Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia
Fanfiction by widzilla
WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.
You've been warned! Don't like, don't read!
Let's Go to Petshop!
.
.
.
Pagi yang diawali dengan lolongan lapar Gluttony serta gonggongan protes Wrath, nyaris membuat Kaizo tersedak air minum karena terkejut.
Untung seragamnya tak basah karena air yang sempat tumpah sedikit dari gelasnya. "Hhh—Gluuu, astaga."
Rasanya lumayan berat untuk melerai Wrath yang menggongong kesal pada Gluttony yang terus melolong lapar. Kaizo menyerah—hanya Fang yang bisa menjinakkan para Husky di rumah.
Namun Fang terlalu sibuk mengaduk-aduk karung besar berisi makanan anjing dan mulai nampak panik. "Gawat. Makanan anjingnya sudah mau habis!"
Hao membuka lemari lain di dekat kulkas. "Wah—nampaknya kita harus beli makanan anjing."
"Aku akan ke Petshop hari ini. Aku sudah cek di internet ada Petshop yang dekat."
"Baiklah. Nanti minta delivery saja. Uangnya ayah transfer ke rekeningmu, ya, Fang?"
Fang tersenyum lebar memeluk pinggang ayahnya. Melihat sisi manja Fang akhir-akhir ini membuat Hao dan Elizabeth merasa lebih lega.
Tentu saja.
Ketika anak mereka masih mendapat didikan di sekolah militer, Fang lebih sering menutup diri dan jarang mengeluarkan isi hatinya. Sifat pendiam anak itu sempat membuat kedua orang tua dan abangnya khawatir.
Di akademinya dahulu Fang paling dingin dan tegas.
Dan karena Kaizo juga harus menjaga image serta pandangan orang pada dirinya, kedua abang-adik itu tak pernah terlihat seperti layaknya saudara kandung. Mereka saling diam dan menyapa dengan nama jabatan. Tak ada senyuman di wajah sang adik meski di rumah Kaizo suka mengusilinya karena gemas. Fang cenderung ngambek atau mengadu pada ibunya.
Ada saja ulah sang abang berusaha membuat adiknya itu tersenyum meski ia tahu akan sia-sia. Setidaknya ia mencoba.
Beberapa momen di mana Fang tersenyum lebar adalah ketika ia mendapat penghargaan pemain basket terbaik di akademi. Dan saat para Husky mungil menjadi bagian dalam hidupnya.
Perlahan-lahan Fang berubah. Ia mau mengeluarkan isi hati pada ketujuh Husky kesayangannya. Sering kali ia merasa lebih lega, karena tak dapat mengungkapkan pada keluarganya sendiri. Namun sejak Fang berani mengambil keputusan sendiri untuk lepas dari dunia militer beberapa hari lalu, ia menjadi lebih jujur dalam mengekspresikan dirinya. Bahkan Kaizo sendiri tak menyangka Fang akan bisa semanja itu.
Dan kali ini sikap manja si anak bungsu justru meluluhkan hati Hao. Tak disangka Fang bisa memerlihatkan rasa terima kasihnya dengan cara demikian.
Sambil terus melingkarkan lengannya pada Hao, Fang menengadahkan kepala menatap mata ayahnya. "Uuum—boleh aku lihat-lihat isi Petshop-nya juga? Siapa tahu ada salon untuk hewan juga di situ. Envy kemarin juga gelisah ingin dimandikan, hanya saja aku terlalu lelah."
"Tentu saja. Tapi jangan bawa ketujuh Husky ini. Nanti kau kerepotan. Bawa saja Envy dan Pride bersamamu." Hao menyempatkan diri membalas pelukan dan memberi ciuman di kepala anak bungsunya.
Kaizo ikut menyubiti pipi Fang dengan gemas dan memberikan ciuman di kedua pipi Fang hingga adiknya itu meronta-ronta. Elly menghela napas sambil tersenyum melihat keusilan Kaizo.
Para Husky sudah mengendus bahwa Fang akan pergi mengajak beberapa dari mereka ke suatu tempat. Telinga Lust dan Greed tegak—mendengar jelas kata 'Petshop'.
