Jesper, Jackson, dan Jessie baru saja menyelesaikan mandi pagi mereka setelah sarapan. Ketiga anak itu selalu suka menghabiskan waktu dalam air sehingga tidak peduli ketika Daddy berteriak jika waktu mandi sudah habis.

Sebagai si sulung sekaligus kapten untuk dua adiknya, Jesper berkomando agar tidak terlalu memperdulikan Daddy. Katanya, Daddy hanya pembajak laut yang mau mengambil seluruh keuntungan dari kapal dan membuat kerusuhan. Hal itu di iyakan oleh si nomor dua sedang si nomor tiga yang menginjak usia 1 tahun lebih 3 bulan itu hanya tertawa memamerkan giginya yang mulai penuh.

"Jackson, putar haluan ke kanan! Ada kapal bajak laut mendekat!" Dengan tubuh polos dan pedang mainan yang dibelikan Mommy minggu lalu, Jesper berkomando dan disambut anggukan mantab oleh Jackson. "Semuanya merapat ke sebelah kanan! Jangan sampai para pembajak laut menguasai kapal ki—Eoh?"

Tiga pasang mata itu mendongak ke atas ketika pedang plastik yang di bawa kapten Jesper berpindah tangan pada sosok tinggi yang sedang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kapten! Itu bukan pembajak laut! Itu monster!" teriak Jackson sambil melindungi Jessie dalam pelukannya. "Jessie, jangan takut! Aku akan melindungimu ketika kapten memusnahkan monster lautnya!"

"Ahh.. Daddy, kenapa pedang Jesper di ambil?"

"Mandi. Bukan bermain bajak laut."

"Bajak laut itu seru, Dad!" Si sulung masih bersikukuh dengan pendapatnya sedang Daddy mulai ambil tindakan. Tubuh si kapten Jesper mulai di bilas dengan sabun dan rambutnya turut diberi shampo hingga menimbulkan busa harum.

"Seru apanya kalau Daddy jadi monster?" gerutu Daddy sambil membilas tubuh Jesper. "Mana ada monster setampan Daddy?"

"Jesper selalu dengar setiap malam Daddy dipanggil monster oleh Mommy."

"K-kapan?"

"Kemarin malam? Ah pokoknya Jesper pernah dengar Mommy berteriak jika Daddy itu monster dan Jesper juga dengar Mommy menjerit."

Anak-anak, mereka terlalu suci untuk melakukan suatu kebohongan. Apa yang mereka dengar dan mereka lihat akan dijabarkan secara gamblang jika ada yang bertanya hal apa saja yang terjadi ketika Mommy berteriak tentang seorang monster. Itu bukan monster dalam konotasi yang sebenarnya, tapi sebuah analogi ketika Daddy mulai menyerang Mommy dengan segala tindak-tanduk nafsu sebagai dasarannya. Mereka melakukannya dengan sebuah kepastian jika anak-anak sudah tidur sehingga teriakan Mommy yang penuh gairah tidak akan terdengar. Tapi nyatanya mereka kecolongan ketik suatu malam Jesper terbangun karena haus,

"Kau hanya mimpi, Jesper." Dan alangkah baiknya obrolan itu segera dihentikan karena Jesper tidak boleh tau apa yang terjadi malam itu. "Sudah, cepat selesaikan mandi kalian karena Daddy punya film Pororo edisi terbaru."

Sontak ketiga pasang mata lucu itu membola dan teriakan heboh memenuhi kamar mandi. Jesper menjadi yang paling cepat membasuh tubuh ketika Jackson menekan ujung botol sabun lalu meratakannya di perut sedang Jessie menyodorkan tangan sambil merengek dalam artian ingin segera dimandikan.

.

.

Keributan di ruang TV ini bermula dari Jesper yang melompat riang mengitu gaya Pororo di televisi. Tangan kanannya memegang coklat sedang tangan kirinya memegang remote yang ia jadikan sebagai mic untuk bernyanyi. Ingat, kan, jika Jesper adalah kapten bagi adik-adiknya? Maka dari itu, Jackson dan Jessie turut mengkiblat apa yang di lakukan sang kapten bersama tawa riang mereka.

