M
.
.
.
Perpanjangan waktu dirasa butuh untuk menetralkan semua perasaan. Kemelut yang sepanas bara api dan sesilau cahaya harus diredakan sebelum gulungan penyesalan berbalut kesedihan menyergap. Itu bukan suasana yang patut dipertahankan karena efeknya akan merugikan.
Ini bukan sebuah kemelut sederhana karena perasaan dan kepercayan tidak sebercanda yang orang pikirkan. Meletakkan suatu perasaan di dasar terdalam dan kepercayaan di setiap sel darah tidak seharusnya teringkar oleh seseorang berstatus mantan.
Chanyeol menjelaskannya—semua yang ia rasa perlu diperjelas tentang siapa Lee Sena.
Adalah seorang mantan semasa kuliah sekaligus partner sex Chanyeol sewaktu masih menjadi pecinta wanita kedua. Ia tidak memiliki kelebihan perasaan pada wanita itu. Semua murni masa lalu dan Chanyeol berharap istrinya akan percaya.
Kejadian di kolam renang kala itu benar-benar tak di prediksi. Dia dan segala kelemahannya sebagai lelaki mengalahkan logikanya sebagai seorang suami dan ayah dari dua anak. Ia terjebak pada naluri kelelakiannya yang brengsek itu—terlalu lemah untuk sebuah getar dalam jiwanya.
Wanita itu masih memendam kemarahan yang mendekati sebuah benci. Sisi dirinya menjadi sensitif dan protektif pada apa yang telah menjadi milikinya—kecuali Chanyeol hanyalah berstatus 'kekasih' maka Baekhyun tidak berhak semarah ini. Negara dan agama telah mengikat mereka, janji di altar itu bukan sekedar ucapan manis mulut Chanyeol karena ia bersumpah di depan Tuhan, maka Baekhyun tidak bisa di salahkan jika ia semurka ini melihat apa yang dilakukan suaminya.
Jangan pernah tanyakan seberapa tegang suasana di ruang tamu milik keluarga Park itu. Segala kesinisan Baekhyun berbanding terbalik dengan kelemahan suaminya yang memohon dengan seluruh jiwanya. Hanya saja wanita itu memiliki kekerasan yang melebihi batu karang pada hatinya hingga sedikit sulit membukakan sebuah maaf.
Dan 'maaf'?
Sebuah kata yang sangat pasaran dijadikan ucapan penyelesai masalah. Tidak semudah itu untuk seseorang yang teramat perasa seperti Baekhyun.
"Ayah dan Ibu tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kalian. Penyelesaian ada di tangan kalian dan kami menerima segala keputusan. Ayah dan Ibu hanya sebatas orang tua yang memberi petuah pada anak-anaknya tentang sesuatu yang baik dan buruk dalam kehidupan. Percayalah, Nak, kami telah mengalami semua getir kehidupan ini dan kami sangat mengetahui perasaanmu." Tuan Park menggenggam tangan Baekhyun yang berkeringat dingin. "Untuk itu, segala yang dilakukan putra kami, seberapa banyak dia telah menyakitimu, kami meminta maaf."
Baekhyun terisak. Selama hidupnya ia tidak pernah merasa sedemikian kecil terhadap ucapan orang. Ia wanita tangguh, di didik penuh rasa tanggungjawab dan kekuatan di sebuah panti asuhan di Gyeonggi-do, dan tumbuh besar sebagai seorang model terhormat di Seoul.
"Mungkin ada suatu hari di masa lalu kami salah mendidiknya, untuk itu maafkan kami. Ayah dan Ibu berharap kebesaran hatimu. Bukan untuk dia, bukan untukmu, juga bukan untuk kami. Semua untuk cucu-cucuku."
Baekhyun melihat dua buah hatinya yang memeluk sang Nenek. Dua anak laki-laki itu menatapnya ketakutan setelah mata polos mereka melihat apa yang di lakukan sang Mommy. Wanita itu hanya terlalu mementingkan egonya untuk meluapkan kemarahan, menjadi wanita bringas atas segala emosinya, dan melupakan fakta bahwa itu semua membuatnya terlihat sebagai seorang monster. Anak-anaknya pasti ketakutan.
Bagi orang lain mungkin ini terasa biasa dan menganggap hanya sebuah kesalahpahaman. Sikap berlebihan Baekhyun tidak lebih baik dari hujan yang dibarengi oleh guntur.
Tapi sebuah rumah tangga tak sebiasa yang orang lain lihat. Semua memiliki makna yang berlandas kepercayaan dan Baekhyun bukan orang yang bisa mentolerir seorang penghianat.
Delapan tahun yang lalu, ia membutuhkan waktu hampir tiga bulan untuk memutuskannya. Ia hampir gila karena menikah tidak seklasik artis bermain drama dan melepas karir tidak semudah melepas kapal kertas di atas genangan air. Tidak ada wanita yang menginginkan hidup melajang sepanjang hidupnya. Dan tidak ada juga wanita yang dengan rela melepas karir yang telah dibangun dari dasar tersulit. Semua butuh pertimbangan yang menguras waktu juga hati.
Maka jika orang-orang masih berkata Baekhyun berlebihan, mereka hanya menggunakan satu mata untuk mendefinisikan. Sedangkan dalam dunia ini, kita perlu banyak mata untuk melihat fakta.
.
"Mom.." anak laki-laki itu mendekat dengan ragu yang terlihat pada kakinya. Ia masih takut Mommy-nya akan mengamuk seperti kemarin. Tapi ia merindukan Mommy-nya, wanita yang membuat dunia kecil Jesper lebih bahagia dari serial Pororo.
Tangan kurus itu terbuka, memberi jalan untuk sebuah pelukan hangat yang penuh ketulusan. Dan dalam pelukan itu, ia akan meminta maaf untuk semua ego yang menakuti anak-anaknya.
"Jesper belum tidur? Ini sudah malam, Nak. Dan besok kita akan pulang."
Jesper hanya diam. Ia tidak memiliki banyak kosakata yang bisa menghibur Mommy-nya. Tapi anak itu cukup tau situasi yang membelit orangtuanya belakang ini. Dan setau Jesper, hal itu tidak sesepele masalah yang biasa di perdebatkan di rumah. Ini terlihat lebih besar hingga ia merasa sangat ketakutan.
"Mommy sudah makan?"
"Mommy?" Baekhyun mengusap lembut punggung si sulung, "Sudah tadi Mommy makan sama Nenek."
Anak itu diam lagi. Otak kecilnya sibuk mencari kata untuk sebuah hiburan atau kata yang menenangkan. Tapi sejauh ini ia hanya paham dengan kata dalam dunia anak-anak.
"Mom,"
"Iya, sayang?"
"Kapan Jesper dewasa?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Jesper menarik kepalanya yang tenggelam di ceruk leher Mommy-nya. Wajah polosnya yang serupa dengan sang Mommy membuat wanita itu serasa melihat dirinya dalam versi laki-laki. Apa aku akan seperti Jesper jika aku laki-laki?
"Jesper hanya ingin membantu Mommy." Tangan mungilnya memainkan pita kecil yang ada di salah satu baju Baekhyun. Memutarnya dengan telunjuk dan menariknya perlahan hingga menyisakan sebuah tali panjang yang menjuntai ke bawah. "Kemarin Jesper melihat Jack dan Mommy menangis. Dan Jesper ingin menjadi orang dewasa supaya bisa melindungi Jack dan Mommy."
Dari mana Jesper mempunyai harapan seperti itu? Baekhyun tidak menyalahkan, sama sekali tidak. Ia hanya tertegun, apakah sebegitu buruknya ia kemarin?
Segala penyesalan ia limpahkan pada kebodohan emosinya. Dan mendasar pada hal itu, Baekhyun kembali merengkuh tubuh si sulung, mendendangkan lagu pengantar tidur dan melupakan kekhawatiran anak itu akan kisah orangtuanya.
