Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


Morning with Huskies

.

.

.

Siulan burung di luar jendela seakan menjadi alarm para penduduk Pulau Rintis untuk bangun dan menjalani aktivitas mereka.

Tapi berbeda dengan seorang cowok yang masih begitu nyenyak menutup mata di sofa ruang tengah rumahnya.

Fang beruntung, pagi itu dia belum harus ke sekolah karena belum mendaftar di sekolah manapun sejak pindah.

Beruntung?

Yah—karena ia bangun kesiangan berkat lima ekor anjing Husky peliharaannya tidur menindih majikan mereka yang malang.

Bisa dibilang ini juga kesalahan Fang—yang ketiduran di depan televisi sejak semalam. Ia terlalu asyik menonton film yang diputar di televisi semalaman bersama para Huskynya. Glu terlalu asyik membenamkan moncongnya ke semangkuk popcorn dan mengunyah tak peduli pada film yang mereka tonton. Lust menjadi bantal untuk kepala Fang dan Sloth menjadi guling. Envy membaringkan tubuhnya di bawah kaki Fang. Sementara Wrath hanya berbaring-baring santai sambil menggigiti daging kering camilannya.

Kaizo yang turun untuk mengambil air minum mendapati adiknya tertidur pulas bersama para Husky tanpa mematikan televisi. Terlalu malas untuk membangunkan Fang, Kaizo hanya menyelimuti adiknya. Ia mengelus-elus rambut Fang dan memberinya ciuman kecil di kening. Tentu saja para Husky bongsor peliharaan Fang enggan untuk meninggalkan majikan mereka sendirian di ruang tengah.

Dan kini dengan penuh perjuangan Fang berusaha mendorong tubuh besar kelima Husky yang entah bagaimana berpindah tidur menindihnya tanpa ampun. "Uuufh—Be-beraaaaaaat! Minggir!"

Beruntung Pride dan Greed siap menjaga rumah semalaman. Entah bagaimana nasib Fang kalau ketujuh Husky itu menindihnya.

Sang Kapten muda yang telah siap dalam seragam militernya hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat adiknya berjuang keran membangunkan Sloth yang tak mau bangun dari atas Fang, diikuti Wrath dan Envy yang juga masih ingin terus menempel padanya.

"Kasihan adikku yang malang—Kau jadi gepeng tertimpa makhluk-makhluk berbulu ini. Pffft—!"

"Kaizo! Bantu aku! Jangan ketawa!"

Tetap saja Kaizo terkekeh geli. Tapi ia tahu—hanya dengan membuat suara dari bungkus makanan anjing sudah membuat telinga lancip mereka menegak.

Kresek kresek kresek!

Para Husky bangkit dan bergegas mendekati Kaizo yang dengan santainya menuang makanan mereka di mangkuk masing-masing. Hao membantu menuangkan setelah mengancing seragam militernya sambil menunggu kopinya disiapkan oleh mesin pembuat kopi.

"Auuuwuwuwuwuwuwuwung—!"

"Iya, sabar. Ini makananmu, Glu." Hao menuangkan makanan anjing di mangkuk dan langsung diserbu oleh Gluttony.

Melihat ayah dan kakaknya telah siap dalam seragam membuat Fang merasa sedikit terkucil. Memang keputusannya sendiri untuk tidak melanjutkan akademi resmi. Tapi ada sedikit rasa kesepian mengingat adanya kenangan sedih ketika ia masih kecil. Ketika abang dan ayahnya selalu pergi dinas dan Fang kecil terpaksa sendiri di rumah.

Kaizo menepuk-nepuk tubuh para Husky meminta mereka untuk sarapan. "Hhh—dasar, Sloth. Pemalas betul."

Tiba-tiba ia merasakan ada yang memeluk pinggangnya. Alis Kaizo menaik melihat sang adik memeluk manja. Tapi ia hanya membalas pelukan itu dengan mengelus-elus punggung dan kepala adiknya.

"Kenapa, Fang?"

"Nggak apa-apa. Mau meluk aja."

Kaizo terdiam setelah menyadari nada kesepian Fang. Pemuda itu juga sebenarnya tak pernah tega melihat adiknya sendirian di rumah. Fang juga jarang bergaul di akademinya yang lama karena ia tak suka dengan perpisahan. Kaizo paham pemikiran Fang untuk tidak berteman agar ia tak merasakan adanya perpisahan setiap pindah kota. Tapi lama kelamaan Kaizo diam-diam berdoa agar adiknya memiliki teman dekat.

