Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia
Fanfiction by widzilla
WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.
You've been warned! Don't like, don't read!
Lunch Time
.
.
.
"Eh… ng… A-aku… aku… masak…"
Nyaris terdengar seperti gumaman dari mulut Fang, tapi Boboiboy masih bisa mendengarnya, "Kau… yang masak?"
Fang hanya menunduk dalam dan mengangguk kecil mendengar nada nyaris tak percaya dari Boboiboy. Ia tak sanggup memandang mata gadis tersebut. Dirinya menyesal telah mengakui sesuatu yang mungkin terdengar memalukan bagi gadis yang ia taksir.
Kenyataan bahwa Fang tumbuh besar di lingkungan militer memang membuat ia merasa bahwa kesukaannya akan kebersihan dan memasak bukanlah hal yang bisa ia katakan terus terang pada orang lain. Kali ini Fang harus siap mendengar gadis yang ia sukai memberi komentar—
"Wow! Kau keren sekali!"
"Ya… aku tahu—eh? A… aku—keren?"
Fang mengangkat wajah dan mendapati mata yang memandangnya dengan binar takjub. Wajah Boboiboy yang berseri cerah. Bola mata coklat manis begitu tulus mengagumi remaja di hadapannya.
"Bagaimana kalau kita masak bersama? Apa ada bahan dalam kulkas?"
Mendengar ajakan manis itu membuat Fang semakin berdegup.
"Kau—tak keberatan denganku…? Maksudku… aku bisa masak, dan—"
"Keberatan? Apa maksudmu?"
Pertanyaan polos dari Boboiboy hanya mengundang tangan Fang untuk menggaruk belakang kepalanya canggung sambil menunduk diam. Tapi tak lama gadis itu mengerti apa yang membuat cowok tersebut tadi begitu ragu mengakui bahwa ia bisa memasak. Boboiboy tersenyum manis berusaha membuat Fang nyaman mengobrol dengannya.
"Bukankah seorang cowok yang bisa memasak itu keren? Aku belum pernah bertemu dengan laki-laki yang suka memasak! Kukira itu hanya ada di komik atau di acara televisi."
Boboiboy mendorong dengan lembut punggung Fang menuju dapur agar tak mendahului pemilik rumah menggunakan ruangan di rumah mereka sendiri.
"Nah, ayo kita memasak sesuatu bersama-sama! Kalau kau tak keberatan tentunya."
Tentu saja Fang yang berjalan karena dorongan dari gadis kesukaannya berbunga-bunga merasakan sentuhan tangan gadis itu di punggungnya. Telapak tangan yang hangat dan lembut. Fang semakin berbinar mendengar pujian dari Boboiboy.
"E—eh, umm… Baiklah! Ayo kita masak bersama!"
Melihat kedua remaja yang mulai mengeluarkan bahan masakan dan peralatan di dapur, para kucing kecil menjadi penasaran meski langsung dicegah Gempa dan Pride yang membimbing mereka menjauh dari dapur.
.
"Mama Gempa, aku mau lihat apa yang sedang mereka lakukan."
Gempa hanya tersenyum sambil menjilati kepala Thorn yang mengeong kecil merajuk. "Nanti kita mengganggu mereka, Thornie sayang. Kita bermain di sini saja, ya?"
"Ouuuh—Kumohon—"
Pride memberikan sebuah bola tenis untuk bermain para kucing kecil. Thorn langsung tertarik mengejari bola hijau tersebut bersama Solar menghiraukan kegiatan majikannya di dapur. Sementara Ice sudah tertidur lelap sambil meringkukkan tubuhnya di antara bulu hangat Sloth.
"Ini pertama kalinya aku melihat Fang seperti ini."
Kalimat yang diucapkan Pride membuat Gempa memandangi Husky di sampingnya dengan heran. Menyadari arti pandangan kucing belang coklat tersebut membuat Pride tersenyum kecil padanya.
"Fang sama sekali belum pernah mengajak seorang teman berkunjung ke rumah. Terutama lagi seorang gadis. Aku belum pernah melihat ia ceria seperti itu."
Gempa tersenyum memahami perasaan lega Pride.
"Boboiboy juga. Ia belum pernah akrab dengan seorang laki-laki seperti ini. Bahkan ia belum pernah bermain ke rumah temannya yang laki-laki sama sekali. Terima kasih kalian mau menerima kami."
Sementara itu dari balik pintu, Lust menatap saudaranya sambil nyengir lebar.
"Uwowowowowow~ Bahkan Pride yang selalu nampak tegas dan kaku bisa luluh juga di samping seekor kucing."
Gluttony tiba-tiba menonjolkan moncongnya dari samping Lust ikut mengintip. "Apa? Memangnya ada apa dengan Pride?"
"Isshhh! Dasar bocah! Sudahlah, kau tak akan paham."
.
Boboiboy terpukau melihat betapa lihainya Fang memotong bahan masakan. Tangannya cepat dan cekatan. Terampil menyampurkan bahan di dalam wajan dan begitu terlatih.
"Apa kau belajar memasak, Fang?"
