaan rasa. Kontaminasi yang pas adalah ketika merasa cukup akan semuanya. Bahkan, cinta yang berlebih bukan sesuatu yang bagus. Bagi Baekhyun, ia lebih memilih memperbanyak kasih dari semua cinta.

Tubuhnya menggeliat malas, matanya sedikit menyipit mencoba menyelaraskan sinar matahari yang menggoda kepekaan indera penglihatnya. Beberapa titik di tubuhnya terasa remuk. Seperti baru saja melakukan kerja rodi yang menguras tanpa sisa tenaga dalam tubuhnya. Semua ini tidak lain karena lelaki tampan yang masih menggelayut seperti anak kangguru di balik tubuh polos Baekhyun—membookingBaekhyun dari malam hingga pagi untuk bercinta.

Malam yang hebat bersama lelakinya. Baekhyun selalu suka bagaimana pergumulan itu mempengaruhi kerja rasionalitas otaknya menjadi sedikit lambat karena buaian nafsu. Semua bertumpu pada nafsu yang membakar gairah masing-masing. Dan seingat Baekhyun, semalam beberapa kali ia mengambil alih kuasa Chanyeol di atas. Ia menggelinjang dengan kenikmatan di ubun-ubun yang mencuat menjadi gerakan erotis. Meremas ereksi Chanyeol di bawahnya yang demi apapun juga selalu penuh dan lebih dari cukup untuk melampiaskan hasratnya.

Mengingat percintaan semalam membuat Baekhyun tersenyum di sela rasa kantuknya yang masih bersisa. Tidak ada karet pengaman dan pil—sesuatu yang di benci Chanyeol seumur hidupnya.

Baekhyun menggerakkan sedikit tubuhnya, melihat paras tampan sang suami yang ada di belakangnya lalu memeluknya diantara belah dadanya yang tak berkain. Ia melakukannya seperti yang selalu Chanyeol lakukan saat menenggelamkannya di sebuah pelukan dada bidang. Jadi begini rasanya memeluk Chanyeol di dada?

Tubuhnya menjadi sedikit lebih tinggi saat Chanyeol berada dalam pelukannya. Indera penciumnya menangkap aroma seks yang kentara dari surai suaminya juga sisa keringat bercinta semalam—sesuatu yang mebuatnya menjadi wanita sempurna kala pergumulan itu mencapai titik puas untuk suaminya.

"Mengundangku bercinta lagi?" Suara serak itu berdengung di pelukan dada Baekhyun.

"Jangan gila. Aku masih kesakitan karena ulahmu."

Senyum puas muncul dari lelaki itu, bangga karena kuasanya sebagai lelaki yang telah menggumuhi istrinya dengan penuh cinta.

"Ini seperti saat malam pertama kita dahulu. Kau dan segala nafsumu membakar semuanya, Baek."

Semu merah tomat itu muncul. Ingatan malam pertamanya dengan Chanyeol masih memiliki kualitas HD dalam proyektor otaknya. Baekhyun yang seorang pemula menjadikan dirinya seperti kuda liar, bergerak tak berarah karena g-spotnya terjamah dengan sempurna oleh ereksi Chanyeol.

"Aku masih ingat, kau mendesah dan matamu terpejam saat aku melakukannya. Suaramu sangat sexy, Baek. Suaramu itu yang selalu membuatku untuk memintanya setiap saat."

"Percintaan selanjutnya aku akan tutup mulut."

"Kau yakin?"

"Ya, aku yak—AHHH!" Baekhyun menjauhkan pelukannya, menatap kesal pada lelakinya yang tiba-tiba melakukan serangan finger-service di bawah sana.

"Kau mendesah, Baek. Untuk sebuah permainan kecil seperti ini," Chanyeol menghentikan ucapannya.

"AHHH!" Baekhyun digoda lagi.

"Kau mendesah dengan hebat."

Si jantan tersenyum puas. Menggoda Baekhyun adalah sesuatu yang mengasyikkan untuk di lakukan. Wanita itu memiliki kadar kepekaan yang lumayan besar. Di goda sedikit saja tubuhnya akan panas.

Ya, benar, itu nikmat dan Baekhyun tidak bisa mentolerir panas tubuhnya jika mendapatkan perlakuan seperti itu. Tapi bukankah ini dirasa sudah cukup setelah semalam ia menghabiskan banyak waktu untuk bergumul dengan Chanyeol? Kurang lebih sekitar 7 pencapaian ia terima saat Chanyeol menggagahinya. Sungguh, itu sudah lebih dari cukup.

Dan pagi ini, Baekhyun rasa pillowtalk terasa lebih pantas dilakukan daripada undangan hasrat untuk bercinta lagi.

"Tenagaku sudah 70 persen kembali, Baek."

"Simpan baik-baik karena kau harus membawaku bertemu anak-anak setelah ini."

"Perjalanan ke rumah Ayah-Ibu hanya 3 jam saja, Baek. Jangan terburu-buru jika pagi menuju malam masih lebih dari 8 jam lagi."

Chanyeolnya Baekhyun yang penuh gairah.

Jika saja yang di bawah sana masih terasa normal tanpa adanya perih yang menggigit-gigit kecil karena percintaan semalam, mungkin Baekhyun bisa memberi satu imbuhan lagi untuk pagi ini. Tapi Baekhyun terlalu perhitungan untuk kenormalannya pagi ini daripada menangkap segala hasrat suaminya. Baekhyun tidak ingin mengalami jalan bebek jika langkah kaki bekas modelnya masih bisa ia fungsikan dengan benar.

"Aku harus mandi dan menyiapkan keperluan kita."

"Kau sudah menyiapkannya semalam sebelum kita bertengkar dan bercinta, sayang." Chanyeol itu sedikit nakal, terlibih mulut dan lilitan lidahnya yang mengganggu kedamaian ujung payudara Baekhyun yang nikmat. "Biarkan aku meraup sedikit hal yang membuatku sehat."

Putaran jengah manik kelinci lucu bernama Baekhyun itu adalah ujung dari rasa frustasinya pada si macan kelaparan—Park Chanyeol. Hak mutlak yang dikatakan menyehatkan itu harus rela Baekhyun berikan demi si macan kesayangan.

.

"Siapa yang memberimu izin menggunakan baju itu?"

Baekhyun menunduk, memandangi pakaiannya. Hanya sebuah shoulder-off maroon bertali spaghetti di masing-masing bahudengan ujung kerutan karet 5cm di bawah pusar dan hotpants navy 4cm di atas lutut serta flat shoessenada dengan atasan Baekhyun. Juga, Prada berwarna mocca ukuran sedang yang dibelikan Chanyeol dari rekan bisnisnya di Italy. Adakah yang salah?

Manik matanya melihat sang suami yang sudah bersiap dengan benda bulat penggerak mobilnya. Kejelasan akan protes yang dilayangkan suaminya harus ia dapatkan karena menurut Baekhyun, pakaiannya tidak fulgar dan bahkan terkesan biasa saja.

"Orang-orang bisa melihat tubuhmu." Si jantan menjelaskan.

