Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia
Fanfiction by widzilla
WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.
You've been warned! Don't like, don't read!
Their Love Story Begin...
.
.
.
Setahun sudah sejak anak-anak anjing kecil dipelihara Fang penuh kasih sayang.
Ketujuhnya masing-masing diberi nama oleh Fang setelah agak lama ia mengenal masing-masing sifat para anjingnya.
Tentu saja sebelum anak-anak Husky manis itu diberi nama oleh Fang, Kaizo kerap mengusili adiknya dengan memanggil anak-anak anjing tersebut seperti panggilan militer.
"Husky satu! Husky dua! Husky ti—!"
"Kaizoooo! Hentikaaaan! Ibuuuu! Kaizo usil lagiii!"
"Kaizooo! Jangan usili adikmu—! Umur sudah dua puluhan kok masih saja seperti itu, sih!?"
Si sulung tertawa puas. Tapi ia juga gemas melihat adiknya menjulurkan lidah sebal padanya. Kaizo terkadang tak bisa menahan diri untuk memeluk dan menggesekkan pipinya gemas pada pipi adiknya hingga Fang meronta-ronta.
Dan genap setahun itu Fang sudah mempersiapkan diri—tahu ia akan pindah rumah lagi.
Sebuah mobil melaju dengan lembut memasuki perumahan elit. Di dalamnya, seorang remaja bersurai biru gelap dan berkacamata tengah memainkan jemarinya pada layar smartphone. Menggeser-geser foto satu ke yang lain.
Foto-foto para anak-anak anjing husky yang amat sangat manis. Beberapa di foto itu ada dirinya sendiri tersenyum lebar―tengah dikelilingi tujuh ekor anak-anak anjing tersebut.
"Fang, kau nggak pusing memandangi layar itu terus?"
Di samping Fang, seorang pemuda lain bersurai ungu gelap dengan jarak usia yang cukup jauh tengah menyetir mobil yang mereka kendarai.
"Hmm, nggak." Jawab Fang asal-asalan sambil merenggangkan tubuhnya di dalam mobil yang cukup sempit.
"Aku masih belum percaya ayah naik pangkat jadi Jendral. Lalu orang sepertimu bisa jadi Kapten, Kaizo…"
"Heh, apa maksudnya 'orang sepertimu'?"
Jitakan halus mendarat di kepala Fang yang mengaduh sambil nyengir. Kaizo ikut menyunggingkan senyum―tahu adiknya sedang bercanda.
"Ngomong-ngomong ibu lagi menjemput ayah di bandara. Mereka akan sampai di rumah baru kita nanti malam setelah mengurusi segala pemindahan di kantor yang baru. Jadi nanti kita yang bikin makan malam."
"Ihhh, aku harus beradaptasi lagi di akademi khusus cowok yang baru. Kenapa sih akademi militer nggak digabung aja biar seru?"
Kaizo tertawa sinis mendengar keluhan adiknya. "Soalnya kalian nanti pacaran mulu. Bukannya jadi prajurit yang bener―malah pacaran."
"Huh, biarin! Aku mau masa remajaku seru! Biar nggak kaya' Kaizo―Jomblo melulu! Cari pacar sana! Masa umur udah 24 tahun belum ada niat nikah? Adikmu ini udah 15 tahun, yah―Udah bisa mandiri!"
Tanpa menoleh, Kaizo merangkul dan menarik kepala Fang―tak peduli meski ia sedang menyetir.
"Heh, aku udah bilang aku bakal jagain kamu sampe mati. Ga ada cerita aku bakal nikah."
"Adudududuh! Kamu' kan nggak perlu sampe segitunyaaaa!"
Kaizo tertawa sambil menciumi pipi adiknya dengan gemas sementara ia mendapat protes dari yang bersangkutan.
"Aaargh! Jangan ciumin pipiku! Ihhh! Sana nyetir yang bener!"
Kaizo melanjutkan tawanya sambil terus menghadap depan tanpa melepas setir mobil. Sementara Fang sibuk mengelap pipinya dengan ujung jaket yang ia kenakan.