.
Semua seperti angin musim semi—berlalu dan membuang jauh-jauh segala prasangka buruk. Pembaruan untuk semua hidup yang lebih baik harus di gencarkan kembali. Bagaimanapun juga, berlarut dalam kesedihan bukan pilihan yang dianjurkan.
Baekhyun tidak lagi membara. Ia cukup pandai menata hati, mengendalikan diri, dan menyusun kembali puing-puing hatinya. Ia memungutnya satu persatu dan ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk kembali seperti sedia kala.
Seperti yang ia bilang, ia butuh waktu. Hanya perlu bersabar untuk membuatnya kembali menjadi Baekhyun yang dulu. Mungkin ini hukuman untuk kebodohan Chanyeol. Dan lelaki itu hanya di ajarkan untuk menahan diri demi kebaikan hubungan mereka.
Baekhyun tidak lagi menatapnya sinis, tak lagi menyalakan emosi sepanas api neraka, dan tak lagi seperti monster. Ia sudah kembali normal meski belum siap bercengkerama dengan segala kemanjaannya pada sang suami. Setidaknya itu lebih baik karena wanita itu masih mau tidur seranjang dengan suaminya meski selalu menyuguhkan punggung saat tidur. Tidak apa, Chanyeol hanya perlu menunggu.
Hari-hari berikutnya ada perkembangan. Baekhyun mulai tersenyum, ia tak lagi pendiam. Celotehnya sedikit banyak mulai kembali memenuhi seisi rumah. Namun ia masih belum siap untuk kembali menggelayut manja pada Chanyeol. Lelaki itu membatin, tidak apa. Setidaknya saat pagi hari ia masih melihat ada kopi di meja makan dan masih ada tangan mungil yang menyiapkan keperluannya.
Hingga suatu malam, Chanyeol mengumpulkan keberaniannya untuk menegur. Bukan dalam artian yang buruk, tapi ia juga ingin mendapat interaksi yang lebih dari wanitanya. Bukan sebuah senyum simpul saat datang dan pulang dari kantor, tapi ciuman hangat yang dulu selalu di berikan wanita itu.
"Sudah tidur, Baek?"
Chanyeol tau, wanita itu masih terjaga. Punggung sempitnya terkadang masih naik turun untuk suatu nafas berat. Entah beban apalagi yang membuatnya begitu.
"Ibu tadi menelfonku. Ibu bilang ponselmu tidak aktif sepanjang hari ini. Apa terjadi sesuatu hingga kau mematikan ponselmu?"
"..."
"Ibu bertanya tentang keadaanmu dan anak-anak. Ibu juga bilang, jika Ayah sudah mengirim mata-mata untuk mengawasi kita. Bukankah itu berlebihan?"
"..."
"Tapi aku tidak mempermasalahkannya. Bagaimana denganmu?"
"..."
"Baek?"
"..."
Chanyeol menarik nafas frustasi. Ia masih di abaikan dalam kesunyian malamnya. Dan sepertinya malam ini ia harus ikhlas tidur dalam keresahan hatinya.
Jadi, malam ini ia akan meringkuk dalam selimut sebatas dada dan melepas sisa malam dengan tidur tidak berkualitas. Perasaannya tak lebih baik dari bulan yang hanya berwujud setengah lingkaran. Bukan sok puitis, tapi ia kehilangan separuh semangatnya karena pengabaian Baekhyun yang lebih buruk dari sembelit.
"Aku merindukanmu."
Itu bukan dengungan, bukan juga bisikan, tapi itu suara Baekhyun. Wanita yang sempat terluka karena tingkah suaminya.
Dan bukankah kebaikan itu akan datang dan membawa kebahagiaan lain? Karena saat Chanyeol akan membalikkan tubuh, ada tangan mungil yang lebih dulu membelitnya oleh sebuah pelukan dari belakang punggung.
"Aku terlalu berlebihan menanggapinya. Aku sudah merepotkan banyak orang dan aku sudah menyiksamu menjadi seperti ini. Apa aku masih bisa dimaafkan?"
Hanya saja Chanyeol takut ini cuma mimpi. Tapi Chanyeol yakin ia belum sepenuhnya terlelap untuk mendapat mimpi dengan kualitas sebaik ini. Dan sebuah kecupan hangat dapat ia rasakan dengan jelas di balik punggungnya—pertanda bahwa dunia nyata tak lagi sekejam itu padanya.
Lelaki itu memutar tubuh dan matanya mendapati sesosok wanita penuh kelemahan menengadah dalam pandangannya. Entah apa yang tergurat di sana, bukan sesuatu seburuk gempa bumi dan bukan sesuatu yang seindah bunga musim semi. Apapun itu Chanyeol tidak memiliki kadar ketegaan melebihi siapa saja.
Jangan jelaskan betapa menderitanya dirimu. Aku tersiksa saat mendengarnya.
Lalu semua berubah menjadi seperti lelehan coklat belgia. Pekat, manis, dan menghangatkan. Tidak usah membendung air mata jika alasannya adalah sebuah kebahagiaan setelah badai kecil.
"Maafkan keegoisanku. Semua karena aku terlalu takut."
Si jantan mengangguk—ia tau semua itu.
.
Beberapa hari setelah itu Baekhyun sudah sepenuhnya kembali. Ia sudah menjadi si beo cantik yang selalu siap dengan celotehannya tiap pagi. Mengomentari ini-itu, berdecih kesal karena lelaki-lelaki tampannya sulit bangun, dan segala aktivitas pagi lain yang siap menyibukkan dirinya.
Disisi lain ada si telinga peri yang masih meringkuk di bawah kepulan selimutnya justru senang mendengar omelan itu. Hidupnya tak lagi sepetang langit malam. Letupan si beo cantik itu seperti lagu pagi yang sudah lama tak ia dengar.
"Ini sudah pagi dan kapan kau akan berhenti membuatku untuk marah-marah di pagi seceria ini?!"
Dua tangannya sudah mengepal di pinggang seperti seorang bos yang sedang menginterupsi keterlambatan pegawainya. Wajahnya mengkerut kesal karena lelaki dalam selimut itu justru semakin lelap. Ia tidak sedang mendendangkan lagu pengantar tidur karena intonasi kemarahannya melebihi cicitan nenek-nenek.
"Aku hitung sampai tiga jika kau tidak bangun maka kau kehilangan kopi pagimu."
Ancaman itu tak berarti apa-apa karena lelaki itu tak berniat menggerakkan tubuhnya. Ia justru semakin mempererat kepulan selimut yang membungkus dirinya.
"Oh astaga! Chanyeol bangunlah. Kau harus mencari nafkah."
Hanya lenguhan malas yang di dengar. Dan untuk itu, si wanita memiliki sedikit ide liar yang mengotori otak paginya. Semua alarm tidak bisa membangunkan lelaki malasnya ini. Jadi, opsi terakhir ini ia harap bisa membuat suaminya bisa bangun dan melupakan kemalasan paginya.
Apron polkadot pink itu sudah tergeletak di ujung ranjang. Wanita yang hanya mengenakan kaos kebesaran sepanjang lututnya itu memulai ide gilanya. Ia menyingkap ujung kaosnya hingga sebatas pantat. Tangannya yang mungil menghalau selimut-selimut yang membungkus tubuh suaminya dan memutar tubuh lelaki itu hingga telentang.
Segila-gilanya ide masihlah gila ide Baekhyun yang menempatkan dirinya di atas Chanyeol—tepat di atas kejantanan suaminya yang masih lemas. Ia duduk di sana, menempatkan dengan pas kewanitaannya yang terbungkus celana dalam di atas pusat kebahagiaan suaminya yang juga masih terbungkus celana.