Melihat tubuh? Bahkan baju Baekhyunini terlihat seperti pakaian yang menghilangkan segala lekuk tubuhnya yang orang katakan seperti gitar spanyol. Tidak ada yang bisa dinikmati kecuali bahunya yang sehalus salju. Itu saja Baekhyun samarkan dengan membagi dua rambutnya di kedua sisi bahu hingga terlihat samar. Dan untuk hotpantsnya, bukan jenis hotpants sexynan ketat yang membentuk pahanya yang berisi. Itu hanya hotpants dengan bagian ujung yang sedikit longgar. Tidak sexy kan?

"Apa yang bisa mereka lihat jika bajuku sudah seperti baju hamil seperti ini, sayang?"

"Bahumu. Kau mengeksposenya terlalu berlebihan. Itu milikku dan orang lain tidak boleh melihatnya!"

"Aku sudah menutupinya dengan rambut."

"Tetap saja. Orang-orang masih bisa melihat dan menikmatinya secara gratis!"

"Mereka tidak akan berani melihatnya jika ada kau di sampingku. Kau suamiku,mereka tidak punya nyali untuk melawan lelakiku." Sepertinya Baekhyun mulai terkontaminasi mulut manis Chanyeol. Wanita itu mulai pandai bermain kata.

"Bisa saja mereka menilaiku sebagai kakakmu atau pengawalmu, bukan suamimu."

Ini terlalu berlebihan. Haruskah perkara pakaian ini di ributkan? Hanya hal kecil yang seharusnya tidak memercikan api kekesalan wanita itu terhadap sikap over suaminya.

"Aku tidak punya waktu untuk berganti baju. Ini sudah pukul 11 siang, Yeol." Baekhyun melipat tangannya di depan dada, merajuk akan kekesalannya pada perdebatan kecil yang membesar ini.

"Aku tidak memintamu untuk berganti baju."

Baekhyun melepas lipatan tangannya, merubah posisinya menjadi menyamping dan menatap lelaki itu dengan sejuta kekesalannya. Apa sih maunya?

"Berikan aku solusi agar kita bisa cepat berangkat tanpa memperdebatkan pakaianku!"

Harusnya Chanyeol membuka mulut dan memberi solusi seperti yang di minta wanitanya, bukan malah melepas cepitan safety-beltnya, menyibak seluruh rambut istrinya ke belakang punggung dan menempelkan kekenyalan bibirnya diatas bahu yang terbuka. Tidak hanya itu, ia membirakan gigitan kecil di beberapa tempat ketika si pemilik bahu melayangkan protes.

"Dengan begini orang lain akan tau jika kau milikku." Chanyeol tersenyum puas. Lingkaran merah keunguan di bahu istrinya itu cap permanen yang akan menunjukkan eksistensi kepemilikan dirinya pada si wanita

"Dasar mesum!" Gumam Baekhyun sambil membenahi rambutnya yang berantakan.

"Ikat rambutmu, Baek."

"Tidak mau. Orang-orang akan melihat tanda ini, Yeol." Telunjuknya menginterupsi bekas merah dan sisa saliva Chanyeol di dua bahunya.

"Itu lebih baik." Chanyeol kembali menggunakan safety-beltnya, "Atau kau mau ku beri tanda lagi di seluruh tubuhmu dan kita batal menjemput anak-anak?"

Itu lebih buruk dan Baekhyun tidak mau mengambil resikonya. Ia mengambil karet rambut dari dalam tas dan mencepol asal-asalan surainya. Beberapa anak rambut turun dengan liar dan jatuh menyentuh bahunya yang bertanda.

"Puas?"

"Kau selalu memuaskan, sayang." Kerlingan mata Chanyeol adalah ujung dari perdebatan ini karena pedal gas Lexus CT200H putih kebanggaannya mulai melaju.

.

Wanita itu tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Sekitar satu jam lagi ia akan bertemu dua jagoannya dan rindu yang sudah menggebu seperti ombak pantai itu akan segera menjinak. Jesper dan Jackson adalah dunianya. Sesuatu yang secara natural memberikan banyak cinta dan alasan untuk tetap hidup dan membahagiakan mereka.

"Kita ke peristirahatan sebentar. Aku ingin kopi." Mobil putih itu beralih menuju ke sebuah tempat peristirahatan.

Chanyeol segera membeli segelas kopi dengan sedikit creamer dalam adukannya juga beberapa snack kentang sebagai teman. Ia menggeliatkan sedikit tubuhnya sebelum menyesap penuh nikmat cairan kecoklatan dalam cup-nya itu. Sedikit memberi rasa segar setelah hampir dua jam melakukan perjalan. Beberapa titik tubuhnya mulai kebas karena sudah lama sekali ia tidak melakukan perjalanan panjang dengan mobilnya.

Wanita di hadapannya masih kerkutat dengan ponsel dan segelas Ice Americano. Sesekali ia tersenyum di sela kesibukannya dan mengundang rasa penasaran pada siapa saja yang melihatnya. Chanyeol tidak tahan, ia memutar kursi dan mengambil tempat tepat di samping wanita.

"Kyungsoo menyalahkanmu karena semalam dia di perkosa oleh Jongin."

Chanyeol menunjuk dirinya. Di perkosa? Sedikit kasar mengingat mereka adalah pasangan suami istri. Dan sebuah hubungan badan lebih tepat dikatakan sebagai 'bercinta' daripada 'perkosa'.

"Jongin saja yang tidak kuat iman."

"Dia bilang, semalam Jongin tidak memakai pengaman dan membuang pil pencegah kehamilan."

"Sama seperti yang kulakukan padamu."

Capitan panas itu menjadi balasan atas ucapan suaminya.

Setelah itu semua teringkas secara sederhana. Chanyeol telah membuat matanya kembali segar berkat cairan hitam yang di kontaminasi dengan creamer, susu, dan entah apalagi. Suatu keadaan yang menyenangkan saat rasa kopi modern nikmat itu memanjakan kerongkongannya bersama seorang wanita yang mulai mengalami kebosanan.

Wanitu itu, si cerewet Baekhyun yang sangat dicintai Chanyeol, beberapa kali menguap kasar sebagai bentuk protes atas kebosanan yang ia alami. Ini sudah hampir 45 menit ia seperti orang paling tidak berguna karena hanya menunggu pria di hadapannya menyesap habis kekasihnya—si kopi.

"Bisakah kau menyudahi acara berkencanmu dengan si kopi sialan?" Baekhyun mendengus kesal, "perjalanan kita masih panjang dan aku tidak bisa membuang waktu lama-lama jika rasa rinduku sudah mengalah karena kopi-mu!"

Chanyeol menghabiskan semua isi cup-nya; tersenyum manis saat mendapati wanitanya mem-pout bibir menggodanya seperti cepolan yang ada di atas kepala wanita itu.

"Minum kopi terlalu banyak tidak bagus, Yeol. Itu sama buruknya dengan alkohol dan rokok." Baekhyun mendebat seorang penggila kopi yang sekarang sedang memproteksi penuh pinggangnya saat berjalan kembali ke mobil. Posisi ini yang Baekhyun sukai. Posisi yang membuat jiwa kewanitaannya merasa dijaga sepenuh hati oleh sebuah lengan kekar lelakinya. Dan efeknya, semua rutukan kesal yang akan ia omelkan seperti burung beo mendadak hilang.