.
"PETSHOP! KITA AKAN KE PETSHOP!" Greed bersorak.
"Tapi sepertinya hanya beberapa dari kita yang diajak." Sloth ikut angkat bicara dan mengakhirinya dengan menguap.
Envy semakin gelisah. "Semoga aku yang diajak. Semoga ada salon di sana. Semoga aku bisa mendapat perawatan di sana."
"Hei, tenanglah, Vy~ Kau yang akan ikut nantinya. Tadi aku dengar namamu disebut oleh Papa Hao." Lust menaruh moncongnya di kaki Fang yang sedang duduk sambil meminum segelas susu.
.
Fang mengalihkan perhatiannya pada Lust yang mendengus di atas paha cowok itu.
Sambil menggaruk-garuk leher serta pipi Lust, Fang berbicara pada anjing sulungnya, seakan ia yakin bahwa Lust mengerti apa yang ia ucapkan.
"Hei, Lust. Maaf, ya. Kali ini aku harus mengajak Envy dan Pride saja."
"Wufff—" Husky sulung tersebut hanya memberi dengusan sekali lagi seperti memberi jawaban bahwa ia memahami keputusan Fang.
Senyuman dari Fang dan garukan di leher Lust mengakhiri acara sarapan pagi itu. "Oke! Aku akan bersiap-siap membawa mereka ke Petshop."
Elizabeth membereskan piring dan gelas dari meja makan ditemani Pride dan Wrath di dapur. Sementara Greed membaringkan tubuhnya di dekat teras cengan kecewa.
.
"Aaah—Aku juga ingin ke Petshoooop—!"
Pride memutar matanya, "Sudahlah, Greed—Toh Fang hanya akan belanja seperlunya saja."
"Tetap sajaaa—Aku mau ke Petshooop—Aku mau ikuuuuut—!"
.
"Auuuuuuuuuuuuuuuuung—!"
Sambil mencuci piring, Elly mengangkat alis mendengar lolongan Greed yang berguling-guling di lantai. Sungguh geli melihat kelakuan anjing itu. Sangat terlihat bahwa Greed ingin sekali ikut.
Envy terus menggaruk tubuhnya risih ingin segera mendapat perawatan untuk bulunya. Gluttony juga mulai gelisah ketika ia memasukkan kepalanya dalam karung makanan. Jelas ia mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan kelaparan dan tak ada makanan di situ.
Hao menghela napas sambil membantu istrinya membereskan meja. "Aku senang Fang berubah."
"Dia jadi lebih manja. Apa ayah tak apa dengan itu?" sambung Kaizo sambil menggigit potongan rotinya yang terakhir.
"Ini lebih baik dari pada saat Fang tak mau berbicara sama sekali dahulu. Kau ingat ketika ia mendapat penghargaan siswa terbaik, tapi justru Fang hanya diam saja tak menunjukkan kebanggaan. Namun saat ia mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik dalam tim basketnya dia bisa mengoceh dan memeluk pialanya seharian penuh."
Kaizo mengangkat alis. Di balik senyumnya Kapten muda itu mengakui bahwa ia menyukai Fang yang kini tak malu-malu memeluk pinggang abang atau ayahnya.
Sepertinya Fang merasa—sejak ayahnya mengijinkan dirinya tak melanjutkan pendidikannya di kemiliteran, ia bisa mencurahkan perasaan lebih jujur pada keluarganya. Ia merasa semua hal bisa ia bicarakan tanpa beban lagi.
Kaizo dan Hao pamit pada Elly sebelum berangkat. Deru mobil yang kemudian semakin menjauh membawa suasana rumah menjadi sepi kembali. Tapi tak lama Fang menuruni tangga dengan kaos hitam dan celana jeans. Kepalanya celingukan mencari-cari sesuatu. Lust dan Wrath turut penasaran dibuatnya.
"Cari apa, Fang?" tanya Elly.
"Jaketku yang berwarna putih keabuan dan ber-hoodie itu. Kaya'nya kemarin kutaruh di sofa sini dan lupa kubawa ke atas… Mana, ya?"
