JESSIE

Buku gambar itu benar sudah rata oleh warna hitam. Tangan mungil yang sudah belepotan cat air mulai mengepak; pertanda ada kebahagiaan ketika melihat buku gambar milik kakaknya hancur.

Jangan ditanya bagaimana Jackson saat ini. Masterpiece yang akan ia ajukan sebagai salah satu peserta lomba mewarnai sudah rata dengan warna hitam.

Raut wajah Jackson memerah. Kesedihan sudah berada di pelupuk mata dan dia bersiap menghelak sebuah tangis kencang. Jessie, si tersangka utama, anak perempuan berusia 4 tahun itu mulai kebingungan karena dia berharap reaksi yang lain dari sebuah tangis.

"K-kakak..."

"MOMMY! DADDY!" Di antara 3 anak kesayangan Chanyeol itu, Jackson memiliki jenis tangis yang nyaring. Seisi rumah akan terbangun jika Jackson mulai meraung dan menggulingkan badan di lantai.

"Ada apa, Jack-Oh my God?" Baekhyun yang sedang sibuk di dapur sontak segera menyelamatkan buku gambar yang Jackson tunjuk sebagai penyebab tangis.

Wanita itu lalu melihat Jessie. Anak perempuannya menggeleng kecil dan bercicit maaf dari bibir mungilnya.

"Jessie nakal!" Hardik Jackson.

"Jessie t-tidak nakal..kak..m-maaf.."

Baekhyun segera melepas apron dan mengambil alih Jackson yang semakin meraung. "Sudah..adik tidak sengaja, Jack."

"Gambar,Jack, Mom.."

Tak lama setelah itu ada sebuah langkah lebar-lebar dari kamar utama yang mendekat. Pemiliknya berwajah kesal, sudah jelas merasa terganggu dengan tangis tiba-tiba Jackson saat dirinya sedang beristirahat.

"Jessie tidak bermaksud apa-apa, Yeol. Dia hanya ingin bermain dengan kakaknya." Baekhyun mencoba menengahi kala Chanyeol menatap tajam pada Jessie yang menahan tangis.

"Jess.."

"M-maaf..Dad.." Jessie lalu berlari masuk ke taman belakang rumah dan melepas tangisnya yang kencang.

"Aku hanya ingin istirahat tapi-"

"Tolong jangan marah pada anak-anak. Aku yang bersalah tidak mengawasi mereka."

Jika Baekhyun sudah angkat bicara maka Chanyeol hanya mengalah. Dia sadar betul bagaimana bedar kesabaran Baekhyun menghadapi ketiga buah hatinya. "Okey, kau tenangkan Jackson. Aku akan mengurus Jessie."

"Ingat, jangan emosi. Berilah pengertian dengan cara yang lembut."

.

Gadis kecil itu duduk di dekat kolam ikan. Kaki nya ia peluk, kepalanya terbenam di antara dua kaki dan punggungnya bergetar. Usianya yang sudah menginjak angka 4 seakan menunjukkan jika bayi kecil yang dulu hanya tahu susu kini mulai bisa memahami sebuah penyesalan.

Chanyeol mengambil duduk di samping si gadis kecil, melakukan hal yang sama dan mengusak halus rambut lebat putri kesayangannya.

"Hai, Princess-nya Daddy." Princess, panggilan kesayangan untuk bungsu Baekhyun-Chanyeol.

Jessie mendongak. Bersama linangan air matanya dia takut-takut melihat sang Daddy. "J-jessie..t-tidak nakal.."

"Ya, Princess mana bisa nakal? Princess itu baik." Kembali Chanyeol mengusak rambut Jessie.

"Daddy jangan marah dengan Jessie.." lalu membenamkan wajahnya lagi.

"Daddy tidak marah, Princess." Kepala Jessie ditangkup perlahan, terlihat wajah yang sudah basah dan memerah karena tangisnya. "Aigoo.. Princess berhenti menangis, ya?"

"J-jessie..j-jessie.." sebelum semakin terbata, Chanyeol membuka lebar tangannya dan Jessie masuk dalam pelukan itu.

