M
.
.
.
Bercat putih, beraroma eter yang kuat, serta kesibukan malang melintang disebuah ruang UGD rumah sakit ternama dikota. Chanyeol menjadi satu sosok yang cukup terpaku menunggu suatu penjelasan untuk keadaan istrinya yang sedang diperiksa. Dia begitu kontras diantara kesibukan para perawat dan orang-orang berjas putih dengan kalungan stetoskop.
Sejujurnya dia menginginkan suatu kata 'baik-baik saja' daripada kata 'ini buruk'. Namun ia terlalu dibuai oleh kenyataan bahwa keadaan fisik Baekhyun tak lebih baik dari yang ia inginkan.
Semua salahnya. Chanyeol mengutuk semua hal yang telah ia lakukan. Dia telah menyakiti Baekhyun diseluruh sudut sel darah dan hati wanita itu. Harusnya dia bisa sedikit lebih manusiawi untuk mengerti akibat buruk dari alkohol. Karena ketika minuman itu mengkontaminasi semua akal sehatnya, dia telah berubah menjadi sesosok lelaki tak beradab. Memalukan!
"Maaf membuat Anda menunggu lama." Seorang dokter wanita berambut sebahu itu mengeinterupsi lamunan Chanyeol.
"Bagaimana istriku?" Tentu hal pertama yang akan dicercahkan Chanyeol adalah pertanyaan itu. Mewakili semua perasaan genting bercampur khawatir yang bertunas dalam dirinya, Chanyeol sedikit bergetar untuk ekspresi serius dari dokter itu.
"Istri Anda dalam keadaan sangat lemah. Nyonya Baekhyun masih belum sadar tapi dalam waktu beberapa jam lagi saya bisa menjamin keadaan Nyonya Baekhyun akan pulih. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"..."
"Katakan apa yang terjadi."
"Kandungannya juga sangat lemah."
"Kandungan?" Oh, apalagi ini? Chanyeol tidak begitu mengerti bagaimana cara mencerna semua ini agar terlihat begitu jelas. Dan kandungan? Ada apa dengan kandungan Baekhyun?
"Saya tidak tau apa yang sudah terjadi dengan Nyonya Baekhyun sebelum ini. Tapi saya rasa, Anda cukup mengerti untuk tidak berhubungan terlalu keras saat istri Anda tengah hamil."
Baekhyun...hamil?
"Usia kandungannya memang masih sangat muda; sekitar satu bulan. Di usia kandungan itu sangat rawan seorang ibu hamil kehilangan tenaga lebih banyak dari biasanya. Anda harus lebih memperhatikan asupan makanan dan keadaan psikis istri Anda. Karena semua itu juga akan berimbas pada bayi dalam kandungan Nyonya Baekhyun."
Baekhyun hamil. Hal itu terus terngiang setelah ia keluar dari ruangan dokter yang memeriksa Baekhyun. Otaknya sedang berkolaborasi dengan rasionalitas dirinya untuk mengartikan ini bukan suatu drama. Ini nyata, dan apa yang ia sadari saat ini tak lebih dari pil pahit atas tindakan buruknya.
Lelaki itu masih belum bisa memahami bagaimana kenyataan bekerja. Tuhan menggerakkan semuanya secara spontan dan membuatnya menjadi manusia terakhir yang mengetahui kehamilan Baekhyun. Dia marah, tapi kemarahan itu tenggelam di antara keramaian hatinya yang masih merasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Baekhyun.
Chanyeol melihat tubuh Baekhyun masih sangat lemah terbaring di atas ranjang dengan selang infus yang menusuk pergelangan tangan kirinya. Wanita itu, sudah berapa banyak penderitaan yang dia tumpu? Seberapa berat luka hati yang ia pikul seorang diri?
PLAK!
Chanyeol harus mundur beberapa langkah saat sebuah rasa panas mengenai pipinya. Dia mendongak, sosok ayahnya sudah berdiri menyalang dengan segala macam raut emosi di wajah rentanya.
"Ayah tidak pernah mendidikmu menjadi lelaki pengecut seperti ini!"
PLAK!
"Darimana kau belajar semua ini? HAH?!" Tuan Park begitu geram dengan perilaku putranya yang sudah tidak bisa dimaafkan.
Beberapa jam lalu Tuan dan Nyonya Park baru saja tiba untuk mengunHani kediaman Chanyeol. Mereka sudah sangat rindu dengan Jesper dan Jackson hingga menyempatkan waktu berkunHan di akhir pekan. Mereka begitu bahagia membayangkan teriakan bahagia Jesper-Jackson saat mengetahui Kakek dan Nenek berkunHan. Namun yang mereka dapati hanya keadaan yang tak lebih baik dari badai. Seseorang yang mengaku bernama Jongin baru saja keluar dari pelataran rumah Chanyeol dengan sangat tergesa. Tuan dan Nyonya Park merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini. Ditambah keadaan rumah yang begitu kotor dan tak terawat, hal buruk sudah terjadi dengan rumah tangga putranya.
Seperti sebuah petir, Tuan dan Nyonya Park tidak bisa mengontrol rasa terkejut bercampur kecewa atas apa yang diceritakan Jongin. Lebih buruknya lagi, putranya menjadi satu-satunya orang terbodoh di dunia atas segala kekacauan ini.
"Ayah dan Ibu malu dengan apa yang sudah kau lakukan!"
Nyonya Park menahan suaminya agar tidak menampar kembali Chanyeol yang sudah tersungkur di lantai.
"Hentikan. Ini rumah sakit." Kata Nyonya Park di antara isaknya.
"Tidakkah kau mengerti posisimu saat ini, Chanyeol? Kau seorang suami, seorang ayah! Tidak pantas berperilaku seperti itu!" Tuan Park mencoba mengatur nafasnya. Lelaki renta itu terlampau kecewa atas apa yang sudah dilakukan putranya. Untuk segala apa yang terjadi, Tuan dan Nyonya Park mengabaikan status Chanyeol sebagai anak kandung jika apa yang sudah dilakukannya melebihi ambang batas.
.
Tidak adakah yang bisa memberi solusi untuk penyesalan Chanyeol? Karena lelaki itu hampir gila memikirkan Hankir balik rumah tangganya yang seakan tidak memberinya kesempatan untuk menunjukkan sebuah perubahan. Ya, dia gila untuk semua kebodohannya yang bermula dari Sena hingga ketidakwarasannya menyetubuhi Baekhyun dengan kasar.
Harusnya dia menjauhi alkohol hingga akal sehatnya bisa di gunakan ketika Baekhyun datang. Namun sayangnya ia memilih suatu ego lain untuk menuruti hasratnya hingga mengorbankan airmata istrinya. Kau bodoh sekali Chanyeol.
Apa yang bisa ia lakukan untuk sosok lemah yang terbaring di atas ranjang rumah sakit sekarang ini? Dia merasa buruk untuk semua perbuatannya yang bisa saja melukai Baekhyun dan janin dalam kandungan wanita itu.
"Baekhyun.." panggil Chanyeol saat Baekhyun mulai sadar. "Makan, ya?"
Memang sudah sepantasnya jika yang Chanyeol dapat adalah punggung wanita itu yang terlihat begitu lemah. Dia tidak boleh protes karena ini hanya sebagian kecil hukuman untuknya.
Diamnya Baekhyun mungkin akan mengalami perpanjangan waktu. Selama seminggu Baekhyun dirawat di rumah sakit, Baekhyun tidak pernah memberikan izin Chanyeol menjenguknya. Ya, itu hukuman lain atas apa saja hal buruk yang sudah dilakukan Chanyeol. Semakin buruk ketika suatu hari Chanyeol mendapati tangis ibunya di ruang inap Baekhyun.
Chanyeol baru saja kembali dari mengurus administrasi untuk kepulangan Baekhyun. Saat ia membuka pintu ruang inap Baekhyun, ia melihat ibunya sudah terduduk lemas dengan sebuah kertas lusuh di tangannyan.