Tak lama mobil mereka sampai di sebuah rumah megah dengan style minimalis modern dan sedikit campuran Asia di halamannya.
"Okeee—Kita sampai. Semua perabotan dan seisi rumah sudah selesai diatur. Tinggal barang-barang pribadimu masih dalam kardus, Fang." Kaizo menutup pintu depan mobil dan berdiri berkacak pinggang di samping pintu belakang mobil menghadap pintu garasi yang terbuka lebar.
"Yes! Aku senang bisa dapat kamar yang luas!"
"Ya, itu supaya kau bisa tidur dengan para raksasa-raksasa berbulu ini. Heheheh."
"Huh, asal menyalakan AC aku tak akan kepanasan."
Kaizo semakin nyengir lebar melihat Fang cemberut dan menjulurkan lidah padanya. "Salahmu nekat memelihara mereka semua."
"Soalnya mereka dulu sangat maniiiis! Mana mungkin aku memisahkan mereka dari saudaranya yang lain! Aku nggak tega!"
"Yaaa… yaaa…" Kaizo menghela napas panjang. "Oke, Fang. Siap? Aku akan melepaskan mereka dari mobil."
"Ng―mereka pasti masih jet-lag dan loyo karena di dalam mobil selama dua jam perjalanan' kan…?"
Keraguan Fang membuat abangnya semakin terkekeh. "Heheheh. Sayang sekali, aku tak yakin. Mereka Siberian Husky yang amat sangat sehat. Dan mereka sudah tak tahan berada di dalam mobil terlalu lama."
"Uuuh, baiklah. Buka pintu mobilnya."
KLEK!
Lima ekor anjing Siberian Husky berukuran besar dengan bulu mereka yang lebat menerjang keluar dari mobil bagian belakang begitu Kaizo membukakan pintu.
"GUK GUK GUK GUK GUK GUK GUK GUK GUK GUK GUK!"
Gonggongan dan lolongan terdengar nyaring seiring kelimanya menimpa tubuh majikan mereka yang masih berusia belasan.
"A-aduh! He-hei! Lust! Greed! Gluttony! Wrath! Envy! Su-sudah! Hentikan! Waaaa! Geliii!"
Kelimanya menjilat dan mengendus majikan mereka tanpa ampun. Kaizo tertawa lepas melihat adiknya kewalahan.
Seekor Husky yang lain turun dengan kalemnya dari mobil. Ia mengendus-endus tempat asing yang baru baginya itu.
"Selamat datang di rumah barumu, Pride." Kaizo menepuk-nepuk kepala Pride—kemudian melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
"Hey, Sloth. Ayo, turun. Kita sudah sampai."
Seekor Husky yang lain justru terlalu menikmati empuknya kasur di dalam mobil tanpa peduli di mana mereka sekarang berada. Tapi akhirnya ia menguap lebar dan keluar dari mobil dengan gontai―hingga akhirnya ambruk di belakang ban mobil dan kembali tidur.
"Astaga―Sloth, jangan tidur sembarangan lagi. Ayo, bangun!"
Geraman malas terdengar―membuat Kaizo mendesah kasar dan terpaksa mengangkat tubuh raksasa berbulu pemalas itu. "Uuuurgh! Fang… ufffh! Cepat bantu aku…!"
Fang yang akhirnya berhasil keluar dari serangan anjing-anjing peliharaannya langsung membantu Kaizo mengangkat sebagian tubuh Sloth yang dengan santai menikmati gendongan para majikannya.
"AAAAUUUUUUUUNGGG! AWAWAWAUUUUUUNG!"
"Iya, Gluuu! Sebentaaaar!"
"AWAWAWAWAUUUUUUNG!"
"Iyaaaaa! Akan kusiapkan makanan untukmu!"
Glu tak mendengar permintaan majikannya untuk menunggu. Ia justru mengais-ngais sebuah pintu lemari setelah mengendus-endus dan menyadari isinya―makanan anjing.
"Astaga―sebentar, Gluttonyyy!"
Begitu Sloth telah sukses ditempatkan di kamar khusus para anjing itu, Fang bergegas turun kembali ke bawah untuk menyiapkan makanan anjing.
