PERHATIAN!

Ff ini terdapat unsur kekerasan, hubungan sesama jenis. Typo dimana-mana. Bahasa yang bercampuran. Non fujo atau homophobic atau anti chanbaek dilarang baca.

NO COPAST

NO REPOST

NO PLAGIAT

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Choi Minho

Kang Soyou

Kang Seulgi

Kang Minhyuk

Nam Joohyuk

Bae Irene

and others.

..

.

Homoluya

About Us

Chapter 2

..

.

Nyatanya mencintai seseorang adalah kesalahan bagi sosok mungil yang kini sedang menangis di kamarnya. Menjadi kesalahan terbesar selama hidupnya karena mencintai pria seperti Jongin, menyesal karena terlalu mempercayai apa yang Jongin ucapkan.

PRANGGGG

Vas bunga dan kaca pada meja riasnya pecah. Ia juga mengacak-acak meja riasnya.

"Argh! Kim Jongin sialan. Brengsek," umpatnya dengan raut wajah dingin.

"Byun Baekhyun," ucapnya dengan penuh penekanan. Ia membenci nama itu. Karena nama itu, orang yang ia cintai mengkhianatinya.

Ia menyeka air matanya secara kasar.

Dengan segera ia bangkit, menemui ayahnya yang berada diruangannya. Ia mempunyai sebuah rencana yang ingin katakan kepada sang ayah.

Ia berjalan melewati lorong istana Kerajaan Earthsea. Ketika akan memasuki ruangan sang ayah, banyak beberapa prajurit yang sedang berjaga. Bukan tanpa alasan banyak yang prajurit didepan kamarnya, ayah si mungil ini merupakan Jendral di Kerajaan Earthsea.

"Apakah Jendral ada didalam?" tanyanya kepada prajurit.

"Jendral ada didalam. Baru saja kembali dari ruangan Paduka Raja," jawab seorang prajurit.

Si mungil mengangguk lalu membuka pintu dan berjalan menemui ayahnya yang kini sedang berdiri di balkon kamarnya. "Ayah," panggilnya.

Sang Jendral menoleh dan tersenyum, "Kyungsoo-ya."

Si mungil Kyungsoo mendekati sang ayah, "Apa aku mengganggu ayah?"

Sang Jendral, Do Yunho menggeleng, "Ada apa soo-ya?"

Kyungsoo tidak langsung menjawab. Ia terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan tentang rencana yang telah ia susun dan berharap sang ayah membantunya.

"Ayah, ada yang ingin aku katakan,"

"Izinkan aku membawa prajurit dan menyerang Kerajaan Binkley."

Hening.

Jendral Do tidak memberikan respon.

"Ayah," panggil Kyungsoo.

Jendral Do berdecih, "Kau pikir kau siapa Kyungsoo?" ucapnya dengan nada yang terkesan sangat dingin.

Kyungsoo kaget mendengar respon sang ayah. Ia pikir ayahnya akan mendukung rencananya.

"Ingat lah derajatmu Kyungsoo. Kau ini hanya anak Jendral bukan anak seorang Raja yang bisa kapan saja menyerang kerajaan lain. Lagipula untuk alasan apa kau meminta izin padaku untuk menyerang Kerajaan Binkley?"

"Aku ingin membunuh Raja Binkley. Ia telah mengkhianatiku ayah. Ia berkata padaku bahwa ia hanya akan menikahiku jika aku seorang pangeran,"

'Tidak kah ayah tahu apa yang aku rasakan saat ini?" tanya Kyungsoo dengan raut wajah sendunya.

"Aku tidak peduli,"

"Aku membawamu kesini untuk berperang melawan Kerajaan Blackpearl bukan Kerajaan Binkley." Setelahnya Jendral Do berbalik, berjalan meninggalkan Kyungsoo yang kini tengah menatapnya.

"AYAHHH. AKU INI DI KHIANATI OLEH RAJA BINKLEY. AKU TIDAK PEDULI DENGAN ATAU TANPA IZIN AYAH, AKU AKAN MENYERANG KERAJAAN BINKLEY." Ucap Kyungsoo dengan menggebu-gebu.

Jendral Do mengepalkan tangannya, "ITU SALAHMU SENDIRI. AKU TIDAK PERNAH MENYURUHMU MENCINTAI RAJA BINKLEY. JIKA KAU MASIH BERSIKERAS MENYERANG KERAJAAN BINKLEY. MALAM INI AKU AKAN MEMBAWAMU KEMBALI KE YUNANI."

