Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia
Fanfiction by widzilla
WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.
You've been warned! Don't like, don't read!
Cats Story
.
.
.
Sebuah kota kecil tertutupi kabut putih serta hujan deras di sore hari. Semua orang yang terlambat untuk berteduh berlarian dengan hati-hati. Jalanan begitu sepi pejalan kaki. Beberapa pengguna sepeda dan kendaraan lain ada yang berjuang meneruskan perjalanan mereka agar cepat sampai tujuan. Namun ada juga yang berteduh karena merasa terlalu berbahaya menembus tirai hujan yang deras.
Seorang remaja berlari dari satu gedung ke gedung yang lain. Ia terburu meski tahu tubuhnya telah basah kuyup. Berharap setidaknya bisa sampai ke rumah dengan selamat meski harus bermandikan air hujan. Pada akhirnya ia menyerah dan berteduh di depan sebuah toko roti.
Hanya berbekal tas ransel yang menjadi payungnya―membuat ia menyesali akan kebiasaanya lupa sesuatu.
"Aduuuh, semakin deras! Aku berteduh dulu saja! Hhh, kenapa aku ini selalu lupa bawa payung, sih!"
Boboiboy namanya―seorang gadis remaja berambut hitam pendek dengan highlight putih menghias. Kini tengah memeras ujung rok dan jaketnya karena telah nekat berlari menembus hujan yang jatuh ke bumi dengan deras tanpa ampun. Tubuhnya gemetar―menggigil.
"Myaaang…"
Di antara suara hujan yang menderu di atas aspal, suara terdengar parau nan mungil berasal dari sebuah kardus di bawah atap toko yang melindungi dari air hujan.
Ada empat anak kucing saling bertumpuk di situ. Saling meringkuk melindungi saudara-saudaranya yang lain dari dingin. Boboiboy terkejut melihat kumpulan bulu yang menggigil kedinginan. Ia berjongkok. Dirinya yang penyayang kucing membuat tak tega melihat pemandangan manis yang menyedihkan itu.
"Aduh, kasihan… mereka pasti kedinginan. Di mana induknya…?"
Seseorang keluar dari toko roti. Di tangannya ada semangkuk susu dan paruhan roti.
Boboiboy terkesiap, "A-apakah anda pemilik anak-anak kucing ini?"
Wanita tersebut tersenyum lemah sambil menggeleng menaruh mangkuk dan roti di tangannya dalam dus berisi anak-anak kucing di dekat Boboiboy berjongkok.
"Sayang sekali aku bukan pemilik mereka. Aku ingin sekali menyelamatkan anak-anak kucing malang ini. Tapi aku tak bisa membawa ke apartemenku karena dilarang memelihara binatang di sana. Dan aku tak bisa membawa mereka masuk ke dalam toko roti ini karena bos-ku alergi kucing dan takut bulu mereka menempel di roti."
Boboiboy kembali memandangi anak-anak kucing yang masih meringkuk kedinginan tak memedulikan mangkuk susu dan roti di dekat mereka.
"Ke mana induk mereka?"
"Aku tak tahu. Anak-anak kucing ini dibuang. Tak pernah ada induk kucing yang mengunjungi mereka."
Boboiboy semakin iba. Sang wanita menawarkan gadis berusia lima belas tahun itu untuk berteduh di dalam, tapi Boboiboy menolak dengan halus.
"Aku telepon ibu saja. Mungkin ada yang bisa menjemputku." Dari tasnya, Boboiboy mengeluarkan handphone dan memijit nomor telepon rumahnya.
"Halo, ibu… Aku baru pulang les tapi tiba-tiba hujan deras… iya, aku sedang berteduh di toko roti dekat gedung les… Baik, aku tunggu, yah. Terima kasih, bu."
Beberapa saat setelah Boboiboy memasukkan handphone-nya ke dalam tas, ia kembali berjongkok dan menimang-nimang perasaan iba di hatinya.
"Ooh, ayolah… aku sudah punya tiga ekor kucing di rumah… Masa mau nambah lagi…"
Suara ngeong para kucing-kucing kecil terdengar lemah. Terlebih tubuh mungil mereka bergetar karena dingin.
Dinginnya udara sama sekali tak memberi toleransi pada gadis yang masih berjongkok memandangi keempat ekor kucing mungil di kardus.
Di sebuah rumah dengan gaya Eropa berwarna putih yang megah dalam sebuah komplek, ada jendela yang tertutup di lantai dua―tapi kacanya yang bening memerlihatkan pemandangan di dalamnya.
