Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


Rainy Heart

.

.

.

Kedua kucing memasuki halaman keluarga Fang yang cukup luas. Bau anjing yang mengelilingi sungguh membuat Hali tak nyaman. Sementara Blaze tak sabar mengeong-ngeong memanggil Glu.

"Gluuuu—! Gluuu—! Ayo, maiiiin!"

Suara ngeongan riang yang amat sangat dikenal anjing rakus bernama Gluttony membuat telinga lancipnya menegak. Ia melupakan makan siang di mangkuknya yang masih ada setengah.

"Blaze? BLAZE!"

.

Fang kaget sekali mendapati Glu tiba-tiba menyalak-nyalak menghadap luar pintu teras. Ini pertama kalinya anjing itu cuek tak peduli pada makanannya.

"Glu? Hei, ada apa?"

Gluttony mengais-ngais tak sabar pada pintu kaca teras. Fang langsung bisa melihat ada seekor kucing mungil berwarna jingga mengeong-ngeong riang memanggil Glu dari halaman sana.

"Itu Blaze! Dia pasti mau bermain dengan Glu! Ah—Ada Hali juga!"

Lust yang mendengar nama kucing yang paling ia temui ikut mengangkat tubuhnya.

.

"Hali? HALI!"

Pride dengan tega menginjak ekor Lust sebelum terkibas bahagia.

"AW! Apa, sih!? Sakit tau!"

"Heh—hati-hati. Kau mau membuat dia takut padamu lagi?"

Lust baru menyadari. Ia akhirnya berusaha lebih pelan mendekati Halilintar. Dilihat dari dalam rumah saja Hali nampak begitu waspada menemani adik asuhnya di luar halaman sana.

.

Begitu pintu terbuka, Gluttony langsung berhambur ke halaman mengejutkan Halilintar. Kucing hitam itu langsung menggigit tengkuk Blaze dan menjauh beberapa meter dari pintu teras dengan cepat.

Fang dengan sigap menarik tali kekang yang ia ikatkan pada tubuh Glu sebelum membuka pintu teras tadi.

"Glu! Glu—tenang. Kau membuat Hali takut."

.

Gluttony baru menyadari—kucing hitam di hadapannya sana tengah menggeram galak sambil mengangkat bulu-bulunya. Ia belum menaruh kembali Blaze ke tanah. Tatapannya tajam penuh waspada pada anjing yang kelewat riang di depannya.

Gluttony berusaha meyakinkan Halilintar meski ia tahu mungkin kucing hitam itu sebenarnya tak mengijinkan ia dekat dengan adiknya. "Eh—a-anu… Hali, apa aku boleh bermain dengan Blaze?"

"Hali—Aku tak akan apa-apa! Kumohon biarkan kami bermain." Blaze turut berusaha meyakinkan pengasuhnya tersayang.

Bujukan kedua sahabat tersebut akhirnya meluluhkan Halilintar. Ia melepaskan Blaze dari mulutnya dan membiarkan kucing mungil itu berlari riang mendekati Glu—mengusap-usap tubuhnya pada moncong Husky tersebut.

Fang lega melihat Halilintar bisa membiarkan Blaze dekat dengan Gluttony. Tapi melihat Lust yang perlahan-lahan berusaha mendekati Halilintar membuat cowok itu kembali was-was. Matanya terus memerhatikan Husky peliharaannya.

Sementara Lust membaringkan tubuhnya rata tanah dan berjalan merayap perlahan-lahan pada Hali yang masih mengangkat bulu-bulunya ganas.

"Ehem—Hei, uhh—Hali. Aku senang kau kemari! Mau masuk? Ayo ke—"

"Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin mengawasi Blaze dari sini saja."

Lust tak bisa membujuk lebih jauh lagi seketika Hali menekuk kaki-kakinya dan menaruh tubuhnya di rerumputan tetap pada posisinya—jauh dari teras rumah Fang.

.

Fang tersenyum maklum melihat Halilintar menjaga jarak. Ia juga bisa melihat betapa kecewanya Lust yang ingin bisa menyapa Halilintar.

