Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


Fang's Dream

.

.

.

Lust berlari dengan ceria sedari rumah tetangga barunya. Ia senang mendapat kesempatan bertemu dengan kucing judes anggun yang ia temui sebelumnya. Di rumah Fang—remaja berkacamata itu menyambut Lust di halaman sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kau ini—dari mana saja?"

Lust hanya menggoyangkan ekornya dan mengelus-eluskan tubuh bongsornya di kaki Fang. Elusan sedikit kasar di kepala dan leher Lust membuat anjing itu semakin mengibaskan ekor.

"Hh—Ya sudah. Ayo makan dulu."

Kedua orang tua Fang dan Kaizo sudah duduk bersama anak sulung mereka mengelilingi meja makan. Para anjing Husky berada di luar teras samping menikmati makanan di mangkuk mereka, tidur-tiduran, atau bermain mengejar ekornya sendiri.

"Fang, sudah kau urus pendaftaran di akademi yang baru? Katanya kau mau mengurus sendiri."

Tak ada jawaban dari Fang yang hanya terus mengunyah roti di mulutnya. Ia menunduk kecil tak berani memandang mata ayahnya.

Sang ayah tahu ada yang disimpan anaknya dalam hati. "Fang? Apa kau tak mau melanjutkan di akademi militer?"

Pertanyaan itu mengundang ibu dan abang dari remaja berkacamata tersebut ikut memandangi si bungsu.

Fang melirik pada ayahnya. "Umm—a-aku belum tahu…"

Kaizo mengrenyitkan alis. "Apa? Tunggu sebentar. Kau tak mau melanjutkan pendidikan resmi militer? Fang, keluarga kita sudah sejak dahulu memiliki garis keturunan berdarah militer! Masa kau—!"

Hao menepuk pundak Kaizo—memintanya berhenti memaksa Fang.

"Fang—ikut ayah sebentar."

Kaizo tak bisa protes. Ia hanya diam melihat adiknya berjalan mengikuti sang ayah menuju lantai atas. Lust yang penasaran turut mengikuti majikan tersayangnya.

Hao berjalan menelusuri lorong hingga sampai di ruang baca. Di mana rak buku berjejer dengan isinya yang penuh dengan segala ensiklopedi, album, segala bacaan berbau militer, filsafat, hukum, kenegaraan, dan apa pun itu yang berhubungan dengan pekerjaan sang ayah. Piala, foto-foto yang berjejer, serta penghargaan-penghargaan yang berkilauan.

Hao berdiri di hadapan lemari megah tersebut. Fang mendampingi ayahnya diikuti Lust yang kemudian duduk di samping kaki Fang.

"Seperti yang abangmu katakan, darah militer yang mengalir di keluarga kita adalah suatu kebanggaan sejak dahulu—Apa boleh ayah tahu kenapa kau tak ingin melanjutkan pendidikan di akademi?"

Fang menunduk. Semenit-dua menit ruangan tersebut tak terdengar suara apa pun.

"Aku—tak ingin menjadi prajurit…"

Kalimat Fang tak membuat ayahnya terkejut. Hao hanya diam. Ia menepuk pundak anaknya dan mengajak duduk di sofa yang berada di dekat jendela ruang baca.

"Kenapa? Apa itu bukan cita-citamu?"

Fang kembali terdiam. Tapi anggukan menjawab kemudian.

"Boleh ayah tahu apa cita-citamu?"

Hao terus bersabar menunggu jawaban. Tapi kini wajah Fang terangkat. Pandangannya tertuju pada beberapa foto yang berjejer di salah satu sisi lemari. Beberapa piagam serta piala dan medali tertoreh nama Fang.

Foto-foto sang anak bungsu dengan senyuman lebar ketika ia menjadi jawara atlit basket akademinya dalam beberapa tahun sejak masih duduk di bangku Sekolah Tinggi Tingkat Awal.

Hao menyadarinya.

