Boboiboy series © Animonsta Studio, Malaysia

Fanfiction by widzilla

WARNING! Fang x fem!Boboiboy pairing, Genderbender, Romance stuffs, AU and OOC.

You've been warned! Don't like, don't read!


In the Petshop - part 2

.

.

.

Di dalam Petshop, para kucing berjalan bersama masing-masing Husky. Kecuali Thorn yang hanya ingin bersama Gempa. "Mama, apa aku boleh bersama Mama Gempa dan Papa Pride?"

Bujukan mungil mengundang rasa tak tega. Gempa menghela napas dan mengangguk kecil. Namun sebelum melanjutkan perjalanan mengelilingi Petshop, Wrath menghentikan kedua kucing tersebut.

"A—anu… Thorn. Aku tadi—ng…"

Thorn bergegas sembunyi di balik punggung Gempa. Melihat si mungil enggan menatap Husky di hadapannya, Gempa menggeserkan tubuh dan mengejutkan Thorn.

"Thorn, Wrath ingin berbicara denganmu. Tak sopan kalau kau bersembunyi seperti ini."

"Ta—Tapi, Mama Gempa…"

Wrath kembali memberanikan diri saat mendengar Pride berdehem. Husky yang terkenal garang itu tak disangka memiliki hati yang lembut.

Pride sebenarnya menyadari—bahwa adiknya yang penggerutu itu adalah saudaranya yang paling peka. Sifat pemarahnya dan selalu menjauhi hewan ataupun orang lain karena ia tak mau menyakiti siapapun. Kesulitan Wrath adalah ia tak dapat menunjukkan sikap lembutnya dengan jujur dan selalu berujung menyakiti hati lawan bicaranya. Hanya saudara-saudaranya yang memahami sifat kerasnya tersebut.

Satu-satunya manusia yang paling Wrath sayangi adalah Fang. Bahkan terhadap Hao, Elly, dan Kaizo—Wrath tak segan menggeram.

Kali ini seekor kucing mungil gemetar di balik punggung pengasuhnya. Tapi Gempa menjilati kepala Thorn agar adik kecilnya itu lebih tenang.

"Nah, sekarang aku akan tinggalkan kalian berdua, yah?"

Thorn sempat mengeong kecil, membujuk Gempa agar menemaninya. Tapi akhirnya ia memberanikan diri menatap mata Wrath—yang penuh rasa sesal.

Pride dan Gempa berjalan menuju sisi rak toko lain meninggalkan adik-adik mereka. Meski sempat beberapa kali Gempa menoleh agak ragu meninggalkan adiknya.

"Tak apa-apa. Wrath tak akan melukai Thorn. Kau tak perlu khawatir."

Kalimat lembut Pride membuat kucing tersebut mengangguk dan meneruskan langkahnya.

Wrath kembali menarik napas. "Hei—Thorn. Aku… tadi bukan bermaksud tak memercayai majikanmu. Aku hanya… Ng, aku memang belum pernah berpisah dari Fang di tempat asing begini. Jadi aku—aku khawatir padanya. Umm—maaf kalau sudah membuatmu tersinggung."

Melihat Husky besar di hadapannya menunduk sesal, Thorn luluh. Ia mendekati kaki besar berbulu Wrath dan mengelus-eluskan tubuhnya. "Maafkan aku juga, Wrath. Aku kira kau tak menyukai Boboiboy."

Meongan lirih membuat hati Wrath semakin sesak. Ia berpikir untuk mulai menjaga bicara dan emosinya.

"Apa kau mau memaafkanku? Aku janji tak akan menuduhmu lagi seperti tadi." ujar Thorn.

Betapa lega hati Husky penggerutu itu. Tak butuh waktu lama, kepolosan Thorn membawa keduanya berjalan mengelilingi Petshop. Pride dan Gempa yang mengintip dari balik rak memasang senyum memandangi adik-adik mereka.

.

Fang dan Boboiboy sama-sama membawa keranjang berlanja. Hanya saja, Fang harus membawa keranjang dorong besar untuk membeli segala keperluan para Huskynya. Bahkan gadis yang berjalan bersamanya itu terus terkagum melihat betapa besar barang-barang keperluan tujuh ekor anjing Husky.

Salah satunya bantalan tidur untuk Gluttony yang kata Fang sudah habis digigiti oleh anjing rakus itu ketika ia sedang tidur dan mengigau.

