Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


The Seven Huskies

.

.

.

KRIIIIIIIIIIIII—IIING!

"GUK! GUK! GUK! GUK! GUK! GUK! GUK! GUK! GUK! GUK! GRRRRHHHH!"

"AUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUNG!"

Suara dering weker yang nyaring serta gonggongan dan lolongan lantang para Husky—kombo luar biasa dalam membangunkan seorang remaja yang terlelap di kamarnya.

Fang terbangun sembari menggerutu karena duet lolongan anjing dengan weker di rumahnya yang baru ia tempati sejak kemarin. Tangannya meraih-raih jam weker dari mejanya dan berusaha mematikan meski masih mengantuk.

Suara gonggongan dan lolongan yang terdengar di luar pintu kamar Fang tak berhenti.

"Aduuuuh—Wraaath! Jangan gonggongin jam weker—! Nggghhh hoaaahm—Kamu juga Glu, jangan melolong ter—"

"AUUUUUUUUWUWUWUWUWUWUWUUUUNG!"

"Hhh… Glu, ini masih jam enam pagi."

Tentu saja anjing rakus itu tak peduli. Ia mengais-ngais pintu depan kamar Fang, berusaha membangunkan majikannya yang masih tertidur.

"Iyaaa iyaaa! Aku keluar!"

Begitu pintu terbuka di depan pintu kamar hanya tinggal seekor anjing Husky bernama Wrath. Fang bisa menebak bahwa Glu sudah turun ke bawah menuju dapur dan duduk manis di samping mangkuk makanannya.

Anak-anak anjing-anjing itu kini sudah dewasa.

Besar.

Benar-benar BESAR.

"Hhh—Ayo, Wrath."

Anjing galak itu akan berhenti menggeram jika ia melihat wajah majikan tersayangnya. Fang tahu jelas bahwa salah satu anjingnya yang mudah marah itu selalu merasa tak nyaman jika ia tak ada di sampingnya.

Tiba-tiba seekor yang lain menubrukkan dirinya pada bokong Fang dari belakang. "Duh, Envy—Ayo semua ke dapur."

Tapi sayang, ketika Fang memberikan perhatiannya pada Wrath justru Envy akan iri dan berusaha mencari perhatian majikannya. Dibanding lima yang lain, Fang lebih sering bersama dua anjingnya yang mudah marah dan manja itu.

Yah, setidaknya lima yang lain bisa mandiri—

"AWUWUWUWUWUUUUUUNG!"

—atau mungkin kecuali satu lagi yang selalu lapar.

Wrath dan Envy mengikuti Fang dari samping kanan-kiri pemuda itu. Mereka berjalan menelusuri lorong rumah. Di dinding terpampang foto-foto anjing-anjing Husky tersebut dengan segala penghargaan mereka.

Bagi Fang yang tumbuh dalam keluarga militer, ia menerapkan disiplin dan memasukkan anjing-anjing kesayangannya itu dalam pelatihan di divisi K-9 secara formal sedari kecil. Tentu saja dengan seijin ayahnya dan teman dari sang ayah yang menjadi pemilik anak-anak anjing itu sebelumnya.

"Wufff…"

Fang tersenyum mendapati Envy terus menyenderkan tubuh pada kaki majikannya. "Hey, aku susah jalan, nih."

Envy—adalah si bungsu dari tujuh bersaudara anjing Husky yang lain. Sebenarnya Fang sedikit prihatin dengan sikap manja anjingnya itu. Ia satu-satunya yang susah untuk mendapatkan pelatihan resmi di divisi militer khusus anjing. Tapi Envy sering kali mendapatkan penghargaan dalam Kontes Anjing Terbaik. Ia sangat penurut pada Fang dan selalu melakukan perintah majikannya dengan baik setiap perlombaan dalam kontes. Dan Envy tak pernah protes atau memberontak ketika sedang dirawat di salon anjing. Ia justru menikmati perawatan mahal tersebut dan menjadi pelanggan terbaik salon khusus hewan yang dikunjungi Fang di manapun. Maka itu jika ada kontes anjing ras, Envy yang selalu maju dari pada saudara-saudaranya yang lain.

