Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia
Fanfiction by widzilla
WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.
You've been warned! Don't like, don't read!
Lunch Time with Kitties
.
.
.
Para kucing berlarian riang mengikuti Boboiboy pulang ke rumah mereka setelah berpamitan pada keluarga Fang. Boboiboy benar-benar berterima kasih karena tetangga barunya mau menerima dirinya serta para kucing.
"Justru kamilah yang berterima kasih padamu, sayang. Maaf, yah—sampai terjadi hal seperti ini. Hali jadi tak nyaman."
Elly bahkan bisa merasakan kucing itu masih gemetaran dalam pelukan Boboiboy. Ia merasa tak tega selama mengelus lembut bulu si kucing hitam.
Kaizo dan Fang membantu Boboiboy membawa pulang kandang-kandang kucing.
Para anjing turut mengantar kucing-kucing kecil teman baru mereka. Blaze nampak bahagia sekali bisa bermain dengan Glu. Begitu pula Glu yang dengan girangnya mendapat meongan pamit.
.
"Dah, Gluuu! Nanti kita main lagi—!"
"Dah, Blaze—!"
"Sampai jumpa, Tau—!"
"Sampai jumpa, Greed! Terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan di rumahmu yang indah!"
Sloth membawa Ice di atas moncongnya. "Dia sepertinya lelap sekali."
"Oh, ahahah, Ice sepertinya menemukan bantal yang nyaman." Komentar Taufan mengundang senyum di wajah ngantuk Sloth. Taufan menggigit tengkuk Ice yang masih tertidur pulas setelah dengan hati-hati diturunkan oleh Sloth.
"Sampai jumpa, kucing kecil penidur."
"Uum—sampai jumpa, guguk besar…krrr… krrr—"
Gempa terkekeh kecil mendengar dengkuran kecil dari Ice yang dibawa Taufan dalam gigitan lembutnya.
"Terima kasih telah menjaga adik-adikku. Kami pamit dulu."
Pride dan saudara-saudaranya mengibaskan ekor sambil melepas para kucing kembali ke rumah.
Lust masih tertunduk lemas. Ia masih merasa penuh sesal melihat Halilintar yang tak ceria.
"Maaf—Lust."
Bisikan kecil menegakkan telinga Lust. Suara ngeongan parau Hali terdengar. Ia mengangkat wajah dan memandangi kucing yang masih meringkuk dalam pelukan gadis tetangga sebelah.
"Ha-Hali—?" Betapa gembiranya Lust mendengar ngeongan kecil itu.
"Hei—Hali! Jangan khawatir! Aku sering luka karena latihan lapangan! Ini akan cepat sembuh! Aku akan mengunjungimu lagi—!"
.
Fang sempat heran melihat Lust mengibaskan ekor dan menggonggong riang pada gadis dan para kucing. Ia seperti sedang menyampaikan sesuatu pada kucing dalam pelukan Boboiboy.
"Ayo, semua. Kita masuk."
Para anjing kembali ke dalam rumah bersama majikan mereka. Hanya Lust yang duduk diam enggan beranjak. Fang menyadari salah satu anjingnya masih di depan garasi sambil terus memandangi jalan yang mengarah pada rumah Boboiboy.
"Lust—sudahlah. Jangan ganggu Hali lagi, yah. Kasihan kucing itu pernah digigit anjing ketika masih bayi."
Lengkingan lemah menjadi jawaban sementara. Lust menuruti Fang ketika majikannya itu menepuk kepalanya mengajak masuk.
Di kamar Boboiboy, Hali enggan bangun dari keranjangnya. Ia terus meringkuk. Bahkan meski si bandel Blaze terus membujuknya sampai naik-naik ke punggung Hali.
"Hali—Hali—Ayo, main… Hali, kau kenapa—?"
Rengekan Blaze tak digubris Halilintar—membuat kucing kecil itu semakin khawatir melihat pengasuhnya tersayang sama sekali tak menegur atau memarahinya meski ia menggigit-gigit ekor Hali.
"Blaze, jangan ganggu Hali dahulu, yah—Ayo, main dengan saudarimu yang lain dulu."
