Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


Her Grandpa

.

.

.

Fang kembali men-dribble dan melemparkan bola udara kepada Lust. Lust menggonggong dan menyundul dengan moncongnya, berpindah pada Pride, Glu, dan seterusnya. Dengan lihai para anjing mengikuti arah bola basket yang tak nampak.

Seorang kakek mendengar sorak sorai di lapangan basket dari kejauhan. Sambil terheran ia mendekati Fang yang sedang melambungkan lemparan three-point pada ring basket. "Yuhuuuu—! Three Point for Tim Faaaaaang—!"

"Permisi, nak."

Fang terkejut dan membalikkan tubuhnya mendapati seorang kakek yang tersenyum padanya.

"Ah—y-ya?"

Si kakek berjalan mendekati pemuda di lapangan basket. "Aku belum pernah melihatmu di sini. Kau tak sekolah?"

"Eh—ng… a-aku baru pindah sini, kek. Aku belum mendaftar ke sekolah manapun."

"Oooh—pantas saja wajahmu asing. Selamat datang di Pulau Rintis. Panggil saja aku Tok Aba. Aku pemilik kedai coklat di situ."

Jemari tua sang kakek menunjuk pada sebuah kedai kecil di tengah taman tak jauh dari lapangan basket. Fang baru menyadari ada kedai mungil tersebut.

"Sebagai penyambutan, ijinkan kakek tua ini menraktirmu. Ayo, ikut!"

Fang tersenyum lebar—senang dirinya diterima di lingkungan yang baru. "Ayo, semua!"

Para anjing menggonggong dan mengikuti majikan mereka.

"Wow—apakah anjing-anjing gagah ini milikmu?"

"Ya! Mereka keluargaku! Ayo beri salam Lust, Greed, Pride, Gluttony, Sloth, Wrath, Envy!"

Satu persatu mereka menyalak—meski dari Sloth tak terdengar apapun selain menguap lebar membuat Tok Aba tertawa.

Fang duduk di bangku yang mengelilingi meja bar kedai yang bundar melingkar di tengah taman. Segala alat untuk menyajikan minuman nampak lengkap di balik meja bar kedai. Tok Aba begitu lihai menyampurkan segala bahan dalam gelas. "Wooow—Ini keren sekali!"

"Hahahah, terima kasih. Inilah satu-satunya kegiatan orang tua macam aku agar tak menganggur di rumah. Nah, cobalah."

Fang menyeruput coklat panas di cangkirnya. "Hmmm—! Sedap! Ini enak sekali!"

Tok Aba kembali tertawa senang mendengar pujian dari remaja yang baru dikenalnya. Sang kakek perlahan berlutut dan mengusap-usap para Husky. Ada yang membuat Fang terheran melihatnya.

Wrath tak menggeram maupun menggonggongi sang kakek dengan galak. Padahal mereka baru bertemu. "Bagaimana mungkin…? Wrath biasanya selalu galak pada orang yang baru dikenalnya!"

"Hmmm—? Anjing yang ini?" Tanya Tok Aba sambil mengelus-elus kepala Wrath.

"Iya! A-apa Atok pernah memelihara atau melatih anjing sebelumnya sehingga tahu bagaimana cara menjinakkan mereka!?"

Tok Aba terkekeh geli sambil mengeluarkan sebungkus roti dipotong kecil untuk diberikan pada Glu yang sedari tadi sudah melengking manja meminta sesuatu dari sang kakek.

"Tidak. Aku hanya memelihara seekor burung kakaktua jambul kuning bernama Ochobot. Oh—tapi cucuku memelihara kucing. Terkadang ia mengajak para kucingnya jalan-jalan atau bermain ke rumahku."

"Cucu Tok Aba?"

"Ya, dia seumuran kau. Namanya Boboiboy."

Fang terbelalak. Terkejut mendengar nama cucu sang kakek baik hati tersebut. Ia mulai menganggap bahwa dewi cinta sedang memberinya jalan untuk menuju ke hati pujaannya.

"Bo-Boboiboy cucu Atok!? Aku tetangga baru dia! Rumahku ada tepat di sebelah rumah Boboiboy!"

