Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


Cats and Dogs

.

.

.

Dalam rumah Fang, Elly menyuguhkan teh dan kue. Boboiboy menyeruput kecil teh dari cangkirnya. Akhirnya tangan gadis itu tak gemetar lagi. Ia menjadi lebih tenang meski setiap ia melihat luka di moncong Lust yang sedang diobati Fang hatinya menjadi sesak.

"Maafkan saya."

Elly duduk di samping Boboiboy dan memeluk kepala gadis itu. "Oh—tak apa, sayang. Aku sudah dengar semua cerita dari Fang. Kurasa memang Hali trauma karena ulah Lust kemarin."

Gempa dan Taufan mengendus-endus tempat baru yang mereka kunjungi. Greed serta merta mengajak Taufan berkeliling. Gempa tetap duduk di samping kaki Boboiboy berusaha membantu majikannya menenangkan diri. Tak disangka—Elly begitu tertarik akan keberadaan para kucing di situ.

"Boleh kupangku dia?"

"Oh, tentu. Gempa paling suka dipangku."

"Wah, lembutnya! Kukira kucing akan memberontak jika dipeluk, ternyata mereka begitu manis!"

Hao mengangkat alis melihat istrinya memeluk seekor kucing seperti memeluk boneka dengan gemas. Bagi Hao dan Elly yang belum pernah memelihara kucing, Boboiboy dan para peliharaannya yang bertamu menjadi pengalaman baru.

Fang duduk di dekat ayahnya sambil mengobati Lust. Untungnya Fang sudah terbiasa mengobati luka macam demikian karena sedari dulu anjingnya memang terkadang bandel dan banyak tingkah.

Sementara itu Kaizo hanya diam di bangku meja makan sendirian—memandangi kucing hitam yang terbaring lesu di dalam kandangnya yang ditaruh di atas meja.

Sang Kapten muda penasaran dan membuka pintu kandang—membuat Hali terkejut. Kaizo perlahan-lahan memasukkan tangannya dan mengelus-elus kepala Hali dengan lembut. Setelah yakin Hali menerima dirinya, Kaizo mengeluarkan kucing hitam itu dari kandangnya.

Ia mengelus-elus dan sedikit menggaruk-garuk tubuh Hali.

Tiba-tiba jemarinya merasakan ada sesuatu di balik bulu-bulu lebat si kucing. Terasa seperti bekas luka namun sudah lama. Kaizo mulai mengambil kesimpulan.

Ia berdiri sambil menggendong Halilintar—membawanya ke ruang tengah di mana semua berkumpul di situ.

"Boboiboy—apa… Halilintar pernah diserang anjing sebelumnya? Ketika dia masih kecil, mungkin?"

Boboiboy terdiam sebentar untuk berpikir berusaha mengingat. "A-aku tidak tahu. Aku menemukan Hali bersama Taufan dan Gempa ketika mereka masih berumur beberapa minggu tersesat di halaman rumahku. Maka itu mereka kupelihara."

"Kau pernah menyadari ada bekas luka di tubuh Hali ketika kau mengelus bulunya?"

"I-iya. Kupikir itu sakit kulit… Oh—A-apa itu bekas luka—?"

Boboiboy menunggu jawaban Kaizo yang masih diam sambil memeluk Hali yang mulai tenang.

"Aku biasa digigit anjing—terutama Wrath ketika latihan penyerangan di lapangan. Sering sekali ada luka bekas gigitan dan cakaran sampai aku hapal sekali begas gigitan dan cakaran anjing—Ini bukan sakit kulit. Sepertinya Hali pernah diserang anjing ganas ketika kecil dulu. Ini bekas gigitan anjing yang sudah lama sekali. Kurasa Hali bukan trauma pada Lust—tapi ia memang punya trauma yang terus ia pendam."

Boboiboy tak bisa berkata-kata. Ia sedih sekali mendengarnya. Gadis itu menerima Hali dalam pelukannya dari Kaizo. "Ha-Hali, astaga—Maaf… a-aku tak menyadari—Majikan macam apa aku ini… Maaf aku sudah membentakmu tadi—"

Boboiboy memeluk erat kucing hitam kesayangannya. Ia kembali menangis.