"Yah, sejak kecil aku suka melihat chef keluarga kami memasak. Aku suka menyoba beberapa resep dan dibimbing olehnya. Ah, kau juga pandai memasak. Kukira kau sering dilayani pembantu di rumahmu…"
Boboiboy terkekeh manis, sempat membuat Fang merona kembali.
"Aku sejak kecil memang dilayani oleh para maid di rumah. Tapi, terkadang ketika orang tuaku harus pergi karena pekerjaan atau undangan, aku harus makan sendirian di rumah. Rasanya sepi sekali. Saat aku duduk di bangku SD, aku melihat bibi masak di dapur sambil menyanyi-nyanyi. Aku memaksanya untuk mengajariku, karena sepertinya ia begitu menikmati memasak di dapur."
Fang merasa sedikit iba mendengar bahwa gadis itu kesepian.
Tanpa keduanya sadari, bahwa ada kesamaan yang membuat sebuah perasaan saling berempati satu sama lain. Saling memahami dan mengerti akan arti kesepian.
Lust terdiam mendekat dan duduk di samping Fang. Ia jelas sekali merasakan bahwa kedua remaja itu membuka pintu hati mereka dengan lembut.
Sebagai anjing dengan rasa sosial yang tinggi, bisa dibilang Lust-lah yang paling paham perasaan dalam diri manusia yang ia hadapi. Dari aura, energi yang terpancar, getaran suara, bagaimana mereka memperlakukan dan memandang mata Husky sulung tersebut.
Kini ia berdiri dengan ekornya yang berkibas cepat di antara kedua remaja yang paling ia sayangi.
.
"Mereka sangat cocok satu sama lain!"
Glu mengangkat alis dan mendekati Lust. "Bagaimana kau tahu?"
"Hei, aku pengalaman soal ini, tahu?"
Gluttony tak bisa memahami apa yang Lust maksud, tapi ia senang dengan keberadaan gadis beraroma coklat itu di rumah Fang. Dan wajah Fang yang berbinar serah sambil mengaduk bahan masakan bersama Boboiboy yang memberikan taburan bumbu membantunya—kesemua itu benar-benar membuat Glu bahagia.
Terutama lagi aroma masakan yang mulai tercium lezat di moncongnya. "Wangi yang enak!"
.
Senyuman lebar menghias wajah Elizabeth yang melihat dua remaja di dapur sedang memasak sambil bersendau gurau. Seorang ibu yang lega luar biasa melihat anak bungsunya seakan sedang berjalan di jembatan impiannya.
Para kucing mengeong mungil di kaki Elly dengan manja membuat Sang Nyonya semakin gemas. Ia tak bosannya memeluk Gempa karena kucing itu yang paling tenang dan tak pernah keberatan dipeluk oleh Elly.
Solar asyik bermain bola dengan lonceng kecil di dalamnya membuat suara gemerincing riang. Envy senang sekali bisa membuat kucing itu betah di rumahnya.
Biasanya para saudara Envy yang lain selalu saja cuek dan menikmati kegiatan mereka masing-masing. Dan terkadang ketika ia ingin bermanja pada Fang sendirian, selalu saja Fang memberikan perhatiannya pada yang lain sehingga membuat Envy merasa disishkan. Padahal itu hanya rasa iri Envy belaka.
Kali ini ada seekor kucing mungil yang selalu mencari perhatian Envy untuk bermain bersamanya. Solar seperti sinar mentari kecil yang menerangi siang hari yang mendung bagi Envy.
Sloth merenggangkan badan dan menguap, membuat Ice turut mengangkat kepalanya. Tak diduga anjing pemalas itu membawa tubuh mungil Ice di moncongnya dan naik ke lantai dua. Keduanya kembali tidur di bantal milik Sloth yang terletak di dekat lemari lorong. Sepertinya Sloth membawa kucing kecil tersebut karena tak ingin suara gemerincing mainan bola milik Envy dan Solar mengganggu tidur mereka.
Taufan dan Greed jalan-jalan di halaman belakang. Tak bosannya Taufan terkagum pada seluruh pelosok rumah Fang. Kucing itu mengendus di tiap pojok ke manapun Greed membawanya.
.
"Tempat ini luas sekali!"
"Bagaimana dengan rumahmu, Tau?" Tanya Greed penasaran.
"Rumah Boboiboy banyak barang yang menghias, tapi kami para kucing tetap bisa berjalan-jalan dengan bebas di sana. Kurasa manusia menyebutnya vintage style."
Greed langsung paham apa maksud Taufan. Ia pernah melihat di majalah style sebuah rumah yang cantik dan anggun serta manis dalam saat yang bersamaan. Banyak warna hangat dan natural serta warna-warna pastel di dalamnya.
"Wow—rumahmu pasti cantik sekali! Hmm, tapi sepertinya aku tak akan bisa masuk, bisa-bisa semua barang pecah dan jatuh karena kami para anjing sangat berisik dan besar."
Taufan tertawa lepas membuat Greed semakin nyengir lebar.
Tiba-tiba Lust mendekati Taufan dan Greed yang sedang berbincang di teras samping.