"Tapi Blaze mau sama Hali—"
Gempa menjilati kepala Blaze dan menggigit tengkuk si mungil dengan lembut. Membawanya ke keranjang lain agar tak mengganggu Halilintar. Blaze mau tak mau menurut meski kedua telinganya menekuk lesu.
.
Boboiboy semakin sedih melihat kucingnya menjadi lebih pendiam. Ia lebih sedih lagi ketika mengetahui bahwa Halilintar memiliki trauma begitu besar pada anjing yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
Gadis berambut pendek tersebut duduk di sebelah keranjang Halilintar dan mengelus-elus tubuh berbulu tebal sang kucing. "Hali—maafkan aku…"
Kali ini kepala dan kuping si kucing menegak perlahan. Matanya menatap dalam gadis majikannya dan mulai beranjak berbaring di pangkuan Boboiboy.
.
"Tidak, Boboiboy—Akulah yang seharusnya minta maaf. Aku hanya merasa begitu—lelah."
Taring yang tajam, tubuh yang besar, suara yang lantang dan besar, serta tatapan tajam—kesemua itu menggema di kepala Halilintar.
Ia tak menduga segala ketakutannya kembali muncul dan menghantui.
.
Boboiboy sungguh berharap kucing kesayangannya bisa sembuh dari traumanya.
Entah apa yang bisa membawa kucing itu berlari dari apa yang ia takuti. Atau mungkin menghadapi ketakutan terbesarnya.
Entah siapa yang akan menemani Halilintar berjalan menelusuri lorong ketakutannya.
Apakah ada kucing lain yang bisa menolong Hali—atau pertolongan justru akan ia dapat dari apa yang ia takuti sendiri.
Di halaman rumah Fang, para Husky kembali berkumpul sembari berbaring santai di atas rumput atau lantai kayu teras. Yang pasti di manapun itu—Sloth dengan nyenyak mendengkur tak peduli.
"Hhh—Aku benar-benar menyesal."
"Memang sudah seharusnya' kan?"
Lust mencibir pada Pride yang memberikan nada sindiran pada kalimatnya.
"Heeei—Aku' kan tak tahu ia memiliki pengalaman seperti ituuu—"
"Sikap sok akrab-mu itu kadang menyebalkan, tahu? Lain kali jagalah kelakuanmu kalau mau berkenalan."
Sebenarnya Lust luar biasa sebal pada apa yang dikatakan Pride, tapi dalam hati ia mengakuinya. Lust hanya berusaha ramah tanpa tahu bahwa terkadang itu berlebihan.
"Sudahlah—yang penting kita sudah bisa akrab dengan para kucing itu. Kalau soal Hali—kurasa Taufan benar-benar serius ketika meminta kita untuk memaklumi trauma Halilintar. Gonggongan anjing saja bisa membuat kucing itu berubah ganas melindungi adik-adik kecilnya." Greed merinding mengingat betapa galak Halilintar ketika melindungi kandang para kucing mungil dari Glu yang penasaran.
Gluttony juga merasa bersalah telah melanggar perintah Fang untuk menjaga jarak ketika perkenalan. Dan Lust yang terkena tuahnya. "Maafkan aku, Lust. Aku…"
"Hey, hey—Sudahlah. Kenapa jadi galau begini suasananya. Aku akan berusaha untuk membantu Hali sembuh dari traumanya!"
"Jangan terlalu gegabah, Lust. Beri jarak dan waktu dahulu."
"Iyaaaa—Aku tahu, Priiide—"
Envy sendiri hanya diam. Dirinya yang biasa bermanja pada Fang mulai merasa sedikit ada perubahan dalam dirinya.
Ia senang sekali ketika Solar mau bermain dengannya dan banyak bertanya. Ia merasa begitu bisa diandalkan.
"Hei, kenapa kau senyum-senyum sendiri, Vy?"
Moncong Lust yang dihias plester mendadak menghias pemandangan Envy dan mengejutkan si bungsu.
"WOAH! Heh! Jangan mengagetkanku!"
Wajah si sulung yang nampak begitu penasaran membuat Envy sedikit mengkerut berusaha tak menatap mata abangnya.
"Hmmmm—sepertinya kau sedikit berubah. Apa karena kucing mungil bernama Solar itu?" Lust sok akrab menempelkan wajahnya pada wajah si bungsu sambil nyengir lebar.