Ayah dan Ibu, ini akan terlihat sangat egois. Aku tau tindakan ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Tapi, aku harap Ayah dan Ibu bisa mengerti bagaimana diriku. Aku sangat menyayangi Ayah dan Ibu seperti orangtuaku sendiri. –Baekhyun
Entah bulan atau matahari yang tiba-tiba jatuh menimpa Chanyeol, lelaki itu hampir kehilangan kesadaran saat menyadari tulisan tangan Baekhyun pada kertas itu. Dia segera berlari menuju lobby rumah sakit—berharap masih ada sisa jejak Baekhyun. Namun ia memiliki sebuah kenyataan kosong karena dia tidak mendapati wanitanya di sana.
Baekhyun pergi.
.
Berhari-hari Chanyeol menghabiskan waktunya untuk mencari dimana Baekhyun yang tiba-tiba pergi bersama Jesper dan Jackson. Dia bertekad akan mencari Baekhyun kemanapun. Kerumah teman-temannya hingga kesemua orang yang pernah mengenal Baekhyun meski dalam waktu yang singkat. Istrinya itu tak memiliki banyak tempat untuk dituju kecuali tempat yang memiliki banyak kenangan untuknya—panti asuhan. Tapi sayangnya saat Chanyeol datang ke panti asuhan itu, ia bertemu sebuah papan lusuh dengan tulisan 'PINDAH' bercat hitam menyeramkan. Harapan terakhirnya telah terbuang sia-sia.
Chanyeol menghabiskan banyak waktu untuk berkeliling kesetiap sudut kota dan berharap ada Baekhyun. Sepanjang hari ia akan menjadi pria tanpa arah karena satu tujuan. Apapun yang terjadi, Chanyeol mengesampingkan semua keputusasaannya dan mengharap suatu keajaiban untuk mempertemukannya kembali dengan Baekhyun
Dia menyerahkan semua pekerjaan kantor pada Jongin juga Sehun di beberapa kesempatan. Chanyeol akan mengambil libur beberapa hari untuk kembali mengelilingi setiap kota. Atau saat ia terdesak oleh sebuah meeting penting yang tidak bisa diwakilkan, dia akan tetap mencari Baekhyun di sela-sela waktu malamnya.
Kepergian Baekhyun yang tak berjejak ini membuat Chanyeol dilanda frustasi. Setiap hari yang ia pikirkan hanya keberadaan Baekhyun, kabar anak-anaknya, juga kondisi janin mungil yang sedang Baekhyun kandung. Chanyeol memiliki sebuah kepercayaan jika ia berusaha hingga akhir, tidak akan pernah ada kesia-siaan untuk semua usaha yang dia lakukan. Karena ketika tiga bulan kemudian Chanyeol bertandang kesebuah desa kecil di perbatasan paling selatan Gyeonggi, Chanyeol mendapati seorang anak laki-laki mengenakan kaos Chrong sedang berdiri di depan penjual sosis sapi.
"Jackson!"
.
Jesper berada di pelukan tangan kiri sedang Jackson di tangan kanan. Dua anak laki-laki itu menggelayut manja pada lelaki dewasa yang mereka panggil Daddy. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tidak melihat dan merasakan pelukan hangat Daddy. Rasa rindu mereka melebihi batas langit ketujuh pada Daddy yang selalu memanjakan mereka.
Tak jauh berbeda dengan Chanyeol. Lelaki itu tak pernah bisa melepas pelukan serta kecupan sayang pada dua buah hatinya. Begitu lamanya mereka terpisah hingga rasa rindu yang Chanyeol rasakan seakan tidak akan pernah selesai untuk satu hari.
"Minumlah dulu." Seorang wanita paruh baya yang Jackson panggil Nenek Han meletakkan secangkir teh hangat di meja. "Kau datang dari Seoul?"
Chanyeol mengangguk.
"Minumlah selagi hangat."
"Terima kasih." Chanyeol meletakkan Jesper dan Jackson di sebelahnya selagi Chanyeol menikmati teh yang diberi Bibi Han.
Kemudian suasana menjadi hening sejenak. Sebenarnya Chanyeol bukan orang yang introvert, dia orang yang ramah dan selalu memiliki bahan pembicaraan untuk mencairkan suasana. Hanya saja dia sekarang merasa kosong—semacam perasaan segan karena dia bukanlah orang baik dan tidak seharusnya berada di sini. Chanyeol berani bertaruh jika Bibi Han pasti sudah mengetahui semua itu.
"Baekhyun sedang keluar. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang."
Chanyeol tersenyum kecil—lega mendengar jika wanitanya tidak pergi jauh. Kemudian dia menciumi lagi dua buah hatinya yang sibuk bermain hot-wheels yang Chanyeol belikan sewaktu menuju ke panti.
"Bibi tidak tau apa Bibi pantas mengatakan ini kepadamu." Bibi Han menghembuskan nafas panjangnya. "Hanya saja, ini akan semakin rumit jika kalian tidak memiliki titik temu."
Chanyeol cukup mengerti untuk apa yang dikatakan Bibi Han. "Aku sedang berusaha memperbaiki ini semua, Bi. Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah ku lakukan."
"Bibi bisa melihat semua perjuanganmu. Kau lelaki baik, Bibi tau kau sama sekali tidak pernah berniat menyakiti istrimu."
"Yeah, tapi aku sudah membuatnya terluka."
"Semua bisa diperbaiki. Kalian hanya perlu memahami kembali situasinya. Jangan pernah menyerah untuk suatu hal yang baik. Bibi percaya, kalian bisa melewati ini."
"Boys..."
Suara yang selalu Chanyeol rindukan.
Sesosok wanita dengan perut membuncit dan dua kantong plastik di sisi kanan-kirinya, menyadari ada tamu yang sedetik saja bisa ia cerna siapa itu. Tapi untuk sepersekian detika ia mematung untuk orang itu.
"Baekhyun!"
.
Chanyeol memenuhi janjinya.
Tidak akan pernah ada yang bisa meruntuhkan pertahanan Chanyeol ketika dia sudah bertekad. Seperti tetap menjaga hati untuk bersabar menghadapi masa diamnya Baekhyun. Ya, dia tau akan seperti ini. Dia pantas mendapatkannya untuk semua yang telah dia lakukan.
Sepanjang hari ia akan tetap menjadi seorang pejuang yang tangguh. Menyempatkan waktu disela kesibukannya di kantor, Chanyeol memulai semua itu dengan begitu tulus. Dia memang berkeinginan untuk segera mendapat maaf Baekhyun dan mengajak istrinya itu kembali membangun rumah tangga. Karena sungguh, Chanyeol tidak ingin hidupnya hancur jika surat cerai yang Baekhyun pasrahkan pada Luhan memisahkan mereka.
Sebuah keuntungan adalah ketika Luhan mengatakan surat perceraian itu harus tertunda karena Baekhyun yang tiba-tiba menghilang.
"Baekhyun.." panggil Chanyeol saat ia menemukan waktu untuk berbicara dengan istrinya. "Jangan pergi." Dia menarik pergelangan tangan Baekhyun sebelum wanita itu pergi untuk menghindarinya lagi.
Lalu semua menjadi hening. Chanyeol sendiri sedang menyusun kata untuk meluluhkan hati wanitanya.
"Didunia ini mungkin kata maaf terdengar begitu pasaran. Tapi aku akan tetap mengucapkannya karena kurasa sebuah kesalahan awal mulanya bisa ditebus dengan kata maaf."
Baekhyun tidak mengatakan apa-apa.
"Jika kau tidak menginginkan maafku, apa yang bisa ku lakukan agar kau bisa mengampuniku?"
"Sebuah ampunan hanya Tuhan yang berhak memberi." Baekhyun buka suara.
"Lalu bagaimana caraku untuk memperbaiki ini semua?"