"GRRRH! GUKGUKGUKGUK!"
"Wrath! Tenang! Jangan menggonggongi Greed! Greed, kau juga jangan serakah mengambil semua bantal, dong!"
Salah satu anjing mondar-mandir di kaki Fang meminta perhatian. "Iya, Envy―sebentar, yah. Kalian semua harus makan dulu. Sudah waktunya makan si―UFH! Envy! Aduuh, jangan manja begini, dooong!"
Fang kewalahan mendapat serangan dari Envy yang menabrakkan tubuhnya pada perut sang remaja―iri akan perhatian Fang pada saudara-saudaranya yang lain.
Pride―anjing yang paling kalem kembali dari menjelajahi rumah dengan mengendusnya. Ia bergabung dengan saudara-saudaranya untuk makan siang.
"Fang, kau mandi dulu sana. Bekas jilatan anjing gitu. Jorok." Kaizo mengenakan celemek di pinggangnya. "Aku masak nasi goreng aja, yah."
"Lah―kamu'kan memang bisanya cuma masak itu. Sebentar… Lust mana?"
Tak disadari Fang, salah satu Husky-nya tengah mengelilingi halaman. Ia melongok-longokkan moncongnya di tiap lubang pagar.
Lust begitu penasaran pada bangunan yang berada di samping rumah baru mereka. Ada aroma yang belum pernah ia cium sebelumnya. Ia mengendus hingga ke pintu pagar depan dan sampai di jalanan beraspal.
Untung saja komplek perumahan tersebut sepi akan kendaraan. Dengan tanpa rasa bersalah, Lust melanjutkan petualangan di lingkungan baru―nekat kabur dari area rumah barunya.
Namun tiba-tiba mata dan hidungnya tertuju pada sesuatu. Ada wangi lembut―wangi dari sebuah bunga. Aroma bunga mawar putih yang menghias di halaman rumah tetangga kini justru seperti bergerak entah ke mana.
Bergerak?
Ada sesuatu berbulu yang bergerak melompat ke atas pagar dan berjalan dengan anggun.
Seekor kucing hitam!
Wangi itu berasal dari kucing yang anggun tersebut!
"GUK!"
Gonggongan Lust mengejutkan si kucing―membuatnya kabur dari situ.
Dengan girang Lust mengejar―hingga masuk ke halaman rumah tetangga.
Suara gonggongan bising terdengar dari halaman.
Boboiboy yang sedang membaca di teras keheranan. Belum pernah ia dengar suara anjing sejelas itu.
Begitu kepalanya mengintip melalui pintu kaca teras samping―ia mendapati salah satu kucing peliharaannya dikejar anjing Siberian Husky besar.
"Ha-Halilintar!"
Buru-buru Boboiboy membuka pintu kaca. "Hali! Astaga! Anjing siapa itu!?"
"Meoooooong―!" Halilintar mengeong panik―sementara Lust terlalu girang untuk mengajak kucing yang baru ia temui itu untuk bermain.
"GUK GUK GUK GUK GUK!"
"Hush! Hush! Jangan ganggu Hali!"
Boboiboy bergegas menangkap Hali. Ia nyaris tak bisa mengelak ketika anjing raksasa itu bagai mau menyerangnya.
"KYAAAAAAAAH!"
Telinga Fang menegak mendengar teriakan seseorang. Perasaan tak mengenakkan bergumul. Ia langsung berlari mengikuti arah suara gonggongan yang terdengar sayup―menuju halaman samping dan mendapati seorang gadis memeluk kucing hitam berusaha lari dari kejaran Lust.
"LUST! STOP!"
Boboiboy ketakutan. Ia buru-buru meraih handle pintu kaca dan segera menutupnya dari dalam rumah. Hali si kucing hitam ikut panik―semua bulunya terangkat. Untung mereka sudah aman berada di dalam rumah.
"LUST! ANJING BANDEL!"
Bentakan seorang remaja laki-laki membuat Boboiboy lebih tenang―tahu majikan si anjing telah datang. Tapi melihat anjing tadi dipukul dengan keras di bagian tubuhnya membuat Boboiboy iba. Terlebih anjing itu memeking menyesali perbuatannya.