"Umm—hei, maaf kalau aku mengganggu…"
"Hei, Lust! Terima kasih sudah menjaga Hali dan Blaze sebelumnya, yah!" Taufan mengeong ramah membuat Lust terkekeh.
"Sama-sama! Taufan—ng… bagaimana keadaan Hali? Maksudku, apa dia… err—"
Taufan langsung tersenyum lebih lebar hingga kumis-kumis panjang miliknya bergerak-gerak lucu.
"Aku tak sangka ia akan bisa melawan traumanya! Terima kasih, Lust! Kau tahu? Sepertinya ia tak akan keberatan untuk bertamu di sini lagi."
Lust bahagia setengah mati mendengarnya. Ekor dibelakang Husky tersebut terkibas cepat sampai membuat Greed berusaha menahan tawanya.
Di antara perbincangan para Husky dan kucing di halaman, aroma lezat dari dapur membuat mereka mengendus dan mengikuti arah wangi yang tercium itu. Bahkan Ice dan Sloth ikut terbangun dengan perut lapar. Sloth membiarkan si kucing mungil tetap berbaring di atas bantalnya yang besar. Ia menyeret bantal tersebut ke ujung tangga dan kemudian menaikinya kembali.
"Siap-siap, Ice."
"Siap-siap untuk apa?"
Ketika Sloth melompat ke atas bantalnya sembari memeluk Ice, tak disangka si kucing kecil bahwa bantal itu akan merosot menuruni tangga perlahan hingga akhirnya bagai jet coaster yang menerjang kencang.
Ini pertama kalinya Ice merasakan perosotan di tangga dengan bantal besar bersama seekor Husky. Angin yang menerpa serta ketegangan yang dirasakan si kucing kecil dalam pelukan Sloth membuatnya berdebar.
Begitu sampai di lantai bawah dengan selamat, Ice mengeong riang. "Ini keren sekali! Lain kali ayo lakukan lagi!" Sloth tertawa dan mengangguk.
Tak butuh waktu lama, para kucing dan Husky berkumpul mengelilingi dua remaja yang sedang menyiapkan makan siang.
.
Hidangan lezat telah siap dan akan diletakkan di meja makan. Begitu Boboiboy membalik tubuhnya, ia terkejut telah dikelilingi para kucing dan anjing yang mengeong dan memeking kelaparan.
"Astaga, mereka pasti juga lapar." Boboiboy berlutut dan membiarkan Thorn, Solar, dan Ice memanjat ke pangkuannya sambil mengeong-ngeong. "Maaf, ya. Tapi kalian tak boleh makan makanan ini."
Fang agak heran mendengarnya. Sambil menempatkan lauk pada sebuah piring yang tersaji di atas meja, cowok tersebut tak bisa menahan rasa penasarannya. "Eh? Kenapa tak boleh? Aku terkadang memberikan makananku untuk para Husky-ku."
"Sebenarnya bukan sama sekali tak boleh. Tapi karena masakan untuk manusia mengandung minyak dan garam yang kurang baik untuk kucing, jadi aku lumayan ketat dalam memberi mereka makan. Aku juga selalu memberikan mereka susu khusus untuk kucing, karena susu sapi tak begitu cocok untuk kucing."
Fang terkejut. "Eh? Susu sapi tak boleh!? Ta—tapi saat Hali dan Blaze bermain kemari, aku memberikan mereka susu—! Ma-maafkan aku!"
Boboiboy tertawa kecil, "Tak apa-apa. Bukannya tak boleh sama sekali, kok. Kalau darurat atau sesekali saja tak apa-apa."
Napas lega Fang membuat Boboiboy tersenyum lebih lebar.
"Fang, aku ambil makanan untuk para kucingku di rumah dulu, ya?"
Belum Fang mengangguk, tiba-tiba terdengar suara bel dari pintu depan. Begitu Elizabeth membukanya—ternyata salah satu maid dari rumah Boboiboy sudah membawakan makanan kucing beserta mangkuk khusus mereka.
"Oh—Astaga. Terima kasih! Baru saja aku mau mengambilnya!"
"Nona tak perlu khawatir. Halilintar dan Blaze sedang makan siang di rumah saat ini."
Dalam hati Fang, ia kagum akan kesigapan para pelayan rumah Boboiboy dalam melayani nona mereka. Begitu cekatan dan siap sedia di setiap saat.
Para kucing semakin riuh mengeong begitu mangkuk mereka ditaruh di lantai berjejer rapi. Fang senang sekali melihat bagaimana Boboiboy membagi makanan dari kaleng untuk kucing-kucingnya. Terlihat sekali Gempa dan Taufan benar-benar pengasuh yang baik bagi anak-anak kucing.
Gempa menggeser sedikit tubuh Thorn agar ia makan dengan nyaman. Taufan menggigit tengkuk Solar yang begitu penasaran pada masakan di atas meja. Ia membawa adiknya menghadap mangkuknya yang sudah diisi makanan kucing. Dalam sekejap, Solar sudah menikmati makan siangnya.