"Lebih buruk lagi saat aku tidak menikmatimu selama berhari-hari." Lelaki itu mengecup mesra bahu yang masih menunjukkan tanda kepemilikannya; sekedar menyambangi harum tubuh istrinya yang seharum bunga musim semi.

"Kau terlalu sering mendapatkannya akhir-akhir ini dan kau bilang tidak menikmatiku selama berhari-hari?" Baekhyun berdecak. "Jadi siapa yang semalam menyetubuhiku hingga enam kali pencapaian?"

"Jadi kau menghitungnya?"

Semu merah tomat sialan itu muncul. Menunjukkan suatu perasaan malu karena pergumulan yang dilakukan ada yang mengingatnya dalam kisaran sebuah digit angka.

Cubitan panas serupa sisi tajam gunting menjadi hadiah indah untuk Chanyeol. Wanitanya berjalan lebih dulu, menyembunyikan semu merah lucu yang muncul setiap kali pembahasan tentang hubungan badan mereka terjadi.

Chanyeol berlari kecil mengejar wanitanya sebelum seseorang tiba-tiba berdiri di depan istrinya. Andai saja Baekhyun tidak memiliki kesigapan untuk mengerem langkahnya, bisa di pastikan wanita itu akan menabrak tubuh tinggi yang membuat Chanyeol harus memicing curiga.

"Kris?"

Kris?

"Hai, Hyun-ie."

Hyun-ie? Nama macam apa itu? Chanyeol tidak suka mendengarnya.

"S-sedang apa kau disini?" Baekhyun harus sedikit mendongak saat berbicara.

"Membuntutimu." Baekhyun sempat dilanda keterkejutan yang luar biasa sebelum lelaki bernama Kris itu tertawa dan mengibaskan tangannya. "Aku ada urusan di dekat sini dan sedikit membutuhkan pengganjal perut sebelum kembali ke Seoul. Dan tidak ku sangka kita bertemu di sini."

Wanita itu tersenyum penuh kecanggungan.

Kris, mantan kekasih Baekhyun sewaktu masih menjadi model dan sebelum ia bertemu dengan Chanyeol. Satu-satunya lelaki yang saat itu membuat Baekhyun selalu menjadi istimewa seperti seorang bidadari. Kris selalu bisa menyenangkan hati Baekhyun, entah dengan suatu tindakan kecil atau besar yang sialnya selalu bisa menyentuh hati si model bidadari.

"Kau masih terlihat luar biasa, Hyun-ie"

Diam-diam ada yang mulai membeku dan menahan amarah seperti bongkahan es yang menenggelamkan Titanic. Rahangnya mengeras dan denyut jantungnya berpacu cepat seperti di arena balap saat melihat wanitanya berinteraksi dengan pria lain.

"O-oh? Y-ya..begitulah."

"Aku masih sedikit menyayangkan keputusanmu berhenti menjadi model. Kau benar-benar menjadi dewi saat itu."

Baekhyun kehilangan lidah. Ia tidak berniat membalas perkataan Kris karena ia melihat ada lelaki lain di belakangnya yang mulai terbakar api ketidaksukaan.

"Ku dengar kau sudah memiliki dua anak. Benarkah, Hyun-ie?"

Hanya anggukan seadanya yang Baekhyun berikan. Ia terlalu menciut saat situasi ini bisa ia cerna dengan sangat gamblang bagaimana akibatnya nanti.

"Wow. You're so adorable! Kau sungguh pintar menjaga tubuhmu setelah melahirkan dua anak." Kris berdecak kagum. "Dan, Hyun-ie, apa kau sakit? Wajahmu pucat."

Baekhyun akan menjawab pertanyaan itu. Namun ia kalah cepat dengan sentakan sebuah tangan yang mencengkeramnya penuh amarah. Baekhyun tau siapa pelakunya. Ia sangat tau hingga ia tidak berani memberontak.

"Dia pucat karena semalam melayaniku selama enam ronde! Dan jika kau tidak muncul seperti sekarang, kami sudah bercinta lagi di mobil! Mungkin dua kali lipat dari percintaan semalam!?"

Lelaki itu murka. Menyemburkan emosinya seperti muntahan gunung berapi yang menakutkan. Lebih murka lagi saat Chanyeol menarik tangan Baekhyun masuk mobil dan Kris mengatakan sesuatu yang sama saja memiliki arti bendera ajakan perang.

"Hyun-ie, hubungi aku saat kau di Seoul. Kita bisa berbicara lebih nyaman di sana!"

"DIAM KAU BRENGSEK! JANGAN PERNAH TEMUI ISTRIKU LAGI ATAU KELELAKIANMU AKAN KU KEBIRI!"

.

.

Apa Baekhyun bilang, keadaan tidak akan pernah menjadi lebih baik saat lelakinya murka. Situasi ini lebih mencekam dari sebuah persidangan yang tak kunjung menemui kata selesai. Jika bisa memilih, Baekhyun lebih baik mengecilkan diri atau melompat dari jendela dari pada mendapati lelakinya murka. Wajah tampan itu terkontaminasi dengan sangat buruk oleh kerutan penuh emosi.

Tiga puluh menit setelah insiden Chanyeol akan mengkebiri kelelakian Kris, keadaan dalam mobil tidak kunjung membaik. AC tidak terlalu mengeluarkan kadar dinginnya namun suasana telah menjadi sedingin kutub utara yang dilanda badai salju.

Baekhyun akan menjadi kelinci penuh kegelisahan berbalut rasa takut jika buku-buku tangan Chanyeol menggenggam erat pengendali mobilnya. Celotehnya sebagai wanita cerewet itu seketika menjadi sebuah ludah yang tertelan susah payah. Jangankan berucap satu kata, bernafas saja ia rasanya harus berjuang sampai titik darah penghabisan.

"Ku rasa ada yang perlu menjelaskan siapa lelaki brengsek itu padaku!" si jantan buka suara. Suaranya yang berat itu bercampur hawa kecemburuan yang menyeruak seperti parfum mobil.

"D-dia..K—kris.."

"Namanya bukan sesuatu yang ingin ku ketahui."

Lidah Baekhyun berbelit seperti benang kusut.

"D-dia..d-dia..salah satu pemegang saham di agency-ku dulu."

"Hanya itu? Aku mencium ada hubungan lainnya di sini."

Itu lebih buruk dari erangan anak burung yang kelaparan. Belitan benang di lidah Baekhyun masih mencoba ia lerai untuk sekedar memberi penjelasan yang sebenarnya. Namun gurat kemarahan lelaki itu mematahkan segala usaha Baekhyun—ia mengalami sindrom ketakutan saat Chanyeol marah.

"D-dia..d-dia.."

"Mantan kekasih, kan, nona Park?" Chanyeol menepikan tiba-tiba mobilnya. Mengendarai mobil dengan emosi bukan sesuatu yang baik karena keliaran Chanyeol akan menguasai semua akal sehatnya—ia akan menambah gila-gilaan kecepatan mobilnya seperti di arena balap. "Apa susahnya mengatakan hal itu padaku?"

Susah, Chanyeol!

"Untuk apa dia datang lagi padamu?!"

"Aku juga tidak tau."

"Kau tidak tau tapi meladeninya berbicara?! Jangan melawak, Baek!"

"Sayang, sungguh aku tidak tau. Dan pertemuan tadi aku tidak pernah menduganya."