Lalu semua menjadi semakin gila saat wanita itu merebahkan diri di atas dada bidang suaminya. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya, memberi gesekan halus pada dua kenikmatan di bawah sana hingga si lelaki sedikit mengerang di balik matanya yang terpejam. Jangan lupakan jemari berlapis kutik transparan itu yang membuat gestur abstrak di atas dada suaminya. Intinya bukan pada gambaran jemarinya, tapi pada dua daging sintal yang tak berbalut apa-apa sedang menekan dengan penuh kesensualan pada dada si lelaki.
"Dia cepat sekali terbangunnya." Pinggul bernilai seratus itu masih menggoda sesuatu di bawah sana. Dan saat ada yang mengeras dan dapat dengan jelas dirasakan oleh permukaan kewanitaan Baekhyun, wanita itu semakin gila menggodanya. Bahkan ia sesekali memberi sentakan pinggulnya dan membuat lelaki di bawahnya melenguh dengan mata terpejam.
"Jadi bangunlah." Tiba-tiba kenikmatan itu dihentikan secara sepihak oleh si wanita. Padahal ereksi di bawah sana sudah kepalang tanggung menyakiti pemiliknya yang memiliki nafsu sebesar samudra. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, wanita itu tiba-tiba menarik diri dengan cantiknya dan mengabaikan protes dari lelakinya.
"Apa-apaan ini? Kau memutusnya secara sepihak. Aku tidak terima!" protes lelaki itu dengan mata menyalak kesal.
"Suamiku sudah sepenuhnya bangun." Baekhyun tersenyum simpul. "Cepat mandi dan aku akan menyiapkan sarapan pagi paling nikmat sedunia."
"Tidak mau!" tangan Baekhyun tertahan. Ada yang tidak beres setelah ini karena ia bisa membaca dengan jelas apa yang ada di otak lelaki itu. Seketika Baekhyun menyalahkan pikirannya beberapa saat lalu tentang ide gilanya membangunkan Chanyeol.
"Tidak ada sex pagi hari karena kau harus bekerja—AW!"
Baekhyun terbanting di atas ranjang dan lelakinya segera menghimpit dengan penuh kesensualan.
"Kau sudah setengah jalan, Baek. Jangan menghindar dan tebus semua kesalahanmu."
"Ini bukan waktu yang tepat, Yeol." Baekhyun terpenjara dengan himpitan tubuh si lelaki di atasnya dan tangannya yang sudah di kunci mati di atas kepala.
"Kau selalu membuatku bernafsu."
"Chanyeol, berpikirlah secara jernih. Aku sedang sibuk—"
"Bibi Nam, tolong selesaikan semua pekerjaan Baekhyun." Setelah teriakan itu mendapat respons dari Bibi Nam, lelaki itu tersenyum sepihak di salah satu sisi bibirnya—kemenangannya pagi ini. "Bantu aku meluluhkannya."
Kemudian semua itu berubah menjadi sebuah ciuman panas yang memburu seperti seekor singa liar. Tidaklah penting matahari pagi di ufuk timur jika pergumulan itu memberikan kenikmatan berlebih. Dan Baekhyun semakin kesal saat menyadari dirinya telah kalah oleh nafsu. Ia lemah dan pasrah untuk tubuhnya yang sudah telanjang dan di jamah setiap inci oleh lelaki seksinya.
"Ahhhhh..Chan..yeollhh..."
.
Wanita itu melipat beberapa kemeja yang baru saja ia keluarkan dari lemari. Tangannya secara cekatan menata kemeja-kemeja dan pakaian lainnya ke dalam koper meski ada satu senyum tak suka di sampingnya yang menemani. Milik siapa lagi kalau bukan Chanyeolnya Baekhyun yang manja.
Menelisik kembali pada kejadian satu jam yang lalu, seharusnya Baekhyun-lah pihak yang memberengut kesal karena harus ditinggal suaminya keluar kota selama hampir satu bulan. Tapi yang terjadi, laki-laki itu merutuk kesal karena keputusan yang mengharuskannya menangani proyek di Jeju itu sendiri—sebenarnya ada Jongin yang menemaninya sebagai sekertaris setia. Harusnya si kejam Yunho itu yang melakukannya mengingat dirinya memiliki kedudukan tertinggi untuk proyek di Jeju. Tapi, alasan lelaki itu sungguh tidak bisa di terima dengan akal yang lebih jernih . "Jaejoong sedang hamil anak kembarku. Aku harus menjaganya duapuluhempat jam nonstop."
Lalu semua dilimpahkan begitu saja di tangan Chanyeol dan Jongin. Proyek di Jeju sedang memasuki tahap penguatan untuk pengukuhan perjanjian dengan beberapa pihak dan tentu itu membutuhkan banyak negosiasi cerdas dari otak Park Chanyeol—Yunho sangat percaya kemampuan Chanyeol. Mereka, pebisnis yang menggilai banyak proyek besar. Bekerja di luar kota seharusnya tidak semenderita ini jika saja Kyungsoo tidak sedang hamil muda dan Baekhyun yang baru saja sembuh dari sisa pertengkaran yang kemarin.
Chanyeol masih membutuhkan banyak waktu untuk menggoda istrinya hingga ia bisa menyetubuhi wanitanya itu dan membelikan Prada—ini sudah menjadi kebiasaan meski si wanita terang-terangan mengatakan bahwa percintaan mereka bukan berdasar pada Prada, wanita itu tulus memberikan pelayanannya.
"Kesuksesan proyek di sana bergantung dari kecerdasanmu, sayang. Bekerjalah dengan sepenuh hati dan aku akan selalu memberimu semangat."
"Sebulan terlalu lama, Baek. Lalu apa jadinya aku tidur tanpamu?"
"Kan ada Jongin."
"Lalu kau menyuruhku untuk tidur memeluk Jongin? Terima kasih, Baek. Tapi aku tidak berminat."
Zipper koper hitam besar itu sudah tertutup. Baekhyun sudah mengeceknya sebanyak tiga kali dan ia yakin tidak ada yang tertinggal. Semua pakaian dan keperluan suaminya sudah menjadi satu dalam lemari berjalan itu.
"Kau tidak perlu menyelesaikannya selama sebulan. Dengan otak cerdasmu, aku yakin kau bisa menyelesaikannya kurang dari sebulan. Dan jika memang akan selama itu, sesekali aku dan anak-anak akan berkunjung kesana saat akhir pekan."
Terlihat ada sebuah harapan. Lelaki itu menatap wanitanya dan mempertanyakan kembali kebenaran dari ucapan itu.
"Aku berjanji, sayang. Lagipula kita bisa saling menghubungi setiap hari. Teknologi akan menjadi penghubung." Baekhyun menggenggam tangan suaminya yang belum sepenuhnya rela sebulan ini ia hidup seorang diri.
Lelaki itu menyerah sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Otot-otot tubuhnya sedikit meregang dan memikirkan sebulan tanpa Baekhyun dan anak-anak akan menjadi lembar hidup yang panjang. Tapi, Chanyeol itu sangat cerdas. Kegelisahannya hidup sendiri dan berjauhan dengan istrinya telah melahirkan suatu ide gila untuk hubungan jarak jauh ini.
"Setelah ini kau harus belajar sesuatu, Baek."
Wanita itu turut merebahkan diri di samping suaminya—membuat goresan halus telunjuknya di atas dada bidang sang suami.
"Tentang apa?"
"Phone-sex."
.
Sepuluh hari setelah kepergian Chanyeol ke Jeju, keaadaan rumah hanya di penuhi keramaian dari dua anak lelaki Baekhyun. Mulai dari membangunkan dua jagoan itu sebelum terlambat ke sekolah sampai malam sebelum tidur yang selalu meributkan status Mommy-nya. Maksudnya, dua anak itu memiliki pendeskripsian yang berbeda terhadap Mommy-nya. Si sulung mengatakan jika Mommy mirip putri salju dan si bungsu mengatakan Mommy-nya mirip si cantik dari serial Beauty and The Beast.
