M

.

.

.

Baekhyun hanya setangkai mawar putih rapuh—berkelopak indah tapi tak menunjukkan keindahan, beraroma surga tapi keadaan membuatnya seperti neraka. Ia hanya setangkai mawar yang mencoba berdiri di antara hembusan angin utara menuju selatan. Hanya dia sendiri, berdiri dan menantang keburukan yang memang diciptakan untuk mengacau.

Tigaperempat hatinya sedang berkelana. Tidak ada yang tau kemana hati itu pergi. Baekhyun menyimpan sendiri setiap inci keraguan, kekecewaan, kesedihan, bahkan keterpurukan dari dunianya yang kejam. Setangkai mawar rapuh itu akan punah—terkubur oleh luka beserta kekejian yang menyiksanya.

Dia adalah sang mawar putih yang sedang terluka.

"Tidak apa. Menangislah, Baek." Setidaknya mawar putih itu masih memiliki sebuah belaian lembut dari sahabatnya. "Berbagilah padaku. Kesedihanmu tidak harus kau rasakan sendiri. Berbagilah untuk kebaikan hatimu."

Airmatanya mengering—seperti sebuah sungai yang tak sudi bersinggah air.

Baekhyun memeluk erat tubuh Kyungsoo, mencari setitik kenyaman yang bisa meredakan emosinya dan menyinggahkan sebentar kekecewaannya. Yang ada di otaknya sedang berkembang kebencian yang mendalam. Ia menderita, ingin berteriak dengan umpatan yang tulus dari hatinya dan menjejalkan segala pukulan telak untuk kebodohan dunia ini.

"Anak-anakku sudah tidur, Soo?"

"Ya. Mereka sedang bermimpi indah bersama Taeoh." Kyungsoo memberikan segelas air mineral pada sahabatnya itu. Semoga ada sedikit kelegaan pada tegukan air mineral yang Baekhyun minum. "Kakimu. Bagaimana dia bisa terluka separah itu? Hampir pingsan melihatnya."

Buntalan perban putih yang terkontaminasi cairan coklat bisa Baekhyun lihat sudah membingkai tumit kakinya. Ia tidak tau pasti kapan Kyungsoo melakukannya. Saat ia tiba di apartemen Kyungsoo tigapuluh menit yang lalu, ia datang dengan tubuh serupa mayat; pucat. Otaknya tak lebih baik untuk mencerna apa yang sudah terjadi. Tapi hatinya masih menyalangkan sebuah kenyataan menakutkan.

Bilik dengan pintu berwarna merah...

Aroma alkohol yang menjijikkan...

Dan lelakinya yang bersimpuh dengan segala permohonan dari mulutnya...

Wanita itu memejamkan erat matanya dan membuat setetes airmata yang sudah ia simpan menjadi sebuah badai hujan. Ia menangis hebat. Hatinya dicubit, diremas, digulung, dan diputar-putar seperti sebuah adonan. Perlukah ketegaran hati untuk sekarang ini jika menjadi puing-puing abu kematian terdengar sangat menarik?

"Rasanya seperti Tuhan mencabut nyawaku tapi aku tidak mati." Wanita itu berujar—menatap tak menentu pada jemari tangannya yang memucat. "Sehina itukah aku hingga—" si mawar putih kembali menangis dalam diam. Dia tidak pernah menjumpai perasaan sesakit ini.

"Aku tidak memiliki banyak kata motivasi untuk membangkitkanmu. Tapi.." Kyungsoo meraih jemari Baekhyun—menggenggamnya penuh peduli seakan kesedihan itu tidak sepatutnya dirasakan Baekhyun seorang diri, "...kau jangan pernah menutup mata dengan keberadaanku yang selalu bersamamu. Aku tau ini tidaklah mudah, tapi ku sarankan kau sedikit sisakan hatimu untuk dua anak lelaki di kamar Taeoh dan untuk dia." Kyungsoo membelai gumpalan darah yang berlindung di rahim Baekhyun.

Baekhyun kembali menangis saat pintu kamar Kyungsoo terbuka, memunculkan sosok Jongin, Yunho, dan lelaki yang baru saja menanam kebencian dalam setiap sel tubuh Baekhyun.

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa masalah mereka harus diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Ya, orang bisa mengatakan itu tanpa pernah tau ada kubangan besar dalam hati yang telah dipenuhi kotoran kebencian yang sangat menjijikkan.

Sisa airmata itu dihapus secara kasar. Menangis bukan hal yang patut ia tunjukkan pada lelaki yang sudah beribu kali mengucap kata maaf. Mendadak Baekhyun turut membenci kata 'maaf' yang terucap begitu mudah.

"Kami akan meninggalkan kalian untuk berbicara." Yunho memulai. Sebagai sosok yang lebih dewasa dari segi umur dan pengalaman hidup, ia harus menengahi dua manusia yang sedang berperang ini. "Kau menolak atau tidak, kalian harus tetap bicara. Kau mau mengumpat, silahkan. Kau berhak melakukan itu karena kau adalah pihak yang paling di rugikan dalam masalah ini." Yunho menyentuh pundak Baekhyun. "Kau ingin menangis dan memohon ampun, lakukan setulus hatimu. Manusia buta-pun akan tau apa yang kau lakukan itu tidak benar. Jadi, perbaiki semua yang telah kau rusak." Yunho menatap Chanyeol penuh keseriusan.

Lalu ketika Yunho, Jongin, dan Kyungsoo menutup pintu kamar dan membiarkan dua manusia itu untuk menyelesaikan masalah, suasana menjadi lebih mencekam daripada rumah hantu.

"Aku tidak tau harus mengucap ampun seperti apa lagi, Baek." Lelaki yang berdiri di hadapan Baekhyun itu buka suara.

"Jangan ucapkan apa-apa jika kau tak cukup mengerti tentang sebuah penyesalan!"

"Aku...aku...aku tidak melakukan apa-apa dengan Sena. Kau harus mempercayainya, Baek."

"Lalu siapa yang sedang berbagi bibir di sebuah bilik terkutuk itu?! Bisa kau beritahu aku dimana aku harus mempercayai keyakinanmu itu?! Jangan bertindak seakan kau ini korban, Chanyeol!"

"Ini kesalahan terbesarku, Baek."

"Bagus jika kau sadar!"

"Tapi aku tidak berniat seburuk itu untuk mengkhianatimu. Sena datang padaku dan aku harus mengakhiri dengan cara itu."

"Jangan mempersempit definisi khianat jika yang kau lakukan sungguh biadab Park Chanyeol?! Kau diberkati Tuhan otak cukup cerdas untuk mengingat bahwa caramu mengakhiri itu tidak masuk akal!"