Baekhyun tidak memiliki jawaban untuk itu. Dia sendiri masih merasa terlalu dini untuk mengatakan sesuatu yang bisa digunakan untuk memperbaiki masa sulit rumah tangganya.
.
Ada saat dimana Baekhyun merasa dirinya merupakan satu-satunya pihak yang menderita. Ya, itu memang benar. Dari kacamata orang lain, pihak yang paling menderita dan dirugikan adalah Baekhyun. Dia menderita secara lahir batin.
Orang-orang tentu tidak buta jika masalah rumah tangganya memang bukan masalah yang ringan. Dari sudut pandang manapun, apa yang dilakukan Chanyeol memang salah.
Bermula dari Sena dan berakhir dengan persetubuhan yang diakibatkan oleh pengaruh alkohol. Bagian tersulit yang tidak bisa Baekhyun lupakan adalah ketika Chanyeol meninggalkan banyak cara hanya untuk satu cara licik yang justru menjebaknya. Mencernanya dan menyaringnya untuk sebuah pembetulan atas apa yang salah selama ini, Baekhyun belum memiliki hati seribu persen untuk melakukannya. Ia sudah terlalu terhanyut oleh bujuk rayu dilema hatinya. Wanita mana yang bisa cepat memberi sebuah maaf untuk semua kekacauan ini?
"Ada saat dimana kita memang memerlukan waktu untuk mendebat hati kita sendiri." Suatu sore Bibi Han datang dengan segelas susu hangat untuk satu-satunya ibu hamil di panti. "Dan dalam waktu itu, kita diberi kesempatan untuk kembali merenung bahwa ketika kita mencintai seseorang dengan segala kesalahan, kebodohan, dan semua keburukannya, kita akan melihat sebuah kesempurnaan dari ketidaksempurnaan itu."
Bibi Han meraih tangan Baekhyun. Wanita paruh baya itu begitu mengerti perasaan dan rasa kecewa Baekhyun untuk semua yang terjadi terhadap rumah tangganya.
"Baekhyun, jangan pernah melupakan fakta jika manusia itu selalu memiliki waktu untuk berbuat salah. Kita semua memiliki waktu seperti itu namun dalam keadaan yang berbeda. Bibi bukan ingin mencampuri apa-apa yang menjadi keputusanmu nantinya. Kau tau, kan, Bibi selalu mendukung semua keputusanmu asalkan itu membawa kebaikan." Bibi Han tersenyum penuh kehangatan dan membuat Baekhyun tak kuasa menahan airmatanya pada Bibi Han yang sudah merawatnya sejak kecil. "Ketahuilah bahwa setiap orang juga berhak mendapat sebuah kesempatan. Kesalahan apapun yang orang lain lakukan pada kita adalah cara Tuhan mengajarkan sebuah kedewasaan dengan hati yang lapang. Resapi dan maknai semua ini dari dasar hatimu, karena hanya kau sendiri yang tau bagaimana mengimplementasikan kedewasaan dari cara Tuhan mendewasakanmu."
.
Menempatkan semuanya pada porsi yang pas adalah harapan Baekhyun ketika dia berusaha menjadi seorang yang bijak. Masa pendiaman ini tidak akan pernah mencapai kata cepat untuk sebuah perdamaian. Dia memiliki hati yang terlalu rumit untuk kembali menciptakan semuanya menjadi lebih baik. Namun jika dia terus berdiri pada pendirian dan pihak transparan yang membuatnya menjadi wanita egois, ia sadar untuk seseorang yang selama ini terlalu banyak memberi pengorbanan.
Baekhyun tidak buta untuk semua yang dilakukan Chanyeol. Meski dia masih tetap membungkam untuk semua yang berusaha lelaki itu benahi, tapi Baekhyun memiliki satu sisi lain untuk melerai keegoisannya. Satu bulan ini telah banyak yang membuat hatinya kembali ngilu pada sebuah kondisi.
Seharusnya Chanyeol tidak sejauh ini melakukan pengorbanannya. Dia tidak perlu datang ketika jarak Seoul dan panti asuhan terbentang 2 jam perjalanan. Baekhyun yakin lelaki itu pasti memaksa segala lelahnya setelah bergulat dengan pekerjaan di kantor. Terbukti dengan kemeja lusuh dan wajahnya yang berantakan, lelaki itu tetap datang untuk mendapat pelukan dari dua buah hatinya.
"Jesper," Baekhyun melambaikan tangan pada Jesper yang sedang bermain dengan Daddy, Jackson, dan beberapa anak panti lainnya.
Anak laki-laki itu segera berdiri dan mengikuti Mommy-nya. Tak sampai lima menit, Jesper kembali lagi dengan sebuah bantal dan selimut yang berusaha ia bawa dengan rengkuhan tangan mungilnya.
"Kata Mommy, Daddy tidak perlu tidur di mobil. Daddy bisa tidur di sofa atau di kamar Mommy."
Baekhyun yang diam-diam bersembunyi dibalik pintu, cukup tercengang dengan apa yang dikatakan Jesper. Dia tidak berpesan untuk hal yang terakhir. Astaga, anakku kenapa menjadi sangat tidak keren?
"Jesper di suruh Mommy?"
Jesper mengangguk yakin. Lalu ketika otak pintarnya itu menyalakan sebuah lampu, dia membisikkan sesuatu yang tidak pernah orang bayangkan akan ada dipikiran anak sesusia Jesper.
"Mommy merindukan Daddy. Saaaaaaangat rindu."
.
Malam-malam selanjutnya Baekhyun masih tetap melihat Chanyeol datang setelah waktu kerjanya dengan membawa banyak mainan. Bukan hanya untuk Jesper dan Jackson tapi untuk semua anak panti yang menyambutnya dengan hangat. Lelaki itu menemui cara berbagi yang menyenangkan hingga semua orang di panti menyukainya.
Sesekali Chanyeol juga menyempatkan untuk kembali dekat dengan Baekhyun, mencoba sebuah interaksi dengan istrinya untuk sebuah kebaikan lain dalam kerusakan rumah tangganya. Meski Baekhyun hanya menjawabnya secara singkat, tapi Chanyeol harus tetap bersyukur karena Baekhyun tak lagi menghindarinya.
Yang lebih menyenangkan lagi, saat Chanyeol meminta izin untuk membelai buah hatinya yang ada di dalam perut Baekhyun, wanita itu meng-iya-kan dengan sebuah senyum kecil yang begitu Chanyeol rindukan.
Chanyeol duduk di dekat ranjang Baekhyun dan melihat wanita itu tengah terlelap. Sudah berapa purnama mereka tidak berada sedekat ini? Terlalu banyak gejolak yang membuat mereka menjadi jauh hingga sempat lupa jika mereka memiliki sebuah perasaan cinta satu sama lain.
"Anak Daddy di dalam sana apa kabar?" lirihnya sambil membelai perut buncit Baekhyun. "Jangan nakal, ya? Jangan menyusahkan Mommy. Anak Daddy harus pintar. Oke?"
Sebenarnya Baekhyun tidak benar-benar terlelap. Ia menyadari seseorang diam-diam masuk ke kamarnya, duduk di sampingnya, lalu membelai perutunya dengan sebuah lirihan yang begitu hangat. Karena ketika dia semakin terhanyut dengan rasa nyaman dari belaian Chanyeol, Baekhyun mendengar suara Jackson memekik bersama sebuah tangis.
Segera setelah tangis Jackson semakin keras, Baekhyun dan Chanyeol masuk ke kamar tidur Jackson (yang diisi bersama anak panti lainnya) dan mendapati Jackson menangis dengan airmata yang banyak. Baekhyun segera merengkuh tubuh Jackson dan Chanyeol menenangkan anak-anak lain yang terkejut karena tangis Jackson.
Baekhyun menggendong tubuh Jackson keluar kamar agar tidak semakin mengganggu tidur anak-anak lainnya.