"Oh, ya? Wah wah…! Kau sering-seringlah kemari. Boboiboy selalu membantuku jika ia tak ada kegiatan sekolah atau les. Dia juga kadang mengajak teman-teman sekolahnya kemari."

Fang semakin bahagia. Tak sabar rasanya ia ingin bertemu Boboiboy and menceritakan bahwa dirinya bertemu dengan Tok Aba, kakek dari gadis itu.

"Ah—Ngomong-ngomong, apa Tok Aba tinggal bersama Boboiboy?"

"Tidak, aku tinggal sendiri di rumah dekat perumahan ini. Tak enak rasanya kalau mengganggu keluarga anakku. Dan orang tua macam aku ini terkadang butuh ketenangan. Tapi cucuku itu nyaris setiap hari mengujungiku. Jadi aku tak kesepian."

Fang manggut-manggut. Kini ia paham kenapa Wrath tak memusuhi Tok Aba. Tok Aba dan Boboiboy memiliki aroma yang sama. Dan Fang juga menyadari—ketika ia bertemu gadis itu, ada wangi manis seperti wangi coklat. Penyebabnya pasti karena Boboiboy sering membantu di kedai coklat itu.

"Hmmm—ngomong-ngomong… cucuku itu sangat pemalu. Jadi dia belum pernah menyukai cowok manapun. Mungkin kau bisa mendekatinya, heheheh—"

Wajah Fang jadi semerah tomat. Untung dia belum menyeruput coklat panasnya, jadi tidak menyembur dari mulut. "E-eh!? A-a-a-a-a-anu! A-a-a-a-a-aku-aku-aku—!"

"Hahahahah! Anak-anak muda memang menarik!"

Lust yang mendengar pembicaraan sang kakek dengan majikannya mulai nyengir lebar.

.

"Hahahaaaa—! Aku suka kakek ini! Jalan sudah terbuka lebar, Fang! Kau bisa mendekati cucu kakek itu!" Lust tergirang sambil mengibaskan ekor dengan cepat.

"Hei—gadis itu belum tentu mau bersama dengan Fang."

Lust memutar mata dan mendempetkan tubuh pada Envy membuat saudaranya itu menjadi risih.

"Astaga, Envy—kau ini kenapa sih negatif sekali? Ayolah—berpikir lebih cerah! Secerah matahari yang bersinar ini~"

.

Tok Aba duduk di samping Fang, "Jadi—apa kau berencana untuk mencari sekolah di dekat sini?"

"Ya! Aku baru saja meminta tolong Boboiboy untuk meminta formulir pendaftaran! Aku ingin memelajarinya dulu juga melalui website sebelum mengecek sendiri ke sekolahnya langsung!"

Tok Aba mengangkat alis penuh kagum mendengar betapa semangat pemuda di sampingnya itu.

"Wah wah! Kau benar-benar mandiri. Apa kau berencana mengeceknya bersama orang tuamu?"

"Ummm—kurasa tidak. Ayah dan abangku sibuk. Ibu juga pasti lelah setelah mengurus pindahan."

"Apa pekerjaan ayahmu, Fang?"

"Ayah menjabat sebagai jenderal dalam kesatuan militer. Abangku menjabat sebagai kapten. Jadi—mereka agak—sibuk…"

Fang menunduk sambil menggoyangkan pelan kakinya yang menggantung. Tok Aba jadi merasa sedikit bersalah karena menanyakan hal yang sedikit sensitif. Meski ada kekaguman setelah mendengar pekerjaan keluarga remaja yang baru ia temui itu.

Helaan napas lembut justru mengiringi sebuah senyuman di wajah sang kakek. Ia menepuk bahu gagah Fang. "Anjing-anjing ini… apakah kau yang mengurusnya sendiri?"

"Ya—sebenarnya mereka milik teman ayahku yang tak sanggup lagi memelihara anjing. Kami memeliharanya sejak mereka masih sangat kecil. Tadinya ayah mau mengambil satu—tapi aku tak tega memisahkan dari saudaranya yang lain. Jadi aku meminta pada ayah untuk memelihara mereka. Ayah mengijikan, tapi dengan syarat akulah yang harus bertanggung jawab atas mereka semua."

Keriput di sekitar bibir Tok Aba semakin mengkerut karena senyuman yang semakin lebar. Kekeh tawa membuat Fang mengerutkan dahi keheranan.