"Aku tak tahu apa yang ada di dalam mimpi Glu. Ia terus menggigiti bantalnya. Bayangkan kalau yang ia gigiti itu celanaku. Hhh—"

Tawa manis terus mengiringi obrolan.

Suara lengkingan manja terdengar mendekat, yang ternyata adalah Sloth dengan sehelai selimut di moncongnya.

"Oh, kau sudah temukan selimut kesukaanmu? Bagus, jadi jangan pakai jaketku lagi untuk alas tidurmu, yah."

Lolongan malas menyetujui.

Boboiboy penasaran dengan kalimat Fang pada Sloth. Akhirnya cowok itu menjelaskan bagaimana repotnya ia harus berebut jaket kesayangannya dengan salah satu Husky yang pemalas. Tentu saja gadis manis penyayang kucing tersebut tertawa.

"Ahahah! Sama dengan Ice. Dia juga suka sekali menyelimuti dirinya dengan sweater kesayanganku. Lihat—dia sudah tertidur dengan nyenyak dalam keranjang."

Fang tersenyum geli melihat keranjang belanja yang ditenteng Boboiboy. Ice begitu pulas tertidur di dalamnya. Bahkan mainan kucing pilihan Blaze dan Thorn akhirnya menjadi bantal.

"Myaaaaang—!"

Blaze berlari lincah mendekati Boboiboy bersama Halilintar dan Lust yang mengawasi dari belakang. Gluttony ikut berlari kecil—dengan bungkusan biskuit anjing di mulutya.

"Hei—kita sudah beli makanan anjing."

Lengkingan manja terus membujuk. Akhirnya Fang menyerah karena ternyata Envy juga menginginkan biskuit yang sama. "Hhh—aku akan menjadi anak durhaka. Uang ayah bisa habis karena ini."

Keluhan Fang terdengar bukan seperti candaan. Sepertinya ia benar-benar merasa bersalah pada ayahnya. Boboiboy tersenyum kecil sambil memandangi mata cowok yang sedang menimang-nimang bungkusan biskuit anjing di tangannya.

"Kau sangat memanjakan para Husky ini, yah. Mereka terlihat begitu menyayangimu."

Tuturan dari Boboiboy membuat Fang memasang senyuman tipis.

"Yah—Tapi terkadang aku berusaha untuk tegas juga pada mereka. Kalau tidak, sia-sia saja pelatihan selama mereka di kesatuan K-9. Hhh—seandainya aku bisa membelikan keperluan mereka dengan uangku sendiri."

.

Pride terdiam di belakang majikannya. Ia mendekati Gluttony dan Envy dengan wajah agak dingin.

"Hei, sudah cukup kita mendapatkan makanan anjing. Jangan minta macam-macam lagi dari Fang."

"Tapiii—biskuit itu sepertinya enaaaak."

"Kau tak dengar keluhan Fang tadi? Ia merasa tak enak pada ayahnya."

Glu dan Envy menunduk dalam dan menekukkan telinga mereka. Tak ada yang bisa mendebat Pride ketika ia sudah serius dan menaikkan nadanya.

"Uuung—Baiklah."

.

"Uuuk—Uuuk—"

Fang terheran melihat Glu yang kemudian menggigit kembali biskuit anjing yang ia bawa dan mengembalikannya pada rak di mana ia mengambil tadi.

"Kurasa—ia paham apa yang kau katakan tadi, Fang."

Begitu Gluttony kembali, Fang berlutut dan memeluk leher Husky tukang makan itu.

"Hei—Aku tak bermaksud melarangmu, kok. Maaf, ya. Kau mau biskuit tadi?"

"Wufff—"

"Asal kau janji akan membaginya dengan saudara-saudaramu, oke?"

"Guk!" Kibasan ekor dan telinga yang menegak akhirnya meluluhkan hati Fang dan membuat cowok itu tersenyum. Ia membiarkan Glu mengambil kembali bungkusan biskuit yang sudah ia ambil tadi.

Boboiboy tertawa gemas melihat Husky rakus sahabat Blaze. "Ahahah! Dia menggemaskan sekali!"

Fang ikut tertawa. Begitu nyaman dan menyenangkan mengobrol dengan Boboiboy. Meski beberapa Huskynya tak sungkan mengganggu sambil diiringi ngeongan kecil para kucing mungil.

Begitu mereka melewati rak collar hewan peliharaan, Fang langsung tertarik melihat beberapa model di sana.

"Wah, rompi ini keren sekali! Seperti yang dimiliki markas K-9 sebelumnya."