"Ada apa, sayang?" tanya Baekhyun. Tapi anak laki-laki itu masih menangis dalam pelukan Mommy-nya. "Jackson mimpi buruk, ya?"
Jackson mengangguk.
"Jackson kenapa?" tanya Chanyeol setelah menenangkan keadaan panti yang sedikit kacau karena tangis Jackson. "Mau Daddy gendong?" Jackson membuka tangannya dan gendongan itu beralih pada Chanyeol.
Seketika itu juga tangis Jackson reda. Jackson selalu seperti ini—tiba-tiba menangis di sela tidur malamnya dan akan tenang jika sudah digendong oleh Daddy atau Mommy.
"Jackson mimpi apa?"
"J-jack..m-mimpi...a-ada..m-monster...s-sosis..." cerita anak itu dengan suara terbata-bata. Lalu anak laki-laki itu mengeratkan pelukannya di leher sang Daddy.
"Ya sudah, monster sosisnya sudah pergi. Sekarang Jackson tidur, ya?"
Anak itu menggeleng.
"Jackson mau jalan-jalan."
Selama masa renggang ini, Baekhyun hampir lupa jika Chanyeol adalah satu-satunya orang yang tidak bisa menolak permintaan anak-anaknya. Karena ketika Jackson mengungkapkan keinginannya, Chanyeol mengambil sebuah kunci dari saku celana dan menuju mobil yang terparkir di halaman.
"Jackson mau kemana?" tanya Chanyeol saat dia sudah menyalakan mobilnya.
Jackson yang dipangku oleh Mommy menunjukkan senyum kebahagiaan karena Daddy menuruti keinginannya meski waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. "Beli sosis sapi."
.
Hari separuh mendung ketika Baekhyun baru saja memandikan Jesper dan Jackson. Dua anak laki-lakinya itu seharian penuh bermain di taman belakang bersama anak-anak panti yang lain. Berlari-lari, bermain lumpur, hingga memainkan beberapa permainan lainnya yang mengundang tawa.
Baekhyun cukup bersyukur dua anaknya itu sudah mulai terbiasa hidup di panti asuhan. Mungkin awalnya terasa aneh. Mereka terbiasa dengan fasilitas mewah yang diberikan Mommy dan Daddy mendadak harus menjalani hidup sederhana bersama penghuni panti. Berbagi tempat tidur, berbagi makanan, dan masih banyak hal lainnya. Tapi sepucuk rasa syukur adalah ketika dua anak laki-laki Baekhyun itu mampu menerima ini semua dengan begitu lapang.
"Daddy belum datang ya, Mom?" Tanya Jackson saat Baekhyun sudah berbaring di sampingnya—waktu tidur malam.
Ah, ya. Ini sudah pukul sembilan malam tapi Baekhyun tidak melihat tanda-tanda kedatangan Chanyeol. Biasanya Chanyeol sudah datang bersama rasa lelah yang ia pikul karena perjalanan panjang untuk sampai ke panti—demi siapa lagi jika bukan demi keluarganya. Tidak biasanya Chanyeol absen ketika ia sedang berada pada masa rujuk.
Diam-diam Baekhyun memendam rasa khawatir untuk lelaki itu. Beberapa minggu belakangan ia sudah mulai membuka hati untuk kembali menjalani kehidupan rumah tangga dengan Chanyeol. Bahkan ini sudah 90% Baekhyun membuat keputusan bulat untuk pulang bersama Chanyeol. Namun hanya dalam satu malam ini, ia kembali memikirkan keputusannya itu. Banyak sekali dugaan tak kasat mata yang mampir dalam benak Baekhyun. Salah satunya Lee Sena.
"Mungkin Daddy sedang ada rapat."
Ya, Baekhyun juga berharap hal itu yang terjadi. Ia menolak segala kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa lelakinya. Sungguh, Baekhyun sangat membenci keadaan dimana ia merasa cemas untuk hal-hal yang dilakukan Chanyeol tanpa sepengetahuannya.
Setelah memastikan Jesper dan Jacskon terlelap, Baekhyun berjalan menuju teras dan membiarkan dirinya diselimuti rasa cemas. Sudah pukul sepuluh malam tapi Chanyeol tidak datang. Jika memang dia merasa lelah karena perjalanan panjang menuju ke panti, setidaknya dia bisa menggunakan ponsel pintarnya untuk menghubungi Baekhyun dan mengatakan ia tidak bisa datang. Tapi segenggam ketidakberuntungan adalah ketika Baekhyun mencoba menghubungi ponsel Chanyeol namun hanya suara operator terdengar di sana.
Lalu ketika pukul sebelas malam hanya berkurang lima menit, Baekhyun mendengar ponselnya berdering nyaring. Besar harapannya ada nama Chanyeol sebagai penelfon. Namun ketika ia menjumpai nomor asing di layar ponselnya, Baekhyun berdoa semoga ini bukan pertanda buruk.
"Ya, Saya Baekhyun."
Setelah itu semua terasa kosong. Baekhyun kira reaksi yang ada dalam drama ketika mendapat telfon dari nomor asing yang memberitahu tentang suatu berita buruk terlalu berlebihan untuk dilakukan. Nyatanya dia mulai mengerti bagaimana rasanya seseorang yang mengaku seorang polisi memberitahu bahwa Chanyeol terlibat dalam suatu kecelakaan.
Ponsel itu terlepas. Untuk beberapa saat Baekhyun tidak mengerti harus berkata apa. Ia terlalu tercengang karena sebuah kata 'kecelakaan'.
"Astaga! Baekhyun!" Bibi Han yang baru saja melintas di ruang tamu melihat tubuh Baekhyun sudah duduk melemas dengan air mata berderai. "Ada apa?"
"C-chanyeol..."
"Ada apa dengan suamimu?"
"C-chanyeol..."
"Baekhyun, atur nafasmu dulu. Katakan apa yang sudah terjadi dengan suamimu?"
.
Entah sudah keberapa kali Baekhyun mencoba melantunkan doa dalam hatinya untuk sesuatu yang membuat jantungnya berdetak tidak normal. Bersama sebuah taksi yang ia pesan satu jam lalu, Baekhyun menuju sebuah rumah sakit yang dikatakan polisi saat menghubunginya beberapa jam lalu.
Takdir seperti apa yang kini sedang ia jalankan, Baekhyun tak pernah tau ia akan menjadi sekalut ini saat mendengar Chanyeol mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Wajahnya sudah memucat untuk menemui kenyataan bahwa di UGD rumah sakit ini terlihat begitu sibuk. Beberapa orang menjerit histeris untuk sebuah tubuh bergeletak bersimbah darah. Beberapa orang lainnya sedang memekik kesakitan untuk luka-luka yang ada di anggota tubuh mereka.
Begitu banyak doa ia ucapkan agar ia tak menjumpai sosok Chanyeol dalam keadaan terbujur kaku. Tapi melihat situasi yang ada, ia mendadak memiliki keyakinan sebesar 10% untuk melihat Chanyeol berdiri di hadapannya dan berkata ia baik-baik saja. Ya, 10% yang perlahan luntur menjadi 5% karena sudah hampir 10 menit Baekhyun mengelilingi UGD, ia tidak menemukan sosok Chanyeol.
Jika Chanyeol tidak ada di sini, mungkin dia sudah...
Oh, lutut Baekhyun mendadak lemas membayangkan kemungkinan itu. Ia sudah tidak sanggup berdiri untuk menahan tubuhnya ketika bayang-bayang wajah Chanyeol sudah terbujur kaku dan pucat di kamar jenazah. Tidak, Chanyeol tidak boleh pergi secepat itu. Jesper dan Jackson masih membutuhkannya, Jessie baru akan hadir di dunia empat bulan lagi, dan Baekhyun masih ingin membangun rumah tangga dengan lelaki itu.
Jika harus secepat ini ia menemui perpisahan dengan Chanyeol, butuh waktu berapa lama nantinya ia akan menata hati?