Sementara itu Halilintar hanya bisa diam mengeong sedih dalam pelukan Boboiboy.

.

"Boboiboy—maaf, aku membuatmu sedih. Maaf—Ini bukan salahmu."

Kucing hitam legam itu merasa sesak merasakan sentuhan dahi majikannya pada dahinya sendiri. Napas Boboiboy terasa hangat—begitu pula air mata yang mengalir hingga menyentuh bulu Halilintar.

Gempa terdiam melihatnya. Ia menggeliat pelan meminta Elizabeth melepaskan pelukannya. Si kucing belang coklat tersebut melompat turun dan mengajak Lust berkumpul dengan para saudaranya di teras samping. Greed dan Taufan yang baru saja mengelilingi dapur turut mengikuti Gempa dan Lust.

Para Husky yang bersantai di rerumputan halaman samping mengalihkan perhatian mereka pada Gempa dan Taufan yang tak segan mendekat ditemani Lust dan Greed.

Envy melihat plester di moncong Lust. "Hei, moncongmu tak apa? Apa lukanya dalam?"

"Tidak, tidak—Aku baik-baik saja." Lust nyengir lebar.

Gempa tersenyum kecil, lega melihat Lust tak terlalu mempermasalahkan peristiwa tadi.

"Sebelumnya—aku ingin minta maaf karena Hali telah mengejutkan kalian. Terutama padamu, Lust. Seperti yang kau dengar tadi—Hali, Taufan, dan aku ketika masih kecil sebatangkara dan tersesat di rumah Boboiboy. Lama sebelum itu—Halilintar ketika masih kecil sekali pernah diserang anjing liar. Ia digigit di tubuhnya hingga berdarah, dan sepertinya terus membekas di hati. Maka itu ia benci sekali dengan anjing, dan berusaha menjauhkan adik-adik kami dari kalian—"

Kenangan paling horor dan menyedihkan bagi tiga kucing bersaudari yang sebatang kara membuat Gempa sesak.

.

.

.

Ketika ketiganya tak sanggup mengingat rupa induk mereka. Ketika ketiganya belum memiliki nama untuk dipanggil. Ketika ketiganya masih berjalan di jalanan tanpa tujuan.

Gempa dan Taufan kecil tak bisa melakukan apapun. Mereka mematung penuh horor bersembunyi di balik semak melihat kucing hitam saudari mereka tengah digigit dalam moncong bertaring seekor anjing liar besar yang buas.

Gempa dan Taufan hanya bisa menangis dalam diam. Tak sanggup menolong.

Hingga anjing buas itu akhirnya lari terbirit-birit mendengar suara orang-orang yang mengusirnya. Hali bersimbah darah terjatuh di atas tanah. Taufan buru-buru mendekati dan menjilati semua darah yang membasahi bulu hitam Halilintar.

Gempa dan Taufan mengeong-ngeong kecil menangisi kondisi saudari mereka.

Beruntung Halli bisa bertahan dan berjalan lagi.

Hingga suatu saat ketiganya tersesat di sebuah taman bunga mawar putih. Seorang gadis dengan lembut menyambut mereka di rumahnya yang hangat, memberi mereka makan serta minum, memberi tempat tidur empuk nan hangat, serta memberi nama.

.

.

.

Halilintar tumbuh menjadi kucing dengan perawakan paling dingin dan tegas. Ia membenci anjing dalam lubuk hatinya yang terdalam.

Lust menjadi tak enak hati sudah menggoda Halilintar pada pertemuan pertama mereka. Pride hanya mengangkat alis melirik pada saudara sulungnya. Lust menghela napas—tahu apa yang harus ia lakukan atas perintah Pride yang diucapkan tanpa kata.

"Aku—akan minta maaf pada Hali."

"He-hei. Tapi dia masih—"

"Tak apa, Glu. Kurasa kalau berjarak sedikit, Hali akan mau mendengarkanku."

Dengan demikian, Lust berjalan gontai kembali ke ruang tengah.

.

Kaizo yang melihat Lust kembali masuk langsung menghalangi—memberi jarak antara Lust dengan Hali yang sedang digendong Boboiboy agar kucing itu tak mengamuk lagi melihat seekor anjing. "Kurasa lebih baik Hali di kamar Fang dulu."