Lust mengendus-endus sebuah rompi berbahan lumayan tebal dan kuat. Ukurannya pas sekali untuk dikenakan di tubuh seekor anjing Husky.

"Kurasa aku butuh ini. Kadang kalau sedang berjalan bersama para Husky ini, aku khawatir akan mencekik mereka jika menarik tali yang kupakaikan di leher mereka."

"Oh, benar juga. Kalau talinya terlalu kecil dan tipis pasti akan menyakitkan tubuh mereka."

"Ya, maka itu aku kurang suka dengan collar yang hanya dipasangkan pada leher anjing, meski lebih praktis. Apalagi beberapa dari para Husky ini terlalu aktif sehingga kadang aku reflek menarik tali mereka."

Boboiboy ikut membantu Fang menyarikan rompi yang sesuai untuk tubuh para Husky. Ia tak menyangka ada rompi mungil khusus kucing dengan warna yang manis.

"Wah, ini lucu sekali! Aku tak tahu ada yang seperti ini!"

Mendengar seruan teman sekelasnya, Nana yang sedang berjalan melalui rak makanan kaleng menegakkan telinga dan tertarik untuk mendekati Boboiboy.

"Hei, Boboiboy! Kau menemukan sesuatu?"

"Ya, aku tak tahu ada rompi untuk kucing!"

"Oh, tentu saja ada! Mungkin karena kau jarang ke section ini."

"Ahahah, benar juga. Biasanya begitu memesan makanan kucing aku langsung pulang. Atau ketika membawa para kucing ke salon aku duduk sambil membaca di ruang tunggu. Ini menarik sekali! Apa aku boleh mencobanya pada kucingku?"

"Tentu! Siapa tahu ada yang cocok untuk mereka!" Nana membiarkan Boboiboy dan Fang melihat-lihat sementara ia kembali mengawasi toko dan membantu pelanggan lain yang membutuhkan bantuannya.

Pride mendekati Fang ketika cowok itu mengukur-ukur lebar rompi. Husky yang paling disiplin itu hanya diam membiarkan Fang berlutut dan memasang rompi pada tubuhnya.

"Nah, Pride. Coba kau berjalan."

Bagai mengerti apa yang dikatakan Fang, Husky tersebut berjalan dan membiarkan majikan kesayangannya dengan tiba-tiba menarik tali yang ia genggam. Dengan seketika tubuh Pride tertahan dan tertarik ke belakang.

"Ah, ini sesuai yang kubutuhkan. Leher mereka tak akan tercekik jika aku terpaksa menarik tali mereka."

Greed mengendus-endus rompi yang dikenakan Pride dengan gagah.

.

"Wow! Ini seperti yang ada di markas K-9! Aku suka bahan yang ini! Apa Fang akan membelikan kita rompi?"

"Entahlah. Kurasa ia hanya mencobanya saja."

Lust ikut penasaran mendekati para saudaranya. "Waw—ini seperti nostalgia. Sudah lama kita tak mengenakan rompi militer."

"Yah, tapi ini bukan rompi anti peluru seperti yang di markas." Pride mengendus-endus rompi yang ada di tubuhnya.

Halilintar, Taufan, dan Gempa hanya duduk memerhatikan para Husky mengobrol mengenai rompi gagah yang dikenakan Pride.

Gempa terkagum melihatnya. Pride benar-benar nampak jelas bahwa ia pernah menjadi salah satu anggota kemiliteran pada barisan khusus anjing. Bagaimana cara ia duduk tegap, mengangkat kepalanya dengan penuh percaya diri, sorot mata tajam, dan aura yang keluar dari Husky tersebut. Kesemuanya membuat Gempa semakin takjub.

"Waw—Kau begitu keren, Pride."

Pride tersenyum dan membungkukkan sedikit tubuhnya agar Gempa tak harus mendangak menatapnya.

"Terima kasih, Gempa."

"Aku juga mau! Aku juga mau, Fang!"

.

"Guk! Guk! Wuff!"

"Kau juga mau coba, Greed? Baiklah, sebentar—"

Begitu rompi hitam dikenakan di tubuh Greed, Husky itu berputar gembira dan bangga. Gluttony, Sloth, dan Lust turut memeking manja meminta hal yang sama dari Fang.

Wrath hanya diam dan mengendus-endus rompi yang dikenakan Pride. Envy turut memeking manja begitu melihat para saudaranya mendapat perlakuan istimewa dari Fang.

"Hei, hei—Aku hanya mencobanya saja. Masa kalian juga mau?"