"Untuk itu maafkan aku, Baek. Aku bersungguh-sungguh untuk permohonan ini. Aku tidak ingin kehilanganmu, kehilangan keluarga kita."

"Kau bilang 'kita'?! Lalu saat kau mencumbu pelacur sialan itu masih ingatkah kau tentang 'kita'?! Jangan membuat lelucon, Park Chanyeol!" Baekhyun menarik nafas panjang yang berbuntut rasa ngilu dalam hatinya. Kerapuhannya hanya bersisa seujung kuku untuk tetap mempertahankan harga diri seorang istri yang dikhianati.

Lelaki itu kembali bersimpuh di atas semua penyesalannya. Dan sebenarnya penyesalan itu serupa ampas kotoran yang terasa busuk dari segala sisi. Mengais permohonan maaf sampai lututnya berdarah-pun hanya sebagian kecil tebusan untuk hati wanitanya yang sudah berbalur banyak kebencian. Sedangkan untuk rasa bodoh yang ia rasakan akan terasa seperti liur anjing yang menjijikkan. Ia pantas mendapatkannya—berhenti mengharapkan rasa iba karena ia tak pantas mendapatkan hal itu.

"Kita bercerai."

Petir paling buruk pada akhirnya keluar dari bibir mungil itu. Hatinya telah digerogoti perasaan benci yang berlebih, melebihi rasa cinta yang dulu pernah disimpan. Wajah angkuhnya yang pucat pasi, bibir bergetar menahan cubitan sakit dihati dan matanya yang panas menahan guraian air mata kesakitan.

Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan dengan baik-baik menurut Baekhyun. Kesabarannya sebagai seorang wanita biasa benar-benar diuji dan menghasilkan rasa kecewa yang mendalam. Tidak akan pernah ada kata toleransi saat ini. Lebih baik dia hidup dengan segala kemampuannya sebagai wanita daripada perlahan merasakan kematian yang mencekik ulu hatinya.

"Aku minta maaf, Baek...kumohon..."

Pria itu, Park Chanyeol, berderu memohon di bawah rasa penyesalannya untuk sebuah pengampunan. Wanitanya murka atas segala kebodohan dan ketololannya sebagai seorang pria. Keingkarannya pada sebuah janji suci yang ia ucap dengan mulutnya sendiri memberikan efek terlalu menyakitkan. Mungkin tidak seberapa dibanding dengan rasa kecewa dan sakit hati wanita itu.

"Setelah bercerai kau bisa bebas dengan kebanggaanmu sebagai seorang pria. Detik dimana palu menandakan kita tidak memiliki hubungan apa-apa, aku akan melepaskan semuanya." Suaranya bergetar. Ada rasa ngilu berlebih di dalam hatinya. Sempat Baekhyun kehilangan fungsi paru karena ia tak menemukan cara untuk bernafas dengan normal. Tapi ia terlalu murka, harga dirinya sebagai seorang wanita akan semakin terinjak jika dia menunjukkan kelemahannya.

"Maafkan aku Baek..Maaf...kumohon..."

Pria diciptakan dengan kekerasan hati untuk tidak menangis sepanjang hidupnya. Tapi situasi Chanyeol saat ini menentang; ia tersedu seperti seperti seorang tahanan yang meminta keringanan akan hukuman yang diterima.

"Simpan permohonanmu! Aku tidak butuh!"

Angkuh, dingin, dan kejam. Jika bunglon berubah untuk menyembunyikan jati diri maka wanita itu berkebalikan. Keangkuhannya menguap seiring dengan hatinya yang mati rasa atas permohonan pria yang kini bersimpu di kakinya.

"Aku...aku...aku menyesal, Baek.."

"Dan menyesal memang selalu ada dibelakang punggungmu!"

Tidak ada kata cadangan lain yang bisa Chanyeol berikan. Ia terlalu bangsat untuk semua yang telah ia lakukan pada wanitanya. Dan kembali memohon adalah satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan.

"Secepatnya aku akan meminta Luhan mengurus surat perceraian kita!"

"Jangan, Baek..jangan..."

"Aku tidak akan menuntut apa-apa selain satu hal! Hak asuh Jesper dan Jackson ada padaku sepenuhnya! Aku tidak mau mengotori hidup anak-anakku dengan kisah ayahnya yang memalukan!"

"Tidak bisa, Baek.. mereka anakku juga, aku ayahnya.."

"Ayah yang hanya tau bagaimana bersenang-senang dengan keegoisannya!"

Mulutnya bungkam. Bahkan jika Baekhyun menelanjanginya diatas kesalahan fatal yang diperbuat, Chanyeol akan pasrah. Sejujurnya pria itu sudah tidak lagi memiliki hak untuk mempertahankan harga dirinya. Ia sendiri yang berbuat dan ia pantas menerima segala konsekuensinya. Memang harus seperti itu!

.

.

.

...Incheon Airport...

Sore separuh mendung mencoba menggapai kesegaran udara disela-sela kesibukan Bandara Incheon. Tak sedikit yang menggumam udara sedang tidak terlalu baik—mendung tak terlalu mendominasi, panas tak begitu menunjukkan eksistensi, dan dahaga adalah satu-satunya masalah saat ini.

Chanyeol baru saja berpisah dengan Jongin di persimpangan pintu keluar bandara. Jongin ingin segera pulang dan merengkuh penuh kenyamanan tubuh istrinya, begitu juga Chanyeol. Ia sudah terlalu menyimpan rindu berlebih pada Baekhyun juga dua buah hatinya.

Segelas Mocca Frappucino telah ia dapatkan setelah membayar beberapa won di kasir Starbucks. Ia butuh menyembuhkan dahaga pada kerongkongannya.

Seharusnya ia kembali menarik kopernya, mengenakan kacamata hitam yang bertengger sempurna di atas tulang hidungnya, dan pulang untuk mencium Baekhyun penuh cinta. Ya, itu yang seharusnya ia lakukan. Bukan malah berhenti di sudut Starbucks dan membalas sebuah sapaan pada wanita yang menyilangkan kaki berbalut gaun pendek kontroversi. Lee Sena.

"Kau masih mengenaliku dengan baik." Si cantik berlipstick merah menyala menyunggingkan senyum—mencoba menarik perhatian si mantan kekasih yang hanya menatapnya sinis. "Duduk sebentar."

"Mau melarikan diri?"

"Dari?"

Chanyeol menyesap minumannya, melepas kacamata hitam elegan itu dan berdecih kecil untuk Sena yang sedang menonjolkan dua payudaranya . Pelacur!