"Kau memiliki keluarga yang luar biasa. Aku takjub ada orang tua yang mengijinkan seorang anak memelihara tujuh ekor anjing seperti ini. Ini sebuah tanggung jawab yang besar. Mereka pasti sangat menyayangi dan memanjakanmu. Dan lihatlah—mereka juga selalu menjagamu, bukan?"

Fang terdiam memandangi para Husky yang berbaring santai di rerumputan menemani majikan muda mereka.

Ia selalu menganggap bahwa dirinya kesepian—meski dikelilingi tujuh ekor anjing Husky.

Yang ia inginkan hanyalah keberadaan ayah dan abangnya di samping.

Dirinya sampai terlupa bahwa ada sahabat-sahabat berbulunya yang setia dan selalu menemani di manapun dan kapanpun ia berada.

Bahkan terkadang Fang harus mengusir Envy yang ngotot ingin masuk ke kamar mandi bersamanya. Wrath dan Pride yang setia berjalan dengan gagah menjaga majikan mereka. Greed dan Gluttony yang selalu menghibur dengan bertingkah polah lucu membuat Fang terpingkal. Sloth yang tak pernah keberatan menjadi bantal empuk nan berbulu bagi Fang. Dan Lust yang selalu aktif mengajak majikan kesayangannya itu bermain basket meski Fang sering menolak karena kesibukan akademinya.

"Lihatlah para anjing ini. Mereka tumbuh besar dan sehat. Kau merawat mereka dengan baik. Mereka pasti menyayangimu juga."

Fang semakin terhibur mendengar tuturan lemah lembut Tok Aba. Ia merasa dirinya diterima di lingkungan yang baru dengan bertemu dengan orang tua pemilik kedai yang ramah itu. Bahkan sekarang perasaan berat dan kesepian Fang menjadi ringan dan lebih cerah.

"Terima kasih, Atok!"

Betapa lega sang orang tua melihat senyuman lebar di wajah Fang. "Nah, kau bermainlah lagi bersama para Husky ini. Atok mau jaga kedai dulu, yah."

Melihat seorang tua sendirian bekerja di kedai mungil, membuat Fang merasa tergerak ingin membantu meski ia tak yakin apa yang bisa ia lakukan.

"Ummm—Tok Aba, boleh aku bantu? Aku merasa agak lelah setelah bermain dengan para anjingku ini tadi. Tapi ingin melakukan sesuatu—"

Tentu saja sang kakek senang ada bantuan yang datang padanya. Kini ia sibuk memberi tahu apa-apa saja yang harus Fang lakukan ketika ada pelanggan datang nanti.

Fang merasa bangga dipercaya mengenakan celemek hitam dan berdiri di balik meja kedai.

Greed, Glu, dan Wrath penasaran pada apa yang dikerjakan Fang. Mereka menapakkan kaki-kaki depan mereka pada meja kedai berusaha mengintip pekerjaan Fang, membuat Tok Aba tertawa melihat pemuda itu sibuk mendorong para Huskynya agar tak memijakkan kaki mereka di meja.

Di pagi hari ketika semua orang bekerja dan sekolah, pengunjung kedai biasanya para orang-orang yang memang bekerja di rumah atau para orang tua yang berjalan-jalan di taman. Ada juga para pegawai komplek seperti para pekerja pengurus taman, sekuriti komplek yang baru pulang dari tugas shift malam-nya. Orang-orang yang memiliki kedai, toko, atau membuka usaha di kawasan komplek tersebut juga terkadang menikmati sarapan mereka di kedai mungil tersebut.

"Wah, Atok. Kau punya karyawan baru di sini? Tampan sekali!"

Fang tersipu sambil nyengir mendapat pujian dari para pelanggan. Para Husky yang asyik berbaring dan bermain di sekitar situ juga menjadi perhatian mereka. Beruntung suasana hati Wrath sedang bagus, sehingga ia tak menggeram galak pada siapapun.

Tok Aba mengenalkan Fang pada para pengunjung kedainya. Tentu saja mereka langsung mengenal rumah Fang yang baru saja ditinggali.