Tapi lengkingan terus membujuk Fang. Terutama Envy yang sudah menggosokkan tubuhnya pada kaki Fang. "Hhh—Aku tak tahu apa ayah mengijinkanku belanja lebih banyak lagi. Lain kali saja, ya—Kita beli ini kalau sudah ada uang."

Sementara itu, Boboiboy mengenakan rompi-rompi pilihannya pada para kucing.

Halilintar merasa sedikit aneh dengan rompi anggun berwarna merah menyala di tubuhnya. Tapi ia tak banyak protes. Taufan nampak menyukai rompi biru tua dengan renda putih cantik. Sama halnya dengan Gempa, ia juga merasa cocok dengan rompi kuning dengan pita hitam yang manis.

"Myaaaang—! Myaaaaang—!"

Sayang sekali Blaze kurang menyukai ketika tubuhnya hendak dikenakan rompi. Si mungil bandel merasa tak bebas jika tubuhnya diselimuti rompi. Dengan bantuan Halilintar yang sigap menggigit tengkuk adik asuhnya sebelum kabur, Boboiboy lebih mudah mengenakan rompi pada Blaze.

Blaze terus menggaruk-garuk tubuhnya yang diselimuti rompi merah terang aksen oranye.

"Nah—dengan begini aku juga tak perlu khawatir jika menarik tali. Kucing kecil satu ini paling susah diawasi."

Fang terkekeh mendengar omelan Boboiboy yang membiarkan Blaze berputar-putar berusaha melepaskan rompi yang terpasang erat di tubuhnya.

Berbeda dengan Blaze, memasang rompi di tubuh Ice sangat mudah karena kucing itu terlalu malas melawan. Rompi manis berwarna biru muda yang dikenakan Ice justru seperti selimut bagi kucing pemalas tersebut.

Rompi hijau dengan aksen coklat, dan rompi putih dengan aksen oranye dipilih untuk Thorn dan Solar. Keduanya juga tak banyak protes. Bahkan Thorn begitu penasaran dengan rompi milik Gempa. Ia terus mengendus-endus tanpa menyadari tubuh mungilnya juga tengah dikenakan rompi oleh Boboiboy.

"Aku ingin beli ini untuk mereka! Kurasa rompi ini akan benar-benar berguna jika mengajak mereka berjalan-jalan."

.

Blaze terus mengomel.

"Uuuuh—Apa iniiii! Aku tak mauuu—!"

Halilintar menjilati kepala adik asuhannya meski terus mendapat rengekan. "Blaze—Itu agar kau tak tercekik jika Boboiboy terpaksa menarikmu. Ini karena kau terlalu sering kabur dari pengawasan jika sedang jalan-jalan."

"Tapi ini mengganggu sekaliiii—! Aku tak mau, mama Haliiii—!"

Tubuh si mungil berguling-guling, terus mengeong mengutarakan ketidak nyamanannya.

Glu justru mendekat dan mengendus tubuh Blaze. "Hei, itu nampak keren untukmu! Kita bisa berjalan-jalan bersama sambil mengenakan rompi agar kompak!"

Telinga lancip Blaze menegak. Ekspresinya berubah. "Benarkah? Apa aku terlihat keren?"

"Ya! Seperti kucing dari kepolisian!" Glu sebenarnya tak tahu bagaimana harus memuji Blaze yang nampak manis dalam rompi imut tersebut—jika dibandingkan dengan hewan yang bekerja dalam kepolisian. Tapi Gluttony merasa itu akan membuat Blaze senang.

Blaze berubah girang. Ia tak lagi mengomel dan justru menyukai rompi pilihan majikan tersayangnya.

Hali tersenyum lega—Untung saja ada Gluttony.

.

Fang memutuskan untuk membeli rompi untuk ketujuh Huskynya jika mendapat ijin dari ayahnya. Sementara Boboiboy langsung membeli rompi-rompi manis yang ia pilih untuk para kucing. Bahkan Blaze tak mau melepasnya karena mendapat pujian dari Glu.

Kedua remaja tersebut tertawa geli melihat si mungil yang kini berlari riang gembira mengenakan rompi dengan bangga. Mengeong-ngeong lincah hingga Hali sedikit kewalahan mengikuti.

"Dia sepertinya menyukai rompi itu."

"Terima kasih, Fang. Aku jadi menemukan hal yang jarang kusadari. Belum pernah aku berjalan-jalan dan belanja sesuatu seperti ini."