Fang langsung berhenti mencari begitu menyadari kebiasaan salah satu Husky-nya yang pemalas.
Sloth mendengkur di atas bantalnya—dengan jaket yang Fang cari sebagai alas bantal.
"Sloooth—Aduuuh!"
Perlahan Fang mengambil jaketnya meski mendapat lolongan protes dari Sloth. Elizabeth tertawa melihat anjing bongsor pemalas itu menggigit ujung jaket Fang dan menariknya. Fang berjuang keras mengenakan jaket kesayangannya sambil menghiraukan salah satu Husky yang terlalu menyukai jaket tersebut.
"Sepertinya ia suka sekali dengan bahan jaketmu itu. Entah sudah berapa kali Sloth terus mencari-cari jaket itu sebagai alas tidurnya."
"Uuh—tapi ini jaket kesayangankuuu—"
Sebelum terjadi tarik menarik kembali, Fang bergegas membawa Pride dan Envy ke pintu depan. Sloth justru mengejar—menginginkan alas tidurnya kembali.
"Aaah! Aku menyerah! Baiklah, Sloth. Kau ikut. Kita akan mencari selimut atau kain yang kau suka. Tapi kau tak boleh menggunakan jaketku sebagai alas tidur lagi!"
Beruntung kali ini bulu anjing yang menempel di jaket Fang tak terlalu banyak. Saat musim bulu rontok, orang-orang bisa mengira Fang mengenakan jaket bulu.
Sloth sendiri nampak senang mendengar keputusan Fang mengajaknya. Ia sudah lama menginginkan alas tidur yang berbahan nyaman—seperti jaket Fang.
"Uuuk— Uuuk— Uuuk— Uuuk— Uuuk—"
Greed terus memeking manja sambil mengais-ngais kaki Fang. Cowok itu tahu jelas, yang paling suka dan bahagia jika diajak ke Petshop adalah Greed. Husky berselera tinggi itu paling suka dengan shopping dan mengendus barang-barang kualitas tinggi.
Tapi saat ini yang paling darurat adalah Envy. Fang mematuhi pesan ayahnya untuk membawa Pride karena ia paham bahwa sang ayah ingin ada yang menjaga dirinya. Sementara Envy bukan anjing penjaga yang baik dibanding Pride, Greed, atau Wrath.
"Aduuuh—Sudah ada Pride, Envy, dan Sloth… Masa kamu juga mau ikut, Greed?"
Fang berlutut dan menggaruk-raguk leher salah satu Husky-nya yang nomor dua. "Maaf, ya—Kamu di rumah saja, yah…"
Tapi semakin mendengar lengkingan kecewa serta melihat daun telinga yang turun membuat Fang tak tega pada Greed. "Hhh—Baiklah…"
Greed langsung menyalak girang dan mengibaskan ekor sambil mengelilingi Fang penuh semangat. Akhirnya remaja berkacamata tersebut memasangkan tali pada kalung masing-masing Husky yang ia ajak dan berjalan menuju pagar.
Seekor Husky lain tengah menghadang di depan pintu pagar—menjulurkan lidahnya dengan bahagia serta menatap Fang penuh binar di mata serta ekornya mengibas kencang.
Fang semakin membisu melihat Gluttony bersemangat tinggi—turut meminta dirinya diajak ke Petshop karena ia sadar Fang akan membeli makanan anjing di sana.
"IBUUUUUUUU—! TOLONG AKUUUU—!"
"Ahahahahah—!" Elizabeth tertawa lepas mendengar teriakan frustasi anaknya. Tapi ia hanya berdiri di pintu depan melihat bagaimana Fang begitu kebingungan menghadapi salah satu Husky-nya yang kelewat ceria.
"Aduuuh—Gluuu! Aku tak bisa mengajak kalian semuaaa! Nanti siapa yang menjaga rumah!? Lagi pula kalian tak bisa semuanya masuk ke dalam Petshop' kan?"