Fang mengangguk dan menemani Boboiboy ke kamarnya agar Hali bisa lebih tenang di situ. Gadis itu menemani kucing hitamnya untuk beberapa saat hingga lebih tenang.

Kamar dengan ukuran enam kali lima meter, dengan tempat tidur tanpa penyangga sehingga bisa disandarkan pada dinding atau dilipat dan menjadi sofa, lemari pakaian yang menempel pada dinding, rak buku yang berisi buku-buku berjejer serta piala dan piagam penghargaan. Sungguh sederhana dan rapi bagi seorang cowok remaja seperti Fang.

"Wah—kamar yang rapi sekali."

Fang tersenyum mendengar pujian Boboiboy yang baru pertama kali itu masuk kamarnya. Ini juga adalah kali pertama Fang memiliki seorang teman yang bisa ia ajak masuk kamarnya.

"Sebenarnya kamarku yang lama lebih banyak barang dari pada ini. Tapi begitu pindah kemari, aku memutuskan untuk mengurangi barang dan membuat lebih banyak ruang agar anjing-anjingku bisa lebih leluasa dan tidak menubruk atau menginjak barang-barangku karena tubuh mereka sudah tak semungil dulu."

Boboiboy tersenyum geli mendengarnya. Jelas ia sangat paham dengan melihat ukuran tujuh ekor Husky yang bisa memenuhi ruangan itu.

Fang lega luar biasa melihat senyuman di wajah Boboiboy. Ia merapikan tempat tidurnya dan memberi tempat agar Halilintar bisa berbaring nyaman. Tapi tentu saja tak semudah itu membuat Hali bisa berbaring tenang.

Hali mengelilingi mengendus-endus kamar Fang. Ada samar bau anjing membuatnya sedikit tak nyaman. Tapi kemudian perlahan Hali tertidur setelah Boboiboy terus mengelusnya.

"Ah, aku lupa para kucing-kucing kecil dalam kandang."

Fang kembali menemani Boboiboy menuju ruang tengah meninggalkan Hali yang tertidur di kamar Fang sendirian.

Benar saja. Kucing-kucing kecil dalam kandang mulai gelisah. Mereka mengeong-ngeong minta keluar.

Hao mendekati kandang milik Thorn dan Solar. Keduanya penasaran pada sosok yang belum pernah mereka lihat.

Boboiboy perlahan membuka kandang Blaze dan Ice. Elizabeth langsung gemas memeluk kedua makhluk mungil dari tangan Boboiboy. Fang ikut penasaran ketika Boboiboy membuka kandang Thorn dan Solar. Empat kucing mungil yang cantik benar-benar menarik hati Elizabeth membuat wanita itu merasa betah akan keberadaan Boboiboy yang bertamu bersama para kucingnya.

Sementara Boboiboy serta Fang dan keluarganya sedang bermain dengan para kucing kecil—Lust mengendap ke kamar Fang di lantai dua. Pintunya yang terbuka sedikit membantu anjing itu masuk. Ia mendapati Halilintar tertidur di atas tempat tidur Fang.

Suara derit pintu membangunkan Hali dan mengejutkannya melihat Lust yang memasuki kamar.

Hali langsung berdiri dan memojokkan diri pada tembok.

.

"Mau apa lagi kau?"

"Hei—aku hanya mau minta maaf. Aku tak menyangka kau trauma begitu besar pada kami para anjing."

"Kalau kau sudah tahu—jangan mendekat! Fffshhht—!"

Lust mundur memberi jarak. Ia merebahkan tubuhnya di karpet berusaha tak membuat keberadaannya menjadi ancaman bagi Hali. "Hali, ayolah—Kami tak seburuk anjing yang pernah menyerangmu."

Hali masih gemetar. Tapi melihat Lust berbaring rata lantai, kucing itu mulai tenang dan menurunkan bulunya. Pelan-pelan Lust merayap di lantai mendekati Hali.

"Hei—mungkin kita bisa mulai lagi dari awal?"