Sementara itu Blaze dan Glu bermain berguling-guling di rerumputan.

Gluttony mengambil mainannya dari dalam rumah dan bermain bersama Blaze di halaman karena Halilintar jelas tak setuju jika adiknya dibawa masuk ke rumah.

Dari dalam rumah, Fang memerhatikan anjing dan kucing yang sedang bermain-main di halaman. Elly tersenyum melihat Glu mendapatkan teman bermain. "Lihatlah. Bahkan Glu melupakan makanannya yang belum habis. Ini pertama kalinya ia tak mempedulikan makanan."

Fang terkekeh geli sambil menyeruput coklat pemberian Tok Aba tadi. Elly duduk di samping anaknya sambil turut meminum coklat panas lezat yang dibawa Fang dari kedai.

Matahari yang bersinar terang pagi tadi ternyata lama-lama bersembunyi di balik awan tebal. Angin mulai bertiup.

Para Husky langsung sadar sebentar lagi akan hujan.

.

Pride mengendus-endus udara sembari menegakkan telinganya, mendengar suara gemuruh sayup-sayup. "Glu. Ayo ajak Blaze dan Halilintar masuk. Sebentar lagi hujan."

Hali mengangkat wajahnya menatap langit. Benar apa yang dikatakan Pride. Ia langsung mendekati Blaze yang sedang berguling-guling di punggung Glu.

"Blaze. Ayo pulang. Sebentar lagi huj—ah!"

Tetesan air mulai turun. Dan lama-lama mulai deras hanya dalam beberapa detik.

Para kucing panik. Hali dengan sigap menggigit tengkuk Blaze. Namun Lust lebih sigap melindungi Hali dengan tubuhnya agar tak tersiram hujan. "Ayo, masuk! Kau tak akan sempat pulang sekarang dengan hujan sederas ini!"

Merasa tak punya pilihan, Halilintar terpaksa mengikuti para anjing memasuki teras rumah Fang.

Tentu saja Fang dan ibunya ikut panik melihat dua kucing tersebut kehujanan. Fang langsung membawakan handuk untuk Lust dan Gluttony yang sempat tersiram hujan. Elly mengeringkan bulu-bulu Hali dan Blaze dengan penuh hati-hati.

Hali terus mengeong tak nyaman. Blaze justru dengan riangnya berkeliling dapur yang luas karena penasaran meski ia masih basah kuyup.

.

"Aduh—bu-buluku! Buluku basah… Uuh—"

Lust mengibas-ngibaskan tubuh di teras sebelum masuk rumah dan dibantu Fang mengeringkan bulu-bulunya dengan handuk. Begitu pula dengan Glu meski anjing itu tak sabaran ingin bermain lagi dengan Blaze yang terus mengendus-endus sekeliling dapur.

.

Elizabeth geli melihat kucing mungil itu begitu penasaran. Ia berhasil menangkap Blaze dengan handuk dan mengeringkan bulu si kucing kecil cerewet nan lincah dalam pelukannya. "Ahahah, kau ini benar-benar menggemaskan sekali, Blaze."

"Myaaaang— Myaaaaang—" Ngeongan Blaze seakan memberi tahu Elly bahwa dirinya akan baik-baik saja meski bulunya masih basah. Dengan sabar wanita itu mengeringkan si mungil meski mendapat protes yang manis.

Sementara itu Fang mulai panik karena Halilintar terus mengeong. Ia tak paham apa yang kucing itu inginkan. Belum pernah Fang berinteraksi dengan kucing. Ia merasa lebih bisa memahami anjing daripada kucing. Terlebih Lust yang mendekati Halilintar kembali membuat bulu kucing tersebut menaik galak.

.

"Tu-turunkan, Blaze! Kumohon! Aku yang akan mengeringkan bulunya!"

Tentu saja Elizabeth tak paham apa yang Halilintar pinta darinya. Kucing hitam itu semakin panik begitu Lust mendekat.

"Hali, umm—hei… Aku hanya ingin menawarkan bantal agar kau bisa bersantai. Ayolah, kau pasti kedinginan karena kehujanan tadi."