"Uuuh—a-aku… Ng, yah, se-sedikit…"
"Sedikit? Apanya yang sedikit, Vy?"
"Eeerrhhh—Aku… sedikit merasa berbeda."
Meski mendapat jawaban tak begitu jelas, Lust paham benar apa maksud Envy.
Lust dan Pride saling memandang. Mereka tahu benar Envy selalu merasa iri pada saudara-saudaranya yang lain karena bisa menjalani pendidikan militer dengan sukses dan kerap mendapatkan penghargaan. Meski Envy juga sering mendapatkan penghargaan pada kontes perlombaan anjing, ia tak pernah puas. Ia ingin turut mengambil andil dalam melindungi Fang.
Sikap Solar yang hangat pada Envy tadi membuat anjing tersebut merasa begitu dihargai. Ia merasa berhasil tak membuat kucing kecil teman barunya takut padanya. Bahkan Solar beberapa kali mengandalkan Envy untuk menaiki tempat-tempat tinggi seperti lantai teras dan tangga teras atau batu besar di halaman Fang. Envy merasa begitu bisa diandalkan dengan keberadaan Solar meski hanya beberapa menit.
.
Tiba-tiba Fang menghampiri para Husky-nya di halaman.
"Hei, aku dan ayah-ibu serta Kaizo mau ke rumah tetangga untuk memperkenalkan diri dulu, yah."
Lust mendekati Fang dan menaruh moncongnya di paha remaja yang sedang duduk di lantai bercengkerama pada para anjingnya itu.
"Uuuuk—"
Fang tersenyum mengerti. "Tenang, Lust. Akan kusampaikan salam dan maafmu pada mereka."
Perkenalan di rumah Boboiboy berjalan begitu mulus. Orang tua dari kedua remaja yang baru saling kenal saling menyambut dan menyapa ramah. Ayah Boboiboy mengobrol akrab dengan Hao dan Kaizo. Sementara itu Elizabeth menceritakan apa yang terjadi pada Halilintar pagi tadi pada ibu Boboiboy.
"Ooh—A-apakah Lust baik-baik saja? Maafkan Hali, kami tak tahu dia ada trauma seperti demikian."
"Tidak, tidak. Dia tak apa-apa. Lust sudah biasa mendapatkan luka karena ulahnya sedari dulu. Justru kami khawatir pada Hali."
Kedua wanita tersebut mengobrol dengan akrab sambil minum teh buatan Boboiboy.
Sementara itu Boboiboy mengajak Fang ke kamarnya di lantai dua untuk bertemu para kucing.
Begitu pintu berwarna putih terbuka, wangi vanila manis tercium.
Kamar yang manis bernuansa vintage dengan warna pastel yang hangat. Ada sofa mungil dan meja tempat tea set serta lemari berisi buku-buku. Meski ada cukup banyak barang menghias namun begitu rapi tertata. Daun pintu kaca teras terbuka membiarkan angin segar masuk dan memperlihatkan pemandangan bunga mawar putih di pinggir teras.
Fang bisa melihat kamarnya di seberang dari situ.
Beberapa bantal diletakkan di atas karpet empuk. Di bawah meja kecil samping tempat tidur ada sebuah keranjang yang ternyata adalah tempat para kucing tidur atau bersantai. Di situlah Hali meringkukkan tubuhnya.
"Hali. Lihat siapa yang datang." Boboiboy mengelus lembut tubuh kucing hitam yang kemudian mengeong pelan.
Fang tersenyum kecil.
"Miaaaaw—"
Suara meongan riang terdengar dari samping lemari. Ternyata ada sebuah keranjang lagi di situ. Para kucing-kucing mungil berlarian menghampiri Fang. Gempa mengikuti dari belakang menjaga mereka.
.
"Itu Fang! Fang! Fang! Mana Glu!? Apa Glu ikut denganmu?"
"Apa Wrath juga ikut…?"
"Mana Envy? Envy juga ikut?"
Gempa menghela napas, "Semuanya. Fang kemari untuk menjenguk Hali. Ayo, jangan ganggu dia, yah?"
"Yaaah—aku masih mau main dengan Glu." Rengek Blaze.