Tiga ekor kucing yang sudah agak dewasa tengah bermalas-malasan di sebuah kamar.
Salah satunya berwarna belang hitam-putih. Dengan kaki-kaki lembutnya yang seperti mengenakan kaus kaki putih, sedang asyik memainkan mainan kucing. Mata biru si kucing berkilat ceria. Kalung warna biru bertuliskan 'Taufan' di lehernya bergemerincing riang.
Satunya yang berwarna belang kecoklatan dengan kalung kuning bertuliskan 'Gempa'―kalem memandangi sebuah buku yang terbuka di hadapannya. Mata keemasannya dengan sabar memandangi tulisan-tulisan di halaman buku. Orang-orang akan menilai Gempa bisa membaca jika melihatnya langsung.
Sedangkan yang satu lagi, berbulu hitam pekat nan lebat, bermata ruby dengan sorot tajam. Kalungnya merah bertuliskan 'Halilintar'. Ia nampak kalem duduk di pinggir jendela yang menampakkan pemandangan berkabut karena derasnya hujan di luar.
Suara derap langkah terdengar membuat kepala dan telinga ketiga kucing itu terangkat. Mereka langsung mendekati pintu―tahu siapa yang datang.
"Meoooong… meooong… meoooong…!"
Boboiboy membuka pintu membawa sebuah kardus besar di tangan―disambut ngeongan rindu para kucing-kucingnya.
Ia hati-hati melangkah karena bajunya yang basah kuyup menetes-netes di lantai membuat para kucing terkejut terciprat air.
Perlahan-lahan Boboiboy meletakkan kardus di lantai dekat meja belajarnya.
"Hai―Hali, Taufan, Gempa! Aduh, maaf… aku tadi kehujanan. Aku ganti baju sebentar, yah!"
Kardus yang dibawa sang majikan mengundang rasa penasaran ketiga kucing di kamar. Mereka mengendus-endus dan agak berjarak pada dus itu.
Dengan cepat Boboiboy mengeringkan tubuh dan rambut setelah menggantung bajunya yang basah kuyup. Sweater putih kini membalut dan menghangatkan tubuhnya.
"Nona, saya bawakan teh panas dan cemilan untuk anda."
"Oh, terima kasih, bibi."
Seorang pelayan membawa nampan serta perangkat teh―menaruhnya dengan hati-hati di meja dekat jendela karena Taufan terus-terusan mengendus makanan yang dibawa pelayan itu. "Taufan, ini buat nona. Jangan dimakan, yah."
Si kucing mengeong membuat sang pelayan tersenyum―mengelus kepala Taufan sebelum pamit keluar dari kamar Boboiboy.
"Nah, ada yang ingin kukenalkan pada kalian."
Dengan hati-hati, Boboiboy membuka kardus dan mengeluarkan isinya perlahan.
Empat ekor anak kucing membuat kaget dan heran tiga ekor kucing dewasa lainnya.
Empat ekor anak kucing kecil berwarna oranye, putih keabu-abuan, coklat belang gelap, dan putih dengan belang oranye.
Ada pendatang baru.
Ada teman baru.
Ada adik baru.
.
"Myaaaang myaaaaang myaaaang!"
"Miiii miii miii!"
"Myaaaw myaaw myaaaw!"
"Miaaaw miaaaaw miaaaaw!"
.
Taufan dengan segera mengendus-endus empat anak kucing itu satu per satu dan mengajaknya bermain. Tentu saja mendapat teguran dari Boboiboy karena keempat anak kucing itu masih terlalu lemah untuk banyak bergerak.
"Taufan, mereka masih kecil. Kau harus lembut, yah."
Gempa ikut mengendus-endus mereka. Beberapa dari anak kucing mendekatinya dan mencari kehangatan. Gempa sama sekali tak protes atau menghindar. Ia tahu anak-anak kucing itu kedinginan. Salah satunya yang berbulu coklat belang gelap ternyata terciprat sedikit air hujan ketika masih di dalam kardus tadi. Gempa menjilati kepala si kecil dengan sabar dan telaten.
Sementara Halilintar agak menjauh. Ia bingung dan canggung mendapati anak-anak kucing baru di kamar majikannya.
Apa ini? Siapa ini? Dari mana ini?
Jelas sekali Hali agak menolak kehadiran para pendatang baru mungil itu.
Boboiboy tersenyum―tahu hal itu akan terjadi. Tentu saja ia tahu jelas sifat para kucing-kucing peliharaannya.