Fang sedikit heran mendengarnya. "Maksudmu—kau tak pernah shopping sendirian?"

Sedikit tersipu, Boboiboy mengangguk mengakui. "Aku sering merasa tak enak jika meninggalkan rumah terlalu lama. Ayahku bekerja di kantor kedutaan, dan ibu selalu ikut mendampingi jika ayah ada acara di mana-mana. Mungkin aku terlalu naif, tapi aku selalu berharap ketika pulang ada orang tuaku menyambut. Atau bisa saja mereka datang ketika aku sedang berada di rumah."

Fang terdiam. Meski senyuman manis gadis tersebut sama sekali tak menunjukkan kesepian, tapi Fang tahu jelas perasaan yang dirasakan Boboiboy.

Ia juga merasa kesepian jika ayah dan abangnya bekerja. Meski dikelilingi tujuh ekor Husky yang selalu melolong dan berbuat ulah—keberadaan ayah dan abangnya tak ada yang bisa menggantikan.

"Tapi sepertinya beberapa kali aku ke rumahmu, orang tuamu sedang ada di rumah."

"Selama beberapa hari kemarin mereka sedang senggang dari pekerjaan. Aku senang sekali waktunya begitu tepat dengan kepindahanmu ke rumah sebelah! Kita jadi bisa mengenal keluarga kita satu sama lain."

Perjalanan pulang terasa hangat. Obrolan kecil membuat Fang bisa mengenal Boboiboy lebih jauh lagi. Fang memutuskan untuk menggunakan jasa delivery di Petshop untuk mengirimkan segala belanjaannya tadi langsung ke rumah agar tak repot membawa selama perjalanan pulang. Cowok tersebut jadi bebas mengobrol banyak dengan gadis yang ia sukai.

Ia jadi tahu kapan ulang tahun gadis itu, zodiak, hobi, apa yang ia sukai dan tidak sukai, warna faforitnya.

Para Husky juga tak bandel seperti biasanya. Mereka dengan sigap dan patuh berjalan menjaga serta mendampingi para kucing. Terutama Lust yang selalu geli melihat Halilintar kerepotan berjaga di sisi kanan Blaze yang terlalu lincah.

Untung saja Boboiboy membeli rompi khusus kucing tersebut. Ia jadi bisa menarik si kecil bandel tanpa mencekik kucing itu. "Blaze—jangan ke tengah jalan."

Fang tak bisa menahan senyum tiap kali Boboiboy menegur Blaze, entah apa kucing kecil itu paham atau tidak.

"Myaaaaaang—" keluhan manja sama sekali tak meluluhkan Boboiboy. Gadis itu tak membiarkan Blaze untuk bebas berlari ke tengah jalanan.

Hali menjilat-jilat tubuh si kecil agar ia tak ngambek.

.

"Blaze—Kau harus nurut. Nanti kalau kau celaka, bagaimana?"

"Uuuh—Ini menyebalkan. Aku jadi tak bebas!"

Lust melirik memerhatikan Halilintar yang mendesah. Ia tahu kucing hitam anggun itu lelah dan tak berniat menasehati adik asuhnya lebih panjang lagi.

Husky sulung tersebut mengangkat alis begitu mendapatkan akal. "Hei, Hali—Sebentar."

Halilintar canggung begitu Lust mendorong tubuhnya menuju pinggiran jalan—menjauh dari Blaze.

"Lust! Apa yang kau lakukan? Aku harus menjaga Blaze!"

"Sssh—tenanglah. Ini memang rencananya."

Seringai di wajah Lust membuat Hali terdiam. Melihat Blaze yang keheranan akan tingkah Lust membuat Hali sadar.

Blaze langsung menyadari Lust yang mendorong Hali menjauh darinya—berjalan di pinggir berduaan dengan Husky genit tersebut. Ia mengira Lust tengah merebut perhatian pengasuh tersayangnya.

"Hei! Apa yang kau lakukan pada Mama Hali! Jangan ganggu Mama Hali! Fffshht—!"

Rasanya ingin sekali Halilintar tertawa. Namun ia hanya tersenyum membiarkan Blaze berjalan merapatkan tubuhnya pada sang kakak pengasuh—melindungi dan menjadi pemisah antara Hali dan Lust.

Rencana Lust berhasil. Blaze akhirnya berjalan berdempetan dengan Hali menjauhi tengah jalan—berusaha memisahkan kakak kesayangannya dari Lust.

.