Fang berjalan menuruni tangga bersama Wrath dan Envy. Ia mendapati abangnya sudah berada di dapur bersama Gluttony yang terus memutari mangkuknya dengan semangat tak sabar. Kaizo menyadari adiknya turun masih dalam balutan piyamanya. "Pagi, Fang."

"Pagi—Hhh, aku tertidur cepat semalam. Lelah sekali."

Kaizo mengeluarkan bungkusan roti dan beberapa selai dalam toples dari lemari es sementara Fang mencuci mukanya di keran tempat cuci piring.

"Hahahah, mengurus anjing-anjing bongsor yang baru beradaptasi di rumah baru benar-benar melelahkan. Tapi mereka menjaga rumah dengan baik. Terutama si galak satu ini."

Wrath tahu Kaizo tengah menyindirnya. Ia menggeram dan memasang wajah tak ramah menunjukkan bahwa ia tak menyukai ledekan dari majikannya itu. "Grrrrh—"

Tentu saja sang Kapten muda langsung paham. "Hei, hei. Aku hanya bercanda, oke?"

Elusan di kepala Wrath setidaknya membuat anjing itu lebih kalem. Meski ia mendengus dan membuang muka dari Kaizo—membuat majikannya itu terkekeh geli.

Wrath—anjing yang paling galak. Ia tak ramah kecuali pada Fang. Sifat galaknya itu lebih terkendali sejak Wrath sering digunakan sebagai anjing penyerang ketika pelatihan lapangan. Ia selalu menggigit sarung pelindung dengan keras hingga terkoyak habis. Dan ia hanya akan berhenti jika mendengar siulan Fang. Bahkan pada Kaizo terkadang ia tak menurut.

Siapa pun tak bisa menyalahkan sikap ganas Wrath. Anjing itu dahulu sangat dekat dengan Fang sejak masih kecil. Dan suatu saat ketika Fang harus mengambil pendidikan intensif di akademi—ia terpaksa harus meninggalkan anak-anak anjing kesayangannya dalam beberapa hari. Untungnya mereka bisa dititipkan di divisi K-9 dekat akademi dan Fang boleh menjenguk rutin.

Wrath panik mencari Fang hingga kabur dari kandang. Naas, ia justru sampai di lapangan pelatihan anjing-anjing besar. Mereka menggonggongi dan mengejari Wrath kecil. Belum lagi si anak anjing akhirnya harus menerobos orang-orang yang sedang berlatih di lapangan. Mereka heran melihat seekor anak anjing Husky berlarian panik di tengah lapangan dan berusaha menangkapnya. Fang yang baru selesai mata pelajaran siang terkejut bukan main tak menemukan salah satu anak anjingnya di tempat penitipan. Untung Wrath langsung bisa ditangkap dan dibawa kembali. Tapi sejak itu, Wrath menjadi trauma dan tak pernah merasa nyaman jika tidak di samping majikannya.

Ia akan galak pada siapa pun dan apa pun—termasuk mangkuk makanannya sendiri. "Grrrrrhhhh! GUK! GUK! GUK!"

"Wrath, ini mangkukmu yang baru. Yang lama sudah rusak kau gigiti. Jadi kubelikan yang berbahan kuat. Jangan digonggongin, yah."

Barulah Wrath kalem begitu Fang menepuk dan menggaruk leher anjingnya itu serta 'mengenalkan' mangkuk barunya. Fang tersenyum melihat Wrath mengendus-endus penuh curiga pada mangkuknya. Sambil menghela napas sang remaja berdiri dan mendangakkan kepala—memandangi tangga yang menuju lantai dua. "Okeeee—Si pemalas itu masih di lantai atas, yah?"

Sebuah walkie-talkie disodorkan Kaizo pada adiknya. Fang menerima benda kotak hitam berukuran agak besar tersebut dan mendekatkannya pada mulut.

"Sloth. Bangun. Kita sudah di dapur mau sarapan."

Sementara itu di lantai dua—di dekat lemari yang berisi segala penghargaan prestasi kemiliteran—sebuah bantal besar menjadi tempat tidur seekor anjing pemalas.

Suara statis dan panggilan dari walkie-talkie di samping Sloth menjadi weker baginya.