Halilintar begitu canggung. Ia benar-benar gugup dikelilingi anjing-anjing raksasa. Begitu Blaze diletakkan di atas lantai perlahan oleh Elly, kucing bandel itu langsung berlari menuju tempat makan Glu.

"Hali! Hali! Lihat! Mangkuk makanan Glu besar sekali!"

Halilintar dengan cepat mendekati Blaze dan terus menjaga kucing mungil itu di samping. Glu tergirang melihat Blaze meminum susu dari mangkuknya.

"Apa kalian para kucing juga meminum susu? Bagaimana rasanya makanan kucing itu? Apa enak? Apa benar kalian suka ikan lebih dari apapun? Benarkah kalian memuntahkan bola bulu?"

Halilintar menjadi semakin kikuk ketika dibanjiri pertanyaan dari Gluttony. Juga Sloth yang terus menanyakan apa Ice diperbolehkan bermain bersamanya lain waktu.

"Hei, hei~ Jangan buat nona ini bingung. Sudah sana, kalian main di ruang tengah."

Lust mendorong tubuh Gluttony yang sepertinya mulai membuat Hali takut karena ia terus mendekatkan moncongnya pada Hali penuh rasa penasaran.

"Aaaw—Aku hanya ingin tahu…"

Keluhan Glu seketika berhenti saat Blaze mengeong riang karena melihat bantal raksasa. "Ini bantal yang besaaaar! Aku belum pernah melihat yang sebesar ini! Bahkan di rumah Boboiboy!"

"Hahahah! Ini tempat tidur kami kalau sedang bersantai di ruang tengah! Nah, ini punyaku. Naiklah, Blaze!"

Gluttony benar-benar senang Blaze menikmati bantal miliknya yang empuk. Fang terus terkekeh geli tak tahan untuk tak merekam anjingnya bermain dengan seekor kucing mungil yang bawel dan lincah.

Lust terkekeh melihat saudaranya begitu kekanakan bermain dengan seekor kucing kecil yang cerewet. Husky paling sulung itu kembali memandang kucing hitam di sampingnya.

Ekspresi yang tak mudah dimengerti. Tapi Lust bisa paham.

Halilintar yang sedari ia masih kecil begitu membenci anjing, namun kini harus menghadapi kenyataan memiliki tetangga dari jenis yang ia tak sukai. Bahkan Blaze jelas tak menuruti nasehatnya untuk menjauhi para anjing. Ia justru bersahabat dengan salah satu dari mereka.

Hali menghela napas tipis dan berjalan menuju pintu kaca teras samping—membaringkan tubuhnya dan memandangi hujan yang turun deras di luar sana. Mengisolasi dirinya dari para anjing yang berkumpul di ruang tengah. Lust hanya diam dan turut berbaring di samping Hali—berjarak agak jauh.

Kucing hitam anggun itu nampak begitu misterius dan cantik di saat yang bersamaan.

Halilintar menyadari bahwa ia tengah dipandangi. "Ada apa?"

"Sebagai seekor kucing kau cantik sekali~"

Pujian dari seekor anjing bukan hal yang biasa didengar oleh Hali. Kucing betina itu berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin gugup dan canggung. Tapi di balik bulu hitam legamnya ada rona merah yang membuat panas wajah Halilintar.

Lust nyengir melihatnya. "Aku senang sekali kau kemari, mengijinkan adikmu bermain dengan Glu. Si rakus itu merengek terus ingin bermain dengan Blaze membuat telingaku sakit sejak kemarin. Daaan~ Nona kucing yang manis, ijinkan aku memperkenalkan diriku lebih pantas dan lebih baik lagi."

Hali memutar matanya sambil menghela napas berusaha tak memedulikan Husky penggoda yang tak pernah membiarkannya sendirian.