"Kakak Jack ingin memberi yang terbaik untuk lomba mewarnai di sekolah. Sebagai adik yang baik, Princess harus mendukung. Princess juga bisa membantu jika kakak Jack mengalami kesulitan. Seperti itulah seharusnya seorang saudara."

"J-jessie..s-salah.."

"Ya sudah," Chanyeol menggendong Jessie dan mengusap sisa kebasahan di pipi si gadis kecil. "Minta maaf dengan kakak Jack, ya?"

Anggukan Jessie kecil terasa, tapi Chanyeol senang melihat hal itu. "Temani ya, Dad? Jessie takut kakak Jack marah-marah lagi."

"Tentu saja, Princess. Daddy akan temani Princess kemanapun. Tapi Princess jangan menangis lagi, ya?"

Gadis kecil itu mengangguk kecil, sebagai hadiah dari kepatuhannya dia mendapat ciuman sayang di kedua pipi oleh Daddy.

.

Jackson memicing kesal kala Daddy datang dengan Jessie dalam gendongan. Sisa tangisnya hanya air di hidung, yang sesekali ia usak dengan punggung tangan lalu merapatkan pelukan pada Mommy yang memangkunya.

Orangtua mereka saling bertukr pandang, mengisyaratkan dalam sebuah kerlingan kecil jika perdamaian ini harus dijembatani dengan sebaik mungkin.

"Jack.. adik mau bicara." Kata Chanyeol, tapi Jackson segera membuang pandangan dengan mengerucutkan bibirnya. "Princess, ayo temui kakak."

Jessie turun dari gendongan. Takut-takut dia mendekati sang kakak. "Dad.." tangan mungilnya mengoyak celana Chanyeol, "Temani. Kakak masih marah.." bisiknya.

"Kakak tidak marah."

"Tapi.."

Langkah kecil itu akhirnya mendekati si kakak yang masih ada di gendongan Mommy. Tangan mungilnya terulur, penyesalan sudah ia tumpuk banyak-banyak demi mendapat maaf sang kakak. "Kak.."

"Apa?!" Jessie sempat terlonjak kecil, dia melihat pada Daddy dan Daddy mengangguk untuk meminta Jessie tetap melanjutkan.

"Jessie..Jessie..mau minta maaf. Jessie tidak bermaksud merusak gambar kakak. Jessie..jessie.." belum sempat gadis kecil itu melanjutkan perkataannya, dia kembali menangis penuh kesedihan dengan tangan menutupi wajah.

Mommy segera menjangkau sang putri kesayangan untuk berbagi pelukan. Diusaknya rambut itu lalu memberi penenang yang seharusnya dilakukan orang tua.

"Kak..adik menangis karena merasa bersalah. Kakak tidak mau memaafkan?"

Jackson mulai merubah raut wajah, dia nampak sedih melihat adiknya menangis seperti itu. Jackson bingung, masih ada sisa kekesalan tapi dia tidak tega melihat adiknya yang menangis. Hingga akhirnya ketika tangis Jessie tak kunjung selesai, Jackson turut menambah suasana haru dengan tangisnya dan tangan yang terbuka untuk memeluk sang adik. Semua bertambah haru ketika Jesper yang duduk di dekat Mommy turut melebarkan pelukan untuk dua adiknya yang berdamai dalam tangis.

"Adik-adik kakak Jesper jangan bertengkar lagi, ya? Nanti kakak belikan permen kapas kalau tidak bertengkar."

-END-

JESPER

"Biar Jesper yang bawakan, Mom." Barang belanjaan di tangan Mommy kini berpindah pada kekuayan tangan Jesper.

Sulung Baekhyun sudah besar, sudah lebih tinggi dan lebih bisa menempatkan diri menjadi anak tertua sekaligus panutan untuk adik-adiknya. Jesper selalu dididik menjadi anak mandiri dan bertanggung jawab. Setiap hari dia akan membantu Mommy menjaga adik-adik, membantu Jackson menherjakan PR dan membantu Jessie megenakan popoknya. Untuk itu, Chanyeol-Baekhyun selalu membanggakan Jesper sebagai anak tertua yang pintar. Prestasi di sekolahnya juga cukup lumayan. Meski hanya menyentuh ranking 5 besar, setidaknya Mommy selalu berkata "Jesper anak pintar. Terima kasih sudah membanggakan Mommy dan Daddy."