Anjing pemalas tersebut merenggangkan badan dan menguap lebar sebelum akhirnya menuruti perintah sang majikan dari walkie-talkie. Langkahnya gontai dan terlalu malas untuk menuruni tangga. Sejak kakinya melangkah di rumah itu nampaknya Fang sudah tahu bahwa Sloth pasti akan melakukan kebiasaannya menuruni tangga seperti di rumah lama. Maka—sebuah bantal besar telah ditempatkan di pinggir ujung tangga.

Benar saja—kini Sloth dengan malasnya menaruh badan di atas bantal besar dan berseluncur dari tangga atas hingga sampai ke lantai bawah dengan aman dan nyaman.

"Sloth, ayo bangun. Kita sarapan bersama."

Ajakan yang dijawab dengan menguap lebar sudah biasa bagi remaja yang kini berusia lima belas tahun itu.

Sloth—meski anjing ini pemalas luar biasa, ada hal yang menjadi kelebihan yang tak dimiliki saudara-saudaranya yang lain. Selain bisa tidur di mana saja, kapan saja, dan dengan posisi bagaimana saja—Sloth sangat pintar. Benar-benar pintar. Ia cepat belajar semua hal yang manusia lakukan. Sebenarnya itu disebabkan karena ia begitu malas. Dan kemalasannya itu bagai senjata untuk melakukan semua hal seminim mungkin.

Fang menyadari hal ini ketika anak-anak anjing itu masih kecil. Sang remaja melihat salah satu dari tujuh anak anjing peliharaannya selalu tidur dan memiliki kebiasaan aneh. Yaitu mencelupkan ujung tali mainan yang terikat di bantalnya pada susu atau makanan yang berada di mangkuk makanannya.

Fang tahu Sloth tak pernah lepas dari bantal dengan ikatan mainan di ujungnya, maka ia membawakan bantal itu bersama Sloth ke dokter. Tapi ternyata ia sehat-sehat saja. Dan kebiasaannya mencelupkan tali bantal di makanan atau minuman itu tak bisa ditebak oleh dokter. Begitu sampai di rumah, Fang meletakkan Sloth yang berbaring nyaman di atas bantal di dekat pintu—berharap anak anjing itu mau berjalan sendiri.

Tapi tak diduga—Gluttony yang ceria dan selalu lapar itu datang karena mengendus aroma makanan dari ujung tali mainan di bantal Sloth. Ia menggigitinya dan kemudian menarik ke dalam rumah. Di situlah Fang sadar akan kebiasaan aneh anjingnya. Ia terlalu malas berjalan sehingga memanfaatkan kelincahan dan kerakusan Glu untuk menarik bantalnya agar tak perlu ke mana-mana dengan kaki.

Bahkan ia cepat belajar bagaimana menggunakan remote untuk menyalakan TV, AC, membuka-tutup jendela, dan ia tahu bagaimana menggunakan komputer dan smartphone. Hanya dengan melihat bagaimana majikannya menggunakan alat-alat canggih itu, Sloth langsung paham. Maka dari itu Fang menaruh walkie-talkie sebagai alat komunikasi di samping bantal Sloth karena tahu anjing itu pasti paham penggunaannya dan Fang juga terlalu lelah memaksa Sloth bangkit dari bantalnya tiap-tiap saat.

Melihat kepintaran luar biasa dari anjingnya, Fang memasukkan Sloth ke dalam pelatihan khusus hewan intel. Di mana ada hewan-hewan yang sengaja dilatih dalam membantu manusia melacak pergerakan musuh dengan memasuki markas musuh dan mengaktifkan teknologi tertentu di dalam sana atas perintah dan arahan partner mereka yang memantau. Karena terkadang penyamaran manusia mudah terbongkar, maka diadakan penyamaran menggunakan hewan-hewan terlatih. Dan Sloth mendapat penghargaan atas kinerjanya sebagai anjing militer berusia muda.

Sayangnya kepintaran Sloth selalu ia gunakan untuk mendukung sifat malasnya.

"Hrrr… hrrr… hrrr…"

"Hey, jangan tidur di atas mangkukmu, Sloth."

"Awuwuwuuwuwuwuwuwuwung—!"