Ia sebenarnya menyadari bahwa sudah sejak lama Fang tidak ada keinginan untuk hidup di bawah kebanggaan garis keluarganya yang lahir dengan darah militer sejak lama. Fang mengidamkan kehidupan dan pendidikan layaknya remaja biasa. Sejak ayah dan abangnya selalu sibuk tak bisa mengatur waktu untuk berkumpul dengan keluarga, hal itu membuat Fang membuang keinginannya untuk melangkah di jalan yang sama dengan Hao dan Kaizo.

Fang selalu menyayangi ibunya. Ia tak pernah melihat atau mendengar sang bunda mengeluh karena suaminya jarang berada di sisi. Elly selalu tegar dan paham akan pekerjaan suaminya. Elizabeth yang nyentrik, ramah, dan ceria—seorang ibu yang amat sangat menyayangi anak-anaknya.

Fang tak suka melihat ayah dan abangnya jarang memiliki waktu menemani ibunda. Maka itu ia menghapus impiannya dari hati yang terdalam. Dan bercita-cita untuk belajar di sekolah biasa layaknya remaja normal lain.

Tak jarang juga Hao merasa bersalah pada istri dan anaknya.

Maka itu—kali ini ia memahami Fang yang terus menatap medali kebanggaannya.

Medali juara basket yang paling ia banggakan—lebih dari medali kemiliteran milik Fang yang berjejer lainnya.

Sang ayah tersenyum kecil—namun ia lega bisa mengetahui isi hati anaknya secara jujur.

"Fang, sejujurnya ayah benar-benar berharap kau bisa mengikuti jejak keluarga kita. Tapi ayah tidak akan bangga jika kau melakukannya dengan terpaksa dan tak bahagia."

Fang kembali menatap mata ayahnya. Kali ini matanya berbinar.

"Apa—aku boleh sekolah di sekolah biasa?"

Hao mendapatkan pelukan yang luar biasa erat dari anaknya begitu mengangguk memberikan jawaban.

Lust memiringkan kepala kurang bisa memahami. Tapi ia bisa melihat dan merasakan majikannya tengah berbahagia.

"Wuf—!"

"Lust! Kita bisa main basket lagi sepuasnya!"

Basket.

Satu kata yang bisa membuat hati anjing tersebut melambung seperti bola basket yang terpantul keras.

Satu-satunya kegiatan yang nyaris sudah lama tak ia lakukan bersama Fang sejak majikannya itu sibuk di akademinya.

"WUF! WUF! WUF! AUUUUUNG!"

Pelukan, gonggongan dan lolongan bahagia memenuhi seisi rumah membuat para Husky yang lain turut berlarian menuju ruang baca.

Tentu saja Kaizo dan Elizabeth terheran dan ikut bergegas menuju ke mana anjing-anjing itu pergi. Mereka menemukan Hao dan Fang kewalahan berada di antara tujuh ekor anjing-anjing besar berbulu.

"Sayang? Ada apa ini?"

"Hei, minggir kalian semua! Oi, Fang! Kau tak apa-ap—?"

Kaizo hanya bisa terheran melihat adiknya memeluk erat sang ayah. Wajahnya berpendar bahagia. Diikuti Lust yang tak mau lepas dari sisi majikan remajanya.

Hao tersenyum lebar dan membalas pelukan anaknya. Ciuman di kening Fang mengakhiri suasana ramai di ruang baca.

"Aku akan jelaskan sambil sarapan."


"APA!? SUNGGUH!?"

"Hei, Glu—kau terlalu berisik… Aku mau tidur…"

"Ayolah, Sloth! Ini berita bagus! Fang bisa bermain lagi dengan kita semuaaaa—!"

"Sebentar, sebentar."

Gluttony menghentikan langkahnya yang terus berputar gembira seperti badai begitu Pride menengahi.

"Kalau ia melanjutkan sekolah di sekolah biasa—bagaimana pendidikannya sebagai seorang prajurit muda? Dia tak akan menjadi prajur—"

"Hei, Pride. Fang tak pernah menikmati segala pendidikannya di sekolahnya yang lama. Ayolah—kita semua tahu itu. Kita bisa merasakan dan melihatnya setiap hari." Ujar Greed.