"Dramatis sekali!" Chanyeol mengacak surainya—frustasi. Jaket Adidas navy di tubuhnya serasa semakin memanas hingga dengan sekali sentak ia menurunkan zippernya, membuang jaket tak berdosa itu ke jok belakang, dan sekumpulan otot seksi tubuhnya mengepul penuh kesombongan. Singlet hitam favorit di jantan membentuk beberapa kepulan keseksian tubuhnya yang diam-diam membuat Baekhyun hampir kehilangan rasionalitas. Hei, bukan saatnya memikirkan hal itu, Baek!

"Kau tidak percaya padaku?"

"Bagaimana aku bisa percaya jika lelaki mesum itu kembali menemuimu?! Andai kau tau tatapan matanya seperti pria barbar yang akan menculikmu kapan saja?!"

"Aku tidak tertarik dengannya, sayang." Baekhyun mencoba melunakkan suaranya. Menanggapi emosi suaminya bukan ide yang bagus. Sebaiknya ia mengambil peran wanita penuh rasa sabar daripada wanita berbalur emosi dan membuat mobil ini meledak sia-sia.

"Mana aku tau, Baek!? Semua bisa terjadi tanpa pernah kita prediksi?!"

"Chanyeol...—AKH!" Wanita itu memekik kesakitan setelah sentuhannya di tangan si jantan mendapat hempasan tiba-tiba hingga tangannya harus mencium kasar si dasbor. "Akh.."

Pekikan kesakitan yang sangat di benci Chanyeol membuatnya melupakan segala emosi tentang kecemburuan. Ia meraih tangan wanitanya yang memerah karena hempasannya yang kasar itu. Wanitanya yang malang.

"Sakit, sayang?" Chanyeol menyentuh bekas merah itu—turut meringis kesakitan saat wanitanya kembali memekik sakit atas sentuhan Chanyeol. "Maaf, Baek..maafkan aku.. aku tidak sengaja.."

"Aku tidak memiliki niat menemui Kris lagi, Yeol." Dan lihatlah, si perengek dengan wajah bidadari itu mulai memporak-porandakan Chanyeol. Sudut matanya berair dan bibir mungilnya sesekali memekik kecil saat Chanyeol memberi obat paling romantis di atas memar merah itu—ciuman.

"Aku tidak suka kau dekat dengannya." Chanyeol melunak. Melihat wanitanya menangis adalah kelemahan terbesar seorang Park Chanyeol. Air mata Baekhyun seperti berlian yang harus ia jaga agar tidak sembarang keluar. "Jangan pernah menghubungi dia dengan alasan apapun. Aku tidak suka."

Baekhyun mengangguk. Kecemburuan ini tidak memiliki alasan yang kuat karena Baekhyun tidak pernah memiliki alasan untuk meladeni Kris. Ia sungguh tau diri dengan posisinya sebagai seorang istri yang memegang teguh sebuah kesetiaan. Namun kekhawatiran Chanyeol memiliki alasan. Karena di antara mereka, pembahasan tentang kisah masa lalu menjadi topik haram.

Sebenarnya Chanyeol sendiri sedikit berlebihan. Baekhyun tidak terlihat seperti wanita genit yang mananggapi setiap lelaki. Wanita itu bahkan mengkhawatirkan perasaan lelakinya sebelum membalas pertanyaan-pertanyaan Kris. Sedikit banyak Chanyeol berpikir, kecemburuan karena seorang mantan mengakibatkan serangan jantung kecil. Kejernihan otaknya dipertaruhkan untuk sebuah rasionalitas dalam hubungan mereka, antara percaya atau tidak menjadi sesuatu yang sulit di pilih kebenarannya jika emosi penjadi penguasa.

Jadi ini yang dirasakan Baekhyun saat melihat Yejin?

Chanyeol-pun tau, jauh lebih sakit hati seorang Baekhyun yang melihatnya berbagi waktu dengan Yejin daripada sebuah pertemuan konyol yang di dramatisir Chanyeol. Untuk itu ia mengutuk segala kebodohannya saat itu dan membenci semua waktu yang ia habiskan dengan Yejin hingga membuat Baekhyun terluka.

.

Baekhyun dan Chanyeol sudah tiba sejak 3 jam yang lalu. Perjalanan panjang yang turut mendapat bingkai tajam pertengkaran karena Kris membuat mereka dirundung lelah. Bersama sambutan kedua orang tua Chanyeol dan juga dua jagoan kecil, sepasang suami istri itu telungkup dalam selimut nyaman sebuah tidur siang yang berkualitas.

Dua jam dirasa cukup untuk mengembalikan seluruh energi. Wanita itu menguap kecil untuk mengakhiri tidur siangnya. Menelisik kembali, ini bukan sebuah mimpi jika di sampingnya ada dua anak lelakinya yang juga masih terlelap dan lelaki tinggi yang begitu beruntung mendapat cintanya.

Sedikit rasa sakit menyerang punggung tangan Baekhyun—hasil pertengkaran tidak berkualitasnya dengan Chanyeol karena Kris. Berdebatan tentang mantan menjadi hal lain yang lebih menjengkelkan daripada aroma sebuah timun. Sebenarnya topik itu bisa dipendam dengan semangkuk kesabaran. Namun dasarnya Baekhyun yang berapi-api dan lelaki manjanya yang diberkati sikap protektif sebesar jagad raya, maka topik tentang mantan akan menjadi panas seperti pantat panci air.

"Mom.." si sulung mengerjab beberapa kali. Rasa kantuknya masih tersisa lebih dari tiga perempat. "Jesper lapar." Sulung tampan yang mulai tumbuh besar. Baekhyun yang sudah duduk di tepi ranjang merengkuh tubuh setengah lemas anaknya itu dan membawanya kesebuah pelukan yang begitu sarat kerinduan; memasukkannya dalam sebuah kungkungan hangat nan penuh proteksi oleh tangan Baekhyun. Jika si bungsu mengetahuinya, bisa dipastikan pra-perang dunia ketiga akan bergejolak. Mommy sudah di hak paten oleh Jackson.

"Kesayangan Mommy mau makan apa, huh?" Surai lembut Jesper dibelai, membuat anak kecil serupa Baekhyun itu mengeratkan pelukannya pada sang Mommy.

"Telur gulung?"

"Hanya itu?"

"Dan disuapi Mommy."

"Sejak kapan anak tampanku menjadi manja?"

Jesper tertawa kecil.

"Jesper juga mau sosis sapi dan susu coklat." Jesper menarik diri, menyadari sesuatu sebagai sebuah alarm jika ia menyebutkan tentang sosis sapi. Telunjuknya ditempelkan di bibir mungilnya, mengisyaratkan sesuatu yang harus dibungkus oleh sebuah rahasia. "Mom, jangan bilang Jackson kalau Jesper mau sosis sapi. Nanti dia menangis seperti bayi."

Baekhyun tertawa—si sulung yang tampan ini sungguh menggemaskan hingga membuat Baekhyun menggigit ujung hidung mungilnya. Dan si sulung yang meng-klaim dirinya dewasa mulai merajuk, tindakan seperti itu sangat tidak pantas diberikan untuk lelaki dewasa sepertinya.

"Oke. Mau membantu Mommy?"

.