Chanyeol duduk di salah satu sofa putih gading itu dengan wajah pasrah atas kekacauan yang sudah diciptakan ketiga buah hatinya. Percuma melarang karena anak seusia Jesper, Jackson, dan Jessie sedang dalam masa aktif meski waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Ketiga anak itu seharusnya sudah bersiap dengan baju tidur mereka dan merebahkan diri di ranjang masing-masing untuk menjemput mimpi. Tapi sebuah kesempatan tidak mereka sia-siakan untuk bermain sepuasnya ketika sang Mommy keluar.

Bermula dari ide gila Chanyeol dengan memberi 'Kupon Manja untuk Istriku' juga rasa bersalah Chanyeol yang membiarkan Baekhyun, istrinya, mengurus ketiga anak mereka sendiri. Chanyeol memberi kesempatan Baekhyun untuk keluar dan menyuruhnya memanjakan diri tanpa perlu khawatir tentang anak-anak karena Chanyeol percaya bisa mengatasinya.

Mengantar Jesper dan Jackson sekolah, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan anak-anak, sampai mengganti popok Jessie ketika si bungsu itu buang air besar di pampersnya. Jika dilihat dari kacamata Chanyeol, hal itu tidak akan terasa sulit karena tidak butuh suatu pemecahan masalah. Kebutuhan anak-anak sudah tercukupi dan hanya tinggal menyiapkan lalu memberikan sebuah kasih sayang terbaik. Tapi setelah seharian ini Chanyeol memutuskan untuk menjadi seorang Superman dengan mengambil alih semua pekerjaan Baekhyun di rumah, dia lebih baik rapat selama 24 jam penuh.

Bukan apa-apa, jika tidak terbiasa dan tidak terampil melakukan pekerjaan-pekerjaan ini, hanya ada sebuah keluh kesah bercampur rasa lelah yang mencokol. Chanyeol kini sadar betul bagaimana istrinya itu lelah luar biasa dengan pekerjaannya menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Maka dari situ Chanyeol mulai belajar untuk tidak akan pernah menambah rasa lelah istrinya dengan hal-hal tidak penting.

Lalu mari kembali pada ruang TV yang sudah tak terhitung berapa banyak keributan yang ada. Tiga anak kesayangan Chanyeol itu masih setia melompat-lompat bersama si kartun pinguin dan tidak peduli jika coklat yang ada di tangan mereka sudah meleleh dan mengotori karpet.

Chanyeol melirik jam yang sudah melewati pukul setengah sembilan malam. Kupon Baekhyun berakhir pada pukul sepuluh yang sama artinya masih satu setengah jam lagi Chanyeol menghandle ketiga anaknya.

"Guys,waktunya membersihkan diri lalu tidur."

Seperti angin lalu karena Jesper, Jackson, dan Jessie tidak berniat mengalihkan atensi mereka pada sang Daddy.

"Sudah malam dan anak kecil tidak boleh tidur terlalu malam. Ayo!"

Masih sama.

"Guys?"

"Jackson! Monster datang!" si sulung memberi komando pada kedua adiknya ketika Chanyeol melakukan pergerakan. "Menghindaaaaaarrr!"

Ketiga anak itu berlari pontang-panting dengan gelak tawa riang menghindari tangkapan ala monster yang di lakukan oleh Daddy mereka. Mulanya Chanyeol mengejar Jesper, tapi si sulung itu seperti belut yang susah di tangkap. Lalu beralih pada Jackson yang seperti sudah di charge penuh memutari meja tanpa henti. Jadi satu-satunya target yang tersisa hanya si bungsu, Jessie.

Jessie terkikik geli saat di tangkap oleh Daddy-nya terlebih ketika pipi gembulnya di serbu oleh banyak ciuman.

"Oke, Jessie mangsa pertama Dad—"

"Dad!" Suara Jesper terdengar nyaring. "Jackson pipis di atas sofa!"

Oh.

My.

God.

.

.

Tepat pukul sepuluh malam, Baekhyun datang dengan beberapa paper-bag dan raut wajah tak menentu kala mendapati beberapa lampu rumah masih padam. Sedari tadi dia merasa tidak tenang kala bayangan tiga anaknya yang aktif itu mengacaukan kesabaran Daddy mereka dengan tingkah khas anak-anak.