Sena tertawa. Kuku merahnya ia ketuk perlahan bersama dengan perannya yang memang sudah ter-setting menggoda. Atau dia memang sengaja menggoda Chanyeol.

"Mana ku tau. Kau tak tertebak, Sena."

"Aku sedang mengejar seseorang. Masih mengharap sisa puing perasaan masa lalu—siapa tau aku bisa menatanya kembali."

Chanyeol berdecih. Pelacur bermulut manis, tidak taukah dia sedang merendahkan dirinya sendiri? Lalu sena menggeser tempat duduknya, lebih dekat hingga Chanyeol bisa mencium aroma parfum memikat si pelacur. Chanyeol tidak terlalu tertarik dengan semua keagresifan ini.

Dan Sena semakin larut dengan perannya sebagai penggoda. Tangan mulusnya mulai bermain pada pangkal paha Chanyeol, meremas sesuatu yang begitu ia damba untuk memenuhi dirinya. Hanya saja perempuan itu tidak tau jika Chanyeol sama sekali tidak memiliki niat untuk terangsang. Tapi lelaki itu cukup baik memerankan perannya—ia menatap mata Sena yang mulai gelagapan karena ulahnya sendiri. Dia yang bermain, dia yang terangsang!

"Aku sudah beristri, Sena."

"Apa peduliku?"

Chanyeol memiliki satu ide untuk sebuah permainan menyenangkan.

"Kau hanya perlu menceraikannya dan kita bisa bersama kembali."

"Apa menurutmu seperti itu?"

"Ayolah, Chanyeol," ia semakin mendekat, menepis jarak antara dadanya dengan lengan Chanyeol yang terbungkus kemeja hitam, "rumah tangga tidak akan serumit itu jika kita bisa memiliki jalan yang lebih aman."

Dasar pelacur!

.

Chanyeol pikir akan menyenangkan mempermainkan pelacur ini. Tidakkah Sena ingat jika Chanyeol adalah pecinta wanita kedua? Ia masih memiliki pesona itu untuk mempermainkannya. Dan Glory Red menjadi pilihan yang tepat.

Malam masih terlalu dini untuk memulai semua permainan ini. Chanyeol memilih duduk di salah satu meja dekat bartender dan menikmati beberapa hentakan musik. Ia serasa kembali ke masa muda—menjadi pecinta wanita dengan nafsu yang menggelung hingga ubun-ubun. Tapi semua itu sudah berakhir sejak Chanyeol bertemu Baekhyun. Satu-satunya wanita yang menentang alkohol dan segala kehidupan malam. Bahkan untuk mendapatkan ciuman pertama wanita itu saja Chanyeol harus pura-pura sakit. Ah, bahkan untuk kenangan itu saja ia menjadi semakin rindu dengan Baekhyun.

Ketika sudah hampir 3 jam Chanyeol menggantung sebuah nafsu dari wanita licik di hadapannya, ia rasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeksekusi.

Sena menariknya pada sebuah bilik berpintu merah yang ada di ujung lorong. Sena memang anjing betina dengan nafsu besar, ia mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol dan menciumnya dengan liar. Chanyeol sendiri tidak terlalu memiliki nafsu sebesar wanita itu, hanya saja ia sedang berperan untuk menjadi lelaki brengsek yang siap meninggalkan wanita itu disaat libido menguasai. Akibatnya, Chanyeol beberapa kali menggigit kasar bibir Sena dan memeras dengan liar buntalan sintal payudara Sena. Wanita itu sempat memekik kecil karena perlakuan kasar Chanyeol, tapi ia cukup cerdik untuk mengakalinya dengan sebuah desahan untuk membuktikan bahwa ia terlena oleh sentuhan Chanyeol.

Mereka masih saling berbagi bibir. Membelit dengan lidah yang sama berbahayanya dengan lidah ular berbisa.

Sena melenguh—menunjukkan nafsunya yang begitu besar karena nikmat yang Chanyeol berikan. Ya, ia bernafsu. Bernafsu untuk menjadi sesuatu yang akan menjijikkan karena inti dari semua ini berkebalikan dengan niat awalnya. Ia bukan wanita bodoh. Otaknya cukup tau tenteng permainan apa yang sedang digalakkan lelaki ini. Pertemuan di bandara dan berakhir di Glory Red tidak akan semudah itu bagi Chanyeol jika saja tidak ada niat lain. Terlebih ia sempat mendengar dengan samar rencana Chanyeol untuk mempermainkannya. Dan Sena cukup mengerti kemana semua ini akan berakhir.

Jika Chanyeol bisa selicik itu untuk mempermainkannya, maka Sena memiliki otak di atas kata licik untuk menjadikan permainan ini semakin menyenangkan.

Lalu ketika Chanyeol sibuk dengan perannya, diam-diam Sena mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan satu momen panas tanpa sepengetahuan Chanyeol. Bukankah lebih menyenangkan jika wanita sialan itu juga terlibat permainan ini?

Sena sendiri sudah kehilangan nafsu untuk digagahi Chanyeol. Ia lebih berminat pada kelanjutan permainan yang telah mereka ciptakan. Dia, atau wanita itu yang menjadi pemenangnya. Melihat dari semua yang sudah ia lakukan, sepertinya Sena sudah bisa menebak angin segar dalam permainan ini. Terbukti setelah lebih dari 1 jam ia bermain dengan Chanyeol, seseorang menerobos pintu merah itu dan mengumandangkan inti dari permainan.

Nasib tak lebih baik dari seteguk wine mahal untuk Chanyeol. Ketika ia menjajaki semua puncak idenya, ia kalah cepat dengan seorang wanita yang sudah ia patenkan hatinya. Baek-Hyun.

Baekhyun berdiri di sana, menjadi sosok pucat yang membungkam sumpah serapah meski ia sangat ingin mengatakannya. Bukan seperti ini permainan yang ia rencanakan. Bukan kehadiran Baekhyun yang melihat semua alur permainan ini. Ini salah.

Wanita itu sudah lebih dulu menyiram Sena dengan wine dan menghancurkan goblet. Bahkan pada siraman terakhir ia lebih brutal dengan menyiramkan wine di atas dada Sena dan melempar goblet lain ke tembok belakang Sena.

Sena belum menambah bumbu-bumbu manis permainan tapi wanita itu sudah pergi. Dengan begitu, ia bisa menyimpulkan bahwa dialah satu-satunya pemenang. Good Job, Sena!

"Mau kemana?" cegah Sena pada Chanyeol yang akan pergi.

"Kau brengsek, Sena!"