Semua menjadi sangat kosong dan gelap. Baekhyun tidak tau mengapa ia lebih memilih meneguhkan hati untuk berdiri dan berjalan dengan langkah tak menentu di tengah air matanya yang berderai. Lalu ketika ia sampai pada puncak rasa lelahnya dengan kenyataan, ia menemui sosok tinggi yang memanggil namanya. Namun semua itu terlalu buram, ia terlalu sesak untuk menyadari apakah malaikat pencabut nyawa juga menyambangi dirinya dan membawanya pergi bersama Chanyeol. Entah, karena di sisa nafas pendek Baekhyun yang keluar bersama air mata kesedihannya, ia tidak pernah tau jika dunia akan menjadi sangat gelap seperti ini.
.
Dunia begitu membingungkan untuk hidup Baekhyun. Sejenak ia merasa sedikit tenang kala kegelapan dan ketidaksadarannya membuat dirinya sedikit beristirahat. Untuk beberapa saat ia bisa melupakan kesedihannya sebelum ia akhirnya ditarik kembali pada kenyataan.
Mata lentiknya perlahan terbuka kala ia mendapat kesadarannya. Sedikit pening memang, tapi Baekhyun memaksa untuk bisa sadar dari istirahat sebentarnya. Terakhir yang ia ingat, ia sedang berdiri di antara keramaian yang bersimbah darah.
Pertama yang ia dapati di balik pandangannya yang buram, Kyungsoo berdiri disampingnya dengan wajah yang sulit di gambarkan. Wanita itu berkali-kali menyebut nama Baekhyun, menanyakan keadaannya dan sesekali terisak.
"Baek...Baek..."
Itu bukan suara Kyungsoo. Karena ketika Baekhyun memaksa sebuah senyum lemah, Kyungsoo lebih dulu ditarik dalam pelukan Jongin. Kyungsoo itu perempuan, dia tidak memiliki suara seperti seorang lelaki. Terlebih suara itu terdengar tidak asing—Baekhyun sering mendengar seseorang memanggilnya dengan suara seperti itu.
Baekhyun masih berada pada kadar 60% untuk menyadari dirinya tengah terbujur di ranjang putih dengan selang infus membelit pergelangan tangan kirinya.
Untuk beberapa saat Baekhyun mencoba menyelaraskan kesadarannya. Ia butuh kesadaran penuh untuk menyadari ada seseorang yang lebih khawatir di sampingnya. Seseorang yang beberapa waktu lalu membuatnya hampir meminta dirinya dibawa turut ke alam kematian.
"Baekhyun..Baekhyun.. sayang.."
Chanyeol?
Saraf refleks Baekhyun membuatnya bergerak cepat untuk bangun dan memeluk laki-laki itu. Oh, Tuhan sungguh baik. Jika ini mimpi, ia masih tetap akan bersyukur bisa kembali dipertemukan dengan Chanyeol. Setidaknya ia bisa merasakan hangat tubuh lelakinya, menyelami kedalam lautan rasa yang tidak akan pernah ada kata untuk menggambarkan, dan mengukir seberapa bahagia dia bisa kembali merasakan sentuhan lelaki itu.
Tapi ini bukan mimpi. Ia benar-benar bisa merasakan Chanyeol dengan tangannya. Ia menyentuh wajah lelaki itu; beberapa luka yang telah berbalut perban menghiasi ketampanannya. Semakin nyata ketika Baekhyun kembali membawanya dalam sebuah pelukan—dia ingin memastikan bahwa Chanyeol nyata dalam rengkuhannya.
"Aku baik-baik saja, Baek. Sudahlah, jangan menangis. Hm?" Chanyeol menghapus air mata yang terlanjur membanjiri wajah istrinya. "Maaf ya sudah membuatmu khawatir."
Sekali lagi Baekhyun mendekap laki-laki itu. Beribu banyak ucapan syukur ia berikan untuk kenyataan ini. Chanyeol bersamanya, Chanyeol tidak pergi, dan Chanyeol semakin memiliki seluruh hati Baekhyun untuk kebahagiaan ini.
.
"Ku kira saat aku membuka mata, aku sudah di surga." Baekhyun bermain dengan telunjuknya di dada Chanyeol.
Ranjang sempit itu menjadi saksi bisu bagaimana dua insan ini masih enggan berjauhan. Mulanya Chanyeol menolak ajakan Baekhyun untuk berbagi ranjang. Baekhyun membutuhkan tempat yang lebih luas untuk memulihkan dirinya yang masih berbelit selang infus. Tapi Chanyeol tidak pernah bisa menolak jika wanitanya itu sudah bertingkah lucu dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
Baekhyunnya Chanyeol yang menggemaskan.
Pada akhirnya Chanyeol menuruti semua keinginan istrinya itu. Mereka berbagi ranjang dan saling merengkuh tubuh masing-masing—untuk membuat ranjang itu cukup dihuni mereka berdua.
"Sekali lagi maafkan aku sudah membuatmu khawatir."
Baekhyun menggeleng disela pelukannya pada dada bidang Chanyeol.
"Tidak. Kau tidak perlu minta maaf, sayang." Baekhyun menjauhkan sedikit tubuhnya untuk menjangkau pandangan pada Chanyeol. "Aku saja yang berlebihan."
"Tapi aku cukup berterima kasih karena ku kira kau bahagia mendengar aku kecelakaan."
"Chanyeol!"
"Bercanda, sayang." Capitan panas tangan Baekhyun menggelenyar di sekitar otot perut Chanyeol. Lelaki itu kembali membawa Baekhyun dalam rengkuhan tubuhnya. Ah, ia begitu merindukan tubuh dan aroma wanita ini untuk memenuhi ruang indera penciumnya.
"Jangan sakit, ya? Aku tidak bisa melihatmu menderita."
Baekhyun memicingkan mata. Lelaki ini, tidak sadar dengan apa yang ia katakan. Lalu beberapa bulan lalu siapa dalang utama yang membuatnya menderita?
"AW! Kenapa mencubit lagi? Sakit, Baek." Chanyeol meringis kesakitan karena cubitan Baekhyun lebih panas dari kepiting rebus.
Wanita itu tidak berminat mengungkit masa lalu yang mematikan itu. Biarkan saja seperti itu. Dibuang juga akan percuma karena sudah membekas.
"Besok tidak usah datang ke panti." Kata Baekhyun sambil memainkan kancing kemeja lelakinya. Ia bisa merasakan Chanyeol memekik untuk sebuah keterkejutan karena ia dilarang datang ke panti. Bukankah mereka sudah kembali baik? Cepat sekali semua ini berubah saat Chanyeol baru saja terbang ke nirwana.
"Aku tau aku masih belum sepenuhnya mendapat maafmu. Tapi...tapi...jangan seperti ini, Baek. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Juga jangan pisahkan aku dengan anak-an—"
CUP!
Untuk sepersekian detik Chanyeol merasa dirinya tak beda jauh dengan mozarela. Lembut, tak bertulang, dan begitu manis. Dia sudah berkali-kali mendapat ciuman dari bibir istrinya, tapi kali ini ia seperti mendapat ciuman pertama wanita itu. Begitu manis dan menjadi candu di seluruh tubuhnya.
"Setelah aku keluar dari rumah sakit, kita pulang ke rumah, ya?"
.
Bulan kesembilan kehamilan Baekhyun..
Baekhyun baru saja membereskan beberapa robot-robotan milik Jesper dan Jackson yang betebaran di kamarnya. Dua jagoannya itu menjadi sangat protektif dan sangat mandiri untuk calon adik yang sebentar lagi akan keluar dari perut Mommy. Bayangkan saja, sepulang sekolah mereka akan menjadi anak paling baik sedunia. Berganti baju sendiri, makan sendiri, tidur siang sendiri, dan mereka berhenti merengek seperti anak bayi. Terutama Jesper, si sulung itu begitu dewasa dalam bertindak menjadi komandan untuk adiknya. Dia membantu dan menyiapkan segala keperluan Jackson dengan kedua tangan mungilnya sendiri.
