Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


In the Petshop - part 1

.

.

.

Halilintar menikmati bulu-bulunya disisir lembut sembari dipijat tubuhnya. Semua rasa lelah sang kucing hitam yang anggun itu hilang seketika.

Boboiboy memang rajin membawa para kucingnya untuk perawatan salon seminggu sekali. Dan Solar adalah salah satu kucing yang paling doyan mendapatkan perlakuan istimewa ketika perawatan. Kucing mungil bungsu itu paling suka diberi perhatian. Dan ia sangat penurut selama dimandikan.

Berbeda dengan Blaze yang sangat membenci air di tubuhnya. Ia akan mengeong tak nyaman dan meronta hingga terkadang kabur. Terpaksa tubuhnya diikat agar tak melompat ke sana kemari. Atau Thorn yang mudah sekali teralihkan perhatiannya untuk bermain-main sehingga terkadang susah untuk membuatnya diam saat sedang dirapikan bulu-bulunya.

.

"Ooh—ini sangat nikmat…"

Suara dentingan bel menandakan ada pelanggan lain yang masuk ke salon. Diiringi seruan riang seekor kucing yang sangat manja pada Hali.

"Haaaliii—Mama Haaaliiii—!"

Halilintar memutar matanya sambil bangkit dari pembaringannya setelah usai mendapat perawatan. Boboiboy menggendong si kecil jingga dan menempatkannya di meja tempat Hali dipijat.

"Blaze—sudah kubilang berapa kali jangan memanggilku begitu."

"Uuum—Aku suka memanggilmu 'Mama Hali'—!"

Blaze mengeluskan tubuhnya di bawah leher Halilintar dengan manja. Merasa tak bisa membujuk si kecil, Hali hanya menghela napas dan menjilati kepala adik asuhannya.

.

Boboiboy berterima kasih pada pegawai salon yang telah merawat Halilintar sebelum pegawai itu meninggalkan tempatnya sembari membereskan segala perangkat perawatan kucing.

"Hali, coba lihat siapa yang datang."

Kucing hitam yang memiringkan kepalanya langsung mengenali telinga lancip tegak yang muncul dari balik meja.

.

"Hai, Hali!"

"Lust? Sedang apa kau di sini? Apa kau juga ke salon?" Ujar Halilintar tak percaya. Ia mengira anjing mantan militer itu tipe yang tak peduli dengan segala urusan merawat tubuh.

"Hahahah—! Bukan untukku, tapi untuk adikku yang paling bungsu."

Hali langsung menyadari keberadaan para Husky yang lain di belakang Boboiboy. Dan Fang sedang mendaftarkan Envy di meja depan salon.

.

"Hmmm—setelah kupikir-pikir mungkin lebih baik sekalian saja semua Husky ini diberi perawatan. Mereka belum mandi sejak aku pindah kemari."

Envy menyalak senang mendengar bahwa ia akan segera diberikan perawatan. Greed tak protes, kenyataannya ia juga suka mendapatkan perlakuan spesial ketika bulunya dirapikan. Begitu pula dengan Pride dan Sloth. Wrath mendengus tak peduli. Ia hanya menurut apa yang Fang minta meski ia sering menggeram tak nyaman ketika dimandikan oleh orang lain. Setidaknya Pride selalu menemani dan mengingatkan adiknya yang penggerutu itu sehingga Wrath tak membuat orang lain takut.

Gluttony? Dia yang paling susah dimandikan. Kali ini saja ia sudah menghilang ke bagian makanan anjing. Fang sampai harus memberinya makan dulu agar ia mau menurut.

.

"Eh? Apa ini artinya kita semua akan dimandikan? Hmm—sayang sekali. Aku masih ingin mengobrol denganmu, Hali."

Halilintar hanya tersenyum kecil. "Tak apa, masih ada lain waktu. Nikmati saja perawatan di sini, Lust."

Blaze tiba-tiba mendesis, "Kau tak akan mengganggu Hali' kan!? Aku tak akan memaafkanmu kalau kau mengganggu Mama Hali! Fffsshht!"

"Blaze, kau tak boleh begitu. Lust hanya menyapaku."

Lust terkekeh melihat Hali yang membujuk adik asuhannya. Blaze si kecil mungil yang garang kalau ada yang menyakiti Hali miliknya.