"Oooh! Tetangga baru Boboiboy? Nona manis satu itu sering sekali membantu kakeknya ini bersama para kucingnya!"

Fang tak heran Boboiboy dikenal banyak orang. Setiap hari membantu kakeknya di kedai tentu mempertemukannya dengan banyak orang. Kini Fang sadar bagaimana Boboiboy bisa langsung membuat dirinya nyaman di lingkungan baru. Gadis itu terbiasa mengobrol dengan semua orang dari berbagai kalangan dan usia. Tentu saja ia tahu bagaimana mengobrol pada seseorang yang baru ditemui.

Matahari mulai meninggi dan beberapa Husky mulai rewel—terutama Gluttony, Envy, dan Wrath.

Glu mulai lapar sementara bekal camilan yang dibawa Fang sudah habis, Envy mulai tak betah ingin berbaring di ruang AC yang dingin, dan Wrath juga mulai tak betah dengan banyaknya orang di situ. Ia mulai menggeram dan telinganya melipat ke belakang.

Fang akhirnya berpamitan pada Tok Aba. "Maaf, Atok. Tapi sepertinya aku harus pulang."

"Tak apa-apa. Aku senang ada yang membantuku di jam sibuk tadi. Nah ini, bawalah untuk kau nikmati di rumah." Sebuah termos berisi coklat panas diberikan Tok Aba pada Fang. Cowok itu senang sekali menerimanya.

"Apa boleh besok aku main ke sini lagi?"

"Hahahah, tentu saja! Tapi sepertinya kau lebih baik menyibukkan diri untuk mendaftar di sekolah agar tak banyak ketinggalan pelajaran."

Fang nyengir lebar. Akhirnya ia berjalan pulang bersama para Huskynya setelah melambaikan tangan pamit pada Tok Aba dan beberapa pelanggan di kedai.

"Uuuuk—Uuuuk—!"

"Iya, Envy. Kita akan pulang. Kau mulai gerah, ya? Ah, aku juga harus mencari salon khusus anjing di tempat ini."

Envy terus memeking tak nyaman. Udara Malaysia yang panas memang sebenarnya tak cocok pada anjing jenis Husky atau Malamute. Mereka adalah anjing yang memiliki habitat dingin bersalju.

.

"Uuuuh—Aku tak sabar ingin lekas pulaaaang—!"

"Sabar, Envy. Kalau kau terus menarik Fang seperti itu dia bisa jatuh."

Terpaksa si bungsu bersabar karena tak ingin terjadi sesuatu pada majikannya. Pride berjalan di samping Envy untuk menghalangi sinar matahari yang mulai terik. Sloth yang berjalan di belakang Fang juga mulai lemas. Lust harus terus berada di sampingnya untuk memberi semangat.

"Ayo, Slooooth—Kamu bisaaaa!"

"Aish, diam. Aku tak perlu kau beri lolongan sumbang seperti itu."

"Hei, aku hanya ingin membantu~"

"Aku lapaaaar— !"

"Arrrgh! Berisik!"

Greed menggelengkan kepala membela Wrath yang mulai sebal mendengar keluhan Gluttony. "Hei, Glu—Kita semua juga mulai lapar."

.

Fang sadar betul para Huskynya tak sabar. Ia melepas tali kekang dari sabuknya dan dari tubuh para anjing bongsor membuat ketujuhnya heran. Semua tali tersebut ia gulung dan ia bawa di tangan.

Melihat jalanan yang sangat sepi, Fang mulai membungkukkan tubuhnya sambil nyengir.

"Kita lihat siapa yang duluan sampai di rumah. Kalian siap?"

.

"OOH! KITA AKAN LARI! KITA LOMBA LARI!"

"SUDAH LAMA SEKALI! AYO AYO AYO!"

"Huh! Aku tak akan kalah meski dengan Fang!"

"SIAPSIAP! SIAPSIAP!SIAPSIAP!SIAPSIAP!SIAPSIAP!"

"Uhhhhh—melelahkan. Baiklah… Toh dengan begini aku bisa lekas tidur di rumah…"

"Grrrh—Sudah lama aku tak merenggangkan otot kaki!"

"AKU YANG AKAN MENANG! AKU YANG AKAN DULUAN!"

.

Melihat ketujuh anjingnya telah siaga, Fang mulai mengambil ancang-ancang.