Melihat apa yang terjadi di hadapannya—Fang menyadari desisan mungil si kucing jingga yang tak menyukai Lust.

"Sepertinya Blaze masih belum bisa menerima Lust."

"Hihihi—dia hanya cemburu. Halilintar adalah satu-satunya kucing di rumah yang sangat dekat dengan Blaze. Entah bagaimana ia sabar sekali mengikuti Blaze yang bandel dan melindunginya jika mau keluar jendela atau pintu. Ini pertama kalinya ada hewan lain yang mendekati Hali. Jadi Blaze merasa posisinya terancam."

Fang tertawa, "Astaga—Bisa seperti itu, ya? Ahahah, kucingmu manis sekali!"

Boboiboy ikut tertawa-tawa.

Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di depan rumah. Para Husky berlarian menuju ibunda Fang yang telah berdiri di gerbang menyambut dengan tangan terbuka lebar.

Fang langsung memasang wajah cemberut. "Ibu—lain kali jangan biarkan salah satu dari Husky ini mengikutiku tanpa kuketahui."

Elly tertawa puas sambil memeluk anaknya. "Hahahahah—! Maaf, maaf. Habisnya lucu melihatmu diikuti mereka seperti itu."

"Meooong—Meooong—!"

Para kucing ikut menghampiri Elizabeth. Tentu saja wanita tersebut begitu gembira. "Halo, semuaaa! Ooh, kalian mengenakan rompi yang sangat manis!"

Blaze dan Solar memamerkan rompi mereka sambil mengeong manja.

Boboiboy tersenyum manis melihat Elly sangat menyukai para kucing yang manja padanya.

"Boboiboy—Mereka sungguh manis sekali!"

Pelukan hangat nan erat juga diberikan Elly untuk gadis pemilik para kucing.

Jam minum teh mengundang Boboiboy dan para kucing kemudian bertamu di rumah Fang.

Banyak sekali cerita yang mengalun dan membuat Elly tak bosannya tersenyum lebar. Ketika Fang menceritakan bahwa Sloth telah menemukan selimut yang cocok untuknya, hingga saat-saat mereka mencoba menu makan siang di cafe dekat Petshop.

Bahkan Boboiboy bercerita bagaimana gagahnya para Husky ketika mengenakan rompi di tubuh mereka.

Usai jamuan teh, Fang mengantar Boboiboy hingga ke depan rumahnya yang hanya beberapa langkah.

"Lain kali bagaimana kalau minum teh di rumahku? Kita bisa mengobrol di halaman agar para Husky juga bisa ikut."

"Ide bagus! Aku akan menunggu undangan darimu!"

Fang tak bisa menahan senyum bahagianya ketika melihat dan mendengar senyum manis dari gadis yang ia taksir.

Para kucing berpamitan pada para anjing. Meski Ice sudah terlanjur nyaman di punggung Sloth, kucing pemalas itu akhirnya digendong dalam pelukan Boboiboy.

.

"Sampai jumpa, Sloth…" ngeongnya malas.

"Sampai jumpa, Ice." Dibalas lolongan malas oleh Sloth.

"Dah, Gluuu—!"

"Dah, Blaaaze—!"

"Dadah, Vy!"

"Dah, Solar."

"Apa besok kita bisa bermain lagi?"

"Hmph—Entah! Terserah kau saja!"

"Kalau begitu besok aku akan bawa mainanku. Dah, Wrath—"

"Yaa—"

"Dah, Greed! Kalau benar Fang bisa mengajakmu ke rumah Boboiboy—Nanti aku akan ajak kau berkeliling! Yah, tapi mungkin tak bisa sampai dalam rumah. Rumahmu jauh lebih luas."

"Hahah—Tak apa, Tau! Bisa berkunjung saja aku sudah senang!"

Gempa memastikan adik-adiknya sudah masuk ke rumah terlebih dahulu. Barulah ia berpamitan pada Pride. Tapi si kecil Thornie tetap saja menempel di antara kaki-kaki Gempa dengan manja.

"Sampai jumpa, Pride. Hari ini menyenangkan sekali."

"Sampai jumpa juga, Gempa. Terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan."

Si kucing tersenyum manis. Ia menunduk dan mendorong sedikit Thornie ke hadapan Pride.

"Ayo, Thornie. Ucapkan salam perpisahan."

"Sampai jumpa, Papa Pride."

Pride dan Gempa menghela napas sembari tersenyum maklum pada si mungil. Mereka tak bisa melarang kucing kecil itu untuk berhenti memanggil keduanya demikian.