Mengetahui keputusan Fang untuk melepas pemikirannya untuk tak berteman membuat sang abang lega. Fang mengambil keputusan untuk menjalani masa remajanya dengan berteman. Dan ia tak lagi peduli jika harus berpisah.

Elly tersenyum lebar melihat Kaizo mengelus-elus agak kasar bahu adiknya dan menarik Fang dalam pelukan memberi ciuman di kepala, kening, dan pipi. Fang tak protes mendapatkan ciuman itu. Ia juga terkadang ingin sekali bermanja dengan sang abang. Beruntung Kaizo tipe kakak yang mau meladeni sifat manja adiknya.

Kaizo menangkup pipi Fang dan memainkannya usil membuat pipi adiknya seperti bantalan empuk. "Kau seperti seekor puppy yang imuuuut~"

"Ufh! Kaizhyoooo—!"

Kali ini Fang meronta karena abangnya menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung Fang dengan gemas luar biasa dan memberikan ciuman kedua pipi adiknya.

"Uuuuh—!" Fang mengelus-elus pipinya yang kemerahan karena sempat dicubiti abangnya tadi.

Elly memanggil kedua anaknya begitu roti panggang sudah tersaji di piring. "Sudah, sudah—ayo sarapan dulu."

Sayang sekali lolongan kembali memanggil—meminta mangkuk seekor anjing untuk diisi kembali. "Awuwuwuwuwuwuwuwung—!"

"Hhhh—Glu… Astaga…"


Di rumah tetangga yang jauh lebih tenang tak ada suara lolongan, suara-suara ngeongan terdengar senantiasa mengiringi pagi di mana Boboiboy harus berangkat sekolah.

Gadis yang sedang mencari-cari sapu tangannya di kolong tempat tidur begitu sibuk memeluk Blaze agar kucing itu tak mengganggu.

"Hhh—sudah kuduga kau menggigitinya hingga ke kolong tempat tidur, Blaze."

Ngeongan nyaring menjawab tanpa rasa bersalah. Ia seakan bangga telah menyembunyikan sapu tangan itu agar Boboiboy terhibur bermain dengannya. Boboiboy tersenyum dan mencium kucing mungilnya dengan gemas. Ia meletakkan Blaze di dekat saudari-saudarinya yang lain dan merapikan seragamnya.

"Baiklah—aku berangkat dulu, yah. Kalian baik-baik di rumah."

Suara meongan menjawab. Hanya satu kucing yang enggan mengeong. Boboiboy menghela muram melihat Hali hanya meringkuk di keranjangnya sejak kemarin.

"Hali—Cerialah kembali. Nanti kubelikan salmon lezat untukmu, yah?"

Suara "Purr—" terdengar. Nampaknya kucing itu sudah lebih baik dari kemarin. Ia mulai mau menjawab ketika majikannya berkomentar. Boboiboy tersenyum lega.

Akhirnya kamar gadis yang dihuni para kucing menjadi begitu sepi ketika sang pemilik kamar berangkat ke sekolah. Taufan dan Gempa melompat keluar pintu teras yang terbuka dan duduk di pinggir beranda memerhatikan kepergian majikan mereka dari jauh.

Hali akhirnya beranjak dari keranjang dan mengikuti kedua saudarinya.

.

"Aku tak boleh membuat Boboiboy lebih khawatir lagi."

Taufan duduk di samping Halilintar, "Apa kau masih enggan bertemu dengan para anjing itu?"

"Aku selalu dibayangi taring-taring anjing yang kejam itu. Rasanya tubuhku langsung gemetar jika melihat mereka."

Gempa memahami saudarinya. Ia menyandarkan tubuh berbulunya pada Hali diikuti Taufan yang turut mengapit Hali. "Tenanglah, Hali. Kami akan membantumu menghadapi trauma itu."


Sementara itu, kembali pada tetangga para kucing, Fang membuka pintu agar para anjingnya bisa menikmati udara segar di luar. Terutama Sloth—Ia sampai harus diseret agar mau keluar rumah. Tetap saja ia asyik mendengkur di atas bantal raksasanya.

Fang nyaris patah pinggang gara-gara harus menyeret Husky pemalas itu.

"Aaarrghhh—Sloooth, ayolaaah—!"

Berselang beberapa detik, terdengar suara ceria dari tetangga.

"Aku berangkat…!"

Suara Boboiboy!

