Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


Dogs and Cats

.

.

.

Hao dan Elizabeth yang sedang membereskan pakaian untuk dirapihkan dalam lemari di kamar mereka terheran mendengar suara gaduh menuju tangga. Dan mereka belum pernah melihat Fang berlari bersama para Huskynya penuh semangat seperti demikian.

"Fang? Kenapa kau terburu, sayang?"

"A-aku mau ke tetangga! Boboiboy dan aku mau saling mengenalkan para kucing dan anjing kami!"

Hao dan Elly berpandangan. Mereka menghentikan kegiatan beres-beres mereka dan mengikuti Fang.

Di ruang tengah, Kaizo yang sedang ngemil sambil nonton televisi ikut mengrenyitkan dahi melihat Fang buru-buru mengikat para Huskynya di depan garasi.

"Hei, sedang apa ka—"

Sayang, sang abang sama sekali tak digubris. Fang langsung berlari keluar halaman setelah mengenakan sepatu.


Dari balik pintu garasi, Kaizo dan kedua orang tuanya mengintip—melihat Fang berlari menuju rumah tetangga mereka dan kembali dengan membawa-bawa sesuatu.

Dua buah tas besar? Ah, bukan. Itu kandang kucing! Ada lima buah kandang kucing.

Tak lama muncul seorang gadis manis berambut hitam pendek dengan aksen putih di helaian rambutnya.

"Ooh, itu pasti anak perempuan yang disukai Fang!" Tebak Elly gemas.

Boboiboy tampak ragu mendekati para Husky yang duduk berjejer terikat di dekat pagar rumah.

"Tenanglah. Sudah kuikat, kok. Nah—Semuanya, kenalkan ini Boboiboy. Dia tetangga baru kita." Fang mengulurkan tangan. "Boleh kupinjam sebentar tanganmu?"

Boboiboy malu-malu memberikan tangan kanannya. Fang menggandengnya perlahan sambil mendekati para Husky yang duduk dengan patuh.

Para anjing memeking manja dan penasaran. Entah apa yang ingin Fang lakukan dengan menggandeng gadis yang baru mereka lihat itu berjalan perlahan mendekat.

"I-ini pertama kalinya aku melihat Siberian Husky sedekat ini. Apa mereka memang berukuran besar?"

Fang terkekeh, "Oh—sebenarnya mereka keturunan ras gabungan. Ayah mereka Alaskan Malamute, dan ibu mereka Siberian Husky. Jadi mereka bertubuh bongsor seperti ini karena turunan dari ayah mereka."

Boboiboy mengangkat alis. Itu menjelaskan kenapa para Siberian Husky itu tidak memiliki ukuran Husky pada umumnya. Mereka berukuran lebih besar dan bulunya lebih tebal sedikit dari pada ras Siberian Husky biasa.

Fang kembali menarik lembut tangan Boboiboy pada salah satu Husky yang berada di paling kiri. "Ini Envy. Dia yang paling bungsu dan manja."

Boboiboy tersenyum membiarkan tangannya dibimbing Fang mengelus kepala Husky piaraannya agar mereka mengenali bau teman baru sang majikan. "Hai, Envy."

Envy dengan ramah memberikan kepalanya untuk dielus, membuat Boboiboy tak takut dan nyaman berada di dekat anjing besar itu.

"Yang ini Wrath."

Terdengar geraman tak ramah membuat Boboiboy agak menarik tangannya takut. "Wrath. Ini teman baruku. Kau tak boleh begitu, oke? Tak apa, Boboiboy."

Akhirnya gadis itu berusaha kembali memberanikan diri membiarkan Fang kembali membimbing tangannya mengelus kepala Wrath yang galak. Begitu jemari lentik itu menyentuh kepala Husky penggerutu tersebut, Wrath mulai merasakan lembut belaian di kepalanya. Geraman tak lagi terdengar begitu anjing itu merasa nyaman dan aman di bawah belaian gadis yang baru dikenalnya.

Di balik pintu garasi—ternyata Kaizo, Elly, dan Hao sempat menahan napas melihat Wrath yang terkenal galak tengah diperkenalkan pada orang baru. Mereka terkejut mendapati gadis itu kini bisa duduk berjongkok sambil mengelus-elus leher Wrath.

"Hai, Wrath. Salam kenal. Aku akan menjadi tetangga barumu."