Tentu saja Gluttony tak peduli. Bahkan sangat diragukan dia memahami kesulitan sang majikan. Di kepala Husky rakus tersebut hanyalah makanan, makanan, makanan, bermain, dan makanan.
Dengan bahagianya Glu menggigit tali yang biasa Fang gunakan untuk mengajak anjingnya jalan-jalan.
"Ibuuuu—Bagaimana iniiii—?"
Rengekan Fang disambut tawa sang bunda yang kemudian berjalan mendekat anaknya. "Ya, sudah. Ajak saja mereka. Toh ada Lust di sini' kan?"
"Hhh—Baiklah…"
Elly hanya diam di depan pintu pagar—memerhatikan anaknya berjalan bersama keenam Husky bongsor yang mengelilinginya dengan patuh. Sang Nyonya melirik tanpa menghapus senyuman pada Lust yang duduk tepat di samping dirinya berdiri.
"Lust, pergilah. Pasti akan menyenangkan di Petshop nanti."
"Guk!" Gonggongan riang menjadi salam pamitan Husky sulung tersebut pada Elly. Wanita itu hanya melebarkan senyuman melihat Lust berlari mengikuti di belakang diam-diam. Setelah Fang dan para Husky-nya menghilang dari belokan jalan, sang Nyonya mengunci pintu pagar dan kembali masuk ke dalam rumah sambil bersenandung.
Dengan seksama Fang memerhatikan peta elektronik pada smartphone yang menunjukkan area di mana ia berjalan. Begitu titik yang menunjukkan keberadaan dirinya berada bergerak menuju titik lain yang menunjukkan tujuan Fang, Glu langsung menggonggong semangat.
"Ah, ini dia Petshop-nya! Wow! Besar juga!"
Tiba-tiba smartphone yang tadinya menampakkan peta di layar, berubah menjadi layar nada panggil dengan irama yang membuat Fang menyadari—ibunya menelepon. "Ya, bu? Ada apa?"
"Fang. Ibu titip Lust, yah!"
Nada ceria sang ibunda sama sekali tak membuat Fang ikut merasakan keceriaan. Ia langsung menyadari sedari tadi ada Husky yang lain berjalan di belakang. Lust dengan santainya mendekati Fang dan menggosokkan tubuh bongsornya manja pada tubuh Fang.
"IBUUUUUUUUUUUUUUU—!"
KLING!
Bel berbunyi begitu pintu terbuka membuat seorang gadis berambut pendek dan berkulit gelap yang mengenakan seragam Pethsop bergegas menyambut pelanggan yang baru datang.
"Selamat datang! Wow—! Banyak sekali tamu hari ini!"
Senyuman lebar gadis yang seusia dengan Fang tersebut terkagum-kagum melihat tujuh Husky bongsor.
Sayang majikan mereka justru berjalan gontai memasuki toko.
"Maaf—Ng, apa di sini ada salon untuk anjing? Aku cek di internet katanya tersedia. Salah satu Husky-ku ingin kudaftarkan perawatan. Yang lainnya akan kuikat di luar saja—"
Tak diduga gadis pegawai Petshop itu justru berkacak pinggang dan menegur Fang. "Hei! Para anjing ini juga pelanggan kami! Bawalah mereka masuk! Ayo, ikuti aku! Ada tempat khusus agar mereka bisa bersantai, kok!"
Dengan ceria, gadis tersebut melangkah dan memimpin para Husky menuju tempat khusus penitipan. Fang lega para Husky-nya diijinkan masuk dan mendapat perlakuan ramah serta ceria gadis yang kini mengajaknya memasuki toko.
Tapi tak lama ia kembali kerepotan karena ketujuh Husky tersebut begitu penasaran pada tempat baru dan mengendus tiap sudutnya sehingga Fang terpaksa ditarik ke sana kemari.
"Eh! Hei! Aduh! Jangan keluyuran!"
Melihat betapa kerepotannya Fang ditarik ke sana kemari oleh tujuh ekor Husky raksasa mengundang gadis penjaga toko terpingkal-pingkal. "Hahahahahah! Mereka anjing yang bersemangat tinggi! Kecuali yang berbaring itu, tentu saja—!"