"Kalian harus lebih lama disini. Betapa kesepiannya wanita tua ini jika cucu-cucu tampanku harus kembali ke Seoul." Nyonya Park, ibu Chanyeol. Kerut-kerut halus di sekitar matanya menunjukkan usianya tak lagi muda. Mata keibunnya memandang cucu tampannya—Jesper—sedang melahap makanannya. Betapa dunia ini begitu indah bagi wanita yang berusia setengah abad itu melihat keturunan anaknya yang mulai tumbuh dewasa.

"Jangan seperti itu." Tuan Park menginterupsi dalam ketenggelamannya bersama bunga-bunga kecil di dekat jendela. Hari menjelang sore dan lelaki paruh baya itu dengan sangat rajin akan memberi asupan untuk tanaman kecilnya. "Wanita tua sepertimu harus banyak-banyak menghabiskan waktu bersama suami." Tuan Park menoleh jail pada istrinya yang membesengut diantara kecantikan usia rentanya.

"Baekhyun, lelaki tua itu berbicara seolah dia seorang pengangguran. Padahal setiap hari dia hanya sibuk dengan bunga-bunga."

"Mereka anak-anakku. Jadi aku harus merawat mereka dengan penuh kasih sayang." Mereka, bunga-bunga kecil yang menunjukkan warna-warna indah.

Nyonya Park menutup telinga dengan ucapan suaminya yang sudah seperti anak remaja.

"Apa jadinya wanita tua ini jika harus menghabiskan sisa waktunya dengan merindu pada anak-anak tampanku."

"Jesper akan sering-sering main kemari dan menemani Nenek." Jesper yang sudah selesai makan turut menceburkan diri di percakapan ini. "Nanti Jesper akan pinjam mobil Daddy dan kita jalan-jalan sepuasnya."

"Benarkah?" Nyonya Park memeluk Jesper. Sekalipun itu hanya omongan khas anak kecil yang berusaha dewasa, ia tetap senang. Setidaknya perkataan itu benar-benar akan menjadi kenyataan saat Jesper benar-benar dewasa dan membahagiakan sisa hidupnya—jika Tuhan masih memberinya sedikit kehidupan. "Kau terbaik, Nak. Terima kasih."

"Daddy tidak akan meminjamkanmu mobil." Chanyeolnya Baekhyun sudah bangun. Bersama tubuh kecil si bungsu yang memeluk erat leher Chanyeol, lelaki setinggi tiang listrik itu duduk didekat istrinya. "Kecuali kau mau membagi sosis sapi dengan Daddy."

Jesper melihat piringnya. Tidak ada sisa sosis karena potongan terakhir sudah ia masukkan ke dalam mulut. Tapi jika Jesper tidak memberikan pada Daddy, maka tidak akan ada mobil yang bisa ia gunakan untuk mengajak Nenek jalan-jalan. Jadilah anak lelaki itu mengambil garpu, menusuk setengah sosis yang belum hancur dari mulutnya dan memberikannya pada Daddy.

Chanyeol mengernyit karena mendapatkan setengah sosis yang hampir hancur dari anak sulungnya demi sebuah mobil.

"Jika kau lakukan hal ini pada wanita, Daddy bertaruh mereka akan menyirammu dengan coklat panas, Jes." Meski begitu Chanyeol tetap mengambil sosis malang yang sudah hampir hancur di garpu kecil Jesper. Itu bekas anaknya, rasa jijik hanya sebuah alasan tidak penting untuk keadaan ini.

"Jackson bangun?" tanya Baekhyun.

"Ya. Dia menangis karena mendapati Mommy-nya tidak ada di sampingnya."

"Anakku yang tampan." Baekhyun mengambil alih tubuh kecil Jackson dan membawanya kedalam sebuah pelukan hangat. Jackson masih setengah sadar diantara isak kecilnya, namun hal itu segera hilang saat tubuh hangat sang Mommy membungkus tubuhnya. "Jackson rindu Mommy? Mommy kan sudah disini."

Jackson menggeleng dan menghapus sisa air mata di ujung matanya. Ia mendongak, masih dengan bibir tertekuk kebawah—cara merajuk yang menggemaskan.

"Jackson mau sosis? Nenek gorengkan, ya?"

Anak itu menggeleng lagi. Suatu keajaiban jika anak bungsu Baekhyun menolak sebuah tawaran sosis sapi. Karena biasanya, Jackson menjadi orang pertama yang akan mengacungkan tangan tinggi-tinggi pertada kesetujuan jika ada tawaran sosis sapi diluar jam makan.

"Lalu anakku yang tampan dan menggemaskan ini mau apa? Biar Mommy belikan."

"Jackson...Jackson..mau berenang."

"Berenang?"

.

Tidak ada yang lupa, kan, jika Chanyeol adalah pengabul segala keinginan anak istrinya? Sekalipun hal itu akan mustahil, namun ada cara-cara lain dalam pikiran Chanyeol yang bisa ia gunakan untuk mengabulkan keinginan dunianya. Salah satunya berenang.

Hari sudah menginjak pukul tiga sore dan mustahil ada kolam renang yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tapi Chanyeol adalah seorang ayah dan suami dengan segala kuasa. Dompet tebalnya bisa menjadi salah satu senjata untuk penjaga kolam membukakan pintu dan membiarkan keinginan anak-anaknya terpuaskan. Sore itu juga, ia kembali menjadi sosok ayah idaman dan ayah favorit bagi dua buah hatinya yang selalu suka bermain air kolam.

Jesper dan Jackson bermain air di kolam khusus anak. Mereka masih belum tau bagaimana cara berenang, tapi jika bermain air dan perosotan di sebuah kolam renang, apa masih belum cukup dikatakan mereka sedang berenang?

Semua terserah anak-anak. Mereka bebas mendeskripsikan sesuka hati mereka dan memberikan quality-time untuk sepasang suami istri yang hanya duduk di kursi santai kolam.

Chanyeol dan Baekhyun tidak ingin membasahi diri mereka sore-sore begini. Jadilah mereka hanya duduk dan mengawasi anak-anak dari kejauhan—meski sesekali si lelaki dewasa berusaha merebut sebuah ciuman dari bibir wanitanya. Dan si wanita akan dengan senang hari memberi cubitan panas penuh cinta 'ini tempat umum. Kau bisa mendapatkannya jika kita sudah di kamar'. Tawaran yang bagus dan Chanyeol tidak sabar menantinya.

Baekhyun rasa satu setengah jam sudah cukup untuk anak-anak bermain air. Tidak bagus untuk anak-anaknya jika harus berenang terlalu lama terlebih hari sudah menunjukkan kegelapannya. Baekhyun tidak mau mendapati suhu tubuh Jesper dan Jackson menadadak tinggi karena terlalu lama bermain air. Karena jika mereka berdua sakit, kekhawatiran Baekhyun akan setinggi langit ketujuh.

"Jackson, Jesper, ayo kita mandi lalu pulang." Baekhyun menuju tepi kolam, namun dua anak lelakinya masih tertawa bahagia dengan cipratan air. "Sayang, sudah waktunya pulang dan kolam ini akan segera tutup."

"Biarkan Daddy membayar lagi sampai kolam ini lebih lama buka, Mom." Siapa yang patut di salahkan jika mulut si sulung memberi pernyataan seperti itu? Satu-satunya tersangka yang patut di salahkan adalah lelaki dewasa yang duduk di atas kursi santai dengan bahu mengedik 'aku tidak tau apa-apa'.