"Aku Lust. Si sulung dari tujuh Husky bersaudara di rumah ini. Senang bertemu denganmu, Nona Halilintar~ Jika kau butuh sesuatu, ijinkan aku mendengar dan membantumu~"

Dari kejauhan, Pride dan Greed mengangkat alis melihat tingkah saudara mereka yang paling tua. Mereka heran sekaligus kagum akan kengototan Lust mendekatkan diri dengan Halilintar—yang membuat Husky sulung itu nampak begitu percaya diri dan terlihat menyebalkan di saat yang bersamaan. Tapi mereka bisa melihat Halilintar yang tak lagi gemetar atau canggung berada di samping Lust, membiarkan anjing itu mengoceh panjang lebar.

Pride tak berkomentar apa-apa membiarkan Lust terus mengajak ngobrol Hali meski tak digubris.

.

Elizabeth tersenyum melihat Lust perlahan-lahan mendekatkan dirinya pada Hali, sambil menelepon rumah Boboiboy untuk memberi tahu bahwa dua ekor kucing milik gadis itu sedang berteduh di rumahnya. Pelayan di rumah Boboiboy yang menerima telepon begitu lega karena ia nyaris panik melihat cuaca di luar berubah drastis.

Hujan yang deras mengubah udara menjadi begitu dingin.

Susu murni dituang pada sebuah mangkuk dan diletakkan di dekat Halilintar. Kucing anggun itu mengendus dan mengangkat tubuhnya. Elly lega melihat Hali mau meminum susu suguhan darinya tanpa segan.

Si kecil Blaze ternyata menyadari Hali tengah meminum susu lezat. Ia mengeong-ngeong sembari berlari mendekati pengasuhnya tersayang—mengelus-elus tubuhnya di bawah leher Hali seakan meminta agar dirinya turut mendapatkan bagian susu. Hali menjilati kepala Blaze membiarkan adiknya itu meminum susu dari mangkuk yang sama.

"Fang, lihatlah. Mereka manis sekali!"

Fang tersenyum lebar sambil mengangkat smartphone, merekam ibunya yang mengelus-elus tubuh Hali.

Setelah kenyang, Blaze kembali mendekati Glu. Keduanya kini terlelap di atas bantal besar milik Gluttony. Fang semakin gemas melihatnya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat anjing peliharaannya begitu akrab dengan hewan lain. Ia sangat antusias merekam segala gerak-gerik Glu dan Blaze.

.

Halilintar menghela napas. Ia tak melarang atau menghalangi Blaze untuk bermain bersama Glu lagi.

Nyaris setengah jam berlalu, di luar masih hujan deras membuat udara menjadi lebih dingin dari biasanya. Fang sedikit khawatir jika para kucing di rumahnya menjadi gelisah ingin kembali ke rumah mereka—rumah Boboiboy.

Kenyataannya ia tak menyangka Halilintar akan menjadi lebih kalem. Ia dengan santai dan anggun membaringkan tubuhnya di sofa. Bahkan tak lagi gemetar meski ada Lust di sampingnya.

"Lihat—ia seperti ratu. Anggun sekali, yah."

Fang menyetujui pujian ibunya pada Hali. Di antara kucing lain yang pernah bertamu di rumah Fang—Halilintar yang nampak paling dingin dan beraura dewasa. Dibanding Gempa yang nampak lebih seperti ibu dan Taufan yang lebih seperti kakak.

.

Bahkan Lust menyadari hal itu. Ia menjadi sedikit lebih segan berada di dekat Halilintar.

"Umm—Nona Hali, apa kau mau bersantai di kamar Fang seperti ketika kau kemari pertama kali? Di sana tempat tidurnya lebih nyaman."

Halilintar hanya diam dan membaringkan kepalanya di atas kedua kaki depannya yang menekuk—menyelimuti tubuh dengan ekor lebat miliknya. "Tidak, di sini sudah lebih dari cukup. Terima kasih."

"Ooh—umm, oke…"

Hanya terdengar suara rintik hujan samar-samar dan dengkuran Sloth yang menggema di ruang tamu rumah yang luas tersebut. Para Husky berbaring malas-malasan di atas lantai menemani majikan mereka yang asyik melihat video dalam smartphone yang ia rekam tadi.

"Lust…"

Yang dipanggil mengangkat kepala dan telinganya. Menatap kucing hitam yang berbaring di samping.

"Ya?"