Hali hanya diam sementara Lust terus membuka topik pembicaraan. "Aku Lust! Husky peliharaan Fang. Dari tujuh bersaudara, akulah si sulung!"

Hali masih diam. Ia berusaha tak membuat kontak mata.

"Hmm—apa boleh aku tahu namamu, nona kucing?"

"Kau sudah tahu namaku. Mana saudari-saudariku yang lain?"

"Mereka bersama Boboiboy dan Fang di bawah—Tenanglah."

Hali tak bergeming. Lust kembali lebih mendekat lagi hingga ia sampai di pinggir tempat tidur Fang mendempet dinding.

"Hei, karena aku adalah tetangga barumu di sini—bukannya lebih baik kita saling mengenal?"

Tak ada jawaban lagi. Hali justru meringkukkan tubuhnya erat.

"Umm—okeee… Mungkin kau bisa mengajakku jalan-jalan mengenal lingkungan sini?"

Lust paham Hali masih takut. Akhirnya ia memutuskan untuk tak bertanya lagi. Suasana sepi membuat anjing Husky tersebut mulai canggung. Lust naik ke tempat tidur Lust membuat goncangan yang mengejutkan Hali.

"Ma-mau apa kau!?"

Lust justru berbaring di samping Halilintar. Ia hanya tersenyum lebar.

"Aku akan menemanimu di sini, oke? Ini kamar majikanku, jadi aku bebas mau ngapain di sini."

Hali terdiam. Napasnya masih terburu. Tapi melihat balutan kecil di moncong Lust membuatnya teringat nada bentakan dari Boboiboy. Air mata yang mengalir di pipi gadis itu.

Belum pernah ia mendengar majikannya semarah dan sesedih itu. Penyesalan kembali bergumul di hati kucing hitam anggun tersebut.


Sementara itu di ruang tengah, para kucing-kucing kecil mengendus-endus penasaran rumah milik Fang. Elly dan Hao duduk di karpet sambil mengelus-elus anak-anak kucing itu. Kaizo justru asyik bermain dengan Taufan yang lincah berusaha menangkap mainan yang dilempar-lempar dari tangan sang Kapten.

Fang lega melihat Boboiboy kembali ceria. Ia tersenyum—senang melihat gadis itu akrab dengan keluarganya.

Gempa hanya duduk santai di teras samping bersama para anjing. Pride, Greed, Wrath, Sloth, dan Envy juga belum berani masuk karena ada anak-anak kucing yang amat sangat dijaga Halilintar. Mereka tak mau membuat ketakutan lebih jauh lagi pada anak-anak kucing tersebut.

Tapi tiba-tiba Gempa memasuki ruang tengah dan mengeong—membuat para kucing-kucing kecil mendekatinya. Tak diduga—kucing dewasa itu malah mengajak para kucing kecil ke teras samping.

"He-hei, apa tak apa-apa?"

Boboiboy menghalangi Fang yang hendak menutup pintu teras. "Tak apa. Gempa pasti akan menjaga mereka. Kita perhatikan dari sini saja."

Gempa mengeong lembut meminta para kucing kecil mengikutinya. Ngeongan kecil mungil bagai bertanya-tanya penuh rasa penasaran.

.

"Gempa, kita akan ke mana?"

"Mana Hali? Mana dia? Apa Hali baik-baik saja?"

Begitu melihat ada beberapa ekor Husky besar yang tengah berbaring di rerumputan, para kucing kecil mulai mengeong ketakutan.

"A-anjing! Gempa! Ada anjing!"

"Hiiii—!"

"A-aku takut!"

Solar ketakutan dan langsung bersembunyi di balik Gempa diikuti saudari-saudarinya yang lain—kecuali Blaze.

Si mungil bandel itu berusaha menahan rasa takut melindungi saudarinya yang lain. "Ja-jangan dekat-dekat! Fffsshht—!"

Gempa tertawa kecil. "Blaze, tak apa-apa. Mereka ingin berkenalan dengan kita. Ayo, kenalkan dirimu pada mereka."

"Tidak mau! Kata Hali, anjing itu berbahaya! Kita tak boleh dekat-dekat! Fffsshht—!"