Setidaknya anjing dengan perangai keras itu melihat senyuman lembut dari gadis yang beraroma wangi di hadapannya, membuat Wrath menilai bahwa majikannya akan baik-baik saja jika berada di samping Boboiboy.

Fang tersenyum bangga dan lega. Ia kembali membimbing Boboiboy. "Dan yang ini—Astaga, Sloth… dia tidur lagi."

Sloth dengan malasnya merebahkan tubuhnya santai dan mendengkur tak peduli.

Boboiboy tertawa geli melihatnya. Ia tak segan lagi mengelus-elus tubuh anjing besar pemalas tersebut. "Hai, Sloth. Kau pasti lelah setelah pindahan, yah?"

Suara lembut dan wangi yang belum pernah dikenal membangunkan Sloth. Ia menegakkan kepalanya melihat Fang dan seorang gadis duduk berjongkok di sampingnya. Boboiboy membiarkan anjing itu mengendus-endus. Dan Sloth justru menikmati belaian lembut serta garukan di leher dari jemari lentik teman baru majikannya. Tak lama Husky penidur itu kembali menguap dan berbaring tak peduli.

"Hihihi, kurasa ia akan cocok dengan Ice. Kucingku yang satu itu juga pemalas sekali."

Fang dan Boboiboy tertawa bersama melihat kemalasan Sloth.

"Yang ini—Aduh! Hei! Glu!"

Gluttony mengibaskan ekornya cepat penuh semangat dan menerjang gadis beraroma wangi. Memeluk leher sang gadis yang terkejut luar biasa dengan dua kaki depannya yang berbulu. Jelas sekali terlihat Gluttony terlalu senang bertemu gadis itu.

"KYAH!"

.

"BAU MANIS! BAU MANIS! APA INI BAU KUCING!? SIAPA INI? DIA MANIS! BAU MANIS! BAU COKLAT! HEI! DIA GADIS YANG TADI ADA DI LUAR JENDELA KAMARMU, FANG!"

.

"GUK GUK GUK GUK! WUUFFFF—!"

Fang langsung menarik anjingnya yang kelewat periang itu. "GLU! DUDUK!"

Meski diperintah tegas, Gluttony duduk sambil tetap mengibaskan ekornya. Tapi tak lama anjing itu mengelilingi Boboiboy dengan bahagianya sampai tali yang mengikati collar lehernya nyaris mengikat kedua kaki Boboiboy.

Boboiboy agak takut—tapi tawa manisnya terdengar kemudian. Ia langsung tahu bahwa Gluttony terlalu bersemangat dan ingin mengajaknya bermain.

"Oh—! Hahahah! Dia manis sekali!" Boboiboy melepaskan diri dari tali yang nyaris mengikat kakinya. Ia berjongkok dan menggaruk-garuk leher si anjing yang terus mengeluarkan lidahnya bernapas cepat penuh semangat. "Hai, Glu! Kau benar-benar sangat penuh semangat, yah!"

Gluttony langsung merebahkan tubuhnya meminta digaruk lebih banyak lagi. Boboiboy semakin tertawa lepas—geli melihat tingkah anjing ramah tersebut.

Tapi Fang akhirnya meminta Glu kembali ke barisan. "Aduh, dasar anjing kelebihan energi. Hahah!"

Fang membantu Boboiboy bediri dan kembali membimbing tangannya ke anjing yang lain. Sayang sekali, Glu menghalangi—ia ingin bermain lagi dengan gadis ramah itu.

"Gluuuu—" Fang terpaksa mendorong tubuh besar Gluttony dan memaksanya duduk di barisan. "Hhh—Maaf. Aku tak tahu ia bisa sesemangat ini bertemu orang baru."

"Hihihi! Aku senang bisa langsung akrab dengannya."

Fang tersenyum tersipu. Ia juga lega bisa akrab dengan Boboiboy berkat Gluttony. "Ah, dan yang ini. Pride."

Pride duduk diam dengan patuh sambil mengendus-endus Boboiboy. Ia berjalan mengelilingi gadis itu sambil mengendus penuh waspada. Mendapat perlakuan kaku seperti demikian, Boboiboy berdiri diam di tempat membiarkan Pride memeriksa dan merasa bahwa keberadaannya tak mengancam.