Lalu semua itu akan berakhir di pertengahan angka sembilan dan sepuluh karena anak-anak manis itu tak pernah memiliki jam tidur lebih malam. Beruntunglah wanita yang kini terbaring diantara pelukan dua bodyguard kecilnya. Ia tidak pernah menemui anak-anaknya rewel saat mengawali tidur dan wanita itu patut bersyukur. Ya, seharusnya Baekhyun bersyukur untuk itu sebelum ada jagoan besarnya yang sudah melonglong pada panggilan ponsel.
"Tunggu sebentar. Anak-anak baru saja tertidur." Wanita itu setengah berbisik saat ia menggeser warna hijau di layar ponselnya. Dari seberang sana terdengar dengusan kesal khas lelaki tinggi yang merindu.
"Anak-anak tidak akan bangun lagi. Ini sudah lewat dari jam tidur mereka. Cepat pindah ke kamarmu sendiri."
"Sayangnya aku sedang terbaring di atas ranjangku sendiri bersama anak-anak tampan kita." Si wanita terkikik kecil saat protes dari seberang sana lebih meraung dari seekor harimau. "Aku akan pindah ke kamar lain. Itupun jika kau sabar."
Setelah memberi kecupan sayang di puncak kepala dua buah hatinya, Baekhyun perlahan-lahan menarik diri dan membiarkan selimut besarnya itu menjadi pengganti sementara kehangatan dirinya. Ada lelaki lain yang sedang membutuhkan dirinya untuk malam ini—meski sebenarnya hal ini hampir setiap hari ia berikan.
"Kau dimana sekarang?"
Baekhyun merebahkan diri di single-bed berbalut sprei Spongebob milik Jackson. "Dikamar anak-anak atau lebih tepatnya di atas tempat tidur bungsuku yang tampan."
"Bagus. Tapi bukankah kau membutuhkan tempat yang lebih besar?"
"Untuk?"
Sebenarnya wanita itu tau topik apa yang sedang di bahas oleh lelakinya itu. Tapi ia harus sedikit polos, karena meladeni pikiran liar suaminya hanya akan menguras gairahnya.
"Menggeliatkan tubuhmu seperti cacing kepanasan karena aku menginginkanmu. Sangat-sangat menginginkanmu."
"Oh! Kau sungguh frontal."
"Frontal adalah Park Chanyeol. Jika aku tidak frontal, kau tidak akan semenggairahkan itu saat mendesah."
Selanjutnya Baekhyun memilih mengalihkan pembicaraan daripada telinganya direcoki perkataan mesum suaminya. Ia segikit geli mendengar itu semua. Suaminya akan menjadi dua kali lebih mesum saat mereka terpisah jarak sejauh ini dan Baekhyun baru mengetahui hal itu. Sebenarnya ia sedang menghindari permintaan phone-sex Chanyeol yang sejujurnya sama menggairahkannya dengan percintaan nyata bersama lelaki itu.
Baekhyun masih mengingat awal penjemputan pertamanya karena sebuah phone-sex. Ini hal pertama baginya dan Chanyeol begitu lihai membuat Baekhyun harus meregang karena desahan mereka. Saat itu Chanyeol mengatakan sedang bermain solo bersama keperkasaannya. Ia memijat, mengurut, membelai dengan bayangan tangan Baekhyun yang melakukannya. Kemudian lelaki itu mendesah dan mendesis seperti ular yang tidak tau malu. Kicauan Chanyeol yang seindah bulan sabit mau tidak mau membangkitkan birahi tersembunyi Baekhyun. Wanita itu memiliki hasrat sama besarnya dengan sang suami. Hanya saja ia tidak pernah tau bagaimana permainan solo yang dilakukan oleh perempuan.
Setelah mengalami pergolakan batin bersama hasrtanya yang membumbung tinggi karena suara desahan Chanyeol dari telfon, wanita itu mengambil guling dan mencapitnya diantara dua pahanya. Ia mendesak disana, meski bukan batang tegak tumpul milik suaminya tapi ia tetap mendorong seluruh pinggulnya. Capitan pahanya semakin menjadi-jadi saat ia merasakan gelenyar hebat. Tak butuh waktu lama setelah Chanyeol menambah intensitas desahannya di sana dan Baekhyun menjemput kenikmatannya bersama si guling.
Rasanya hampir sama seperti melakukannya dengan Chanyeol. Hanya saja situasi ini Baekhyun menerima cairan hangatnya sendiri tanpa campuran cairan Chanyeol yang sangat ia damba.
"Tidurlah. Ini sudah pukul sebelas. Besok kau harus bangun pagi dan bekerja."
"Yeah. Kau juga cepat tidur. Ah, ya. Hari ini kau menghindari tugasmu lagi."
"Tugasku?"
"Melayani suamimu!"
Baekhyun terkekeh karena lelakinya menyadari penghindaran ini.
"Selamat tidur, sayang."
Bunyi 'bip' itu mengakhiri percakapan mereka.
Sejujurnya Baekhyun sama merindunya dengan lelaki itu. Bahkan ia dua kali lipat lebih banyak menyimpan rindu dari siapapun. Ia merindukan suara protes lelakinya itu, merindukan bagaimana Chanyeol menggodanya, dan untuk itu si cantik tiba-tiba kedatangan ide malam hari yang membuatnya tersenyum jail.
Baekhyun meloloskan tali kecil lingerin coklat yang tersampir di atas pundaknya setelah berlari kecil ke kamar, memoleskan lipstik merah sensual, dan kembali lagi ke atas ranjang Jackson.
Wanita itu hanya meloloskan sebatas pinggang lalu membuat dirinya tengkurap dengan mengapit payudaraya dan menciptakan belahan dada yang semakin sensual. Setelah menambah kesan berantakan pada rambutnya dan lidah yang ia buat menjulur penuh godaan, sebuah kamera dari ponsel pintarnya telah mengabadikan pose itu. Hanya beberapa jepretan dan wanita itu cukup puas karena ia terlihat lebih sexy dari model majalah dewasa.
Sentuhan terakhir adalah menekan tombol send pictures pada kontak bernama Chanyeolovedan wanita itu yakin, esok hari lelakinya akan mengalami situasi tegang yang tidak bisa ia tolerir.
.
Baekhyun sudah berada dalam dunia mimpinya di atas ranjang mungil milik si bungsu. Tidak ada ruang yang cukup di kamarnya sendiri karena sebelum tidur Baekhyun melihat dua buah hatinya sudah tertidur dengan posisi begitu berkuasa. Tubuh mungil mereka sanggup membuat ranjang king size milik orangtuanya penuh dengan posisi-posisi lucu. Dan malam itu, si Mommy cantik memilih mengalah dan tidur single-bed milik Jackson.
Ranjang Jackson memang kecil, tapi semakin lama Baekhyun merasa bahwa ranjang Jackson terasa sempit. Ranjang itu seperti menyempit hingga Baekhyun yang setengah sadar merasa tidak memiliki ruang gerak lebih.
Tiba-tiba ia di rundung perasaan yang tidak mengenakkan. Misalnya bayangan tentang makhluk gaib yang mengganggu dirinya. Itu kemungkinan tidak logis untuk jaman semaju ini tapi wanita itu mendadak mempercayainya. Semua menjadi semakin tidak karuan karena ceruk lehernya turut terganggu oleh sebuah sentuhan misterius.
Kesadarannya pulih namun Baekhyun memiliki masalah dengan keberaniannya. Apapun makhluk itu ia harus menyingkirkannya. Karena—
"Chanyeol?!"