Para Husky saling memandang melihat seekor kucing mungil yang ukurannya jauuuuh lebih kecil dari mereka.

"Bukan begitu, Blaze. Terkadang kucing dan anjing memang berselisih paham. Tapi para Husky ini ingin berteman dengan kita. Bukankah itu baik?"

Blaze berhenti mendesis galak. "Husky? Apa itu? Apa itu enak?"

Pertanyaan polos Blaze mengundang tawa Gluttony hingga terguling-guling. "AHAHAHAHAHAH! KUCING KECIL INI LUCU SEKALI! Hahahah—! Hai, Blaze! Aku Gluttony—Panggil saja Glu! 'Husky' itu salah satu jenis anjing! Dan kamilah 'Husky'!"

Blaze sempat melompat kaget mendengar tawa lepas Glu. Anjing besar itu langsung berdiri dan melompat ke depat para kucing sambil mengibaskan ekornya ramah. Glu merebahkan bagian depan tubuhnya sambil mengangkat bokong mengibaskan ekor. Gempa paham itu adalah posisi seekor anjing yang ingin mengajak bermain.

Glu meratakan moncongnya di atas rerumputan tepat di depan Blaze. "Hai! Hai! Apa kau mau bermain? Aku suka bermain! Tapi aku lebih suka makan! Makan apapun!"

Blaze terkejut. "A-apapun!? Kucing juga!?"

"HAHAHAHAH! Tidak! Kucing terlalu banyak bulunya—Kurasa kucing lebih baik jika diajak bermain! Mau bermain denganku?"

Nada riang Glu langsung membuat Blaze terbawa suasana. Terutama suara gemerincing dari kalung yang dikenakan Glu. "Mau! Mau—! Kita mau main apa?"

Glu melihat bantal berbentuk bola dengan lonceng kecil di dalamnya—mainan kesukaan Gluttony. "Mau main bola ini bersamaku?"

Baru sebentar saja, keduanya sudah bermain dengan riang. Membuat para majikan mereka tertawa melihat Blaze yang girang berada di punggung Glu.

"Waaa—! Tinggi sekali! Apa semua anjing memang besar?"

Pride menggeleng melihat saudaranya yang kekanakan langsung dekat dengan makhluk mungil. "Tidak—ada juga anjing yang berukuran seperti kucing." Jelas Pride.

"Yah! Tapi terkadang mereka lebih berisik daripada kucing! Gonggongannya sangat nyaring tapi keras!"

"Kau juga berisik, Gluttony." Ledek Envy diiringi tawa para anjing yang lain.

Taufan ikut mendorong sedikit Ice dan Solar untuk mengenalkan diri. Namun kedua kucing mungil itu masih takut untuk berhadapan dengan anjing-anjing yang ukurannya jauh lebih besar dari mereka.

Tak diduga—si pendiam nan pemalu Thorn justru mengendus penasaran pada seekor Husky yang terkenal garang—Wrath.

Ia duduk berhadapan dengan sang anjing—sambil memiringkan kepala mungilnya polos. "Hai. Aku Thorn."

"Grrh—Mau apa kau?"

"Kata Gempa aku harus berkenalan denganmu. Siapa namamu? Kau besar sekali—"

Wrath merasa canggung tak tahu harus apa. Ia tak nyaman melihat si kucing kecil mengendus-endus cakarnya yang besar.

Pride dan Gempa terdiam melihatnya. Kucing kecil yang polos di dekat kaki Wrath mulai mengelilingi anjing ganas tersebut sambil mengendus penasaran.

"Wrath. Kenapa tak kau temani si kecil itu?"

"Apa!? Tapi—!"

"Seperti yang Fang bilang—tetangga kita ingin berkenalan dan mereka adalah teman kita. Lust sudah menakuti salah satu dari kucing ini. Jangan sampai hal yang sama terjadi."

Mendengar perintah dari Pride, Wrath merasa tak bisa berkutik. Ia menggerutu sambil membaringkan tubuhnya malas. Thorn yang masih penasaran terus mengendus-endus hingga ke moncong Wrath.