Gadis pegawai toko tersebut nampak begitu senang melihat Sloth yang langsung nyaman di dalam Petshop.
"Oh ya. Namaku Nana! Aku anak dari pemilik Petshop ini! Nah, kau bisa langsung menuju salon hewan di pintu kaca dekat penitipan hewan peliharaan di sana. Kalau butuh bantuan, panggil saja aku!"
Sepeninggal Nana menjawab panggilan pelanggan lain yang membutuhkan bantuannya, Fang menghela napas panjang sambil menarik tali-tali anjingnya agar kembali mengikutinya. Namun tiba-tiba Lust menegakkan tubuhnya. Ia mengendus-endus dan memeking pada Fang, memaksa agar majikannya itu mengikutinya.
"Guk! Uuk—Uuk—!"
"Ada apa, Lust? Kau ingin ke mana?" Terpaksa Fang menarik para Husky yang lain mengikuti Lust. Tapi tak lama Gluttony turut berjalan cepat mengikuti ke mana abangnya itu mengajak mereka.
Begitu melewati beberapa rak peralatan makan dan perawatan hewan peliharaan, Fang langsung paham ke mana Lust mengajaknya.
Gadis idaman sang remaja lelaki berkacamata nampak sedang melihat-lihat di sebuah sisi rak mainan bersama para kucingnya yang manis.
Boboiboy yang sedang melihat-lihat mainan anak kucing terkejut tiba-tiba didekati beberapa Husky yang ia kenal. Para kucing yang mengelilingi kaki gadis majikan mereka mengeong dan menyambut para Husky.
"Fang! Ini kejutan! Wow—Kalian semua juga ikut rupanya!"
Sungguh senyuman dan tawa malaikat yang dilihat Fang membuat rasa letihnya hilang seketika. Boboiboy langsung berlutut dan mengelus ketujuh Husky gagah yang mengelilinginya.
.
Taufan dan Gempa bergegas mendekati Greed dan Pride.
"Hai, Greed! Apa Fang mau belanja untukmu juga?"
"Yup! Makanan kamu sudah mau habis—berkat Glu, tentu saja."
Sindiran usil dari Greed justru dikira sebuah pujian oleh Gluttony.
"Terima kasih!" Ujar Glu bangga membuat para kucing terkekeh geli.
"Selamat pagi, Pride. Senang melihatmu di sini."
Pride tersenyum membalas sapaan kucing yang tak disangkanya menjadi akrab dengannya itu. Sama seperti sebelumnya, Thorn muncul malu-malu dari balik punggung Gempa. "Selamat pagi, Papa Pride."
Meski masih merasa aneh ada seekor anak kucing memanggilnya 'papa', Pride hanya tersenyum membalas sapaan Thorn kecil. Gempa sendiri masih merasa tak enak mendengar Thorn memanggil Pride demikian. Husky tersebut kembali memasang senyum—menunjukkan bahwa ia tak keberatan.
Blaze muncul dari balik tumpukan mainan dalam rak. Ia mengeong memanggil Gluttony. "Gluuu—! Gluuu—! Kau datang!"
Glu langsung sigap berdiri sambil menangkap kucing mungil yang melompat tiba-tiba dari rak—dengan punggungnya.
"Hai, Blaze! Kau sedang mencari mainan?"
"Ya! Boboiboy membawa kami semua kemari untuk berbelanja makanan dan mainan! Lihat ini! Bantal ini bisa berbunyi seperti punyamu!"
Blaze menggigiti sebuah bantal yang ikut terjatuh saat ia melompat tadi dan memberikannya pada Gluttony.
Boboiboy tertawa melihat kucing kecilnya begitu ingin memamerkan mainan yang ia pilih pada Glu. Ia bergegas mengangkat Blaze sebelum mainan yang dipilihnya habis digigit.
"Blaze, kita belum bayar ini. Nanti kalau sudah bayar kau boleh memainkannya, oke?"
Blaze mengeong riang menyetujui. Solar ikut memilih mainan dan memberikannya pada Boboiboy.