Karena kesadaran Baekhyun membawanya pada sosok yang ia kenal betul surainya, aroma tubuhnya, dan nafas kecil-kecil dari hidungnya. Itu bukan sosok ghaib yang sedang menggumuli tubuhnya, tapi lelaki yang telah memberinya dua anak.
Baekhyun melirik Pororo kecil dengan angka memutar dari satu sampai duabelas di perutnya. Pukul dua pagi. PUKUL DUA PAGI?!
"B-bagaimana bisa kau disini? Pekerjaanmu?"
"Penerbangan terakhir pukul setengah duabelas. Pekerjaanku? Ada Jongin." Lelaki itu menyesap beberapa titik leher Baekhyun.
"C-chanyeol,"
"Jangan pernah menggodaku sejauh itu, Baek. Karena sekalipun aku ada di ujung dunia, aku tetap datang dan meminta pertanggung jawabanmu." Lelaki itu berbicara diantara ceruk leher Baekhyun yang sedang ia cumbu.
Otak Baekhyun mulai menemukan jawaban dari kejadian pukul dua pagi ini. Foto itu! inilah akibat dari keteledoran Baekhyun. Niatnya menggoda tidak pernah dibarengi dengan kenyataan bahwa lelakinya adalah jenis lelaki yang memiliki kewarasan di atas normal. Ia bisa melakukan apa saja demi membahagiakan gairahnya pada sang istri.
Lalu apa artinya petang yang menyapa, ranjang Jackson yang mungil, dan segala nafsu yang tersembunyi jika Chanyeol mulai menelanjangi Baekhyun dengan begitu erotisnya. Lelaki itu tidak menerima protes karena saat Baekhyun membuka mulut untuk berbicara, Chanyeol lebih sigap membungkamnya dengan ciuman panas. Ia tidak peduli dengan Baekhyun yang sempat gelagapan dengan perlakuannya, tapi lelaki itu selalu tau bagaimana membangunkan libido istrinya dalam pergumulan ini.
Puncak kenikmatan itu begitu cepat mereka raih. Dan salahkan sepuluh hari di belakang yang telah memenjarakan hasrat mereka karena percintaan ini akan lebih banyak dari satu kenikmatan.
Peluh nikmat, tubuh lengket, dan desah nafas penuh nafsu hanya sebagai lagu penggembira percintaan ini. Keduanya selalu dimabukkan oleh kebutuhan biologis mereka yang terlalu berlebih. Tapi biarlah, percintaan ini sudah seharusnya menjadi penebus rindu yang tidak bisa di tolerir.
Ingatkan bahwa Chanyeol memiliki istri yang sama menggairahkan dengannya. Karena saat pencapaian ketiga mereka, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol dari atasnya dan menindihnya. Setelah itu Baekhyun memulai kuasanya sebagai si cantik yang mendominasi. Bibirnya meraup seluruh ciuman basah mereka, memberikan jejak kepemilikan di beberapa titik di leher lelakinya, dan tangannya yang membelai sesuatu di bawah sana. Dan di ujung kemanjaan itu, Baekhyun beralih ke telinga lelakinya dan membisikkan "Woman on Top."
.
Hari ke dua puluh empat sejak Baekhyun di tinggal Chanyeol menyelesaikan pekerjaannya di Jeju. Wanita itu akan menyambut kedatangan suaminya yang katanya minggu ini akan pulang. Hari pastinya masih belum jelas. Tapi semua bisa kembali dipastikan karena pekerjaan di Jeju hanya tersisa hal-hal sederhananya.
Chanyeol dan Jongin berhasil membereskan proyek itu dengan hasil memuaskan. Yunho yang memantau dari Seoul cukup puas dan berniat memberikan beberapa hadiah kecil untuk dua orang cerdas itu.
Baekhyun masih menerima panggilan Chanyeol saat malam hari. Tapi sejak seminggu yang lalu Baekhyun menolak phone-sex dari suaminya itu. Baekhyun masih menyembunyikan sebuah alasan karena akan lebih mengejutkan saat memberitahunya langsung di hadapan sang suami. Penolakan itu tentu membuat si lelaki merajuk. Bukan hanya sekali, tapi setiap hari yang ia peroleh adalah kata 'tidak' sedangkan hasratnya sudah membumbung.
Semua dimulai dari sebuah pagi yang membingungkan. Baekhyun mendapati dirinya mual dengan intensitas yang berlebihan. Tubuhnya sedikit terasa lemas dan ia tidak memiliki minat untuk melakukan apa-apa. Sepanjang hari wanita itu hanya merebahkan diri dan meminta Bibi Nam mengurus pekerjaan rumahnya.
Keadaan tak begitu baik karena esok paginya Baekhyun kembali mual. Ini bukan gejala yang aneh jika saja Baekhyun teringat tentang bundaran merah yang melingkari tanggal 10 pada kalendernya. Ini sudah lewat hampir satu bulan tapi tamunya masih belum menunjukkan kedatangannya. Hingga akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk melakukan sebuah tes dengan benda kecil panjang yang ia simpan di lemari. Jika saja ini benar, maka sebentar lagi cucu keluarga Park akan bertambah satu dan Chanyeol berhasil mewujudkan impiannya. Menghamili Baekhyun (lagi).
Semua telah terjawab saat benda itu menunjukkan dua garis merah. Sedikit banyak wanita itu tersenyum haru pada hasil yang ia lihat. Yang lebih membahagiakan lagi, Chanyeol pasti akan senang mendengarnya.
.
Baekhyun baru saja keluar dari praktek dokter langganan keluarga Chanyeol. Wanita itu memeriksakan kandungannya yang masih berupa gumpalan darah. Dokter cantik yang sudah dua kali membantu Baekhyun melahirkan memberi ucapan selamat atas anak ketiga Baekhyun-Chanyeol. Lebih dari itu si dokter cantik mengatakan jika kandungan Baekhyun baik-baik saja. Tapi tetap, seorang ibu hamil tidak di sarankan untuk melakukan sesuatu yang memberatkannya—Baekhyun tau hal itu.
"Jadi bagaimana hasilnya?"
Hari itu Baekhyun dan Kyungsoo membuat janji bertemu di Cafest. Dua wanita cantik itu merindukan acara mengobrol bersama yang sudah sangat jarang mereka lakukan.
Biasanya mereka berempat. Baekhyun, Kyungsoo, Luhan, dan Jaejoong. Tapi untuk waktu ini hanya Baekhyun dan Kyungsoo yang memiliki waktu kosong berlebih—diluar jam menjemput anak-anak sekolah dan mengurus mereka. Luhan sedang sibuk dengan beberapa klien-kliennya dan Jaejoong sedang memanjakan si kembar dalam kandungannya.
"Masih berupa gumpalan darah, Soo. Tapi keseluruhan semuanya baik."
Lalu dua wanita hamil muda itu kembali terhanyut dalam obrolan mereka. Menyesap sedikit minuman yang mereka pesan dan melabelkan diri sebagai ibu hamil paling bahagia di dunia. Tapi semua itu tiba-tiba menjadi sedikit rusak karena Jesper tiba-tiba menarik tangan Kyungsoo dan mengatakan "Aunty Soo, Taeoh buang air besar saat mandi bola."
Anaknya yang terkadang sama konyolnya dengan suaminya, begitulah Kyungsoo merutuki dirinya. Setelah itu Kyungsoo segera menghampiri Taeoh di area permainan di samping Cafest dan meninggalkan Baekhyun sendirian di sana. Tidak, Baekhyun tidak sendirian setelah itu. Karena ada seseorang yang sudah mengambil tempat duduk di hadapan Baekhyun lalu tersenyum penuh ketampanan.
"Hai, Hyun-ie."
"Kris?"