"Jangan bermain-main denganku, Chanyeol. Aku lebih berbahaya dari ular."

.

.

Dunia selalu memiliki cara untuk berucap bahagia dalam sebuah kesedihan—begitu juga sebaliknya. Senandung unik yang menjebak sebuah rasa gelisah bercampur emosi hanya akan memunculkan nada kebencian sedalam samudera. Jangan pernah memikirkan seberapa dalam samudera itu karena yang akan didapati hanya kekeruhan yang berujung jalan buntu.

Menjalani hidup serumit ini tidak pernah dibayangkan oleh Baekhyun. Manusia mana yang akan bertahan diputar balik hingga jatuh tersungkur dengan luka tanpa darah? Katakan pada Baekhyun jika ada manusia seperti itu, dia ingin berguru.

Kewarasannya sedang bertarung dengan keegoisan yang membuncah—api kebencian sedang mengontaminasi kebaikan hatinya. Mempertahankan rumah tangga atau menjadi wanita berstatus janda, Baekhyun membutuhkan kejernihan lebih banyak. Jikalau ia memilih mempertahankan rumah tangga, itu berarti ia harus bersiap menjadi wanita bodoh yang bertahan atas rasa sakit. Sedangkan menjadi Janda—ia tidak memperdulikan status itu, hanya saja ia tidak tau apa yang harus ia jelaskan pada Jackson dan Jesper yang sudah jelas akan ikut bersamanya.

"Akan ku lunasi besok, Soo." Baekhyun meletakkan beberapa koper yang ia tenteng menuju ke sebuah kamar asing.

Setelah pertengkarannya dengan Chanyeol beberapa hari lalu, wanita itu memutuskan untuk keluar dari rumah dan menyewa apartemen sederhana dengan bantuan Jongin dan Kyungsoo. Ia hanya butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya sebelum ia menghadapi surat perceraian yang sedang di urus Luhan.

"Jangan pikirkan itu dulu. Pikirkan kesehatanmu juga anak-anak. Oh ya, minggu depan jadwalmu memeriksa kandungan. Mau ku temani?" Kyungsoo membelai lembut pundak wanita ringkih di sampingnya.

"Tidak usah," tolak Baekhyun dengan senyumnya yang sarat kelemahan, "aku akan memeriksanya sendiri sambil membeli beberapa peralatan untuk tempat tinggal baru."

"Tidak, tidak. Kau harus ku temani."

"Tidak usah, Soo. Aku—"

"Aku memaksa. Jangan mendebatku lagi atau aku akan marah. Oke?"

Setelah itu Kyungsoo dan Baekhyun di sibukkan dengan beberapa barang yang di bawa Baekhyun untuk di tempatkan di apartemen sederhana ini. Tidak banyak yang ia bawa kecuali pakaiannya sendiri juga milik Jesper-Jackson.

Baekhyun masih memiliki uang dalam rekening pribadinya untuk memenuhi kebutuhannya setelah ini. Membeli peralatan memasak, selimut untuk anak-anaknya, dan biaya lain yang sudah ia perhitungkan untuk hidup bersama dua jagoannya dan si kecil dalam rahim.

Apalagi yang bisa ia pikirkan selain bertahan hidup di sisa kemalangan dirinya. Tidak mungkin ia menangis tersedu setiap hari karena perselingkuhan itu begitu menohok harga dirinya. Ia harus bangkit, meski kakinya masih bergetar dan hatinya belum sepenuhnya kuat, menjadi sosok yang tegar adalah pilihan satu-satunya. Dari segi finansial ia sudah tidak sudi mengharapkannya dari Chanyeol. Dengan segala kemampuannya, setelah semua sedikit pulih, Baekhyun berpikiran akan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Atau ia bisa menghubungi Kris dan melamar menjadi model lagi? Semua akan ia pikirkan nanti.

"Chanyeol hyung ingin berbicara denganmu." Adalah yang pertama kali Jongin katakan setelah ia muncul dari balik pintu. Jongin menangkap raut tidak suka tentang apa yang ia katakan, seakan ajakan bertemu itu akan merenggut semua sisa harta yang dimiliki wanita itu. Atau lebih buruknya, akan merenggut nyamanya.

"Katakan padanya semua bisa dibicarakan saat persidangan nanti."

Jongin membuang nafas pasrah. Dalam hal ini ia tidak bisa memaksa sekalipun lelaki yang ada di luar apartemen sedang menggantungkan nasib padanya.

Baru saja Jongin ingin melontarkan sedikit bujuk rayu, tapi ia kalah cepat oleh tatapan tajam istrinya yang seolah berkata 'Tutup mulutmu'.

.

Kyungsoo dan Jongin sudah pulang. Baekhyun sangat berterima kasih pada pasangan itu karena sudah banyak membantunya. Mungkin saat Kyungsoo melahirkan nanti ia akan memberi hadiah sedikit lebih istimewa untuk ucapan terima kasihnya.

Sekarang yang tersisa adalah dirinya dengan dua anak laki-laki yang sedang bermain di atas ranjang baru mereka. Semenjak datang ke apartemen ini, mereka terus menanyakan mengapa mereka disini, dimana Daddy, dan mengapa Mommy menangis. Baekhyun hanya menjawabnya dengan satu senyum kecil dan berkata kalian akan aman bersama Mommy, jangan khawatirkan apapun.

Mungkin ranjang yang Baekhyun tempati bersama dua anaknya itu tidak terlalu mewah seperti yang di rumah mereka dulu. Mungkin selimut yang membungkus malam lelap mereka tidak sehangat selimut di rumah mereka dulu. Tapi Baekhyun mencoba menepis segala kemungkinan itu—ia memeluk erat dua buah hatinya, mendendangkan nyanyian tidur dan membelai penuh sayang puncak kepala dua anak laki-laki itu.

Lalu ketika dua anak laki-laki itu mulai terlelap dalam dunia mimpi indah mereka, Baekhyun menarik diri untuk keluar; mencari kesegaran yang bisa menenangkannya.

Ia mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya, duduk di salah satu kursi taman depan apartemen, dan menerawang kembali tentang hidupnya. Dia tidak sedang menimbang bagaimana apartemen sederhana itu adalah ujung dari pelabuhannya. Sekalipun tidak ada fasilitas mewah yang akan ia dapat, setidaknya ia memiliki satu waktu yang sedikit berkualitas untuk lari dari kejaran masalah ini.

Baekhyun ingin duduk lebih lama di sini, meraup udara segar malam sedikit lebih lama. Tapi ketika sesosok lelaki yang amat ia kenal mendekat dan berdiri di hadapannya, ia rasa ia harus segera pergi dari sini.