"… Maaf soal kemarin. Hidungmu…"

Lust sedikit terkejut mendengar topik yang dibawa Hali. "Hei, aku baik-baik saja. Tak perlu dipikirkan lagi, Nona Hali~ Lihat, sudah sembuh total. Aku pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari itu."

Hali sedikit mengangkat kepalanya. "Lebih parah?"

Yang tersirat dalam ingatan Hali tentu saja ingatannya saat digigit anjing besar yang membuat sekujur tubuhnya luka dan berdarah. Kalimat Lust membuat dirinya penasaran jika seekor anjing juga memiliki rasa takut pada hal lain.

"Kami semua para Husky—kecuali Envy—di sini adalah anjing yang mendapatkan didikan militer dan digunakan untuk kepentingan militer juga. Kami juga mendapatkan pengalaman lapangan bersama para polisi di divisi K-9. Aku pernah mendapatkan luka tusuk di tubuh karena serangan dari manusia yang ditetapkan sebagai buron. Saat itu adalah hari di mana para polisi berhasil melacaknya dan meringkusnya. Ia melawan dengan sebilah pisau besar di tangan. Aku berusaha menangkapnya dengan menggigit tangan kriminal tersebut. Tapi itu kesalahanku. Seharusnya aku menggigit pergelangan tangannya agar tak memiliki ruang gerak. Tapi aku meleset dan menggigit lengannya—menyebabkan ia masih bisa melawan."

Ingatan Lust kembali ke peristiwa paling menyakitkan.

Sang kriminal mengibaskan tangannya. Pisau tajam itu mengenai dada Lust meski tak sampai menusuk. Tapi kemudian manusia yang merasa nyawanya terancam itu menusukkan pisaunya pada kaki anjing yang menyerangnya.

Lust memeking keras kesakitan. Hal terakhir yang ia ingat adalah ketika ia digiring ke klinik khusus. Aroma obat dan alkohol begitu kental.

Begitu ia membuka mata, wajah khawatir Fang adalah pemandangan yang paling pertama ia lihat.

Raut wajah yang paling ia benci.

Fang memeluk erat Lust penuh hati-hati agar tak menyakiti luka jahitan di kaki anjing kesayangannya. Ia terisak-isak. Ia terus meminta maaf meski kejadian yang Lust alami bukan kesalahan Fang.

Sejak itu Lust bersumpah seumur hidupnya akan membuat Fang bahagia.

Ia tak ingin meilhat wajah sedih itu lagi.

Lust paham benar mengapa Fang tak ingin melanjutkan pendidikan militernya.

Ia tak ingin para Husky kesayangannya itu mengalami kembali hal seperti demikian. Ia tak ingin keberadaan dirinya dalam dunia militer turut membawa para Huskynya mengikuti ke mana ia pergi.

Terkadang kesetiaan membawa luka, namun Lust tahu bahwa majikannya itu sangat menyayangi mereka hingga rela menjauh dari dunia yang telah mendarah daging di garis keluarganya.

Fang hanya ingin para anjing yang ia rawat sejak kecil itu hidup damai dan bahagia bersamanya.

Kisah yang dituturkan Lust membuat Halilintar terdiam. Ia tak mengira seekor anjing dengan tubuh yang besar dan taring yang tajam juga memiliki ketakutan luar biasa seperti dirinya.

"Kau—tak membenci manusia sejak itu?"

"Hah? Kenapa? Hahahah! Aku justru menyayangi salah satu dari mereka!" Jawaban riang Lust membuat Hali semakin membisu.

Hali dan Lust sama-sama memiliki masa lalu yang perih untuk diingat. Hanya saja, Lust memilih untuk menghadapi apa yang ia takuti itu. Karena ia tak bisa pergi dari lingkungan yang begitu ia sayangi.

Fang—majikannya sendiri.