Lagi-lagi pertemuan tidak terduganya dengan Kris. Setidaknya ia sedang tidak bersama Chanyeol dan selamatlah nyawa lelaki di hadapannya ini. Maksudnya, jika ada Chanyeol di sini, sudah dipastikan ia akan mengamuk dan benar-benar akan mengkebiri Kris. Bukan maksud Baekhyun untuk membela Kris, tapi semua ini hanya demi kebaikan mereka semua karena Baekhyun tidak mau terlibat pertengkaran yang di sebabkan oleh mantan.
"Wow, pertemuan yang mengesankan lagi. Apa kabar?"
"Seperti yang kau lihat. Semuanya baik. Kau sendiri?"
Dan dari mana Baekhyun memiliki keberanian untuk menanyakan kabar mantan kekasihnya itu?
"Well, aku masih sekaya dan setampan dulu."
Salah satu alasan yang membuat Baekhyun muak dengan lelaki ini adalah kesombongannya. Ia hanya seorang pemegang saham di sebuah management bersama ketampanannya yang memiliki campuran Cina-Kanada. Baekhyun tidak suka jenis lelaki yang memamerkan ketampannya kecuali Park Chanyeol. Oh entahlah, lelaki itu selalu memiliki pengecualian untuk semua dunia Baekhyun.
"Kau sendiri saja, Kris? Mana kekasihmu?"
"Aku masih sendiri sejak berpisah denganmu, Hyun." Wajah lelaki itu memelas, tapi ketahuilah Baekhyun sama sekali tak menaruh iba untuk itu.
"Aku turut prihatin, Kris."
Selanjutnya obrolan yang terjadi bukan tentang sesuatu yang penting. Kris menanyakan kehidupan Baekhyun dan wanita itu dengan sangat bangga menceritakan tentang suaminya, anak-anaknya, dan si calon jabang bayi yang berusia tiga minggu. Untuk semua itu Baekhyun sedikit bersombong diri atas kesakitan masa lalu yang pernah Kris torehkan padanya. Perselingkuhan dengan seorang model baru.
Baekhyun memiliki jenis perasaan kuat namun sangat sensitif. Saat itu ia langsung memutuskan hubungannya dengan Kris karena perselingkuhan bukanlah sesuatu yang bisa mendapat toleransi. Menelisik tentang kehidupannya yang saat ini lebih bahagia dari saat ia bersama Kris, Baekhyun memilih untuk membesarkan kepala dan memberi ejekan transparan pada lelaki itu 'terima kasih telah menyelingkuhiku karena sekarang aku jauh lebih bahagia dari bersamamu dulu'.
"Hyun-ie, aku harus pergi." Kris melihat jam mewah di pergelangan tangannya. "Aku harus kembali ke kantor."
Baekhyun hanya tersenyum kecil—sebenarnya itu suatu kelegaan karena ia bisa lepas dari lelaki itu.
"Boleh aku memelukmu sebentar?"
"Untuk apa, Kris?"
"Memberi selamat atas kebahagiaanmu dan si kecil dalam perutmu."
Hanya pelukan perpisahan, kan? Memberinya sedikit pada Kris rasanya tidak apa karena lelaki itu dengan senang hati telah mendengarkan kesombongan Baekhyun.
.
Seharusnya pertemuannya dengan Kyungsoo berakhir pada sore hari. Tapi saat Kyungsoo baru saja mengurus anaknya yang buang air besar di tempat bermain, wanita itu mendapat telfon dari Jongin yang sudah tiba di Korea. Mereka harus berpisah karena Kyungsoo ingin menyambut kedatangan suaminya.
Baekhyun masih sangat ingat jika kepergian Jongin ke Jeju itu bersama Chanyeol. Dan jika Jongin pulang, harusnya Chanyeol juga sudah pulang. Tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan pria itu di rumah kecuali sisa beberapa panggilan tidak terjawab tadi siang. Ditelisik lebih dalam, panggilan tidak terjawab sebanyak sepuluh kali itu ada pada waktu dimana Baekhyun sedang mengobrol bersama Kris. Selebihnya hanya sebuah pesan dari Chanyeol bahwa dirinya memiliki urusan dan tidak bisa pulang.
Saat Baekhyun mencoba menghubunginya lagi, ponsel Chanyeol sudah dalam keadaan mati dan tidak ada celah lain untuk Baekhyun tau keberadaan suaminya.
Mungkin Chanyeol harus kembali ke kantor dan melaporkan hasil pekerjaannya. Tapi Baekhyun sempat menelfon Jongin dan lelaki itu mengatakan Chanyeol tadi juga pulang sedangkan laporan pekerjaan bukan sesuatu yang segera dilakukan. Mereka bisa melakukannya esok hari.
Lalu semua menjadi sangat mengkhawatirkan. Wanita adalah makhluk dengan sebuah firasat yang tajam dan firasat Baekhyun jauh lebih akurat dari sebuah batang tes kehamilan. Lebih dari itu ia menyimpan kekhawatiran yang tidak tau harus ia apakan.
.
PRANG!
Bukan suara sebuah kaca yang dilempar batu. Tapi sebuah piring cantik bermotif bunga lili yang baru saja terjun bebas dari sebuah tangan yang diserang gemetar hebat.
Wanita itu, Baekhyun, merasa dunia sedang menjungkir balikkan kesadaran dirinya. Tubuhnya tak memiliki rasa, lututnya mendadak tak memiliki tulang, dan otaknya kosong. Keadaan hatinya tak kalah berantakan. Ada sebuah bom atom seperti di Hirosima-Nagasaki yang memporakporandakan hatinya yang baru saja tertata rapi.
Perasaan macam apa ini?
Seiring dengan matanya yang memanas, Baekhyun membanting ponselnya yang memberitahunya tentang sesuatu yang menyakitkan lalu ia melangkah di atas serpihan piring tak berbentuk itu dan menuju kamar anak-anaknya. Masih pukul sembilan malam dan dua buah hatinya masih bermain robot-robotan saat ia masuk.
Bercak merah di atas karpet Cars dekat ranjang dapat di lihat jelas oleh Jesper. Anak laki-laki itu memekik, menunjuk kaki Mommy-nya yang mengeluarkan cairan merah menjijikkan. Tapi sang Mommy tak memiliki sisa perasa dalam dirinya hingga luka itu hanya terasa hampa.
Baekhyun mengambil jaket dua buah hatinya dalam lemari dan memakainnya dalam diam. Berkali-kali Jesper bertanya mereka mau kemana tapi wanita itu bergeming. Dalam lubuk hatinya sendiri ia tak yakin apakah yang akan dilakukan ini benar. Tapi ia tak memiliki pilihan lain kecuali menyudahi semua ini.
Di kota sebesar Seoul akses transportasi dapat dijumpai dengan mudah. Karena tak begitu lama Baekhyun menggendong Jackson dalam pelukannya dan sebelah tangan menggandeng Jesper untuk keluar rumah, wanita itu sudah menemukan taksi. Dengan suaranya yang bergetar menahan semburan air mata, Baekhyun mengungkapkan tujuannya.
.
Jesper tidak asing dengan tempat ini. Ia ingat betul, beberapa kali ia datang kemari bersama Mommy dan Daddy untuk bertemu Taeoh. Dan benar, setelah salah satu pintu di lorong panjang itu terbuka, ia menemukan Aunty Soo—wanita yang ia katakan mirip Pororo.
"Baekhyun?!"
Kyungsoo memekik dengan keterkejutannya. Ini sudah cukup malam untuk sekedar berkunjung. Maksudnya, ia sedikit heran ketika Baekhyun datang pada jam seperti ini jika hanya ingin melanjutkan obrolan tadi siang. Masih ada hari esok untuk membuat janji bertemu dan berbincang. Tapi aura yang dapat ia tangkap dari wajah pucat sahabatnya itu, ia tau sesuatu yang buruk terjadi. Semua diperkuat dengan dua anak laki-laki di depan matanya yang memakai piyama tidur dengan tambahan jaket. Lebih buruknya, Kyungsoo melihat mata merah Baekhyun dan sisa air mata yang tertinggal di pelupuk matanya.