"Maaf, Fang. Rumahmu jadi ramai para kucing dan bau ikan tuna dari kaleng ini."
"Hahahah! Tak apa-apa! Aku senang para Husky ini kedatangan tamu!"
Giliran Fang yang memberi makanan ke dalam mangkuk para Husky-nya satu per satu. Tapi kali ini ia memberikan kesempatan pada Boboiboy untuk mencobanya. "Cobalah! Mereka akan suka kalau kau yang memberi makan!"
"E—eh, ummm—Baiklah."
Agak ragu-ragu Boboiboy menyendok makanan anjing dari dalam karung besar dengan wadah yang telah Fang berikan. "Ah, Boboiboy. Kau kurang banyak mengambilnya."
"Hah? Ah—ng, apa segini?" Fang menggeleng sambil tersenyum melihat jumlah takaran makanan anjing yang Boboiboy angkat dengan wadah.
"Tidak. Itu masih terlalu sedikit."
Akhirnya Fang memberi contoh dengan menuang makanan berjumlah banyak ke dalam mangkuk Lust. Boboiboy terbelalak melihat jumlah makanan yang begitu banyak itu. Tak heran tubuh para Husky tersebut begitu besar.
"Wow—! Itu banyak sekali!"
"Hahahah! Yah, kalau untuk Glu kau harus memberikan dua kalinya!"
Boboiboy tertawa-tawa sambil menaruh makanan anjing ke dalam mangkuk mereka. Ini pertama kalinya ia dikelilingi para anjing gagah kelaparan yang tak sabar. Mereka begitu besar namun imut dalam waktu yang bersamaan. Fang sendiri tak berhenti tersenyum. Bagai mimpi indah di siang bolong seorang bidadari bertamu ke rumahnya membawa keceriaan.
Makan siang tiba, diawali dengan Elizabeth yang memekik girang melihat segala masakan hasil karya Fang dan Boboiboy di atas meja. Bahkan kedua remaja itu harus menunggu Elly mengabadikan karya mereka dengan kamera ponselnya.
"Ah, ayo kalian berdua berdiri di situ!"
Fang canggung berdiri di balik meja makan dengan Boboiboy. Gadis itu juga malu-malu berdiri di samping tetangga barunya. Elizabeth menghela napas sembari memutar matanya.
"Astaga—aku tak mengira remaja jaman sekarang masih malu-malu seperti ini."
Sang Nyonya langsung mendorong sedikit Fang untuk mendekati Boboiboy hingga cowok itu bisa mencium aroma wangi vanila dari rambut hitam pendek gadis itu. Jantungnya berlomba-lomba membuat Fang berharap Boboiboy yang begitu dekat dengannya tak mendengar suara genderang dari dadanya tersebut. Fang berjuang keras menahan diri agar ia tak merangkul bahu Boboiboy. Besar keinginannya untuk bisa menyentuh tangan gadis yang ia taksir.
.
Glu mengendus-endus penasaran. Ini pertama kalinya ia melihat dan mencium makanan kucing yang beraroma tuna.
"Apa itu enak?" Pertanyaan sang adik membuat Lust terkekeh. Tapi ternyata Envy dan Greed juga penasaran.
Taufan menyodorkan mangkuknya pada Greed, "Kau mau coba? Bagi kami ini enak."
"Umm—Tidak, terima kasih. Kurasa kurang cocok dengan lidah anjing."
Taufan tertawa kecil membuat Greed tersipu nyengir.
Wrath yang sedang menikmati makanannya merasa ada yang memerhatikan dari samping—dan ternyata si mungil Thorn yang penasaran dengan makanan anjing.
"Grrh—Mau apa kau?"
"Apa itu enak?"
"Yah—biasa saja."
"Kau mau coba punyaku?"
"Tidak."
"Kau boleh coba punyaku."
"Kubilang 'tidak'!"
"…"
"…"
"Baiklah. Sedikit saja. Ini karena kau memaksa. Huh."
"Silakan."
Pride dan Gempa ternyata memerhatikan adik mereka sedari tadi. Pride tahu jelas sebenarnya Wrath penasaran ingin mencoba makanan kucing tapi tak mau mengakuinya. Sikap pemalu Wrath itu kadang membuat saudaranya yang lain geli serta gemas. Gempa ikut tersenyum melihat Thorn yang begitu polos dan cuek menghadapi anjing pemarah sahabat barunya.
Kini keduanya penasaran menunggu reaksi Wrath yang baru saja menyicipi sedikit makanan kucing. Anjing penggerutu itu hanya diam dan membuang muka. Ia berjalan entah ke mana—sepertinya halaman samping—dan kembali lagi.
Pride semakin terkekeh geli tak bersuara menyadari bahwa Wrath tak ingin melukai perasaan Thorn karena rasa makanan kucing itu tak cocok dengan lidahnya. Maka ia membuang makanan yang ia kunyah di halaman diam-diam. Sementara Thorn mengendus-endus makanan anjing dan menjilatinya.