"Kamu ini! Jangan kabur seenaknya! Kau tak dapat makan siang! Kau sudah menakuti tetangga kita!"
"Uuuk… uuuk… kaiiiing—!"
"Jangan merajuk! Dasar anjing bandel!"
Fang sudah mengangkat tangannya lagi. Tapi segera dihentikan Boboiboy yang langsung keluar dari rumahnya.
"Su-sudah! Hentikan! Jangan pukul dia lagi!"
Fang terkejut mendapati gadis berambut pendek tadi justru melindungi Lust.
"Ma-maafkan anjingku! Aku tak tahu dia kabur dari rumah…!"
"Sudahlah. Tak apa-apa… sepertinya dia juga tak bermaksud buruk. Aku hanya kaget melihat kucingku dikejar."
"A-apa kau dan kucingmu tak apa-apa!? Ma-maaf! Sungguh maafkan aku! Aku―aku baru pindah di sebelah. Maafkan aku! Sudah membuat kesan buruk!" Fang terus-terusan membungkuk dalam hingga Boboiboy tak enak hati. "Tidak, aku tak apa-apa. Kucingku juga baik-baik saja. Hanya kaget—"
Halilintar memberanikan diri keluar mendekati kaki Boboiboy. Bulu-bulunya masih terangkat dengan galak. Matanya semakin menyorot tajam pada anjing yang berada di dekat majikannya.
Lust menyadari kucing yang ia kejar sedang mendekati mereka perlahan-lahan. Ia justru kembali tergirang ingin mengajaknya main sekali lagi.
"GUK!"
"FFFFSSHHHHT!"
Dengan galak, Hali mendesis dan memerlihatkan taring serta cakar. Lust mundur teratur.
"Ahahah, sepertinya tetangga baru kita ingin mengajakmu bermain, Hali." Boboiboy menggendong kucing hitam kesayangannya agar tak menyerang anjing yang dengan semangat mengibaskan ekornya.
"Aduh, maafkan Lust, Hali. Ia hanya ingin berkenalan denganmu." Fang berusaha mencairkan suasana.
Boboiboy tersenyum mendengar tuturan ramah Fang.
"Aku Boboiboy. Ini Hali, kucingku."
"Ah, aku Fang. Ini Lust. Sepertinya aku akan menjadi tetangga yang berisik nanti. Aku memiliki tujuh ekor Siberian Husky. Mereka akan menggonggong dan melolong. Tapi tenang saja, ada beberapa ruangan yang kupasang kedap suara agar tak mengganggu."
"Tu-tujuh? Wow! Pasti repot merawat tujuh ekor Siberian Husky!" Boboiboy terkagum melihat salah seekornya ada di hadapan dirinya. Satu itu saja sudah berukuran sangat besar bagi sang gadis. Tujuh? Tujuh ekor Siberian Husky? Itu sangat luar biasa baginya.
"Ahahah, begitulah. Mereka kulatih agar tak menyerang dan menjilat orang lain. Aku harus mandi berkali-kali jika mereka sudah berulah dan main jilat. Ah, aku baru dijilat mereka tadi. Aku benar-benar harus mandi lagi nanti."
"Hihihi. Aku juga sebenarnya memiliki tujuh ekor kucing. Halilintar adalah yang paling pertama kupelihara. Empat lainnya kutemukan di jalan sudah nyaris beberapa bulan lalu. Hali, ayo kenalan dengan Lust."
Boboiboy membungkukkan tubuhnya sedikit agar Hali dan Lust bisa saling lebih kenal. Sayang―si kucing justru memberi geraman tak ramah.
"Ooh, maaf. Sepertinya Hali masih masih takut dengan Lust."
"Tak apa-apa. Ini juga salahku. Seharusnya kuikat dulu dia di halamanku tadi. Maafkan aku ya, Hali."
Hali hanya memberikan dengusan dan membuang mukanya dari Fang dan Lust.
Boboiboy dan Fang tertawa bersama melihat sikap dingin si kucing anggun.