Akhirnya anjing tersebut kembali duduk di barisannya dengan tertib dan membiarkan gadis itu membelai tubuhnya. "Wow, dia gagah sekali."

"Dia salah satu anjing penjaga yang terbaik di rumah ini. Dan ini Greed—" Belum selesai Fang memperkenalkan mereka, si anjing matre langsung mengendus antusias membuat Boboiboy sedikit geli melihatnya.

Greed mengendus-endus dari sandal hingga pakaian yang dikenakan Boboiboy. Ada wangi sabun bercampur bunga dari tubuh gadis itu.

.

"Hmmm—baju dan sabunnya cukup bermerk. Sepertinya gadis ini dari keluarga yang cukup berada. Dan—hei, apa ini? Bau coklat? Bau enak!"

"COKLAT! AKU SUKA COKLAT!" Kembali si Gluttony menggonggong semangat dan mengibaskan ekornya.

Pride menggeleng kepala, "Glu—kau jangan berlebihan begitu. Greed, sampai kapan kau mau mengendusnya. Sudahlah—kau mulai membuat dia tak nyaman. Lagipula memang kenapa kalau gadis itu dari keluarga berada?"

"Hei, aku hanya memastikan bahwa gadis ini 'sejajar' dengan majikan kita."

Lust menengahi, "Hei, heeei~ Ayolah. Kalaupun dia bukan dari keluarga kaya, kurasa gadis ini cukup bisa membahagiakan Fang. Lihatlah wajah Fang. Dia dari tadi nyengir melulu. Sepertinya ia menikmati genggaman tangan gadis ini, heheheh."

Greed akhirnya berhenti mengendus. "Dasar, Fang. Dia memanfaatkan kesempatan."

.

"Dan, yang ini—Kalian sudah saling kenal tentu saja—Lust."

Lust menyalak ramah dan melompat menggosokkan tubuh besarnya pada Boboiboy hingga gadis itu tertawa riang.

"Hai, Lust! Aku senang bisa bertemu kau lagi! Terima kasih sudah mengunjungi rumahku saat sarapan tadi, yah—Orang tuaku senang sekali kau bertamu."

Fang mengrenyitkan dahi. "Tadi? Ke rumahmu? Lust? A-apa dia mengejari kucingmu lagi?"

"Ahahah, bukan. Lust justru mengenalkan dirinya pada orang tuaku dan kucing-kucingku. Benar' kan, Lust?"

"Guk!"

.

"Lihat~ Dia manis' kan?" Lust benar-benar menikmati belaian tangan Boboiboy. Tampang anjing tersebut membuat saudaranya yang lain agak sebal.

"Hhh—dasar caper." Sindir Pride.

Gluttony tiba-tiba mendekati salah satu kandang kucing yang diletakkan dekat garasi. Di dalam kandang tersebut ada Ice dan Blaze yang ketakutan melihat moncong raksasa mengendus-ngendus luar kandang.

"Kucing! Ada bau kucing! Hei, semua! Ada kucing dalam kotak ini! Hai, kucing—!"

Di dalam kandang, Ice meringkuk ketakutan. Blaze maju ke depan meski ia juga merasa takut.

"Hiii—Be-besar sekali!"

"Fsssht! Hei! Ja-jangan dekat-dekat, kau! Fffssht—!"

Halilintar yang melihat dari kandangnya panik luar biasa. Ia mendobrak-dobrak pintu kandangnya dari dalam berusaha keluar.

"TIDAK! JANGAN! JANGAN DEKATI MEREKA! FFFSSHHT—!"

GLUDAK! GLUDAK! GLUDAK!

.

Boboiboy mulai khawatir melihat kandang Hali yang terkunci didobrak-dobrak kasar oleh Halilintar yang merasa terancam di dalamnya. "Hali, astaga—"

Boboiboy mendekati dan berusaha membuat kucingnya tenang. Sayang Hali justru semakin ganas melihat Gluttony mengendus-endus sekeliling kandang Blaze dan Ice.

Fang langsung menyadari bahwa kucing itu tak suka akan keberadaan Glu yang mendekati kucing-kucing kecil lain di dalam kandang yang tertutup. "Glu—mundur. Jangan gegabah. Kau membuat para kucing ini takut."