"Wow, hidungmu besar sekali. Hidungku kecil. Lihat—"

Gempa tersenyum gemas melihat salah satu adiknya menepuk-nepuk moncong anjing penggerutu tersebut. Pride menghela napas lega karena Wrath mau mendengar. Sebenarnya ia sempat khawatir Wrath akan melawan. Tapi sepertinya Husky galak itu tak tega jika Fang mendapat masalah lagi setelah peristiwa Lust barusan.

Sama halnya dengan Fang dan keluarganya di dalam rumah. Mereka kini gemas luar biasa pada Thorn yang tak segan menjilat-jilat kepala Wrath dengan lidahnya yang mungil. Sepertinya anjing tersebut juga tak melihat kucing mungil itu sebagai ancaman serius. Terlebih karena ia sudah mengenal majikan Thorn—Boboiboy.

Solar yang mengintip dari balik Taufan mulai berani setelah melihat saudaranya bisa dekat dengan salah satu anjing besar berwajah seram. Dari punggung pengasuhnya, Solar melompat kecil mendekati Thorn yang bermain-main di bawah leher Wrath.

Envy yang melihatnya menjadi iri. Ia ingin sekali bisa bermain dengan kucing-kucing mungil tersebut. Dirinya merasa khawatir jika tampang yang ia tunjukkan membuat takut para kucing. "Tapi Wrath saja bisa dekat dengan mereka—" gumamnya pelan.

"Envy. Kau jaga yang itu."

Envy agak terkejut mendengar perintah Pride. Solar memiringkan kepalanya penasaran pada anjing yang agak canggung tersebut—tapi si kecil itu justru semakin mendekati Envy. "Hai, aku Solar! Mau main denganku?"

"Eh—Ng, kau tak takut padaku?"

"Mmm—Entahlah, kurasa tidak. Blaze dan Thorn tidak takut dengan teman-temanmu—Wow! Bulumu empuk sekali!" Tiba-tiba si mungil melompat ke tubuh Envy yang masih berbaring di atas rumput. Envy lega melihat Solar sama sekali tak keberatan bermain dengannya.

"Kau mau bermain apa, Solar?"

"Bagaimana kalau petak umpet!? Aku jago main itu!"

"Ahahah—Kurasa aku akan kesulitan menemukanmu jika kau bersembunyi di tempat sempit. Tapi bolehlah."

Gempa kembali tersenyum lega.

"Hei, mana Ice?" Ngeongan Taufan yang mencari-cari salah satu adiknya membuat mereka turut awas. Para anjing takut mereka menimpa atau menginjak tubuh mungil kucing kenalan mereka.

"Di sini—"

Semua menoleh pada Sloth yang kemudian mengangkat kepalanya. Ternyata si kucing pemalas telah menemukan bantal yang pas untuk beristirahat—di antara kaki dan pelukan anjing penidur yang pemalas—mirip dengannya.

"Ya ampun. Mereka ini mirip sekali." Komentar Taufan membuat Greed terkekeh.

"Hei, ayo kutemani jalan-jalan lagi di dalam rumah. Masih banyak yang ingin kuperlihatkan!"

Taufan menyetujui ajakan Greed dan mengikutinya ke dalam rumah. Sementara Boboiboy dan Fang sempat penasaran ke mana keduanya akan pergi. Tapi melihat Taufan dan Greed dengan akrab menaiki tangga menuju lantai dua, mereka membiarkannya.

.

Keakraban di antara para kucing dan anjing Husky membuat Boboiboy bernapas lega. Hao dan Elly juga merasa tenang ketika Boboiboy sudah tak gemetaran lagi. Fang turut senang. Ia tak peduli lagi pada apa yang terjadi di depan rumah tadi. Ia justru senang bisa mengajak Boboiboy masuk ke rumahnya dan memperkenalkan gadis itu pada keluarganya.

"Hei—lihat Gempa dan Pride." Ujar Boboiboy.

Husky yang gagah itu berbaring santai di lantai kayu teras bersama Gempa yang tampak santai di sampingnya. Mereka seperti sedang berbincang—seandainya Boboiboy dan Fang mengerti bahasa hewan tentunya.

.

"—Yah, sejak itu kami rutin menjalani pelatihan. Entah apa akan berlanjut di tempat baru ini. Kudengar markas militer yang baru juga memilik tempat pelatihan khusus anjing."