Fang tertawa-tawa gemas melihat para kucing yang begitu menurut pada majikan kesayangan mereka. Meski Blaze lebih nampak bandel dan kadang tak menurut. Bahkan sekarang ia kembali mencari-cari mainan lain untuk digigiti.
"Aduh, Blaaaze…!"
Fang menyadari ada seekor kucing yang tertidur pulas di antara bantal mainan dalam keranjang etalase toko. Ia langsung mengetahui siapa kucing itu ketika Sloth mengendus-endusnya.
Ice membuka matanya dan menemukan moncong besar yang sangat ia kenal. Si kucing mungil merenggangkan tubuh dan menguap lebar menyapa Sloth dengan menaiki moncong Husky pemalas tersebut.
"Ah, ngomong-ngomong… Kau tak sekolah, Boboiboy? Hari ini' kan bukan hari Minggu."
"Hari ini sekolah pulang lebih awal karena ada rapat besar para guru serta kunjungan dari universitas. Sekolahku termasuk sekolah lanjutan. Jadi tiap semester selalu ada evaluasi dari universitas juga."
Fang kagum mendengarnya. Ia dahulu tak pernah membayangkan akan membahas hal-hal seperti demikian. Karena masa depannya sudah pasti akan terus berjalan sebagai prajurit dan berjuang meraih jabatan yang lebih tinggi lagi.
Tapi kali ini—Universitas—sebuah tempat di mana Fang merasa ia harus mencari jati diri yang baru memilih jurusan yang ia inginkan.
"Oh iya! Aku sudah membaca buku panduan dan formulir yang kau bawakan! Terima kasih banyak, ya! Aku ingin sekali bisa segera bersekolah!"
Fang dan Boboiboy menikmati obrolan mereka. Sama halnya dengan para Husky dan kucing. Namun tidak bagi Wrath. Ia hanya duduk agak menjauh sambil menggerutu. Tanpa disadari Husky tersebut, Thorn mendapati Wrath agak jaga jarak dari para kucing.
Kucing polos mungil itu mengira bahwa Husky penggerutu sahabatnya malu-malu untuk berbaur. Maka Thorn mendekati anjing besar yang kini mengrenyitkan alis canggung mendapati kucing mungil belang coklat itu mendekati dan menatapnya dengan mata bundar besar hijau.
.
"Hai, Wrath. Ayo, main dengan Thorn."
"A-apa!? Aku tak mau! Aku di sini saja!"
"Apa kau suka bermain bola berisi lonceng ini?"
Wrath semakin menggerutu melihat Thorn yang dengan susah payah menggigit mainan pilihannya—membawakannya pada Wrath.
"Huh—Kubilang aku tak mau!"
"Aduh—bola karet ini keras sekali…" keluh Thorn tanpa peduli protes dari Wrath.
Merasa bahwa protes dari dirinya tak dipedulikan membuat Wrath kesal. Tapi ia hanya diam sambil membuang muka.
"Aku carikan mainan yang lain, yah!" Thorn melompat-lompat menuju tumpukan mainan kucing. Ia bingung memilih mainan apa yang cocok untuk sahabat besarnya tanpa bisa membedakan mainan kucing dan anjing. Bagi Thorn semua mainan sama saja.
"Uum—yang ini terlalu kecil. Yang itu—hmm aku tak suka warnanya. Ah—kalau ini… nggg—"
Wrath menghela napas kasar dan mendekati Thorn. "Hei, ini semua mainan kucing. Aku ini anjing. Bahan karetnya berbeda. Bisa-bisa sekali gigit langsung terkoyak habis, tahu?"
"Oh, begitukah? Kalau begitu Wrath suka mainan yang seperti apa?"
Meongan mungil Thorn membuat Husky tukang ngomel tersebut celingukan mencari mainan berbahan karet kuat dan berbentuk tulang. Ia mengambil dan menaruhnya di depan Thorn. Kucing kecil tersebut mengendus-endus mainan yang ukurannya nyaris sama dengan tubuhnya.
"Wow—ini besar sekali! Tapi susah kugigit, terlalu keras."