Fang bergegas lari ke halaman depat, keluar pagar, dan—ya! Ia menemukan Boboiboy yang hendak berangkat sekolah.

Dia begitu manis dalam seragam sekolahnya! Fang tersenyum lebar penuh bahagia bisa melihat gadis pujaannya sebelum ia berangkat sekolah.

"Boboiboy!"

Yang dipanggil menoleh. "Fang! Selamat pagi—! Oh, dan selamat pagi Sloth."

Anjing pemalas tersebut muncul dari balik kaki Fang. Ternyata ia mengikuti majikannya yang langsung lari tadi begitu mendengar suara Boboiboy—berharap si kucing mungil pemalas bersama dengan gadis itu. Tapi ternyata Boboiboy tak membawa Ice membuat Sloth sedikit kecewa. Tentu saja—ia tak bisa membawa kucingnya ke sekolah. Sloth menguap lebar membuat Boboiboy geli.

"Hihihi, benar-benar mirip Ice."

"Huh—aku tak tahu lagi harus bagaimana padanya. Lelah sekali harus menyeretnya tadi."

Gonggongan riang terdengar dari dalam rumah. Lust, Gluttony, Greed, Envy, dan Wrath berlarian keluar diikuti Pride kemudian.

"Hai, semua! Wow! Ini pertama kalinya aku berangkat sekolah yang diiringi para anjing gagah begini!"

Para Husky mengelilingi gadis beraroma manis tersebut sambil mengibaskan ekor mereka riang. Boboiboy langsung meletakkan tasnya di atas aspal dan berlutut mengelus-elus para Husky bongsor yang ramah padanya.

Fang tertawa sambil tersipu. Boboiboy begitu ramah pada para tetangga barunya meski mereka berisik. Gadis yang masih berlutut bersama para Husky kini memandangi cowok di hadapannya, menyadari Fang masih mengenakan kaos santai.

"Ng—Fang. Kau tak sekolah?"

"Eh, ng—Aku belum mendaftar di sekolah manapun. Ngomong-ngomong, kau sekolah di mana?"

"Aku sekolah di SMA Rintis. Tak jauh dari komplek ini. Jadi aku bisa berjalan kaki atau terkadang naik sepeda dengan teman-temanku."

Fang senyum sumringah. Merasa impiannya telah selangkah di depan mata. "A-apa di sana ada klub basket?"

"Basket? Ada. Sekolah kami ada tim basketnya dan sudah membentuk tim inti untuk tiap pertandingan."

Kaki-kaki Fang berusaha tetap di atas tanah tak melompat girang. "Boboiboy! Mmm—Maukah kau membantuku? A-aku ingin mendaftar sekolah tapi belum tahu sekolah mana yang ingin kucoba. Apakah boleh aku meminta bantuanmu untuk mendapatkan lebih banyak informasi mengenai sekolahmu?"

Boboiboy senang mendengar bahwa Fang tertarik untuk mencari tahu sekolahnya. "Oh, tentu! Nanti akan kuminta formulir dan buku panduan untuk para pendaftar baru!"

"Yes—! Terima kasih, ya! Aku sangat terbantu!"

"Sama-sama! Aku senang kalau kau bisa satu sekolah denganku!"

DEG!

Fang merasa wajahnya mulai memanas. Rasa gembira, senang, bahagia, semua hal yang berbunga-bunga rasanya menyatu di udara sekitar remaja itu bernapas.

"Eh—aduh! Ja-jantungku rasanya mau meledak! Tu-tunggu dulu, Fang! Jangan ge-er dulu! Astaga—Boboiboy mengatakan ia merasa senang untuk sekadar basa-basi! Ayolaaah—!"

Gadis di hadapan Fang terheran memiringkan kepala melihat cowok di depannya hanya diam dengan wajah nyaris seperti tomat.

"Ng—Fang? Kau tak apa?"

Para Husky turut penasaran melihat majikan mereka yang belum pernah bertingkah seperti demikian.

.

"Fang? Kau kenapa? Apa kau lapar? Aku bisa berbagi makananku denganmu kalau kau mau."

Lust nyengir lebar menggelengkan kepalanya. "Bukan, Glu~ Tak dapatkah kau meilhat bunga di antara degupan jantung sang pemuda yang berhadapan dengan gadis pujaannya~?"

"—Err, tidak… aku tak melihat ada bunga apapun—" Jawab Glu polos.

"Heh—dasar bocah." Ledekan Lust hanya membuat Gluttony semakin bingung.