"Wow—itu keren sekali. Aku terkadang membaca di majalah atau menonton televisi mengenai para anjing polisi. Itu membuatku kagum."

"Kukira kau juga menghindari anjing…? Maksudku—saudaramu trauma karena pernah digigit, jadi aku sempat berpikir kau dan yang lainnya juga—"

Gempa tersenyum kecil mendengar tuturan segan dari Pride.

"Jujur saja—aku memang takut pada anjing sejak kejadian itu. Aku dan Taufan tak bisa menolong Hali. Kami hanya bisa gemetar ketakutan bersembunyi. Sejak itu aku merasa bersalah pada Hali karena tak bisa melindungi atau membelanya—"

Pride terdiam melihat Gempa menunduk. Ia merasa telah salah memilih topik pembicaraan. "Maaf—Aku…"

"Ah—maafkan aku, Pride. Itu sudah lama sekali. Bahkan Hali pernah bilang padaku kalau ia tak ingin mengingat lagi peristiwa menakutkan itu. Ia tetap menyayangi kami sebagai saudari." Gempa lekas mengangkat wajahnya dan memasang senyum agar Pride tak merasa canggung. "Aku lega mendapatkan tetangga baru seperti kalian. Ini bisa menjadi obat bagi Hali dan kami para kucing. Oh—terutama si kecil bandel itu."

Pride mengikuti arah pandang Gempa yang tersenyum geli melihat Blaze tengah minum susu bersama Gluttony. Ia nyaris kecemplung ke dalam mangkuk besar kalau tubuh mungilnya tak ditahan Gluttony.

Pride ikut tersenyum. Ini pertama kalinya ia melihat Glu bertanggung jawab menjaga sesuatu yang dipercayakan padanya—mengingat Gluttony adalah yang paling kekanakan di antara saudaranya yang lain.

"Aku juga—terima kasih kalian mau menerima kami."

"Sama-sama, Pride. Aku senang sekali mengobrol denganmu!"

"Ini benar-benar mengejutkanku sendiri—tapi aku juga menikmati mengobrol denganmu, Gempa."

Gempa tertawa mendengar kejujuran Pride bahwa anjing itu tak percaya bisa mengobrol lepas dengan seekor kucing.

.

Fang begitu bangga pada para Huskynya yang menjaga kucing-kucing yang baru mereka kenal. Tiba-tiba ia menyadari Lust tak ada di situ.

"Eh? Mana Lust—? Astaga—jangan bilang dia ke kamarku."

Fang langsung berlari menuju kamarnya. Boboiboy yang juga mengkhawatirkan Hali akan mengamuk lagi mengikuti Fang menaiki tangga.

Namun yang mereka temukan di kamar Fang justru mengejutkan.

Hali melingkarkan tubuhnya dengan nyaman tertidur di pojok tempat tidur Fang. Dan Lust ikut tertidur di sampingnya bagai menjaga Hali dengan tubuhnya.

"Eh—Mereka akrab?"

Boboiboy mengikuti Fang perlahan menuju para peliharaan mereka yang tertidur di ranjang Fang dengan nyenyak.

"Lust—"

Belaian lembut di kepala membangunkan anjing tersebut. Ia mengangkat wajah dan menemukan majikannya. "Uuuk—"

Suara derit tempat tidur turut membangunkan Hali. Kucing hitam tersebut mengangkat tubuhnya dan merenggangkan hingga melekuk dalam. "Meooong—"

Hali melihat Boboiboy ada di hadapannya. Ia langsung melompat ke pelukan sang gadis dengan manja.

.

"Maafkan aku, Boboiboy—Aku menyesal. Kumohon jangan sedih lagi. Aku tak akan membuatmu kecewa lagi. Maafkan aku—"

Lust tersenyum mendengar penyesalan Hali. Suara ngeongan yang sedikit parau terdengar sedih.

.

Boboiboy memeluk erat seakan paham arti ngeongan kucing peliharaannya. Fang hanya diam. Ia menepuk-nepuk sisi tempat tidurnya agar Boboiboy bisa duduk.