"Heh—tentu saja. Kau masih terlalu kecil. Nah, ini yang pas untuk gigimu dan sesuai dengan umurmu."
Thorn senang sekali ketika Wrath memilihkan mainan untuknya. Tepat seperti apa yang dikatakan Husky sahabatnya itu, mainan pilihan Wrath memang begitu pas ukuran dan bahannya untuk kucing kecil seperti Thorn. Terlebih lagi warna mainan karet berbentuk ikan dengan gemerincing di dalamnya itu berwarna hijau, sama dengan bola mata kucing kecil yang mengeluskan tubuhnya di kaki Wrath.
"Terima kasih! Aku suka sekali yang ini!"
Tak disadari dua sahabat tersebut, Pride dan Gempa tengah memerhatikan keduanya. Gempa tak hentinya tersenyum. Pride ingin sekali menggoda adiknya itu tapi ia tak mau merusak suasana yang manis di antara Wrath dan Thorn.
"Adikmu berani sekali mendekati Wrath. Jujur saja, kadang kami bahkan susah untuk mengubah suasana hatinya. Ia punya sifat mudah sekali emosi."
Pujian Pride mengundang kekeh tawa Gempa. "Thorn terlalu polos. Terkadang ia tak tahu apa yang sedang ia lakukan atau hadapi. Memang itu selalu membuatku khawatir. Tapi kali ini, aku lega melihatnya bersama adikmu."
Di antara para kucing dan anjing yang bercengkerama satu sama lain, hanya Lust yang menyadari bahwa kucing hitam yang ia nantikan tak ada di situ. Lust tahu ia tak boleh memotong obrolan Fang dan Boboiboy, tapi kini ia tak sabar.
.
"Uuuk—"
Fang dan Bobooiboy menyadari Lust meminta perhatian mereka.
Fang langsung berlutut mengalihkan perhatiannya pada Husky sulungnya itu, "Ada apa, Lust? Kenapa kau tak bermain dengan Hal—eh? Mana Hali?"
"Oh, Hali sedang di salon. Tadi semua kucingku kubawa ke salon. Dan sekarang giliran Hali."
Fang langsung teringat salah satu tujuannya ke tempat itu. "Astaga—aku sampai lupa bahwa Envy juga harus perawatan!"
Siulan Fang memanggil salah satu Husky-nya yang sedang bermain-main dengan Solar menegakkan kepala dan telinganya. Ia bergegas mematuhi panggilan majikannya diikuti Solar yang berlari riang mengikuti Envy.
"Maaf, Boboiboy. Aku jadi mengganggumu berbelanja."
"Hihihi, aku justru senang bertemu denganmu bersama para Husky di sini."
Rasanya pagi hari itu berubah menjadi musim semi indah dengan malaikat yang berdiri di hadapan Fang. Penuh perjuangan keras sang pemuda berkacamata menahan diri untuk tidak menunjukkan kebahagiaannya terlalu jauh.
Envy melengking tak sabar—menyadarkan Fang untuk mengantarnya ke salon.
"Ah—eh, oh. Ba—baiklah! Aku antar dia dulu!"
"Ayo, kutemani! Biar kutunjukkan salonnya padamu!"
Meski sebenarnya Fang sudah tahu di mana pintu salon hewan dalam toko itu berada sejak dibantu Nana tadi, ia sama sekali tak menolak tawaran membahagiakan yang datang dari gadis taksirannya itu.
.
.
.
tbc
.
.
.
Hai! Salam buat para pembaca lama dan baru ^^ Selamat menikmati cerita para kucing dan anjing serta kisah cinta majikan mereka xD
Akhirnya sempat update Mohon maaf kalau fanfic lain belum bisa saya update karena jadwal dan tenaga akhir-akhir ini terkuras :'(
Tanggal 1 April 2017 hari Sabtu kemarin ada meet up atau gathering fans Boboiboy domisili Jakarta di Mall Pondok Indah. Nggak disangka teman-teman ramai dan seru sekali xD Semoga lain kali kita bisa meet up juga dan bisa saling kenal face to face yah ^^
Oke! Kali ini ada sedikit mini info mengenai hewan peliharaan hasil dari pertanyaan Whz Jj di chapter lalu ^^
Apakah anjing dan kucing perlu dimandikan?