Lust mengangguk. "Ya, itu benar. Dan lagi ia ingin menjadi atlet basket. Bukan prajurit."

"Hhh—aku tak paham ini. Selama ini kita telah dididik dalam divisi khusus K-9. Tapi kalau Fang tak menjadi prajurit di masa depannya—siapa yang akan menjadi partner kita nantinya kalau bukan dia!?" Pride terus tak bisa menerima kenyataan. Envy menimang-nimang pendapat saudaranya. Ia juga menginginkan bisa bekerja sebagai partner Fang di masa depan nanti meski Envy tidak ikut divisi k-9.

Tapi dengan kebanggaan partner seorang prajurit bisa membuat Fang memiliki nama yang lebih dikenal masyarakat.

"Kurasa Pride benar—"

Lust menggelengkan kepalanya mendengar pembelaan Envy pada Pride.

"Heeei~ Guuuys—Ayolah. Kita tak boleh egois. Selama ini bukankah Fang telah merawat dan menyayangi kita? Sudah saatnya dia mendapatkan kebahagiaannya' kan?"

"Lust benar."

Kini semuanya memandangi saudara mereka yang biasanya tak pernah memberi komentar apa-apa dalam tiap diskusi.

Wrath dikenal saudara-saudaranya dengan anjing yang sama sekali tak pernah berkomentar apa-apa. Ia hanya diam—atau mengamuk jika ada yang mengganggunya. Namun jika tak ada yang mengganggu dirinya, ia hanya diam memojok memasang wajah garang.

"Kita semua menginginkan Fang menjadi partner kita di masa depan nanti. Kenyataannya kalau Fang tak menikmati impian ayahnya, tetap saja kita tak bisa membuatnya bahagia. Aku tak mau melihat dia menangis lagi seperti dulu."

Semua anjing Husky yang sedang bersantai di teras terdiam.

Mereka ingat jelas ketika Fang menangis mengeluarkan air matanya dalam diam. Beberapa kali di sore hari Minggu di kamarnya sendiri.

Para anjing yang setia padanya senantiasa menjadi tempat curhat.

Di mana Fang selalu menginginkan kehidupan layaknya remaja biasa. Menginginkan sahabat yang berada di sisinya. Terlebih lagi—perhatian sang ayah yang nyaris tak pernah ada di rumah. Juga abangnya yang mulai sibuk dengan jabatannya. Bahkan terkadang ibunya harus bersosialisasi dengan para istri dari segala jabatan di dunia kerja suaminya.

Meski dikelilingi tujuh ekor Husky yang selalu berisik—ia tetap kesepian.

Lust yang paling memahami majikannya karena anjing itu yang paling paham konsep sosialisasi. Lust tak bisa diam meski hanya setengah hari. Ia selalu berjalan-jalan keluar dan menemui segala hewan yang kemudian menjadi temannya di jalanan.

Lust yang dahulu selalu menjadi teman bermain basket di halaman rumah Fang tentu saja mulai kesepian begitu majikannya itu padat akan jadwal akademi. Saat itulah ia mulai kabur-kabur keluar menemui dan menyapa siapa pun di jalan.

"Fang kesepian. Ia butuh teman yang seumuran dengannya—tapi bukan prajurit. Seorang teman! Remaja biasa! Ayolah—siapa yang akan betah bermain basket sendirian? Kita ini anjing, bukan manusia! Fang membutuhkan teman manusia!"

Diamnya para saudara yang lain mengakhiri diskusi. Mereka memiliki kesepakatan yang sama. Ketujuh anjing itu setuju untuk mendukung apa Fang impikan. Dan terlebih—itu artinya Fang ada waktu lagi untuk bermain dengan mereka.

"HOREH! MAIN~! MAIN~! MAIN~!"