"Iya, Gluuuu. Ini makananmu baru akan kutuang ke mang—"

Fang terdiam begitu makanan anjing yang baru saja ia tuang ke dalam mangkuk langsung diserbu Gluttony dengan beringas. Karena melihat anjingnya tengah makan dengan lahap, Kaizo memberikan roti pada Fang agar ia bisa sarapan sebelum Glu meminta mangkuknya diisi ulang.

Sayang sekali mereka tak mengira-ngira jumlah makanan yang dituang dalam mangkuk si anjing rakus. Fang baru saja menggigit dua kali roti sarapannya, kini Glu mengais-ngais kakinya di pangkuan sang majikan.

"Astaga, Gluttony… Aku baru saja menuang makanan di mangkukmu dan sekarang sudah habis?"

Gluttony—si anjing yang tak pernah kenyang. Sejak mendapat pelatihan sebagai anjing pelacak narkotik dengan penciumannya, ia bisa mendeteksi ada bau obat-obatan atau racun yang terkandung di mana saja termasuk makanan dan minuman. Glu pernah dibawa ketika ada perjamuan para petinggi negara untuk mendeteksi makanan yang keluar dari dapur. Melihat ada seekor anjing Husky yang belum dewasa di tengah perjamuan membuat orang-orang yang datang gemas pada Glu. Mereka memberinya makan hingga Gluttony harus Fang bawa agar tak kelebihan makan. Tapi sejak itu, lidah si anjing jadi amat sangat peka dengan rasa makanan enak.

Tak hanya enak, yang penting itu mengenyangkannya. Maka Fang harus mengisi lagi mangkuk yang sudah kosong di lantai itu.

"Hhh—Oh iya. Ayah dan ibu mana?"

"Jalan santai keliling komplek sekalian mengenal komplek baru ini."

"Hmm, kau tak ikut, Kaizo?"

"Tidak. Aku masih terlalu lelah gara-gara si manja itu terus panik semalam karena belum terbiasa di rumah baru ini." Ujar Kaizo sambil melirik pada Envy yang terus menempelkan tubuh besarnya pada kaki Fang.

"Astaga, Envy… Sudah kuduga dia yang akan paling susah beradaptasi cepat di tempat baru." Ujar Fang sambil mengelus-elus kepala Envy yang bersandar di pangkuannya.

"Yap, berbeda dengan yang lain. Terutama Greed dan Pride. Semalam mereka tidur di luar menjaga rumah seperti biasa. Sepertinya Pride sudah langsung mengenal rumah ini setelah mengendusnya seharian kemarin. Dan Greed—kau tahu dia."

Fang terkekeh geli.

Pride—anjing yang paling berjiwa kepemimpinan dan paling susah untuk diajak berkompromi kecuali oleh majikannya sendiri. Ia tak tergoda dengan apapun yang disodorkan di moncongnya termasuk daging lezat. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menerima suap. Dan memang sifatnya itu terlatih karena Pride menjadi anjing khusus dalam barisan anjing penjaga. Ia akan sangat awas pada tempat yang baru ia kunjungi dan langsung mengadakan pemeriksaan dengan mengendus segala tempat. Pride berkali-kali mendapatkan penghargaan anjing terbaik di barisan K-9 sejak masih anjing kecil. Bisa dibilang Pride adalah kebanggaan keluarga Fang yang berdarah militer. Nyaris semua penghargaan anjing militer yang berjejer di lemari adalah milik Pride.

Meski Pride tidak segalak Wrath, ia tetap memiliki aura yang ditakuti orang dan membuat enggan untuk didekati. Sayangnya, karena sikap Pride yang kaku itu membuatnya agak susah bergaul dengan orang maupun anjing lain.

Tentu saja sejak mereka sampai di rumah baru, Pride telah menguasai seluruh pelosok rumah. Hal ini membuat majikannya tenang karena Pride memang anjing penjaga yang sangat bisa diandalkan.