.
"Huh! Anjing bodoh! Kau menakutiku!"
"Hey~ Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, kucing kecil~"
"Pergilah kau jauh-jauh! Dasar pembuat onar!"
"Oke, oke~ Tapi ijinkan aku besok mengunjungimu, yah, Hali-sayang~?"
"Huh! Jangan harap!"
.
Fang berpamitan pada tetangga barunya dan membawa Lust kembali. Tentu saja omelan terus terlempar dari mulut Fang pada Lust. Setidaknya anjing itu menyesali perbuatannya dan berjanji tak mengulanginya lagi dalam hati.
Lust akan lebih hati-hati jika ingin bermain ke tetangga―lagi.
Bau agak gosong tercium dari dapur. Fang yang baru pulang dari halaman tetangga barunya langsung tahu siapa pelaku aroma gosong itu.
"Kaizo―Sudah, jangan paksakan dirimu… Sini aku yang masak."
"Wohohoh, sudah kutunggu dari tadi. Dari mana saja kau, koki handal?"
Sindiran sang abang tak digubris Fang. Remaja itu menangkap lemparan celemek dari Kaizo dan mengenakannya di pinggang.
"Dari tetangga sebelah. Lust mengejar kucing peliharaan mereka sampai ketakutan. Jadi aku hukum dia."
Kaizo mengangkat alis dan melirik pada Husky yang kini harus menjalani hukuman tak dapat makan siang dan harus diikat di teras samping.
"Uuuk—"
Kaizo terkekeh geli melihat wajah cemberut Fang ketika ia menceritakan alasan kepergiannya tadi. Dan kini Lust terbaring lesu di teras samping dengan leher terikat collar khusus. Kupingnya menekuk loyo.
"Aaaw~kasihan kau, Lust. Dasar anjing dungu~"
Lust justru mengibaskan ekor sembari Kaizo mengusap-usap kedua pipi si anjing dengan gemas. Begitu menoleh ke dapur, mata Kaizo mendapati sebuah senyuman di wajah adiknya. Tentu saja mengundang rasa penasaran sang Kapten muda.
"Hei, kenapa kau senyum-senyum?"
"Hmm, sepertinya masa remajaku akan seru di sini."
Mendengar nada senandung di antara kalimat yang diucapkan Fang membuat Kaizo mengrenyitkan alis. "Oh, ya? Kenapa gitu?"
"Ada anak perempuan di tetangga baru kita yang seumuranku. Dia manis banget! Baik lagi! Namanya Boboiboy."
Kaizo mengangkat alis. Seringai lebar membuat otot-otot pipinya terangkat. "Cieeeeee~ adikku naksir ceweeeeek~"
"Biarin! Abang nanti lihat sendiri! Dia cakep, loh! Dah, nih nasi gorengnya!"
"Iya… iya… Pokoknya ntar kalo ayah dan ibu udah dateng kita harus bareng-bareng ke tetangga ngenalin diri. Lalu kamu kenalin ke abang gebetanmu itu."
"Iya iya―Udah, makan dulu. Mana Sloth?"
"Di kamar. Udah mati." cuek Kaizo.
"Hhh―aku ini miara anjing ato beruang kutub, sih?"
"Anggap aja peranakan, blasteran―apapun itu."
Fang bangkit dari bangkunya hendak menarik paksa Sloth. Tapi anjing pemalas tersebut ternyata sudah menuruni tangga―dengan cara berseluncur di atas bantal besar dengan malasnya.
"Hauuuuung…"
Lolongan loyo menyapa Fang. Majikan si anjing menghela napas. "Sloth, kau ini jangan pakai kebiasaan lamamu menuruni tangga itu di rumah baru, dong."
"Yah, setidaknya kita tak perlu menyeretnya turun. Anjing pintar~" Puji Kaizo sambil mengisi mulutnya.
Sudah beberapa bulan para kucing-kucing kecil tinggal di istana mereka bersama Boboiboy. Dan kini di sebelah rumah mereka tiba-tiba tinggal makhluk berbulu raksasa yang entah datang dari mana.