"Astagaaa— Glu! Berisik!" Sloth menyembunyikan kepalanya di balik bantal besar dan menekuk telinga.

.

"Kenapa Glu melolong seperti itu?" Ujar Kaizo sambil mengunyah roti di mulutnya.

"Hahahah, biarlah. Mungkin ia senang dengan lingkungan rumah baru ini." Elly menuangkan susu di gelas Fang dan duduk di samping suaminya.

"Baiklah, Fang. Sesuai janji—karena ini pilihanmu dan kau yang mau sendiri mengurus segalanya, ayah ijinkan. Tapi jika kesulitan, biarkan kami membantu, oke?"

"Oke, ayah!" Tak hentinya Fang memeluk sang ayah dengan erat sampai Hao harus meminta anaknya melepaskan pelukannya agar bisa makan dengan santai.

"Oh! Ayah! Kapan kita akan mengenalkan diri pada tetangga!? Nanti kita sama-sama pergi, yah!"

Hao dan Elly saling memandang. "Sepertinya kau semangat sekali untuk ke tetangga baru kita."

"Dia bertemu cinta pandangan pertamanya, Yah." Kaizo memotong sebelum Fang memberi jawabannya.

"KAIZOOOO!"

"Apa? Benar'kan? Anak perempuan berambut pendek manis dari sebelah—"

Kaizo tak hentinya terkekeh sambil menghindari pukulan dari adiknya yang berwajah semerah tomat.

"Ooooh—kau menemui seorang gadis? Siapa namanya?" Mata sang ibunda bersinar penuh semangat. Belum pernah kedua anaknya naksir pada seseorang dan bercerita terang-terangan. Apalagi Kaizo—anak sulungnya tak pernah tertarik pada hubungan romansa sejak dahulu dan bercita-cita untuk tidak menikah.

"Na-namanya Boboiboy. Dia anak tetangga sebelah rumah kita. Ng… jadi kemarin Lust mengejar kucing peliharaannya—"

Hao dan Elizabeth mendengar kisah dari mulut anak mereka dengan antusias.

Matahari Minggu pagi semakin naik menerangi bumi. Para anjing Husky berguling-guling di rerumputan halaman baru mereka yang luas untuk pertama kali.


Sementara itu di rumah sebelah—di mana pintu beranda sebuah kamar lantai dua telah terbuka lebar membiarkan udara segar memasuki ruangan, tujuh ekor kucing bermalas-malasan sambil bermanja-manja di kaki majikan mereka.

Boboiboy merapikan beberapa baju yang baru saja disetrika untuk disusun di lemarinya. Tapi kucing-kucing manis peliharaannya justru begitu senang ada hawa hangat dari pakaian yang ditumpuk di atas tempat tidur. Mereka berbaring di atas pakaian-pakaian itu.

"Aduuuh, aku jadi tak bisa merapikan baju-bajuku."

Boboiboy berkacak pinggang. Tapi dia tersenyum geli melihat para buntalan-buntalan berbulu yang menatapnya dengan polos. "Hhh, kalian ini—"

Para kucing bermanja kembali di pangkuan dan kaki majikan mereka yang duduk di sisi tempat tidur. Baju-baju yang terlipat nyaris berantakan kembali karena Blaze, Ice, dan Taufan berbaring berguling-guling nyaman.

Salah sekor kucing—Gempa—mengeong halus dari pinggir jendela. Boboiboy penasaran karena kucing itu seakan ingin menunjukkan sesuatu. Para kucing berjalan mengikuti majikan mereka sambil bermalas-malasan di teras kamar Boboiboy, menikmati udara segar.

Kini gadis itu tahu apa yang ingin ditunjukkan Gempa. Mata bulat coklat manis Boboiboy melebar kagum melihat apa yang ada di halaman rumah tetangga barunya.

Tujuh ekor Husky besar yang sedang bersantai-santai. Mereka berguling-guling di halaman rerumputan hijau yang cukup luas.