Boboiboy berpikir mungkin ia harus mengeluarkan Halilintar terlebih dahulu dan menggendongnya perlahan. Namun melihat bulu kucing hitam tersebut berdiri tak ramah dan terus mendesis di dalam kandang—Boboiboy berpikir kembali. Gadis pemilik para kucing menyadari bahwa Taufan dan Gempa nampak baik-baik saja tak terancam. Maka ia perlahan-lahan mengeluar kedua kucing dewasa yang lain terlebih dahulu.

Gempa dan Taufan keluar kandang sambil mengendus-endus waspada.

Fang memegangi tali kekang Gluttony agar tak terlalu agresif mendekati para kucing.

"Kalian tetap di tempat. Biarkan para kucing ini yang mendekati kalian."

Boboiboy kembali dibuat kagum oleh para anjing Husky yang patuh pada perintah majikannya. Mereka benar-benar diam di tempat membiarkan Taufan dan Gempa yang berjalan mendekati mereka.

Kedua kucing dewasa tersebut sedikit takut tercampur kagum. Belum pernah mereka sedekat itu berdiri berhadapan dengan anjing berukuran besar.

.

"Oh, wa-waw. Ng—Hai. Aku Taufan." Kucing belang hitam-putih berusaha menyapa ramah.

"HAI KUCING! HAI! HAI—!"

Saudara Gluttony yang lain hanya bisa menggeleng dan menghela napas. "Hhh—Glu. Kau terlalu senang, kau tahu itu?"

Taufan tertawa riang melihat keramah tamahan Gluttony yang luar biasa. "Hahahah! Senang bertemu denganmu juga!"

Gempa turut terkekeh manis. Ia bergilir maju. "Selamat pagi, aku Gempa."

"HAI KUCING!"

"Astaga. Glu—hentikan itu." Sungguh Pride ingin sekali mengunci saudaranya di kandang. "Selamat pagi, aku Pride. Dan yang ini Greed—"

Greed tersenyum sambil mengangkat alis dan mengibaskan ekor. Kemudian Pride mengenalkan saudaranya yang lain lagi. "Dan yang dungu ini, Gluttony—"

"HAI KUCING! Eh—Hei, siapa yang dungu!?"

Tanpa menggubris protes Gluttony yang mengundang tawa Gempa dan Taufan, Pride terus mengenalkan yang lain. "Ini Sloth—jangan pedulikan dia. Kerjanya hanya tidur seharian. Dan ini Wrath—Hei, jangan menggerami mereka."

"Grrrrh—"

Gempa dan Taufan agak mundur ketakutan.

.

Boboiboy ikut khawatir dan takut melihat para kucingnya berjalan mundur ketakutan. Fang turun tangan. Ia memeluk leher Wrath berusaha membuat anjing itu tenang. "Wrath. Ini kucing-kucing peliharaan Boboiboy. Mereka tak akan melukaimu. Mereka akan menjadi temanmu, oke?"

Perlahan, anjing galak itu mulai tenang. Bahkan Pride maju melindungi dua kucing yang ketakutan tersebut.

.

"Wrath. Kau dengar kata Fang. Jangan takuti mereka."

"Grrh—Ya, ya…"

"Oke—Dan ini Envy."

"Hai! Bulu kalian sepertinya lembut sekali."

Gempa dan Taufan saling melempar senyum mendengar pujian itu. "Terima kasih! Kau juga sepertinya sangat terawat."

"Thanks! Yup, Fang selalu membawaku ke salon anjing!"

"Salon anjing? Apa itu seperti salon kucing—tapi khusus anjing?"

"Hmmm—Entah, aku belum pernah ke salon kucing. Tapi sepertinya begitu."

"Oke—Dan yang ini Lu—"

Lust langsung menyerobot membuat Pride sebal. "Aku Lust! Senang bertemu dengan anda nona-nona kucing yang manis~"

Gempa dan Taufan terkekeh geli. "Hai, Lust. Kudengar kau mengejari Halilintar."

"Oooh—Mm, ya itu… Aku hanya bermaksud berkenalan dengannya. Tapi, yah—memang salahku. Aku terlalu semangat dan tak tahu kalau dia akan sekaget itu. Maksudku—aku kenal beberapa kucing dan berteman dengan mereka. Jadi kukira pendekatan yang kulakukan itu baik-baik saja."

Mendengar penuturan Lust, Gempa dan Taufan kembali saling memandang. "Mmm—Lust. Kurasa lain kali akan kami ceritakan mengapa Hali membenci anjing."