Jika pujian itu sudah tersampaikan, Jesper tidak akan segan mengembangkan senyum terlebar yang ia miliki dan mencium pipi Mommy.

Pujian itu memang Jesper nikmati sebagai reward kerja kerasnya dalam belajar. Tak pernah ia duga jika ternyata itu semua akan memiliki waktu tersendiri sebagai beban kala Jesper kesulitan dalam suatu pelajaran.

Jesper yakin dirinya sudah belajar keras untuk pelajaran bahasa inggris. Dia menghapal beberapa kosakata yang akan dijadikan bahan ujian dan dengan percaya diri dia melewati ujian itu. Namun ketika hasilnya dibagikan, Jesper mengalami keringat dingin untuk bulatan merah di sudut kertas jawabannya.

Sepanjang perjalanan pulang dia mengalami banyak kekhawatiran. Terlebih sore ini Daddy bertugas menjemput dan sudah barang tentu akan menanyakan hasil ujian.

"Hari ini pembagian hasil ujian bahasa inggris, kan?" Jesper mengangguk kecil. Dia menunduk dalam-dalam dengan jemari yang gelisah ia remas. "Daddy ingin lihat."

"Dad.." Jesper bercicit kecil, mendongak takut-takut pada Daddy-nya. "Jesper..dapat nilai jelek."

Daddy Chanyeol mengerutkan alis, menepikan mobil sebentar dan melipat tangan di depan dada. "Mana?"

Jesper mengambil kertas keramat itu di dalam tasnya dan memberikan pada Daddy.

"M-maaf.." ada isak yang ingin keluar, tapi Jesper menahannya.

"Kenapa bisa dapat nol?!" Suara Daddy sedikit mengeras.

"M-maaf D-dad.."

.

Jesper masih tertunduk ketika mobil memasuki gerbang rumah. Bahkan saat Mommy menyambut di depan pintu, si sulung itu melewati begitu saja tanpa ada ciuman yang biasa ia berikan pada Mommy.

"Ada apa?" Tanya Baekhyun pada Chanyeol yang berjalan di belakang Jesper. "Kenapa Jesper menangis?"

"Dia dapat nilai nol." Jawab Chanyeol sambil menyerahkan jas. "Mau jadi apa dia jika dapat nilai begitu?"

Alih-alih mendebat, Baekhyun mengajak Chanyeol duduk sebentar sembari melepas tautan dasi lelakinya. "Ujian bahasa inggris?"

"Ya, mau apalagi? Setidaknya harus ada nilai yang bisa dia peroleh, bukan nol."

"Dan kau marah karena hal itu?"

Melirik sebentar si wanita, Chanyeol mendecak kecil dengan napas terhenbus berat. "Tidak biasanya Jesper mendapat nilai seperti itu. Itu sangat parah, babe."

"Mungkin dia-"

"Dan jangan membelanya karena nilai nol benar-benar membuatku marah." Chanyeol menyela. Beruntung Baekhyun memiliki kesabaran yang bagus, dia tidak tersulut ketika api dari suaminya mulai menjilat logika.

"Tentu aku harus membela anakku." Katanya dengan lembut. Sebelah tangannya meraih tangan Chanyeol, mengusak lembut sebelum akhirnya melabuhkan ciuman di punggung tangan. "Dia anakku, anak kita. Kesepakatan kita ketika memilikinya adalah merawat dan mendidik dengan baik. Jika ada suatu kesalahan dan dia merasa hancur karena membuat orang tuanya kecewa, aku lebih suka memilih menenangkan dan memeberinya kesempatan. Sesungguhnya memojokkan anak dengan amarah seperti itu membuat mentalnya lemah, honey."

"Aku hanya menegaskan padanya untuk belajar lebih baik. Bukan memarahi."