Gempa menggigit tengkuk Thorn dan membawanya pada mangkuk si kucing mungil. "Thornie, kau jangan memakan bagian Wrath. Kau sudah punya makanan sendiri, yah?"
"Umm—Aku hanya penasaran rasanya seperti apa."
"Baiklah, baiklah—Tapi sekarang kau makan makananmu sendiri, yah?"
"Baik, mama Gempa."
Wrath hanya diam dan kembali memakan makanannnya sendiri. Namun Envy membisiki saudaranya penuh rasa ingin tahu. "Hei—Bagaimana rasanya?"
"Seperti—ikan. Tapi hambar."
"Ooh—"
.
Elly benar-benar menikmati saat makan siang bersama. Biasanya tidak ada sendau gurau di siang bolong saat menyantap makan siang. Tapi kali ini ada banyak yang menemani. Bahkan ada meongan yang mengiringi. Betapa tak sabar sang Nyonya menunggu kepulangan suaminya untuk menunjukkan semua yang ia foto dan rekam dalam ponsel.
Makan siang bersama di ruang makan yang biasanya sepi bagai sebuah tanda adanya perubahan dalam hidup Fang.
Ada seorang gadis manis berambut hitam pendek lembut disisir angin dengan para kucingnya yang tiba-tiba membunyikan bel di pintu hati Fang sembari tersenyum hangat. Meminta ijin untuk memasuki istana sang pemuda yang sepi.
Gadis yang membawa bunga warna-warni dalam pelukannya serta ngeongan manis para kucing yang membuat para ketujuh Husky menggonggong riang.
Langit yang telah gelap membuat lampu jalan menyala menerangi jalan. Suara deru mobil perlahan terdengar dari arah jalan. Greed dan Lust menyalak-nyalak menyambut Hao dan Kaizo yang baru saja keluar dari mobil yang telah diparkir dalam garasi.
Pride dengan gagah mendekati Hao dan mendapat tepukan di kepalanya. "Hai, Pride."
Hao tersenyum membiarkan Pride dan Gluttony yang sedari tadi menunggu di daun pintu mengikuti hingga sampai di ruang makan.
Makan malam lezat telah tersedia di atas meja. Kaizo yang sudah kelaparan langsung melepas jas seragamnya dan menanggalkan di sandaran sofa.
"Wow—Kelihatannya lezat!"
Para Husky telah menikmati makan malam mereka di mangkuk masing-masing. Sementara Gluttony sudah menghabiskan mangkuknya yang kedua.
"Ini Fang dan Boboiboy yang memasak siang tadi, loh!"
Tuturan ceria Elizabeth membuat Hao dan Kaizo terdiam dan memandangi Fang yang menunduk malu-malu.
Porsi makanan yang dimasak kedua remaja siang tadi ternyata terlalu banyak. Fang terbawa suasana hatinya sehingga lupa menghitung porsi bahan makanan dan kenyataan bahwa siang itu hanya ada dirinya, sang bunda, dan Boboiboy yang diundang. Sajian tersebut dihangatkan kembali dan dihidangkan untuk makan malam. Boboiboy juga membawa pulang sebagian makanan yang ia masak bersama dengan Fang.
Kaizo terkekeh gemas melihat Fang yang jelas sekali nampak malu-malu mengakui kebahagiaannya bisa berkenalan lebih dekat lagi dengan gadis kesukaannya. Hao begitu antusias melihat foto-foto Fang dan Boboiboy yang istrinya simpan dalam ponsel.
Sementara itu di rumah Boboiboy, para kucing makan malam dengan lahapnya. Kedua orang tua Boboiboy tersenyum-senyum melihat foto-foto di ponsel sang Nyonya yang dikirimkan oleh Elizabeth pada tetangga barunya melalui e-mail.
Boboiboy sendiri penuh kekaguman menceritakan bagaimana Fang masak dengan lihainya siang tadi pada kedua orang tuanya. Ia terus memuji-muji—tanpa menyadari para maid ikut mendengarkannya.
Nona kecil mereka begitu menggemaskan dengan ekspresinya yang jujur. Para maid semakin membulatkan tekad ingin mengakrabkan sang nona dengan tuan muda tetangga mereka.
Suara ngeongan memanggil-manggil dari bawah kaki Boboiboy. Ternyata Blaze merajuk pada gadis itu agar mangkuknya diisi lagi dengan makanan.
"Wah, Blaze. Kau lapar sekali, ya?"
Seorang maid mendekat dengan sebuah kaleng makanan kucing di tangannya. "Nona, sepertinya makanan kucing dry food dan wet food-nya sudah mau habis. Besok saya akan beli."
"Oh, tak apa. Aku saja yang beli. Sekalian ingin mengajak para kucing ini jalan-jalan ke Petshop."
"Meooong—!"
Gemerincing girang langsung terdengar. Taufan melompat dan mengeong ke pangkuan Boboiboy membuat gadis tersebut langsung memeluknya gemas.
"Ah—hahahah! Taufan, kau tak sabar ingin ke Petshop, yah? Oke, besok kita semua sama-sama ke sana, yah? Kurasa aku harus beli mainan baru untuk para anak-anak kucing. Blaze menggigiti mainannya terus sampai rusak."