Untuk kucing, tidak perlu terlalu sering.
Karena mereka memiliki kebiasaan dan kemampuan self grooming. Atau biasa membersihkan diri sendiri. Sering lihat kucing jilat-jilat tubuhnya' kan? Nah itu dia lagi grooming.
Pernah nggak jari kalian dijilat kucing? Terasa kasar' kan? Di permukaan lidah kucing itu ada seperti gerigi yang berguna untuk menyisir bulu-bulu mereka. Nah ini ada hubungannya dengan pembahasan hair ball atau 'bola bulu' di beberapa chapter sebelumnya.
Tapi ketika kalian memelihara kucing ras tertentu, atau misalnya kucing kalian jatuh ke lumpur, kena kotoran, dan sebagainya... sampai kalian berpikir kucing kalian butuh mandi. Mandikan saja, itu tak apa-apa ^^ Tapi tak perlu sering-sering.
Nah, untuk anjing. Perlu, tapi juga tidak sampai sehari sekali. Seminggu sekali untuk grooming saja cukup.
Anjing bukan tipe hewan yang bisa membersihkan diri sendiri dengan lidah mereka atau disebut self grooming seperti kucing, dan anjing juga memiliki banyak bakteri di liurnya, maka disarankan untuk dimandikan.
Anjing sendiri adalah hewan 'lapangan' yang berarti banyak aktifitas dan membutuhkan lingkungan yang luas untuk bergerak maka tubuhnya pasti cepat kotor.
Terutama lagi anjing ras dan anjing yang memiliki bulu tebal. Bisa dibilang mereka sangat butuh dimandikan dan disisir bulunya agar tidak kusut. Bahkan anjing dan kucing punya sampo khusus dan conditioner untuk bulu mereka loh ^^
Apakah berbeda dengan sampo untuk manusia? Tentu saja. Karena jenis kulit kepala dan rambut manusia berbeda dengan hewan, terkadang bisa jadi infeksi untuk hewan. Tapi kalau untuk jenis kucing atau anjing kampung sepertinya tak apa kalau mau kalian mandikan pakai sampo biasa xD
.
.
.
Saatnya membalas review! ^^7
Hoodie Toothless—Sama-sama ^^ Aaamiiin. Terima kasih banyak doanya yah ^^
Thornyleaf24—Terima kasih banyaaak ;;_;; Aku sampe terharu waktu dipanggil ke depan dan diwawancara ;;_;; Feels like a dream.
Aku bukan dari jurusan animasi, tapi memang suka dengan dunia animasi dan teman-temanku banyak yang berkecimpung di dunia animasi juga ^^
Iyup! Aku kasih nama dia Roti, soalnya kalo lagi berbaring badannya kaya roti xD Terima kasih banyak yah ^^ Alhamdulillah udah ga sedih lagi ^^
nevyandini—Thornie memang paling polooosh xD Dia ga tau kalo Wrath lagi marah-marah wkwk xD Abang Kaizo sayang sama dedeknyaaaa xD Thank you yaaaah! ^^7
Everyll Princess—Thank you very muuuuch! ^^
Silver Celestia—Aduh… ;;_;; sedih banget ;;A;; Semoga para kucingnya ada di tempat yang lebih baik sekarang ;;A;; Aku ngerti perasaanmu. Keluargaku juga nggak ada yang suka kucing kecuali aku. Jadinya kalau ada kucing dikasarin berasa cuma aku aja yang gerak ;;_;;
Razen Kukang Unyu—Astaga… Aku lega banget baca cerita darimuuu! Thank God para kucingnya sehaaat! Ah iya, aku pernah baca juga kalau air kelapa itu bisa mencegah dehidrasi. Untung kamu gerak cepat xD Salut banget kamu udah berjuang keras demi para pus ;;w;;
Mizura Rani 1—Mau gambar para sins? Tentu saja boleh! xD Don't forget to credit me as well ^^7