"APA?! AYAH AKU TIDAK INGIN KEMBALI KE YUNANI," protesnya.

"AYAHH!" panggil Kyungsoo kepada sang ayah yang kini berjalan menjauhinya.

Kyungsoo mendesah frustasi. Ia tidak mengerti, mengapa sang ayah seperti ini terhadapnya. Apa salahnya hanya memberi izin membawa prajurit untuk berperang. Sejenak terlintas dalam pikirannya bahwa sang ayah takut kepada Raja Earthsea. Ia berpikir bahwa sang ayah terlalu patuh pada Rajanya. Terlalu mengkhawatirkan kedudukannya dalam Kerajaan ini.

Kyungsoo menyeringai, "Jika ayah takut pada Raja Earthsea, aku akan membunuh sang Raja. Agar ayah tidak mengkhawatirkan apapun lagi. Sehingga aku dapat dengan bebas memerintah prajurit karena aku adalah Pangeran bukan lagi anak seorang Jendral yang menikah dengan pelayan istana."

Iya benar, bahwa Kyungsoo atau Do Kyungsoo merupakan anak dari Jendral dan pelayan istana. Ucapan Jongin saat itu tidaklah salah. Hanya saja Jongin tidak tahu bahwa ayahnya kini sudah menjadi Jendral bukan prajurit atau pelayan istana.

Dulu, memang benar bahwa Kyungsoo adalah anak dari pelayan istana tapi saat ini, ia adalah anak dari seorang Jendral yang mana ia sendiri kini mengusai berbagai seni perang seperti ayahnya. Berperang bukanlah hal tabu baginya. Karena selama 4 tahun ini ia sudah sering kali pergi ke medan perang. Berperang untuk merebut beberapa Kerajaan.

Ia mengepalkan tangannya dengan perasaan yang begitu kesal.

"Tanpa bantuan ayah pun aku bisa membunuhnya dan akan ku pastikan, Kim Jongin akan mati ditanganku," desisnya.

..

.

Sebuah gapura dibangun di pusat kota. Sepanjang jalanan pusat kota terdapat berbagai macam hidangan yang lezat. Juga tak lupa jika tempat ini disulap menjadi sebuat festival yang terdiri dari berbagai keberagaman permainan musik, para gadis yang menari dan yang terpenting adalah disini banyak sekali berbagai masakan yang dihidangkan. Dan tentunya kalian bisa makan sepuas yang kalian inginkan.

Si mungil menatap festival tersebut dengan binar mata yang terlihat kagum, "Woah aku tidak menyangka pusat kota bisa seindah ini." Gumamnya sambil melihat sekeliling

Chanyeol yang berada disebelahnya hanya menggelengkan kepalanya, "Jangan memasang wajah seperti itu, kau itu seperti baru pertama kali saja pergi ke festival. Kau terlihat norak, Luhan." Ledek Chanyeol.

Yang diledek menoleh kearah Chanyeol mempoutkan bibirnya, tak lupa memukul lengan pria itu. "Ish! Kau itu menyebalkan sekali sih,"

"Jangan menjadi orang yang menyebalkan, nanti tidak ada yang mau denganmu tahu rasa."

Chanyeol tertawa.

"Yak, kenapa kau malah tertawa," kesal Luhan.

"Kau itu lucu sekali sih, aku ini tampan. Banyak yang mengantri untuk menjadi kekasihku," ujar Chanyeol dengan nada yang ia buat sesombong mungkin, tak lupa dengan membusungkan dadanya.

Luhan memutar bola matanya malas, "Sesuka kau saja, ayo temani aku berkeliling," ajak Luhan.

Chanyeol mengangguk.

Mereka berdua berjalan berdampingan, tak lupa dengan lengan Chanyeol yang dipeluk oleh Luhan. Jika orang lain melihatnya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Yang satu tampan dan yang satu cantik. Padahal jika mereka tahu bahwa Chanyeol dan Luhan adalah lelaki, mungkin mereka akan terkejut.

..

.

Satu kereta kuda dan dua ekor kuda berhenti di depan gapura festival. Satu orang yang berada dalam kereta kuda keluar dan melihat keadaan sekeliling memastikan apakah tempat yang mereka datangi aman atau tidak.