"Myaaang—!" Ngeongan bangga membuat para maid tertawa kecil sambil mengelus-elus Blaze.
Gempa tiba-tiba mendekati kaki Boboiboy sambil membawa sesuatu di mulutnya. Nampak seperti mainan bantal kecil yang telah terkoyak-koyak.
"Astaga—ini mainan Thorn. Nampaknya anak-anak kucing ini mulai gatal giginya. Baiklah, aku akan mencatat apa-apa saja yang harus dibeli besok."
Sungguh para kucing tak sabar menanti hari esok. Petshop adalah surga—atau sebut saja mall bagi para hewan peliharaan. Pertama kalinya Blaze, Ice, Thorn, dan Solar diajak ke sana sudah membuat keempat ekor kucing mungil itu enggan pulang. Untung rasa lapar memaksa mereka untuk kembali ke rumah dan menikmati makan siang.
Malam yang sejuk nyaris membuat Fang terbuai di beranda kamarnya. Ia terus berpangku tangan bersandar di pagar teralis beranda, membuat Glu dan Envy penasaran. Bahkan Wrath yang biasanya tak peduli kini ikut memiringkan kepala heran melihat Fang tersenyum-senyum sendiri di luar kamar. Memandangi jendela kamar di seberang sana.
Jendela kamar Boboiboy.
Kaizo yang baru saja mandi tengah mengeringkan rambut dengan handuk sambil berjalan melewati kamar adiknya yang terbuka lebar. Tentu saja pintu jendela kamar terbuka dengan Fang yang berada di luar beranda sana membuat Kaizo heran. Tapi ia langsung menyadari apa yang dipandangi adiknya itu.
Senyuman usil diikuti langkah kaki memasuki kamar remaja berkacamata tersebut tanpa permisi.
"Wah, wah~ Nunggu tuan putri di sana tidur dulu, baru kau mau tidur—Hmmm~?"
Tentu saja Fang terkejut tiba-tiba pinggangnya dipeluk sang abang sedemikian rupa. Bahkan Kaizo mengangkat tubuh Fang dengan mudah dan merubuhkannya di tempat tidur tak peduli adiknya meronta-ronta.
"Kaizoooo! Apaan, sih!? Sana ke kamarmu sendiri!"
Fang berusaha melepaskan diri tanpa mendapat ampunan dari Kaizo yang kemudian ikut berbaring sambil terus memeluk adiknya.
"Nggak mau—aku belum ngantuk. Eh—cerita dong gimana tadi siang~ Asyik, yah? Bareng gebetan?"
Akhirnya Fang tak menolak keberadaan abangnya yang ikut berbaring di tempat tidur sembari cemberut dengan wajah merona. Kaizo semakin gemas mencubiti hidung dan pipi Fang. Bahkan menciumi pipi adiknya dan disambut protes.
"Heheheheh—rasanya baruuuu aja kemarin kamu manggil aku 'AishoAisho' sambil meluk eraaat banget. Gak mau ditinggal sendirian di rumah. Lalu kalo aku pulang sekolah kamu menyambut sambil lari-lari imut banget sampai ekor puppy mainan yang nempel di belakang jaketmu ikut goyang-goyang."
Fang tertawa kecil mendengar nama panggilan Kaizo ketika saat itu Fang masih sangat kecil, tak bisa memanggil nama abangnya dengan benar.
Lust menaruh moncongnya di perut Kaizo dan mendapat tepukan sayang. Diikuti Envy dan Wrath yang bermanja pada Fang. Sloth membuat dirinya nyaman di sebelah bawah tempat tidur majikannya hingga terdengar suara dengkuran.
Sementara itu Pride dan Greed berjaga di luar rumah. Ada kandang anjing yang besar di samping pintu rumah Fang sebagai tempat mereka beristirahat dan berteduh.
Tak terasa sudah bertahun-tahun sejak Fang kecil menangisi kepergian abangnya ke sekolah. Bahkan para Husky yang dahulu berukuran boneka dalam pelukan Fang kini tumbuh besar dan sehat.
Kaizo yang merangkul Fang sambil berbaring bersama adiknya hanya tersenyum menikmati wangi shampo dari rambut adik kesayangannya itu.
"Jadi—bagaimana cewek yang kau taksir itu~?"
Fang bergumam tak jelas dengan rona di wajah yang belum hilang sedari tadi. Kaizo semakin gemas dan penasaran. Ini pertama kalinya Fang menyukai seseorang dan ia jelas memerlihatkannya. Untuk remaja berusia lima belas tahun dengan tubuh tinggi menjulang dan postur yang dewasa, Fang masih polos dalam urusan percintaan.
"Umm—dia pintar memasak… Aku tak mengira! Maksudku—aku kira dia tipe nona yang selalu dilayani… tapi tadi Boboiboy bahkan bisa mengira-ngira semua bumbu tanpa harus melihat resep atau mencicipi!"