"Aku butuh bantuanmu dan Jongin, Soo." Wajahnya melemah, seperti mawar merah layu yang tak lagi memiliki tenaga untuk tetap hidup.
Kyungsoo membuka pintu dan mengambil alih Jackson dari Baekhyun yang tampak bergetar hebat. Ia tidak ingin anak laki-laki seusia anaknya itu terlepas dari pelukan ibunya yang nampak lemah dari persembunyian topeng kekuatannya.
"Oh? Ada apa ini?" Jongin yang sedang menonton televisi juga menunjukkan keterkejutannya atas kemunculan Baekhyun. Matanya yang setengah mengantuk seketika terbuka lebar—ada yang tidak beres.
"Astaga, Baekhyun! Kakimu!" telunjuk Kyungsoo menunjuk tumit Baekhyun yang mengeluarkan darah segar.
Wanita lemah itu hanya tersenyum kecil—penuh paksaan meski hanya senyum sepanjang 1 senti. "Bisa minta tolong kau tidurkan anak-anakku, Soo?"
Kyungsoo segera membawa Jackson dan Jesper dalam kamar Taeoh. Ia mengerti dengan sangat jelas keadaan ini. Keadaan dimana Baekhyun akan selemah kelopak bunga layu.
"Tolong antar aku ke Glory Red." Pinta wanita lemah itu tanpa basa-basi.
Glory Red?
Bahkan untuk sebuah terkaan, Jongin merasa bodoh karena tidak melakukannya dengan benar. Otaknya nyalang, kebingungannya seperti benang kusut, dan jangan lupakan perasaannya yang sedang didera ketidaknyamanan akan permintaan Baekhyun.
"Chanyeol ada di sana." Baekhyun dapat menebak arti kebingungan Jongin. Wanita itu masih berusaha tegar meski sebenarnya ia sudah rapuh. Kulit tubuhnya memucat dan kontras dengan merah segar di tumitnya yang mengotori lantai apartemen Jongin. "Kau bisa, kan? Aku tidak tau dimana tempat itu, Jongin."
Chanyeol ada di Glory Red? Apa lelaki itu bosan hidup?
Jongin tau dimana Glory Red karena bar kelas atas itu tempat yang cukup terkenal diantara para orang ber-dolar lebih. Beberapa kali tempat itu menjadi pembicaraannya dengan Yunho, Chanyeol, dan Sehun saat masa kuliah. Tapi sejujurnya Jongin tidak pernah menginjakkan kakinya di sana. Bar itu memiliki persyaratan yang tinggi untuk siapa saja yang akan bertandang kesana. Hanya pebisnis sekelas Yunho dan Chanyeol yang dapat dengan mudah masuk kesana tanpa ada penyaringan apa-apa.
"Apa kau menolak permintaanku?"
"Bukan begitu." Jongin segera menyergah. "Aku..aku bisa mengantarmu kesana. Tapi percayalah, kita hanya akan berdiri di depan pintu masuk karena...karena..."
"Karena apa, Jongin?"
Jongin menarik nafas berat. Udara yang ia hirup terasa menyesakkan saat air mata Baekhyun berderai dan menyentuh bekas darah di kakinya.
"Aku tidak bisa membawamu masuk. Percayalah, kita hanya akan menjadi bulan-bulan bodyguard di sana jika memaksa."
Lutut Baekhyun melemah. Ia tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Akses untuk masuk ke dalam bar laknat itu menjadi benteng terakhir yang tidak bisa ia tembus. Untuk semua kelemahan dirinya, ia menyumpahi eksistensi dirinya yang tidak bisa berguna untuk situasi seperti ini.
"Baekhyun? Apa kau baik-baik saja?" Kyungsoo segera merengkuh tubuh ringkih sahabatnya. Tangisnya pecah, nafasnya tercekal, dan pundaknya bergetar hebat. Masalah macam apa lagi ini. "Jongin, apa ada yang bisa kita lakukan? Aku tidak tega melihatnya begini." Kyungsoo turut terbawa tangis yang di bawa Baekhyun. Perasaan wanita itu sensitif, saat ia menjumpai temannya menderita seperti ini, Kyungsoo-pun turut merasakan seluruh kesedihannya.
Jongin mengusak surainya kasar. Ia tak kalah kacau. Saat ini ia tak memiliki jalan lain kecuali...
"Yunhohyung.Semoga dia bisa membantu kita."
.
Terhitung sejak perjalanan 30 menit yang lalu, Jongin dan Yunho kembali meyakinkan wanita lemah di jok belakang yang sudah seperti mayat hidup itu untuk keputusannya. Keputusan menyakitkan yang akan memecah semua kekuatan wanita itu dari sisa-sisa nyawanya yang telah berceceran bersama kesakitannya.
Benar apa yang dikatakan Jongin, sistem keamanan Glory Red tidak main-main. Saat berada di pintu masuk, dua penjaga berbadan besar itu meminta sebuah kartu yang Baekhyun sendiri tidak tau apa. Yang ia tau, saat Yunho mengeluarkan kartu hitam dengan bingkai emas dari dompetnya, mereka bertiga bisa masuk.
Langkah kaki pertama Baekhyun ke sebuah bar mewah membawa hatinya semakin terpuruk. Aroma alkohol dan sex kental bisa ia rasakan. Bar kelas atas yang tidak sembarang orang bisa masuk yang di idamkan pecinta bar, tak jauh beda seperti neraka dunia di mata Baekhyun. Ia membenci segala kemewahan dalam bar ini. Alkohol dan para wanita yang menjajakkan dirinya dengan balutan gaun tipis nan ketat menempati urutan pertama untuk hal-hal yang dilaknat Baekhyun di tempat ini.
Yunho berinteraksi sebentar dengan salah seorang barista setelah itu memberi sinyal berupa anggukan kecil pada Jongin yang ada di belakangnya.
"Semoga ini bisa membantumu."Ucap Yunho sambil memegang pundak Baekhyun.
Seorang pegawai bar membawa mereka kesebuah lorong penuh bilik-bilik misterius. Bilik dengan pintu mewah berwarna merah menyala itu menambah sesak dada Baekhyun karena sisa kewarasan otaknya tengah memikirkan hal-hal yang terjadi dalam bilik-bilik itu.
Baekhyun berusaha tegar saat pegawai itu membawa mereka kesebuah pintu yang ada di ujung lorong. Setelah memberi beberapa lembar dolar pada pegawai itu, Yunho dan Jongin kembali melihat Baekhyun dan menanyakan kembali tentang keputusannya. Mungkin yang akan ia lihat di dalam bilik itu bisa lebih buruk dari sebuah mayat yang termutilasi. Bisa saja yang ada di dalam bilik itu bisa semenjijikkan kotoran sapi. Atau bisa saja lebih buruk dari dua hal itu.
"Pikirkan kembali tentang perasaanmu. Aku bukan Jaejoong, bukan Kyungsoo, bukan Luhan, karena aku lelaki yang tak pernah mengerti bagaimana perasaan seorang wanita."
Wanita itu mengangguk kecil. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan meski diam-diam ia tidak bisa mengelak tentang kehancuran dirinya. Setelah ini mungkin ia akan hancur. Ia akan serupa pecahan piring di rumah yang ia biarkan melukai tumit kakinya.