"Uang Daddy sudah habis, Nak."

"Daddy bisa menggunakan kartu yang biasa kita gunakan untuk berbelanja, Mom." Kartu kredit. Dan darimana anaknya ini tau tentang fungsi kartu ajaib milik Daddy-nya?

"Daddy meninggalkannya di rumah." Sangkalan seadanya Baekhyun berikan. "Pulang ya, sayang?"

"Tangkap Jesper dan Jackson dulu, Mom!"

Dua anak itu berlari-lari di dalam kolam yang hanya memiliki tinggi sebatas lutut Jackson. Bukannya marah, Baekhyun justru merasa gemas dengan tingkah dua anaknya itu. Ia kemudian memasukkan diri dalam kolam dan turut berlari mengejar Jesper dan Jackson. Dua anak itu tertawa bahagia saat sang Mommy berlari kesana-kemari mengejar mereka.

Baekhyun sudah terlanjur basah dan hari sudah semakin sore. Dengan lagak seperti seorang pawang, wanita itu menaruh tangannya di pinggang dan mengisyaratkan anak-anaknya untuk berhenti.

"Oke, permainan selesai dan kita harus pulang."

"Mommy..."

Rajukan manja, anak-anak itu selalu tau kelemahan Mommy-nya. Tapi kali ini Baekhyun tidak akan tergoda, jadilah ia menggandeng sebelah tangan Jesper di tangan kiri dan sebelah tangan lainnya menggandeng Jackson untuk keluar kolam. Kerucutan lucu dua bibir anak-anak itu menjadi penghias rajukan mereka pada Mommy.

"Daddy, waktunya pul—"

"OH MY GOD, BAEK!" Chanyeol memekik, membuat Baekhyun beserta Jackson-Jesper membeku secara tidak wajar.

"A-ada a-apa?"

"Bagaimana bisa kau seperti itu!?"

"S-seperti a-apa?" Baekhyun mendadak takut, salah-salah ia berbuat sesuatu yang keliru hingga membuat manik mata Chanyeol hampir keluar dari tempatnya.

"Lihat!" telunjuknya menginterupsi kaos putih tipis basah Baekhyun. Fokusnya bukan pada kaos, tapi pada sesuatu yang malu-malu muncul dari kaos basah itu. "Jadi sepanjang hari ini kau tidak menggunakan bra?!"

Baekhyun tersenyum canggung. Ia terbiasa tidur dengan tidak melingkarkan bra di tubuhnya dan ia melakukannya sepanjang tidur siang tadi. Dan ketika ajakan renang dadakan itu muncul, ia tidak sempat menggunakannya.

"O-oh..i-ini..." Wanita itu melepas pegangan tangan anak-anaknya dan beralih melindungi puting segarnya yang malu-malu muncul di balik kaos tipis.

"Astaga, Baekhyun. Kalau orang lain melihatnya bagaimana!?"

"M-maaf..a-aku tidak sengaja..."

"Benar-benar wanita ini!" Chanyeol berdeham kesal. Lalu setelah itu ia bertindak diluar pikiran Baekhyun. Melakukan hal-hal yang biasa ia lihat di drama yang pernah ia komentari 'norak'. "Kau harus ku gendong."

"Ta-tapi..i-ni..berlebihan, Yeol. A-aku bisa berjalan sendiri."

"Dan membiarkan orang lain melihat hak paten milikku?"

"A-aku..."

"Itu milikku dan aku tidak sudi orang lain melihatnya!"

"Ta-tapi..."

"Mau ku paksa? Kau yakin itu akan sangat membuang waktu, Baek. Dan anak-anak akan kedinginan menunggu kita."

Baekhyun mengalah. Langkah kakinya mulai menyerah dan mendekat ke punggung Chanyeol yang sudah berjongkok di depannya. Ia bergelayut di sana, membuat bagian depan tubuhnya menempel secara rapat di punggung Chanyeol yang tidak mengenakan atasan juga lengan tangannya yang memeluk leher Chanyeol dari belakang.

"Jesper, gandeng Jackson dan kita ke ruang ganti." Titah Chanyeol dan langsung dilakukan oleh dua jagoannya.

"Jika kau lakukan hal ini lagi, ku pastikan kau ku kurung dalam rumah."

"Kejamnya suamiku ini."

"Lebih baik kau telanjang di rumah daripada mempertontonkan tubuhmu seperti itu."

"Jaga ucapanmu, Yeol. Anak-anak bisa mendengarnya."

"Salah siapa tidak memakai bra dan berenang?"

"Baiklah..aku yang salah."

Mengalah atas perdebatan tentang sesuatu yang malu-malu mengintip dari kaos tipis Baekhyun tidak terlalu buruk. Proteksi lelaki itu pada wanitanya seperti tembok tinggi milik Jerman sebelum terbagi menjadi dua. Oke, Baekhyun menyukainya.

Hari sudah semakin petang dan mereka harus cepat berganti baju sebelum...

"Chanyeol!"

...seorang wanita dengan bikini merah menyala menghampiri Chanyeol.

Sesuatu yang tidak menyenangkan mulai merayap. Kegelisahan dan kekhawatiran adalah sisa-sisa dari kebahagiaan Baekhyun yang baru berlangsung beberapa menit. Matanya menangkap ketidaksukaan dari wanita itu. Dan lebih tidak suka lagi saat otak cantiknya menyadari bahwa wanita itu adalah wanita supermarket yang pernah ia labrak. Bukan hanya Baekhyun, bahkan Jackson yang sedang di gandeng Jesper mengkerut ketakutan. Ia masih mengingat dengan jelas wanita yang membuat Mommy-nya naik darah sewaktu di supermarket.

"L-lee..Sena?" dan ada apa dengan suara gagap Chanyeol? Seperti ada batu berduri yang menghambat pita suara seksinya.

"Tidak di sangka kita bertemu disini." Sejenis suara menggoda dan Baekhyun dengan sangat jelas mengartikannya. Ia melotot, menahan geraman panas yang bercokol dalam dirinya. "Long time no see, Chan." Dan telunjuk itu dengan tidak sopannya membelai sekitar pipi Chanyeol.

"O-oh..S-sena.."

"Apa kabar?" tubuh pahatan seksi berbalut bikini menyolok mata itu mendekati Chanyeol. Sudah dipastikan ini di sengaja karena wanita itu tidak buta dengan keberadaan Baekhyun dan dua anak laki-laki yang mengkerut tidak suka. "Kau..kembali lagi."

Kembali? Lagi? Apa maksudnya?!

"A-aku...h-hanya berkunjung saja, Sena." Apa-apaan lelaki ini? Suaranya bergetar dan dia diam saja saat payudara berbingkai kain minim milik wanita itu menempel di lengannya.

"Oh, ya?" Wanita itu merapat, nafasnya menyapu sekitar pipi Chanyeol dan lelaki itu membeku. Situasi ini membuatnya terlihat seperti lelaki bodoh. "Aku merindukanmu."

Aku merindukanmu?!

Pantaskah kata-kata itu di ucapkan pada seorang lelaki yang sudah berkeluarga? Dan apakah itu wajar jika kecupan kecil mengakhiri kata rindu sialan itu di pipi Chanyeol yang tidak bereaksi apa-apa?!