"Tolong, dengarkan aku sebentar."

Pergelangan tangannya ditahan—dingin, lembut, tapi memiliki tegangan listrik yang buruk.

"Sena menjebak kita."

"Kau yang memulainya."

"Aku sudah menjelaskan padamu beratus kali, Baek. Aku salah, aku bodoh, dan aku egois."

Baekhyun mencoba menekan perasaan aneh yang mencokol dalam hatinya.

"Dan aku yang paling menderita." Kata Baekhyun dengan suara pelan.

"Tidakkah aku memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan maafmu?"

"Tidakkan kau sadar jika maaf tidak akan merubah apapun? Aku tau kau sangat cerdas—permainanmu sangat apik, Chanyeol. Tapi tidakkah kau memiliki hati untuk memikirkanku?"

Baekhyun melihat ada setitik air mata yang keluar dari pelupuk mata lelaki itu.

"Jangan pergi, Baek." Dia memohon, "Kau bisa menghukumku dengan cara apapun, tapi jangan pergi. Jangan pergi, Baek.."

Baekhyun melepas cengkeraman tangan Chanyeol. "Kita memang harus berpisah. Aku tidak bisa menjamin apa-apa setelah ini. Anak-anak akan bersamaku dan kau bisa menemui mereka kapan saja."

Dari malam Baekhyun meninggalkan Chanyeol di taman, ia merasa semakin jatuh—terpuruk. Sekian tahun bersama Chanyeol, ia baru mengerti bahwa perpisahan sungguh menyakitkan. Bahkan ia merasa ada yang sedang menggores lebar-lebar hatinya.

Malam-malam selanjutnya tak lebih baik. Setiap kali Baekhyun keluar apartemen, ia akan mendapati Chanyeol berdiri di sana—memelas dengan seluruh harga diri kelelakiannya yang sudah terinjak oleh kaki anjing. Ia terus merintihkan permohonan maaf, atau jika ia tak memiliki kata, ia akan menangis. Seharusnya Chanyeol tidak melakukannya, karena yang terlihat adalah Baekhyun seperti wanita yang tak berhati.

Yah, Baekhyun sudah tak memiliki hati. Dia tak membutuhkan hati untuk membuat keadaan menjadi sedikit lebih baik. Meski Chanyeol akan terus berdiri di sana, di bawah terik, di bawah hujan, duduk memeluk lutut dekat pintu mobilnya, Baekhyun menutup mata untuk tak memperdulikan.

.

.

Ini bukan kisah dongeng seorang pangeran dan permaisuri. Tidak akan pernah ada kata fiktif jika pada kenyataannya sakit hati itu melebihi apapun sebagai akhir cerita.

Tangan kurusnya memeluk dua anak laki-laki yang kini terlelap. Membawa mereka dalam sebuah pelukan hangat penuh proteksi dengan level tertinggi.

Sesak yang mencubit seluruh ulu hati Baekhyun adalah efek yang akan ia terima untuk kehidupan selanjutnya. Tidak ada Park Chanyeol, tidak ada rumah tangga yang membahagiakan, dan tidak ada lagi cinta. Kekakuan hatinya mengoyak pertahan terakhirnya sebagai seorang wanita; rasa kasih.

Terlalu banyak yang ia terima belakangan ini. Hidup tidak semudah menulis abjad A sampai Z. Orang bilang itu hanya kerikil rumah tangga, tapi bagi Baekhyun ini melebihi kerikil. Analogikan saja sebagai gempa dahsyat yang tidak akan membawa semuanya kembali. Terutama kepercayaan.

Air matanya menolak untuk berhenti menangis. Hidup sekejam itu pada diri Baekhyun yang hanya memiliki dua anak lelaki dalam pelukan dan segumpal darah dalam rahimnya. Kenyataan mempermainkan perasaannya, menjatuhkan semua impian indahnya, lalu membuangnya seperti sampah tak berguna. Tangisan tak berarti itu hanya satu dari sekian rasa kecewanya. Pada akhirnya ia akan menyerah, membiarkan nasib menentukan arah hidupnya setelah ini.

Limitnya untuk bertahan dengan kisah menyakitkan ini membawa Baekhyun pada keputusan final. Persetan dengan cemooh orang-orang tentang nasib rumah tangganya; karena sesungguhnya mereka tidak pernah tau betapa lelahnya Baekhyun menghadapi ini semua. Cukup tulikan telinga dan butakan mata.

Jika bukan karena malaikat-malaiakt kecilnya, mengiris nadiakan menjadi pilihan terakhir Baekhyun. Ia ingin bersama Ayah-Ibunya di surga, memeluk mereka dan membagi rasa sesak dalam dirinya. Tapi ketahuilah, rasa cintanya pada Jesper dan Jackson mengalahkan semua egonya untuk mengakhiri hidup. Dua malaikat itu masih membutuhkannya sebagai pegangan hidup. Entah efek apa yang akan di terima, Baekhyun akan menjadi benteng pertahanan terakhir untuk Jesper dan Jackson.

Hatinya sudah sedingin es di kutub utara dan kekecewaannya sudah meluap seperti api neraka. Bahkan jika pria itu terus menangis dan memohon ampun di depan pintu kamar, Baekhyun tidak akan membuka pintu ampunnya.

"Baek...maafkan aku, Baek..." begitu menyakitkan lirihan itu. Andai pria itu tau seberapa dalam kesakitan yang tengah mengoyak batin Baekhyun, lirihan memelas itu hanya pangkal penderitaan yang tidak berarti apa-apa.

.

Setiap harinya Baekhyun menemukan Chanyeol tertidur bersandar di depan pintu apartemennya. Lelaki itu begitu lusuh, pakaiannya sudah ia kenakan selama seminggu. Belum lagi Baekhyun melihat bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dagunya. Biasanya Baekhyun dengan senang hati akan mencukurnya, namun situasi kali ini tidak terlalu tepat untuk menarik Chanyeol ke kamar mandi dan membantu lelaki itu membersihkan diri.

Masa renggang ini mungkin akan terjadi cukup lama. Meski Baekhyun telah mendengar alasan Chanyeol tentang keberadaannya bersama pelacur itu, namun ia masih menyimpan kekecewaan berlebih tentang cara yang digunakan. Sekali lagi, seharusnya Chanyeol cukup mengerti tentang posisinya dan dia bisa saja menghindari Sena.