Suara dentingan bel kembali terdengar dan Nana masuk menyapa dua remaja yang membawa para hewan peliharaan mereka.

"Hai! Bagaimana perawatannya?"

Boboiboy tersenyum sambil menggendong Hali. "Hai, Nana! Terima kasih! Hali terlihat rileks sekali tadi. Oh, iya. Fang, kenalkan. Ini teman sekelasku, Nana. Nana, ini Fang. Tetangga baruku. Dia akan mendaftar di sekolah kita nanti."

Mata bundar penuh energi gadis berkulit matang itu membulat. "Wow! Ternyata kalian saling kenal!? Dan kau akan menjadi teman baru kami di sekolah!? Aku akan menunggu itu! Salam kenal, bung!"

Sambutan berenergi dari gadis tomboy itu membuat Fang tertawa canggung. Terutama ketika Nana menjabat tangan Fang dengan bertenaga.

Tiba-tiba Nana merangkul akrab Boboiboy dan membisikinya sesuatu.

"Hei—dia tampan juga! Apa dia sudah menyatakan cintanya padamu?"

Yang dibisiki langsung merona hebat. "Bi—bicara apa kau? Kami ha-hanya—!"

"Oh, ayolah, Boboiboy! Kalian cocok! Kau tahu itu!"

Fang terheran apa yang dibisiki kedua gadis di hadapannya. Tapi melihat wajah Boboiboy yang merona ia sedikit menebak-nebak bahwa dirinya menjadi topik para gadis tersebut. Tapi tentu saja Fang berusaha tahu diri untuk tidak terlalu ge-er.

Nana tertawa-tawa, "Hahahah! Baiklah! Fang, semoga para anjingmu yang gagah ini menikmati perawatan di sini! Aku akan membantu pengiriman makanan anjing di luar dulu!"

Sepeninggal gadis tomboy teman Boboiboy, Fang disapa oleh pegawai salon yang kemudian membawa para Husky ke dalam masing-masing ruang perawatan yang dipisah oleh sekat kaca yang tebal.

"Eh—Umm. A-aku pamit dulu kalau begitu—"

"Oh, iya. Terima kasih sudah menemaniku, Boboiboy."

Tapi langkah Boboiboy terhenti karena para kucing kecil terus mengeong mengikuti para Husky pergi ke ruang perawatan masing-masing.

"Hei—Blaze, Ice, Thorn, Solar… Ayo, kita harus pulang. Para Husky ini mau dimandikan dulu."

Tapi keempat kucing mungil itu tak menggubris. Mereka kerap mengeong tak ingin meninggalkan para Husky sahabat mereka masing-masing.

"Ooh—Ayolah. Kalian tak bisa mengganggu mereka seharian."

Fang tersenyum gemas melihat Boboiboy yang kewalahan berusaha memasukkan para kucing mungil ke dalam keranjang khusus.

Halilintar, Taufan, dan Gempa turut membantu majikan mereka tapi sia-sia. Para kucing kecil terlalu keras kepala tak ingin meninggalkan sahabat mereka.

Suara riuh meongan mungil membuat para pegawai salon tertawa. Ini pertama kalinya ada anak-anak kucing yang sangat tak ingin meninggalkan Husky besar yang telah menjadi teman mereka.

Boboiboy menyerah. Ia tak tahu harus bagaimana.

"Ahahah—Bagaimana kalau kita menunggu mereka di luar saja? Apa kau sibuk?"

Tawaran Fang mengundang senyuman di wajah Boboiboy serta gelengan kecil.

"Aku sama sekali tak sibuk. Yah—mungkin aku bisa membiarkan mereka bersama para Huskymu dulu. Ada café di sebelah Petshop. Kau mau ke sana?"

"Dengan senang hati!"

Fang dan Boboiboy menitipkan para peliharaan mereka di salon tersebut sebelum berpamitan untuk keluar.

Tanpa disadari keduanya, masing-masing merasa begitu senang mendapat kesempatan untuk bisa lebih lama lagi bersama-sama di pagi hari itu.

.

Halilintar memiringkan sedikit kepalanya. Gempa dan Taufan tersenyum dengan manis dari balik pintu kaca salon melihat kedua remaja yang berjalan menuju pintu keluar Petshop.