Baekhyun membelai surai Jesper dan Jackson yang sudah terlelap di kamar mereka. malaikat-malaikat kecil kesayangan Baekhyun itu terlihat sangat damai dengan wajah polos yang menggemaskan. Si sulung serupa Mommy-nya dan si nomor dua serupa Daddy-nya. Baekhyun menerka akan seperti siapa si bungsu yang ada di dalam perutnya? Ah, tapi itu tidaklah penting. Baekhyun hanya menginginkan seorang anak yang baik dan patuh pada orang tua—seperti yang dilakukan Jesper dan Jackson.
Diwaktu dan tempat yang berbeda, seorang pria baru saja menyelesaikan mandi malamnya setelah disibukkan oleh rapat yang mencekik. Hampir empat jam penuh ia, Chanyeol, dibuat pusing oleh negosiasi dengan klien Cina yang sungguh sangat banyak tuntutan. Jika bukan demi kebaikan dan kredibilitas perusahaan yang ia pimpin, mungkin Chanyeol lebih memilih pulang ke Korea—menemani istrinya yang sedang hamil tua.
Ah, disaat seperti ini Chanyeol menjadi sangat rindu dengan Baekhyun. Biasanya saat malam tiba, akan ada satu rengekan kecil untuk sebuah belaian di perut buncit berisi malaikat cantiknya.
"Sudah tidur, Baek?"
Jawaban dari panggilan telfon di seberang sana terdengar mengantuk. Chanyeol melihat jam dinding di kamar hotelnya. Pukul 1 pagi, atau di Korea pukul 12. Jelas wanita itu sudah tidur. Kehamilannya yang ketiga ini membuatnya menjadi wanita paling rajin untuk tidur jam 10 dan bangun tepat pukul 4 pagi.
"Baru pulang, ya? Sudah makan?Cepat istirahat. Kau pasti sangat lelah."
Chanyeol selalu suka bagaimana wanita itu menunjukkan perhatiannya.
"Sudah. Tadi sepulang rapat aku makan bersama Jongin."
"Kalian begitu romantis."
"Dia menyebalkan, Sayang. Dia menghabiskan seluruh ayam goreng yang ku pesan."
Lalu Chanyeol akan menjadi satu-satunya pihak yang banyak bercerita. Wanita kesayangannya hanya memberi tanggapan seadanya—bukan karena Baekhyun enggan dengan cerita Chanyeol, wanita itu hanya berusaha mendengarkan disela-sela rasa kantuknya.
Mungkin Chanyeol terdengar egois karena dia hanya mementingkan dirinya sendiri saat dia menyimpan banyak rindu untuk Baekhyun. Menelfon tengah malam seperti ini sudah menjadi kebiasaan ketika Chanyeol harus menjalankan tugas di luar. Semua akan berakhir ketika Chanyeol mendengar dengkuran halus Baekhyun dari seberang sana. Wanitanya sudah terlelap bersama deru nafas menenangkan yang seperti lullaby bagi Chanyeol. Chanyeol akan tetap membiarkan panggilannya berjalan seperti ini; menempelkan ponsel di telinganya dan turut terlelap bersama deru nafas Baekhyun dari telfon hingga panggilan itu akan terputus dengan sendirinya.
Chanyeol kira ia menyimpan begitu banyak rindu untuk istri dan anak-anaknya. Karena ketika ia hampir terlelap sepenuhnya dalam dunia mimpi, dia bisa mendengar suara Jesper memekik memanggil Mommy-nya dan suara Baekhyun yang mengerang. Dugaan Chanyeol itu semua karena Baekhyun sedang geram karena Jesper dan Jackson kembali berebut mainan. Dua anak laki-lakinya itu sedikit egois untuk beberapa mainan yang ada di kotak dekat pintu kamar mereka.
Dan ketika pekikan Jesper berganti tangis dan geraman Baekhyun berganti teriakan, Chanyeol memaksa dirinya untuk kembali tersadar di dunia nyata.
Chanyeol terduduk sambil berteriak memanggil Baekhyun lewat ponselnya. Namun tidak ada jawaban apa-apa kecuali tangis Jesper sambil menyebut Mommy-Mommy.
Kekhawatirannya semakin memuncak kala ia mendengar suara Ibu dan Ayahnya, "Baekhyun akan melahirkan. Cepat panggil ambulance."
Oh, God. Chanyeol hampir gila kala seseorang mematikan panggilannya padahal dia sedang diuHan rasa cemas. Tidak ada yang bisa menjelaskan situasi ini dan membuatnya berpikir sedikit lebih tenang. Lalu ketika pria itu mengambil pakaian seadanya beserta dompet dan beberapa keperluan lainnya, yang ia tau hanya bagaimana caranya bisa secepat mungkin ada di samping Baekhyun.
.
Sembilan bulan kemudian..
Jessie baru saja terpejam setelah menjadi pusat 'gulat' oleh dua kakak laki-lakinya. Bayi berusia sembilan bulan berpipi gembul dan berambut lebat itu terlihat tidur dengan damai berkat cinta dari keluarganya. Bibir mungilnya masih setia mengulum puting sang Mommy yang mendekapnya dalam sebuah pelukan penuh proteksi.
Baekhyun, sang Mommy, masih begitu takjub untuk bayi perempuannya. Tuhan begitu baik menitipkan sesosok makhluk mungil cantik yang selalu mendapat kecupan dan kasih sayang penuh dari semua anggota keluarganya. Jesper, Jackson, Chanyeol, dan Baekhyun, mencurahkan semua kasih dan perhatian untuk si kecil Jessie yang baru tumbuh 1 gigi.
Jessie sudah berhenti mengulum puting Mommy-nya. Anak perempuan menggemaskan itu sudah terlihat sangat lelap dan bibir mungilnya sedikit terbuka—pertanda bahwa dunia mimpi khas bayi sudah ia raih. Biasanya, Baekhyun segera meletakkan Jessie di baby-box lalu ia mulai mengurusi dirinya—mandi malam. Tapi Baekhyun masih ingin seperti ini; memeluk putri cantiknya dan mengecup lembut puncak kepala si bayi mungil.
"Daddy's coming.."
Chanyeolnya Baekhyun yang berisik.
Baekhyun memberi tanda supaya suara berat suaminya itu lebih bisa dikendalikan karena Jessie baru saja tidur. Ia tidak mau bayi perempuannya kembali merengek dan rewel sepanjang malam karena tidur berkualitas khas bayinya terganggu.
"Anakku yang cantik." Chanyeol mengambil duduk di samping Baekhyun dan mencium puncak kepala Jessie. "Dan istriku yang sexy." Lalu dia mencium pundak Baekhyun yang terbuka karena kemeja yang ia kenakan turun—semua demi kemudahan Jessie menyusu.
Chanyeol sedikit berbangga dengan hasil karyanya—Jessie. Anak perempuan yang kini melengkapi hidupnya dan hidup Baekhyun, anugerah baru yang menjadi tanggungjawab mereka berdua sebagai orang tua. Mendidik, memenuhi hak dan kebutuhan ketiga buah hatinya hanya sebagian kecil tanggungjawab mereka. Lebih dari itu mereka adalah panutan atau kiblat dari ketiga buah hatinya dalam menjalani hidup. Menjadi orangtua yang baik tentu akan mereka lakukan, tapi menjadi orangtua yang tulus memberi segala hidup dan kasih sayang juga menjadi prioritas untuk kebahagiaan buah hati mereka.
Diam-diam Chanyeol merasakan suasana haru. Hening keadaan kamar, Baekhyun yang bersenandung lirih untuk terlelapnya Jessie, menjadi hal-hal sederhana yang membuncahkan rasa bahagianya. Dia lelaki yang masih jauh dari kata sempurna, dia seorang ayah yang belum begitu mengerti bagaimana menangani dan membenarkan segala tingkah salah anaknya, dan dia hanya satu dari begitu banyak orang di dunia yang patut bersyukur untuk semua yang ia dapatkan.