Melihat bagaimana usaha Chanyeol untuk mendapat satu ucapan maaf, Baekhyun memiliki setitik hati kecil untuk merasa terenyuh dengan yang dilakukan lelaki itu. Setiap hari berdiri di depan gerbang apartemen—entah sudah berapa banyak pekerjaan yang ia tinggalkan di kantor dan membuat Sehun atau Jongin kelabakan untuk menghandle itu. Ia seakan buta tentang tanggungjawabnya demi satu keluluhan hati dari Baekhyun.

Lalu ketika Baekhyun akan mengantar anak-anak ke sekolah, lelaki yang bersandar di depan pintu itu serupa tubuh tak bertulang.

"Astaga, Chanyeol!" Baekhyun memekik. Dia melepas gandengan tangannya pada Jesper dan Jackson untuk memberi pertolongan pada lelaki yang limbung di depan pintu apartemennya.

Sekuat tenaga Baekhyun mencoba untuk membantu Chanyeol berdiri dan merebahkannya di sofa.

Wajahnya pucat, rambutnya semakin ikal, dan genggaman tangannya sangat dingin. Seberapa jauh dia mengabaikan dirinya sendiri?

Baekhyun harus meminta tolong Kyungsoo untuk memberi tumpangan pada Jesper dan Jackson ke sekolah—dia harus mengurus tubuh Chanyeol yang sedang demam.

Seperti biasa, Baekhyun akan mengambil peran sebagai istri bertanggungjawab. Dia dengan segala sisa hati malaikat dalam dirinya masih memiliki kebaikan untuk sebuah pengabdian kepada suami. Yeah, meski tidak bisa dihindari ada sesuatu dalam dirinya yang menjerit untuk berhenti melakukannya. Tapi Baekhyun tidak setega itu menelantarkan seseorang yang butuh bantuannya.

Baekhyun mengambil segala macam alat kompres, kotak obat, hingga membuat suatu kudapan yang memang khusus untuk orang sakit.

Lelakinya yang malang. Kenapa harus berkorban sejauh ini jika jelas-jelas Baekhyun menyatakan tidak ada perdamaian?

.

Seperti ada sebuah gajah dengan bobot lebih dari 10 ton, Chanyeol merasa pelipisnya sedang dalam keadaan yang tidak lebih baik untuk merasa normal. Matanya juga terasa enggan untuk terbuka, seperti ia sudah tidak tidur selama berjuta tahun. Ia mengerang sedikit merasakan tubuhnya remuk di segala sudut. Lalu ketika Chanyeol selesai berperang dengan itu semua, ia mendapati sesuatu yang membuatnya berdesir.

Baekhyun.

Segera ia mencoba tubuhnya untuk segera bangkit, mendudukkan diri, dan kembali dengan satu-satunya tujuan dalam hidupnya.

"Tidurlah. Suhu tubuhmu masih tinggi." Chanyeol kini baru merasakan ada sesuatu yang basah tertempel di keningnya.

"Aku harus kembali memelas padamu, Baek. Aku tidak peduli dengan apapun." Suaranya parau, dia mencoba mengeluarkan sesuatu saat kerongkongannya terasa tidak mengenakkan.

Wanita itu bergeming. Tidak ada persetujuan ataupun penolakan.

"Bahkan aku bersedia melakukan apapun jika kau membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar memelas." Chanyeol memaksa bangkit. Ia membuang handuk kecil yang ada di keningnya dan menggunakan sisa tenaganya untuk bersimpu di kaki istrinya yang duduk di ujung sofa yang lain. "Ku mohon, maafkan aku. Jangan siksa aku seperti ini, Baek." Dia kembali meminta dan membuang jauh harga dirinya.

Baekhyun sendiri tidak seburuk itu untuk menjadi wanita tak berhati. Ia juga merasa iba—lelakinya sudah tak lagi memiliki tujuan hidup kecuali memelas untuk sebuah kata maaf. Lebih dari itu Chanyeol menginginkan semua kembali seperti semula.

Tapi ini terlalu sulit.

Lelaki itu memelas hingga Baekhyun merasa punggung tangannya yang diraup oleh Chanyeol terasa basah. Sudah berapa air mata yang kau buang seperti ini?

"Pulang ya, Baek? Kita bicarakan ini baik-baik. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu memaafkanku."

Jangan seperti itu.

"Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku..aku...aku hampir mati karena semua ini."

Bagaimana dengan diriku? Aku seperti telah mati untuk semuanya.

"Maafkan aku, Baek...ku mohon..."

Bagian mana yang harus ku maafkan? Sisa maafku tak akan cukup menutup kesalahan yang lebih luas dari jagad raya itu.

"Jangan pergi. Jangan meninggalkanku. Aku akan menebus semua dengan seluruh yang ku miliki."

Tidak..tidak...jangan menangis seperti itu.

.

Baekhyun dikalahkan oleh setitik pada rasa ibanya. Harusnya dia bisa berlagak tegar—kembali menyalak untuk menyalahkan laki-laki itu atau buruknya ia mengusir. Tapi bagaimana bisa ia berlaku sekejam itu jika sekarang yang menangis tersedu dengan simpuhan lutut bergetar di hadapannya adalah lelaki yang pernah ada di hatinya.

Pernah? Tidak, Baekhyun bahkan masih menyimpan lelaki itu dalam hatinya meski sempat berkurang.

Biar saja dia mengikuti nalurinya. Jika terus menuruti ego dan kekerasan hati, seribu persen Baekhyun hanya akan mendapat kebencian yang membuncah. Dia bukan wanita seperti itu untuk situasi ini. Bayang bilik merah laknat itu masih terngiang, meski aksi cumbu itu masih terekam jelas di otaknya, ia berusaha untuk menekan pelan semuanya. Bukan demi siapa-siapa, hanya demi segumpal darah dalam rahimnya yang selalu berkontraksi jika ibunya terlilit pikiran.

Dia mulai membuka hati—tidak lebih besar dari lubang tikus. Tapi ini jauh lebih baik daripada terus-terusan berada di kubangan kebencian.

Baekhyun menerima alasan itu, hanya saja ia tidak pernah bisa mentolerir cara suaminya untuk menghukum Sena. Meski tidak secara gamblang mengungkapkan itu semua, ia masih mau membukakan pintu jika Chanyeol datang dengan dalih merindukan anak-anak. Bagaimanapun juga Chanyeol adalah ayah biologis dari Jesper dan Jackson. Menghalangi pertemuan mereka bukanlah hal yang baik karena anak-anaknya masih membutuhkan Chanyeol.

Baekhyun mulai bisa membuatkan secangkir kopi—kesukaan lelaki itu—saat bertandang ke rumah. Meski tidak ada obrolan yang berarti, keadaan ini sedikit lebih baik.