"Lantas apa penyebab dari Jesper yang tiba-tiba menangis seperti itu?" Chanyeol terdiam. Usakan lembut pada punggung tangan itu dilepas, berganti pelukan hangat dari Baekhyun beserta kecupan kecil di pundak lelakinya. "Honey, aku percaya maksudmu baik. Tapi berilah kebaikan itu dengan cara yang halus. Katakan dengan cara yang mudaj dia mengerti tanpa menyakiti hatinya. Aku percaya, kau bisa seperti itu dan Jesper akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri."

.

"Kak.." Baekhyun mengetuk pintu bergantung Iron Man itu. "Makan dulu, baby."

Tak ada jawaban.

Setelah pulang sekolah beserta tangis tertahan karena dimarahi Daddy, Jesper tak kunjung keluar dari kamarnya. Hingga waktu makan malam tiba, sulung kesayangan Chanyeol-Baekhyun itu tak menampakkan diri.

"Baby, makan dulu. Adik dan Daddy sudah menunggu di ruang makan."

Masih tidak ada jawaban. Melalui sedikit kecurigaan, Baekhyun akhirnya membuka pintu itu dan menemukan sosok lelaki kecil duduk di atas meja dengan kepala tersandar di atas buku. Tangan kanannya memegang pensil, lampu belajar juga menyala tapi semua itu hanya sebagai teman untuk si anak lelaki yang terpejam.

Lembar putih bukunya menunjukkan beberapa kosakata bahasa inggris untuk anak SD. Tapi yang menarik perhatian adalah sebaris tulisan di salah satu sudut lembaran buku yang bertuliskan sesuatu bertinta biru : 'Dad, Mom, maafkan Jesper T.T

Puncak kepala Jesper mendapat kecupan haru dari sang Mommy. Sebenarnya Baekhyun tak begitu mempermasalahkan jika Jesper harus jatuj sesekali dalam bidang akademisnya. Seseorang memang perlu belajar dari kejatuhan sebelum menyadari jika memperbaiki diri memang sudah sepantasnya dilakukan. Dan ketika selesai mengharu biru dengan sulung kesayangannya, Baekhyun memindahkan tubuh Jesper ke ranjang dan menutup pintu untuk Jesper yang terlelap.

.

"Apa aku keterlaluan dengan Jesper?"tanya Chanyeol kala mereka bersiap tidur.

"Sedikit." Jawab Baekhyun.

"Dia pasti sedih."

"Sangat."

"Aku harus bagaimana?"

"Tentu saja minta maaf. Apa itu sulit?"

"Err.."

"Honey, jangan pernah merasa berat untuk meminta maaf. Setiap orang pernah bersalah dan meminta maaf tersedia secara cuma-cuma."

"Ya sudah besok pagi saja."

"Kenapa tidak sekarang?"

"Jesper sudah tidur."

"Kata siapa? Tadi kulihat lampu kamarnya menyala lagi. Sepertinya dia sedang melanjutkan belajarnya."

Ragu-ragu Chanyeol keluar dari selimut, tapi Baekhyun bergegas menarik lelakinya untuk meluruskan hubungan dengan si sulung dengan membawa sepiring makanan yang belum Jesper sentuh.

Pintu itu di ketuk pelan oleh Chanyeol, "Jesper.."

.

"Kakak masih belajar?"

Jesper menarik setetes air yang keluar dari hidungnya, menatap Daddy sedikit takut tapi tetap pada keberaniannya sebagai si sulung. "Ya, Dad."

Yang lebih tinggi menyejajarkan tubuh, memegang pundak si sulung lalu mengusak rambutnya. Membenahi sebentar kacamata yang tersangga di hidung kemudian memberi senyum hangat. "Kakak belum makan malam. Makan dulu, ya?"

"Nanti saja, Dad. Setelah belajar."

"Ini sudah sangat malam. Sudah pukul 10, belajarnya besok lagi."

"Tapi.." belum sempat Jesper menyelesaikan sanggahannya, Chanyeol terburu membawa si sulung dalam pelukan penuh penyesalan.

"Maaf ya sudah marah pada kakak. Daddy yang salah, tidak seharusnya Daddy memarahi kakak."