"Sudah makan? Mau ku buatkan sesuatu?"
Baekhyun membetulkan kembali kemejanya ketika Jessie benar-benar sudah beralih ke dunia mimpi.
"Kiss." Chanyeol menunjuk bibirnya. "Makan malamku."
"No!"
"Pelit sekali."
Chanyeolnya Baekhyun yang manja.
Lelaki itu kembali menggunakan jurus merajuk yang demi apapun sangat mirip dengan Jackson. Baekhyun seperti melihat Jackson versi dewasa—dengan setelah kemeja biru tua dan dua kancing yang sengaja dibuka.
"Kau bisa keterusan kalau kuberi kiss." Baekhyun mencubit ujung hidung suaminya. "Ku mandikan saja, ya?"
"Mandi berdua?" matanya melebar.
"Kau yang mandi dan aku akan menggosok punggungmu."
.
Ini menyebalkan. Chanyeol tidak tau mengapa dirinya harus berakhir di sini—disebuah club mewah yang menjadi titik balik hidupnya belakangan. Sepenuh hati Chanyeol sudah berjanji pada dirinya untuk tidak berada disini. Tapi dia kalah oleh suatu gairah, dia lemah oleh sebuah rajukan iblis hingga kini ia duduk di salah satu kursi.
Iblis itu berbisik agar ia bisa menikmati suasana ini. Hidup cuma sekali, menyianyiakan Glory Red hanya akan membuat ia menyesal di kemudian hari. Well, Chanyeol hanya perlu menjalankan perannya sebagai lelaki sejati—hingar bingar malam dan godaan alkohol akan menjadi teman menyenangkan malam ini.
Salahkan saja Baekhyun untuk semua ini jika ada pihak yang perlu disalahkan. Acara mandi malam itu berakhir buruk. Ketika Baekhyun menggosok punggung dan menuntut satu cerita tentang hal-hal yang terjadi dikantor, Chanyeol hanya berusaha jujur dan terbuka untuk itu. Apa ada yang salah jika Chanyeol berkata "Sena datang ke kantor. Tapi aku menolak bertemu dengannya.". Lelaki itu berusaha jujur. Bukankah sebuah kejujuran yang menyakitkan itu lebih baik dari kebohongan yang membahagiakan? Lagipula Chanyeol tidak memiliki minat apapun untuk menutupi kenyataan itu agar istrinya tidak marah. Namun sayangnya Chanyeol tidak begitu mengerti bagaimana absdurdnya seorang wanita yang kesal mendengar kejujuran itu. Lalu siapa yang harus disalahkan di sini?
Satu cocktail dipesan.
Chanyeol kembali menyesap minuman beralkohol itu untuk menenangkan pikirannya.
"Chanyeol?"
Petaka datang.
"Sendiri saja?"
Lee Sena.
"Mau ku temani?"
Lelaki itu sudah tidak memiliki urusan dan enggan berurusan lagi dengan Sena. Hanya saja seruan iblis mungil yang berbisik di telinga membuatnya kembali harus memerankan peran Pecinta Wanita Kedua.
"Lakukan, sayang. Kita harus menyelesaikan ini semua sampai akhir."
.
Suatu hari Baekhyun pernah berpikir untuk menjadi seorang model dengan glamoritas yang melebihi puncak gunung. Ia mendambakan suatu hidup yang melebihi kata mewah dengan menguasai dunia siang dan malam. Dulu, sewaktu masih belum menjadi model, dia sangat ingin tau seperti apa sebuah dunia malam yang hanya bisa dicapai dengan banyak dolar. Namun setelah ia mengenal banyak istilah yang tak lebih baik dari jeruji besi, Baekhyun rasa ia lebih senang menjalani hidup normal tanpa menyentuh semua keburukan dunia malam.
Dua tahun yang lalu dia pernah mengalami sendiri sebuah keburukan yang berhubungan dengan dunia malam. Bukan yang terjadi pada tubuhnya, tapi terjadi pada rumah tangganya. Sejak saat itu ia memilih kata 'alergi' untuk semua dunia malam, alkohol, wanita dan lelaki bar-bar, juga hingar bingar yang hanya menunjukkan kesenangan sesaat. Meski semua telah diperjelas dengan pembuktian Chanyeol akan keseriusannya memohon maaf juga niatnya untuk memperbaiki ini semua, Baekhyun masih menyimpan dengan rapi semua hal yang terjadi pada bilik merah paling uHan yang ada di Glory Red.
Dan sekarang dia baru menyadari, dunia ini selalu memiliki waktu singkat untuk membuat suatu kesenangan.
"Aku tidak minum alkohol, Kris." Tolak Baekhyun dengan halus. "Ibu menyusui tidak boleh mengkonsumsi alkohol." Jelasnya.
Kris yang baru saja tiba dengan gayanya yang casual hanya mengangguk mengerti.
"Kau ibu yang baik."
"Semua ibu akan seperti itu."
Diam-diam Kris menaruh sejuta poin untuk mantan kekasihnya ini. Begitu banyak tawaran untuk karirnya sebagai model di saat popularitas menjunHan tinggi namanya, wanita ini memilih jalan yang begitu mengejutkan. Alibinya, kodrat sempurna seorang wanita adalah menjadi istri dan menjadi seorang ibu. Dan dengan sebuah senyum mengembang seperti bidadari surga, Kris masih mengingat dengan jelas bagaimana Baekhyun menggelar konferensi pers dan mengatakan dirinya akan mundur dari dunia model.
Saat itu tentu banyak orang yang menyayangkan keputusan Baekhyun. Cantik, muda, dan berbakat, mereka rasa menikah hanya sebagai suatu penghalang untuk kesuksesan atas semua yang dimiliki Baekhyun. Namun seorang Baekhyun tak jauh beda dengan batu besar di tepi sungai, dia kukuh pada keputusannya dan beberapa bulan setelah itu dia menikah dengan Park Chanyeol.
Andai saja Kris tidak melakukan tindakan bodoh dengan mencoba rasanya berselingkuh dengan seorang model baru, mungkin dia bisa lebih beruntung dari Chanyeol. Menikahi Baekhyun sudah Kris rencanakan sejak awal hubungan mereka terjalin. Kris kira dia sudah sangat mengetahui semua seluk beluk dan kebiasaan Baekhyun, nyatanya dia tidak terlalu mengerti bahwa selingkuh adalah alasan utama seorang wanita memutuskan hubungan dan memecahkan sebuah kepercayaan. Prang!
"Bagaimana menurutmu?" tanya Kris.
"Apanya?"
"Glory Red."
Baekhyun tersenyum singkat. Ia memiliki berbagai macam definisi untuk Glory Red.
"Narkotika," Baekhyun memberi telunjuk kecil untuk dua orang pria yang ada di kursi melingkar, "Alkohol berkadar hampir seratus persen," beralih pada seorang pria teler dengan sebuah botol berwarna hitam, "Judi," beralih pada tiga orang pria tua yang mengeluarkan segepok uang dari kantong jasnya, "dan pelacur." Berakhir pada seorang pria yang duduk sendiri di suatu sudut dan kemudian seorang wanita berpakaian ketat menghampirinya. Lee Sena.
"Aku tidak menyangka kau akan selicik ini, Baek." Kata Kris sambil menyesap cocktail-nya. "Tapi aku menyukai cara berpikirmu. Semacam...brilian!"
"Ku harap kau menyesal karena kau pernah membuang kepercayaanku, Kris." Canda Baekhyun yang disambut kekehan oleh Kris.
"Ya. Sangat menyesal. Tak ku kira pecinta wanita seperti Chanyeol yang berakhir di pelukanmu."
"Dia sangat hebat."