Gadis itu duduk di samping Fang sambil terus memeluk kucing kesayangannya. Lust mengendus-endus sedikit ekor Hali—membuat kucing itu sedikit kaget dan menaikkan bulunya.

"Oh—Hali. Maafkan aku, Lust. Kurasa ia masih sedikit takut…"

.

"Hei—Nona kucing, ayolah~ Aku hanya mengkhawatirkanmu. Itu saja~"

Hali hanya diam. Ia tak berani menatap si anjing. Lust berhenti berkomentar begitu melihat tubuh Hali gemetar.

Kucing itu masih menyimpan trauma.

"Hali—Maaf, aku tak akan mengganggumu lagi. Bolehkah kita berteman?"

Tuturan halus Lust tak digubris. Kucing itu terlalu takut dan malu untuk menatapnya. Terlebih bekas cakaran yang dibalut pada moncong Lust membuat Halilintar merasa begitu bersalah. Ia terus meringkuk dalam pelukan Boboiboy.

.

Tahu kucingnya merasa tak nyaman, Boboiboy terus mengelus tubuh berbulu Hali—berusaha membuatnya merasa lebih nyaman.

Fang juga langsung paham melihatnya. Ia menjauhkan Lust dari Hali. Sedikit-banyak Fang tahu Lust tengah kecewa.

"Uuuk—"

Lengkingan lembut Lust terdengar begitu penuh penyesalan. Fang memeluk leher Husky kesayangannya. "Maaf, Lust. Tapi Hali butuh waktu… Oke?"

.

.

.

tbc


.

.

.

Regietta580

Thorn sama Solar ada di kandang satu lagi ^^ Aduh maaf yah deskripsinya sampe lupa Dx Wah, makasih masukannya ^^ Siapa tau nanti bisa dijadiin satu adegan di antara Sloth ama Ice xD Terima kasih banyak juga udah nyempetin review! ^^7

kurnia24 – Iya nih, Hali galak kalo adek2nya terjadi sesuatu Dx Tenang aja! Lust bisa sembuh kok xD

ZackFrost98 – Aaaaw! Thank youuu! Don't worry! 'Tbc' means belum habis lagi! xD Yes! I need more FangBoy too LOL! xD

Harukaze Kagura – Gluttony paling ramah ya xDD Dia seneng banget ada temen baru jadi semangat xD Yes! Pride paling dewasa xD Iya nih, Hali galak banget! Dx Tapi tenang aja, nanti dia lama-lama lembut kok xD

Rhyuu-ni Chan – Ga tega liat Boboiboy nangis TTATT tapi udah senyum lagi tuh ^^ berkat Fang dan para Husky-nya xD

blackcorrals – Don't worryyyyy Hali traumanya memang dalam! Tapi berkat saudari2nya dia pasti bisa sembuh! xD Dan mungkin nanti bisa dibantu Lust! Ya ga, Lust? xD

Ooooo jangan sampe kamu ikut trauma yah TTATT semoga traumanya lekas sembuh!

VINIE-CHAN – Nah itu akhirnya udah diceritain traumanya ^^ Aku juga paling menikmati waktu bikin perkenalan mereka xD Sloth always sleep di mana n kapan aja wkwkwk xD Aduuuuh gemes bangeeeet! xD Bener2 kaya Blaze n Mama Hali xD Salam buat kucing2mu yaaah!

yue – Don't worryyyyy xD Nggak terlambat kok hehehe xD Sip! Ini ff memang khusus moe2 antar guguk ama puspus dan FangBoy xD

Syrani1303 – Makasiiiiih ^^ Biar dungu, Glu paling cepet deket sama para kucing yah wkwk xD

Kushina-korra95 – Dia tak apa-apaaaa xD Don't worryyy xD

Nesiakaharani Infanteri Ind1 – Wah makasiiiih xD LustHali memang kisah cinta di antara benci tapi rindu nih xD heheheh!

nevyandini – Makasiiiiih xD Iyah, Hali sayang banget sama saudari2nya. Kalo ada apa2 dia pasti maju duluan melindungi! xD

xierally19 – Xierallyyyy thank you dah always review pertamaaaa xD Nah, ada WraThorn dikit di chapter ni xD Special for you xD