Lalu ketika Chanyeol merasa dia benar-benar sudah ada di situasi yang cukup stabil, dia mendekat dengan segenggam harapan di tangannya.

"Pulang ya, Baek?"

Dan wanita itu akan menatapnya sendu, menggelengkan kepala, lalu kembali masuk pada kerenggangan yang mencekam.

Mungkin Baekhyun masih butuh waktu untuk berpikir. Ia dan segala kekalutan hatinya butuh tempat dan suasana lebih mendukung untuk memperbaiki segalanya. Hanya saja tidak tau sampai kapan hal itu akan berakhir. Chanyeol hanya perlu bersabar, karena jika ia memaksa maka keadaan akan semakin memburuk.

Benar, Baekhyun hanya butuh waktu. Karena ketika Baekhyun melihat bagaimana usaha Chanyeol untuk memperbaiki ini semua, ia terketuk untuk melumerkan sisa kebekuan hatinya. Seseorang yang bersalah lalu menyesal hingga melukai seluruh jiwa dan raganya, bukankah pantas diberi kebaikan hati? Terlebih ia melihat ketulusan di sana, di mata Chanyeol.

Baekhyun harusnya menjadi sedikit pemaaf dan melupakan egonya. Ia tidak bisa hidup dengan ambang keterpurukan seperti ini.

Lalu ketika ia merasa ini waktu yang tepat, dia datang dengan satu kotak makan siang yang ia buat sendiri. Dengan menggandeng Jesper dan Jackson di sisi kanan-kiri, ia melangkah memasuki ruang kerja Chanyeol.

Harusnya ia disambut dengan sebuah senyum hangat, pelukan menenangkan, dan—tidak ada si brengsek Lee Sena di sana.

Chanyeol segera mencegah Baekhyun yang sudah berbalik untuk pergi. Ia mencoba menjelaskan bahwa kedatangan Sena bukan atas kehendaknya. Wanita ular itu datang dan mencoba menarik Chanyeol masuk dalam permainan itu lagi. Tapi Baekhyun terlanjur percaya dengan apa yang ia yakini. Seharusnya Chanyeol bisa mengusir wanita itu dan tidak membuat kesalahpahaman itu berakhir semakin buruk. Tapi Baekhyun kembali berpikir, bahwa laki-laki memang terlahir seperti itu—mengumbar berbagai penjelasan dan alasan dan mengatakan 'ini bukan seperti yang kau pikirkan'. Tau apa dia tentang yang di pikirkan wanita?

Pintu yang sudah setengah terbuka itu kembali tertutup. Bahkan semakin rapat seperti tidak ada celah cahaya yang bisa masuk. Berbekal kesakitan yang semakin mencokol ulu hatinya, Baekhyun segera menghubungi Luhan untuk mempercepat proses perceraiannya.

.

.

Sudah berapa lama Baekhyun tidak datang kemari? Sebuah rumah impian yang selalu ia banggakan untuk kebahagiaannya hingga usia senja kelak. Dulu ia begitu menjaga dan merawat segala aset yang menjamin kebahagiaannya, termasuk sebuah taman kecil di depan rumah itu yang seakan mengatakan tak ingin hidup.

Keadaannya suram, seperti rumah tak berpenghuni yang bahkan hewan buas-pun enggan untuk singgah. Tanaman layu, rumput liat mulai meninggi, dan debu-debu yang menebal di akses jalan menuju sebuah pintu utama.

Baekhyun menarik nafas dalam, mengingat kembali tujuannya kemari bukan untuk memperbaiki apa yang telah rusak, bukan untuk memberi perdamaian pada lelaki itu, dan bukan untuk menjadi peri pemaaf. Keputusannya sudah bulat dan paten, tidak ada yang bisa mencegah apalagi membatalkannya. Termasuk lelaki itu.

Saat sentuhan pertama pada gagang pintu emas itu, Baekhyun merasa sedikit bergetar. Ingatannya tentang sebuah kebahagiaan yang kemudian terkontaminasi dengan begitu apik oleh kekecewaannya menjadikan dirinya wanita yang mudah rapuh dalam hitungan detik. Ia tak pernah mengira bahwa menuju bahagia akan menjadi semenderita ini.

Langkah kaki pertamanya membawa pada suasana suram yang kentara di ruangan utama. Perabotan yang dulu ia tata sendiri masih berdiri tegak di tempat-tempatnya. Lukisan-lukisan dan beberapa foto sepasang suami istri dengan dua anak laki-laki masih nampak tergantung di dinding—wanita itu sedikit ngilu melihat senyum yang tergambar di sana.

Keadaan semakin parah saat Baekhyun tiba di ruang tengah yang terhubung dengan dapur. Gelap, berdebu, dan banyak botol beraroma menyengat tergeletak di meja. Alkohol. Apa ini yang bisa dilakukan Chanyeol?

"Istriku pulang."

Baekhyun menoleh kebelakang, mendapati seorang lelaki berpakaian lusuh berdiri di ujung tangga dengan sebuah botol keparat di tangan kanannya. Sesekali lelaki itu meminum apa yang ada di dalam botol itu lalu mendesah puas.

Baekhyun cukup tercengang mendapati keadaan Chanyeol yang lebih buruk dari lelaki bar-bar. Tubuh tak terawat, pakaian lusuh, bulu-bulu halus mulai tumbuh di sekitar dagunya, juga langkah kakinya yang mulai sempoyongan saat menghampiri Baekhyun—efek dari minuman keparat itu.

"Kenapa lama sekali?" dagunya di tarik dan Baekhyun dengan sangat jelas bisa mencium aroma alkohol di sana.

"C-chanyeol..lepaskan.."

Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun hingga membentur kulkas. Mata yang biasa Baekhyun dapati selalu hangat saat melihat kini berubah menjadi mata sayu yang bercampur kilat setan. Ulah siapa lagi jika bukan ulah alkohol yang telah meracuninya. Semua menjadi begitu hitam ketika minuman itu mengacau akal sehat.

"Apa aku harus mati untuk menebus semua ini?"

"C-chanyeol.."

"Brengsek!"

Botol itu dilempar Chanyeol kesembarang tempat karena kedua tangannya yang telah kosong itu meraup rahang Baekhyun dan menciumnya dengan kasar. Ia membenci penolakan, karena saat Baekhyun akan mendorong tubuhnya, Chanyeol justru semakin menekan tubuh Baekhyun semakin terhimpit.