.

Boboiboy masih berdiri di hadapan Fang kebingungan, tak lama menyadari bahwa sudah waktunya ia berangkat sekolah. "Ah, aku harus berangkat sekarang! Baiklah, Fang—Nanti akan kucarikan informasi untukmu. Daaah—"

Fang melambaikan tangannya dan terus memerhatikan Boboiboy berjalan cepat hingga menghilang dari pandangan ketika gadis itu jalan melalui belokan di ujung.

"Uuuuoooohhhh—! Aku akan sekolah! Akan sekolah seperti remaja normaaaaal!"

Tiba-tiba dari belakang ada yang memeluk leher Fang dan membenamkan cowok itu hingga sesak napas. Kaizo nyengir lebar sambil memeluk-meluk adiknya yang meronta tanpa ampun.

"Aduuuh—Dedekku sayang udah gedeee~ Udah naksir ceweeeek~"

"Uuuufh—! Ka-Kaizooo! Lepaaas!"

Ciuman gemas di pipi Fang tak berhenti hingga membuat cowok berkacamata tega mendorong pipi abangnya. Kaizo tertawa-tawa sampai harus dipanggil ayahnya untuk berangkat ke markas besar.

"Hei—Kaizo, ayo. Jangan ganggu adikmu terus."

Fang akhirnya berhasil lepas dari pelukan abangnya dan berlari menuju punggung sang ayah, memeluk manja pinggang Hao. Pria tersebut terkekeh geli dan mengusap-usap kepala anak bungsunya yang berusaha melindungi diri dari pelukan sang abang.

"Baiklah, baiklah—Fang, ajak para anjing ini jalan-jalan, ya. Mereka butuh terbiasa dengan lingkungan baru di sini."

Hao berpamitan sambil mencium kening Fang dan kemudian mencium bibir istrinya. Elly memeluk leher Fang sambil melambaikan tangan dari garasi yang terbuka.

Kaizo bahkan menyempatkan diri menyubiti pipi adiknya sebelum masuk dan duduk di bangku supir mobil.

Mobil bergerak melaju ke jalanan aspal. Hao melambaikan tangan dari jendela depan yang terbuka. Ia duduk di samping Kaizo yang mengendarai mobil sambil tertawa karena melihat Fang menjulurkan lidahnya sebal.

"Uuuh—Dia terus menganggapku bocah! Menyebalkan!"

Elizabeth tertawa. "Hahahah! Kau tahu' kan kalau abangmu itu sangat sayang padamu. Dan bagaimanapun berapapun umurmu, you'll always be his dearest little baby brother."

Fang cemberut menerima kenyataan tersebut. Ia tak bisa mengelak. Setidaknya cowok itu senang bisa bermanja-manjaan pada abangnya meski kadang dibalas berlebihan oleh Kaizo.

Para Husky melengking riang bermain-main di samping majikan mereka. Fang menghela napas sebelum mengajak para Husky kembali masuk ke rumah.

Tak sabar, para Husky menunggu majikan mereka selesai mandi. Glu, Wrath, dan Greed sudah gelisah ingin berjalan-jalan. Pride menunggu dengan kalem di dekat garasi bersama Envy. Sementara itu Sloth terlalu malas untuk berjalan-jalan hingga harus dibujuk Lust.

.

"Heeeei—Ayolaaaaah—Kita jalan-jalaaaaan—!"

"Mmm—nyemnyem—Ogah…"

Pride menggeleng kepala melihat dua saudaranya saling berdebat hingga Lust harus menarik-narik bantal yang ditempati Sloth.

.

Tak lama Fang keluar dengan tujuh tali khusus para anjing di tangannya. Satu per satu ia kaitkan pada anjing-anjing kesayangannya itu meski pada awalnya susah sekali mengajak Sloth.

"Ibuuu—Aku jalan-jalan duluuu!"

"Hati-hati, Fang—!"

Derap langkah para anjing nyaris menyeret tubuh majikan mereka yang tertinggal di belakang. Fang panik dan menarik kekang yang berada di tangannya.

"Hei heeei—! Se-sebentar!"

Pengait yang berada di ujung tali para anjing yang Fang pegang dikaitkan pada tali sabuk di celana yang ia kenakan. Dengan demikian ia tak perlu menggenggam ketujuh tali repot-repot. Kini Fang membiarkan tubuhnya ditarik dengan santai.

Agak susah memang mengajak ketujuhnya berjalan-jalan.