Yunho menarik nafas panjang. Stok oksigen dalam dirinya tak bisa membantu kerja organnya dengan baik. "Baiklah. Selesaikan dengan cara ba—"
Tangan bergetar Baekhyun bergerak membuka pintu di depan matanya. Tarikan nafasnya lebih panjang dan lebih berat dari Yunho dan Jongin. Namun untuk semua kebrengsekkan cerita hidup ini, ia memberanikan diri melangkahkan kakinya dan..
Bukan suatu perbuatan yang baik untuk di saksikan siapapun. Bahkan mata orang waraspun akan tersakiti melihat tindakan itu.
Yunho dan Jongin berdiri tepat di belakang Baekhyun yang mematung. Entah bagaimana wanita itu melihat sebuah pergumulan ciuman panas yang terpampang di depannya. Jongin memegang pundah Baekhyun dan wanita itu tersentak sebentar.
Dua orang yang bergulat dalam ciuman panas itu terlalu hanyut dalam setiap sesapan bibir hingga tidak menyadari ada orang lain dalam bilik mereka. Mereka sibuk, memuaskan hasrat ciuman dari bibir masing-masing dengan intensitas yang saling memburu. Dan dari ciuman panas itu menghasilkan sentuhan-sentuhan yang semakin membuat wanita lemah dalam bilik itu menyalak dalam emosi yang bergelung.
Dia seperti kehilangan kesadaran meski tubuhnya sepenuhnya masih berdiri. Ia kehilangan semua kewarasannya, ia kehilangan hati, dan kehilangan harga diri seorang wanita yang bersuami. Harga diri wanita mana yang tidak jatuh hingga tertimbun kotoran sapi saat melihat lelakinya adalah pihak lelaki yang turut andil dalam ciuman panas itu.
Dari sisa-sisa ciuman panas itu ia dengan sangat jelas melihat ada senyum licik penuh kepuasan yang sengaja di suguhkan untuk Baekhyun. Siapapun akan tau arti dari senyum itu—senyum kemenangan untuk sebuah tindakan biadab pelacur.
Dan saat pihak lelaki itu memutus ciumannya untuk berpindah pada sebuah ceruk leher, ia kalah cepat oleh sebuah tangan mungil yang menarik dagu lawan mainnya.
Wanita itu menyalakan sebuah api kebencian. Tangan mungil pucat itu sedingin salju kutub utara. Dan saat lelaki itu, Park Chanyeol, menyadari semua kebodohan ini, segelas wine ditangan si wanita rapuh itu sudah terbuang dengan begitu keji di wajah wanita berpakaian minim.
Setelah itu goblet tinggi sebagai saksi mati sisa kemarahan Baekhyun terbanting ke lantai dingin di bawah kakinya. Wanita itu membisu. Dan saat dia berdiri menjulang untuk menantang tubuh lemah di hadapannya, Baekhyun kembali mengambil sisa wine di atas meja dan menuangkan tepat di atas dada wanita itu. Goblet mahal itu kembali menjadi korban—Baekhyun melemparnya tepat di tembok belakang wanita itu. Lee Sena.
Nafasnya tak lebih baik dari seorang atlet lari. Ia tak menemukan lidah untuk menyemburkan seluruh lahar kemarahannya karena apa yang dilihat matanya sudah lebih dari cukup untuk mencakar sisa kehidupannya. Tak ada lagi hidup damai karena semua itu hanya omong kosong. Ia kembali terbawa pada perasaan kecewa seperti yang pernah ia rasakan saat mengetahui ia adalah anak tak diharapkan oleh orang tuanya.
Mengapa hidup sekejam ini padanya? Ia terlalu takut melakukan larangan Tuhan untuk sebuah harapan hidup damai di dunia. Tapi Tuhan tak pernah tau bahwa ada satu wanita yang hidup diatas serpihan perih hidupnya. Lalu bolehkah Baekhyun mengatakan sia-sia atas segala perilaku taatnya selama ini?
.
Bagaimana semua ini akan berakhir? Bagaimana akhir dari kisah menyedihkan Baekhyun yang lebih menderita dari Cinderella? Bagaimana ia akan melewati ini semua sedangkan untuk bernafas secara normal saja ia kesulitan.
Sisa kebaikan hatinya hanya berkadar kurang dari 10%. Bisakah ia melewati sisa hidup ini dengan kadar sebanyak itu? Ia tidak yakin. Bahkan untuk melewati kembali bilik-bilik Glory Red lalu berujung pada pintu keluar bar itu ia hampir kehilangan sisa kebaikannya. Ingatkan Baekhyun untuk menyimpan sedikit sisa kebaikannya demi dua anak lelaki yang ia titipkan pada Kyungsoo dan segumpal darah dalam rahimnya. Hanya mereka, satu-satunya hal yang membuat Baekhyun mati-matian menahan diri untuk tidak memotong urat nadinya.
Tubuhnya tak begitu kuat untuk melawan saat ada yang menahannya dan membalikkan tubuhnya. Wanita itu memiliki banyak stok kemarahan yang bisa ia umbar kapan saja. Tapi Baekhyun tak ingin melakukannya. Ia benci terlihat lemah dari letupan emosinya yang berbahaya.
"Baekhyun aku bisa jelaskan."
Apa yang akan kau jelaskan? Seluruh dunia tau.
"Baekhyun maafkan aku. Aku..aku...aku bisa menjelaskannya.."
Jangan meminta maaf. Aku merasa terhina.
"Baek—"
PLAK!
Entah dorongan dari mana, tangan itu menampar dengan sangat pasti wajah lelakinya.
"Kau bisa menamparku sepuasmu, Baek. Tapi kumohon dengarkan dulu semua penjelasanku."
Kau memohon? Kau buang kemana harga dirimu?
PLAK!
"Baek.. maafkan aku...kumohon..."
Jangan bersimpuh seperti itu. Kau hanya akan membuat posisiku sebagai pemain antagonis dalam drama ini.
"Baek...maaf...maaf...aku..."
Maaf? Aku bahkan tidak memikirkan hal itu.
PLAK!
Baekhyun masih dengan sangat rapi menyimpan keterdiamannya. Di sisa tenaganya untuk menyakiti pipi Chanyeol, wanita itu juga mati-matian menahan desakan air mata dari pelupuk matanya. Ia tidak boleh menangis, ia tidak boleh terlihat lemah, dan ia harus kuat.
Apapun itu Baekhyun adalah sejenis wanita yang menolak menunjukkan ketidakberdayaannya. Ia terbiasa untuk kuat meski tidak sepenuhnya batinnya memberontak karena ia terlalu lemah. Disakiti dan dihiati semacam ini seharusnya tidak mematahkan pertahanan dirinya. Tapi dia adalah satu dari berpuluh juta wanita di dunia yang diberkati perasaan serapuh ujung ranting. Maka biarkan untuk saat ini, hanya air matanya yang lolos seakan memberitau Chanyeol bahwa wanita ini sudah sekarat—hampir mati untuk keterpurukan hidupnya.
Mengakhiri jerit hatinya yang semakin memburuk, Baekhyun melepaskan genganggam tangan lelaki yang bersimpu di bawahnya. Satu lagi kenyataan yang Baekhyun benci; ia membenci seseorang yang berdiri di atas lututnya dan memohon maaf atas kesalahan bodohnya sendiri. Karena pada kenyataannya, orang-orang akan merasa iba pada yang bersimpu dari pada pihak lain yang jelas-jelas terluka.
PLAK!
Kita hanya dua manusia bodoh yang mencoba bertahan. Aku dengan keegoisanku dan kau dengan kuasa kelelakianmu. Sepertinya kisah ini memang perlu di akhiri. Kita sudah terlalu banyak untuk saling menyakiti. Baik aku, kau, dan anak-anak kita, hanya akan berakhir menderita karena kisah menyedihkan ini. Jadi, ku rasa kita bisa sampai di sini, Chanyeol.
.
.
.