Begitu semua berjalan memasuki rumah masing-masing—Lust sama sekali tak meninggalkan tempatnya.

"Hei, Hali—Apa besok kau ada di rumah?"

"Eh? Umm—Yah. Aku tak pernah meninggalkan rumah kalau tak ada Boboiboy. Kenapa?"

"Bagaimana kalau besok kita berjalan-jalan keliling komplek?"

Si kucing hitam terkejut, "Bukankah aku pernah bilang padamu kalau aku sama sekali belum pernah keluar jauh dari area rumahku? Bagaimana kalau kita tersesat?"

Lust tersenyum lebar, "Tak apa~ Percayalah padaku~ Percayalah pada insting Anjing Polisi-ku!"

Meski agak ragu, Hali merasa tak enak menolak ajakan Lust yang begitu bersemangat.

"Ummm—Baiklah—Kita lihat besok, yah."

"Yeah! Oke! Besok aku akan menjemputmu!"

Dengan demikian, Halilintar meninggalkan tempatnya menuju rumah Boboiboy. Dan Lust juga kembali menuju rumah Fang setelah Hali telah masuk dan muncul di jendela ruang tamu.

"Besok akan menjadi hari yang menyenangkan!"

Lolongan bahagia Lust membuat Fang memandangi salah satu Husky-nya yang paling sulung itu dengan heran.

Seandainya saja Fang tahu bahwa tak hanya dirinya yang jatuh cinta pada tetangga mereka yang manis.

Para Husky selalu tak sabar untuk bertemu dengan para kucing. Begitu pula dengan para kucing yang selalu menanti para Husky.

Dan tentu saja—seandainya Fang tahu bahwa gadis manis berambut pendek bernama Boboiboy yang ia sukai juga membalas perasaannya dengan lembut dan sabar.

Beberapa kali gadis berambut pendek penyayang kucing itu mencuri-curi pandang dari jendela kamarnya yang tertutupi tirai putih serta mawar yang menghias di beranda.

Senyumannya selalu melengkung dengan rona merah tipis di kedua pipinya jika melihat sosok remaja lelaki di seberang sana.

.

.

.

tbc


.

.

.

Maafkan aku semuanyaaaaaa!

Beberapa hal bikin aku susah nulis fanfic akhir-akhir ini ;_; Semoga semua sehat-sehat selalu.

Sebelum lupa, aku mau ngucapin Mohon Maaf Lahir Batin. Maaf yah kalo aku banyak salah dan udah sering ngecewain karena update nggak pernah bisa teratur. Semoga fanfic2 ini nggak membosankan untuk diikuti para fans FangBoy dan para fans Sins!Fang juga Elemental!Boboiboy.

Ada beberapa pertanyaan juga di DA sebelumnya mengenai peminjaman OC Sins!Fang. Dengan senang hati akan kujawab di sini ^^

Apa saja sih syarat dalam meminjam OC para sins!Fang?

1. Ijin dulu yang pasti. Aku sangat berharap kalian meminta ijin dengan sopan karena aku akan lebih menghormati sikap kalian.

2. Karena sins!Fang ini kubuat demi kepentingan cerita pairing FangBoy, jadi mereka hanya boleh digunakan dalam cerita yang mengandung pairing FangBoy.

Seandainya ternyata kalian membuat cerita dengan pairing lain; misal GopalxYaya, sins!Fang tetap pasangan untuk para Boboiboy sebagai bumbu cerita. Ini tak apa. Aku nggak bisa terima jika OCku dipakai untuk kepentingan cerita NOTP. Misal menggunakan para sins!Fang dalam cerita FaYi. Big NO. Harap mengerti dengan ini. Kalian juga nggak akan suka kalau OC buatan kalian dimasukkan dalam cerita NOTP kalian kan?

3. Cantumkan kredit. [Sins!Fang by widzilla]. Agar orang tahu bahwa kalian tidak ada maksud menjiplak dan tak ada dituduh yang aneh-aneh.

.

Oke! Supaya nggak bertele-tele, aku langsung aja jawabin review yah. Maaf banget jawabinnya lamaaaaa ;_;

.