"Gempa, apa aku boleh main dengan Fang?" Bujuk Thorn.
Gempa menjilat kepala Thorn, "Jangan terlalu mengganggunya, ya?"
.
Fang tertawa kecil melihat kucing-kucing mungil begitu manja padanya. Ia merasa diterima di lingkungan para kucing tersebut. Boboiboy juga senang melihat para kucingnya memiliki teman baru.
Halilintar akhirnya mau keluar dari keranjangnya dan mendekati Fang.
"Hali, kau sudah merasa lebih baik? Lust titip salam dan meminta maaf padamu."
Fang benar-benar berhati-hati pada kucing hitam yang baru ia kenal itu. Bahkan untuk mengelus tubuh Hali ia merasa kucing itu begitu ringkih.
.
"Dia tak seburuk yang kukira."
Taufan terkekeh sambil ikut mendekat. "Mungkin kau bisa ikut kami bermain ke tetangga suatu waktu nanti."
Hali sedikit merasa belum bisa nyaman jika mengingat para anjing besar. "Ng—a-aku tak yakin."
"Kita bisa mencobanya pelan-pelan, Hali. Tak apa."
.
Elusan lembut dari Fang membuat kucing hitam anggun itu bisa membiarkan para adik-adiknya bermain dengan tetangga baru mereka.
Fang begitu senang mendapati Blaze bermain-main di pangkuannya. Belum pernah ia memeluk hewan semungil itu. Bahkan Thorn dengan kalem membiarkan Fang mengangkat tubuhnya dan mendekatkannya ke wajah.
"Mereka kecil sekali! Bahkan lebih kecil dari pada Husky-ku ketika mereka masih kecil dahulu!"
Boboiboy tertawa melihat Thorn penasaran dengan kacamata yang dikenakan Fang. Ia mengais-ngais kacamata sang cowok.
Suara ketukan terdengar dari pintu. Muncul Kaizo yang mengangkat alisnya kagum melihat seisi ruang kamar cewek yang sangat manis itu. Belum pernah ia melihat kamar seperti demikian.
"Wow—Ini luar biasa. Kamar yang indah."
"Terima kasih, abang Kaizo."
Para kucing mungil kembali mengelilingi kaki Kaizo. Blaze si bandel menyakar-nyakar jeans yang dikenakan pemuda tersebut dan memanjat kaki Kaizo. "Heheheiii—itu geli, kucing kecil."
Fang menyesal tak membawa smartphone-nya. Ia tak bisa merekam abangnya yang sedang bermain dengan kucing-kucing kecil. Benar-benar pemandangan yang langka! Bahkan Taufan yang sudah akrab dengannya melompat ke bahu lebar sang Kapten.
Boboiboy semakin geli ketika mendapati Fang dan Kaizo di dapur antusias melihat para kucing mungil meminum susu dari mangkuk yang disediakan.
"Astagaaaa—lidah mereka kecil sekaliiii!"
"Hei, apa mereka benar-benar meminum susu itu? Rasanya tidak berkurang sama sekali."
"Kaizo, mereka bukan anjing yang lidahnya besar dan selalu menjulur keluar. Apalagi Glu—"
Para orang tua melihat dua remaja dan seorang pemuda yang sedang memerhatikan para kucing makan siang di dapur. Elly geli tak tahan untuk tak merekam anak-anaknya.
Hao ikut senyum-senyum melihat istrinya merekam anak-anak mereka yang asyik bermain bersama para kucing.
Tak diduga Fang, ia dan keluarganya diundang makan siang di rumah Boboiboy.
Bahkan gadis itu turut membantu memasak meski para pelayan rumah sudah meminta nona mereka untuk duduk saja menemani ibunya.
Kaizo bisa melihat senyuman lebar di wajah Fang. Ia tak tahan untuk nyengir meledek adiknya. "Cieee—seneng banget bisa makan masakan gebetan~"
Hao menggeleng kepalanya melihat Kaizo menahan tawa dan sakit karena Fang menyikut perut abangnya sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona hebat.