"Oh, kau lihat senyuman Boboiboy tadi?"

"Hihihi! Lihatlah—pemandangan ini akan menjadi lebih manis jika mereka bergandengan tangan."

Ketiga kucing betina tak ingin majikan mereka terganggu dengan keberadaan ketiganya selama bersama Fang. Gempa memutuskan untuk mengunjungi Pride yang kini sedang dibersihkan bulunya di bawah shower. Begitu pula dengan Taufan dan Hali.

Pride dengan tenang membiarkan pegawai salon menggosok seluruh tubuhnya dengan shampo anjing dan dibilas hingga bersih. Pengering rambut yang mendengung tak membuat anjing itu terganggu—terlebih lagi tiba-tiba Gempa melompat ke atas meja dan duduk dengan tenang menemaninya.

"Hai, Pride. Semoga aku tak mengganggumu."

"Hai—tidak. Tidak sama sekali. Aku justru senang ada yang mengajakku mengobrol."

Pegawai salon yang merawat Pride terkagum melihat Gempa yang sangat tenang bagai berbincang dengan Husky yang berukuran lebih besar darinya itu.

"Wow—Aku lega Fang memutuskan untuk memberikan kami semua perawatan."

Gempa terkekeh melihat sisir khusus yang digunakan pegawai salon untuk menyisir semua bulu Pride hingga banyak yang menempel dan menjadi tumpukan bulu.

Sama hal-nya dengan para Husky yang lain, mereka mendapat teman kucing masing-masing untuk berbincang. Gluttony yang biasanya selalu meronta dan bawel, kini ia mengobrol dengan santai bersama Blaze yang bermain-main di keranjang dekat meja perawatan anjing.

Bahkan Blaze memain-mainkan kabel pengering bulu membuat pegawai salon turut terhibur dengan keberadaan si kucing mungil.

Dan tak disangka—Wrath juga menikmati obrolan yang selalu diawali oleh Thorn.

"Apa aku juga bisa menggunakan shampo anjing?"

"Tak boleh! Kau'kan kucing! Pakai shampo kucing saja! Toh hasilnya sama saja!"

"Tapi kelihatannya shampo anjing lebih banyak busanya. Aku ingin sekali main busa lagi."

"Hei, ini karena buluku lebih banyak darimu."

"Begitukah? Aku ingin punya bulu yang tebal juga."

Sementara itu—Sloth yang terkantuk-kantuk mendapat pijatan setelah mandi, sama sekali enggan melepas pelukannya dari Ice. Si kucing mungil penidur juga sudah menikmati empuknya bulu Sloth yang baru dikeringkan tadi. Bahkan pegawai salon yang memijat Sloth tak tega memindahkan kucing mungil ke keranjang khusus di sampingnya. Ia hanya tersenyum gemas pada pasangan pemalas tersebut.

Halilintar menarik napas dan melompat menuju meja perawatan yang kosong. Ia menjilat-jilat cakarnya sampai mendengar panggilan dari ruang kaca di sebelahnya.

"Pssst—Hei, Hali! Kemarilah!"

Halilintar agak ragu memenuhi panggilan Lust yang sedang dibasuh dengan handuk dan dikeringkan bulu-bulunya setelah mandi. Tapi kemudian ia melompat turun dan berjalan menuju ruang perawatan Lust. Pegawai yang sedang menyikati bulu-bulu Husky tersebut membiarkan Hali melompat dan duduk di samping Lust.

"Ada apa?"

"Tak ada apa-apa~ Temani saja aku mengobrol di sini."

Cengiran lebar Husky penggoda tersebut hanya membuat Hali memutar mata sambil mendesah. Tapi ada senyuman kecil di mulutnya.

Pegawai salon nyaris tak percaya melihat Halilintar duduk dengan anggun dan tenang di atas sebuah handuk kering, menunggu Lust yang sedang disikat bulu-bulunya. Kucing hitam milik Boboiboy itu salah satu kucing yang tak pernah suka bersosialisasi dengan hewan lain di salon. Hali akan terus mengikuti ke mana Boboiboy pergi. Berbeda dengan Gempa dan Taufan yang sering menyapa hewan peliharaan yang sedang berkunjung ke Petshop langganan.