Greed—Anjing yang satu itu amat sangat tahu benda-benda berharga. Ia akan mendengus kasar tak peduli pada benda imitasi, seperti perhiasan imitasi atau barang-barang koleksi yang hanya tiruan. Greed tahu harga barang-barang mewah yang asli hanya dengan mengendusnya. Disebabkan karena ia terlatih sejak kecil sering diminta kerja sama di kepolisian untuk mengendus dan mendeteksi barang-barang berharga. Hidungnya bagai seharga milyaran hingga trilyunan untuk menilai benda-benda berharga. Maka itu banyak kolektor yang 'menyewa' hidung Greed untuk melacak koleksi berharga mereka atau jika sedang 'musim' lelang. Tentu saja karena kesukaannya akan benda-benda mahal nan mewah membuat Greed menjaga rumah majikannya dengan amat sangat waspada.

Fang tersenyum sambil membiarkan Greed bermain mengejar-ngejar ekornya berputar-putar sendiri di luar teras yang terbuka. Dalam hatinya betapa lega melihat para anjingnya betah dan dengan cepat beradaptasi di lingkungan baru.

Meski sempat terjadi hal yang kurang mengenakkan kemarin di halaman tetangga. Di mana salah satu anjing miliknya begitu nakal dan— "Ah. Di mana Lust?"

Fang baru menyadari salah satu anjing kesayangannya tak ada di situ. Kaizo yang baru saja meneguk kopinya celingukan ikut menyadari.

"Lust?"

Suara gonggongan sayup terdengar dari halaman. Fang kembali panik—khawatir Lust mengejar-ngejar lagi kucing milik tetangga barunya. Ia berlari menuju halaman diikuti abangnya yang berjalan dengan santai sambil membawa mug kopinya.

Ternyata Lust memang berada di halaman rumah, untung saja bukan di halaman rumah tetangga. Ia menggonggongi dinding pagar yang dibatasi tanaman. Di balik dinding yang tingginya hanya dua meter itu ada halaman tetangga baru mereka. Nampak jelas bangunan bertingkat dengan gaya Eropa berwarna putih bersih. Terlihat jelas pula jendela lantai dua dari halaman di mana Fang dan Kaizo berdiri.

Sebuah jendela terhias manis dengan bunga mawar putih yang mekar di sekitar teras. Tirai putih di balik kaca jendela terikat memerlihatkan sedikit bagian dalam ruangan yang sepertinya sebuah kamar anak perempuan.

Fang dan Kaizo penasaran pada apa yang digonggongi Lust dengan riang gembira sembari mengibaskan ekor. Berusaha memerhatikan lebih jauh—Fang akhirnya menyadari ada seekor kucing hitam kelam tengah duduk santai di pinggir jendela.

"Ah, itu Hali!"

Kaizo mengrenyitkan alis sambil menyeruput lagi kopinya. "Hali?"

"Iya. Halilintar—Kucing tetangga kita yang dikejar Lust kemarin."


Di kamar Boboiboy, Hali mendesah sebal mendengar suara gonggongan sayup-sayup dari luar jendela di bawah halaman tetangga sana. Ia bisa melihat jelas seekor anjing Husky besar yang dengan dungunya mengibas-ngibaskan ekor memanggil.

.

"Haaali! Heeey, Haliii~!"

"Huh. Tetangga baru ini benar-benar berisik." Hali tak memedulikan Lust yang terus menggonggonginya di luar sana.

.

"Selamat pagi, Hali. Kau mau turun untuk sarapan?"

Suara lembut sang majikan memanggilnya. Boboiboy mendekati jendela sambil mengenakan mantel untuk menutupi daster yang masih ia kenakan.

"Meooong."

Ngeongan manja terdengar. Hali mengangkat tubuhnya begitu tangan lembut Boboiboy menyentuh punggungnya. Gadis remaja itu tersenyum sambil mengelus-elus tubuh kucing hitam kesayangannya.

Tak lama gadis itu menyadari ada gonggongan sayup-sayup dari luar jendela. Begitu mengintip dari balik pintu kaca beranda kamarnya, matanya mendapati Fang dan seorang lain di halaman rumah tetangga barunya.

"Oh, itu Fang."

Boboiboy membuka daun pintu dan berjalan ke beranda sambil menggendong Halilintar, membuat Fang tersenyum lebar sumringah mendapati gadis idamannya menyadari keberadaan dirinya di halaman.

"Boboiboy!"

Gadis ramah itu turut tersenyum dan melambaikan tangannya.