Sebenarnya Baekhyun ingin cepat-cepat pulang ketika selesai memberi treatment pada tubuhnya di sebuah pusat spa langganannya. Dia khawatir rumahnya akan terbalik saat tiga anaknya itu tidak bisa dikendalikan seorang diri oleh suaminya. Tapi ketika Baekhyun menghubungi suaminya dan berkata akan pulang setelah dari spa, suaminya justru melarang. Dia berkata jika bisa mengatasi semua itu dan Baekhyun tidak perlu khawatir berlebihan. Baekhyun hanya perlu memanjakan diri dan urusan anak-anak tidak perlu diributkan.

Tapi ketika melihat keadaan rumah yang remang dan keheningan yang mengkhawatirkan ketika Baekhyun masuk, dia tau kalau 'baik-baik saja' yang suaminya katakan tadi siang hanya sebuah alibi.

Karpet ternoda coklat, sofa yang di penuhi tumpukan tissue basah, mobil-mobilan yang terparkir sembarangan di lantai, serta pokok dengan noda kekuningan yang tergeletak manja di dekat sofa. Baekhyun hanya terkekeh geli melihat semua kekacauan itu dan terbayang bagaimana raut frustasi suaminya mengendalikan ketiga buah hati mereka.

Senyum Baekhyun kembali mengembang ketika masuk ke dalam kamar dan melihat satu orang lelaki dewasa tengah tertidur dan dadanya dibiarkan sebagai tempat bersandar si kecil. Tidak hanya itu, dua jagoannya juga sudah bermain ke alam mimpi dalam posisi tidur mereka yang tidak bisa di jelaskan kemana arah sesungguhnya.

Perlahan Baekhyun menggendong tubuh Jesper dan Jackson untuk dipindahkan ke kamar masing-masing. Tak lupa sebuah kecupan selamat malam di dahi mereka sebelum akhirnya Baekhyun mematikan lampu kamar dan mengucap 'mimpi indah'.

"Baek," Chanyeol terbangung ketika giliran Jessie yang di ambil alih.

"Ssst. Biar Jessie ku pindahkan ke box-nya."

Perlahan tubuh Jessie ia gendong dan di rebahkan di box pink lucu yang mulai kekecilan dengan tubuh Jessie.

"Bagaimana menjaga anak-anak seharian ini?" tanya Baekhyun pada si bayi besar yang mulai menggeliat di ranjang. "Maaf, ya, meninggalkanmu terlalu lama."

"Aku baru tau jika pekerjaanmu di rumah sebanyak itu." Chanyeol menyodorkan kedua tangannya untuk membawa istrinya kedalam dekapan seperti yang Jessie lakukan tadi. "Maaf juga karena aku terlalu sibuk di kantor dan tidak pernah membantumu di rumah." Usakan halus itu Chanyeol berikan pada punggung istrinya yang beraroma madu nikmat.

"Kau sudah makan?"

"Sudah. Tadi makan bersama anak-anak."

"Mau sesuatu untuk dimakan lagi? Aku tadi juga berbelanja."

Chanyeol menggeleng.

"Lalu mau apa?"

"Tidak mau apa-apa."

"Mau tidur saja?"

"Iya. Tidur bersamamu." Chanyeol membawa Baekhyun di bawa kuasanya. "Tanpa baju," kancing kemeja Baekhyun di usik dan diluruhkan. "Tanpa rok," lalu membuka resleting rok istrinya, "dan tanpa pakaian dalam." Yang terakhir adalah pengait bra Baekhyun yang di lepas beserta celana dalam berwarna provokatif.

"Tapi aku harus membersihkan kekacauan di luar," Baekhyun menyesap bibir bawahnya sambil menggeliatkan tubuh seperti cacing kepanasan.

"Besok akan ku bersihkan." Chanyeol melepas semua pakaiannya dengan cara yang begitu erotis. "Katakan ini sebagai bayaran karena kau pulang terlambat lima menit."

"Oke." Lengan mulus Baekhyun mulai menggelayut di leher suaminya dan memberikan sebuah kecupan singkat di bibir tebal itu. "Akan ku berikan sebanyak yang kau mau."

"Terima kasih, sayang."

"AH—pelan, Yeol."

.

.

.

END

Horeee epilognya selesaiii~

Horee naenanya di potong

Horee...

Saranghae~~