Acara makan siang ditemani para kucing—jamuan yang unik dan menggelitik hati Elizabeth. Fang terpaksa pulang untuk memberi anjing-anjingnya makan siang terlebih dahulu sebelum kembali lagi ke rumah Boboiboy karena suara lolongan Gluttony bisa mengganggu mereka menyantap santapan siang.
Boboiboy geli mendengar lolongan anjing rakus itu. Bahkan Blaze mengeong—menyambut lolongan tetangga barunya.
Di balik pagar sana, Gluttony mengangkat telinganya. Ia kenal benar meongan mungil itu.
.
"BLAZE! ITU BLAZE! HAI BLAAAAAAZE! BLAAAAZE! BLAZE! BLAZE! BLAZE!"
"Astaga, Glu. Berisik!" Sloth semakin membenamkan wajahnya dalam bantal.
.
Fang kaget tiba-tiba Gluttony menggonggongi pagar. Suara ngeongan sayup-sayup membuat remaja itu sadar siapa yang tengah disapa Glu begitu semangat.
"Hei, Glu. Sudah, ayo makan dulu. Blaze juga sedang makan siang."
Akhirnya Fang kembali ke rumah Boboiboy dan duduk—bergabung dengan keluarganya serta keluarga Boboiboy di meja makan.
Fang merasa seperti sedang bermimpi. Ia bisa mengenal seorang gadis manis yang menjadi tetangganya sekaligus berteman dengannya dalam waktu singkat. Tentu saja ia berjuang keras tak menampakkan senyumnya karena Kaizo sudah senyum-senyum usil melihat adiknya yang tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Para kucing dengan lahap menyantap makanan di mangkuk mereka. Hanya Ice yang tertidur pulas di atas mangkuknya sendiri sehingga harus dibantu Boboiboy. "Aduh, Ice—ini bukan bantalmu. Ayolah—"
Keluarga Fang ikut tertawa melihat kucing pemalas itu. Benar-benar persis seperti salah satu anjing mereka yang doyan sekali tidur.
Siapa yang sangka kalau acara makan siang bersama para kucing bisa begitu menyenangkan.
Meski terkadang Blaze melompat usil ke pangkuan Fang, ia tak keberatan ditemani seekor kucing mungil sambil menyantap masakan Boboiboy. Setelah melihat apa yang ada di piring Fang, Blaze kembali melompat turun. Boboiboy berkali-kali meminta maaf karena ulah kucing usil tersebut.
"Hahahah! Tak apa! Aku senang dia tak takut padaku."
Siang yang cerah terasa sejuk meski pagi itu sempat membuat suasana mendung di antara Fang dan Boboiboy beserta para Husky dan kucing.
Tapi kini ada sinar kecil bermain-main yang mencerahkan hati dua keluarga yang bersebelahan.
Terutama si mungil bandel yang melompat-lompat di pagar ingin menemui teman barunya yang bertubuh besar.
.
"Gluuu—Nanti kita main lagi, yah!"
Ice mengikuti Blaze dengan gontai setelah terbangun dari tidurnya. Ia mengeong lembut, namun Sloth bisa mendengar meongan malas itu. Lolongan menjawab sapaan si kucing pemalas.
"Sloooth—selamat tidur."
"Kau juga, Ice—"
Gempa dan Taufan terkekeh melihat para kucing kecil telah menemukan sahabat baru. "Sepertinya mereka senang sekali."
Halilintar hanya diam. Ia mulai ragu akan kebenciannya pada anjing. Tapi ia tetap merasa tak nyaman membiarkan para adik-adik kecilnya bermain dengan para anjing yang bertubuh raksasa.
"Bagaimana kalau mereka terinjak atau tertimpa?"
Gempa menggeleng kepala namun maklum akan sikap paranoid Halilintar. "Hali, mereka akan baik-baik saja. Para Husky itu memiliki latar belakang pendidikan militer. Kurasa mereka akan lebih berhati-hati."
.
Tawa kembali memenuhi ruang makan. Kaizo sama sekali tak menyangka Blaze terus penasaran pada dirinya setelah puas mengganggu Fang. Kucing mungil bandel itu terus memanjati kakinya yang dibalut jeans. Hali sampai harus berkali-kali mengeong memanggil Blaze dan menggigit tengkuknya untuk dibawa ke dekat tempat makannya.