Lust kembali menggonggong. Boboiboy tahu gonggongan itu untuk memanggil Halilintar.

"Hihihi, Hali. Itu Lust."

Sayang sekali si kucing tetap membuang mukanya membuat Boboiboy serta Fang yang melihat dari kejauhan tersenyum.

"Sudahlah, Lust. Biarkan kucing itu. Kau justru membuat ia tak menyukaimu."

Fang geli melihat Lust menunduk kecewa.

Lust—si sulung dari tujuh Husky yang lain. Sejak kecil dia yang paling sering berbuat ulah. Paling bandel. Terkadang tak menuruti majikannya. Selalu saja mengusili anjing lain atau menggoda mereka—terutama anjing betina. Tapi karena sifatnya yang mudah berbaur dan bersosialisasi, ia bisa dengan mudah diterima dan menerima lingkungannya. Hal ini membantu partner yang bekerja dengannya untuk mendekati pihak lawan atau target yang sedang diintai. Lust sendiri cenderung sering bersaing dengan Pride karena keduanya sama-sama memiliki nilai tinggi di latihan lapangan. Beda dengan saudaranya, Lust tak seprotektif Pride terhadap Fang. Ia cenderung membuat Fang kesal karena ulahnya yang sering kabur-kabur dari pengawasan. Bisa dibilang Lust adalah pemberontak. Namun ia tak se-kaku Pride. Lust luwes sekali dalam mengambil hati orang.

Sisi kelebihan Lust dalam mengambil hati orang ini kadang dimanfaatkan Fang untuk mencairkan suasana jika sedang berada di lingkungan baru. Fang sering mengajak Lust jalan-jalan dan anjing itu akan mendekati orang lain dengan ramah sehingga mereka tak sungkan padanya.

Dan kali ini ada ide muncul di kepala Fang.

"Lust bisa membantuku mendekati gadis itu!" bisik Fang sambil memeluk leher Lust yang masih menunduk kecewa karena tak dipedulikan Hali.

Kaizo yang berdiri di samping adiknya mendengar bisikan antusias tersebut. "Mendekatinya? Tapi bukankah Lust sudah menakuti kucing kesayangannya itu?"

"Ah—sial. Benar juga." Fang ikut menunduk kecewa. Tapi ia kembali mengangkat wajahnya dan mendapati Boboiboy tersenyum ramah dan melambaikan tangan padanya.

Fang sumringah membalas lambaian itu.

"Sepertinya tidak juga. Apa yang Lust lakukan kemarin justru menunjukkan sifat baik dan ramah gadis itu. Dia memaafkan apa yang Lust lakukan pada Hali. Dan aku sekarang punya kesempatan besar mengambil hatinya!"

Kaizo menyeruput kopinya lagi sambil mengangkat alis. Pandangannya tertuju pada gadis di jendela tetangga. "Well—tak buruk. Ia manis juga."

Boboiboy yang menyadari ada pemuda lain yang baru ia lihat di samping Fang menganggukkan kepalanya ramah dan dibalas anggukan dari Kaizo juga.

"Tentu saja! Kau harus berkenalan juga dengannya nanti! Ia akan menjadi adik iparmu!"

"Hey, hey—pikiranmu sudah terlalu jauh, adik kecil."

Boboiboy melambaikan tangan sekali lagi sebelum kembali masuk ke kamar dan turun ke lantai bawah karena dipanggil ibunya untuk sarapan.

Begitu pula Fang dan Kaizo yang mengajak Lust ikut sarapan setelah mendengar panggilan dari orang tua mereka yang baru saja pulang dari lari pagi.

Tapi bukannya mengikuti majikannya—Lust justru berlari keluar halaman dan memasuki halaman tetangga. Ia mengendus hingga ke teras samping di mana pintu kaca besar menampakkan pemadangan bagian dalam rumah. Boboiboy yang tengah duduk bersama orang tuanya menikmati sarapan menyadari ada gonggongan kecil dari luar.

Ayah dan ibu Boboiboy terheran melihat seekor Siberian Husky besar di halaman mereka seakan menyapa.

"Oh, itu Lust!"

Boboiboy berdiri dari bangkunya dan membuka pintu teras menyambut anjing itu. Kedua orang tuanya penasaran mengikuti.