"Tidak, Dad. Jesper saja yang tidak pintar hingga dapat nilai jelek."

"It's okay, baby. Untuk sekali waktu kau bisa dapat nilai jelek sebagai pembelajaran." Pelukan itu di lepas, tapi Jesper masih menggantung tangan di sekitar leher Daddy seperti pelukan rindu yang tak ingin dilepas. "Lain waktu kakak bisa kan dapat nilai bagus?"

Jesper mengangguk, lalu di memeluk Daddynya lagi. "Jesper pasti dapat nilai bagus besok."

"Good, baby. Sekarang makan, ya?" Alih-alih mengambil piring yang di bawa Chanyeol, Jesper justru membuka lebar mulutnya untuk satu suapan dari Daddy. "Okay, karena Jessie yang biasa disuapi, malam ini khusus kakak yang disuapi."

Keduanya lalu masuk ke kamar dan duduk untuk makan malam yang terlambat.

Perdamaian sudah tergenggam, menyisakan satu euforia menyenangkan dua pria berbeda generasi itu menikmati waktu mereka bersama.

"Kak, Daddy punya sesuatu."

"Apa?"

"Lihat ini." Chanyeol mengeluarkan ponsel dari saku piyamanya, memutar sesuatu di sana dan Jesper mengerutkan alis untuk sesuatu yang asing di layar.

"Apa itu, Dad?"

"Ini namanya camping-set."

"Camping?"

"Ya, camping. Membangun tenda, tidur di alam, itu namanya Camping."

"WOW!" Jesper berseru nyaring.

"Sstt. Jangan keras-keras, nanti Mommy dengar."

"Kenapa kalau Mommy dengar?"

"Bisa bahaya. Daddy membeli alat camping ini seharga 1 tas koleksi Mommy dan Mommy tidak tahu jika Daddy membeli ini semua."

Dan Baekhyun yang ada di dalam kamar mendadak merasakan hidungnya gatal.

-END-

JACKSON

"Mom,"

"Yes, Jack?"

"Kenapa Daddy memanggil Mommy dengan 'baby'?"

"Emm..itu seperti panggilan kesayangan. Why?"

"Kesayangan itu ketika Mommy dan Daddy saling suka ya?"

"Ya, bisa seperti itu. Kenapa?"

"Tidak." Jackson menyembunyikan senyumnya, menyisir lagi rambutnya yang sudah klimis lalu pergi dengan tangan ia masukkan ke celana. "Jack pergi dulu, Mom."

"Eh, mau kemana?"

"Mau ke rumah Baby."

"Baby? Siapa itu?"

"Lauren, tetangga baru kita."

.

"Hai," Jackson mengulurkan tangan, menyuguhkan senyum terbaik untuk anak perempuan berambut panjang dan coklat itu. "Jackson. nama kamu siapa?"

"Lauren." Jabatan itu di terima. "Kamu anaknya Aunty Baekhyun kan? Adiknya Jesper?"

"Yes."

Lauren adalah tetangga baru yang pindah minggu lalu. Saat awal mengetahui, Jackson mendadak tidak bisa melepas pandang pada Lauren yang selalu murah senyum.

Wajah Lauren cantik, rambutnya kecoklatan dan kulitnya seputih susu Mommy.

"Jackson juga tampan ternyata." Jackson senang dengan pujian itu, terutama keluar dari bibir Lauren. "Bahkan lebih tampan dari Jesper." Dan Jackson lebih senang lagi dengan pujian itu.

Selain cantik, Lauren juga anak yang ramah. Lauren selalu menanggapi semua yang Jackson katakan saat bermain.

"Kak Lauren," Jackson menarik tangan Lauren yang kala itu sedang bermain dengan Jessie. "Aku punya banyak robot di kamar. Kakak mau lihat?"

"Wah, benarkah? Aku mau!"

Dengan langkah lelaki yang selalu Jackson perhatikan dari Daddy, dia menuntun Lauren ke kamarnya yang memiliki gantungan The Card di depan pintu. "Ini kamar Jackson."

"Besar, ya? Jackson tidak tidur dengan Mommy-Daddy?"