"Aku telah berada di lingkungan manusia sejak aku masih bayi. Aku banyak bertemu manusia, kucing, anjing, hingga hewan lain yang berbagai macam sifatnya. Tak semua manusia buruk, kau tahu? Beberapa dari mereka sangat baik! Kau lihat Mama Elly? Dia senang sekali kalau aku menaruh kedua kaki depanku di pangkuannya dan membiarkan dia menggaruk-garuk leherku. Papa Hao senang sekali kalau aku berbaring di kedua kakinya kalau ia sedang bersantai. Kaizo—Hahahah! Dia faforitku! Paling suka mengajak bermain meski ia suka sekali usil pada Fang! Dan Fang—kau tak perlu bertanya. Dia satu-satunya manusia yang membuatku rela berhadapan dengan banyak penjahat untuk melindunginya."

Celotehan Lust tak membuat Halilintar mengeluarkan suara.

Kucing itu semakin diam dan memandangi kaki-kaki depannya.

"Dan menurutku—kau adalah kucing paling cantik dan anggun yang pernah kutemui. Hei, aku tidak sedang menggodamu. Tapi ini kukatakan dari lubuk hatiku terdalam~"

Pujian yang tak diduga mengundang kekeh tawa si kucing membuat Lust terkejut.

Namun yang membuat Lust lebih terkejut lagi dan terdiam membisu adalah ketika ia melihat kucing hitam anggun bak ratu dari segala kucing itu tersenyum manis padanya.

"Kau baik sekali. Terima kasih."

Sumpah mati Lust belum pernah berdebar melihat seekor kucing tersenyum begitu hangat dan manis padanya. Moncong Husky penggoda itu terkunci tak berceloteh maupun mengeluarkan gombalan atau komentar lain.

Seakan terkunci erat karena sihir dari seekor kucing hitam.

"Haliii…"

Keheningan dipecahkan oleh suara ngeongan mungil Blaze.

"Ada apa, Blaze?"

"Kapan kita bisa pulang?"

Hali menghela napas dan memberi tempat agar Blaze bisa meringkuk di bawah leher pengasuhnya itu. Blaze meringkuk dan mengeratkan tubuhnya di antara kaki-kaki Halilintar, membiarkan tubuhnya dijilat-jilat lembut oleh Hali.

"Kenapa? Bukankah kau ingin sekali bermain dengan Gluttony?"

"Uung—Ta-tapi aku takut kita tak bisa pulang. Bukankah kita sudah terlalu lama meninggalkan Taufan, Gempa, Ice, Thorn, dan Solar…? Nanti mereka khawatir pada kita…"

Pertama kalinya Halilintar dibuat heran. Blaze belum pernah seperti demikian sebelumnya. Biasanya ia selalu tak menurut untuk tetap di kamar atau untuk tak keluar halaman. Tapi kali ini ia begitu khawatir tak bersama saudarinya yang lain.

Hali kembali menjilat-jilat kepala Blaze. "Rumah kita ada tepat di sebelah, Blaze. Tak perlu khawatir. Begitu hujan reda kita bisa langsung pulang."

Gluttony turut membaringkan tubuh di dekat para kucing. "Aku akan mengantarmu pulang nanti, Blaze! Jangan khawatir!"

Tapi si kucing mungil bercorak jingga itu tetap meringkuk erat dalam pelukan Hali.

"Blaze? Ada apa? Kau tak biasanya begini—" Blaze hanya mengeong kecil menyembunyikan wajahnya di antara kaki-kaki lembut berbulu pengasuhnya.

Kini Hali paham.

Sejak Blaze ditemukan Boboiboy dan dibawa pulang, si kecil bandel itu sama sekali tak pernah keluar rumah. Halilintar selalu melarangnya. Semua yang ada di luar sana adalah bahaya. Semua adalah monster. Semua tak aman untuk para kucing mungil. Terutama anjing.

Ini pertama kalinya Blaze tak berada di rumahnya sendiri dalam jangka waktu lama. Ia mulai merasa resah meski bersama sahabatnya, Glu.

Halilintar terdiam penuh perasaan bersalah. Ia semakin memeluk erat adik asuhannya dan memberikan jilatan di kepala dan wajah Blaze untuk menenangkannya. "Blaze, tenanglah. Aku ada di sini. Dan para anjing ini begitu baik pada kita."