"Ya. Sangat hebat hingga tidak bisa mengendalikan ekspresi saat pelacur itu mendekatinya."
Sena sudah menggencarkan bujuk rayunya seperti yang Baekhyun kira. Semua sudah sesuai rencana dan Baekhyun hanya perlu memberikan sebuah twist sesegera mungkin sebelum ia kecolongan untuk lelakinya yang ia gunakan sebagai umpan. Sungguh malang nasib Chanyeol.
"Lakukan, sayang. Kita harus menyelesaikan ini semua sampai akhir." Baekhyun menekan sesuatu yang ia tempelkan di telinga dan berbicara pada sebuah mic kecil yang ia jepit di krah kemejanya. Baekhyun bisa melihat bagaimana wajah Chanyeol terlihat sangat risih melakukan perintah Baekhyun. Tapi ini semua bagian dari rencana, Chanyeol tidak boleh merusak karena Baekhyun sudah tidak sabar memberi pembalasan pada pelacur itu.
Ya, ia sudah tidak memperdulikan hati malaikat yang selalu diteriakkan orang padanya. Yang Baekhyun tau, ia ingin merasakan menjadi iblis sebentar untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Kau harus hancur, pelacur!
"Ingat, jaga mata dan jaga hati. Kau tau akibatnya jika kau menuruti jiwa kelelakianmu, kan, sayang?" kata Baekhyun sekali lagi pada mic kecilnya. "Kris, giliranmu."
"Kalau aku tidak mau?"
"Kris!"
"Cepat sekali emosinya." Kris menghabiskan sisa cocktail dalam gelasnya sebelum ia membenahi letak jam mahal di pergelangan tangannya. Tak lama setelah itu ia memainkan jari pada ponsel pintarnya untuk menghubungi seseorang dan berkata singkat, "We'll start."
Baekhyun masih ingat bagaimana perasaannya saat berjalan di sebuah lorong menuju bilik itu. Sekali lagi ia memiliki ingatan sangat baik untuk mengingat apa yang sudah terjadi dua tahun ini antara dirinya dengan Chanyeol.
Kakinya masih bergetar, telapak tangannya berkeringat, dan wajahnya begitu pucat. Untuk beberapa saat ia merasa tidak bisa berdiri di atas heelsnya dengan benar. Ia hampir limbung andai saja Kris tidak menahannya.
"Kau oke? Apa perlu aku saja yang melakukannya?"
Baekhyun menggeleng dan tersenyum kecil. Tidak, dia harus melihat semua ini sendiri.
Lalu ketika ia sudah sampai disebuah bilik berpintu merah menyala, Baekhyun sempat tidak tau cara bernafas dengan benar. Tempat yang sama untuk suatu kenangan menyakitkan, detak jantungnya kembali bergemuruh untuk sesuatu yang ada di dalam sana.
"Baek?"
"Lakukan, Kris."
Bedanya, dulu Baekhyun membuka pintu ini dengan tangannya sendiri tapi sekarang Kris melakukan ini untuknya.
Apa yang ada di dalam sana, masih bukan suatu adegan baik untuk dilihat siapa saja. Baekhyun berani bersumpah ia membenci Sena hingga sel terkecil dalam tubuhnya.
Baekhyun bisa melihat seringai kecil dari seorang wanita yang tak mengenakan pakaian apapun sedang menggoda seorang lelaki yang duduk di sofa. Kebenciannya bertambah membeludak ketika Sena sengaja berjongkok di hadapan lelaki itu lalu membuka lebar-lebar kakinya. Tidak, ini bahkan lebih dari sebuah kata benci karena Baekhyun ingin segera menusuk vagina Sena dengan batangan besi panas. Tapi dia memiliki rencana lain.
Lelaki itu, Park Chanyeol, cukup kesal dengan skenario bodoh ini. Ia tidak pernah mengira dirinya akan diumpan sejauh ini—melihat vagina Sena yang sama sekali tidak membuatnya tegang. Tapi Chanyeol memiliki sesuatu lain yang bercokol dalam dirinya ketika melihat sebuah tangan melingkar di pundak Baekhyun.
"Sena, cepat berdiri." Sena baru menyadari sebuah suara lain yang berdiri di belakang Baekhyun. Untuk beberapa saat ia menjadi kambing liar yang tidak tau cara mengendalikan rasa terkejutnya.
"Kris?!"
"Ya, aku. Terkejut?"
Sena segera berdiri dari posisinya dan dia baru menyadari satu hal yang tidak baik. Semakin tidak baik ketika Kris menoleh kecil ke belakang dan muncul dua orang berbadan tambun dengan guratan wajah penuh nafsu.
"K-kau.."
"Aku hanya menagih janjimu, Sena."
"T-tapi.."
"Hitam di atas putih." Kris berjalan menuju tempat Sena berdiri dan memainkan uHan payudara Sena. "Kau tidak lupa, kan?" bisiknya.
Bisikan itu terdengar mengerikan bagi Sena.
"Kau...menjual tubuhmu padaku, sayang." Tangan Kris berpindah pada vagina Sena dan mengacak-acak semua yang ada di sana hingga wanita itu mengeluarkan desahan tertahan. "Tapi sayangnya, aku tidak berminat menumpahkan semua sperma berhargaku di dalam sini."
"AKH!" Itu untuk sebuah hentakan dari jemari Kris yang kasar didorong dalam vagina Sena. "K-kris.."
Kris menarik tangannya dan mengambil sebuah tisu di meja. Ia menghapus sisa basah yang ia dapat dari menggoda vagina Sena lalu mengangguk kecil pada dua pria berbadan tambun.
"Tapi mereka berminat terhadapmu." Bisik Kris lagi. "Aku tidak akan meminta uang perusahaan yang kau bawa kabur karena kau membuat perjanjian yang sangat menarik. Dan mereka, mereka berdua yang akan melayanimu sepanjang malam. Aku sudah menyewa tempat ini sangat mahal, Sena. Ku harap kau tidak mengecewakan nafsu mereka."
Lalu Kris pergi dengan senyum sinis yang ia miliki. Menyenangkan sekali menghukum pelacur seperti Sena, ia seperti memenangkan sebuah pertandingan tanpa bersusah-susah mengikuti aturan.
"Terima kasih, Kris. Kau luar biasa." Kata Baekhyun saat Kris berdiri kembali di belakangnya.
Dan ketika Sena memberontak dan harus melayani nafsu dua pria tambun itu dibalik bilik berpintu merah yang terkunci rapat, ada satu orang lagi yang sepertinya belum menemui sebuah kepuasan untuk skenario ini.
"Kau ikut denganku!"
Tangan Baekhyun ditarik begitu saja oleh Chanyeol yang sedari tadi tidak menyuarakan diri.
"Well, kalian mengesankan." Gumam Kris saat melihat Chanyeol yang tergesa-gesa menarik tangan Baekhyun.
Baekhyun merasa sedang di culik oleh lelaki tak di kenal ketika Chanyeol memaksanya untuk keluar dari Glory Red. Dia tidak begitu memahami seorang laki-laki seperti Chanyeol yang tiba-tiba terlihat sangat emosi ketika rencana mereka telah berhasil—atau rencana Baekhyun saja.
Dan saat mereka tiba di mobil Chanyeol yang terparkir di lobby, memaksa Baekhyun masuk di kursi samping kemudi, Chanyeol tidak mengatakan satu katapun untuk emosinya yang terlihat seperti anak TK merajuk.
Lalu ketika Chanyeol mulai bereaksi dengan memojokkan Baekhyun di pintu dan memenjara wanitu itu di sela tangannya yang kekar, Baekhyun sadar ia harus menyediakan suatu malam panjang untuk menyelesaikan rajukan Chanyeol
"Coba katakan bagian skenario mana yang menghadirkan Kris disini, Baekhyun?"
Dan sepertinya Baekhyun akan menambahkan malam panas untuk semua rajukan lelakinya ini.
.
.
.
TBC