Jackson menggeleng, telunjuknya juga melakukan hal yang sama dan mengusak rambut setelahnya. "Jackson sudah besar. Bahkan Jackson tidak tidur dengan Kakak Jesper."

"Benarkah? Wah! Jackson pintar!"

Ayolah, Jackson benar-benar menyukai pujian itu dan dia rasa Lauren senang dengan anak lelaki yang tidur sendiri.

"Ini foto Jackson dengan kakak dan adik, ya?"

"Hm," Jackson mengangguk kecil dengan tangan ia masukkan ke saku, "Itu ketika kakak menangis habis di suntik."

Dalam foto itu memang Jesper sedang menangis karena terjatuh dari sepeda dan harus mendapat jahitan di lututnya. Sedang Jackson dan Jessie tersenyum di sampingnya.

"Foto ini boleh kubawa pulang? Lucu!"

"Tentu saja."

Dan saat itu Jackson yakin, Lauren ingin menyimpan fotonya untuk dilihat sebelum tidur.

.

Hampir setiap hari Lauren akan datang kerumah. Entah untuk bermain bersama Jessie atau meminjam buku Jesper untuk dibaca. Tapi Jackson mengartikan hal lain. Dia pikir Lauren hanya mencari-cari kesempatan untuk menemuinya. Hah! Anak perempuan zaman sekarang memang penuh modus-batik Jackson.

Dan sekali waktu Jackson akan menunjukkan tumpukan album foto. Memberitahu Lauren tentang keluarga besarnya agar kelak ketika ada pertemuan keluarga, gadis itu tidak canggung. Dari situ lagi-lagi Lauren mengatakan ingin membawa pulang satu foto, foto dimana Jackson, Jesper, Jessie dan Mom-Dad sedang bersama pada album khusus keluarga inti. Jackson pikir itu Lauren lakukan sebagai kedok menyimpan fotonya. Sebenarnya setiap anggota keluarga memiliki satu album khusus, tapi sayangnya milik Jackson sedang dibawa nenek. Jadilah dia tidak bisa memberi Lauren fotonya seorang diri dan membiarkan saja tiap foto yang ada keberadaan Jackson diambil untuk disimpan Lauren.

Lalu setiap tiba pukul 8 ketika Daddy datang bersama kakak Jesper yang pulang dari les, Lauren akan berpamitan pulang. Jackson melihat ada yang aneh. Lauren tak banyak bicara dan dia akan pulang dengan senyum tersembunyi. Hal itu tak berlangsung sekali, setiap ada kakak Jesper yang belakangan dekat sekali dengan Daddy, Lauren akan menunjukkan jenis senyum itu.

Hingga hari itu tiba, hari dimana Jackson mendapat kenyataan terburuk dari semua harapannya pada Lauren yang cantik.

Lauren menunjukkan suatu buku. Ada potongan-potongan foto yang membuat hati Jackson lemas. Pada halaman pertama ada potongan foto kakak Jesper dan Daddy. Foto Jesper dicoret dan foto Dad diberi tanda crayon pink.

DADDY? Tunggu!

Dan puncaknya adalah ketika Daddy pulang bersama Mommy dari rumah teman, Lauren malu-malu menyerahkan buku itu. Kepalanya tertunduk malu, setelahnya dia berlari pulang dan membuat Mom-Dad kebingungan.

Tidak usah ditanya apa isi buku itu. Jackson sudah melihatnya. Bukan hanya berisi potongan foto Daddy, tapi juga sebuah tulisan "I LOVE JACKSON'S DADDY" yang membuat Mom-Dad tertawa gemas. Sayangnya Jackson tak memiliki reaksi itu. Tubuhnya mendadak lemas, hatinya-pun mengalami hal yang sama.

-END

.

.

Basyot : sebenarnya ini udah posting di ig saya parkayoung_ , cuma ada yang minta di post lagi di ffn yasudah saya post disini hehe..

Ini cuma tulisan iseng sambil nunggu jodoh aja sih, jangan dibawa serius ya hehe

Namanya juga anak2 hihi.. saranghaeyoooo