Siulan terdengar menegakkan kepala dan tubuh para Husky. Ketujuh-tujuhnya berlarian hingga menimbulkan suara gaduh yang dapat didengar Boboiboy dari teras kamarnya. Ternyata para anjing itu berlarian menuju sebuah ruang kamar yang letaknya di lantai dua—persis berseberangan dengan jendela teras kamar Boboiboy yang dihias mawar putih.

Boboiboy baru menyadari anak lelaki yang kemarin menyapanya sedang duduk memunggungi jendela kamarnya yang terbuka. Gadis itu bisa lihat jelas punggung gagah Fang dari tempat ia berdiri.

GRUDUK! GRUDUK! GRUDUK!

"GUK! GUK! GUK! GUK! GUK!"

"Woa—woaaah! Hei! Tung—! UFH!"

Ketujuh anjing yang datang karena siulan Fang langsung menerjang dan menimpa majikan mereka yang malang. Boboiboy terkejut tapi tak bisa menahan senyum geli melihat Fang meronta-ronta di seberang sama.

"Astaga! Tu-turun! Aku akan memberikan biskuit kalau kalian—ufh! Du-DUDUK!"

Para anjing langsung duduk berbaris dengan patuh begitu Fang dengan tegas menaikkan nada perintah.

Boboiboy semakin terkagum.

Fang menaruh biskuit anjing satu per satu di hadapan masing-masing Husky. Ia mengangkat tangannya sejajar mata dan diam beberapa detik.

"Yak!"

Serentak para Husky patuh memakan biskuit setelah aba-aba terdengar seiring Fang menurunkan tangan.

Boboiboy terkejut dan semakin kagum melihatnya. Tanpa sadar ia bertepuk tangan—membuat Fang menyadari bahwa kamar yang ia tempati berseberang tepat dengan kamar gadis yang ia sukai.

"Bo-Boboiboy!? Ah, eh… I-itu kamarmu?" Fang langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju keluar teras kamar yang dipagari teralis hitam.

Boboiboy mengangguk ceria. "Anjing-anjingmu hebat sekali! Mereka pintar!"

Fang tersipu sambil mengusap-usap belakang kepalanya. "Te-terima kasih! Ah, wow! Kucing-kucingmu cantik sekali!"

Para kucing anggun dan manis mengelilingi kaki Boboiboy. Sementara Taufan dan Gempa duduk di pinggir pagar teras tanpa takut jatuh.

Gluttony yang selesai menelan biskuitnya duluan langsung menyadari ada tetangga baru yang belum pernah ia lihat.

.

"Wow! Ada anak perempuan! Hei! Baunya enak! Wangi apa ini!? Fang! Siapa dia?"

.

"Guk! Guk! Aungauauauaung!"

"Ssshhh—Tenang, Glu. Dia tetangga kita. Namanya Boboiboy." Fang mengusap-usap kepala Gluttony yang ikut-ikutan berdiri dengan dua kaki dan bersandar di pagar teralis. Boboiboy terkekeh gemas.

Blaze kecil bersembunyi di balik kaki Boboiboy—mengintip penuh waspada.

.

"Hali, apa itu anjing juga? Sama seperti 'Lust' yang sudah mengganggumu? Mereka besar sekali!"

Hali menghela napas. "Ada tujuh ekor makhluk dungu. Bagus sekali—" Desahan napas yang mengiringi sarkasme sang kucing justru membuat Gempa dan Taufan tersenyum. Keduanya tak keberatan ada yang mengisi sunyi rumah di samping yang tadinya kosong.

"Kurasa ini akan menjadi lebih ramai."

"Terlalu ramai. Aku tak suka." Hali mendekati Blaze yang penasaran berdiri di dekat pagar teras—menjaganya agar tak jatuh.

"Hali, lihat! Mereka ada banyak!"

Glu mengangkat kupingnya mendengar ngeongan kecil di seberang sana.

"KUCING! HEI, SEMUANYA! ADA KUCING! KUCING! INI PERTAMA KALINYA AKU LIHAT KUCING! MEREKA KECIL SEKALI! LIHAT LIHAT! KUUUCIIIIIING—!"