Sloth nyaris tiap beberapa menit akan berhenti karena malas berjalan, Lust protes dan mengonggongi saudaranya yang pemalas itu, dan terkadang Lust juga bisa terlalu agresif untuk berjalan lebih cepat. Glu berulang kali mengais-ngais majikannya meminta makanan yang selalu dibawa Fang untuk jaga-jaga. Greed dan Envy terkadang tak bisa menahan rasa penasaran mereka untuk mengendusi segala macam yang mereka lewati. Wrath selalu menggeram pada apapun. Hanya Pride yang kalem berjalan di samping Fang.

Meski sedikit kerepotan, Fang masih bisa menikmati jalan-jalannya dengan santai. Ia menyadari bahwa komplek elit yang ia tinggali kini cukup sepi. Mungkin karena saat itu semua orang memang sedang bekerja dan bersekolah. Fasilitas yang ada cukup membuat Fang kagum.

Ia melihat ada sebuah gedung yang ternyata adalah tempat gym, kolam renang indoor dan outdoor, ada taman bunga dengan jalan setapak untuk jalan-jalan, taman bermain untuk anak-anak, ada minimarket, laundry, Bank, kantor pos, pos polisi, dan beberapa fasilitas lainnya.

Namun yang paling membahagiakan Fang adalah…

"LA-LAPANGAN BASKET!"

Sebuah lapangan basket yang cukup luas dikelilingi bangku penonton. Pemandangan terindah di dunia bagi sang pemuda penggila basket.

Para anjing langsung menggonggong dan berlarian mengikuti derap langkah majikan mereka.

"Ah! Seandainya aku bawa bola basket tadi! Tapi sudahlah! Besok kita bisa bermain di sini!"

Fang berpura-pura tengah men-dribble bola basket di tangannya. Memindahkan dengan lincah dari tangan kiri ke kanan, memutar di udara dengan jemari. Ketujuh Husky memandangi arah bola semu yang Fang mainkan di tangannya. Fang menyadari bahwa ketujuh anjing tersebut seakan menghayati bahwa benar-benar ada bola basket nyata di tangan Fang.

"Hehehe—Ayo kita main basket!"

Fang kembali men-dribble dan melemparkan bola udara kepada Lust. Lust menggonggong dan menyundul dengan moncongnya, berpindah pada Pride, Glu, dan seterusnya. Dengan lihai para anjing mengikuti arah bola basket yang tak nampak.

Seorang kakek mendengar sorak sorai di lapangan basket dari kejauhan. Sambil terheran ia mendekati Fang yang sedang melambungkan lemparan three-point pada ring basket. "Yuhuuuu—! Three Point for Tim Faaaaaang—!"

"Permisi, nak."

.

.

.

tbc


.

.

.

blackcorals—Makasiiiih ^^ Abang Kaizo usil sama dedeknya yah xD Tapi dia tetep sayang sama Fang xD

everyll princess of the elves—Nah ini udah lanjut ^^ Semoga menghibur yah ^^

xierally19—FangBoy baru je bermulaaa xD Blaze always curious xD

LizzNPAaamiiin! Makasih banyak doanyaaa ^^ Semoga semua pembaca juga panjang umur, sehat, dan sukses selalu yah ^^

Kesya—Sama-samaaa ^^ Makasih banyak juga udah review ff aku ^^ Tiap baca review jadi lebih semangat nulis xD

HikariFuruya—Waaah penggemar PrideGem nambah lagi xD Udah baca 5INS? Di situ juga ada PrideGem loh ^^ Semoga nanti nemu kucing yang mirip Gempa yah xD

Fantastic Three—Wah, judulnya sama yah? Kok aku cariin di ff ga ada? O.o

Thornyleaf24—Wkwkwk so pasti dong seneng bisa deket sama gebetan xD Ya ga? Hehehehe xD Thorn dengan kepolosannya meluluhkan Wrath! xD

Relief Candi—Terima kasih banyak! xD Aduh sama, aku juga pingiiin banget bisa miara kucing xD

Rhyuu-nii Chan—Yang nemenin banyak xD meong2 rame yah xD Happy new year jugaaa ^^

Harukaze Kagura—Aduuuh serem banget anjingnya kaya Wrath semuaaa ;A; Iyayah xD Udah ganteng, tambahin yang imut-imut itu makin bikin Kaizo kece xDD Ice tukang bobooo xD Happy new year jugaa ^^7

INDONESIA-1Siap! Udah lanjut nih ^^7