Baekhyun muak. Wanita itu mendadak diterjang amukan badai kemarahan yang tidak bisa ditanggulangi oleh apapun. Matanya mendadak panas—seperti terkena air kolam yang baru saja diberi cairan pembersih. Limit kesabarannya tidak pernah bisa mentolerir hal yang sebenarnya bisa Chanyeol atasi.

Atas segala dewi kemarahannya, Baekhyun melompat turun dari punggung Chanyeol. Dengan semua sisa kesabarannya yang sudah dicabik-cabik oleh cakar ayam, Baekhyun menahan gulungan emosi dan airmatanya. Ia tidak ingin menangis dan tampak lemah oleh keadaan sialan ini.

Jackson yang sudah ketakutan ia gendong. Anak lelaki itu dengan jelas melihat lagi kemarahan ibunya—sama seperti yang pernah ia lihat di supermarket kala itu.

"B-baek.."

"Kalian bisa melanjutkannya. Aku harus segera mengganti pakaian ANAK-ANAKKU sebelum mereka membeku!" Baekhyun pergi dengan Jackson dalam pelukannya dan Jesper yang ia gandeng. Sudah cukup adegan tidak penting yang meledakkan aliran darah kesabaran Baekhyun.

Wanita mana yang bisa terima jika suaminya di dekati perempuan lain didepan mata? Wanita mana yang rela melihat suaminya dicium begitu saja saat status yang membelit lelaki itu adalah seorang suami dan ayah dari dua orang anak? Baekhyun bukannya ibu peri yang bisa mengerti dengan segala kesabarannya. Ia manusia biasa sekaligus wanita dengan segala kekurangannya sebagai seorang istri juga ibu. Kemaklumannya sudah terkikis habis dan berganti kebencian yang sedalam samudra.

.

.

Sudah hampir tiga jam Chanyeol membujuk Baekhyun yang mengurung diri. Sepulang dari kolam renang, Chanyeol bersiap dengan segala penjelasannya tentang kesalahpahamannya.

Salah paham?! Siapa yang setuju ini disebut salah paham maka Baekhyun akan menamparnya dengan kaki gajah!

"Kita bicara baik-baik, Baek." Chanyeol diambang keputusasaan membujuk Baekhyun yang mengurung diri dalam kamar bersama Jackson dan Jesper. Ia khawatir, sesuatu akan menggelapkan Baekhyun dan membuat wanita itu beserta dua buah hatinya akan celaka. Chanyeol tidak mau, ia sama sekali tidak menginginkan kekhawatiran itu terjadi pada anak dan istrinya.

"Baek...Baekhyun. Kita harus bicara?!"

"TIDAK ADA DIALOG YANG MENGHARUSKAN KITA UNTUK BICARA!" wanita itu murka. Disela-sela teriakannya, Chanyeol mendengar nada getar penuh kecewa. Ia tidak suka jenis suara seperti itu keluar dari mulut istrinya—gendang telinganya benci.

"Aku harus menjelaskannya padamu."

Suasana tak kunjung membaik. Wanita itu mengumpat seperti anak jalanan yang liar. Emosinya melupakan dua anak laki-lakinya yang menangis dalam diam melihat Mommy dan Daddy-nya berseteru.

Tuan dan Nyonya Park tak kalah khawatir. Sepulang dari kolam renang bukannya wajah bahagia yang mereka temui, tapi wajah Baekhyun yang penuh air mata dan bergurat banyak kesedihan di sana. Menantu keluarga Park itu langsung mengunci diri, membiarkan Tuan dan Nyonya Park dilingkupi kekhawatiran. Entah masalah apa yang terjadi karena setelah beberapa menit Chanyeol datang dan menggedor pintu kamar beserta ucapan tentang suatu penjelasa.

Tuan dan Nyonya Park menyadari situasi genting ini. Anak dan menantunya terlibat suatu permasalahan hingga Baekhyun yang selalu terlihat ceria dan penuh kasih sayang itu beberapa kali berteriak dengan umpatan-umpatannya. Kekhawatiran terbesar dari orangtua Chanyeol adalah Jesper dan Jackson. Baekhyun membawa serta dua anak laki-laki itu untuk mengunci diri di kamar.

Tuan Park ambil langkah, istrinya yang bergetar dengan tangis itu meminta agar Tuan Park mengambil tindakan dan menjadikan keadaan ini lebih baik.

"Baekhyun, ini Ayah." Tuan Park menggedor pelan pintu Baekhyun setelah sebelumnya menatap tajam pada anak laki-lakinya 'apa yang sudah kau perbuat pada istrimu?!'. "Ayah tidak tau apa yang terjadi, tapi tolong...tolong redakan emosimu karena Ayah yakin akan menakuti anak-anakmu."

Wanita di dalam kamar itu tersadar, dua anak laki-lakinya bergetar hebat dalam sebuah tangis. Lalu ia memeluk mereka, mengatakan berjuta kata maaf atas luapan emosinya yang tak bisa dikendalikan.

"Kau tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu dengan mengurung diri dan membiarkan anak-anak melihatnya. Selesaikanlah jika kau membutuhkan penyelesaian dan biarkan anak-anak bersamaku. Perasaan mereka tidak lebih baik dari perasaanmu, Baek."

Baekhyun merasa perkataan Tuan Park benar, anak-anak tidak seharusnya melihat ini semua. Kemarahan ini pertama kali dilihat oleh anak-anak karena sebelumnya Baekhyun dan Chanyeol menghindari keributan didepan anak-anaknya. Wanita itu luluh dengan ucapan ayah mertuanya, ia membuka pintu dan menyerahkan sepenuhnya anak-anak itu setelah sebelumnya berkata, "Maafkan Mommy, Nak."

Baekhyun menatap tajam lelaki itu. Setelah menutup pintu kembali, ia kini berdua dengan suaminya yang siap dengan segala penjelasannya. Bagi Baekhyun penjelasan itu tak lebih dari sisa makanan kucing—menjijikkan. Kemarahannya perlahan menelangkup sebuah kebencian yang dalam.

"Sena hanya teman, Baek." Chanyeol tidak pandai berbasa-basi. Ia harus to the point dan melenyapkan semua keadaan ini. "Aku..aku tidak tau dia ada disana."

"Dan ketidaktahuanmu itu seharusnya membuatmu sadar siapa dirimu PARK CHANYEOL?!"

"Jika kau marah dengan perlakuan Sena, aku minta maaf dan memohon dengan sangat agar kau melupakannya."

"Melupakan katamu?!" Baekhyun mendekat selangkah di hadapan suaminya. Manik matanya yang basah itu mencokol sebuah kemarahan yang sudah merambat diseluruh aliran darahnya. "Didepan mataku dia menempel seperti lebah tidak tau malu! Dan didepan mataku juga, dia mencium dirimu PARK CHAN-YEOL?! Lalu kau memintaku melupakannya?! Aku sudah akan meledakkan kepalaku untuk mengenyahkan itu semua?!"

"Kau hanya salah paham, Baek. Jangan berpikir yang tidak seharusnya kau pikirkan."