Tidak hanya puas dengan lumatan kasar pada bibir Baekhyun, Chanyeol mulai menyesap rahang hingga leher Baekhyun meski wanita itu menolak. Percintaan atas pengaruh alkohol ini benar-benar menyakiti Baekhyun. Ia seperti seorang manekin bodoh yang hanya bisa diam karena akses berontaknya benar-benar buntu.

Chanyeol cukup bertenaga untuk mendorong tubuh Baekhyun dan menidurkannya di meja makan. Lelaki itu semakin kasar mencumbu dan mengabaikan pukulan bahkan tangisan Baekhyun yang mulai pecah. Ia terus menggagahi Baekhyun, menjadi seperti iblis tak tau malu karena dengan sekali sentak ia sudah merobek pakaian Baekhyun. Tangannya secara kasar memeras payudara Baekhyun seperti sari pati kelapa, melumat ujung putingnya seperti di buru waktu, lalu menariknya hingga wanita itu memekik atas rasa perih yang di rasakan di payudaranya.

"C-chanyeol...hentikan..."

Alkohol adalah musuh paling berbahaya. Akal sehat akan terbuang ke lubang kematian dan berganti otak kecil buatan setan yang hanya tau tentang keegoisan. Chanyeol menarik pertahan terakhir Baekhyun—kain segitiga itu ia hentak lalu di hempas ke belakang secara kasar. Lidahnya menyesak di sana, menyesap segala sudut kewanitaan Baekhyun yang seperti candu. Ini bukan candu yang membahagiakan, tapi hanya candu berlapis jubah kebodohan karena akal sehat sedang tidak berfungsi dengan baik.

Chanyeol berdiri di atas lututnya, membuka ikat pinggang dan menurunkan celananya sekali sentak.

"Jangan setubuhi aku seperti ini, Chanyeol. Ada anak-mu..di...dalam..AKH!"

Bagaimana bisa Chanyeol memasuki Baekhyun saat wanita itu sedang tidak siap? Seluruh persendian Baekhyun luluh lantak dan tulang-tulangnya seperti terlepas satu persatu hingga menyisakan rasa sakit dan ngilu. Chanyeol melesakkan tubuhnya, menghentak dengan kecepatan tinggi, mendorong semua kelelakiannya kedalam bilik istrinya yang sudah meraung kesakitan.

Wanita itu pasrah. Tubuhnya di koyak begitu menyakitkan oleh suaminya sendiri. Ia hanya bisa menangis, karena sekali lagi hidup memberinya sebuah hukuman kejam. Disaat ia masih mencari dimana letak kesalahan yang ia perbuat di masa lalu, kini ia kembali mendapat hukuman yang lebih menyakitkan. Tuhan, seberapa besar kesalahan yang telah kuperbuat untuk hukuman ini?

Cairan kepuasan itu meluber keluar dari kewanitaan Baekhyun. Ia kira penderitaannya akan sampai di sini, namun ia harus menutup semua perkiraan itu kedalam peti jenazah.

Tubuhnya yang telanjang itu ditarik hingga ia kembali menapak di lantai. Lalu sekali hentak Chanyeol membalik tubuh Baekhyun hingga bagian atas tubuh wanita itu menelungkap di atas meja. Perlakuan itu berujung pada pinggang Baekhyun yang di tarik dan Chanyeol yang tiba-tiba memasukinya dari belakang.

Lelaki itu kembali brutal, menusukkan miliknya dengan kecepatan tinggi dan sebelah tangannya meremas payudara Baekhyun secara kasar. Logikanya sudah tidak memiliki celah untuk digunakan meski wanita yang sekarang ia cumbu seperti seorang anjing itu sudah tak memiliki sisa airmata untuk melampiaskan.

Baekhyun menerawang disela kebejatan yang sedang terjadi pada tubuhnya. Jika setelah ini Tuhan mengakhiri penderitaannya dengan mati, Baekhyun hanya berharap dunia tak akan menangisi kepergiannya. Ia hanya sekuntum mawar yang diujung akhir hayat—tidak pantas meminta kehidupan yang lebih baik. Biarkan saja ia punah, mati, berlebur bersama abu penderitaan. Karena harapannya untuk hidup sudah tertutup oleh rasa sakit yang menjalar seperti api neraka.

.

Malam sudah mendendangkan gelapnya. Tidak ada benda langit serupa bintang yang berniat menyinari apalagi bulan yang sepertinya bersembunyi. Semua begitu hampa seakan kehidupan enggan melanjutkan kisahnya. Hanya saja lelaki itu, Park Chanyeol, merasa baru saja berlari berkilo-kilo meter hingga membuat tubuhnya terasa lelah. Lebih buruknya ia merasa denyut tidak konstan dari pelipisnya juga rasa tercekat dari kerongkongannya.

Perlahan tapi pasti Chanyeol mencoba membuka matanya yang pejam. Kesadarannya perlahan pulih ketika setitik cahaya mengenai indera penglihatnya dari kejauhan. Ia sedikit menggigil, merasa ada yang sedang mencubit-cubit tubuhnya hingga ia menggigil. Dan semua terjawab saat Chanyeol mendapati seluruh kesadarannya. Tubuhnya telanjang, ia tertidur di dekat kaki kursi dan—sebuah gaun tak berbentuk yang berserakan di dekat kakinya.

Gaun itu...

Refleks tubuhnya membuat ia berdiri, memakai celananya dan mendapati sesosok tubuh menggelung lemah di atas meja. Tubuhnya telanjang, tampak bekas kemerahan di sekitar pundak juga leher. Yang lebih memilukan lagi, tubuhnya berlendir dan beraroma busuk khas percintaan yang dipaksakan.

Chanyeol meraih tubuh lemah itu, membawanya dalam sebuah pelukan dan mengungkapkan penyesalan dirinya.

"Maafkan aku, Baek...maaf atas semua yang kulakukan...bangun, Baek."

Wanita itu masih memiliki sisa kesadaran dalam dirinya meski ia enggan membuka mata. Entah sudah berapa jam ia dalam keadaan seperti ini—telanjang dengan airmata yang serupa jarum. Menyakitkan.

Ia tidak berniat membuka mata dan menunjukkan kesadarannya. Ia terlalu lemah untuk menghakimi, memaki, bahkan untuk bernafaspun ia mengusahakannya sekuat tenaga. Tidak ada lagi sisa kehidupan yang bisa ia raup. Ia ingin Tuhan segera mencabut nyawanya tapi itu akan terdengar sangat egois—ada dua anak laki-laki yang selalu bergantung pada pelukannya juga sebuah kehidupan suci dalam rahimnya. Lalu apa yang harus Baekhyun pilih?

.

.

.

END?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Belum END kok...kan belum pada ketemu Jessie :D

.

.