Bisikan dari Gempa membuat para Husky ikut saling memandang satu sama lain.

.

Boboiboy dan Fang lega melihat Gempa dan Taufan bisa akrab dengan para anjing Husky.

"Apa akan baik-baik saja jika aku keluarkan Hali?"

Melihat semua bulu Halilintar masih berdiri di dalam kandang membuat Boboiboy kembali ragu mengeluarkan kucing itu dari kandangnya.

"Hmm—Mau coba dulu? Kau bisa menggendongnya."

Akhirnya Boboiboy dibantu Fang mengeluarkan Hali dari kandang. Sedikit kesulitan karena Hali terus mendesis galak pada anjing-anjing Husky tersebut.

.

"Gempa! Taufan! Jangan tertipu! Menjauh dari mereka! Fffshhht—!"

"Hali, tenang. Mereka baik-baik saja. Ayolah—" Taufan berusaha meyakinkan Hali. Ia mendekati kucing hitam itu sambil membujuknya dibantu Gempa.

"Hali, mereka hanya ingin berkenalan dengan kita."

"TIDAK! FFFSSSHHHT!"

.

Boboiboy semakin panik karena Hali terus meronta dalam pelukannya. "A-astaga, Hali! Maaf, dia belum pernah seperti ini sebelumnya…!"

Fang turut berusaha membuat Boboiboy tak merasa canggung karena kucingnya terus menolak keberadaan para anjing. Fang mengerti kalau ada beberapa kucing yang benar-benar memusuhi anjing.

"Tak apa, Boboiboy. Kurasa Halilintar juga butuh waktu karena ulah Lust kemarin. Seharusnya aku yang minta maaf."

Tanpa mereka sadari, Gluttony kembali mendekati kandang Blaze dan Ice perlahan sembari mengendus perlahan. Hali yang melihatnya menjadi gelap mata. Ia melompat dari pelukan Boboiboy dan membuat majikannya terkejut luar biasa. "HA-HALI!"

Halilintar berlari dan langsung menghadang Glu—mengejutkan anjing tersebut.

.

"JANGAN MENDEKAT! FFFFSSSHHHT!"

"Astaga—kucing itu galak sekali." Komentar Pride. Lust langsung melindungi Glu, berusaha menenangkan Hali.

"Hei, Hali—Maaf, tapi Glu hanya—"

CRATS!

"KAING—!"

.

Semua yang berada di situ, termasuk Kaizo dan kedua orang tuanya yang mengintip terkejut setengah mati.

Halilintar menyakar moncong Lust hingga berdarah.

.

"MUNDUR! JANGAN DEKATI MEREKA! PERGI! FFFSSSHHHT—!"

Blaze dan Ice yang berada dalam kandang semakin panik mendengar lengkingan dan desis galak dari luar kandang. "Hali! Hali! Apa yang terjadi!?"

Taufan dan Gempa langsung menghalangi Halilintar yang sudah kembali mengangkat cakarnya.

"Hali! Kumohon hentikan!"

.

Lust memeking kesakitan. Fang langsung memeriksa moncong anjingnya. "Lust! Kau tak apa!?"

"HALI! APA YANG TERJADI PADAMU!?" Boboiboy belum pernah membentak kucing-kucingnya sebelum ini. Ia sungguh takut dan kaget melihat tingkah Hali.

"A-astaga! Ma-maafkan aku, Fang! Lust! Ah—berdarah!" Boboiboy bergegas mengelap darah yang menetes dari moncong Lust dengan ujung sweater-nya.

"Tak apa, Boboiboy—Sepertinya Halilintar memang trauma karena kemarin." Fang berusaha menenangkan gadis tersebut. Tapi ada air mata yang menetes di pipi gadis itu. Tangan lentik yang sedang menahan darah di moncong Husky tengah bergetar.

"Ma-maafkan aku! Aku-aku tak tahu apa yang terjadi pada Hali! Dia belum pernah seperti ini sebelumnya!"

Fang hendak membuka mulutnya hendak kembali menenangkan Boboiboy. Tapi entah bagaimana tak ada kata-kata yang bisa ia keluarkan.

Lust mengelus-elus luka di moncongnya dengan kaki depan sambil menahan sakit. Cakaran yang cukup dalam. Anjing itu mengangkat wajahnya—mendapati sebuah pemandangan yang membuatnya terdiam.