Cardavianz Nyxio-37 Aquartic

Haloooo! Aduh kenapa ganti2 akun ;_; jadi bingung deh ;w; wkwk Gapapa kok xD

Iyap benar ^^ Ada di mini info sebelumnya aku sedikit bahas kalau Husky dan Alaskan Malamute itu anjing 'lapangan', yang berarti sangat aktif. Mereka agresif dan senang banget main-main, aktifitas yang banyak gerak (eh kok tapi si Sloth nggak ya? Dia kelainan kali xDD Wahahah xD). Ini karena mereka memang ras turunan dari serigala. Serigala punya insting sebagai hewan liar dan bukan hewan yang bisa di-keep di lingkungan yang sempit. Husky suka sekali menggali dan tempat dingin itu juga karena hasil turunan serigala ini ^^

Dan, benar lagi ^^ Ada ras kucing yang nggak boleh makan coklat dan kafein. Perut mereka bisa keracunan. Apalagi kalau coklat yang mengandung pengawet. Beberapa ras anjing juga nggak boleh.

.

Irinaa27

Gluttony susah kalem xD Dia kalem kalo lagi makan aja hehehe xD

Iya niiih, Wrath galak banget ;_; Tapi gapapa ^^ Udah baikan kok xD Makasiiih! Ternyata banyak juga yang suka PrideGem xD Nggak apa-apa ^^ Terima kasih banyak banget udah baca ff ini loh ^^

.

Yu-chan

Aku sebenernya nggak buka request ^^ Tapi aku open dengan segala ide untuk fanfic ^^ Terima kasih banyak idenya, Yu-chan! Semoga nanti sempat aku pakai idemu yah ^^ (I'll give you credit for the idea ^^ No worries ^^)

.

walking cactus

Oooh another one who likes PrideGem! xD Thank you udah bacaaa ^^

.

Whz Jj

You're welcome ^^

Sorry, but I don't do any request ^^; And I'm not a fan of EA tho ^^;; already watch some episodes, but well can't catch up more ^^;;

.

Shin Hae Rin

Salam kenal juga ^^ Makasih banyak udah baca ff-ku ^^ Semoga menghibur yah ^^

.

Hoodie Toothless

Ah, too bad ^^;; but it's okay. Mungkin nanti bisa disubmit di tempat lain artworknya ^^

Blaze is too cute buat digemesin xDD

.

HikariFuruya

Iya nih, Thornie ngambek xDD

Oooh Group Chat xD Aduh maaf aku nggak update banget hehe. Sayang sekali aku jarang bisa online buat chat ;w;

.
Razen Kukang Unyu

Astaga, aku jadi sedih banget baca ceritamu ;_;

Semoga Halilintar tenang di sana. Disayang sama Maha Penciptanya dan bisa main-main sama alm. Roti, kucingku yang juga udah 'pulang' bersama anak-anaknya ;_;

Dear Hali, titip salam buat Roti dan anak-anak yah. Makasih udah nemenin majikanmu selama ini.

Yang sabar yah. Kita sama-sama kehilangan kucing kesayangan. So I understand the feeling of your lost ;_;

.

Silver Celestia

Syukurlah ^^ Semoga ceritanya nggak ngebosenin yah ^^ Wrath emang tukang sewot niii. Makanya namanya 'Wrath' xD

.

Casstella Millatea

Wrath emang guguk tsundere xD Tapi tetep manis kok xDD wkwk

Ih, aku juga pingin nih bisa gath besar2an ;w; Duh kapan yah xD

.

bubblegluu

Makasih udah ikutin fanfickuuu ^^ I'm so sorry ga bisa update lancar ;A; Banyak hal akhir2 ini yang bikin susah nulis fanfic lagi ;_; Eh, susah ya dibayangin? xD Hehehe, lucu loh xD Biasanya anjing gede gendong mereka di punggung xD

.

Kalshara Antlia Gaunt

Takpe ^^ Hahaha, so many people asked if I'm a fujoshi or not xD To be honest, I am. But I feel more comfortable if the submissive (uke) one is genderbendered (as a girl). So I don't know if I'm a fujo or not xD because aku okay je tengok boys love tapi bila macam hard yaoi is kinda too… err… ^^;; I prefer shonen-ai tho, the soft and cute one xD

.

Rhyuu-nii Chan

Boleh sekaliiii ^^ Don't forget for the credit ya ^^7

.

ChocoMint24

Aku suka sama karakter Nana yang blak-blakan xD Boboiboy harus ada yang semangatin supaya deket sama Fang nih xD

Iya hahahah xD Thorn jalan-jalan dipenuhi busa nanti kaya kapas xD

Boleh sekali ^^ Jangan lupa kreditnya yah, jadi nggak dikira plagiat ^^7 Aku seneng banget ada yang terinspirasi dari karyaku ^^