Bagai mendengar cicit burung riang, Kaizo tak menghilangkan senyuman dari wajah. Rasanya ia nyaris lupa bahwa Fang bisa secerewet itu. Berbaring berduaan sambil bercerita. Entah sudah berapa lama mereka tak melakukan hal seakrab itu sebagai abang-adik.
Tak lama, Kaizo mendengar dengkuran lembut setelah tak ada lagi obrolan dari sampingnya. Adiknya sudah tertidur dengan senyuman di wajah. Ia nampak lelah namun bahagia. Perlahan-lahan sang kapten muda menarik tangannya dari bawah leher Fang dan membetulkan posisi kepala remaja tersebut di bantal. Berharap adiknya tak terbangun saat Kaizo menyelimutinya hingga bawah dagu Fang.
"Selamat tidur, Fang."
Kecupan di kening menjadi salam perpisahan untuk malam itu. Para Husky yang sempat menutup mata, kembali mengangkat kepala dan telinga mereka ketika Kaizo berjingkat menuju pintu jendela untuk menutup dan menguncinya sebelum kemudian meninggalkan kamar sang adik. "Jaga dia, oke?"
Para Husky memeking lembut memberi jawaban pada pesan Kaizo sebelum ia menutup pintu.
Lust beranjak ke tempat tidur Fang dan berbaring di samping manusia kesayangannya. Envy dan Wrath turut mengikuti dan berbaring di dekat kaki Fang. Sementara Sloth sudah mendengkur dan terlalu malas berpindah tempat dari bawah tempat tidur.
Fang terlalu bahagia untuk bermimpi malam itu. Para Husky besar yang menjadi bantal, guling, dan selimutnya ikut tersenyum dalam tidur.
Fang yang bahagia bisa menikmati siang bersama gadis yang ia cintai, dan para Husky yang begitu senang memiliki sahabat baru yang mungil serta ceria.
.
.
.
tbc
.
.
.
Mohon maaf sudah lama sekali ff ini nggak update! Sedikit aku sampaikan alasan keterlambatan update, semoga bisa dimaklumi.
Tepat tanggal 2 Maret lalu aku ke Malaysia untuk memenuhi undangan Monsta yang mengadakan event Kontes Boboiboy Daun dan Cattus di tanggal 4 Maret-nya. Seru sekaliiii! Benar-benar memorable dan susah dilupakan ;;w;;
Terima kasih banyak atas dukungan teman-teman selama ini. Berkat kalian aku terus semangat berkarya sampai nggak nyangka sama sekali bahwa nama 'Widzilla' dikenal oleh pihak Monsta dan fans Boboiboy di Malaysia ;;A;;
Aku nyaris nangis terharu waktu mereka manggil namaku untuk maju. Mendapat penghargaan, bertemu langsung dan berfoto dengan para pengisi suara (sayang Wai Kay ga ada xD), bahkan ngobrol dan boleh bertanya apapun sepuasnya pada para kru Monsta!
Semua orang Monsta baik sekali! Juga pengisi suara Ying, Yap Ee Jean! Dia lihat aku kerepotan bawa segala hadiah yang kuterima dari Monsta, langsung bantu bawain ke studio ;;w;; Pengisi suara Gopal juga ramah sekali! Sangat ekspresif setiap ada yang minta foto! Pengisi suara Bellbot sooo cute! Dia malu-malu waktu aku dan temanku (salah satu kru Monsta) ajak ngobrol soal PR dan sekolahnya xD
Banyak hal yang terjadi dan bener-bener aku merasa fandom ini yang bikin aku semangat sejak 2014 lalu. Semoga animasi Boboiboy, serta para fansnya, dan teman-teman yang juga ikut meramaikan fandom dengan segala karyanya menjadi lebih baik dan semakin sukses! Aaamiiin!
Dan kali ini, berita duka untukku...
Jujur aja, sekitar 1-2 minggu lalu... adalah minggu-minggu yang sulit untuk menulis ff ini buatku.
Kucing liar yang biasa kurawat tiba-tiba menghilang dan ternyata sudah mati. Aku kasih nama dia 'Roti' karena badannya yang mirip roti kalau lagi berbaring di lantai. Lalu ada 5 anak kucing yang ditinggal mati induk mereka karena terlindas kendaraan. Setidaknya 1 dari kelima anak kucing itu kini dirawat oleh suami-istri penyayang kucing, sedangkan keempatnya yang lain mati karena memang tidak kena susu induknya sejak lahir dan tak bisa bertahan hidup. Aku sempat depresi berat karena tiba-tiba dalam minggu-minggu yang sama harus ditinggal mati 5 ekor kucing.
Sejak kejadian itu rasanya berat untuk membuat ff mengenai kucing ini. Karena terus keinget hari-hari di mana aku pulang selalu ada Roti yang menunggu atau selalu datang kalau dipanggil saat jam-jam makan.
Dan rasa bersalah karena kematian 4 ekor anak kucing terus menghantui.
Rest in peace, my dear Roti and the kittens. Sekarang kalian udah di tempat yang jauh lebih baik. I love you always, dear kitties.
Terima kasih banyak udah nemenin aku selama ini, Roti.