Halilintar melipat kedua kaki depannya yang berbulu lembut dengan anggun. "Terima kasih, kemarin saudari-saudariku senang sekali bisa bertamu di rumahmu. Dan Boboiboy terlihat senang sekali bisa makan bersama Fang."

"Oooh—Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padamu dan Boboiboy! Berkat gadis itu Fang lebih banyak tersenyum!"

.

Beberapa saat kemudian, pegawai salon mengusap kepala Lust dengan ramah memberi tahu bahwa ia telah menyelesaikan pekerjaannya. Nana yang baru memasuki pintu salon langsung mendapati Lust yang berdiri menjulurkan lidahnya sembari mengibaskan ekor dengan senang.

"Woahahah! Kau gagah sekali! Apa kau mau beristirahat di sini? Atau menyusul majikanmu? Ia ada di café sebelah bersama Boboiboy."

"Meooong—"

"Oh! Hali! Maaf, aku tak sadar kau bersama Lust. Hmm, kurasa lebih baik aku hubungi majikan kalian dahulu, yah?"

Dengan sabar Halilintar dan Lust duduk menunggu Nana yang sedang menelepon Fang dengan telepon meja kasir. Tentu saja gadis itu mencatat semua nomor pelanggan Petshop agar mudah memberikan informasi mengenai hewan peliharaan mereka yang dititipkan di situ.

.

Suara meong nyaring diikuti lengkingan mendekati kedua kucing dan anjing sulung.

"Mama Haaaliii—!"

Ternyata para adik-adik kucing dan Husky yang lain sudah selesai menjalani perawatan bulu mereka.

Blaze langsung mengeluskan tubuhnya di bawah leher Halilintar dengan manja meminta perhatian pengasuhnya itu. Hali menjilat-jilat sayang kepala Blaze. Sementara Taufan menjaga Solar yang terlalu senang telah mendapatkan perawatan bersama Envy tadi. Kucing lincah kecil itu sangat suka bersolek, dan ia menemukan sahabat baru yang juga menyukai perawatan.

Gempa menjaga Thorn yang tengah berlari-lari berusaha mengejar saudarinya yang lain dari belakang bersama Ice.

"Segar sekaliii—!" Envy yang terlihat paling lega. Ia senang sekali tubuhnya yang telah dimandikan dan seluruh bulunya telah disisir. Terasa ringan dan segar.

"Hei, mana Fang?" Tanya Greed celingukan mengendus mencari-cari aroma majikannya.

"Tadi sepertinya ia bersama Boboiboy keluar Petshop. Kita dititipkan sebentar di sini."

Penjelasan Pride membuat Wrath panik dan nyaris mengejar Fang keluar dari pintu salon kalau Thorn tidak tiba-tiba mengeluskan tubuhnya pada kaki Wrath.

"Mau apa kau!? Grrh—!"

"Hei—Ayo main bersamaku. Boboiboy sedang bermain bersama Fang. Jadi kita bisa main sebentar."

"Tidak! Aku tak bisa meninggalkan Fang sendirian!"

"Kenapa?"

Wrath nyaris kehilangan emosi mendapatkan pertanyaan.

"Karena aku tak bisa meninggalkannya sendirian!"

"Kenapa?"

"Grrrh—! Karena dia tak akan aman kalau sendirian! Aku harus menjaganya!"

"Tapi ada Boboiboy. Mereka akan baik-baik saja."

"Grrrh! Justru karena ia bersama orang asing! Jadinya—!"

"Boboiboy bukan orang asing. Bukankah ia diundang makan siang ke rumahmu kemarin? Mereka' kan teman."

"…—!"

Para Husky dan kucing yang menonton perdebatan Wrath dengan Thorn hanya diam. Sementara Wrath kehabisan alasan.

Kenyataannya anjing Husky penggerutu itu selalu merasa tak aman dan tak nyaman jika tak ada majikannya. Trauma masa lalu yang membuat Wrath begitu takut jika tidak ada di samping Fang selalu membuat anjing itu nampak garang pada siapapun. Berusaha menjauhkan dirinya dari apapun yang ia anggap bahaya. Rasa insecure yang berlebihan membuat Wrath menjadi anjing yang tak ramah pada apapun yang mengelilinginya.

"Wrath… tak suka dengan Boboiboy…?"