"Baekhyun, ayo keluar. Kita sudah sampai," ucap lelaki yang memakai jubah coklat.

"Benar sudah sampai?" tanya Baekhyun yang hanya menyembulkan wajahnya di pintu kereta kuda yang ia naiki.

Lelaki yang berjubah coklat –Sehun– mengangguk. Ia mengulurkan tangannya kepada Baekhyun.

Jemari panjang nan lentik milik Baekhyun menggengam jemari hangat Sehun. Baekhyun turun dari kereta kudanya. Kemudian ia melihat kesekeliling.

Tempat festival ini sungguh indah. Banyak hiasan-hiasan yang menggantung yang membuat Baekhyun terpukau. Pasalnya, ini pertama kalinya ia datang ke acara festival di Kerajaannya.

Baekhyun menoleh ke arah Sehun, "Ayo kita berkeliling, aku ingin melihat-lihat barang-barang unik disini," ajak Baekhyun.

Sehun tersenyum lalu mengangguk.

Mereka berdua mulai menelusuri sepanjang jalan festival ini. Banyak beberapa hal yang membuat Baekhyun terpukau. Bahkan ia tak ada henti-hentinya berkata,

"Ini indah sekali,"

"Whoaaa,"

"Lucu sekali,"

Sehun yang mendengar kata seperti itu hanya menggelengkan kepalanya.

Kemudian secara tiba-tiba, Baekhyun berhenti disebuah tenda yang dimana terdapat benda unik dan lucu, dimana yang membuat seorang Byun Baekhyun memekik senang.

"Hunna, ayo kita lihat-lihat," ajak Baekhyun dan langsung menarik lengan Sehun.

"Ada yang ingin kau beli?"

"Iya, kau lihat kan alat panah itu? Aku ingin membeli itu. Ukirannya begitu unik," Baekhyun mengatakannya sambil menunjuk alat panah itu dengan semangat.

"Baiklah ayo kesana, sebelum seseorang mengambilnya," Dan Baekhyun hanya mengangguk.

Mereka berdua berjalan menghampiri tempat dimana alat panah itu disimpan. Namun, ketika Baekhyun akan mengambilnya seseorang sudah memegang alat panah tersebut.

Ia mendengus kesal, "Tolong berikan itu padaku," ucap Baekhyun kepada dua lelaki yang kini tengah membekanginya.

Dari sudut pandanganya, ia bisa melihat bahwa kedua orang lelaki tersebut bukanlah dari keluarga Kerajaan. Itu terlihat dari pakaian yang mereka kenakan. Terlihat biasa dan sederhana. Tidak seperti pakaian miliknya dan Sehun yang begitu terlihat mewah.

Perlahan sudut bibir tertarik, membuat sebuah senyuman miring.

"Ku bilang tolong berikan itu padaku," nada yang Baekhyun gunakan cukup keras, membuat Sehun dan kedua lelaki yang membelakanginya terkejut serta langsung membalikan tubuhnya.

"Maaf ada apa?" tanya pemuda mungil yang kini sedang menatap ke arah Baekhyun.

"Aku ingin, lelaki yang disampingmu memberikan alat panah itu kepadaku," perintah Baekhyun.

"Tapi… Chanyeol duluan yang mengambilnya. Jadi itu milik Chanyeol. Lagipula, kau ini siapa? Seenaknya memerintahku?" ketus pemuda mungil tersebut.

Chanyeol yang melihat itu, buru-buru meminta maaf. "Maafkan kami. Maaf atas kelancangan sahabatku, Luhan."

Luhan mendeklik, "Yak, kenapa kau meminta maaf Chanyeol-ah?" pekik Luhan tidak suka.

"Cepatlah, kau ingin memberikan benda itu padaku atau tidak? Jangan membuang-buang waktuku," keluh Sehun yang sedari tadi memperhatikan Chanyeol dan Luhan.

"Sebelumnya saya minta maaf, tapi benda ini adalah miliku, saya yang pertama kali mengambilnya," ucap Chanyeol dengan tegas.

Baekhyun yang mendengarnya kesal, "Benar-benar. Kau menguji kesabaranku hah?"

Sehun yang tahu Baekhyun akan murka, segera menggenggam tangan Baekhyun. Mencoba menghentikan apa yang akan Baekhyun katakan nantinya. Juga ia tidak ingin terjadi perkelahian disini. Karena yang Sehun tahu, jika sudah seperti ini, Baekhyun akan lupa segalanya, ia bisa saja menghabisi siapapun yang tidak menuruti perintahnya.