Lust terkejut luar biasa mendengarnya. Ia yakin apa yang Hali katakan itu bukan hanya untuk menenangkan Blaze. Tapi wajah kucing hitam tersebut menunjukkan ia tulus mengatakannya.

.

Melihat para anjing dan kucing di ruang tengah begitu akur membuat Fang lega. Ia terus merekam pemandangan manis itu dalam smartphone. Diam-diam ia ingin sekali mengirimkannya pada Boboiboy. Mengingat hal itu membuat Fang menyesal tak menanyakan nomor telepon gadis yang ia sukai tersebut.

Hujan akhirnya reda meninggalkan genangan-genangan air dan udara yang bersih serta segar. Terutama ketika Elly membuka pintu teras. Para Husky menghirup udara segar dalam-dalam. Blaze mengeong riang karena bisa pulang. Ini pertama kalinya ia begitu rindu pada saudarinya yang lain.

"Meoooong—!"

Suara ngeongan terdengar membuat Blaze kebingungan mencari suara yang ia kenal itu.

.

"Blaze, coba lihat ke atas."

Kucing lincah itu menuruti kata-kata Hali. Ia mendangak dan mendapati Taufan, Gempa, Solar, dan Thorn di beranda kamar Boboiboy—mengintip dari balik pagar teralis lantai dua bersama ibunda Boboiboy. Ice sudah pasti terlalu asyik tidur di bawah kolong tempat tidur Booiboy.

"Myaaaaang—!"

Elly tertawa kecil mendengar ngeongan ceria Blaze sembari melambaikan tangannya pada tetangga mereka yang berada di beranda lantai dua sana.

Ibunda Boboiboy berterima kasih pada Elizabeth dan Fang karena telah merawat Hali dan Blaze ketika hujan tadi. Para anjing keluar rumah mengendus-endus tanaman dan rerumputan yang basah karena hujan mengeluarkan aroma tanah yang segar. Glu menepati janjinya mengantar Blaze hingga depan rumah.

.

"Terima kasih banyak, Glu! Lain kali kita main lagi, yah!"

"Tentu! Sampai jumpa, Blaze!"

Hali hanya diam melihat adik kecilnya begitu senang berada di sekeliling Glu tanpa rasa takut. Perasaan bersalah telah mengekangnya di rumah sejak kecil membuat Hali semakin menunduk. Lust menyadari pandangan kucing hitam anggun tersebut.

"Ehem—Hei, hmm… bagaimana kalau kita jalan-jalan lain kali? Aku butuh pemandu untuk menemaniku di tempat baru ini." Senyuman menggoda dari Husky di samping Hali hanya mengundang desahan kecil.

"Maaf, Lust. Sejujurnya aku sendiri tak pernah keluar rumah. Kalaupun pernah, aku hanya berjalan-jalan di sekitar blok ini saja. Jadi aku tak bisa menemanimu. Maaf—"

"Oh—Bukankah itu bagus?"

Nada ceria Lust membuat Hali mengrenyitkan alis heran. "Bagus? Apanya yang bagus?"

"Yah—kita bisa menjelajahi tempat ini bersama! Menemukan hal baru, teman baru. Ayolah, aku akan melindungimu jika terjadi sesuatu."

Lust mendekatkan moncongnya pada Hali membuat kucing itu sedikit mundur agak menjauh.

"Eh—Ng… A-aku tak tahu…"

"Tak apa! Tak perlu buru-buru memutuskan. Kalau kau sudah merasa lebih yakin nanti kunjungilah aku! Tenang~ Aku tak akan ke mana-mana. Selalu tepat di sampingmu~ Yah—maksudku benar-benar tepat di samping. Aku tetanggamu' kan?"

Candaan Lust tak diduga mendapat reaksi manis dari Hali. Ia terkekeh kecil mendengar kalimat penghibur dari anjing Husky yang sempat ia benci.

Pemandangan termanis yang pernah Lust lihat sejak ia datang ke tempat itu. Bahkan Lust hanya bisa terdiam. Tak ada kalimat dengan nada menggoda keluar dari moncongnya.