Kaizo merasa ia berhutang pada Hali karena telah menyelamatkannya dari kucing kecil dengan keingin tahuan yang besar. Fang terkekeh geli setiap melihat Ice tertidur di atas mangkuk makanannya. Membuat ia teringat akan Sloth yang memiliki kebiasaan sama persis.
Elly sangat senang Gempa mau menemaninya makan di pangkuan wanita tersebut. Dan Taufan—ia seperti seorang—ah, bukan—seekor pelayan mungil yang mengeong dengan bulunya yang berwarna putih-hitam seperti baju maid itu di samping Hao. Ia nampak senang kedatangan banyak tamu di rumah.
Thorn dan Solar memandangi para tamu dari sofa. Elly begitu gemas melihat Thorn yang memiringkan kepalanya polos memerhatikan Fang dan keluarganya. Solar mengeong-ngeong kecil seperti memberikan nyanyian selamat datang.
Fang sendiri tak bisa berhenti tersenyum.
Ia senang sekali bisa duduk berdekatan dengan gadis yang ia sukai.
Dalam dirinya berharap bahwa kepindahannya ke Pulau Rintis merupakan awal mula ia bisa berteman lebih banyak lagi—dan tentu saja, kisah romantis yang selalu ia idamkan sebagai remaja normal.
.
.
.
tbc
.
.
.
HAPPY NEW YEAR 2017, EVERYBODY! XDD Wish all of you always in a good health and happiness ^^
.
.
.
HikariFuruya—Wah, fans PrideGem nambah lagi xD Kalo punya kucing kaya Gempa pasti enak yah xD Dia mandiri banget! ^^ Duh, maafin Hali, yah… dia trauma sama guguk jadi galak gitu.
Kesya—Makasih Kesyaaa ^^ Aku seneng loh dapet review! xD makasih banyak yah udah sempetin nulis review di sini ^^
LizzNP—Thorn masih polos banget xD Wrath sampe bingung karena pertama kali deket sama kucing xD Blaze galak tuuu! Tapi jadi temen kok xD
Harukaze Kagura—Wah makasih banyaaak! Aduh nggak nyangka ada yang nungguin ff ini xD Aaamiiin! Semoga Hali cepet sembuh yah ^^ Iya nih xD Blaze galak tapi jadi temen deh sama Glu wkwk xD Greed ngajak jalan2 Taufan supaya kalo dateng mau main lagi dia nggak kesasar di rumah Fang xD
Biar galak, Wrath akhirnya jagain Thorn yah xD Solar juga ramah sama Envy ^^
Iyap! Gempa sama Pride paling dewasa ^^ mereka cepet akurnya!
Silver Celestia—Thorn jilat2 Wrath memang nggemesin! xD Apalagi abang Kaizo main sama Taufan wkwkw xD
xierally19—Yes! Hali ada trauma pada anjing ^^ Maka itu dia galak! Nah ini FangBoy dulu yah ^^
Regietta580—Don't worry. Tiap kucing dan anjing ada kisahnya masing2 ^^ Semoga menghiburmu yah ^^
nevyandini—Ice gampang molor di mana-mana xD heheheh!
Syrani1303—Aduuuh anak kucingmu pasti nggemesin! xD Salam yah buat anak kucingmu ^^ Semoga nggak kecemplung lagi xD
Kushina-korra95—Lust tu kuat! Jadi dia tak rasa apapun dari luka yang dibuat Hali ^^ SlothIce memang comel kalau tidur bersama xD
Rhyuu-ni Chan—PrideGem memang paling dewasa! xD Mereka paling cepet akurnya ^^
khukhuchan—Aku juga pingiiin banget punya kucing xD Untuk S7NS-short daily stories masih lanjut kok ^^ Tapi updatenya nggak tentu, soalnya itu cuma buat iseng2 aku aja xD
blackcorals—Iya! Berkat abang Kaizo kita semua tau kalo Hali punya trauma! Trims, abang Kaizo! xD Nanti pasti mereka jadi akur kok ^^
Nesiakaharani Infanteri—Iyah, sedih kalau ada anak2 kucing nggak ada induknya Dx kasihan. Ini kenalan dulu keluarganya Fang sama Boboiboy yah ^^