.

"GUK! GUK! GUK! AWUWUWUWUWUWUWNG—!"

Fang akhirnya terpaksa menutup moncong Glu yang terlalu berisik. "Astaga, Glu. Jangan berisik! Maafkan dia. Ini Gluttony—satu yang paling berisik. Dia mudah sekali lapar sejak kecil. Makanya aku beri nama begitu."

"Hihihi—Hai, Glu. Senang bertemu denganmu." Lambaian tangan Boboiboy membuat anjing rakus itu senang dan membalas lambaiannya dengan kaki depan yang bersandar pada teralis.

"Oh! Dia membalasku! Manisnya!"

Fang tertawa senang melihat gadis di seberang sana menyukai perkenalan dari anjingnya.

"Mm, apa boleh aku menemuimu di depan rumah? Aku ingin mengenalkan anjing-anjingku padamu agar mereka bisa akrab juga dengan tetangga baru mereka."

"Tentu! Aku akan mengajak kucing-kucingku. Ah—Mm, apa para anjingmu akan baik-baik saja dekat dengan kucing?"

Fang terdiam ragu. Kenyataannya setahu Fang, para anjing Husky miliknya tak pernah berinteraksi dengan kucing. "Mmm—mungkin lebih baik aku ikat mereka dulu."

Boboiboy juga turut berpikir. "Aku juga akan memasukkan para kucingku ke kandang dahulu kalau begitu."

"Apakah repot? Aku bisa bantu kalau boleh."

Boboiboy senang mendapat tawaran tersebut. "Terima kasih. Aku memang butuh pertolongan."

.

.

.

tbc


.

.

.

VINIE-CHAN — Iyap! xD Mau sekalian nyocokin sama Kaizo-Fang yang memang ada Asia-nya ^^ Apalagi ini settingnya bukan kaya di Melodi Malam Hari, jadi maunya kelihatan bahwa darah Asia mereka lebih kental ^^

Duuuuh! Kamu punya kucing!? Ih aku iriiii! Pasti gemesin xD Blaze paling bawel nih xD Tapi dia paling sayang sama 'Mama Hali'-nya wehehehe xD

Melissa'sHere — Yes xD But Fang really love his huskies ^^ So he won't mind to take care all of them ^^

LizzNP — Thank you! xD Majikan sama peliharaan sama2 imut nih! xDD Wkwkwk!

Yue — Thank youuu! Hali imutnya kalo dipanggil 'mama', yah? xD Wkwkwk!

Blackcorrals — Wahahah! Kalo aku suka husky karena mereka gagah xD Wah, sama dong! Dulu aku juga pernah digigit anjing punya eyang. Tapi untungnya nggak trauma ^^ Cuma jadi lebih hati2 kalo mau deket2 anjing ^^

Harukaze Kagura — Sepertinya PrideGem paling ditunggu sama teman2… nanti pasti ketemu kok! xD Sabar yah ^^Woahahahah! Aku juga suka KaiFang! Samaan nih! xD

Regietta580 — Thank youuuu ^^

Rhyuu-ni Chan — Blaze is the hyper and cutest kitty wkwk xD Eh? Kenapa ganti penname? Wah, makasih udah ngenalin diri lagi ^^7

Silver Celestia — Iyaaa xD Tapi nanti namanya bukan Boi ama Fani lagi hehehehe xD

kokuo chan — Anak2 anjingnya udah gede2 di sini ^^ Pasti ketemu kok! xD

nevyandini — Tapi nanti romancenya kayaknya bakal pelan2… Biar lembut nggak kagetan ketemunya ^^;;;Yasss! Sloth is the smartest dog indeed! LOL! xDMama Hali is the lovely mommy among the adult cats xD LOL!

xierally19 — Chapter esok temu! xD Blaze masih kitten di sini xD Tapi dah sedikit besar xD But still she's too small for Lust bila nak fighting LOL! xD