.
.
.
Okay. Saatnya membalas review! ^^7 Maaf untuk kali ini belum ada info kecil dariku. Mungkin dari teman-teman sekalian ada info yang mau disampaikan sangat dipersilahkan ^^
Harukaze Kagura—Wooow! Justru bisa review sekalian sampe 4 chapter itu kereeen! xDD Thank you very much reviewnyaaaa xD Wah, ada penggemar WraThorn lagi rupanya xD
Alenia Alalen—Wahahahah! xD Duh, kalo kucing-kucing asli kayanya susah nih dilatih kalem kaya para kucingnya Boboiboy ^^;
Rumput itu biasanya kalo si kucing atau anjing lagi sakit perut atau nggak enak perutnya. Itu bantu mereka ngeluarin racun lewat feses atau muntahan mereka.
Gak apa-apa kok ^^ Sebenernya info mengenai boleh tidaknya makan makanan tertentu itu biasanya untuk hewan peliharaan dengan ras tertentu. Misalnya kucing persia. Tapi kalau memang ada darah ras kucing kampung, biasanya mungkin pertahanan tubuh mereka lebih kuat.
Hoodie Toothless KuYa—Thank youuu ^^ Wahahah, mungkin nanti Blaze manggil 'Mama' ke Hali buat ngejailin Hali yang kaya emak-emak xD
Faiz iqbal i—Okeee ^^7 Makasih reviewnya yah ^^
Kushina-korra95—Waah! Boleh bangeeet! Ditunggu loh side storynya xD Jangan lupa kredit yah ^^7
Whz Jj—Lust boleh tahu pasal cinta sebab dia paling sulung xD He's a social dog who really loves interaction with human xD
Ey bagus tu banyak tidur, jadi tak payah tulis cerita Sloth xDD LOL! xD Bercandaaa xD
Tak perlu sering-sering, apalagi kucing. Kucing tu haiwan yang bersih. Dia boleh jilat tubuh dia sendiri ^^Tapi kalau dah kotor macam kena lumpur, tu mesti mandi. Kalau anjing—mungkin boleh tiap-tiap saat xD apalagi anjing suka main air kot xD Belum pernah pelihara anjing, jadi belum tahu lagi ^^;
Kesya—Iya nih xD Sayang Fangnya minder xD
nevyandini—Thorn mungkin rindu papa-mamanya. Soalnya dia sama sekali nggak inget siapa papa-mama aslinya ;;w;; jadi dia udah angga Gempa sebagai mamanya xD
Silver Celestia—Waduh aku malah seneng kalau ada yang review xD Oooh! Ada fans PrideGem! Aku coba yah ^^ Nanti para guguk sama kucing giliran diceritain satu-satu yah biar dapet scenenya adil ^^7 Iya niiih! Thornie memang imuuut! xD
HikariFuruya—Wow! Aku ga tau ada banyak yang suka PrideGem! xD Iya nih, makasih yah Thornie xD
khukhuchan—Aduh nggak nyangka masih ada yang nungguin ;;w;; maaf yah untuk sementara hiatus dulu ;;_;; akhir-akhir ini lagi sedikit kesulitan ngatur jadwal kerjaan ;;_;; Semoga nanti ada waktu supaya bisa lanjutin ^^7 Makasih banyak loh dukungannya! ^^7
Rhyuu-nii Chan—Pride memang paling bijaksana xD Cocok jadi papanya Thorn, yah? xD
Razen Kukang Unyu— Kucing-kucingnya sehat sekaliii xD Duh gemes banget xD
Fang pertama kali jatuh cinta ni soalnya xD Jadi guling-guling gitu deh xD
Wow! Banyak amat peliharaanya! Semoga semua hewannya sehat-sehat yah ^^7
LizzNP—Makasih banyaaak ^^ Kalo soal yaoi, aku sendiri sebenernya suka ^^ Tapi aku nyadar ini fandom yang fansnya mostly anak-anak di bawah umur jadi aku juga kurang nyaman kalau sampai bikin adegan 'tertentu' xD Don't worry, aku sendiri memang suka banget sama yang namanya genderbender. Jadi kalau baca ff-ku semuanya pasti genderben Boboiboy xD Semoga betah yah ^^7
Waduh, kasihan bulunya sampe rontok ;;w;; bisa banyak penyebabnya itu. Bisa dari makanan, kutu, sakit kulit, bahkan bisa karena stress. Semoga pusnya lekas sembuh yah.
xierally19—Kucing makan rumput atau buah tu memang biasanya untuk obat perut. Racun dari perut boleh keluar melalui muntah atau kotorannya. Takpe tu ^^
Thornyleaf24—Lol! Takpe xD Fang dah biasa tidur bertumpukan dengan para Husky xD ada aircon jadi tak panas xD
Eyy comelnyaaa! xD Tapi hati-hati tak boleh sering-sering makan selai. Sebab ada zat pengawet yang tak baik untuk kucing ^^
Kara Hu Wei Kai Hye Ra Hara Na—Wahahah, mereka kan pergaulannya nggak seluas Lust xD