"Hai, Lust. Biar kutebak—kau pasti tak pamit pada majikanmu." Goda Boboiboy. Lust mengeluarkan lidahnya sembari mengibaskan ekor—senang berhadapan dengan gadis manis yang disukai majikannya itu. Melihat keramahan Lust, Boboiboy tertawa kecil dan tak sungkan menggaruk-garuk lembut leher si anjing.

"Anjing siapa itu, Boboiboy?"

"Ibu, ini anjing yang kuceritakan kemarin! Dia sungguh ramah! Lihat!"

Orang tua Boboiboy nampak menerima hangat anjing yang bertamu di halaman mereka itu.

Namun Halilintar tak menyukainya.

Ia menggeram dari teras enggan mendekat namun merasa harus menjaga majikannya dari seekor anjing besar yang ia anggap bodoh itu.

"Hali, lihat siapa yang dat—"

"Fsssshhhht—!"

Desisan galak sembari taring dan cakar yang keluar justru menyapa Lust dari kucing hitam yang mengangkat semua bulunya itu.

"Ha-Hali! Aduh—!" Boboiboy buru-buru mengangkat kucingnya agar tak mencakar moncong Lust yang terkejut mendapat desisan marah.

"Maaf, Lust. Hali—kau tak boleh begitu. Lust' kan berniat baik ingin bertamu kemari. Dia tak mengejarmu lagi' kan?"

.

Hali justru mengeong berusaha membela diri. "Ooh! Astaga, Boboiboy! Anjing ini hanya ingin mengganggu hidup kita yang tenang!"

"Oh, ayolah, Hali~ Aku tak seperti itu~ Aku hanya ingin menyapamu dan majikanmu~"

"Hiisss—! Sana pergi kau!"

Tiba-tiba meongan mungil nan riang terdengar dari balik punggung Boboiboy.

"Haaaliii!"

.

Blaze, Ice, Thorn, dan Solar berlarian kecil keluar teras.

"Ah, Lust. Ini kucing-kucingku yang juga saudari-saudari Hali. Kenalkan."

Lust mengendus-endus para kucing-kucing yang penasaran padanya. Sementara Hali panik luar biasa dan melompat dari gendongan Boboiboy.

.

"Ja-jangan dekat-dekat mereka! Pergi kau!"

"Hai—, siapa kau?" Tanya Thorn ramah.

Lust tersenyum lebar dan merendahkan tubuhnya hingga berbaring di rerumputan, menunjukkan bahwa keberadaannya tak mengancam. "Aku Lust, kucing kecil."

"Hai, Lust. Aku Thorn, ini Solar, Ice, dan Blaze. Apa kau teman Hali?"

Lust terkekeh. "Yap, aku teman Hali~"

"Bukan! Kau jauh-jauh dari mereka! Fffssht—! Ayo, semua. Kita masuk."

.

Hali menggiring adik-adiknya masuk ke dalam rumah—membuat Boboiboy tersenyum geli.

Ia semakin tahu sifat Halilintar yang ternyata keibuan sejak dirinya memungut anak-anak kucing yang kini sudah berusia beberapa bulan. Tubuh mereka belum dewasa dan masih kekanakan. Membuat Halilintar justru nampak seperti ibu yang sangat protektif—terutama pada si usil Blaze.

"Maaf ya, Lust. Nanti akan kami kunjungi kalian. Kau juga boleh kemari lagi bersama Fang dan kita akan saling berkenalan lagi juga dengan anak-anak kucing ini."

Lust nampak senang menggoyangkan ekornya mendengar undangan dari Boboiboy.

Pluk!

Tiba-tiba seekor kucing mungil berwarna oranye menyerudukkan kepalanya di kaki Lust. Tentu saja tak terasa sakit sama sekali. Kucing kecil itu mendesis tak ramah pada Lust.

.

"Fsssht—! Kau sudah mengganggu Hali, yah!? Aku akan membalasmu! Fsshhht—!" Blaze mengangkat semua bulunya tak ramah pada Lust. Ia berusaha memasang tampang garang. Sayang ia terlalu imut untuk itu.