Nada sedih Thorn membuat Wrath tergagap takut meyakiti perasaan si kucing kecil. "Bu-bukan! Bukan itu!"

GRUYUUUUUK—!

Para kucing menaikkan bulu mereka terkejut mendengar suara misterius yang bergemuruh tiba-tiba. Sementara para Husky memutar mata mereka dan langsung melirik pada salah satu dari mereka.

"Aku lapar…"

Lust tak heran ketika mendengar keluhan Gluttony. Toh sebentar lagi memang jam makan siang.

"Tenanglah—Nana sedang menelepon Fang untuk menjemput kita." Ujar Lust.

Tak berapa lama, kedua remaja majikan para Husky dan kucing datang dan memberi pelukan serta elusan di tubuh peliharaan mereka.

Para Husky menggoyangkan ekor dengan riang—kecuali satu.

Wrath jelas melihat raut wajah Thorn begitu kecewa. Kedua kupingnya menekuk sedih. Ia mengira Wrath tak percaya dan membenci Boboiboy yang begitu ia sayangi.

Gempa menghela napas memahami situasi di antara dua sahabat tersebut. Kucing itu telah mendengar kisah masing-masing para Husky dari Pride. Dan Husky sulung itu hanya diam membiarkan Wrath yang mengatasi permasalahannya sendiri. Bahkan ia menghentikan Gempa ketika kucing keibuan itu hendak menjelaskan maksud Wrath pada Thorn.

"Biarkan dulu. Wrath terkadang tak bisa mengendalikan sifat pemarahnya dan menjadi kekanakan. Mungkin ini bisa jadi pelajaran. Dan kurasa Thorn juga akan belajar berinteraksi dengan pemikiran yang tak sama dengannya."

Mendengar bisikan Pride, Gempa setuju. Ia hanya melihat dari dekat saja tanpa turun tangan.

Sosok mungil Thorn yang meringkuk di dekat kaki Gempa membuat Wrath semakin merasa bersalah. Gempa sendiri sadar, inilah kali pertama ada perasaan yang bergulat dalam diri Thorn kecil. Perasaan yang baru dikenal si mungil. Perasaan 'kecewa'.

.

"Hei, bagaimana kalau kita makan di café sebelah? Ternyata di sana terbuka untuk hewan peliharaan juga!" ujar Fang.

Glu langsung berputar-putar bahagia. Bahkan Blaze mengikutinya sampai terjatuh karena pusing membuat Boboiboy tertawa.

Nana mengantar para pelanggannya menuju café yang ternyata masih merupakan bagian dari layanan Petshop. Ada banyak pilihan makanan khusus untuk hewan peliharaan. Dan mereka bisa makan bersama majikan mereka dalam ruangan tanpa khawatir udara panas atau hujan.

Fang dan Boboiboy yang baru saja menikmati teh dan kue mereka tadi langsung tertarik mengajak para peliharaan mereka makan bersama di situ.

Tentu saja Gluttony yang paling senang. Ia terus mengibaskan ekornya tanpa peduli disindir Lust.

"Aku jarang sekali makan di sini bersama para kucingku. Biasanya kami langsung pulang. Pertama kali aku bersama para kucing makan di sini terasa agak canggung. Karena Halilintar selalu merasa kurang nyaman jika bukan di rumah. Dan Blaze yang tak bisa diam selalu membuat Hali kerepotan mencarinya."

Fang terkekeh mendengar keusilan Blaze.

Kini para kucing menikmati makanan mereka bersama para Husky mengelilingi Fang dan Boboiboy yang juga memesan makan siang.

Gadis polos yang baru saja menelepon mengabari pada maid di rumahnya jelas langsung mendapatkan ijin. Bahkan para maid yang bersemangat itu berusaha untuk menahan nada suara mereka agar tidak terlalu jelas terdengar bahwa mereka memang merencanakan sesuatu pada nona muda mereka.

Di antara suasana keceriaan makan siang bersama, ada tatapan canggung dari Wrath.

Thorn tak mau makan bersama Husky tersebut. Kucing mungil itu mendempetkan tubuhnya pada sang pengasuh. Gempa menghela napas dan mengijinkan Thorn makan bersama di sisinya.