Para kucing bersantai di dekat jendela―memerhatikan tetangga baru mereka.
"Apa mereka itu, Hali?"
"Apa mereka berbahaya?"
"Apa mereka akan memakan kita?"
"Apa mereka akan memakan semua makanan kita?"
Empat kucing mungil polos yang tengah beranjak dewasa mengelilingi kucing hitam pengasuh mereka. Halilintar menghela napas.
"Itu namanya anjing. Mereka dungu, bodoh, dan hanya suka bermain-main. Tapi mereka berbahaya, terutama taring mereka yang besar―sebesar moncong mereka itu. Hati-hati jika kalian bertemu dengan mereka, ya?"
"Baik, mama Hali!" ujar keempatnya serentak.
"Duuuh! Sudah kubilang jangan panggil aku 'mama'!"
Gempa dan Taufan tertawa melihat saudari mereka merona setiap mendapat panggilan itu.
Sedingin-dinginnya Halilintar, ia tak bisa menyembunyikan sisi keibuannya. Terutama pada si bandel Blaze.
Blaze sangat manja pada Hali. Tak urung kucing berwarna jingga itu membuat Hali hanya bisa menghela napas.
"Semuanya, ayo makan dulu."
Suara Boboiboy memanggil keenam kucing yang langsung mengelilingi kaki majikan mereka dengan manja. Salah satu yang tertinggal mengundang senyuman di bibir gadis tersebut.
"Ice, ayo. Hari ini ada tuna rebus, loh."
Kucing berwarna putih keabuan merenggangkan tubuhnya dan menguap. Ia terlalu malas berjalan setelah melakukan kegiatan pengintaian tetangga baru mereka tadi―terlalu melelahkan bagi Ice.
Boboiboy mengangkat Ice dan memeluknya. "Ayo, kucing pemalas yang manis. Kita makan bersama, yah."
Meski dilarang oleh Halilintar, tentu saja keempat kucing yang penasaran itu ingin sekali melihat secara langsung wujud 'anjing' yang diceritakan Hali tadi.
Apa mungkin mereka akan bertemu?
Apa mungkin mereka akan berteman?
Setidaknya kali ini Boboiboy senang memiliki tetangga baru yang seumur dengannya―dan Fang senang memiliki tetangga baru seorang gadis manis.
"Semoga dia belum punya pacar."
"Perlu ku-Amin-in, ga permohonanmu itu?"
Kaizo terkekeh mendapat tonjokan dari Fang di lengan.
.
.
.
tbc
Hai haaai, sebelum banyak yang komentar mengenai OOC (Out of Character), di sini aku memang mau gambarin Kaizo sebagai abang yang 'normal'. Di mana dia suka usilin Fang, tapi juga sayang banget dengan dedeknya.
Brother Complex? Iyap, bisa dibilang begitu xD
.
.
.
yue – Makasih banyak yaaah xD
blackcorrals – Iyaaah xD Aku demen banget anjing jenis Husky meski mereka katanya bego dan susah dilatih wkwkwk xD
khukhuchan – Hmm, sepertinya akan butuh waktu agak lama agar Bbb galaxy tayang di tv Indo. Mungkin pihak tv akan menunggu kalau episodenya sudah banyak dulu. Ini pendapat saya aja kok ^^
Silver Celestia – Aduh makasih banyak udah suka sama Hao n Elly ;w; Berhubung aku juga sebenernya nggak suka sama yang namanya OC dalam fandom jadi awalnya agak ragu untuk masukin mereka berdua. Tapi justru keterusan, duh xD
Nevyandini – Makasih banyak yaaah xD Mereka berdua udah agak sulit digantikan dari hatiku ;w; berhubung juga ortunya Fang belum nongol di filmnya, dan ga tau bakal nongol nggak xD
LizzNP – Makasih banyak yah ^^ Nanti kalau ada waktu luang semoga sempat menggambar lagi ^^
xierally19 – Okaaay xD Thank you, deaaar! xD
sarhyqilah – Aduh gapapa xD kamu review aja aku udah seneng banget! xD Makasih banyak yaaah ^^7