Lust bengong mendapati kucing itu mengancam dirinya. Tapi kemudian Hali menggigit tengkuk Blaze dan membawanya masuk rumah meski si bandel tak henti bergoyang-goyang dan terus mengancam.

"Fssht! Awas kau! Ini belum selesai! Jangan lari kau, Lust!"

"Sudah, Blaze—" desahan Hali mengakhiri ancaman serius Blaze pada Lust dan membuat Boboiboy serta kedua orang tuanya semakin geli.

Anjing itu kemudian pamit pada Boboiboy dan kedua orang tuanya. Keluarga penghuni rumah tersebut langsung menyukai keramah tamahan anjing Husky tetangga baru mereka.

Gempa dan Taufan mengintip dari balik pintu. "Ooh, itu anjing yang mengejarmu kemarin, Hali?"

"Sudah, jangan gubris dia."

Thorn dan Solar kembali mengelilingi pengasuh mereka. "Hali, apa yang tadi itu anjing?"

"Apa dia akan memakan kita, Hali?"

"Tidak, tidak—dia tak akan memakan kita. Tapi kalian harus tetap menjauhi anjing."

Thorn dan Solar saling memandang. Kenyataannya Blaze sama sekali tak takut dan justru menunjukkan kekesalannya pada anjing besar tadi.

Ice? Kucing mungil pemalas itu sudah asyik tertidur di sofa tak memedulikan apa yang barusan terjadi meski saudarinya yang lain penasaran pada seekor anjing besar.

Apa benar mereka harus menjauhi makhluk besar berbulu itu?

.

.

.

tbc


Ada sedikit revisi untuk chapter sebelumnya.

Mohon maaf, ada kesalahan deskripsi rumah baru Fang. Sudah diganti. Seharusnya yang rumahnya bergaya semi-Eropa itu rumah Boboiboy. Sedangkan rumah Fang itu bergaya modern minimalis dengan gaya sedikit Asia di dalamnya. Mengingat sejak awal konsep keluarga Fang memang berusaha mengikuti dari karakter aslinya yang berdarah Asia. Kemungkinan Cina-Jepang, melihat kenyataan Fang yang berbahasa Mandarin, dan Kaizo yang memiliki nama ke-Jepang-an. Dan kurasa keputusan Monsta memberikan Kaizo senjata pedang bukan hanya mencocokkan karakter seorang kapten dan agar keren, tapi memang mencocokkan ada darah samurai dalam diri Kaizo—Ini pendapat pribadi loh ya xD

Dan aku iseng tambah ada darah Inggris dari Elizabeth yang memang OC-ku sendiri xD

.

.

.

Melissa'sHere — Iya xD Dia cerewet banget soalnya, meong-meong terus nggak berhenti heheheh xD

Nevyandini — Iyap! Nanti ada romance-nya kok xD Siiip, udah pada ketemu sama Lust, nih! Tunggu guguk2 yang lain yah xD

xierally19 — Thank youuu! Sekarang scene para Husky dulu yah xD

blackcorrals — Romannya masih chapter depan gapapa yah? Ini kenalin para huskynya dulu ^^ Aku sukaaa banget Husky xD

yue — Aduh maaf nih gak bisa cepet2 ;;_;; Kenalan sama para Huskynya dulu yah xD

Harukaze Kagura — This is cats and dogs storyyy! xD Thank youuuu! Ini sebenernya awal2 cuma ff iseng tapi keterusan xD Iyap! Tadinya drabble, tapi kok berasa sayang kalo ditinggal sementara aku udah bikin konsepnya mateng heheheh xD Ditunggu PrideGem-nya yah xD

Ooops, suka KaiFang juga toh? Siiip, nanti coba kutambah xD Heheheh

Rhyuu-ni Chan — Duh, "Mama Hali" yang jutek tapi sayang ama adek2nya xD

LizzNP — Fang udah langganan ditimpa 7 Husky heheh xD Kalo udah nikah? Rumahnya bakal rameee! xD

Silver Celestia — Makasih banyaaak ^^ Pernah, tapi bentuknya poster dan kujual di event. Sebenernya aku buka pemesanan di deviantart kalau mau beli via pos dengan pembayaran transfer BCA. Karena itu barang jualan jadinya nggak full size aku kasih preview-nya ^^