Kembali Fang merasa bermimpi indah di siang bolong. Terlebih lagi mereka setuju untuk kembali melanjutkan berbelanja seusai makan siang.

Tiap detiknya ia begitu menikmati suara, senyuman, gerakan tangan, tatapan mata, hingga aroma dari Boboiboy.

Senyuman di wajah Fang seakan susah untuk dihilangkan selama ada Boboiboy di sisinya.

.

.

.

tbc


.

.

.

Hai semuanya! Mohon maaf update akhirnya kembali terbengkalai :'( Karena kemarin sempet keluar kota selama seminggu lebih dan ga sempet pamit ataupun buka internet. Bahkan akhir-akhir ini udah mulai nggak sempet gambar ;;_;;

Semoga semuanya sehat-sehat dan semangat selalu ^^7

Oh, iya. Di sini muncul karakter baru yaitu 'Nana'. Kalau kalian lupa siapa dia, bisa coba nonton lagi Boboiboy season 2. Ada salah satu teman sekelas Boboiboy. Anak perempuan berambut hitam pendek dan berkulit coklat gelap. Nah, itu dia Nana ^^

Ketika Monsta mengeluarkan gambar character sheet teman-teman sekelas Boboiboy (coba kalian bongkar-bongkar gallery Facebook fanpage official Boboiboy), kelihatan Nana digambarkan sedang berkacak pinggang sambil tersenyum semangat. Di situ aku mendapatkan karakter dia sebagai gadis yang tomboy.

.

.

.

Saatnya membalas review! ^^7

Rhyuu-nii Chan — Thank youuu ^^ Gak apa-apa kok xD

Hoodie Toothless — Wah, jadi pingin lihat xD Coba masukin deviantart atau instagram ^^

Kalau kucing yang lincah tiba-tiba pendiam takutnya sedang sakit, mungkin bisa diperiksakan ke dokter hewan. Semoga kucingnya nggak apa-apa.

Casstella Millatea — Yeeeessss! I really love FangBoy! xD Halo! Salam kenal yah xD Wkwkwk Koko Kaizo sayang dedek Fang xDD Duh aku sendiri juga pingin banget ada meet up gede-gedean para fans Bbb. Kemarin juga yang dateng ada 7-8 orang aja ^^; Thank you yah udah baca n review! xD

Mizura Rani 1 — Aduh, kok dibuang Dx Kasihaaaaan ;;A;; Semoga dia ada di tempat yang lebih baik yah…

Everyll Princess — Mama Elly tega sama Fang xDD Fang dah ketemu Boboiboy so he's so happy right now xD And all the huskies and the kitties too! xD

HikariFuruya — Makasih banyaaak ^^ Semoga tugas-tugasnya lekas kelar 7 GC itu apa kah?

Hoodie Toothless — Kalau versi kucing-husky para Paws in Love aku sempet post di deviantart xD Bukan fanart, tapi post foto2 kucing dan husky yang kira-kira menurutku mirip sama mereka xD

Whz Jj — Thanks karena dah review too ^^ Oooh! Congrats to be a pawrents xD

Umm… Kalau dari size mungkin berurutan macam ni:

1. Lust and Pride – since both of them a military dog type and already trained harder than their brothers.

2. Greed – Same as Lust and Pride, but he isn't really a field dog type.

3. Gluttony and Ice – almost look fluffier than the other xD

4. Wrath and Envy

ChocoMint24 — Wrath diem-diem care sama Thorn xD Thorn juga sayang banget sama Wrath xD Thank you yaaah ^^

Razen Kukang Unyu — Wkwkwkwk! Aku juga cuma iketin kertas bekas di ujung lidi buat mainan meong xD

Waduuuu kucing-kucingnya genit juga yah xD wkwkw

Oooh! Jadi inget dulu temen juga punya kucing betina yang kemudian menstruasi! Kita sempet nggak percaya. Dan jaman dulu belum ada internet dan handphone, jadi kita nggak bisa cek mana-mana xD Pengetahuan soal kucing juga minim banget xDD

Ternyata kucing bisa mens juga yah xD

Silver Celestia — Thank youuuu ^^ Sebenernya ini fic sebagai penghilang penat dan sarana relaksasiku, so mungkin ga bakal ada konflik yang gede-gede banget ^^ Just a typical romance, fluff and slice of live aja ^^