"GO!"


Elizabeth bersenandung lembut sambil menyusun beberapa buku dari dalam dus pada rak yang telah bersih. Kupingnya menangkap suara gaduh dari luar rumah di jalanan sana.

Mengikuti rasa penasarannya, sang Nyonya berjalan menuju pintu depan dan menemukan Fang baru saja memasuki pintu garasi bersama para Husky setelah berlari.

Ketujuh anjing tersebut langsung ambruk berbaring bersama majikan kesayangan mereka di atas rerumputan halaman depan sambil terengah-engah.

"Hahahah! Sudah lama—hhh—tak sepertihhh inihhh—! Huuffh! Hahahah! Ahahah! Hei, geli! Lust! Greed! Ahahah!"

Fang terpingkal-pingkal ketika dua anjingnya mengerubungi dirinya sambil menyundul-nyundul kepala mereka pada perut Fang. Glu ikut mengais-ngais tubuh cowok itu sambil menyalak minta makan. Sloth sudah tidur dengan sukses di teras depan. Wrath langsung menuju garasi di mana tempat minum anjing telah disiapkan diikuti Envy.

Sang bunda menuju keluar sembari tersenyum menyambut anak lelakinya. "Dari mana saja kau? Kenapa lama sekali jalan-jalannya?"

"Ummm—aku baru ke lapangan. Ada tempat bermain basket di situ! Dan ada kedai coklat milik kakeknya Boboiboy—!"

Remaja cowok berkacamata begitu bersemangat menceritakan pengalamannya di lapangan tadi. Elly tak bosannya mendengar celotehan Fang. Rasanya sudah lama anak bungsunya tak sesemangat itu—sejak ia membawa tujuh ekor anak-anak Husky dalam pelukan mengejutkan ibunya.


Suara ngeongan merengek manja di kamar Boboiboy—yang ternyata adalah Blaze. Ia memohon-mohon pada Halilintar yang tengah duduk di pinggir jendela dengan anggun.

"Hali, Haliii—Kumohon… Ijinkan aku bermain bersama Gluuu—!"

Halilintar hanya diam tak memberi jawaban. Dirinya tahu telah berubah pikiran sejak Fang kemarin menjenguk. Ia ingin membuka hatinya pada para tetangga baru bertubuh raksasa nan berbulu lebat yang bising itu.

Tapi berkali-kali ketakutan dan keraguannya datang. Terutama jika ia melihat betapa besar perbandingan tubuh para Husky dengan adik-adik asuhannya yang masih kecil.

Bahkan Ice juga memohon padanya agar bisa bertemu Sloth. Ia mengais-ngais lembut kaki Halilintar.

Gempa dan Taufan tak bisa berbuat banyak. Mereka menunggu keputusan dan ijin Hali.

"Hhh—Begini saja… Blaze duluan yang bermain ke sana. Aku akan mengawasi kalian. Besok giliran Ice, Thorn, lalu Solar."

Taufan tersenyum mendekat, "Tapi Hali, bukankah ada aku dan Gempa? Kami bisa mengawasi mereka membantumu."

"Tidak, Taufan. Jangan semuanya turun ke bawah sana bersamaan. Boboiboy akan panik mencari kita semua jika tak ada yang tetap tinggal di sini."

Gempa dan Taufan saling memandang. Mereka sempat menghela napas namun maklum pada sisi paranoid Halilintar.

Blaze tergirang mendapatkan ijin dari Hali agar bisa bermain dengan Husky faforitnya.

"Ayo, Hali! Cepat! Cepat! Aku tak sabar ingin bertemu Glu!"

"Blaze—jangan terlalu senang. Kau harus tetap hati-hati, oke?"

"Haliii—Glu berbeda…! Dia baik! Dan dia juga berbagi susu denganku—!"

Bujuk rayu si mungil sama sekali tak meruntuhkan pertahanan Hali. Ia tetap tegas pada adik asuhannya.

"Blaze—kita ini kucing. Mereka anjing. Kita tak akan pernah bisa memahami apa yang mereka pikirkan. Mau sebaik apapun mereka padamu terkadang lebih baik jika kita tetap waspada. Berjanjilah padaku kau tak akan terlalu menaruh kepercayaan pada mereka."