"Memang apa yang sedang ku pikirkan, huh? HUH?! Jauhkan tangan mu dari tubuhku?!" Baekhyun menyentak tangan Chanyeol yang akan mengusap air mata kemarahan istrinya.

Kau bodoh Chanyeol! Kau sangat bodoh! Chanyeol mengutuk dirinya. Kepekaannya sebagai seorang lelaki ditendang begitu saja saat Sena menyentuhnya. Penyesalannya terasa seperti karbondioksida bagi Baekhyun yang terlanjur kecewa.

"Jangan pernah menebak apa isi pikiranku jika kau tidak mengetahuinya?! Itu sesuatu yang menjijikkan dan kau, KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG BERANDIL BESAR ATAS SEMUA YANG KU PIKIRKAN?!"

"Baek..ku mohon maafkan aku.."

"Maaf?! Kau boleh tidak memandangku sebagai seorang istri, tapi kau tidak bisa menampik jika Jesper dan Jackson melihat sendiri apa yang kau lakukan?!"

"Mengertilah, Baek, aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Sena! Percayalah."

"Chanyeol, aku tidak pernah memikirkan tentang hubunganmu dengan Sena dan kau memintaku untuk percaya jika kalian tidak ada apa-apa? Bukankah itu suatu clue jika kalian memang memiliki hubungan? Oh, aku tidak terlalu bodoh mengartikannya?!"

Baekhyun yang keras kepala ditambah Baekhyun yang emosi hanya akan menghasilkan banyak kecurigaan dalam pikiran wanita itu. Chanyeol memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Sena dan Baekhyun tidak memberikan celah untuk mempercayainya. Wanita itu hanya percaya apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri adalah apa yang terjadi.

"Sudah ku katakan berapa kali agar kau sadar siapa dirimu. Kau, lelaki dengan status suami dan ayah, tidak sepantasnya melakukan hal keji ini! Dari awal aku meragukan ketulusanmu menikahiku, Chanyeol. Dan sekarang, keraguanku menunjukkan kebenarannya."

"BAEKHYUN?!" Tangannya menggantung di udara. Lelaki itu juga dirundung emosi hingga hampir saja ia melukai istrinya yang semakin nyalak kemarahannya ditengah-tengah air mata.

"Mau menamparku?! Tampar saja Park Chanyeol?! Dan aku akan mendapatkan alasan untuk meninggalkanmu?!"

"Jaga bicaramu, Baek?! Kau pikir kau siapa berani meninggalkanku?! Kau, tidak akan pernah bisa pergi kemanapun?!"

"Apa masih belum cukup dengan Yejin saat itu? Chanyeol, aku tidak memiliki hati sebesar samudra. Tapi kau selalu mengujiku seberat ini. Apa kau pernah tau bagaimana posisiku? Aku istrimu, Chanyeol. Jika kau masih menganggapku sebagai seorang istri, akal sehatmu akan bekerja dengan sangat baik untuk menghindari wanita-wanita itu." Nada suara Baekhyun mulai merendah. Namun hal itu berkebalikan dengan air matanya yang semakin deras. Wanita itu tak memiliki alasan lagi untuk menahan air mata. "Dengar, aku tau aku tidak secantik dan sekaya wanita-wanita itu—"

"Kendalikan mulutmu, Baek!"

"Tapi jika kau memperlakukanku seperti ini, aku masih memiliki hati manusia untuk marah dan bersedih. Aku tidak bisa memberimu apa-apa karena aku, aku hanya seorang yatim-piatu yang tidak memiliki warisan sedikitpun untuk ku bagi bersamamu. Apa karena aku terlalu banyak menuntut padamu?"

"Kumohon Baek, jangan seperti ini. Aku tidak pernah mau menyakitimu. Ini salah paham, Baek. Maafkan atas segala kebodohanku, ketololanku, dan kesalahan-kesalahanku." Chanyeol menangis. Lututnya melemas hingga ia harus bersimpu dengan memegang tangan lemah istrinya. "Jangan pernah berkata seperti itu, Baek. Aku mencintaimu dengan sangat tulus. Jangan pernah ragukan itu, Baek."

"Apa kau tersiksa hidup bersamaku, huh?"

"Tidak, Baek. Tidak. Aku bahagia bersamamu. Sungguh! Kau segalanya, Baek."

"Apa aku masih kurang untukmu? Huh?"

"Baekhyun apa yang kau lakukan?!" Chanyeol berdiri, ia berusaha menahan Baekhyun yang melucuti semua pakaiannya. Wanita itu mendorong Chanyeol saat ia akan melepas rok dan bajunya.

"Apa tubuh ini masih kurang untukmu, Chanyeol?"

"Baek, kendalikan emosimu. Jangan seperti ini!"

Chanyeol segera memeluk tubuh telanjang Baekhyun dan ia merasakan dengan sangat jelas getar kesedihan istrinya. Dosa besar sudah menanti Chanyeol karena membuat wanitanya seperti ini.

"Apa aku harus menjadi seperti pelacur agar kau bisa puas. Huh?!"

"Baekhyun!"

Baekhyun mendongak dan meraup paksa bibir Chanyeol. Ia melumatnya dengan sangat kasar seperti ia sedang diburu sesuatu yang menakutkan di belakang. Beberapa kali Chanyeol berusaha melepas ciuman itu—untuk pertama kalinya ia tidak merasakan ada cinta dalam ciuman Baekhyun. Wanita itu masih memiliki kekuatan untuk kembali mencium Chanyeol. Bahkan ia juga mendorong tubuh Chanyeol hingga terlentang di atas ranjang.

Entah sulutan emosi dari mana yang membuat Baekhyun menjadi segila ini. Wanita penuh kasih pada keluarganya itu berubah menjadi liar seperti pelacur yang sedang melayani pelanggan. Ia duduk diatas tubuh Chanyeol, mengangkang seperti wanita haus gairah, dan kembali menghujani Chanyeol dengan ciuman-ciuman memburu. Tolakan Chanyeol tidak pernah didengar karena wanita itu semakin menjadi-jadi. Ia melepas ikat pinggang Chanyeol dan menarik paksa celana Chanyeol. Setelah pusat kebagaiaan milik Chanyeol terlihat, tangan Baekhyun mengambil alih situasi dengan menanamkan sepenuhnya milik Chanyeol kedalam dirinya.

"Baekhyun?! Jangan gila?!"

"Aku gila karenamu! Aku gila karena kau menginginkanku berhubungan badan denganmu seperti pelacur?!" Baekhyun bergerak kesetanan diatas ereksi Chanyeol. Chanyeol berusaha menghentikannya namun tenaga Baekhyun masih cukup kuat untuk membuat Chanyeol kembali telentang. Lelaki itu menangis, sama menangisnya dengan si wanita yang mulai menemui kepuasan diatas keterpaksaan. Dan ketika Baekhyun mendapat pencapaiannya, ia limbung beserta air mata. Ia menangis, seperti penyesalan seorang wanita gila yang bermain di atas lelaki.

"Aku tidak bisa, Yeol...aku tidak bisa memuaskanmu dengan benar..."

"Baekhyun, kubilang hentikan. Kita selesaikan ini secara baik-baik. Jangan seperti ini. ini bukan dirimu."

"Jika kau masih kurang puas dengan pelayananku selama ini, kau bisa menceraikanku."

"APA?!"

.

.

.

Tibisi