"Sebaiknya kalian berdua cepat pergi dari sini," perintah Sehun.

Luhan yang mendengar itu, langsung saja menarik Chanyeol, menjauhi dua oarang itu.

Setelah kepergian Luhan dan Chanyeol, Baekhyun mendengus kesal dan mendorong tubuh Sehun. "Kenapa kau membiarkan mereka pergi Sehun? Aku ingin sekali menghabisi si Chanyeol itu."

"Sudahlah Baek, kau jangan marah-marah seperti ini. Lebih baik kita pergi dari sini dan ayo kita kunjungi tempat-tempat yang ada di festival ini," ajak Sehun.

Baekhyun menghela nafas, "Ya baiklah."

..

.

Kini Chanyeol dan Luhan sedang duduk disebuah atap rumah kosong yang berada diseberang festival. Dari atas sini mereka berdua bisa melihat kerlap-kerlip festival tersebut.

"Wah indahnya," seru Luhan.

Chanyeol tersenyum lalu mengusak rambut Luhan. "Kau terlihat sangat senang hari ini," ujar Chanyeol.

"Tentu saja. Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana ramainya festival, juga aku bisa berjalan berdua denganmu. Kau tahu? Aku ini sudah lama memimpikan akan seperti ini denganmu," Luhan menoleh, menatap Chanyeol, lalu tersenyum.

"Aku juga sama sepertimu, memimpikan hal ini denganmu dan akhirnya mimpi itu terwujud."

"Chanyeol, yang tadi di festival itu siapa? Kenapa kau meminta maaf kepada mereka?" tanya Luhan penasaran.

Chanyeol tidak langsung menjawab. Ia mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan, "Mereka itu pangeran Kerajaan Blackpearl."

Luhan terkejut. "Kau serius?"

"Tentu saja aku serius. Lagipula untuk apa aku berbohong padamu."

"Iya mana mungkin kau berbohong padaku. Kau kan selalu jujur," Luhan terkekeh setelah mengucapkan itu.

"Chanyeol, tadi aku melihat tatapan pemuda mungil itu seperti ingin membunuhmu. Apa kau punya masalah dengannya?"

Chanyeol terdiam.

"Benar kau punya masalah dengannya?" tanya Luhan sekali lagi.

"Ya aku punya masalah dengannya."

"Masalah apa? Kau tidak melakukan pelecehan seksual kepadanya kan?" tuding Luhan.

Chanyeol menoyor kepala Luhan. "Kau itu bodoh atau apa? Mana mungkin aku melakukan pelecehan kepadanya."

Luhan mengaduh lalu mengusap kepalanya, "Sakit bodoh. Kau ini jahat sekali sih."

"Aku tidak akan meminta maaf asal kau tahu."

Luhan berdecih, "Iya aku tahu, lagipula aku tidak akan menerima permintaan maafmu."

"Kau jadi cerita atau tidak sih?"

Chanyeol tertawa. "Nanti saja besok aku ceritakan. Nah sekarang, ayo kita pulang. Sudah malam, nanti aku dimarahi ayahmu."

"Ish, aku belum mau pulang Chanyeol. Aku masih ingin disini~" rengek Luhan.

Chanyeol memutar matanya malas, "Tidak bisa Luhan, disini sudah ada peraturan tertulis bahwa kita tidak boleh keluar dari perbatasan lewat dari jam 10 malam. Sekarang sudah setengah sepuluh malam," jelas Chanyeol.

Luhan mendengus kesal,"Ya sudah, ayo kita pulang." Ajak Luhan.

"Besok aku akan menemanimu lagi Luhan, kau datang saja ke rumah ku, besok aku akan meminta ibuku membuatkan kue beras untukmu," Chanyeol mencoba membujuk Luhan agar ia tidak marah padanya.

Mata Luhan berbinar, "Baiklah baiklah, kau ini memang selalu bisa merayuku ya? Ya sudah mari kita pulang~~"

Dan Chanyeol hanya bisa terkekeh.

..

.

Tbc

...

..

.

Jangan lupa review nya ya:)

Semoga kalian suka sama ff ini ya.

Maaf banget banyak dialognya dibanding sama narasinya hehe.

Tq.