"Uuuh—" Blaze menundukkan kepala dengan telinga yang menekuk serta melingkarkan ekornya pada kaki-kaki mungil berbulu yang merapat ragu.

"Blaze."

"Uuuung—Baik, Hali…"

Halilintar tersenyum lega. Ia menjilat-jilat sayang kepala Blaze. "Ayo, aku akan mengantarmu. Aku tak akan membiarkanmu sendirian di daerah penuh anjing."

"Ummm—"

Meski sedikit sedih mendengar nasehat Halilintar, Blaze tetap merasa bahagia bisa bermain dengan tetangga baru. Ia melompat riang tak sabar.

.

Dengan lincah kucing mungil berwarna jingga itu melompat-lompat menuruni tangga dan berlari kecil menuju pintu teras samping yang terbuka. Halilintar mengeong menandakan pamit untuk keluar pada seorang pelayan rumah.

"Oh, kalian mau jalan-jalan keluar? Jangan terlalu jauh, ya. Nanti nona khawatir."

Halilintar mengelus tubuhnya pada kaki sang pelayan tanda menyetujui nasehat tersebut. Blaze melakukan hal yang sama setelah mendapat meongan dari kucing hitam pengasuhnya.

Akhirnya mereka kembali berjalan menelusuri pagar menuju rumah. Berkali-kali Blaze berhenti setelah berlari dan berputar di tempat, kemudian menghadap belakang di mana Halilintar berjalan penuh waspada.

.

"Hhh—Baiklah. Blaze. Dengar, aku akan mengawasi dari kejauhan, kalau terjadi sesuatu lekas berlari ke belakangku. Mengerti?"

"Tapi, Hali—"

"Paham, Blaze?"

Nada sang kucing hitam menjadi penuh tekanan. Si kucing mungil menunduk dengan telinga sedikit tertekuk ke bawah. "Pa-paham…"

Blaze sedikit kecewa akan keputusan Halilintar untuk tetap menjaga jarak dari para tetangga baru mereka. Dalam hati kecil Blaze ada rasa percaya yang begitu besar pada Gluttony. Ia yakin Husky itu berbeda dari anjing yang telah membuat Hali membenci pada makhluk besar itu.

.

.

.

tbc


.

.

.

Meski telat tapi aku mau mengucapkan... Gong Xi Fa Cai buat teman-teman yang merayakan ^^

Maaf udah lama nggak update. Sejak COMIFURO kemarin aku agak nggak enak badan dan kondisi lagi nggak memungkinkan melanjutkan FF. Tapi akhirnya sempat publish 'Melodi Malam Hari - 3rd Gate' chapter pertama ^^ Semoga kalian nggak bosen yah sama FF-ku yang kebanyakan adalah Fangxfem!Boboiboy.

Semoga chapter kali ini menghibur kalian ^^

.

Kushina-korra95—Nanti ada scene Ice dan Sloth ^^ Tunggu yah ^^

HikariFuruya—5INS udah tamat loh ^^ kalau ada waktu mungkin bisa baca2 sekedar menghibur xD

Fantastic Three—Wah kalau jelasin di sini kayaknya kepanjangan ^^ Coba search di google xD

Kesya—Dia usil karena sayaaaang banget sama Fang xD

nevyandini—Nah, ketauan nih siapa kakeknya xD

Jung HaeJin-Naru—Thank youuu ^^

Thornyleaf24—Okesip! xD Makasih banyak yaaah ^^

Rhyuu-nii Chan—Meski Kaizo usil dia sayang banget yah sama Fang xD Nah, ini ketauan deh siapa kakeknya xD

blackcorrals—Ting Tooong! Betuuul! Kakeknya itu Tok Abaaa xD Fang sayang banget sama para Huskynya ^^

Kara Hu Wei Kai Hye Ra Hara Na—Sipsip ^^ Maaf ya kelamaan… kemaren sempet nggak enak badan TTATT

Silver Celestia—Me too! xD A kind and gentle yet sometimes naughty bog bro xD

sisca slytherin—Masih lanjut kok ^^ Tapi mungkin belum bisa update lagi… Saat ini kondisi belum memungkin kan untuk update. Maaf yah TTATT