Halilintar mengangkat semua bulunya, mendesis penuh amarah. Tapi kucing itu gemetar. Matanya yang menyorot tajam penuh ketakutan luar biasa. Ia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi saudari-saudarinya yang masih kecil di dalam kandang sana.

Taufan dan Gempa yang masih terkejut hanya bisa diam berusaha memahami saudari mereka.

"Ma-maafkan aku, Fang… hiks…"

Baik Boboiboy maupun Fang, keduanya semakin merasa bersalah. Mereka tak menduga acara perkenalan akan berakhir seperti demikian.

"Boboiboy, tenanglah. Tak apa. Ini bukan salahmu ataupun Hali. Ayo, kau mau ke rumahku dulu? Kita minum teh menenangkan diri dulu—"

Boboiboy sempat menggeleng. Namun Elly yang masih melihat dari kejauhan semakin merasa iba melihat gadis tersebut. Ia keluar dari persembunyiannya dan menghampiri kedua remaja yang terduduk di depan garasi.

"Sayang, ayo masuk dulu. Kami akan merasa tak enak jika kau pulang dalam keadaan seperti ini." Bujukan halus Elizabeth membuat Boboiboy sedikit tenang. Akhirnya ia mengangguk.

Fang dibantu Kaizo mengajak para anjing masuk ke rumah—juga para kucing dan kandang mereka. Boboiboy terus menggendong Hali, takut kucing itu kembali mengamuk.

.

"Boboiboy? Kita akan ke mana!? Ini sarang anjing! Boboiboy! Ayo, pulang! Tempat ini berbahaya untuk Blaze, Ice, Thorn, dan Solar—!"

.

Ngeongan Hali tak digubris, akhirnya ia dimasukkan kandang oleh Boboiboy. Halilintar melihat mata Boboiboy yang berkaca-kaca.

Ia menyesal. Maka Hali hanya diam tak melawan lagi. Terutama ketika bisikan penuh nada sedih dan gemetar terdengar di telinga lancip si kucing hitam.

"Hali—apa yang terjadi padamu?"

.

.

.

tbc


.

.

.

Regietta580 – Thank youuuu! xD Hmm, kalo di cerita ini, para Husky-nya masuk ke usia remaja manusia. Jadi kira2 begini: 7 Husky dengan Halilintar, Taufan, dan Gempa seumuran. Tapi Blaze, Ice, Thorn, dan Solar lebih muda lagi, mungkin anak-anak yang mulai menuju remaja ^^ Makanya Blaze manja banget sama Hali xD

saiken neechan – Hmmm, ukurannya kira2 sepinggangnya Boboiboy kali yah xD Jadi di bawah pinggangnya Fang. Soalnya di sini Huskynya peranakan Alaskan Malamute dengan Siberian Husky ^^

Nesiakaharani Infanteri Ind1 – Wow! Suka FangBoy juga? Salam kenal! xD

blackcorrals – Wow! 7! Kaya elemental Bbb yah xD Ah, semoga kucing2nya juga hepi di majikannya yang baru…

Wrath diam2 menghanyutkan yah xD

Harukaze Kagura – Wah, untung ortu pengertian sekali!

Kalo endingnya nggak gantung, berarti udah tamat dong xD wkwk. Nah ini Bbb-nya dulu yang ketemu ama guguk-guguk Husky xD

Maharani213 – Makasih Maharaniiiiii! xD Hali itu judes, dingin, tapi baik kayak mama-mama wkwkwk xD Duh aku juga pingin banget punya kucing tapi ga bisa miaranya, hiks…

Rhyuu-ni Chan – Wah, aku sampe terharu ;;w;; Makasih banyak banget udah ngikutin ffku yaaaah! Mamanya Fang punya 2 anak laki2 semua sih xD Jadinya seneng banget kalo ada anak perempuan xD Kalo Fang-nya cewe, yang overprotektif si Kaizonya nanti wkwkwk xD

xierally19 – Yas! More FangBoy now! xD

nevyandini – Sebenernya keputusan Hao itu karena pengalaman pribadi xD Bapakku orangnya paham banget sama keinginan anaknya tanpa harus maksa pendapat beliau xD wkwk! Yas! Glu is the cheerfull one! xD