Dengan lembut, Boboiboy memeluk Halilintar dan mengelusnya agar tenang.
"Hali, ini adik-adik baru untuk kalian. Tolong jaga mereka, yah. Kasihan mereka kedinginan di dalam kardus. Dibuang sebatang kara dan kelaparan di pinggir jalan."
Halilintar masih ragu. Namun akhirnya ia melepaskan diri dari pelukan majikannya dan berjalan perlahan―mengendus salah satu dari anak kucing yang terus mengendus-endus tempat baru mereka.
"Baiklah! Aku sudah memikirkan nama untuk mereka di mobil tadi. Yang putih dengan belang oranye ini kunamakan Solar. Yang coklat belang gelap ini kunamakan Thorn―lihatlah matanya yang hijau terang! Cantik, yah! Nah, yang berwarna putih keabu-abuan ini―astaga aku selalu berpikir dia mati, tapi ternyata hanya tidur. Baiklah, dia kunamakan Ice. Dan yang berwarna oranye. Dia yang paling―"
"Myaaaaaaaaang! Myaaaaaaang! Myaaaaaaaaaaaaaang!"
"―yang paling cerewet ini kunamakan Blaze."
Boboiboy tertawa melihat Blaze terus mengeong. Sepertinya ia mulai lapar.
"Selamat datang di rumah baru kalian."
Ikan sarden rebusan akhirnya habis disantap para anak-anak kucing. Mereka kini tertidur dengan lelap di dalam keranjang beralaskan bantal dan selimut. Menikmati hangatnya rumah baru mereka. Dengan tiga pengasuh mereka yang baru. Bersama sang majikan yang sangat menyayangi para kucing-kucing manis di kamarnya itu.
Tak diduga, beberapa saat kemudian empat kucing kecil terbangun dan mendekati tiga kucing dewasa lainnya.
"Dingin―apa boleh aku tidur di ekormu?"
"Ng, yah―asal kau tak menggigitinya."
Si kecil oranye melompat mengejutkan Hali dan meringkukkan tubuhnya dalam pelukan si kucing hitam. "Kau hangat sekali. Siapa kau?"
"E-eh, aku Halilintar―panggil saja aku Hali."
"Ummm―Hali… Terima kasih sudah mengijinkanku tidur di sini."
"Sama-sama, Blaze."
"'Blaze'? Apa itu? Apa itu enak?"
Si kucing hitam tertawa kecil. "Itu namamu dari Boboiboy. Gadis yang sudah menyelamatkanmu tadi bernama Boboiboy. Dia majikan kita. Tugas kita adalah menjaganya."
"'Blaze'—Jadi sekarang aku akan dipanggil 'Blaze'?"
"Ya, apa kau tak suka nama itu?"
"Suka! Suka sekali!"
Si mungil semakin mengeratkan tubuhnya di bulu hangat Hali. Meski pada awalnya canggung, Halilintar tak menolak keberadaan Blaze di dekatnya.
"Ung—aku… ngantuk…"
"Tidurlah, kau pasti lelah."
Hali menjilati kepala dan tubuh si mungil yang sedikit menggigil hingga akhirnya lebih tenang. Blaze kini menemukan kehangatan di sisi pengasuhnya yang baru.
"Mmm—hangat… mmm… Mama… Hali… zzz—"
Hali terkejut mendengar panggilan dalam igauan kucing kecil di sampingnya. Ia sedikit canggung mendengarnya.
"Manis sekali."
"Kurasa anak-anak ini memang butuh kita untuk mengasuh mereka."
Taufan dan Gempa juga membiarkan Solar, Thorn, dan Ice tertidur dalam kehangatan di balik bulu kucing-kucing yang lebih dewasa itu.
"Ta-tapi… aku bukan 'Mama'—"
"Sssh—mereka sudah tidur." Gempa menjilat sedikit kepala Thorn yang telah lelap.
"Hei, lihat yang ini. Dia bahkan sudah bermimpi."
Mereka terkekeh kecil melihat Ice menggoyang-goyangkan kaki-kaki mungilnya dengan nyaman dalam pelukan Taufan. Solar yang berada di sampingnya sedikit terganggu, maka Taufan agak membuat jarak di antara dua kucing mungil itu dengan kakinya yang bagai kaus kaki putih lembut.
Hali menghela napas.
Entah akan ada kisah apa dari kucing-kucing manis ini.
Mungkin ada kisah yang menunggu untuk diucapkan seperti nyanyian para kucing
tbc