"Baiklah. Terima kasih telah menawarkan padaku, Lust. Aku pulang dulu. Ayo, Blaze."

"Dah, Gluuu!"

"Dah, Blaze!"

Lust hanya terduduk membisu. Ia terdiam dengan pandangan yang tak bisa lepas dari seekor kucing hitam anggun dingin yang kini berjalan menuju rumahnya bersama si mungil manja yang menggeliat di antara kakinya.

Hali sempat berhenti dan kembali berpamitan. "Dah, Lust."

Begitu para kucing menghilang dari pandangan, barulah para Husky masuk ke rumah bersama majikan mereka—kecuali Lust yang masih terduduk terpukau.

"D-da—dah, Hali…"

.

.

.

tbc


.

.

.

Sekedar informasi mengenai kucing xD

Aku memang bukan ahli dan bahkan nggak melihara kucing, tapi banyak yang bilang bahwa sebenarnya 'susu itu tidak baik untuk kucing'. Konon katanya sebenarnya dalam perut kucing itu tidak bisa mengolah laktosa (bahan-bahan yang terbuat dari susu). Kalaupun ingin memberi susu pada kucing biasanya terjual susu khusus di klinik-klinik hewan.

Beberapa teman yang menyukai hewan bahkan nggak memberikan kucing makanan manusia. Karena makanan kita sudah diolah dengan bumbu dan garam. Sementara garam bisa membuat bulu kucing rontok.

Di sini aku cuma menjadikan pemanis aja ketika para kucing elemental minum susu. Benar-tidaknya informasi tersebut bisa kalian cari di internet atau bisa langsung konsultasi pada ahli atau dokter hewan ^^

Di lingkungan dekat rumahku ada beberapa klinik serta toko hewan. Untuk referensi fanfic ini aku pingin banget berkunjung ke sana xD Ngeliat tempat makan/minum atau tempat tidur serta collar aja aku udah seneng banget xD

Let's love animals. Don't hurt them if you can't keep them ^^

.

Kushina-korra95—Chapter ni Blaze n Hali dulu ya ^^

Fantastic Three—Thank you too sudah review ^^ Happy new year too! ^^

mr x—Eh? Ramai orang suka? Really!? I feel so honored! And thank you very much dah follow my fanarts and fanfic! Tak paham pon takpe ^^ Aku guna Bahasa Indonesia which is different in some ways with Malaysia language, so I understand if kau tak boleh pahamkan the story or the characteristic details ^^ But you can write or speak Malay in the review here ^^ I kinda understand a little bit xD Yes, masing2 ada pasangan pecahan xD

Thank you very much! ^^ And yes, Kaizo is always awesome xD

Kesya—Lust sangat suka bermain dengan Fang xD Tok Aba memang ramah ^^ That's why Boboiboy juga ramah ^^

Whz Jj—Oooh! You like Lust and Sloth!? Sekarang Lust dan Hali dulu yah ^^ So many reader likes Sloth! This is surprise me! xD

xierally19—Yeeees Mama Hali is so overprotective But don't worry! Lust can melt her heart xD

sisca slytherinThank youuu! ^^ Semoga ff lainnya bisa kukejar yah ;;_;;

Rhyuu-nii Chan—Hehehe, pastinya Fang pingin nempel terus sama Boboiboy xD

HikariFuruya—Iya ;;_;; kasian Blaze n Glu pingin main dilarang sama Hali ;;_;;

Erika Uzumaki—Makasih banyaaak! ^^ Yup! Kali ini Blaze dan Glu plus Lust dan Hali xD

Kara Hu Wei Kai Hye Ra Hara Na—Oooh! Thank youuu! Semoga update kali ini menghiburmu yah ^^

Thornyleaf24—Yes! Fang udah dapet ijin pedekate ke Boboiboy dari Tok Aba nih xD Selamat membaca ff yang laiiin xD Wah, umurku? Aduh jadi malu xD Hmmm, aku kasih hint deh ^^ Aku udah lulus kuliah delapan tahun yang lalu xD

nevyandini—Makasiiih ^^ Fang dapet restu dari Tok Abaaa! xD